Archive Page 2

04
Feb
10

Pemkab Siap Tarik Aset, Dewan Sanksikan Komitmen Bupati

PONOROGO-Tak ingin aset pemkab lenyap dibawa pejabat purna tugas,Bupati Ponorogo H Muhadi Suyono langsung mengambil sikap.Orang nomor satu di pemkab setempat itu membentuk tim khusus untuk menarik aset yang nyanthol.Di antaranya 42 motor dinas(motdin)anggota DPRD periode 2004-2009.”Karena itu aset ya harus kembali ke pemkab,”tegasnya,kemarin(2/2). Tim khusus itu punya dua tugas khusus.Pertama mengidentifikasi semua aset pemkab yang dibawa perseorangan.Baik mantan anggota dewan maupun mantan pejabat pemkab.Identifikasi meliputi siapa pemegang hak pakai dan di mana keberadaan motdin.”Jika identifikasi sudah lengkap,tim langsung melakukan penarikan,”tegasnya. Muhadi juga mengaku banyak motdin dan mobil dinas (mobdin)yang saat ini dibawa orang yang tidak berhak memakainya.Seperti mantan anggota dewan,mantan pejabat dan juga keluarga mantan pejabat.”Secepatnya semua aset itu akan kami tarik baik motdin maupun mobdin,” tandasnya. Yang menarik,langkah bupati tersebut masih disanksikan kalangan dewan.Menurut Sutyas Hadi Riyanto,pihaknya tidak yakin bupati berani mengambil sikap itu. Alasannya,masih banyak mobdin pejabat yang sudah pensiun tapi masih dibawa keluarganya.Itu terjadi sudah lebih dari tiga tahun lalu.”Kalau bupati benar-benar komitmen,kami dewan lama siap saja mengembalikan motdin itu,”katanya. Dikatakan,memang ada kesengajaan kalangan dewan untuk sementara tidak mengembalikan motdin.Itu dilakukan untuk menguji komitmen bupati dalam menarik aset daerah.”Motdin dewan itu berapa sih nilainya.Beda jauh dengan mobdin yang dibawa mantan pejabat yang dibiarkan begitu saja,”kritiknya. Untuk itu,pihaknya mendesak bupati konsisten terhadap janjinya.Jika semua mobdin pejabat sudah ditarik,maka pihaknya juga berjanji akan menyerahkan motdin itu secara sukarela.”Tidak perlu ditarik jika mobdin yang nilainya lebih besar itu dikembalikan,kami pasti mengembalikan motdin,”pungkasnya.(dhy/sad)\

Sumber : http://www.radarmadiun.co.id

18
Jan
10

Muhadi Suyono Siap Macung Lagi

PKB Buka Peluang untuk Calon Lain

PONOROGO-Ini peringatan bagi kandidat calon bupati yang bakal maju pada Pemilihan Kepala Daerah(Pilkada) Ponorogo pertengahan tahun mendatang.Sebab,mereka harus berhadapan dengan incumbent H Muhadi Suyono. Orang nomor satu di Pemkab Ponorogo itu telah menyatakan kesiapannya untuk macung lagi.”Kalau ada yang menginginkan,saya akan maju lagi,”terang Muhadi, akhir pekan kemarin.

Dikatakan,menjadi bupati merupakan amanah.Sehingga jika ada kelompok masyarakat dan partai politik yang mengusungnya,dia tidak bisa menolak.”Sebagai warga negara saya harus siap,hanya nunggu ada tidaknya partai yang mengusung saya nanti,”katanya diplomatis.

Meski menyatakan sanggup,Muhadi enggan bicara banyak tentang pilkada mendatang.Misalnya,akan berangkat melalaui partai apa dan menggandeng siapa.”Pilkada itu kan masih tahun depan,masih lama.Sekarang fokus dulu pada progam pemerintah yang belum terlaksana. Pada saatnya nanti juga akan tahu lewat partai apa dan dengan siapa,”kilahnya sambil tersenyum.

Meski begitu,langkah Muhadi Suyono tampaknya tak mudah untuk mempertahankan kursinya di pendapa.Pasalnya, Partai Kebangkitan Bangsa(PKB)yang mengusungnya pada pilkada empat tahun lalu,hingga kini belum menentukan sikap.Bahkan,PKB cenderung membuka peluang bagi kandidat baru.”Incumbent atau bukan,kader atau nonkader,memiliki kesempatan yang sama.Yang penting dia mampu dan diterima masyarakat Ponorogo,”warning Ketua DPC PKB Ponorogo H Ibnu Multazam,ditemui terpisah.

Dikatakan,cukup banyak kader PKB yang memiliki kans. Selain Muhadi,juga ada Wakil Bupati H Amin dan bahkan nama Sekdakab H Luhur Karsanto juga mendapat dukungan kuat dari pengurus anak cabang(PAC).Termasuk Multazam sendiri yang kini duduk di kursi DPR RI.”Kalau nanti saya dipercaya,sebagai kader partai saya juga harus siap.Bukan hanya saya,tapi semuanya juga harus begitu,”tegasnya.

Masih menurut Multazam,saat ini pihaknya masih menunggu petunjuk teknis pelaksanaan pilkada dari DPP PKB.Dipastikan,bulan depan juknis tersebut sudah turun.Sehingga pihaknya bisa langsung melakukan penjaringan calon.”Kami memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi kader dan masyarakat yang ingin maju melalui PKB,”pungkasnya.(dhy/sad)

(mbak sri)

http://www.radarmadiun.co.id

View Original Article

Blogged with the Flock Browser
07
Jan
10

KH Abdur Rahman Wahid Catatan dari Berbagai Media

Biografi Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Latar Belakang Keluarga Abdurrahman “Addakhil”, demikian nama lengkapnya. Secara leksikal, “Addakhil” berarti “Sang Penakluk”, sebuah nama yang diambil Wahid Hasyim, orang tuanya, dari seorang perintis Dinasti Umayyah yang telah menancapkan tonggak kejayaan Islam di Spanyol. Belakangan kata “Addakhil” tidak cukup dikenal dan diganti nama “Wahid”, Abdurrahman Wahid, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. “Gus” adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati “abang” atau “mas”. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar Jombang Jawa Timur pada tanggal 4 Agustus 1940. Secara genetik Gus Dur adalah keturunan “darah biru”. Ayahnya, K.H. Wahid Hasyim adalah putra K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU)-organisasi massa Islam terbesar di Indonesia-dan pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang. Ibundanya, Ny. Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Kakek dari pihak ibunya ini juga merupakan tokoh NU, yang menjadi Rais ‘Aam PBNU setelah K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Dengan demikian, Gus Dur merupakan cucu dari dua ulama NU sekaligus, dan dua tokoh bangsa Indonesia. Pada tahun 1949, ketika clash dengan pemerintahan Belanda telah berakhir, ayahnya diangkat sebagai Menteri Agama pertama, sehingga keluarga Wahid Hasyim pindah ke Jakarta. Dengan demikian suasana baru telah dimasukinya. Tamu-tamu, yang terdiri dari para tokoh-dengan berbagai bidang profesi-yang sebelumnya telah dijumpai di rumah kakeknya, terus berlanjut ketika ayahnya menjadi Menteri agama. Hal ini memberikan pengalaman tersendiri bagi seorang anak bernama Abdurrahman Wahid.

Secara tidak langsung, Gus Dur juga mulai berkenalan dengan dunia politik yang didengar dari kolega ayahnya yang sering mangkal di rumahnya. Sejak masa kanak-kanak, ibunya telah ditandai berbagai isyarat bahwa Gus Dur akan mengalami garis hidup yang berbeda dan memiliki kesadaran penuh akan tanggung jawab terhadap NU. Pada bulan April 1953, Gus Dur pergi bersama ayahnya mengendarai mobil ke daerah Jawa Barat untuk meresmikan madrasah baru. Di suatu tempat di sepanjang pegunungan antara Cimahi dan Bandung, mobilnya mengalami kecelakaan. Gus Dur bisa diselamatkan, akan tetapi ayahnya meninggal. Kematian ayahnya membawa pengaruh tersendiri dalam kehidupannya. Dalam kesehariannya, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu ia juga aktif berkunjung keperpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku yang agak serius. Karya-karya yang dibaca oleh Gus Dur tidak hanya cerita-cerita, utamanya cerita silat dan fiksi, akan tetapi wacana tentang filsafat dan dokumen-dokumen manca negara tidak luput dari perhatianya. Di samping membaca, tokoh satu ini senang pula bermain bola, catur dan musik. Dengan demikian, tidak heran jika Gus Dur pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya mengapa Gu Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia. Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya, yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur.

Perkawinannya dilaksanakan ketika ia berada di Mesir. Pengalaman Pendidikan Pertama kali belajar, Gus Dur kecil belajar pada sang kakek, K.H. Hasyim Asy’ari. Saat serumah dengan kakeknya, ia diajari mengaji dan membaca al-Qur’an. Dalam usia lima tahun ia telah lancar membaca al-Qur’an. Pada saat sang ayah pindah ke Jakarta, di samping belajar formal di sekolah, Gus Dur masuk juga mengikuti les privat Bahasa Belanda. Guru lesnya bernama Willem Buhl, seorang Jerman yang telah masuk Islam, yang mengganti namanya dengan Iskandar. Untuk menambah pelajaran Bahasa Belanda tersebut, Buhl selalu menyajikan musik klasik yang biasa dinikmati oleh orang dewasa. Inilah pertama kali persentuhan Gu Dur dengan dunia Barat dan dari sini pula Gus Dur mulai tertarik dan mencintai musik klasik. Menjelang kelulusannya di Sekolah Dasar, Gus Dur memenangkan lomba karya tulis (mengarang) se-wilayah kota Jakarta dan menerima hadiah dari pemerintah. Pengalaman ini menjelaskan bahwa Gus Dur telah mampu menuangkan gagasan/ide-idenya dalam sebuah tulisan. Karenanya wajar jika pada masa kemudian tulisan-tulisan Gus Dur menghiasai berbagai media massa. Setelah lulus dari Sekolah Dasar, Gus Dur dikirim orang tuanya untuk belajar di Yogyakarta. Pada tahun 1953 ia masuk SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan, sambil mondok di pesantren Krapyak. Sekolah ini meskipun dikelola oleh Gereja Katolik Roma, akan tetapi sepenuhnya menggunakan kurikulum sekuler. Di sekolah ini pula pertama kali Gus Dur belajar Bahasa Inggris. Karena merasa terkekang hidup dalam dunia pesantren, akhirnya ia minta pindah ke kota dan tinggal di rumah Haji Junaidi, seorang pimpinan lokal Muhammadiyah dan orang yang berpengaruh di SMEP.

Kegiatan rutinnya, setelah shalat subuh mengaji pada K.H. Ma’shum Krapyak, siang hari sekolah di SMEP, dan pada malam hari ia ikut berdiskusi bersama dengan Haji Junaidi dan anggota Muhammadiyah lainnya. Ketika menjadi siswa sekolah lanjutan pertama tersebut, hobi membacanya semakin mendapatkan tempat. Gus Dur, misalnya, didorong oleh gurunya untuk menguasai Bahasa Inggris, sehingga dalam waktu satu-dua tahun Gus Dur menghabiskan beberapa buku dalam bahasa Inggris. Di antara buku-buku yang pernah dibacanya adalah karya Ernest Hemingway, John Steinbach, dan William Faulkner. Di samping itu, ia juga membaca sampai tuntas beberapa karya Johan Huizinga, Andre Malraux, Ortega Y. Gasset, dan beberapa karya penulis Rusia, seperti: Pushkin, Tolstoy, Dostoevsky dan Mikhail Sholokov. Gus Dur juga melahap habis beberapa karya Wiill Durant yang berjudul ‘The Story of Civilazation’. Selain belajar dengan membaca buku-buku berbahasa Inggris, untuk meningkatan kemampuan bahasa Ingrisnya sekaligus untuk menggali informasi, Gus Dur aktif mendengarkan siaran lewat radio Voice of America dan BBC London. Ketika mengetahui bahwa Gus Dur pandai dalam bahasa Inggis, Pak Sumatri-seorang guru SMEP yang juga anggota Partai Komunis-memberi buku karya Lenin ‘What is To Be Done’ . Pada saat yang sama, anak yang memasuki masuki masa remaja ini telah mengenal Das Kapital-nya Karl Marx, filsafat Plato,Thales, dan sebagainya.

Dari paparan ini tergambar dengan jelas kekayaan informasi dan keluasan wawasan Gus Dur. Setamat dari SMEP Gus Dur melanjutkan belajarnya di Pesantren Tegarejo Magelang Jawa Tengah. Pesantren ini diasuh oleh K.H. Chudhari, sosok kyai yang humanis, saleh dan guru dicintai. Kyai Chudhari inilah yang memperkenalkan Gus Dur dengan ritus-ritus sufi dan menanamkan praktek-praktek ritual mistik. Di bawah bimbingan kyai ini pula, Gus Dur mulai mengadakan ziarah ke kuburan-kuburan keramat para wali di Jawa. Pada saat masuk ke pesantren ini, Gus Dur membawa seluruh koleksi buku-bukunya, yang membuat santri-santri lain terheran-heran. Pada saat ini pula Gus Dur telah mampu menunjukkan kemampuannya dalam berhumor dan berbicara. Dalam kaitan dengan yang terakhir ini ada sebuah kisah menarik yang patut diungkap dalam paparan ini adalah pada acara imtihan-pesta akbar yang diselenggarakan sebelum puasa pada saat perpisahan santri yang selesai menamatkan belajar-dengan menyediakan makanan dan minuman dan mendatangkan semua hiburan rakyat, seperti: Gamelan, tarian tradisional, kuda lumping, jathilan, dan sebagainya. Jelas, hiburan-hiburan seperti tersebut di atas sangat tabu bagi dunia pesantren pada umumnya. Akan tetapi itu ada dan terjadi di Pesantren Tegalrejo. Setelah menghabiskan dua tahun di pesantren Tegalrejo, Gus Dur pindah kembali ke Jombang, dan tinggal di Pesantren Tambak Beras. Saat itu usianya mendekati 20 tahun, sehingga di pesantren milik pamannya, K.H. Abdul Fatah, ia menjadi seorang ustadz, dan menjadi ketua keamanan. Pada usia 22 tahun, Gus Dur berangkat ke tanah suci, untuk menunaikan ibadah haji, yang kemudian diteruskan ke Mesir untuk melanjutkan studi di Universitas al-Azhar. Pertama kali sampai di Mesir, ia merasa kecewa karena tidak dapat langsung masuk dalam Universitas al-Azhar, akan tetapi harus masuk Aliyah (semacam sekolah persiapan). Di sekolah ia merasa bosan, karena harus mengulang mata pelajaran yang telah ditempuhnya di Indonesia. Untuk menghilangkan kebosanan, Gus Dur sering mengunjungi perpustakaan dan pusat layanan informasi Amerika (USIS) dan toko-toko buku dimana ia dapat memperoleh buku-buku yang dikehendaki. Terdapat kondisi yang menguntungkan saat Gus Dur berada di Mesir, di bawah pemerintahan Presiden Gamal Abdul Nasr, seorang nasioonalis yang dinamis, Kairo menjadi era keemasan kaum intelektual. Kebebasan untuk mengeluarkkan pendapat mendapat perlindungan yang cukup. Pada tahun 1966 Gus Dur pindah ke Irak, sebuah negara modern yang memiliki peradaban Islam yang cukup maju. Di Irak ia masuk dalam Departement of Religion di Universitas Bagdad samapi tahun 1970. Selama di Baghdad Gus Dur mempunyai pengalaman hidup yang berbeda dengan di Mesir. Di kota seribu satu malam ini Gus Dur mendapatkan rangsangan intelektual yang tidak didapatkan di Mesir. Pada waktu yang sama ia kembali bersentuhan dengan buku-buku besar karya sarjana orientalis Barat. Ia kembali menekuni hobinya secara intensif dengan membaca hampir semua buku yang ada di Universitas. Di luar dunia kampus, Gus Dur rajin mengunjungi makam-makam keramat para wali, termasuk makam Syekh Abdul Qadir al-Jailani, pendiri jamaah tarekat Qadiriyah. Ia juga menggeluti ajaran Imam Junaid al-Baghdadi, seorang pendiri aliran tasawuf yang diikuti oleh jamaah NU. Di sinilah Gus Dur menemukan sumber spiritualitasnya. Kodisi politik yang terjadi di Irak, ikut mempengaruhi perkembangan pemikiran politik Gus Dur pada saat itu. Kekagumannya pada kekuatan nasionalisme Arab, khususnya kepada Saddam Husain sebagai salah satu tokohnya, menjadi luntur ketika syekh yang dikenalnya, Azis Badri tewas terbunuh. Selepas belajar di Baghdad Gus Dur bermaksud melanjutkan studinya ke Eropa. Akan tetapi persyaratan yang ketat, utamanya dalam bahasa-misalnya untuk masuk dalam kajian klasik di Kohln, harus menguasai bahasa Hebraw, Yunani atau Latin dengan baik di samping bahasa Jerman-tidak dapat dipenuhinya, akhirnya yang dilakukan adalah melakukan kunjungan dan menjadi pelajar keliling, dari satu universitas ke universitas lainnya. Pada akhirnya ia menetap di Belanda selama enam bulan dan mendirikan Perkumpulan Pelajar Muslim Indonesia dan Malaysia yang tinggal di Eropa. Untuk biaya hidup dirantau, dua kali sebulan ia pergi ke pelabuhan untuk bekerja sebagai pembersih kapal tanker.

Gus Dur juga sempat pergi ke McGill University di Kanada untuk mempelajari kajian-lkajian keislaman secara mendalam. Namun, akhirnya ia kembali ke Indoneisa setelah terilhami berita-berita yang menarik sekitar perkembangan dunia pesantren. Perjalanan keliling studi Gus Dur berakhir pada tahun 1971, ketika ia kembali ke Jawa dan mulai memasuki kehidupan barunya, yang sekaligus sebagai perjalanan awal kariernya. Meski demikian, semangat belajar Gus Dur tidak surut. Buktinya pada tahun 1979 Gus Dur ditawari untuk belajar ke sebuah universitas di Australia guna mendapatkkan gelar doktor. Akan tetapi maksud yang baik itu tidak dapat dipenuhi, sebab semua promotor tidak sanggup, dan menggangap bahwa Gus Dur tidak membutuhkan gelar tersebut. Memang dalam kenyataannya beberapa disertasi calon doktor dari Australia justru dikirimkan kepada Gus Dur untuk dikoreksi, dibimbing yang kemudian dipertahankan di hadapan sidang akademik. Perjalanan Karir Sepulang dari pegembaraanya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, tokoh muda ini bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang. Tiga tahun kemudian ia menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Ia kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak.

Djohan Efendi, seorang intelektual terkemuka pada masanya, menilai bahwa Gus Dur adalah seorang pencerna, mencerna semua pemikiran yang dibacanya, kemudian diserap menjadi pemikirannya tersendiri. Sehingga tidak heran jika tulisan-tulisannya jarang menggunakan foot note. Pada tahun 1974 Gus Dur diminta pamannya, K.H. Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri. Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES. Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula ia merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai wakil katib syuriah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin.

Gus Dur semakin serius menulis dan bergelut dengan dunianya, baik di lapangan kebudayaan, politik, maupun pemikiran keislaman. Karier yang dianggap ‘menyimpang’-dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus pengurus PBNU-dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahunn 1983. Ia juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986, 1987. Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-’aqdi yang diketuai K.H. As’ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994). Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4. Meskipun sudah menjadi presiden, ke-nyleneh-an Gus Dur tidak hilang, bahkan semakin diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Dahulu, mungkin hanya masyarakat tertentu, khususnya kalangan nahdliyin yang merasakan kontroversi gagasannya.

Sekarang seluruh bangsa Indonesia ikut memikirkan kontroversi gagasan yang dilontarkan oleh K.H. Abdurrahman Wahid. Catatan perjalanan karier Gus Dur yang patut dituangkan dalam pembahasan ini adalah menjadi ketua Forum Demokrasi untuk masa bakti 1991-1999, dengan sejumlah anggota yang terdiri dari berbagai kalangan, khususnya kalangan nasionalis dan non muslim. Anehnya lagi, Gus Dur menolak masuk dalam organisasi ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia). Tidak hanya menolak bahkan menuduh organisai kaum ‘elit Islam’ tersebut dengan organisasi sektarian. Dari paparan tersebut di atas memberikan gambaran betapa kompleks dan rumitnya perjalanan Gus Dur dalam meniti kehidupannya, bertemu dengan berbagai macam orang yang hidup dengan latar belakang ideologi, budaya, kepentingan, strata sosial dan pemikiran yang berbeda. Dari segi pemahaman keagamaan dan ideologi, Gus Dur melintasi jalan hidup yang lebih kompleks, mulai dari yang tradisional, ideologis, fundamentalis, sampai moderrnis dan sekuler. Dari segi kultural, Gus Dur mengalami hidup di tengah budaya Timur yang santun, tertutup, penuh basa-basi, sampai denga budaya Barat yang terbuka, modern dan liberal. Demikian juga persentuhannya dengan para pemikir, mulai dari yang konservatif, ortodoks sampai yang liberal dan radikal semua dialami.

Pemikiran Gus Dur mengenai agama diperoleh dari dunia pesantren. Lembaga inilah yang membentuk karakter keagamaan yang penuh etik, formal, dan struktural. Sementara pengembaraannya ke Timur Tengah telah mempertemukan Gus Dur dengan berbagai corak pemikirann Agama, dari yang konservatif, simbolik-fundamentalis sampai yang liberal-radikal. Dalam bidang kemanusiaan, pikiran-pikiran Gus Dur banyak dipengaruhi oleh para pemikir Barat dengan filsafat humanismenya. Secara rasa maupun praktek prilaku yang humanis, pengaruh para kyai yang mendidik dan membimbingnya mempunyai andil besar dalam membentuk pemikiran Gus Dur. Kisah tentang Kyai Fatah dari Tambak Beras, KH. Ali Ma’shum dari Krapyak dan Kyai Chudhori dari Tegalrejo telah membuat pribadi Gus Dur menjadi orang yang sangat peka pada sentuhan-sentuhan kemanusiaan. Dari segi kultural, Gus Dur melintasi tiga model lapisan budaya. Pertama, Gus Dur bersentuhan dengan kultur dunia pesantren yang sangat hierarkis, tertutup, dan penuh dengan etika yang serba formal; kedua, dunia Timur yang terbuka dan keras; dan ketiga, budaya Barat yang liberal, rasioal dan sekuler. Kesemuanya tampak masuk dalam pribadi dan membetuk sinergi.

Hampir tidak ada yang secara dominan berpengaruh membentuk pribadi Gus Dur. Sampai sekarang masing-masing melakukan dialog dalam diri Gus Dur. Inilah sebabnya mengapa Gus Dur selalu kelihatan dinamis dan suliit dipahami. Kebebasannya dalam berpikir dan luasnya cakrawala pemikiran yang dimilikinya melampaui batas-batas tradisionalisme yang dipegangi komunitasnya sendiri.

Penghargaan

• Tokoh 1990, Majalah Editor, tahun 1990• Ramon Magsaysay Award for Community Leadership, Ramon Magsaysay Award Foundation, Philipina, tahun 1991 • Islamic Missionary Award from the Government of Egypt, tahun 1991 • Penghargaan Bina Ekatama, PKBI, tahun 1994 • Man Of The Year 1998, Majalah berita independent (REM), tahun 1998 • Honorary Degree in Public Administration and Policy Issues from the University of Twente, tahun 2000 • Gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Jawaharlal Nehru, tahun 2000 • Doctor Honoris Causa dalam bidang Philosophy In Law dari Universitas Thammasat Thaprachan Bangkok, Thailand, Mei 2000 • Doctor Honoris Causa dari Universitas Paris I (Panthéon-Sorbonne) pada bidang ilmu hukum dan politik, ilmu ekonomi dan manajemen, dan ilmu humaniora, tahun 2000 • Penghargaan Kepemimpinan Global (The Global Leadership Award) dari Columbia University, September 2000 • Doctor Honoris Causa dari Asian Institute of Technology, Thailand, tahun 2000 • Ambassador for Peace, salah satu badan PBB, tahun 2001 • Doctor Honoris Causa dari Universitas Sokka, Jepang, tahun 2002 • Doctor Honoris Causa bidang hukum dari Konkuk University, Seoul Korea Selatan, 21 Maret 2003. • Medals of Valor, sebuah penghargaan bagi personal yang gigih memperjuangkan pluralisme dan multikulturalisme, diberikan oleh Simon Wieshenthal Center (yayasan yang bergerak di bidang penegakan HAM dan toleransi antarumat beragama), New York, 5 Maret 2009. • Penghargaan nama Abdurrahman Wahid sebagai salah satu jurusan studi Agama di Temple University, Philadelphi, 5 Maret 2009. • Dan penghargaan-penghargaan lainnya… Lucunya Gus Dur Apr 17, ’06 3:05 PM for everyone

assalaamu’alaikum wr. wb.

Seorang penulis pernah bilang bahwa Gus Dur ini memang tidak tanggung-tanggung kontroversialnya. Di satu sisi ia mengedepankan sekularisme, tapi di sisi lain ia habis-habisan menunggangi simbol-simbol keagamaan seperti pesantren, ke-kyai-annya, atau ke-Gus-annya. Di sana-sini ia berteriak agar jangan terlalu mengeksploitasi hukum Islam dalam kehidupan berbangsa yang pluralis, namun ketika ada yang hendak melengserkannya dari kursi kepresidenan, tiba-tiba muncul istilah “fiqih dalam menghadapi makar terhadap pemimpin umat”. Tiba-tiba saja ayat-ayat Al-Qur’an digunakan untuk mengecam orang-orang yang hendak menjatuhkan dirinya. Tapi itulah politik. • Belum lama ini, situs resmi Jaringan Islam Liberal (JIL) memuat sebuah wawancara yang dilakukan oleh M. Guntur Romli dan Alif Nurlambang terhadap mantan orang nomor satu di Indonesia itu. Pembicaraan seputar RUU APP yang memicu banyak perdebatan itu. Di dalamnya, lagi-lagi, muncul begitu banyak ‘kelucuan’ yang sebenarnya sudah menjadi ciri khas seorang Abdurrahman Wahid. • Ketika dimintai komentar tentang Perda Tangerang yang melarang habis pelacuran, Gus Dur melihatnya dari ‘sisi lain’. Menurutnya, membuat aturan yang melarang pelacuran bukanlah prioritas utama. Di baliknya, masih ada persoalan ekonomi. Dengan kata lain, jika tidak ada peningkatan taraf kehidupan, maka pelacuran tidak akan bisa dihapuskan.

Barangkali Gus Dur lupa bahwa pelacuran senantiasa ada meskipun di lingkungan orang-orang kaya. Memang gayanya beda, dan pelacur jenis ini tidak mejeng di pinggir jalan, melainkan menunggu telpon di rumah masing-masing. Bayarannya bukan dalam hitungan ratusan ribu rupiah, jutaan rupiah pun ada. Para pelacur ini juga bukan orang miskin, namun kaum perempuan hiperseks yang mau saja dijadikan komoditas bisnis dengan harga yang sangat tinggi. Tidak ada bukti bahwa pelacuran bisa dihapuskan ketika ekonomi rakyat membaik. • Berikutnya, pewawancara meminta pendapat sang Gus tentang kesan ‘arabisasi’ dalam pelaksanaan RUU APP dan sejumlah perda syariat. Gus Dur membenarkan kesan tersebut dan tidak lupa mempertanyakan sikap ‘arabisasi’ tersebut. • Pertanyaan usang soal ‘arabisasi’ ini sebenarnya sudah dijawab dengan sangat jitu oleh Mas Jonru, namun biarlah saya mengulangnya sedikit (dengan redaksi saya sendiri). Anggaplah kita sebagai bangsa Indonesia tidak boleh menerima budaya lain yang akan mencemari kepribadian bangsa kita. Lalu apa sebenarnya yang selama ini terjadi di negeri ini pada era globalisasi? Kalau kita protes pada ‘arabisasi’, mengapa Gus Dur tidak pernah terdengar memprotes ‘westernisasi’, bahkan cenderung mendukungnya? Apakah orang Barat lebih baik daripada Arab? • Tapi itu semua berasal dari sebuah asumsi bahwa RUU APP memang benar-benar sebuah proyek ‘arabisasi’. Padahal tidak demikian. Memang tidak ada perlunya mencontoh negara-negara Arab, karena mereka sendiri tidak melaksanakan ajaran Islam dengan benar. Negara manakah yang menjalankan ajaran Islam dengan sepenuhnya? Apakah negara kerajaan bisa dianggap telah meneladani kekhalifahan? Jelas tidak! Lagipula RUU APP tidak dibuat berdasarkan standar Islam. Tidak ada kewajiban menggunakan jilbab bagi perempuan di RUU tersebut. Tidak usah sampai begitu. Sesopan Siti Nurhaliza pun sudah cukup, kok! Karena itu, perlu dipertanyakan RUU manakah yang sebenarnya sedang dibicarakan oleh Gus Dur ini? • Untuk melengkapi keanehan itu, Gus Dur kemudian memberikan sebuah ‘contoh kasus’. Beginilah katanya : “Semua orang tahu bahwa pesantren itu lembaga Islam, tapi kata pesantren itu sendiri bukan dari Arab kan? Ia berasal dari bahasa Pali, bahasa Tripitaka, dari kitab agama Buddha.” • Sepertinya Gus Dur gagal membedakan antara pesantren dengan istilah pesantren itu sendiri. Pesantren memang sebuah lembaga Islam, tapi istilahnya tidak berasal dari ajaran Islam. Pesantren itu sendiri sebenarnya tidak berbeda dengan sebuah sekolah, hanya saja sangat kental diwarnai dengan pengajaran agama Islam. Mengenai istilah yang digunakan untuk melambangkan sekolah yang bernuansa Islami itu sendiri bebas menggunakan bahasa apa pun. Orang Nepal menggunakan bahasa Nepal, orang Meksiko menggunakan bahasanya sendiri, dan orang Brasil tidak mesti menggunakan bahasa Perancis. Kalau orang Indonesia menggunakan bahasa nenek moyangnya dahulu, apa salahnya? Toh penamaan itu tidak mempengaruhi isi ajarannya. • Entah kelepasan atau tidak, Gus Dur kemudian bahkan menegaskan bahwa kita tidak bisa menerapkan syariat Islam jika bertentangan dengan UUD 45. Pertanyaannya, apakah agamanya : Islam atau Indonesia? Siapakah Rasul yang ditaatinya : Muhammad saw. atau para penyusun UUD 45 itu? Mengapa seorang Gus bisa memberi harga yang demikian rendah terhadap agamanya sendiri? Entahlah.

Berikutnya, sang narasumber menegaskan bahwa standar moralitas berubah dari waktu ke waktu dan bisa juga berlainan di masing-masing tempat. Menurutnya, apa yang dianggap tidak senonoh di masa lalu bisa jadi wajar di masa sekarang. Selain itu, apa yang dianggap cabul di suatu tempat bisa jadi hanyalah sebuah tradisi yang wajar bagi yang lainnya. • Pertanyaannya sekarang : jujurkah mereka yang mengatakan bahwa standar moralitas itu telah berubah? Pertama, apa betul mereka tidak merasa terangsang sedikit pun melihat pengumbaran aurat di tempat-tempat umum di masa sekarang ini? Hanya sekedar kata-kata dari lidah tidak bisa menjamin apa-apa. Siapa pun bisa berbohong dengan mengatakan dirinya tidak terangsang agar kaum perempuan tidak ragu lagi untuk menambah rangsangan itu. Seharusnya kita menggunakan lie detector. • Kedua, apa betul standar moralitas berubah? Pornoaksi sudah ada sejak dahulu kala, tidak ada yang berubah. Tari-tari erotis sudah ada sejak dahulu kala. Pelacuran sudah ada sejak jaman para Nabi, dan homoseksualitas juga sudah ada, paling tidak sejak jaman Nabi Luth as. Dan sejak dahulu pula, semua hal tersebut sudah merongrong kehidupan manusia. Jadi, kata siapa standar moralitas telah berubah? • Ketika bicara tentang sastra Islam, lagi-lagi Gus Dur gagal membedakan antara ‘sastra Islami’ dengan ‘sastra yang dibuat oleh sastrawan yang beragama Islam’. Ia menceritakan sebuah novel karangan Naguib Mahfouz yang bercerita tentang pergulatan batin seorang pelacur. Menurut Gus Dur, sastra itu jelas tidak bisa dianggap sebagai sastra non-Islam karena jelas-jelas penulisnya adalah Muslim. Sudah jelas dimana kekeliruannya, bukan? • ‘Kenakalan’ Gus Dur yang paling parah adalah ketika ia menyebut Al-Qur’an sebagai kitab yang paling porno. Begini cetusnya : “Di Alqur’an itu ada ayat tentang menyusui anak dua tahun berturut-turut. Cari dalam Injil kalau ada ayat seperti itu. Namanya menyusui, ya mengeluarkan tetek kan?! Cabul dong ini.

Banyaklah contoh lain, ha-ha-ha…”

Pertama, masalah menyusui anak bukanlah perkara cabul. Kalau Al-Qur’an tidak memotivasi kaum ibu untuk menyusui anaknya hingga waktu yang optimal, barangkali generasi muda umat Islam akan berkembang dengan tidak cukup baik. Apakah perkara menyusui anak harus diabaikan lantaran berkaitan dengan organ payudara? Kasihan sekali anak-anak, jika memang demikian. Untung Al-Qur’an tidak ditulis oleh Gus Dur.

Kedua, sebenarnya Gus Dur sendiri yang menyusahkan dirinya dengan definisi cabul yang terlalu jauh. Tidak ada yang mengatakan bahwa seorang ibu yang menyusui anaknya itu telah berbuat cabul. RUU APP pun jelas tidak melarang ibu mana pun untuk menyusui anaknya. Bahkan hanya orang gila yang akan melarang peristiwa alamiah yang amat bermanfaat bagi bayi, baik dari segi medis maupun psikis tersebut.

• Ketiga, apa yang Gus Dur maksud dengan Injil? Apakah ia pernah melihat Injil yang masih asli? Umat Islam pasti beriman pada Injil, hanya saja kita tidak pernah lagi menemukan Injil yang asli. Injil yang benar pasti sejalan dengan Al-Qur’an. Kalau yang dimaksud adalah Bibel (Kitab Suci yang digunakan oleh umat Kristiani sekarang), maka kita tidak boleh menyebutnya sebagai Injil, karena Al-Qur’an dan Al-Hadits telah menegaskan bahwa umat Nasrani telah mengubah-ubah Injil menurut kehendaknya sendiri.

• Keempat, anggaplah kita menerima istilah ‘Injil’ untuk Kitab Suci umat Kristiani jaman sekarang. Apakah di sana tidak ada ayat-ayat yang berbau cabul? Saya rasa Gus Dur harus diperkenalkan pada sebuah masterpiece karya seorang ulama besar yang bernama Ahmad Deedat (semoga Allah SWT ridha kepadanya). Cukuplah buku The Choice sebagai referensi atas ‘keanehan-keanehan’ (termasuk ayat-ayat porno) di dalam ‘Injil’ tersebut. • Berikutnya, Gus Dur mengulang sebuah pernyataan klise tentang ‘dipojokkannya’ kaum perempuan dalam masalah moralitas bangsa. Menurutnya, perempuan tidak perlu ‘dipersalahkan’ dan ‘dituduh’ sebagai oknum yang menyebabkan munculnya rangsangan bagi kaum laki-laki. Laki-lakilah yang salah karena seringkali menganggap perempuan sebagai objek seksual.

Gus Dur lupa bahwa standar aurat untuk lelaki dan perempuan itu berbeda. Kalau kita menggunakan standar itu, maka jelaslah bahwa populasi laki-laki dewasa yang menutup aurat lebih banyak daripada populasi perempuan yang menutup aurat. Kalau Gus Dur tidak merasa terangsang, baguslah! Tapi tidak semua orang seperti itu. Aturan menutup aurat diberlakukan untuk menjaga ketertiban, bukan mendiskreditkan perempuan. • Lalu muncullah sebuah klise yang lain : Tuhan tidak perlu dibela! Benar sekali, Tuhan tidak butuh dibela, bahkan Dia tidak membutuhkan apa-apa dari siapa pun. Seluruh umat manusia kafir atau beriman tidak akan memberikan untung atau rugi pada-Nya. Itulah kenyataanya. Akan tetapi, manusialah yang perlu melakukan ‘pembelaan’ itu. Kalau kita diam saja ketika Tuhan dihina, maka kita harus khawatir di akhirat nanti kita dimasukkan ke dalam kelompok orang-orang yang komitmennya terhadap agama lemah. • Gus Dur juga menganggap bahwa inti ajaran kejawen itu sama dengan Islam. Pernyataan ini tidak ilmiah karena tidak mengandung bukti apa pun. Lagi pula, kesamaan inti ajaran saja belum bisa memenuhi syarat di hadapan Allah. Kalau Allah telah menetapkan syariat yang diridhai-Nya, lalu bagaimana? Apakah kita masih merasa bebas menjalankan agama dengan selera kita masing-masing? Apakah ketetapan Allah bisa diubah dengan kesepakatan manusia? Betapa lemahnya Allah di mata Anda, Gus! • Melihat betapa lucunya tokoh yang satu ini, kita bisa meramalkan bahwa JIL masih akan menjadikannya sebagai narasumber di masa depan. Sebagaimana Gus Dur, JIL pun penuh dengan dagelan. Karena itu, tidak usah ditanggapi dengan terlalu serius. Santai dan tertawa sajalah. Tapi jangan lupa di-counter ya… • wassalaamu’alaikum wr. wb. SBY Pikirkan Gelar untuk Gus Dur dan Soeharto Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan mempertimbangkan keinginan berbagai pihak soal pemberian gelar pahlawan nasional untuk Gus Dur dan Soeharto.

Pascawafatnya Gus Dur, banyak pihak yang mengusulkan agar Presiden RI ke-4 itu diberi gelar pahlawan nasional. Bersamaan dengan usulan untuk Gus Dur, mencuat pula usulan gelar pahlawan nasional untuk Presidea RI ke-2 Soeharto. “Semua akan presiden pertimbangkan dengan merujuk UU 20/2009 soal gelar tanda jasa dan kehormatan. Ini kesepakatan pemerintah dengan DPR,” kata Jubir Kepresidenan Julian Aldrin Pasha, Minggu (3/1).Berdasar aturan dalam produk hukum tersebut, pemberian gelar tanda jasa dan kehormatan tidaklah instan. Dalam Pasal 16 UU 20/2009, dengan „ tegas djnyatakaji terlebih dahu-tuperlu dibentuk IH-\v;in Gelar JSanda Jasa daa Kehormatan yang bertugas inemberi rekomendasi kepada Kepala Negara mengenai gelar paling tepat berdasar pada prestasi dan kualifikasi tokoh yang hendak diberi gelar. “Anggotanya ada tujuh orang. Akademisi 2 orang, 2 dari militer atau berlatar belakang militer, dan 3 lagi adalah tokoh yang mempunyai gelar setara, serta relevan dengan gelar yang hendak diberikan,” tutur Julian.Presiden bisa menunjuk siapa saja yang akan duduk dalam dewan itu. Julian mengaku belum mendengar rencana pembentukan dewan itu, baik bagi Gus Dur maupun Soeharto dalam waktu dekat. “Saya tidak tahu kok tiba-tiba kesannya Senin besok (hari ini-red.) Kepala Negara sudah akan memutuskan soal gelar itu,” ujarnya.Sementara itu, keinginan agar Soeharto diberi gelar pahlawan digulirkan Ketua Fraksi Partai Golkar (PG) di DPR Setya Novanto. Menurutnya, PG siap mendukung Gus Dur sebagai pahlawan nasional. Namun, PG juga ingin agar Soeharto mendapat gelar serupa. “Pak Harto harus jadi pahlawan. Pak Harto sudah berbuat untuk rakyat,” ujarnya. (Otc)*” Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima dan menyerahkan usulan pemberian gelar pahlawan nasional bagi Presiden Ke-4 RI K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke mekanisme yang berlaku.

Demikian diungkapkan Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (4/1). “Dalam hal ini, tentu saja ketentuan yang ada dalam UU No. 20/2009 yang mengatur pemberian gelar dan tanda jasa, tinggal nanti dilihat bagaimana proses selanjutnya dari usulan-usulan yang masuk,” ujar Julian.Julian mengatakan,.Presiden Yudhoyono telahmengetahui masukan dari berbagai kalangan, tokoh masyarakat, juga dari parpol yang menginginkan pemberian gelar kehormatan kepada Gus Dur sebagai pahlawan nasional. Pemerintah harus membentuk dahulu Dewan Tanda-tanda Kehormatan yang bertugas memberikan pertimbangan atau masukan bagi Presiden tentang usulan dari nama-nama tersebut. Menurut dia, komponen yang bisa memberikan pertimbangan terdiri atas tiga unsur, yaitu akademisi dua orang, unsur militer atau yang mewakili dua orang, dan sisanya dari tokoh masyarakat. Julian memaparkan bahwa tokoh masyarakat yang dimaksud adalah yang pernah mendapatkan gelar kehormatan.”Jadi, berdasarkan pertimbangan dari Dewan Tanda-tanda Kehormatan Gelar, Presiden bisa memberikan keputusan apakah yang bersangkutan diberikan gelar pahlawan atau tidak. Tim atau dewan tersebut belum dibentuk pada saat ini,” katanya. Julian menyebutkan, usulan untuk menjadikan Presiden ke-2 RI Soeharto sebagai pahlawan juga akan dipertimbangkan oleh tim tersebut. Saat ditanya tentang kemungkinan Gus Dur akan memperoleh gelar pahlawan nasional pada Hari Pahlawan 2010, Julian menjawab hal itu bisa saja terjadi. Tidak tertutup kemungkinan kalau berbicara kemungkinan. Akan tetapi, yang pasti lazimnya pemberian gelar pada saat momen hari-hari besar. Jadi, tidak serta-merta Presiden memberikan gelar kepada seseorang tidak dalam konteks hari-hari besar,” katanya. PKB resmi ajukan Gus Dur Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Senin (4/1), seeara resmi mengajukan surat kepada pimpinan DPR mengenai usulan pemberian gelar pahlawan nasional kepada almarhum K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Usulan itu pun disampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Mensesneg Sudi Silalahi, dan Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufri.

Demikian diungkapkan Ketua Fraksi PKB DPR Marwan Jafar dan Sekretaris Fraksi PKB Muh. Hanif Dhakiri seusai menyampaikan usulan tersebut kepada pimpinan dewan, di Gedung DPR/MPR, kemarin. Menurut Marwan Jafar, sejak Gus Dur meninggal pada 30 Desember 2009, pihaknya banyak menerima usul dan aspirasi dari berbagai lapisan masyarakat yang menginginkan agar Gus Dur diberi gelar pahlawan nasional.Masyarakat meminta FPKB menjadi lembaga yang mengusulkan secara resmi kepada pemerintah agar memberi gelar tersebut. Berdasarkan banyaknya aspirasi masyarakat dan data-data yang terkait dengan kiprah Gus Dur, FPKB menilai Gus Dur telah memenuhi persyaratan untuk ditetapkan sc bagai pahlawan nasional. Gus Dur telah memenuhi persyaratan sesuai dengan Pasal 25 dan Pasal 26 UU No. 20/2009 tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan. “Kami menyampaikan usulan tersebut sebagai bentuk tanggungjawab dan penghormatan kepada K.H. Abdurrahman Wahid sekaligus memenuhi tugas untuk mengemban aspirasi rakyat,” kata Marwan.Selain PKB. sejumlah anggota dewan secara borgant ian mengusulkan Gus Dur diberi gelar pahlawan. DPR meminta kepada pimpinan DPR untuk segera menjadwalkan prioritas rapat pimpinan DPR yang mengagendakan pengusulan kepada Presiden menyangkut pemberian gelar pahlawan kepada Gus Dur. “Kami meminta agar dijadwalkan rapat konsultasi tertutup antara pimpinan DPR dan Presiden SBY. Apalagi, Presiden hari ini pun sudah mengeluarkan pernyataan bahwa dia akan segera mengakomodasi hal itu,” kata Ketua FPDIP Tjahjo Kumolo dalam sidang paripurna pembukaan masa sidang II DPR/MPR di Gedung DPR/MPR, Jakarta, kemarin.Selain Tjahjo. Nurul Arifin dari FPG menegaskan, Presiden tidak cukup mengatakan bahwa Gus Dur adalah Presiden ke-4 RI, guru bangsa, dan putra terbaik bangsa. “Itu tidak cukup. Gus Dur adalah tokoh pluralisme. Saya ingin ada ketegasan duri pimpinan dewan untuk menyatakan bahwa Gus Dur adalah tokoh pluralisme,” kata Nurul Arifin. Gandung Pardiman dari FPG juga menyatakan hal yang sama. Hanya, selain Gus Dur, Golkar meminta agar Soeharto juga diberi gelar pahlawan. “Kamijuga mengingatkan supaya Soeharto juga diagendakan dengan Gus Dur untuk prioritas pemberian gelar pahlawan,” kata Gandung. (A-109/A-130)

Sedikit Dari Yang Saya Kenal Tentang Gus Dur (KH.Abdurrahman Wahid) Kamis, 31 Desember 2009 13:14

Saya mengenal nama Gus Dur sudah lama, yaitu sejak pertengahan tahun 1970 an. Ketika itu, Gus Dur pulang dari Baghdad, dan karena belum dinyatakan lulus dari belajarnya di Irak, ia mau mengambil kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Oleh karena, Gus Dur tidak memiliki dokumen yang cukup, maka niatnya itu gagal, sesuai dengan peraturan, tidak bisa diterima. Mendengar bahwa Gus Dur tidak bisa diterima, kuliah tingkat doctoral di IAIN Sunan Ampel Surabaya, maka Pak A.Malik Fadjar, yang waktu itu menjabat sebagai Sekretaris Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang menemuinya. Pak Malik menawarkan agar Gus Dur, meneruskan saja di IAIN Malang. Ketika itu, IAIN Sunan Ampel Malang sudah membuka program doctoral. Namun Pak Malik Fadjar tidak mempersilahkan Gus Dur menjadi mahasiswa doctoral melainkan justru diangkat sebagai pengajar di tingkat doctoral itu. Atas tawaran Prof. Malik Fadjar, M.Sc, Gus Dur menerima, hanya dia mengakiu tidak punya pangkat sebagai persyaratan sebagai pengajar di tingkat doctoral. Pak Malik kemudian menyanggupi, memberi pangkat Gus Dur, golongan IV/a. Mulai dari sini, KH.Abdurrahman Wahid mengajar di IAIN Malang tingkat doctoral, berstatus sebagai dosen luar biasa selama beberapa tahun. Gus Dur berhenti member kuliah, karena pindah ke Jakarta. Namun secara resmi, Gus Gur belum pernah menyatakan berhenti atau diberhentikan sebagai dosen di IAIN Malang. Pernyataan ini pernah saya sampaikan, tatkala menyambut Gus Dur sebagai Presiden, ketika berkunjung di UIN Maliki Malang. Sejak itu, Gus Dur memiliki banyak kegiatan di Malang, terutama terkait dengan kegiatan kerukunan umat beragama. Selain ke IAIN Malang, Gus Dur biasanya juga menemui kawannya, di antaranya Romo Yansen, pengajar di STFT Malang. Gus Dur bersama Pak Malik Fadjar sering menyelenggarakan penelitian bersama dengan umat agama lain, seminar, kerjasama social kemasyarakatan sebagai bagian dari kegiatan bersama umat berbagai agama di Malang. Beberapa kegiatannya dilakukan di Paniwen, Sumber Pucung dan beberapa tempat lainnya. Lewat Pak Malik Fadjar, saya banyak ditugasi untuk mengetik tulisan-tulisan Gus Dur berupa laporan kegiatannya. Selain itu, saya juga ditugasi untuk menyusun beberapa laporan, misalnya membuat monografi kerukunan umat beragama, termasuk juga menyusun abstraks dari beberapa laporan kegiatan sebagai bahan seminar, dan beberapa tulisan lainnya tentang kegiatan kerukunan umat beragama tersebut. Setelah Gus Dur pindah ke Jakarta dan banyak kegiatannya di LP3ES dan juga di tempat lainnya, saya oleh Pak Malik Fadjar seringkali diajak mengikuti acara-acara penting yang diselenggarakannya. Pada waktu-waktu tertentu, Gus Dur bersama koleganya mengadakan diskusi terbatas, yang diikuti antara lain oleh Pak Dawam Rahardjo, Pak Muchtar Buchori, Pak Muslim Abdurrahman, Pak Djohan Efendi, Pak Utomo, Pak Malik Fadjar dan lain-lain. Ketika itu, saya masih sangat yunior, sehingga peran saya hanya sebatas pendengar, dan jika diperlukan, membantu menulis laporan dan mengetiknya. Pernah pada suatu ketika, sekitar akhir tahun 1983, diadakan diskusi terbatas, —–kalau tidak salah, mengambil tempat di rumah Pak Muchtar Buchori di Jakarta. Diskusi yang diikuti antara lain oleh beberapa tokoh yang saya sebutkan di muka, membicarakan dua hal penting, yaitu pertama, mendiskusikan rencana-rencana kegiatan Pak Nurcholis Madjid setelah pulang dari Amerika Serikat. Para tokoh tersebut, tidak ingin sepulang dari Amerika, kegiatan Nurcholis Madjid hanya sebatas berceramah dari satu tempat ke tempat lain. Kedua, adalah berdiskusi tentang bagaimana menyusun scenario agar pada Muktamar NU yang sebentar lagi ketika itu (1984) akan digelar di Asem Bagus, Situbondo, Gus Dur terpilih sebagai ketua umum PB NU. Pada saat itu, para tokoh memandang bahwa untuk memajukan dan mendinamisasikan NU, maka Gus Dur harus didorong sebagai pucuk pimpinannya. Ternyata, muktamar NU di Situbondo, benar–benar berhasil mengangkat cucu pendiri NU yang pernah belajar di Mesir dan juga di Baghdad ini, sebagai Ketua Umum PBNU. Karena ketika itu, saya masih tergolong sangat yunior dibanding para tokoh tersebut, maka sekalipun memiliki idea atau pandangan, saya tidak berani menyampaikannya. Namun, ketika itu saya merasa agak gelisah, apabila Gus Dur benar-benar berhasil menduduki posisi sebagai Ketua Umum PBNU. Kegelisahan saya itu muncul tatkala membayangkan antara Gus Dur sendiri dengan umat yang akan dipimpinnya. Sekalipun saya tahu, bahwa Gus Dur adalah cucu pendiri NU, akan tetapi saya melihat ada jarak yang sedemikian jauh dengan umat yang akan dipimpinnya. Dalam pandangan saya, jika Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU, maka saya membayangkan NU akan menjadi bagaikan angsa. Seekor angsa memiliki badan besar, kepala kecil, tetapi lehernya sedemikian panjang. NU akan seperti angsa itu. Maksud saya, jika Gus Dur menjadi ketua PBNU, maka antara Gus Dur yang pikiran-pikirannya sedemikian cemerlang, dinamis, inovatif, sangat luas, dan sedemikian modernnya akan menjadi pimpinan warga NU yang kebanyakan ada di pedesaan. Antara Gus Dur dan warna NU yang tinggal di kabupaten/kota, kecamatan, desa, dan bahkan di pinggiran-pinggiran laut, pulau kecil, dan di pedalaman, akan berjarak yang sedemikian jauh. Saya umpamakan, antara Gus Dur dengan kebanyakan umatnya, bagaikan kepala dengan badan angsa, dipisahkan oleh leher yang sedemikian panjang. Jika benar-benar dipimpin Gus Dur, NU akan menjadi bagaikan angsa, tidak bisa bergerak cepat, karena badannya terlalu besar, tetapi suara kerasnya terdengar kemana-mana. Apa yang saya gambarkan tersebut, saya lihat kemudian ada benarnya. Pikiran-pikiran Gus Dur tentang agama, politik, ekonomi, social, budaya, pendidikan dan lain-lain selalu berjarak dengan umatnya yang sedemikian besar jumlahnya dan bervariatif itu. Oleh karena itu maka seringkali terjadi, pikiran-pikiran Gus Dur tidak sambung dengan masyarakat bawah yang dipimpinnya. Saya ketika itu berpikir dan berdoa, bagaimana agar antara kepala angsa dan badannya, sebagai gambaran NU, semakin mendekat. Artinya, umat berhasil semakin bisa memahami dan mengikuti pikiran-pikiran cerdas Gus Dur. Selain itu, saya juga berdoa agar kepala angsa juga semakin besar. Artinya, tokoh-tokoh sekaliber Gus Dur di NU semakin banyak.

Tatkala menjabat sebagai Presiden, Gus Dur pernah saya undang ke UIN Maliki Malang. Ketika itu UIN Maliki Malang masih berstatus sebagai sekolah tinggi, yaitu STAIN Malang. Presiden yang sekaligus juga Kyai besar ini, hadir untuk memberikan ceramah, mengenai pandangannya tentang pendidikan Islam di masa depan, dan juga sekaligus meresmikan penggunaan Ma’had al Aly, Sunan Ampel, STAIN Malang. Prasasti peresmian itu, sampai sekarang masih ada di depan Ma’had, dan saya kira, selamanya tidak akan pernah hilang dari tempat itu. Gus Dur akan tetap dikenang oleh warga kampus UIN Maliki Malang, baik sebagai dosen yang belum pernah berhenti, tokoh umat, cendekiawan, dan sebagai Presiden RI yang pertama hadir di kampus UIN Maliki Malang. Satu hal yang tidak pernah akan saya lupakan dari Gus Dur`, ialah pesan beliau terkait STAIN Malang yang kini telah berubah menjadi UIN Maliki Malang. Pesan itu menyangkut konsep memadukan bentuk lembaga pendidikan Islam, antara ma’had dengan kampus. Konsep itu, oleh Gus Dur dianggap sangat tepat.

Sebelum pulang dari meresmikian Ma’had STAIN Malang, Gus Dur singgah di pendopo Kabupaten Malang untuk santap siang. Pada kesempatan santap siang itu, beliau berpesan kepada saya, dengan mengatakan : “ bentuk lembaga pendidikan ingkang panjenengan kembangaken sampun leres. Memadukan antawis tradisi perguruan tinggi lan pesantren, utawi ma’had. Sampun ngantos diubah-ubah, puniko sampun leres, ateges sampun kepanggih bentuk lembaga pendidikan ingkang tepat. Menawi wonten persoalan, kulo saget dikabar, Lan menawi tindak Jakarta, monggo mampir dateng istana. Ketika itu, segera saya jawab, “inggih, insya Allah”, matur nuwun, dalem isthoáken.

Pesan Presiden KH Abdurrahman Wahid yang disampaikan dengan menggunakan Bahasa Jawa kromo——bahasa halus, terkait dengan konsep pendidikan yang menggabungkan antara tradisi pesantren dan kampus itu, tidak pernah saya lupakan. Pesan Gus Dur tersebut juga dikuatkan oleh Ibu Sinta Nuriyah yang ketika itu duduk di sebelah suaminya. Bersama Gus Dur dan Ibu Sinta Nuriyah, Pak Djohan Efendi, Pak Muslim Abdurrahman, dan beberapa pejabat lain, termasuk saya sebagai pimpinan STAIN Malang. Sekalipun Gus Dur sudah wafat, hari Rabu, tanggal 30 Desember 2009 jam 18.45 di Jakarta, saya bertekat mewujudkan pesan-pesan itu, hingga kampus ini ke depan semakin maju dan sempurna. Atas wafatnya Gus Dur kita semua berduka, dan berdoa, semoga Gus Dur ditempatkan oleh Allah swt., pada tempat yang mulia, di sisi-Nya. amien.

Membaca Jalan Pikiran Gus Dur

Ditulis oleh K.H.M. Fuad Riyadi Wednesday, 23 April 2008

Sungguh disayangkan Muhaimin Iskandar, politisi muda berbakat luar biasa itu, akhirnya memilih langkah menuju ketidakjelasan karier politiknya. Pekan-pekan terakhir ini, dia mengulangi kekeliruan yang telah “dicontohkan” Mathori Abdul Jalil dan Alwi Shihab; melawan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) di jagad PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Seperti biasanya, Gus Dur “dengan seenaknya” dan over PD (percaya diri) bilang, perlawanan Muhaimin hanya sia-sia. “Seperti yang sudah-sudah, nanti saya yang menang (lagi)”, demikian pernyataan Gus Dur kurang lebihnya. Muhaimin tak bisa disamakan dengan Saifulloh Yusuf atau Choirul Anam. Meski sama-sama melawan Gus Dur, Saiful “tidak habis” karier politiknya. Choirul malah jadi ketua PKNU (Partai Kebangkitan Nasional Ulama, sebuah nama partai yang kurang sedap bunyinya didengar telinga, gara-gara mengejar singkatan “NU”) yang siap-siap “mempecundangi” PKB pada pemilu mendatang. Memang, seperti Saifulloh dan Choirul Anam, Muhaimin juga dibela sejumlah kiai. Bedanya, Saifulloh dan Choirul Anam dibela banyak kiai kharismatik seperti dari poros Langitan yang di luar jangkauan bayang-bayang Gus Dur (Gus Dur saja dulu menyebut mereka kiai khos untuk menunjukkan penghormatan luar biasa), sementara Muhaimin hanya didukung sejumlah kiai yang (masih) tergabung dalam jajaran dewan pimpinan PKB: barisan kiai yang masih di bawah bayang-bayang Gus Dur alias kalah awu. Tuduhan klasik Gus Dur bahwa Muhaimin diperalat SBY, boleh saja dianggap angin sepi dan ngawur oleh Andi Malarangeng (jubir SBY). Paling tidak, kepastian PKB sebagai salah satu partai peserta Pemilu 2009 dengan adanya konflik internal tersebut menjadi terhambat. Tuduhan Fachri Ali bahwa Gus Dur menerapkan politik patron di PKB –siapa pun kalau tidak mau menempatkan Gus Dur sebagai bos pasti dibuang-, boleh saja membesarkan hati Muhaimin dan kawan-kawannya. Namun, beberapa catatan berikut ini tak ada salahnya untuk dipertimbangkan Dulu, Mathori ditendang Gus Dur sebelum diangkat menjadi Menteri Pertahanan oleh Megawati. Tuduhan serupa juga pernah dilayangkan Gus Dur kepada Alwi Shihab. Ujung-ujungnya, Alwi kini diangkat menjadi duta besar setelah keok berebut PKB. Ketika Gus Dur menuduh KPU sarang maling dan diperalat oleh salah satu kandidat calon presiden, orang mengira tuduhan itu asbun alias asal bunyi dan semata-mata karena Gus Dur kagol tidak diloloskan KPU sebagai salah satu calon presiden periode 2005-2009. Belakangan, Hamid Awaludin (salah satu anggota KPU) jadi menteri hukum dan perundang-undangan(?). Dan lebih gilanya lagi, seorang profesor doktor seperti Nazarudin Syamsudin (ketua KPU), Mulyana W Kusuma –dua tokoh yang rasa-rasanya impossible melakukan korupsi- dan beberapa anggota KPU pusat lainnya benar-benar terbukti di pengadilan sebagai “tuan rumahnya” sarang maling. Hamid Awaludin pun, terlibat atau tidak, akhirnya lengser dari kedudukan sebagai menteri hukum dan perundang-undangan.Lebih ke belakang lagi, beberapa pekan sebelum SU MPR tahun 1999 yang menetapkan Gus Dur sebagai presiden, dia sudah bilang kepada banyak orang, salah satunya Syafii Maarif yang waktu itu ketua Muhammadiyah, bahwa dia akan jadi presiden. Politik Patron Memang, dalam Piala Dunia tahun 2002 di Korea Selatan, Gus Dur memprediksikan final akan terjadi antara kesebelasan Korea Selatan lawan Turki. Ternyata, justru Jerman dan Brasil yang maju ke final. Tapi, harap dicatat, (1) Gus Dur tidak menyaksikan pertandingan sepakbola dengan matanya sendiri, hanya lewat telinga, karena waktu itu Gus Dur sudah mengalami kebutaan, (2) banyak pakar bola juga sependapat dengan prediksi Gus Dur.Kini, soal politik patron seperti sinyalemen Fahri Ali. Perlu dipertimbangkan beberapa kalimat pertanyaan dan kemungkinan jawaban berikut ini: lebih populer mana antara PKB (bahkan NU sekalipun) dibandingkan Gus Dur? Kemungkinan jawabannya; Gus Dur. Untuk saat ini, bisakah PKB tanpa Gus Dur? Kemungkinan jawabannya; sulit. Bisakah Gus Dur meneruskan sepakterjang di dunia politik tanpa PKB? Jawabnya; bisa. Di antara politisi PKB lainnya, sudah adakah sosok yang bisa mengimbangi atau melebihi Gus Dur dari segi popularitas, intuisi, kharisma, kecerdasan, pengaruh dan pengalaman di dunia politik? Jawabnya; belum. Muhaimin, seperti Mathori, Alwi, Saifulloh, dan Choirul Anam, belum kelasnya melawan Gus Dur. Ibarat kesebelasan anggota divisi II PSSI bertanding melawan tim inti Manchester United! Seumpama Cris Jon melawan Mike Tyson! Politik patron yang terjadi secara alamiah di PKB hanya menunjukkan bahwa politisi PKB masih harus banyak belajar dan bersabar menunggu waktu hingga mereka setidak-tidaknya bisa sekelas dengan Gus Dur. Benar nasehat Effendi Choiri, salah seorang politisi PKB seangkatan Muhaimin, kalau Muhaimin mau manut Gus Dur yang memang sejak awal adalah guru sekaligus bapak ideologisnya, dia selamat. Bisa jadi Muhaiminlah yang paling layak sebagai calon pewaris tahta Gus Dur di PKB. Tapi, kalau membangkang seperti sekarang? “Saya yang menang (lagi), Kang!”, begitu kira-kira Gus Dur bilang. Namun itulah yang namanya politik. Pagi kedelai sore sudah bisa menjadi tempe atau tahu atau apalagi bentuknya, terserah sang aktor yang kuat posisinya. Yang jelas dunia politik tak ada yang pasti! Terakhir Diperbaharui ( Saturday, 16 May 2009 ) Gus Dur, Antara Cendekiawan dan Politisi Oleh Eman Hermawan K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah tokoh fenomenal dalam dunia politik dan pemikiran Indonesia di seperempat terakhir abad ke-20. Ia hadir sebagai cendekiawan dan sekaligus politisi yang menonjol sejak pertengahan tahun 1970-an. Demikian ditulis Mitsuo Nakamura “The Oxford Encyclopedia of the Islamic World, Vol. I, Tahun 1995: 14″. Sebagai cendekiawan, Gus Dur telah membangun suatu proses pencerahan yang menyeluruh dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya warga Nahdlatul Ulama. Pemikirannya yang tertuang dalam berbagai tulisannya adalah rujukan sekaligus inspirasi bagi banyak orang. Sementara sebagai politisi, Gus Dur telah berhasil menjadi orang nomor satu di Indonesia, menjadi presiden selama 21 bulan (Oktober 1999-Juli 2001).

Setelah lengser dari jabatan presiden, Gus Dur kemudian menjadi Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB, sejak 2001 sampai saat ini. Benar kata Michel Foucault bahwa di balik motif pencerahan dan pemberdayaan yang dimiliki oleh seorang cendekiawan, sebenarnya terdapat dorongan untuk berkuasa dan mendominasi (Michel Foucault, Power/Knowledge, 1980). Kemudian, sebagian dari kita akhirnya menyaksikan bahwa Gus Dur tampaknya lebih sukses sebagai cendekiawan daripada politisi. Cendekiawan Gus Dur pertama kali muncul di tengah masyarakat Indonesia sebagai cendekiawan. Sejak awal 1970-an, ia banyak menulis di media massa maupun jurnal ilmiah. Ia juga diundang sebagai penceramah dalam berbagai seminar, baik yang diadakan oleh lembaga-lembaga pendidikan, ormas maupun departemen pemerintah. Setelah menjadi Ketua Umum Pengurus Besar NU pada tahun 1984, Gus Dur lebih sering tampil sebagai seorang juru dakwah yang mengisi ceramah agama di tengah masyarakat di hampir seluruh pelosok tanah air. Gus Dur adalah representasi pemikir Islam yang secara terus-menerus berusaha menerjemahkan Islam dengan visi humanitarianistik. Dengan modal khazanah pemikiran klasik yang menjadi ciri khas pesantren, ia mampu menghadirkan suatu konstruksi pemikiran dan sikap keberagamaan yang lebih membumi, toleran, dan bersahabat dengan realitas sosial yang ada. Gus Dur mampu menjadi “jendela rumah NU” yang selama bertahun-tahun dicap dengan berbagai label kemunduran, keterbelakangan, dan kejumudan. Ia menjadi lokomotif transformasi pemikiran warga NU, khususnya di kalangan anak muda sehingga NU diakui sebagai pilar masyarakat sipil yang utama. Sebagai cendekiawan, Gus Dur adalah jembatan nilai-nilai dan berbagai kelompok kepentingan yang ada. Gus Dur adalah jembatan antara tradisi dan kemodernan, sipil dan militer, masyarakat dan negara, mayoritas dan minoritas, LSM dan pemerintah. Di bawah kepemimpinan Gus Dur, NU pun bisa menjadi salah satu pelopor demokratisasi politik bangsa, pemberdayaan masyarakat, dan pencerahan pemikiran melalui berbagai bentuk kajian kritis tentang Islam dan tradisi. Tidak heran jika atas kepeloporan dan kesuksesannya melakukan transformasi menyeluruh di tengah masyarakat, NU itu menjadi bagian tak terpisahkan dari transformasi bangsa in toto, kemudian banyak intelektual asing yang tertarik meneliti pemikiran Gus Dur. Sebut saja Adam Schwartz, Douglas E. Ramage, Mitsuo Nakamura, Martin van Bruinessen, Andree Feillard, Greg Fealy, dan Greg Barton, untuk menyebut beberapa nama, yang telah menulis berbagai artikel, makalah, dan buku tentang Gus Dur. Barangkali, tidak ada cendekiawan Indonesia yang lebih populer dari Gus Dur pada akhir abad ke-20 yang lalu. Politisi Sebagai politisi, Gus Dur juga tergolong sukses. Ia sangat piawai dan berhasil mencuri momentum sehingga bisa menjadi presiden ke-4 RI. Kecerdasan, kejelian, dan sekaligus kemampuan humornya yang tinggi membuatnya bisa dterima berbagai kalangan, baik militer, birokrasi, LSM, dan kelompok-kelompok di luar Islam. Kedekatannya dengan berbagai kalangan itu yang membuatnya lebih leluasa berkomunikasi dengan pihak lain, memahami pendapat mereka, dan sekaligus mengomunikasikan pendiriannya sendiri. Oleh karena itu, ia bisa dekat dengan LB Moerdani, tetapi juga tetap kritis dengannya. Ia juga dekat dengan Soeharto, tetapi tidak pernah dicap sebagai antek Cendana. Namun, nasib Gus Dur sebagai politisi tampaknya tidak sebaik posisinya sebagai cendekiawan. Sebagai cendekiawan, ia tetap dikenal dan disegani sebagai tokoh besar yang terus menjadi rujukan dan sumber inspirasi. Ilmu dan pengetahuan memang punya sifat yang abadi. Sementara sebagai politisi, Gus Dur bisa dikatakan kurang berhasil. Ia gagal mempertahankan jabatan presiden yang memungkinkannya membuat perubahan struktural secara fundamental di negeri ini. Ia juga gagal meminimalisasi konflik di tubuh PKB. Bahkan dari waktu ke waktu, konflik di partai ini semakin parah. Gus Dur juga tidak berhasil menjaga hubungan silaturahmi yang baik dengan kiai-kiai, NU, dan juga kader-kader yang dibesarkannya. Sebagian besar kader yang dibesarkan justru kemudian menjadi “musuh” politiknya. Demikian juga kiai-kiai yang dahulu gigih membelanya. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak kiai sepuh, tokoh-tokoh NU, dan keluarga besar K.H A. Wahid Hasyim sendiri yang menginginkan Gus Dur kembali sebagai cendekiawan rakyat, keluar dari politik praktis. Dengan begitu, ia akan kembali bisa lebih diterima oleh berbagai kalangan dan selalu dirindukan pemikirannya yang mencerahkan dan mencerdaskan semua orang.

Seperti K.H. A. Wahid Hasyim (ayahanda Gus Dur) yang di akhir hayatnya–setelah menolak untuk dicalonkan kembali menjadi menteri agama–lebih memilih hidup sebagai cendekiawan dengan mengembangkan minatnya yang bersifat sosial dan kebudayaan.*** Penulis, Direktur Local Empowerment Center, Jakarta dan penulis buku “9 Alasan Mengapa Kiai-kiai tetap Bersama Gus Dur” (2007). Gus Dur yang Saya Kenal… Kamis, 31 Desember 2009 | 03:06 WIB Telepon berkali-kali berdering, SMS berdatangan. Pertanyaannya satu: Benarkah Gus Dur meninggal dunia? Sangat sulit untuk menjawab pertanyaan ini karena saya harus menjawab ”ya”. Dan, mereka semua menangis.Mereka adalah orang-orang biasa dengan latar agama yang berbeda. Mereka tak pernah mengenal Gus Dur secara pribadi, tetapi merasa dekat dengan tokoh ini. Bagi mereka, Gus Dur adalah pembela kaum minoritas, Gus Dur pejuang Islam moderat, Gus Dur pembela demokrasi … dan masih banyak lagi. Bagi saya, Gus Dur adalah tokoh besar yang sangat membumi. Perkenalan kami dimulai tahun 1992 ketika Gus Dur masih menjabat Ketua Tanfidziyah PB Nahdlatul Ulama di bawah rezim Soeharto. Secara intens kami sering berdiskusi di kamar kerjanya yang kecil dan bersahaja di Kantor PBNU di Kramat Raya.Di antara buku-buku, kertas, tumpukan kaset dan CD musik klasik yang memenuhi meja kerjanya, Gus Dur kerap ”menyembunyikan” makanan lorju’ (kacang bercampur ikan kecil). Ia senang mengobrol sambil mengudap. ”Jangan bilang-bilang ya, nanti Mbak Nur (Shinta Nuriyah, sang istri) marah, saya kan disuruh diet. Tapi, ini makanan enak,” katanya sambil terkekeh. Sudah sejak lama Gus Dur mengidap diabetes sehingga sebetulnya ia dilarang untuk makan seenaknya.

Tapi, Gus Dur memang susah dilarang. Lagi pula, siapa di lingkungan PBNU yang berani melarangnya? ”Yang berani cuma Mbak Nur,” katanya. Topik diskusi yang sering kami singgung—kadang bersama tamu-tamu lain—antara lain tentang masa depan Nahdlatul Ulama. Sejak belasan tahun lalu Gus Dur sudah memproyeksikan bahwa akan ada tiga corak di tubuh NU. Yaitu corak kiai fikih yang dirangsang pikiran modern (Gus Dur saat itu mencontohkan Kiai Ishomudin), corak LSM (ia mencontohkan Masdar Mas’udi), dan corak gado-gado, yaitu masyarakat biasa maupun politisi yang memiliki pengabdian di NU. Dialog dari ketiga corak inilah, kata Gus Dur, yang akan menentukan wajah transformatif NU di masa depan. Perkembangan Islam di Indonesia, toleransi terhadap agama lain, perlindungan terhadap kaum minoritas, dan demokrasi juga merupakan topik yang bisa membuatnya semangat berbicara sampai berjam-jam. Mengenai wajah Islam Indonesia, misalnya, Gus Dur kala itu mendukung pandangan almarhum Nurcholish Madjid. ”Tolong Cak Nur dibela ya. Kasihan, saat ini dia sedang mendapat banyak tentangan,” pesannya kala itu. Setiap hari, warga NU dari berbagai daerah setia menunggu di ruang tunggu Kantor PBNU (yang masih belum direnovasi) untuk bertemu dengannya. Mereka datang untuk meminta petunjuk tentang persoalan di daerah dan Gus Dur melayani mereka satu per satu.Gus Dur tak pernah membedakan kelas sosial. Warga NU yang menikah atau meninggal dunia akan dicoba untuk disambanginya. Meskipun ia harus masuk ke gang-gang kecil atau berkendaraan berjam-jam. Saya masih ingat ketika ayahanda meninggal dunia tahun 1999, Gus Dur datang melayat dan ikut menshalati. Ia pun beberapa kali menelepon untuk menghibur dan memberi penguatan. ”Saya mengerti bagaimana kesedihan Anda. Saya juga sangat kehilangan ketika ibu dulu pergi,” kata Gus Dur tentang almarhumah ibunda, Ny Hj Solichah Wahid Hasyim.Bahkan, Gus Dur masih menyempatkan menjenguk ketika saya terbaring di rumah sakit. Sungguh sebuah bentuk perhatian yang mengharukan dari tokoh bersahaja ini. Indra keenam Banyak yang meyakini Gus Dur memiliki indra keenam. Terlepas dari benar atau tidaknya, tetapi suatu siang pada tahun 1998 Gus Dur menelepon. Kali ini cukup lama, sekitar satu jam. Ia menceritakan tentang berbagai hal, termasuk mimpinya. Singkatnya, mimpi itu memberikan isyarat yang nyata bagi Gus Dur. ”Mbak, saya akan menjadi presiden,” katanya tenang. Saya tidak menanggapi dengan serius, tetapi saya mencatat obrolan itu. Sekitar setahun kemudian, Gus Dur benar-benar menjadi presiden.Ketika saya menemuinya di Istana Negara, Gus Dur hanya tertawa terkekeh ketika diingatkan akan mimpinya tersebut.Wajah Istana Negara pada masa kepemimpinan Gus Dur berubah total, tidak lagi angker dan formal. Wartawan maupun masyarakat bisa memiliki akses yang leluasa. Hubungan pun lebih cair dan penuh guyon. Pertemuan saya terakhir adalah pada hari ulang tahunnya bulan Agustus 2009. Tercekat rasanya melihat Gus Dur dibaringkan di ruang tamu. Gus Dur berusaha menyambut setiap tamu dengan mengangkat tangan dan menganggukkan kepala. Meskipun suaranya sudah lirih, Gus Dur tetap semangat bercerita tentang Indonesia. Dari karangan bunga dan banyaknya tamu yang datang hari itu, jelas bahwa tokoh besar ini sangat disayang masyarakat. Seorang sahabat bahkan sampai menitikkan air mata ketika mendoakan kesehatan Gus Dur. ”Saya mendoakan dia berumur panjang. Karena dialah pembela kaum minoritas,” katanya.Tuhan memiliki rencana sendiri. Innalillahi wa innailaihi rojiun.

Tokoh besar ini meninggal dunia, Rabu (30/12), di tengah keluarga yang mencintainya. Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Seorang demokrat yang gigih memperjuangkan kebebasan dan demokrasi. Selamat jalan Gus, semoga kami bisa meneladani dan meneruskan semua perjuanganmu…. (Myrna Ratna) Dr. Rumadi dan Abd Moqsith Ghazali: Gus Dur Adalah Jendela, Garansi, Lokomotif Buku Gus Dur terbaru, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, yang pekan lalu diluncurkan (21/8), merekam konsistensi garis besar pemikiran dan sikap Gus Dur dalam soal-soal keagamaan dan kebangsaan. Gus Dur tetap kokoh di jalur keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Itulah setidaknya kesaksian dua intelektual muda NU, Dr. Rumadi dan Abd. Moqsith Ghazali kepada Jaringan Islam Liberal (JIL), Kamis (21/9) lalu. Dr. Rumadi dan Abd Moqsith Ghazali: Gus Dur Adalah Jendela, Garansi, Lokomotif Buku Gus Dur terbaru, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, yang pekan lalu diluncurkan (21/8), merekam konsistensi garis besar pemikiran dan sikap Gus Dur dalam soal-soal keagamaan dan kebangsaan. Gus Dur tetap kokoh di jalur keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Itulah setidaknya kesaksian dua intelektual muda NU, Dr. Rumadi dan Abd. Moqsith Ghazali kepada Jaringan Islam Liberal (JIL), Kamis (21/9) lalu. JIL: Mas Rumadi, buku yang memuat kolom-kolom Gus Dur setelah lengser dari kursi kepresidenansudah terbit kemarin. Sebagai salah seorang editornya, apa yang dimaksud Islam Ku, Islam Anda, Islam Kita, yang dijadikan judulnya itu? Rumadi: Oh, itu diambil dari salah satu judul tulisan Gus Dur yang ada di dalam buku itu. Judul tulisan itu sebenarnya menggambarkan pusaran utama keseluruhan pemikiran Gus Dur yang ada di dalam buku itu. Kalau dilihat mendetail, memang banyak sekali hal-hal yang dibicarakan Gus Dur, sejak soal Islam dan ketatanegaraan, sampai responnya terhadap masalah-masalah kontemporer seperti kasus Inul dan problem ekonomi global. Esai dengan judul Islam Ku, Islam Anda, Islam Kita, yang menjadi judul buku itu sebenarnya tidak panjang. Tapi dari esai itu kita menyadari bahwa Islam memang beragam. Ungkapan pribadi seseorang dalam berislam mungkin berbeda atau juga bertentangan dengan apa yang saya alami. Dari situlah kita dapat melihat adanya Islam yang aku pahami secara pribadi, dan Islam yang Anda pahami menurut Anda sendiri. Namun meski beragam, kita tetap Islam, dan disitulah mulai dikatakan soal Islam kita. Jadi judul buku ini menggambarkan Islam yang warna-warni; meski Islamnya satu tapi masing-masing orang punya pemahaman berbeda-beda tentang Islam. JIL: Mas Moqsith, dari telaah Anda atas tulisan-tulisan Gus Dur, apakah keragaman Islam itu hanya ditunjukkan dari sudut pandang sosiologis-antropologis saja, atau juga dalam soal doktrin-teologisnya? Moqsith: Saya kira, tidak hanya keragaman dari sisi sosiologis-antropologis yang sejak lama didengungkan Gus Dur.

Kita tidak bisa mengelak bahwa di dalam soal doktrin, dalam tafsir keagamaan yang paling asasi pun kita tak mungkin bisa menunggal. Karena itu, ada Islamku, yakni Islam sebagai hasil penafsiran yang bersifat personal-individual dari seseorang; ada Islam Anda yang berdasarkan penafsiran Anda dan juga Islam kita, yang menjadi benang merah dari Islamku dan Islam Anda. Menurut Gus Dur, yang dinamakan Islam kita itu adalah prinsip-prinsip dasar kemanusiaan yang universal. Gus Dur sering mengutip al-Ghazali soal 5 prinsip dasar ajaran Islam. Pertama adalah soal kebebasan beragama. Gus Dur adalah orang kampung yang saya kira sangat konsisten melakukan pembelaan terhadap kelompok-kelompok minoritas. Sebab minoritas agama, ras, dan sebagainya itu, merupakan bagian dari perwujudan tafsir atau pemahaman orang terhadap Islam. Menurut Gus Dur, mereka itu tidak bisa dihancurkan. Di samping kebebasan beragama, kebebasan berfikir dan aspek-aspek kebebasan lain juga terus-menerus didengungkan Gus Dur. Bagi saya, Gus Dur telah memberi injeksi moral agama ke dalam isu-isu yang dianggap bersifat profan sekalipun. Dia bicara HAM, demokrasi, pluralisme, dan sebagainya. JIL: Apa soal baru yang buku ini, Mas Rumadi ? Rumadi: Bagi saya, yang perlu dari buku ini bukan soal baru atau tidaknya, tapi justru kesaksian akan konsistensi Gus Dur dalam pikiran-pikiran yang sejak lama ia usung. Saya belum pernah melihat pemikir Indonesia yang begitu konsisten membela prinsip-prinsip yang ia pegang teguh sebagaimana Gus Dur. Buah pikirannya bukan hanya diwacanakan dalam bentuk tulisan lalu diseminarkan dlsb., tapi juga diwujudkannya dengan aksi. Lihatnya bagaimana kukuhnya Gus Dur berpegang pada prinsip anti-diskriminasi. Bukan hanya menulis, dia benar-benar memperjuangkan prinsip itu dalam aksi nyata. Juga konsistensinya dalam pembelaan terhadap pluralitas.

Dia tetap melakukan itu meski dianggap kerja yang tidak populer dan dipandang kontroversial. Tapi dia tetap lakukan pembelaan. Dalam soal pembelaan atas pluralitas, saya tidak pernah melihat orang sekonsisten Gus Dur. Aktivismenya juga merupakan cerminan dari apa yang ia pikirkan. JIL: Mas Moqsith, Anda melihat konsistensi dan kesinambungan dalam gagasan-gagasan keislaman Gus Dur, atau justru melihat titik-titik kisar perubahan paradigma berpikir? Moqsith: Saya pertama-tama melihat Gus Dur sebagai sosok santri, dan santri itu dididik berpikir secara plural oleh tradisi fikih. Sebab, tak mungkin ada pandangan yang tunggal di dalam fikih. Karena itu, orang yang ahli fikih seperti Gus Dur, tak mungkin menganut satu konsep kebenaran absolut. Itulah saya kira yang pertama kali mendidik Gus Dur untuk tidak memutlakkan pandangannya sendiri. Di samping fikih, dia juga banyak belajar ilmu-ilmu lain seperti sosiologi, antropologi, dan filsafat. Dia juga pembaca sastra yang baik. Karena itu, medan perhatian Gus Dur terhadap ilmu pengetahuan amatlah luas. Nah, di sinilah ia berbeda dengan tokoh Indonesia lainnya seperti Prof. Syafi’i Ma’arif atau Buya Syafii. Buya bukanlah pembaca buku dengan dimensi yang sangat luas. Buya terutama adalah seorang sejarawan dan mungkin juga pembaca buku-buku keislaman yang cukup luas. Tapi bacaan Gus Dur memang luar biasa, bukan hanya fikih, tapi juga fasih bicara sastra. Ketika masih SMP dan SMA dulu, saya juga sering melihat Gus Dur sebagai pengamat sepakbola. Ini menunjukkan bahwa perhatian Gus Dur terhadap banyak dimensi kehidupan sangat besar sekali. JIL: Selain soal minat bacaan, apa perbedaan lainnya dengan sosok Buya Syafii yang beberapa bulan lalu juga meluncurkan otobiografinya yang memikat? Moqsith: Mungkin yang juga berbeda adalah titik berangkatnya. Gus Dur bukanlah seorang ploretar, tapi datang dari kalangan aristokrat. Kakek dan bapaknya ibarat raja di dalam tradisi NU. Tapi anehnya, gagasan-gagasan Gus Dur itu potensial menghancurkan dirinya sendiri. Dari politik berwacana, itu sebenarnya merugikan. Tapi Gus Dur tetap melakukan itu. Gagasan-gagasannya seakan-akan ingin menghancurkan kelasnya sendiri. Dia kan seorang yang punya otoritas tinggi, tapi tiap hari ia seakan menghancurkan otoritasnya sendiri. Itu dapat diamati dari pandangan-pandangan keagamaannya yang di kalangan para kyai cukup kontroversial. Kerja seperti itu, kalau tak hati-hati, tentu akan melenyapkan kharisma dan lain sebagainya. Tapi Gus Dur tidak peduli, ia tetap membuat perbedaan. Ia tetap konsisten menghadirkan sudut pandang yang berbeda dalam melihat banyak persoalan. Pembelaan Gus Dur terhadap kelompok minoritas seperti Ahmadiah, aliran kepercayaan, dan lain-lain, sudah konsisten ia lakukan sejak dulu dan sampai sekarang. JIL: Mas Rumadi bisa menunjukkan konsistensi gagasan keislaman Gus Dur lebih rinci lagi? Rumadi: Dilihat dari sejarah perkembangan pemikiran Gus Dur, masa-masa awalnya memang tak lempang-lempang amat. Dia pernah mendukung gagasan-gagasan Ihkwanul Muslimin yang dianggapnya sebagai salah satu ptototipe Islam yang benar. Tapi setelah belajar tentang nasionalisme Arab dan sosialisme di Irak, dia mulai berubah pikiran. Selanjutnya, perubahan-perubahan itu terus terjadi, terkait dengan pengalaman hidup Gus Dur sendiri. Setelah melihat kenyataan Islam Indonesia, dia menemukan ide-ide baru yang pelan-pelan mulai menggeser cara pandangnya yang lama. Sekarang, yang dia pegang adalah prinsip-prinsip dasar Islam yang disebutkan tadi. Tapi dia terlihat konsisten dalam prinsip dasar pemikirannya. Dalam aksi politik, ia memang sering agak sirkus dan zig-zag. Tapi prinsip-prinsip dasar pemikirannya terlalu jelas untuk dilihat. Tak ada sesuatu yang samara-samar atau kabur. Prinsip-prinsip dasar pemikiran Gus Dur menurut saya terlalu jelas. JIL: Anda bisa merinci gagasan-gagasan keislaman apa yang paling penting dari Gus Dur? Moqsith: Yang sangat popular tentu soal pribumisasi Islam. Ini adalah cara Gus Dur khususnya dan NU umumnya untuk menolak Arabisasi. Tapi ini juga bukan pikiran yang baru datang dari Gus Dur, karena sejak dulu para kyai pesantren sudah punya kecenderungan untuk menghadirkan jenis keislaman yang khas Indonesia, tanpa banyak dicampur unsur Arabisme. Jadi pribumisasi Islam itu hanya stempelnya saja. Gus Dur berjasa menteorikannya. Gus Dur telah memberi nama terhadap jenis perjuangan yang dilakukan oleh para ulama Indonesia sejak Walisongo sampai sekarang. Gagasan Gus Dur yang sampai sekarang masih konsisten juga adalah aspek penolakannya terhadap negara Islam. Dia mungkin terpengaruh oleh buah pikiran Ali Abdul Raziq (ulama Mesir) yang mengatakan tidak adanya konsep negara Islam. Sampai sekarang, dengan pilihan itu, dia dicaci-maki dan berhadapan dengan banyak orang. Salah satu pemikiran Gus Dur yang sudah cukup jelas juga adalah visi kebangsaannya. Visi kebangsaan itu berulang kali dia tuangkan dalam ungkapan bahwa tidak ada ajaran Islam yang mengharuskan untuk menegakkan negara Islam. Itu berulangkali dia katakan. Dia juga sering mengatakan, ”Meski saya Islam dan mayoritas orang Indonesia itu beragama Islam, tidak terbesit sedikit pun di pikiran saya untuk mendominasi Indonesia ini atas nama Islam.” Gus Dur juga seringkali mengatakan bahwa yang ia perjuangkan adalah Islam berwatak kultural, bukan Islam yang selalu ingin tampil di kelembagaan politik. Prinsip itu diwujudkannya dengan cara membentuk partai politik yang bervisi kebangsaan. Saya kira itu pikiran-pikiran dasar Gus Dur. Ia memang punya perhatian besar terhadap isu-isu politik, persoalan pluralisme dan sebagainya. Tapi yang tidak dilakukan Gus Dur adalah menulis secara serius pandangannya tentang perempuan. Saya kira, pada aspek itu ada kemiripan antara Gus Dur dengan almarhum Cak Nur. JIL: Bisa lebih detil tentang sejarah penyikapan NU atas perjuangan politik yang menginginkan negara Islam di Indonesia? Rumadi: Pada masa awalnya, tahun 1945–1955, NU berada dalam blok atau kelompok yang memperjuangkan tegaknya Islam sebagai dasar negara. Tapi di situ ada polemik antara Gus Dur dan adiknya, Gus Solah (Solahuddin Wahid). Gus Dur bilang, NU tidak mendukung Islam sebagai dasar negara, sementara Gus Solah bilang sebaliknya. Saya cenderung mengatakan bahwa NU pada mulanya berada dalam blok yang menginginkan Islam sebagai dasar negara. Tapi sejarah tidak berjalan linier. Di tengah arus, ada masa ketika NU harus mengambil sikap tentang hidup bernegara. Itu secara jelas diproklamasikan di tahun 1984, dipelopoli langsung oleh Gus Dur.

Di situ dikatakan bahwa Indonesia sebagai negara kesatuan dengan Pancasila sebagai dasarnya, merupakan bentuk yang final bagi NU. Apakah pernyataan final itu cerminan keinginan jamaah NU, atau cerminan situasi ketika NU tidak bisa berkata lain, tentu akan diuji sendiri oleh sejarah. Buktinya, dalam perkembangan belakang, ada saja beberapa kompenen NU yang tidak tahan akan godaan negara Islam. Itu bisa dibuktikan lewat kelompok-kelompok di dalam NU yang membuat partai dengan Islam sebagai asasnya. Bahkan dalam Muktamar NU tahun 1999, ada juga yang mengusulkan agar NU kembali ke asas Islam, meski suara itu akhirnya bisa dieliminasi. Saya kira, ini merupakan salah satu bentuk pergumulan pemikiran NU. Arus besarnya memang masih dikusai kalangan yang menginginkan NKRI. Tapi riak-riak yang menghendaki dan memimpikan adanya negara Islam tampaknya tak juga pernah mati di lingkungan NU. JIL: Gus Dur pernah menulis tentang Islam sebagai faktor komplementer atau pelengkap Indonesia. Apakah gagasan seperti itu masih dianut mayoritas di NU atau sudah diganti menjadi Islam sebagai kekuatan hegemonik? Moqsith: Gagasan Islam sebagai faktor komplementer itu saya kira bukan hanya dimiliki Gus Dur, karena kyai-kyai lain juga berpikir tentang hal yang sama. Dan sampai sekarang, saya kira gagasan itu masih cukup kuat. Itu dapat dibuktikan dari pandangan beberapa kyai, termasuk KH Sahal Mahfudz yang menolak formalisasi syariat Islam atau perda bernuansa syariah Islam. Gus Mus atau KH Mustofa Bisri juga seperti itu. Artinya mereka ingin menjadikan fikih sebagai dunia di dalam basis kulturalnya saja dan tidak masuk ke dalam institusi negara.

Itu pandangan yang hampir merata di lingkungan kiay-kiay NU. Kyai Sahal telah menolak fikih dijadikan hukum positif negara, tetapi menerimanya sebagai etika sosial. Karena itu, keterlibatan Islam di dalam negara yang majemuk ini tidak bisa dalam format ingin mendominasi dan menjadi satu-satunya faktor penentu. Ia hanya menjadi unsur komplementer saja… JIL: Sebagai generasi muda NU, seberapa jauh pikiran-pikiran Gus Dur mempengaruhi Anda dan teman-teman? Moqsith: Bagi saya, Gus Dur itu adalah jendela bagi warga NU. Melalui jendela itulah warga NU bisa mengintip, bisa melihat luasnya dunia luar. Keberhasilan Gus Dur terletak dalam cara dia menginspirasi anak-anak muda di pesantren. Lewat Gus Dur, anak-anak muda mulai belajar menulis dan berpikir secara kritis. Di tahun 1991, ada rumusan pentingnya melakukan kontekstualisasi pemahaman kitab kuning. Itu tidak terlepas dari upaya-upaya yang dilakukan generasi-generasi tua NU seperti Gus Dur, Masdar Farid Mas’udi, dan lain-lain. Saya kira di situ terletak peran yang sangat besar dari Gus Dur. Yang kedua, dari segi gagasan, Gus Dur itu memang mumpuni, terlepas dia adalah seorang Gus, anak dari bapaknya dan cucu dari kakeknya yang mendirikan NU. Karena itu, ia memiliki otoritas sangat besar untuk melakukan perubahan-perubahan paradigmatik di lingkungan NU. Apa yang dilakukan Gus Dur akan gampang diamini anak-anak muda. Resistensi atas gagasan dan gerakannya pun tidak akan terlalu kuat ketimbang kalau dikatakan dan dilakukan orang lain. Jadi, keluar Gur Dur menjadi jendela, di dalam ia menjadi garansi bagai anak-anak muda. Kalau anak-anak muda dikritik para kyai, Gus Dur akan memberi penjelasan-penjelasan dengan menggunakan bahasa kyai, dlsb. JIL: Anda optimistis atau pesimistis akan perkembangan intelektual anak-anak muda NU setelah Gus Dur? Moqsith: Saya kira ke depan kita tak bisa lagi bersandar pada individu atau tokoh. Itu harus diakhiri. Apa yang dilakukan anak muda NU sekarang adalah institusionalisasi gagasan-gagasan Gus Dur. Itu sudah berkembang melalui lembaga-lembaga pendidikan alternatif yang dikembangkan sejumlah NGO/LSM di beberapa daerah.

Kalau terus mengandalkan tokoh, sejumlah tokoh memiliki keterbatasan. Ketika Gus Dur menjadi politisi dalam pengertian yang sesungguhnya, susah mengikuti alur permainannya yang bagai sirkus. Untungnya anak-anak muda NU mampu menentukan barometer: yang harus kita ikuti dari Gus Dur adalah Gus Dur yang makro, bukan Gus Dur yang mikro, seperti istilah almarhum Cak Nur. Gus Dur yang kulli bukan Gus Dur yang juz’i. Itu saya kira patokan yang baik bagi kita dalam melakukan gerakan perubahan sosial di tengah-tengah masyarakat. Saya kira, gagasan-gagasan Gus Dur tetap relevan karena ia lebih banyak bukan gagasan yang tentatif. Pemikiran Gus Dur tentang pribumisasi Islam, saat ini makin relevan seiring makin maraknya orang berpikir tentang negara Islam dan mengintensifkan Arabisasi terhadap Islam. JIL: Bagi Anda seperti apa kedudukan Gus Dur bagi generasi muda NU? Gus Dur bukan hanya jendela tapi juga lokomotif. Di belakang Gus Dur terdapat banyak anak muda NU yang disebut progresif atau apapun namanya. Semaunaya tidak ada yang terlepas dari inspirasi Gus Dur. Tapi memang ke depan kita tidak bisa bersandar pada Gus Dur atau figur seorang tokoh. Tapi gagasan-gagasannya memang tetap perlu disosialisasikan, diterjemahkan ke dalam tindakan-tindakan yang lebih riil. [] Gus Dur Luncurkan Situs Pribadi Jakarta, gusdur.net Untuk menyampaikan berbagai gagasannya termasuk mengenai demokrasi dan humanisme kepada masyarakat luas, mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meluncurkan situs pribadi. Situs dengan nama domain http://www.gusdur.net itu, diluncurkan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2002 di hotel Acacia, Kramat raya, Sabtu, siang. Menurut Alissa Rahman, putri pertama Gus Dur yang juga penanggung jawab situs tersebut, situs itu sebenarnya telah dibangun sejak Gus Dur masih menjabat Presiden. “Tetapi karena bapak dulu masih sibuk mengikuti perkembangan politik di Tanah Air, situs ini ditunda dulu peluncurannya,” kata Alissa.”Tujuannya untuk menyampaikan berbagai gagasan, pokok pikiran dan ide-ide bapak (Gus Dur) secara utuh, agar masyarakat mendapat akses langsung”, kata Lisa- panggilan akrabnya. Berbagai komentar Gus Dur selama ini, seringkali dianggap kontroversial, dan membuat banyak kejutan serta memancing berbagai komentar dari berbagai kalangan. Hal ini terjadi karena seringkali gagasan itu muncul melalui kutipan pers secara sepotong-sepotong, sehingga kurang dipahami oleh masyarakat. Melalui situs ini, Gus Dur secara rutin akan menyampaikan gagasan-gagasan itu secara utuh, agar masyarakat memahami latar belakang maupun konteksnya. Berbagai pokok pikiran Gus Dur itu akan dihadirkan melalui rubrik “Memahami Gus Dur” Ria Irawan dan Pengamen Jalanan Tamu-tamu yang akan hadir dalam acara itu acara peluncuran website Gus Dur, dari berbagai kalangan, mulai mantan Menteri masa pemerintahannya, relasi, kalangan pers dan aktivis pro demokrasi.Dalam peresmian situs, juga diadakan obrolan santai dengan tema Gus Dur: Antara Sarung dan Internet. Sebagai pembicara adalah, Gus Dur sendiri, sineas, Garin Nugroho, penulis buku “Hari-hari Indonesia Gus Dur”, Budiarto Tanudjaja, penulis “Dibalik Sarung Presiden Gus Dur”, Luqman Hakiem, dan Sucipto Wirosardjono.Selain itu peluncuran website ini akan dimeriahkan oleh iringan lagu-lagu para musikus yang berasal dari pengamen jalanan dan anak-anak jalanan. Artis Ria Irawan dengan beberapa rekannya akan tampil membaca puisi.

Isi http://www.gusdur.net kebanyakan adalah berita seputar aktivitas dan ide-ide Gus Dur. Rubrik lain yang dapat disimak adalah Memahami Gus Dur (berbagai tulisan Gus Dur dari berbagai aspek), Biografi, Anekdot dan Joke (joke-joke yang selama ini sering dilontarkan Gus Dur), Kolom yang berisi artikel-artikel para pakar, Galery foto-foto Gus Dur dan berbagai artikel berbahasa Inggris. Dalam situs itu Gus Dur juga menyisipkan “Tanya Jawab”, sebuah rubrik interaktif yang dapat digunakan masyarakat untuk berdialog langsung dengan dirinya. SBY Dinilai Monopoli Jasad Gus Dur (Bahkan Khofifah Tak Boleh Masuk) SBY dinilai berlebihan memberi penghormatan akhir pada Gus Dur. Protokoler begitu ketat, mengabaikan tradisi kaum Nahdliyin. Bahkan Khofifah Indar Parawansa, sahabat Gus Dur dan mantan menteri dalam kabinet Gus Dur ini ditolak masuk areal pemakaman. Pendeknya, Gus Dur mendadak jadi milik SBY, mulai dari RSCM, Ciganjur, sampai Jombang. Menurut Adhie Massardi, yang selama sepuluh tahun terakhir mendamping Gus Dur, penghormatan yang diberikan pemerintah salah kaprah. Protokoler SBY telah membuat banyak santri dan kiai pendukung Gus Dur baik kehilangan kesempatan memberikan penghormatan terakhir dengan cara mereka. “Pesantren dan kaum Nahdliyin memiliki tata cara sendiri dalam menghormati kiai yang meninggal dunia, termasuk Gus Dur. Protokoler yang berlebihan malah membuat banyak kiai dan santri teralienasi di rumah mereka sendiri. Banyak yang menyesalkan hal ini,” ujar Adhie kepada Rakyat Merdeka Online, (Jumat, 1/1). Adhie ikut menghadiri pemakaman Gus Dur di Jombang. Tetapi menurutnya, dia dan sejumlah teman dekat Gus Dur semasa hidup, seperti Khofifah Indar Parawansa yang juga mantan menteri Kabinet Persatuan Nasional, dilarang memasuki areal pemakaman. Adhie menambahkan, sebagai mantan presiden Gus Dur memang berhak mendapatkan penghormatan dari negara.

Tetapi di sisi lain, seharusnya Presiden SBY juga memahami local wisdom kaum Nahdliyin. “Mereka ini nampak menguasai, mulai dari RSCM, Ciganjur sampai Jombang. Seakan-akan Gus Dur mendadak jadi milik Presiden SBY,” ujarnya lagi. Di sisi lain, Adhie juga mengatakan bahwa yang harus dihormati bukan sekadar jasad Gus Dur, melainkan buah pikiran Gus Dur yang intinya adalah pengakuan prinsip pluralisme yang menjadi pondasi nasionalisme Indonesia, juga demokrasi yang dilandasi pada prinsip kesetaraan sesama warga negara. “Kalau pemerintahan SBY-Boediono ini memang menghormati Gus Dur, mestinya mereka juga mau menciptakan pemerintahan yang bersih,” sambung Adhie. Kepada masyarakat luas dia berpesan agar tidak meniru sikap pemerintah yang hanya menghormati jasad Gus Dur dan mengabaikan pikiran dan cita-cita Gus Dur. Ujung dari cita-cita Gus Dus, kata Adhie sekali lagi, adalah kesejahteraan rakyat. Gus Dur yang Universal dan Partikular Surabaya, wahidinstitute.org Buku terbaru karya Presiden Republik Indonesia ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Islam Kosmopolitan, ramai didiskusikan. Kamis (8/11/2007) sore lalu misalnya, Komunitas Baca Surabaya (Kombas) bekerjasama dengan the WAHID Institute mendiskusikannya di ruang rektorat Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya Jawa Timur. Buku terbitan the WAHID Institute tahun 2007 ini, didiskusikan oleh tiga intelektual muda NU pengagum sekaligus ‘titisan’ Gus Dur: Direktur Eksekutif the WAHID Institute Ahmad Suaedy, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta DR. Rumadi dan Dosen Universitas Paramadina DR. Abdul Moqsith Ghazali. Dosen IAIN Sunan Ampel DR. Masdar Hilmy didaulat sebagai moderator. Sedang ratusan mahasiswa S1 dan S2 pascasarjana IAIN Sunan Ampel hadir sebagai peserta. Dalam uraiannya, Ahmad Suaedy lebih banyak menyorot proses menjelang penerbitan buku yang dieditnya ini. Buku ini, katanya, berisi kumpulan tulisan Gus Dur antara tahun 1970 hingga 1980-an.

“Pikiran Gus Dur begitu kaya dan tidak hanya bersumber pada Islam formal, tapi dari Jawa dan Barat. Jarang ada orang yang demikian,” ujarnya. Buku ini, jelasnya, bermula dari pidato atau diskusi mantan Presiden itu yang ditranskrip, ketika di Institute Tehnologi Bandung (ITB). Masjid Salman dan ITB, kala itu sedang berada pada puncak ketenaran, karena menjadi kiblat pembaharuan pemikiran Islam. “Pidato Gus Dur tentang kosmopolitanisme Islam berawal dari situ,” terangnya. Secara jujur, Suaedy mengagumi referensi yang digunakan Gus Dur dalam buku ini. “Ini luar biasa. Mulai dari novel abad pertengahan, referensi Barat, sampai referensi terbesar abad keemasan Islam,” jelasnya. Lantas, apa sesungguhnya yang dimaksud kosmopolitanisme Islam oleh Gus Dur? Suaedy yang memang dekat dengan Gus Dur, baik secara pribadi maupun intelektual, mencoba mengurai jawabnya. Dikatakannya, kosmopolitanisme Islam dalam konsepsi Gus Dur adalah situasi ketika pemikiran Islam begitu terbuka, baik untuk mengkritik maupun menerima pemikiran dari Barat dan yang lain. “Bagi Gus Dur, puncak kosmopolitanisme Islam adalah ketika semua orang bebas mengekspresikan pikiran-pikirannya. Se-kontroversial apapun, pikiran harus diberi ruang berekspresi. Dan orang lain hanya boleh menanggapi dengan cara yang sama. Tidak boleh orang berfikir lantas ditangkap,” jelasnya. “Dan pada saat yang sama, juga harus ada penghormatan terhadap kemanusiaan,” tambahnya. Melihat gagasan-gagasan progresif Gus Dur yang belum sepenuhnya terejawantahkan dalam kenyataan, Suaedy berharap, muncul generasi-generasi baru yang akan meneruskan gagasan-gagasan itu. “Makanya perlu diciptakan Gus Dur-Gus Dur lokal,” katanya. Rumadi, dalam uraiannya, menyorot cucu pendiri NU KH. M. Hasyim Asyari ini dari sisi keotentikannya sebagai seorang muslim. “Sejauh apapun melangkah, Gus Dur tetap dipandang sebagai muslim yang otentik. Tidak ada orang yang meragukan keislamannya,” katanya. Karenanya, penulis buku Renungan Santri (Erlangga: 2007) ini setuju pada John L. Esposito yang menggelari Gus Dur sebagai ‘modern thinker but not moslem modernist’ (pemikir modern, tapi bukan muslim modernis). “Itu karena, antara lain, apapun yang dikatakan Gus Dur tidak pernah lepas dari akar tradisinya. Dalam memaknai kehidupan, umpamanya, ia selalu menggunakan basis tradisi yang dimilikinya,” terangnya. Basis tradisi itu, ujar Rumadi, membuat Gus Dur tidak silau pada kemodernan, meskipun ia banyak menyerap berbagai macam pemikiran sebagaimana watak kosmopolitanisme Islam yang ingin ditunjukkannya. “Gus Dur selalu mendialogkan antara yang diserap dari dunia luar dengan tradisi yang dimiliki,” ujarnya. Misalnya, karena banyak menelaah pikiran-pikiran modern, doktrin Aswaja (ahlus sunnah wal jamaah) di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) yang tradisional, itu di tangan Gus Dur menjadi sangat progresif. “Di tangan Gus Dur, Aswaja menjadi sangat dinamis dan menjadi alat untuk berdialog dengan realitas. Itulah cara Gus Dur keluar dari kesuntukan kehidupan,” urainya.

Dikatakan Rumadi, ‘daya cengkeram’ pemikiran Gus Dur yang berbasis tradisi itu begitu kuat bagi warga nahdliyyin. Karenanya, jika ada warga nahdliyyin yang berpikiran progresif, maka ia tidak bisa terlepas dari ‘cengkeraman’ Gus Dur. “Siapapun yang dianggap berani berfikir maju, pada saat yang sama ia mempunyai keterkaitan atau setidaknya memanfaatkan ruang yang dibuka Gus Dur,” ujarnya. Namun demikian, Rumadi mengingatkan, saat ini adalah masa yang berat untuk mengembangkan pemikiran keagamaan progresif. “Kita perlu energi lebih besar ketimbang pada masa Gus Dur tahun 80-an. Apalagi kita nggak punya apa-apa. Orang kampung dan bukan anak kiai. Kalau sudah dicap sesat, kita akan masuk keranjang sampah,” jelas Rumadi yang menilai buku Islam Kosmopolitan sebagai ‘relatif tidak terkontaminasi oleh politik praktis’ dan ‘pemikiran keislamannya jernih’ ini. Dua Wajah Gus Dur Abdul Moqsith Ghazali, yang mengaku ‘terhipnotis sihir’ Gus Dur ketika masih di pesantren menyatakan, Gus Dur harus dikategorikan menjadi dua; Gus Dur yang partikular atau juz’i dan Gus Dur yang universal atau kulli. “Kalau menggunakan bahasa orang pesantren, Gus Dur yanqasimu ila qismain; Gus Dur juz’iyyun wa Gus Dur kulliyyun,” ujarnya disambut tawa. Gus Dur sebagai sesuatu yang partikular atau juz’i, kata Moqsith, betul-betul harus diperhatikan karena sifatnya yang mudah sekali berubah. “Sebagai praktisi politik misalnya, Gus Dur dituntut bergerak zig-zag. Karenanya, seringkali langkah Gus Dur sulit diikuti,” jelasnya.

Langkah partikular Gus Dur yang mudah berubah dan zig-zag itu, tamsil Moqsith, laksana definisi i’rab dalam kitab nahwu Jurumiyyah, yaitu al-i’rab huwa taghyir ahwal awakhir al-kalim li ikhtilaf al-‘awamil al-dakhilah ‘alaiha (i’rab adalah perubahan akhir kalimat, karena perbedaan faktor yang masuk pada kalimat itu). “Gus Dur yang partikular atau juz’i, itu hanya pinggiran-pingiran atau ahwal awakhir al-kalim-nya saja yang berubah. Tapi Gus Dur yang universal atau kulli tidak pernah berubah,” jelasnya. “Gus Dur yang kulli, misalnya, tidak akan pernah menawar menyangkut advokasinya pada isu-isu pluralisme, dukungan atau perhatiannya pada kelompok minoritas. Gus Dur yang kulli juga tidak akan pernah menimbang apakah langkahnya secara politik merugikan atau tidak,” imbuhnya. Karena itu, harap Moqsith, kita jangan mudah terjebak dengan memperhatikan langkah Gus Dur yang partikular belaka.

Yang harus diperhatikan, katanya, adalah yang ada di dalamnya, bukan yang ahwal awakhir al-kalim. “Jangan sampai Gus Dur yang kulli ini dikalahkan oleh Gus Dur yang juz’i. Itu harapan saya sebagai anak muda. Ini fatwa dari saya,” terangnya. Dengan penyikapan demikian, aku Moqsith, dirinya tidak pernah gelisah atau gundah menatap sikap dan tindakan Gus Dur yang zig-zag tak bisa terdeteksi. “Itu nggak usah diperhatikan. Itu semata taghyir ahwal awakhir al-kalim li ikhtilaf al-‘awamil al-dakhilah ‘alaiha, karena perbedaan faktor yang masuk saja,” tandasnya. Moqsith juga menguraikan kelebihan Gus Dur dibanding pembaharu-pembaharu lainnya, yaitu penguasaannya yang kuat pada khazanah Islam klasik. Disamping melakukan kritik terhadap sejumlah tradisi, kata Moqsith, Gus Dur juga tetap mempertahankan tradisi itu sebagai bangunan dasar untuk melakukan pembaharuan-pembaharuan pemikiran Islam. “Misalnya melalui pendekatan fikih dan ushul fikih-nya, Gus Dur melakukan pembaharuan pemikiran Islam. Ini jarang dipakai oleh Harun Nasution misalnya” ujarnya. Terma hifdh al-din, satu diantara al-dharuriyyat al-khams (lima prinsip dasar) yang lumrah dikenal dalam fikih klasik, di tangan Gus Dur dimaknai sebagai ‘kekebasan beragama’. “Ini luar biasa. Hifdh al-‘aql yang biasanya dimaknai larangan meminum minuman keras, di tangan Gus Dur menjadi bermakna kebebasan berfikir dan berekpresi,” terangnya. Karena alat ucapnya adalah tradisi, simpul Moqsith, maka pikiran-pikiran Gus Dur mudah mengalami penerjemahan pada tingkat praksis di lapangan. “Ini berbeda dengan pikiran Harun Nasution yang tidak menggunakan alat ucap tradisi. Resistensinya menjadi sangat tinggi,” katanya. Kendati mengagumi Gus Dur, Moqsith tak sungkan dan tak canggung melancarkan kritik. Misalnya tentang isu-isu kesetaraan laki-laki perempuan yang sepi dari sorotan Gus Dur. “Padahal isu ini pada tahun 80-an sudah cukup seksi dibicarakan di lingkungan pembaharu Islam. Namun Gus Dur, termasuk Cak Nur, mengambil posisi untuk tidak membicarakannya sebagai bagian dari agenda pembaharuannya. Mungkin mereka sengaja,” katanya. “Dugaan saya, kalau mengambil isu ini mereka akan menghadapi tembok besar para kiai. Tradisi selir dan poligami yang bersemayam di dalam masyarakat Jawa, itu agak sulit dihancurkan oleh orang-orang dalam pesantren sendiri. Tapi pelan-pelan, anak mudanya sekarang mulai melakukan pembaharuan pemikiran Islam dari perspektif perempuan. Ini kelanjutan para mentornya saja,” imbuhnya. Gus Dur, ujar Moqsith, juga jarang sekali berbicara isu-isu yang detail, semisal hukum menonton VCD porno dan sebagainya. “Padahal itu menarik. Fikih klasik itu sangat kaya. Kita bisa menemukan jawaban apa saja. Tidak ada satu pandangan yang tunggal di dalamnya,” pungkasnya.[nuha] Gus Dur, Manusia Diatas Manusia Masih ingat di memory kita, bagaimana seorang Gus Dur menyikapi setiap peristiwa yang dialami anak negeri ini, mulai isu tukang pijit hingga kasus ngebornya Inul Daratista, mulai yang ringan hingga masalah pelik, semua diselesaikan dengan enteng, dengan gaya khasnya “gitu saja ko’ repot !”Gus Dur adalah sosok Gus yang melebihi Gus itu sendiri, analisa masalah yang sering dilontarkan bukannya sengaja dibuat kontroversi agar menjadi sebuah isu tenar dan populis, melainkan benar-benar pemahaman kehidupan yang hakiki, beliau sudah mempunyai pemahaman yang tidak dipahami oleh kebanyakan manusia. Saya tidak bermaksud untuk mengkultuskan sosok individu dari seorang Gus Dur, beliau tetap sama dengan kita, manusia biasa yang suka dengan makanan, humor, politik dan semua pernak-pernik peri kemanusiaan. Yang membedakan adalah ilham beliau tentang kehidupan ini, baik dunia maupun akhirat.

Gus Dur telah menyederhanakan teori kehidupan, mempemudah jalan kehidupan, menjadi sosok panutan ummat. Disaat para Ustadz dan Kyai sibuk melakukan Poligami, beliau cukuplah satu. Disaat semua orang mengutuk Israil, Gus Dur malah berkunjung ke negerinya kala itu, disaat semua negara menghujat Israil karena melakukan penyerangan ke Gaza, lagi-lagi Gus Dur menjelentrehkan duduk permasalahannya, Beliau adalah Kyai Presiden sekaligus Presiden Kyai yang pernah dimiliki oleh negeri ini. Sehingga bagi orang-orang yang telah mengenal Gus Dur dan bisa memahaminya akan lebih mengerti makna kehidupan ini dengan lebih bijak dan santun, mengambil sisi kehidupan sesuai porsinya. Sedang bagi mereka yang masih hitam putih, sangat sulit untuk menerima jalan pikiran Gus Dur, bahkan cenderung bingung. Itulah Kyai Haji Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, manusia diatas manusia. Gus Dur-Kitab suci yang paling porno di dunia adalah Al Qur’an Masuk Kategori: HOT NEWS Masya ALLOH…Gus Dur..istighfar sampeyan… Eling… Nyebut… Selagi ALLOH SWT masih memberikan kesempatan kepada sampeyan untuk hidup…selagi nafas belum di ujung tenggorokan…selagi…selagi…dan masih 1000 selagi masih ada kesempatan dari ALLOH, Gus.. Istighfar Gus…sebelum semuanya terlambat… :’-( Ya ALLOH … Yaa Rabbi… :’-( *menitikkan air mata utk statement Gus Dur ini…* JIL: Gus, ada yang bilang kalau kelompok-kelompok penentang RUU APP ini bukan kelompok Islam, karena katanya kelompok ini memiliki kitab suci yang porno? Sebaliknya menurut saya. Kitab suci yang paling porno di dunia adalah Alqur’an, ha-ha-ha.. (tertawa terkekeh-kekeh). JIL: Maksudnya? Loh, jelas kelihatan sekali. Di Alqur’an itu ada ayat tentang menyusui anak dua tahun berturut-turut. Cari dalam Injil kalau ada ayat seperti itu. Namanya menyusui, ya mengeluarkan tetek kan?! Cabul dong ini. Banyaklah contoh lain, ha-ha-ha… Wawancara lengkapnya baca di artikel ini.

BERITA TERBARU: JIL ADALAH SEKUMPULAN ORANG PENGECUT!!! MEREKA MENGGANTI ISI BERITA+LINK TTG KOMENTAR GUS DUR INI…!!! TIDAK PERCAYA? SILAKAN BACA DI SINI. 282 Komentar » URI untuk TrackBack artikel ini: http://tausyiah275.blogsome.com/2006/04/17/gus-dur-kitab-suci-yang-paling-porno-di-dunia-adalah-alquran/trackback/ Gus Dur boleh ngomong gitu, Mas Fahmi juga boleh nyuruh Istighfar. Tapi Gus Dur tidak harus istighfar, dan Mas Fahmi tidak perlu percaya kalau Al Qur’an adalah kitab suci yang paling porno. Adil sekali bukan? lebih adil lagi jika GD tidak perlu mengatakan hal2 ga penting seperti itu, mas Herman silakan baca komentar saya di blognya Toni Komentar oleh Herman Saksono — April 27, 2006 @ 5:05 am Kalau saya baca-baca, sepertinya Gus Dur justru mengikuti definisi ‘porno’ dari RUU APP, sehingga mengatakan bahwa Al Qur’an adalah ‘porno’. Di RUU APP ‘porno’ = merujuk ke organ yang terbuka. bukankah di RUU APP juga sudah dijelaskan detailnya…?? Sehingga, menurut saya yang dibilang Gus Dur memang benar dan tidak ada penghinaan thd Al Qur’an sehingga perlu istighfar. silakan berkomentar seperti itu..saya hargai…dan tolong juga hargai sikap saya Dengan mengacu RUU APP, maka buku seksologi kedokteran juga akan ‘porno’. Patung-patung di laboratorium anatomi juga akan ‘porno’. Demikian pula Al-Kitab dan Al-Qur’an juga (mungkin) akan ‘porno’. ehmm…hati2, jangan main hantam kromo Note : saya menulis ‘porno’ dengan tanda petik untuk menunjukkan definisi ‘porno’ ala RUU APP. hmm…nampaknya saya mesti muat artikel khusus tentang RUU APP ini… Komentar oleh Adi — April 27, 2006 @ 12:24 pm setuju ma yg diatas.. dan heran dengan yg nyuruh gus dur istigfar.. kae yg paling bener dan gusdur salah aja.. situ tuhan ya?! lho..tidak harus menjadi tuhan (ALLOH SWT) untuk meminta orang lain istighfar.. sudah kewajiban sesama muslim untuk saling mengingatkan jika ada kesalahan (menurut satu pihak) dan menjelaskan kenapa tindakan tsb dianggap ‘kesalahan’ masalah benar dan salah, untuk urusan dunia mungkin bisa kompromi…tapi untuk urusan akhirat…sudah jelas siapa yg benar dan siapa yg salah… nyebuttt.. istigfarr.. lho…anda sendiri menyuruh orang lain untuk istighfar? ah…tidak konsisten..

Komentar oleh noneedforyoutoknow — April 29, 2006 @ 5:12 pm haha, saya mah cuman nyoba ngikutin aja..[quote]sudah kewajiban sesama muslim untuk saling mengingatkan jika ada kesalahan (menurut satu pihak) dan menjelaskan kenapa tindakan tsb dianggap ‘kesalahan’[/quote]nah ini, apa ga mikir mungkin GD jg lagi mengingatkan dengan cara mengkritik?! mengkritik boleh2 saja…bahkan seperti quote yg anda sertakan..WAJIB!! tapi apakah tidak ada CARA LAIN mengkritik, selain menggunakan Kitab Suci saya dg nada ‘cemoohan’ dan guyonan…atau apapun itu, yang membuat orang bisa menafsirkan macam2?? Komentar oleh noneedforyoutoknow — May 1, 2006 @ 9:53 am Musti tanya dokter ahli syaraf nih,apa dampak dari serangan stroke yg berulang terhadap kemampuan berpikir seorang manula.Takutnya Gusdur ini mengalami kelemahan mental,dulu bumbu masak yg sudah di perikas di laboratorium dan dinyatakan mengandung babi masih dinyatakan halal sama gusdur. wah…mas Justus tidak boleh berkata kasar seperti itu…sudahlah…ALLOH SWT memang menciptakan bermacam-macam karakter manusia (+makhluk). Semua itu untuk menguji kita…seberapa sabar kita menghadapi karakter-karakter tersebut… Jadi serem juga sama yg namanya Islam Liberal, Al’quran di plesetin, ayat & hadits di debat. Allah SWT & Nabi SAW di pertanyakan, Islam di Gugat, masya allah. apa yg di cari yah ? dosa ? azab dari Allah SWT ? nama biar ngetop ? atau apa yah ? wah…saya tidak tahu persis mas Justus…mungkin yg suka melakukan aksi sebagaimana mas Justus sebut, bisa menjawab..?? Komentar oleh Justus — May 2, 2006 @ 11:46 am [quote]tapi apakah tidak ada CARA LAIN mengkritik, selain menggunakan Kitab Suci saya dg nada ‘cemoohan’ dan guyonan…atau apapun itu, yang membuat orang bisa menafsirkan macam2?? [/quote] itu kan bukan kitab suci sodara doang.. kitab GD juga tuh.. [jangan2 GD ga dianggap muslim sama situ?] hehe wah…bukan saya yg menyatakan GD bukan muslim lho saya hanya hendak menyatakan bahwa seorang muslim hendaklah bercanda yg baik…tidak perlu menggunakan Kitab Suci sebagai bahan lelucon…masih banyak contoh lain yg bisa digunakan yahh, GD mau ngomong gimana, itu urusan dia, tapi kan disini peran berita di media [dalam hal ini BLOG ini] dan penulis berita yg punya andil untuk meluruskan ato menjelaskan maksud dari omongan ini.. berarti, kalo banyak yg salah kaprah, salah anda! hehe halah…anda ngeles lagi…jika anda perhatikan, saya mengutip dari website-nya JIL… jika saya menggunakan logika anda, berarti memang JIL membuat banyak orang salah kaprah ya?? Komentar oleh noneedforyoutoknow — May 2, 2006 @ 12:28 pm ah, anda tipikal orang cerdas indonesia; mendalami satu dan lain hal tapi begitu mudah utk melihat hanya permukaan saja. tolong belajar lebih dalam lagi, kali ini lebih ke esensinya (terlebih ttg Islam itu sendiri) ya ya ya…terima kasih atas komentarnya.. anda sendiri mungkin saya golongkan tipikal orang pengecut indonesia…berkomentar tapi tidak berani menunjukkan jati diri anda Komentar oleh yeah — May 4, 2006 @ 9:25 am Menanggapi Pemilik Blog : Orang memang berhak dan wajib mengingatkan sesama muslim atau manusia pd umumnya. Tapi sifatnya tidak menuduh (meminta istighfar). Kenapa tidak ? karena toh kita sesama manusia, kita tidak bisa menggantikan Tuhan (Allah SWT). ehm…apa ada yg salah dg meminta istighfar? So, biarlah soal agama itu menjadi tanggung jawab setiap pribadi. Kita boleh saja mengingatkan, tapi sifatnya tidak menuduh spt itu, kecuali kalau kita merasa sebagai asistennya Alloh. lho…saya memang hanya mengingatkan kok.. Seharusnya ya, yang perlu kita kritik justru terorisme yang membunuh banyak orang, kekerasan atas nama agama, pengusiran dan pengancaman terhadap penganut Ahmadiyah, dst. Nah, kalau ini jelas-jelas perlu dikritik dan dituduh, karena jelas-jelas melanggar hukum. hukum mana dulu? hukum positif atau hukum agama? jika hukum agama yg dilanggar, kita memang HARUS bertindak Gus Dur dan JIL toh tidak pernah melakukan kekerasan, pembunuhan, pengusiran semacam itu kan. Kalaupun pikirannya tidak sesuai dengan Anda (beda interpretasi soal agama) ya biar saja nanti Allah yang akan menentukan mana yang benar dan salah. tapi mereka tidak perlu meracuni pikiran orang lain dg statement2 mereka ALLOH SWT sudah MENENTUKAN BENAR DAN SALAH MELALUI RASULULLOH SAW. Juklak dan juknisnya (petunjuk teknis) sudah tersedia di Al Qur’an dan As Sunnah kok Atau, anda masih ngotot pingin jadi asisten Alloh SWT ? Kalau saya tidak. ah…saya tidak merasa jadi asisten ALLOH SWT kok Komentar oleh Adi — May 5, 2006 @ 6:34 am

Tambahan lagi : Kenapa Gus Dur seolah “menghina” Al Quran ? Menurut saya beliau justru mengikut pendapat yang beredar di kalangan pendukung RUU APP, yang menganggap penolak itu bukan Islam dan kitab sucinya porno. Saya kutip wawancara tsb :JIL: Gus, ada yang bilang kalau kelompok-kelompok penentang RUU APP ini bukan kelompok Islam, karena katanya kelompok ini memiliki kitab suci yang porno? terima kasih atas komentarnya, mas Adi Komentar oleh Adi — May 5, 2006 @ 6:38 am Subhannallah saya rasa dia berfikir seperti itu karena dia terlalu pintar,karena kepintaran itulah dia mendahulukan akal dari pada keimanannya,saya sebagai umta Islam merasa kesal dengan apa yang sudah dia bicarakkan,dia sudah tidak pantas lagi dikatakan sebagai kiyai,mana ada kiyai yang menghina Al-Kitabnya sendiri itu dia, masa kiyai menghina Kitab Sucinya sendiri?? *geleng2 kepala…* Komentar oleh Libasa — May 6, 2006 @ 3:39 am lalu kiyai yg menebarkan kebencian terhadap agama lain adalah pantas menyandang gelar tersebut?! mungkin tidak menebarkan…tapi MEMBELA DIRI dari agama lain yg menyerang.barangkali mas NNFTK bisa menyebutkan nama kiyai2 yg anda anggap menebarkan kebencian tsb?

Komentar oleh noneedforyoutoknow — May 10, 2006 @ 4:19 am assalamualaiku sodaraku… wa’alaykumsalam wr wb kalau boleh saya kasih gambaran sedikit tentang konflik diatas.. maaf ya.. sebelumnya.. 1. seorang arsitek kemungkinan besar pekerjaanya akan lebih dimengerti oleh arsitek juga. 2. seorang designer juga demikianjadi saya fikir jangan lah berlebihan berkomentar kalau kita belum merasa sebanding, maaf sodaraku..maksud saya dengan tingkatan yang dimiliki seorang KH Abdul Rahman Wahid, kemungkinan besar akan hanya selevelnya, saya yakin juga GD tidak semata-mata mengeluarkan perkataan itu kalau dia tidak mengerti betul dalamnya Al-Quran, jadi patut kita sadari bersama jika kita masih hanya tau kulitnya aja, lebih baik kita diam, dan coba cari tau apa dibalik itu, .. ingat hujatan itu berkecenderungan berlebihan dan mendekati fitnah. .. KECUALI .. kita sangat2 faham Al-Quran.. nah itu lain lagi..Benar memang kekhawatiran anda berdasar, tapi apakah yang anda khawatirkan sama seperti khawatirnya anda .. belum tentu.. yah.. saya menutip komentar diatas “masalah benar dan salah, untuk urusan dunia mungkin bisa kompromi…tapi untuk urusan akhirat…sudah jelas siapa yg benar dan siapa yg salah…”,saya mau mengomentari siapabilang urusan akherat sudah jelas siapa yang salah dan siapa yang benar.. konteks yang anda bicarakan terlalu jauh… ini masalah duniawi mas.. dan masalah akherat urusan Allah, dan itu sangat sulit hitunganya, dimata manusia salah belum tentu dimata Allah INGAT ITU…!! .. maaf anda fikir mencemoohkan orang lain tanpa klarifikasi yang clear, apa itu bukan perbuatan salah.. waduh.. subhanallah .. maaf.. maaf.. sekali lagi maaf.. INTINYA LEBIH BAIK KITA BERHATI-HATI.. berhati2 bicara dan hati hati kalau KOMENTAR.. takutnya masalah ini jadi besar karena KOMENTAR-komentar sepihak.. wah.. gawat ini.. maaf jangan tersinggung saya cuma turut bersedih kesemuanya.. hmmm…untuk topik GD, saya sudah tutup…jadi saya tidak akan komentari lebih jauh..

Komentar oleh muhammad faozy — May 22, 2006 @ 2:12 pm menurut aku,orang yg menyuruh gusdur agar beristighfar,justru dia orang yg bukan sekedar sok suci,tapi juga sok pintar.ungkapan itu jgn hanya dilihat redaksinya dong om,tapi lihat dulu orangnya!gusdur seorang ahli filsafat dan tasawwuf yg ucapannya hanya bisa di mengerti oleh mereka yg menguasai kedua ilmu tersebut.bukan orang2 seperti kalian, cengos tapi polos tak mengerti teori berdialektika,padahal jka orang2 berhenti sejenak tuk berfikir tentang maksud gusdur,saya yakin mereka dapat mengerti dan sampai pd pemahaman yg fositif.yg plg penting itu jgnlah kita merasa sebagai org yg pintar dlm segala hal sehingga tak terbiasa untuk berlogika secara jernih sebelum menilai ungkapan seseorang.toh betapa banyak kebenaran2 di alam ini yg telah kita persalahkan,hal itu disebabkan femahaman kita yg dangkal dan males untuk menggunakan nalar kita sendiri secara maksimal. terima kasih atas komentarnya mas Deden.. saya tidak butuh penilaian dari mas Deden kok anda sendiri komentarnya kok mbulet…mau bilang apa sebenarnya?? Komentar oleh deden sajidin — May 24, 2006 @ 8:59 pm saya setuju dan sangat sangat setuju mas sajidin, persis sesuai dengan yang aku bilang,, semua itu akan terungkap sebenarnya oleh orang orang yang selevelnya ( GD), ya bukan berarti kita yang selevelnya lalu berkoar bicara kebenaran.. harusnya kita mawas diri.. untuk menyjelek2 orang… kalau saya perhatikan koentar2 miring mengenai GD diatas, ini bukan mengomentari sifat dan sikapnya .. tapi malah ke individunya.. dan itu tidak dibenarkan.. hati2 terhadap profokasi berkedok kebenaran.. bahaya.. yu kita sama2 menahan diri dan belajar memahami.. mana yg lebih baik:- orang level tinggi bicara dengan levelnya terus menerus tanpa memikirkan orang lain salah tanggap dg ucapannya?atau – orang level tinggi bicara sesuai dengan level orang yg dia ajak bicara? Komentar oleh muhammad faozy — May 25, 2006 @ 6:11 am wah hati-hati dong….jangan menyuruh orang seenaknya untuk istighfar… lho..seenaknya saja bagaimana mas Muhammad? soal keyakinan tanggungjawabnya ya antara manusia dengan Alloh saja… ah…(maaf) jawaban standar … belon tentu situ yang menyuruh Istighfar lebih baik dari Gus Dur…belon tentu juga situ kalo ke akhirat ke surga…karna komentarnya itu lho yang kayaknya mewakili Tuhan aja…. wah…mewakili Tuhan? apa yg salah dg komentar? komentar GD sendiri bagaimana? apa bukannya komentar GD seperti yg ‘menurunkan’ Al Qur’an??

Komentar oleh muhammad — May 26, 2006 @ 4:14 pm mana ujungnya nih mas, maksudnya apa ya mas Zhall? aku tidak begitu jelas… kalo gitu jalanin aja apa yang baek buat masing2, masalahnya gini salah- gitu salah, itulah manusia; tapi ALLOH SWT sudah memberi petunjuk kan?? yang punya masa kadaluarsa/ habis masa berlakunya, tapi ngomong2 udah pada tau blom neh yang gak abis masa berlakunya…. hahaha…bisa saja mas Zhall ini.. Komentar oleh zhall — May 26, 2006 @ 5:08 pm Udahlah……………. gitu aja ko repot2 kaya anak TK aja, dewasa dikit kenapa, jangan diterjemahkan tekstual kaya gitu lah……lagian. Senangnya ko bikin profokasi nda usah merasa benar sendiri, harusnya kita bisa introsfeksi, refleksi kenyataan hari ini kitaituh kaya apa. loh…justru saya juga mengajak introspeksi dan refleksi, mas Agus Tuhan itu maha tahu mana yang haq dan mana yang bathil.Tapi aku bangga gus dur mengatakan demikian, biar umat Islam pada mikir, paling tidak ikut komentar lah……….. mengatakan sesuatu yg membuat heboh, kesannya cari sensasi…tidak ada bedanya dg artis.. ayo kita istihgfar bareng2 Astaghfirullah al adziiimmm… Komentar oleh Agus — May 26, 2006 @ 7:45 pm Saya bangga dengan Gus Dur yang bisa menelaah akar permasalahan sebelum mengungkapkannya (mengajukannya).

Jangan kita bicara atau memaksakan kehendak atas nama agama karena pada dasarnya Tuhanlah yang menentukan baik buruknya kelakuan kita. Kalau kita melakukan tindakan kekerasan, pencemohan, pemaksaan kehendak walaupun atas nama Allah/Tuhan agama/kesopanan/moral/dll) itu tetaplah salah di mata Allah, bahkan itu lebih buruk dari pendosa lainnya. Hidup Gus Dur !!! marilah kita berkaca dan menilai diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum menilai orang lain, jangan merasa paling benar dan paling suci. Sekali lagi Hidup Gus Dur !!! Maju terus bersama bangsa ini. Pertahankan Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila. Hapuskan kemunafikan dari muka bumi ini… hihihhi….*tertawa saja…* makasih komentarnya mas Agus…:) oya…jika selalu meminta berkaca ke diri sendiri sebelum menilai orang lain, tidak akan ada kemajuan loh mas..:)

Komentar oleh Agus — May 27, 2006 @ 3:28 am anda menyuruh istighfar kepada GD , tapi anda membiarkan para habib dari FPI yang melakukan kekerasan kepada umat islam sendiri, jadi bingung aku dengan pola pikir pemilik blog ini, apa pernah nabi Muhamad SAW mengajarkan kekerasan, justru para Habib atau kiai yang mengobarkan kekerasan dan anarkis lah yang harus istighfar loh..mas Habib, aku sudah tulis juga di beberapa artikel, bahwa aku juga TIDAK SETUJU dg SWEEPING dan KEKERASAN… sekarang anda lihat konteksnya…menghina Al Qur’an dg anarkis, kira2 mana yg lebih dekat dg urusan ‘keimanan’? lagipula, para Habib dan Kiai tersebut barangkali sudah jengkel, karena banyak pelanggaran yg dibiarkan aparat…sementara konteks GD?

Komentar oleh habib — May 27, 2006 @ 4:05 am Menurut pengamatan Saya,GD melontarkan komentar seenaknya, tanpa meninjau lebih dahulu pernyataan itu. Kita faham , bahwa Banyak sekali kitab-kitab lain selain AlQur’an yang sifatnya lebih cabul dan porno. Sebutlah diantaranya kitab Kamasutra yang justru oleh GD tidak dianggap cabul dan Porno. bahasa AlQur’an adalah bahasa yang angat santun,sopan dan halus. Kalau ada yang mengatakan GD adalah ahli filsafat, memiliki kedalaman ilmu yang tiada bandingannya……Sedalam apa sih ilmunya GD bila dibandingkan dengan ilmu yang terkandung dalam AlQur’an. Mana yang lebih filosofis, bahasanya GD atau kah AlQur’an. betul mas Khairil…siapa yg sebenarnya mesti diikuti? GD atau Al Qur’an? lalu, mengapa mengajak orang utk istighfar malah dikecam orang yg mengajak? *geleng2 kepala…* Komentar oleh Khairil Anas — May 27, 2006 @ 5:49 am kita harus memandang gusdus sebagai Kiai yang banyak ilmunya, apa yang dikatakan kita tidak mengerti, untuk itu kita tidak boleh menghina sembarangan justru karena banyak dari kita yg tidak mengerti, GD sbg Kiyai, tidak boleh bicara sembarangan Komentar oleh nendyas — May 28, 2006 @ 6:13 am Dulu KH As’ad Syamsul Arifin bilang dia ga bisa nerusin berimam ke Gus Dur karena sewajiban untuk berimam sudah batal karena Gus Dur kentut. Dan ternyata Gus Dur memang punya penyakit suka kentut-kentut, jadi berhenti aja berimam ke beliau.Dan buat Gus Dur, mbok ya kalo suka kentut jangan maksain diri memposisikan diri jadi imam getoooo tenang mas Edward…jangan terlalu emosi Komentar oleh edward saeed — May 28, 2006 @ 10:58 am ….udah sejak zaman dulu tokoh seorang Gus Dur paling saya benci, omongannya ceplas ceplos kyak orang gak beres, ngelantur, sok tau masalah pokoknya saya super hiper anti sekali. Saya anti bukan kemudian gak mempelajari seorang Gus Dur tapi selalu saya cermati semampu saya …. dan setelah sekian tahun ….Maha Besar Allah …… ternyata Gus Dur itu klo boleh saya ktakan ternyata orang super jauh … amat jauh di atas saya ……. hingga segala kta yg diucapkannya (yg selama ini saya anggap ceplas ceplos dll) ternyata bila dipahami (kdang saya bisa memahami setelah berhari2, berminggu2, ato sangat lama) dlm katanya terkandung makna yg sangat dlm dan sama sekali gak ngawur …. yg hingga saat ini memberikan saya pelajaran bahwa perlu pemikiran yg amat sangat dlm terhadap sesuatu yg ada … bahwa bungkus tak mencerminkan isi sama sekali …dan saat ini Gus Dur adalah orang yg teramat saya kagumi ….gak masalah sihh nyuruh Gus Dur istighfar … tapi yg saya tau dan saya yakinin dalam denyut nadinya dan nafasnya ada dzikir….. anda tahu darimana? (mengutip komentar dari komentator lain) apakah anda ALLOH atau wakil ALLOH? … Gus Dur itu mudah dipahami dg teknik dzikir … coba aja baru komentar terima kasih untuk sarannya jika memang bisa dipahami dg dzikir, kenapa kemarin saat di Purwakarta banyak yg demo ttg komentar GD ini? apa mereka masih kurang dzikir?

Komentar oleh orang biasa — May 28, 2006 @ 2:45 pm Hahahaha… Gus Dur banyak-banyak istigfarlah, sudah disuruh bercermin koq ndak ngerti2 tenang mas Jesie…kita sedang melawan main stream-nya GD loh.. Komentar oleh jesie — May 29, 2006 @ 1:46 pm Gus dur blh intelek, tapi kan ngga semuanya yang mendengar/merespon ucapannya GD,bisa mengerti,krn manusia itu berbeda satu sama lain,jadi jangan hanya menempatkan k’intelektualnya aja(jadi orang jangan takabur,pintar boleh tapi harus menghargai perasaan orang yang pemikirannya d bawahnya,jadi jangan ngomong asal ceplak aja),kan banyak orang awam yang tdk mengerti dgn makna yg tersirat dari ucapan GD, yang ada malah menimbulkan fitnah dan sara. tepat sekali mas DSM…:) Komentar oleh dsm — May 29, 2006 @ 10:37 pm seorang kyai adalah figur dan panutan… sehingga apa yang diucapkan dan di lakukan akan selalu dianggab serius bagi umat. dari itulah kenapa kiayai dimulyakan di dunia dan di akhirat, sebab dia mampu menjaga tindak tanduknya yang mampu memberi pengayoman bagi umat. GD sebagai seorang kiayi tak salah jika juga pandai dalam berpolitik karena dalam islam juga ada ilmu mantik ilmu balaghoh. tapi masalahnya tak seluruh umat tahu akan hal itu. sungguh tragis jika statement seorang yang difigurkan dan memiliki pengikut yang besar walau “guyonan” malah menimbulkan interpretasi yang salah apalagi menimbulakn keresahkan bagi pengikutnya. kiayi bagi saya harus punya jiwa pengayom pelindung, apapun yang di perjuangkan apapun yang di bawakan harus membawa nama baik ALLAH SWT dengan cara yang membawa ketenangan dalam masyarakat.menurut saya GD adalah GD biarkan dia bersama caranya, yang terpenting kita harus lebih giat menjaga keimanan kita serta juga lebih waspada terhadap musuh kita kaum misionaris manapun yang mencoba memecah belah umat, ingat untuk menumbangkan pohon janganlah pakai kapak besi tapi pakailah juga pegangan kayu agar ayunan bisa lebih bertenaga. waspadalah …!waspadalah ..! tepat sekali mas Arief…seorang Kiai (ulama) idealnya memang mesti LEBIH menjaga tindakan dan ucapan…jangan sampai timbul salah tafsir dan salah persepsi, yg ujung2nya mengarah ke tindakan anarkis Komentar oleh arief rahman — May 30, 2006 @ 12:16 pm ahhhhhhhhhh… tolong kaji lagi Al-Quran.. tentang akibat dari perdebatan.. jelas kok di Al-Quran.. brang siapa yang memperdebatkan sesuatu yang akhirnya makin besar efeknya.. ya .. itulah yang bertanggungjawab atas isu yang sesungguhnya.. INGGGAATTTTTTT.. jaga lisan sabar…sabar… Komentar oleh muhammad faozy — May 30, 2006 @ 11:11 pm Terus terang saya heran, kok masih banyak juga orang ngga mikir untuk jadi pengikut setia atau pembisik2 gusdur, padahal kita sudah sering mendengar kelakuan gusdur yang nyeleh, yang sembarangan ngomong, yang katanya intelektualnya tinggi, tapi sikapnya kayak orang yang ngga punya pikiran. Seharusnya gusdur itu sydah harus insyaf, sadar, dan bertaubat. Jangan lagi berbuat hal-hal yang bisa buat orang bertengkar, saling menuduh,menjelek-jelekan satu sama lain yang ujungnya perpecahan antar umat islam.Kita harus belajar dari sejarah, dari dulunya umat islam itu hancur karena gara2 hal seperti ini,akhirnya masuk pihak ke3 dan mengadu domba ( kalo dulu ada istilah de vide at impera, apa betul tulisan saya juga sudah lupa, abis pelajaran sd, smp seeh…hehehe).Saya pernah melihat waktu gusdur dibaptis digereja.saya punya VCDnya.emang ngga ori lagi, tapi saya copy dari VCD orinya.Disitu gusdur dijanjikan akan disembuhkan penyakit matanya,saya akhirnya jadi bertanya-tanya dan bingung sendiri, gusdur itu agama islam atau udah pindah ya????entahlah kawan, hanya tuhan yang tau…….( “sambil ngurut kening…*&$#???) entahlah mas Zufar…saya sendiri tidak mengerti kok…

Komentar oleh zufar sahara — May 31, 2006 @ 10:26 pm Sekali lagi saya himbau kepada pengikut setia gusdur, yang loyal dan terus setia kepada gusdur, apakah saudara tidak memikirkan segala tindak-tanduk gusdur itu justru memecah-belah kita selaku umat seagama?terus terang saya heran, saaaaaangaaaat heran sekali, kenapa segala kebodohan yang dibikin gusdur kok malah di ikutin???sadar hai kawan….saya kenal banyak kyai( walaupun mungkin kyai lokal…ataupun yang sering nongol di tipi, kebanyakan mereka itu berusaha membawa umat kejalan yang benar, jalan kedamaian, penyejuk hati, pemersatu umat).tapi, sama kyai yang satu ini, yang mungkin selalu jadi panutan sama segelintir orang(maaf sebelumnya,sebab, setahu saya islam di indonesia luas, dari sabang sampai merouke, dari pulau sumatra, jawa, bali, kalimantan, sulawesi, papua, setahu saya yg fanatik gusdur hanya dijawa, dan itu hanya sebagian kecil)selama ini gd selalu berusaha memecah belah umat dengan ucapan yang kontroversial, tindakan yang tidak sesuai dengan ajaran qur’an(seperti yg saya uraikan diatas, saya punya VCD pembaptisan gusdur!!)dan mungkin masih banyak lagi….(mungkin kawan2 lain ada yg lebih banyak referensinya dari saya).sekali lagi saya ingatkan, coba fikir lagi bagi kawan2 yg sekarang masih terus memuja gusdur, menjadikan gd panutan, dan mungkin ingin menjadikan presiden lagi( saya berdoa semoga jangan sampai gd jadi presiden lagi, saya pribadi malu…kayak ngga ada orang yg lebih baik dari gusdur, biar dari segi pemikiran maupun fisik.FISIK…????ya…fisik, sangat berperan dalam kinerja seseorang.tidak ada alasan untuk bantah hal tersebut…tul ngga!saran saya, mending gusdur lebih istirahat total, lebih mendekatkan diri kepada allah swt (kalo masih agama islam, tapi lako ngga…:) )atau pulang kedesa, hirup udara segar, dan selalu berdoa semoga saat ajal menjemput nanti, dikau udah siap, ok gus…salam hangat dari saya singa gurun….!!!!!! hwaduh…sabar mas Zufar…jangan emosi.. Komentar oleh zufar sahara — May 31, 2006 @ 10:46 pm siapa yang merasa terpecah belah… siapa ??? aku yakin orang orang yang merasa terpecah belah itulah orang2 yang berselisih.. ingat orang yang berselisih itu di benci alloh.. kaloau kita gak merasa berselisih lenapa harus merasa terpecah belah.. saya malah lebih heran kepada Mr. jufar .. waduh hati2 tentang paparan anda .. bisa menjadi fitnah.. pernah anda berdialog dengan gusdur langsung dan menanyakan hal2 yang anda sebut diatas.. kaloau belum hati2 mas malah bisa jadi fitnah.. mendingan kita jaga hati.. filter informasi.. dan jada diri dari mendekati hal2 yang membawa ke dosa.. saya fikir itu lebih baik.. maaf bukan berarti saya pengikut gusdur tapi.. kita sama sama muslim.. .. dan pastidong tau batasa2 seorang muslim.. maaf dan terimakasih wah…sabar…sabar.. Komentar oleh muhammad faozy — June 1, 2006 @ 10:26 pm ….duhhh Gusti ………web site ini mengapa jadi tempat tuk ngomongin orang saya orang yg sedikit ilmu ini jadi malu baca web ini.kebenarankah ….. fitnahkah…..…ya Allah apa maaf itu ada…. dihati kami……kebencian itu tertaut pada diri atau hati… hmmm….terima kasih komentarnya mbak Daku Komentar oleh daku — June 3, 2006 @ 5:09 pm Menurut saya,Dalam dialog tersebut ada kata kata yang terpotong sehingga menimbulkan kontra yang tajam.Yang memotong dialog tersebut adalah pihak yang mengeluarkan pertama yaitu JIL,tujuannya tak lain memang menciptakan kontra,dan ini berhasil.Coba kita lihat di block resminya gus dur yang berjudul gus dur kritik otak porno.semuanya insyaallah akan jelas memang JIL adalah pengecut kok Komentar oleh assyaukany — June 4, 2006 @ 1:19 pm KH. Gus Dur dah bukan sekali ini saja bikin ulah. Menyakiti kaum muslimin baik sengaja atau guyon waton sa’ udele dhewe. Benarlah hadist Rasulullah yang menyuruh hati-hati dalam guyonan yang kelewatan karena bisa meMATIkan HATI. Orang yang sudah tahu ketidakwarasan Gus Dur dan masih juga membelanya adalah lebih tidak waras. KH. Gus Dur yang dipuja2 banyak orang dan bahkan sampe dianggap wali… (wali setan mustinya, wa naudzubillah) tentu bukan anak kemaren sore yang nggak tahu menahu kalau mengolok-olok Al-Quran itu dengan keyakinan ataupun kebodohan bisa membuat si pengolok dihukumi kafir/ murtad dari Islam. Al-Quran adalah kalamullah, berarti dia sudah membuka konfrontasi langsung dengan Allah. TIDAK TEPAT KALAU beliau DIMINTA UNTUK ISTIGHFAR…!!! Tetapi lebih berat lagi yaitu disuruh mengulang SYAHADAT. Bersyukurlah beliau ini hidup di negeri sekuler macam Indonesia ini. Kalau tidak, tentulah sudah lama beliau ini jadi kompos. Orang yang sombong(tidak mau menerima kebenaran), ahlul bid’ah macam beliau ini baru mungkin akan sadar kalau sudah nyawa di ujung leher. Antek2nya, fans beratnya, dan orang2 yang (ikut2 buta) mengikutinya, menyebarkan pemahamannya akan semakin menambah berat gudang dosa yang beliau pikul. Tidakkah sebagian kalian yang ada di sini membaca bahwa Allah juga melaknat ABU LAHAB(dengan MENYEBUTKAN NAMANYA) di dalam Alquran padahal beliau dulu juga dikenal suka memberi makan para peziarah Kabah? Membicarakan keburukan ahlul Bidah dan wali setan macam beliau ini adalah kewajiban untuk mengingatkan ummat akan bahayanya dan jangan sampai mengekor. Fanatik hanya untuk Rosulullah. Semoga Gus Dur masih diberi Hidayah Taufik oleh Allah azza wa jal untuk rujuk, kembali ke Islam yang lurus.Amiin wah…komentarnya mas Bujang lebih pedas dari isi artikel ini malah….hihihi.. sabar mas Bujang… Komentar oleh Bujang — June 7, 2006 @ 9:41 am Mas Bujang, Bener Banget tuh….. terima kasih komentarnya, mas Sugeng Komentar oleh NoName — June 8, 2006 @ 3:39 pm Saya rasa Gus Dur memiliki kecerdasan intelektual yg memang sedikit rumit untuk diikuti oleh khalayak umum seperti saya . namun bila ditelaah lebih dalam akan maksud maksud yg diutarakan Gus Dur dalam setiap kesempatan….Saya menjadi yakin bahwa beliau memang memiliki tingkat pemahaman yg luar biasa…. tapi mas Ardians, mestinya beliau menyampaikan dg bijak, dengan kata2 yg bisa dimengerti orang banyak… Rasululloh SAW sendiri yg ilmu agamanya langsung dari ALLOH SWT, senantiasa berdakwah dg bahasa yg dimengerti khalayak Komentar oleh ardians — June 9, 2006 @ 10:14 am GD sudah tidak didukung lagi oleh sebagian besar kaum NU, dia lebih banyak didukung oleh golongan liberal yang menolak RUU APP. Kalau dia mengaku seorang penganut paham demokrasi (baca: demo crazy), alangkah baiknya dia memberikan statement yang cerdas tanpa menimbulkan polemik. Permasalahannya dia menyebut Al-Qur`an yang notabene adalah kitab suci umat Islam, tentu ini sangat disesalkan. Saya mohon, kepada saudara-saudara fans GD untuk tetap kritis, jangan karena kultus individu kebenaran dikesampingkan. GD bukan malaikat yang selalu benar, dia adalah manusia biasa seperti kita yang butuh nasihat. Wassalam sabar mas Hasan… terima kasih komentarnya Komentar oleh Hasan — June 9, 2006 @ 2:29 pm Ass. Wr. Wb. wa’alaykumsalam wr wb Musibah yang sebenar-benar musibah adalah ketika manusia sudah kehilangan akhlaq yang baik, jalan terbaik untuk mencapai akhlaq yang baik adalah setiap pikiran, ucapan, dan tindakan kita harus selalu berbanding lurus dengan ketentuan Al’Quran. Sebagaimana disampaikan oleh Aisyah RA, bahwa Al Qur’an berjalan adalah Rasullullah SAW, maka dengan melaksanakan sunnah Rasul, insyaAllah kita terjaga dg akhlaq Al Qur’an dan selamat dunia-akhirat. Jika konteks wawancara GD di JIL yang pada akhirnya menimbulkan Pro-Kontra, maka yang terbaik bagi kita adalah: 1. Menelaah apakah Rasul pernah mencontohkan, atau paling tidak pernah melakukan sesuatu yang mempunyai equalisasi/padanan dengan konteks wawancara di JIL itu?, jika dari berbagai sudut tidak bisa di equalisasi dengan sunnah Rasul, maka itu jelas tidak dibenarkan. 2. Dalam berkomentar haruslah merefer kepada sunnah Rasul yang berbunyi: “siapa yang membuka aib sudaranya, maka akan terbukakan aibnya oleh Allah SWT di dunia dan akhirat, siapa yang menutup aib saudaranya, maka akan tertutupkan aibnya oleh Allah SWT di dunia dan akhirat”. Jadi menjauhkan diri dari membuka aib GD adalah akan menjaga kita dari ke-obyektifan pendapat kita. 3. Segala Pikiran, ucapan dan tindakan kita haruslah me-refer kepada sunnah Rasul SAW, sebagaimana sabda beliau SAW;”Barang siapa menghidup-hidupkan sunnahku, maka dia cinta kepadaku, barang siapa cinta kepadaku, maka dia akan bersama aku di Surga (sambil merekatkan jari telunjuk dan tengah beliau SAW, sebagai tanda dekatnya)” Yakinlah bahwa kesemua yang terjadi ini (pro-Kontra) tidak akan mengurangi Kebesaran dan Kebenaran Allah SWT. Dalam kondisi apapun, istighfar haruslah terus terkumandang dari mulut dan hati kita agar kita terjaga dan sadar bahwa manusia adalah tempatnya salah, sebagaimana dibiasakan oleh Rasul SAW, meskipun beliau SAW adalah manusia Machsun.Semoga bermanfaat. wah…terima kasih sekali komentarnya, mas Luthfie Wass. Wr. Wb. wa’alaykumsalam wr wb Komentar oleh luthfie — June 13, 2006 @ 2:06 pm saya ambil dari komentar pendukung GD ( maaf anda fikir mencemoohkan orang lain tanpa klarifikasi yang clear, apa itu bukan perbuatan salah.. waduh.. subhanallah .. maaf.. maaf.. sekali lagi maaf.. INTINYA LEBIH BAIK KITA BERHATI-HATI.. berhati2 bicara dan hati hati kalau KOMENTAR.. takutnya masalah ini jadi besar karena KOMENTAR-komentar sepihak.. wah.. gawat ini..) MENYARANKAN ORANG BERHATI2 BERBICARA KENAPA TIDAK MENYARANKAN GD AGAR BERHATI2 BER BICARA (tapi lihat dulu orangnya!gusdur seorang ahli filsafat dan tasawwuf yg ucapannya hanya bisa di mengerti oleh mereka yg menguasai kedua ilmu tersebut.bukan orang2 seperti kalian, cengos tapi polos tak mengerti teori berdialektika,padahal jka orang2 berhenti sejenak tuk berfikir tentang maksud gusdur) BERARTI YANG MENGADUKAN GD ATAS PENGHINAAN TERSEBUT ( ULAMA) TIDAK MENERTI ILMU TASAWUF DAN FILSAFAT,.. CKCKCK Indonesia mayoritas islam ( ada undang2 porno ko malah di tolak ) yang nolak islam lagi alah2,.. geleng2… IKUTILAH AJARAN ALLAH S.W.T DAN NABI MUHAMMAD S.A,W YANG SEBENAR2NYA YANG TERCERMIN DALAM AL-QURAN DAN AL-HADIST. sabar mas Makhful…jangan ikut2 emosi.. terima kasih komentarnya Komentar oleh Ikhtiar & tawakal — June 14, 2006 @ 2:11 pm kayaknya,,,mereka yg terus2an nyalahin gusdur gak nyambung2 deh ama komentar pertamanya gw. padahal maksud gw …ya jangankan ucapan gusdur ,,ungkapan tuhan dlm al quran skalipun,,,, kalau di fahami spotong2 dan di baca spenggal2 artinya justru malah bertentangan,maka bagaimana mereka menafsirkan ayat fawailul lil mushalliin (neraka wail lah tempat bg org2 yg suka shalat) dan wa makarallaah wallaahu khairul maakiriin(dan Allah tlh berbuat makar dan Allah lah yg paling makar dr sekian banyak org2 yg berbuat kemakaran).nah dari 2 penggalan ayat di atas tadi..jls al quran pun bisa di plintirkan oleh org2 yg mempunyai kepentingan politik dan bisa di salah fahami oleh org2 yg berotak tapi tak berakal sehat.,,apalagi ucapan gusdur….. tapi org yg brakal sehat pasti akan bertabayyun (berkonfirmasi) terlebih dahulu kpd gusdur bkn lantas memelintir ucapannya demi kepentingan politik atau ingin menarik simpati publik seperti yg di gembor2kan oleh preman preman berjubah dan bersorban putih,mirip kayak telur kacingcalang….. wah…mas Deden benar2 pendukung GD sejati… Komentar oleh deden sajidin — June 21, 2006 @ 7:03 am Ass. wr wb Mengapa harus bangga Kalo si Abdurahman Wahid adalah ahli tasawuf? (mengutip dari http://smd.atibidah.net)Katakan, Tasawuf bukan Islam! Berikut ini kami jabarkan dengan ringkas tentang pertanyaan : “apakah tasawuf bagian (kelompok) Islam ?” Maka katakan: Tasawuf ber-aqidah Sufi, karena tasawuf berbeda dengan aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang merujuk pada al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih. Jika ditanya: ‘ Bukankah dia juga menggunakan al-Qur’an dan Hadits’ ? Maka katakan: Tasawuf melencengkan makna al-Qur’an dan tokoh tasawuf tidak ada yang menjadi ahli hadist, bahkan sebaliknya mereka ahlul kalam semua. Para tasawuf menetapkan ‘ilham’ merupakan wahyu yang dimiliki para wali mereka hingga sekarang. Sehingga mereka mendapat petunjuk dari Tuhannya kapan saja baik saat terjaga atau mimpi.Tafsir mereka adalah isyarat, dimana setiap huruf pada al-Qur’an mengandung makna yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali wali mereka termasuk Nabi Muhammad Shalllallahu ‘alayhi wa sallam, sehingga penafsiran ayat pada al-Qur’an yang dianut oleh agama Islam tidak sama dengan mereka. Allah ta’ala menurut tasawuf dan tarekat lainnya dapat berada (wihdatul wujud) pada makhluk yang diciptakan, bahkan pada kambing sekalipun.Rosulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menurut tasawuf tidak mengetahui apa-apa tentang ilmu agama Islam, sebaliknya tarekat lainnya meyakini bahwa Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam adalah Allah ta’ala yan bersemayang di ‘Arasy.Wali yang sudah mencapai tingkatan alim, keramat juga sempurna menurut tasawuf adalah lebih mulia dari pada seoarang Nabi.Mereka memiliki dewan wali yang berkumpul di Goa hira, untuk menunggu takdir-takdir manusia.Surga tidak pantas dicari menurut tasawuf, karena akan mengurangi kesempurnaan, sebaliknya neraka adalah tempat yang paling nyaman dan nikmat bagi tasawuf.Fir’aun dan Iblis adalah mahkluk yang paling bagus aqidahnya, karena tidak mau sujud kepada Nabi Adam ‘alayhis salam, dan tidak patuh kepada Allah ta’ala dengan mengatakan “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi, dan fir’aun termasuk orang yang beriman dan masuks surga.Tidak jelas siapa Nabinya, apa Kitabnya, Siapa Tuhannya.Katakan 10 alasan itu untuk menolak ajaran tasawuf di tempat anda, jika mereka mengelak dengan alasan yang ada, maka katakan padanya ” Sesungguhnya hanya ada 2 kelompok yang dapat selamat dari mereka ” Orang awam, yang baru mau mengenal tasawuf. Maka ajaklah dia untuk menghindari pengajian-pengajian tasawuf ditempat anda.Orang yang sudah sampai tingkat atas dan mendapatkan hidayahNya, maka dengan sendirinya akan mengakui kerusakan tasawuf seperti Imam Ghazali.Adapun orang yang kamu dapati sampai sekarang masih sibuk dengan tasawuf, mencari tahu hakikat Allah ta’ala, meneliti perkara ghaib yang hanya Allah ta’ala yang mengetahui, maka menghindarlah, tutup telinga anda mendengar ocehannya, jangan membaca buku-buku mereka, jangan duduk-duduk dimajelis mereka, jika bertemu tokoh mereka…larilah!! Jadi kesimpulan gampangnye kalo kita ketemu abdurahman wahid si ahli tasawuf (katenye sih) maka hidarilah segera. Orang2 yang bangga disebut nadliyin (ormas pendukung berat Si GD) ini pun harus di sentil lagi tingkat keimanan (ISLAM)nya. mereka panutannya adalah GD atau Nabi Muhammad SAW sih???? kalo panutannya / idolanya adalah GUSDUR…. astagfirullah…. istighfar mas…. tugas kita sebagai sesama muslim adalah sekali lagi mengingatkan… wassalam terima kasih atas sumbangan artikel + komentarnya, mas Singodimedjo Komentar oleh Singodimedjo — June 21, 2006 @ 3:39 pm aq setuju ama komentar nya sdr Bujang..bahwa fanatik hanya untuk rosululloh saw.sedangkan gusdur adalah salah seorang ulama,dan Bujang harus tau bahwa ulama adalah pewaris para Nabi,,,,heh Bujang…ente pernah ketemu langsung gak ama gusdur???? pantesan lo blum kenal jgn sok ngomentar deh!!!!ama org yg lom lho kenal….bahaya ente…. lho..pewaris Nabi belum tentu levelnya sama dengan Nabi, lho… hati2 dalam beranalogi… Komentar oleh gatal getol — June 22, 2006 @ 10:38 am dan aq bangga jg ama komentarnya Al ustadz SINGODIMEDJO yg katanya kita harus mengikuti Nabi saw.tapi dia sendiri malah manggil GD dgn sapaan “si”,,,,,oh egitukah cara nabi ketika mengingatkan seseorang?????dan ustadz SINGODIMEDJO knapa antum bicara2 tasawwuf secara panjang lebar???? gak ilmiah banget deh ustadz….sebelum antum bercerita soal tasawwuf secara panjang lebar, ya definisikan dulu tasawwuf itu apa ustadz????? biar gak ngelantur persoalannya githu lho.jangan2 yg tasawuf yg ustadz bilang sesat adalah tasawwuf yg ada dalam tashawwur ustadz sendiri……ya jgn salahkan tasawwuf nya lah !!!!tapi persepsi sampean yg harus dibenahi terlebih dahulu!!!!!klo pengen tau tasawwuf …gak cukup buka satu situs/website donk coy,,,apalagi klo cuma copy paste anak SD pun bisa,,,,dan ngandelin gituan bkn faham namanya…..coba ya jgn menampakkan bgt deh ketinggalannya,berusaha ilmiah donk!!!!meskipun ustadz SINGODIMEDJO bukan sosok seorang akademis,klo ilmiah pemaparannya ya… sip.. khan…… pamit dulu ya ustadz,wassalam hwalah…kok jadi merembet ke masalah pribadi?? sabar…sabar… Komentar oleh gatal getol — June 22, 2006 @ 11:08 am “Abdurrahman Wahid dan tokoh JIL lainnya sebaiknya jangan disebut ulama. Salah besar kalau kita mengatakan demikian. Yang benar, mereka adalah tokoh yang sering bicara tentang Islam, lepas dari benar atau salah. Adapun kriteria ulama, sungguh sangat-sangat jauh dari sosok mereka. Abdurrahman Wahid tidak pernah duduk di bangku kuliah syariah, dia hanya duduk di bangku kuliah sastra di Iraq, setelah sebelumnya gagal studi di Mesir. Iraq saat itu sedang dilanda demam sosialis, di mana para mahasiswanya pun tidak sedikit yang terkena dampaknya. Pernyataan ini bukan pernyataan provokatif, melainkan pengakuan Abdurrahman Wahid sendiri. Dia pernah bercerita tentang bagaimana kehidupan masa lalunya belajar di negeri orang serta kecenderungannya dalam masalah ilmu yang dipelajari. Oleh sebab itu, sebagai orang yang tidak berada dalam kapasitas sebagai ulama syariah, pernyataannya tidak perlu dijadikan rujukan masalah syariah. Kita tidak perlu pusing-pusing bila ada orang yang seperti itu. Yang perlu kita pahamkan kepada masyarakat adalah menjelaskan perbedaan antara ulama dengan bukan ulama. Pendapat para ulama yang hakiki tentunya perlu disimak dan didengarkan. Misalnya saja ulama kaliber international seperti almarhum Syeikh Bin Baz, Syeikh Al-Utsaimin, Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Dr. Yusuf Al-Qaradawi, Dr. Muhammad Al-Ghazali, Dr. Musthafa Al-A’dhzami, Dr. Said Ramadhan Al-Buhti, Dr. Musthafa As-Siba’i dan lainnya.” (Dikutip dari eramoslem.com, ustadz menjawab, by Ust. Ahmad Sarwat, Lc.06 Juni 2006). Kita rasa sudah jelas dan transparan bukan?? Mana yang layak menjadi panutan kita. Jangan salah memilih teman!! terima kasih untuk sumbangan informasinya, mas Hasan Komentar oleh Hasan — June 26, 2006 @ 11:21 am Kembali ke thread awal, yang punya blog ini sepertinya suka menyebarkan fitnah dan kebohongan. wawancara dg Gus Dur yg katanya dipetik dari situsnya JIL, kalo anda telusuri link/url-nya, nyata2 tidak ada tuh ungkapan/kutipan seperti itu. Kalo main kayu gini ya repot. Ngapain juga ditanggepin. ah…mbak Ira tidak teliti… silakan dicek lagi mbak… Komentar oleh ira — June 27, 2006 @ 11:34 am betul banget,,,,,,,yg diungkapkan temen aq Ira…soalnya, klo di telusuri dr sumber aslinya… justru merekalah (grup tolol FPI)yg memojokkan gusdur ,DAN UCAPAN GUSDUR YG MAKSUDNYA BENER MEREKA PLINTIRKAN DGN MAKSUD MENFITNAH,… mbak Nadya coba cari lagi yg teliti ya?? Komentar oleh nadya ambarwati — June 27, 2006 @ 2:52 pm DAN temen aq yg satu ,,,,HASAN,,,TUH namanya,,,,tolol bgt , ngapain jauh2 ngebahas perbedaan yg ulama dan yg bkn ulama,,,,,,???? yg penting siapapun orangnya yg ngomong wajib kita teliti ,,jgn difahami sepintas lalu donk!!!!apalagi ucapan GUSDUR yg berwawasan international dan berilmu agama tinggi dibanding kita ,Coba mas HASSAN pernah megang apa coba???? jd pengasuh pesantren pernah gak? jadi ketua perdamaian dunia pernah? ketua ormas islam terbanyak pernah??? jadi presiden mas hassan pernah????? jgn macem2 HASSAN,,kamu bukan levelnya buat ngukur dia ,,,wong,,,,ulama setimur tengahpun pd tau ungkapan gusdur tersebut……tapi mereka diam dan ngerti maksud gusdur,,,,FPI aja yg kbakaran jenggot,,,sok alim nafsuan dan provokatif gt,,,,, halah, mbak Nadya…kok jadi mengarah ke pribadi mas Hasan? Komentar oleh nadya ambarwati — June 27, 2006 @ 3:05 pm Anda (mba nadya yang pinter..???)telah mementahkan statement Anda sendiri. Anda mengatakan “yg penting siapapun orangnya yg ngomong wajib kita teliti ,,jgn difahami sepintas lalu donk!!!!” Kalau Anda konsekuen, tentu kita tidak usah menunggu menjabat suatu ormas tertentu atau menjadi pengasuh pesantren, untuk mengkritik seseorang. Bukan jaminan bahwa orang-orang yang pernah menjabat pada posisi tersebut bebas dari kesalahan atau ma’shum. Ulama timur tengah diam saja…??? Anda punya data?? Please deh, ente jangan taklid buta gitu dong, kritis dikitlah!! wah…komentar balik yg elegan, mas Hasan..jangan terbawa emosi ya?? Komentar oleh Hasan — June 28, 2006 @ 10:25 am tuh khan….masih aja lom nyambung,,,maksud gw klo gusdur aja yg udah berwawasan international pernah minpin ulama,pernah minpin bangsa , gak lepas dr kesalahan, ya,,,apalagi ente hasan….ato temen2 ente yg otak nya nyalahin trus bisanya,,,ente lbh gak maksum . logika nya gak rumit kok.tp klo ente pengen nyalahin trus gusdur,berarti entenya yg maksum.titisan nabi.trus klo emang ada komentar dari ulama tinteng yg validitas keulamaannya diakui ya mana coba,,,,????ada gak datanya????lho ,,,,,ke timteng aja lom pernah sik tau,plg2 klo udah cuma hajian dong,.ya pantes,,lah. mbak Nadya…silakan berkomentar dg bahasa yg baik… jangan menghina pribadi mas Hasan… Komentar oleh nadya ambarwati — June 29, 2006 @ 12:31 pm POKOKNYA JGN SOK TAU TTG ULAMA TIMTENG BG YG LOM PERNAH KESANA,DAN JGN NGOMONG2 SOAL GUSDUR BG YG LOM KENAL AMA DIA.HASSAN,,,,,,,,KETEMU AJA AMA GD LOM PERNAH KHAN? ck ck ck…mbak Nadya kok ‘kasar’ sekali komentarnya… Komentar oleh nadya ambarwati — June 29, 2006 @ 12:37 pm huh HASSAN HASSAN,,,,,,APES LHO YA,,,,,,, EMMMMANG,,,, ENAK DIMARAHIN AMA CEWEK…..EH,,,,,Mbak Nadya…..orang sakit kaya SI HASSAN,,,,jangan dimarahin dong….sayangi dia,,,peluk dia ,,,kecup dia….suruh minum obat paramex,,,,jgn minum [sensor] terus gt,,,,,mo [sensor]??????? ngerrres ck ck ck…ada lagi pengecut yg malah mengadu domba… Komentar oleh dunia lain02 — June 30, 2006 @ 10:38 am Afwan, ga perlu emosi dan bicara kasar seperti itu,…ane malah geli dengan kalian. Jangan marah lah! Be patient man! Ane pernah ketemu GD di sebuah forum di Jawa Timur, bahkan ane nuntun tangan beliau….tepatnya sehabis beliau ngisi acara di Jawa Timur. Jujur aja, ane males nanggepin ente yg bisanya cuma maki dan ngomong kasar, mendingan ane kasih buku aja ya, judulnya “Al-Qur’an dihina Gus Dur” terbitan hujjah press. Serius ni, ente kasih alamat aje, ntar ane paketin. Trus, ente baca dengan seksama ok! balasan yg elegan mas Hasan…tetap cool ya?? Komentar oleh Hasan — July 1, 2006 @ 9:04 am tuh khan,,,,,skarang ktauan klo Hassan adalah “SALES MAN”….pake promosi sgala……trus ngaku2 prnh nuntun GD lg,,,,,keterlaluan bgt lho,,,,,,mmmang nya lho iapanya GD? yg megang dia gak sembarang org deh…..dan jls ktauan skrg,,,buku yg kau tawarin buat aq itulah yg memberikan ispirasi atas pandangan miringmu thdp GD,seandainya hassan melakukan klarifikasi langsung pd GD,gw yakin klo pandanganmu akan lurus gak bakalan terpengaruh buku2 yg dikarang oleh org2 yg sentiment pd GD. duh…mbak Nadya..mbok jangan provokatif dalam berkomentar.. Komentar oleh Nadya ambarwati — July 1, 2006 @ 10:21 am Mba Nadya yang budiman, silakan ente ga percaya. Tapi ane bicara sesuai fakta, waktu itu GD abis ngisi acara dialog Nasional di sebuah perguruan tinggi di Jawa Timur. Ente hati-hati dalam bicara, apalagi jika belum kenal orangnya.Apakah ente gak ingat, mendiang kyai As’ad dari Asembagus, Situbondo, telah mengganggap GD adalah imam yang sudah kentut, artinya sudah batal. terima kasih mas Hasan, anda tidak terpancing mereply dg kata2 yg kasar Komentar oleh Hasan — July 1, 2006 @ 10:55 am HASSAN,,,,,,HASSAN,,emang kmauanmu utk ikut campur dlm mslhnya GD,,sgt besar,,,,tp sayang,,,u terlalu cpt ngambil kesimpulan dgn tanpa melirik aspek sosial dan politik dlm sebuah konflik. dulu jika kiai marah bukan artikulasi nafsu, sebaliknya untuk meluruskan, ngemong dan bahkan untuk melindungi karena ngeman kadernya. Kasus ini bisa kita lihat dalam konflik KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan KH R As’ad Syamsul Arifin, pengasuh Pesantren Asembagus Sukorejo Situbondo. Saat itu Kiai As’ad menyatakan mufaraqah (memisahkan diri) dari kepemimpinan Gus Dur sebagai ketua umum PBNU. Di koran-koran ditulis bahwa Kiai As’ad marah besar terhadap Gus Dur. Karuan saja para kiai kalang kabut. Para kiai pun banyak yang sowan Kiai As’ad baik untuk meredam, klarifikasi maupun minta penjelasan. Salah satu kiai yang mendatangi Kiai As’ad saat itu adalah KH Chotib Umar Jember. Lalu apa kata Kiai As’ad? ”Siapa yang mufaraqah? Itu hanya strategi karena Soeharto (Orde Baru) mau membunuh Gus Dur,” kata Kiai Chotib Umar menirukan jawaban Kiai As’ad. Kiai Chotib Umar pun mafhum. Karena itu ia tak risau meski di koran-koran masih ramai tentang berita konflik Gus Dur dan Kiai As’ad saat itu. Jadi ”kemarahan” Kiai As’ad kepada Gus Dur yang disiarkan lewat publik justeru untuk melindungi Gus Dur. Ini tentu starategi politik tingkat tinggi yang bisa jadi tak pernah diketahui publik, termasuk kader NU. Selain Kiai Chotib Umar yang sempat datang ke Kiai As’ad adalah KH Muchit Muzadi. Kiai khittah ini mengaku sempat masuk ke kamar Kiai As’ad ketika konflik dengan Gus Dur itu meluas. Kiai Muchit menyarankan agar Kiai As’ad memarahi Gus Dur langsung ketika berhadapan dengan cucu pendiri NU Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari itu. Lalu apa respon Kiai As’ad? ”Saya kalau berhadapan dengan Gus Dur yang tampak malah wajah Kiai Hasyim Asy’ari,” kata Kiai As’ad seperti ditirukan Kiai Muchit. hmmm….ada referensinya, mbak Nadya?atau hanya komentar sepihak saja?? Komentar oleh nadya ambarwati — July 2, 2006 @ 11:15 am makanya gw blg klarifikasi itu perlu,,,,,jgn asal tangkap2 aja ,,,, karena yg sering km dengar lom tentu benar,,,,sayang,, terima kasih untuk mengurangi komentar yg kasar, mbak Nadya Komentar oleh nadya ambarwati — July 2, 2006 @ 11:19 am Jujur aja ane salut dg kegigihan neng nadya dalam membela GD, salut…salut… Mungkin untuk masalah yg satu ini kita berbeda pendapat, moga tidak merusak ukhuwah islamiyah kita. Amin. Ane rasa udah nyampe tahap final pada kesimpulan, ente sangat tersinggung dan marah ketika GD dikritik dan disalahkan. Tapi ane lebih tersinggung ketika ada orang yg berani melecehkan Al-Qur`an. terima kasih telah ‘meluruskan’ tujuan kita berdiskusi di sini, mas Hasan Komentar oleh Hasan — July 4, 2006 @ 11:09 am setelah anda mengungkapkan salut,,,,,aku menganggap tak ada gunanya ucapan tersebut,,,,,,,krn yg kupinta drmu wahai kasih… km bs mencari kebenaran dgn cara lemah lembut,,,,,,,,,,,,,,,,klo anda mase merasa tersinggung dgn ucapan GD,,,dan menganggapnya melecehkan al quran…maka salahkan lah persepsi anda sendiri,,,akan ucapan siapapun…..klo anda merasa tersakiti olh ucapan seseorang,,,, cepat tanyakanlah pdnya,,,akan maksud sesungguhnya,,,niscaya anda akan tenang….. keresahan ,kegelisahan,,,,semuanya ada dan timbul dari hatimu sendiri yg kerap tak mau menerima penjelasan org lain,,,dan enggan berklarifikasi,,,,org yg beriman dan bertaqwa selalu memelihara prasangka baik ,,,krn prasangka buruk hanya dpt menyiksa para pemiliknya…. jd bila kau tersinggung ,,,,tersakiti,,,gelisah,,,dan resah,,,salahkan lah diri sendiri,,,krn justru menyalahkan orlain itulah yg membuat diri jd cape dan payah. “alaa inna auliyaa Alloohi laa khaufun ‘alaihim walaa hum yahzanuun” bgmn tdk???,,,krn mereka(pr kekasih Allah) sgt fokus & sibuk membenahi aib dan dosa diri mrk sendiri……wallohu a’lam bi man huwa ahdaa sabiilaa. hihihi…tumben mbak Nadya berpantun nah, begini dong…tidak banyak kata2 yg kasar… Komentar oleh nadya ambarwati — July 4, 2006 @ 2:24 pm Ok deh, sudah lama ane gak ketemu GD, insya Allah kapan-kapan ane ajak dia ngobrol2 en ngopi bareng. Tentu di tempat yg tenang dan damai, tidak di tempat seperti 68H. Wait 4 me GD, i’ll be there…… saya tunggu kabarnya, mas Hasan.. Komentar oleh Hasan — July 4, 2006 @ 3:49 pm gt donk,,,,,sayyyang,,,,eh,,,,mas hassan ngomong2 gak pengen ketemu nih ama ane?maen donk sini,,,,mang km dmn sih?km mase single khan,,,,,, mau donk………………. ehm…ehm…ini bukan blog tempat cari jodoh lho… Komentar oleh nadya ambarwati — July 5, 2006 @ 2:45 pm Mau nih jadi istri keempat ane, hehehe…….Eh maap ama yg punya blog ini, ini sedikit menyimpang dari tema, afwan…. haha…aduh, saya jadi tertawa nih, mas Hasan Komentar oleh Hassan — July 7, 2006 @ 9:48 am Gus Dur, Al-Quran, dan Pornografi Syahdan, Khalifah Harun al-Rasyid marah besar pada sahibnya yang karib dan setia, yaitu Abu Nawas. Ia ingin menghukum mati Abu Nawas setelah menerima laporan bahwa Abu Nawas mengeluarkan fatwa: tidak mau ruku’ dan sujud dalam salat. Lebih lagi, Harun al-Rasyid mendengar Abu Nawas berkata bahwa ia khalifah yang suka fitnah! Menurut pembantu-pembantunya, Abu Nawas telah layak dipancung karena melanggar syariat Islam dan menyebar fitnah. Khalifah mulai terpancing. Tapi untung, ada seorang pembatunya yang memberi saran, hendaknya Khalifah melakukan tabayun (konfirmasi) dulu pada Abu Nawas. Abu Nawas pun digeret menghadap Khalifah. Kini, ia menjadi pesakitan. “Hai Abu Nawas, benar kamu berpendapat tidak ruku’ dan sujud dalam salat?” tanya Khalifah dengan keras.Abu Nawas menjawab dengan tenang, “Benar Saudaraku.” Khalifah kembali bertanya dengan nada suara yang lebih tinggi, “Benar kamu berkata kepada masyarakat bahwa aku, Harun al-Rasyid adalah seorang khalifah yang suka fitnah?” Abu Nawas menjawab, “Benar Saudaraku.”Khalifah berteriak dengan suara yang menggelegar, “Kamu memang pantas dihukum mati, karena melanggar syariat Islam dan menerbarkan fitnah tentang khalifah!”Abu Nawas tersenyum seraya berkata, “Saudaraku, memang aku tidak menolak bahwa aku telah mengeluarkan dua pendapat tadi, tapi sepertinya, kabar yang sampai padamu tidak lengkap, kata-kataku diplintir, dijagal, seolah-olah aku berkata salah.” Khalifah berkata dengan ketus, “Apa maksudmu, jangan membela diri, kau telah mengaku dan mengatakan kabar itu benar adanya!”Abu Nawas beranjak dari duduknya, dan menjelaskan dengan tenang, “Saudaraku, aku memang berkata ruku’ dan sujud tidak perlu dalam salat, tapi dalam salat apa? Waktu itu, aku menjelaskan tata-cara salat jenazah yang memang tidak perlu ruku’ dan sujud.” “Bagaimana soal aku yang suka fitnah?” tanya Khalifah.Abu Nawas menjawab dengan senyuman, “Kala itu, aku sedang menjelaskan tafsir ayat 28 surat al-Anfal, yang berbunyi ketahuilah bahwa kekayaan dan anak-anakmu hanyalah fitnah (ujian) bagimu. Sebagai khalifah dan seorang ayah, kamu sangat menyukai kekayaan dan anak-anakmu, berarti kamu suka “fitnah” (ujian) itu.” Mendengar penjelasan Abu Nawas yang juga kritikan, Khalifah Harun al-Rasyid tertunduk malu, menyesal dan sadar. Rupanya kedekatan Abu Nawas terhadap Harun al-Rasyid menyulut iri dan dengki di antara pembatu-pembatunya. Kedekatan ini dibuktikan Abu Nawas memanggil Khalifah Harun al-Rasyid dengan kata “ya akhi” (saudaraku). Hubungan di antara mereka bukan antara tuan dan hamba. Pembantu-pembantu khalifah yang hasud ingin memisahkan hubungan akrab tersebut dengan memutarbalikkan berita. *** Saat ini, kisah yang menimpa Gus Dur mirip cerita Abu Nawas. Tersiar desas-desus, Gus Dur mengatakan Al Quran adalah kitab suci porno. Menurut kabar angin itu pula, pernyataan Gus Dur tersebut diucapkan sewaktu acara “Kongkow Bareng Gus Dur” di Kantor Berita Radio (KBR) 68H Jakarta, yang mengudara saban Sabtu pukul 10.00 sampai 12.00 WIB. Kebetulan saya salah seorang pembawa dari acara tersebut. Karena tuduhan itu, Gus Dur diteror oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam di Purwakarta (23/5).Seperti nasib Abu Nawas, pernyataan Gus Dur tersebut sengaja diplintir, dan dilepaskan dari konteksnya karena ada motif dan untuk tujuan tertentu. Padahal dalam acara kongkow tersebut, berkali-kali Gus Dur menegaskan bahwa konsepi porno ada dalam otak seseorang. Kita sering bilang, orang yang otaknya lagi ngeres, atau lagi “piktor” (pikiran kotor). Penyataan Gus Dur yang lengkap begini, “Porno itu letaknya ada dalam persepsi seseorang. Kalau orang kepalanya ngeres, dia akan curiga bahwa Al-Quran itu kitab suci porno, karena ada ayat tentang menyusui (al-Baqarah: 233) dan ada roman-romanan antara Zulaikha dengan Yusuf (Yusuf: 24).” Liciknya, mereka yang pernah juga menyebarkan fitnah bahwa Gus Dur telah dibaptis, menyebarkan bahwa Gus Dur telah berkata bahwa Al-Quran itu kitab suci porno. Pemenggalan kata-kata tersebut sangatlah berbahaya. Kita bisa mengatakan Al-Quran mengecam orang yang salat ketika hanya mengutip ayat 4 dalam surat al-Ma’ûn, “maka celakalah orang-orang yang salat!” (fawaylul lil mushallîn). Padahal maksudnya orang yang melaksanakan salat tapi masih celaka adalah orang yang salat tapi lalai: ingin dilihat orang, dan enggan bersedekah-dijelaskan dalam tiga ayat sesudahnya. Gus Dur memang tidak pernah sepi dari tuduhan tersebut. Dulu ia pernah dituduh ingin mengubah assalamualaikum menjadi selamat pagi, siang, sore, dan malam. Seperti Abu Nawas, Gus Dur dituduh ingin mengubah rukun salat, ketika menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mengakhiri salat bukan lagi assalamualaikum yang diucapkan, tapi, selamat pagi untuk salat subuh, selamat siang untuk salat dzuhur, selamat sore untuk ashar, selamat petang untuk salat magrib, dan selamat malam untuk salat isya’. Padahal Gus Dur mengatakan boleh mengganti assalamualaikum dalam konteks sapaan (greeting) bukan dalam salat. Untuk itulah, bagi yang masih berakal sehat, akan langsung bertabayun kepada Gus Dur, bukan langsung menuduh, menyebarkan fitnah, apalagi melakukan tindak kekerasan. Bukankah menurut Al-Quran hanya orang fasiklah yang tidak mau bertabayun? Penulis adalah presenter “Kongkow Bareng Gus Dur” ehmm….saya tidak mau komentar banyak … Komentar oleh agus — August 4, 2006 @ 9:57 pm hebat dari pada nonton&beradegan porno hahaha…mas Joko bisa2 saja… Komentar oleh joko — August 19, 2006 @ 8:53 am dari bagian atas dari blog ini selalu isinya saling mengancam, menjatuhkan, memperdebatkan. saya sadar memang yg namanya demokrasi dan kebebasan bicara itu dihargai namun sebuah diskusi yang baik itu mempunyai ujung pangkal dan bernilai mendidik serta memberi wawasan dan wacana baru, bukannya saling mendiskriditkan untuk mencari pembenaran masing-masing bukannya mencari kebenaran. saya setuju kepada yg menyarankan gus dur untuk istigfar karena sudah selayaknya manusia itu beristigfar kepada ALLAH, bukan suatu alasan kalau orang itu beristigfar klo hanya pada saat merasa bersalah saja. namun juga saya menghargai kepada teman-teman yg pro terhadap wacana gus dur tersebut, karena mereka juga memandang dari sudut pandang lain juga. marilah kita berbalik pada diri sendiri, dan menkaji diri sendiri apakah diri kita ini sudah menjadi hamba yang baik. tanpa mengatakan anda baik atau benar, jika anda itu baik dan bertindak benar saya yakin orang lain pun akan menilai anda benar-thx agus Komentar oleh agus — September 5, 2006 @ 1:15 pm Mas Agus bijaksana sekali,…memposisikan pada posisi yg netral, dan sejuk dalam beragumentasi. Barangkali ini PR buat kita umat Islam untuk mencari figur pemimpin yg mampu menyatukan seluruh aspirasi umat Islam di seluruh penjuru dunia. (Karena umat katholik saja memiliki paus, yg pengaruhnya sangat luara biasa, di dunia ini. Kenapa kita tidak?), kita sedang mengalami krisis kepemimpinan.Yang kita cari adalah pemimpin yg dapat diterima oleh seluruh kaum muslimin, bukan hanya golongan tertentu saja. Wahai saudara-saudaraku di seluruh penjuru dunia….bersatulah!!!Jangan terpecah belah, moncong meriam musuh sudah di depan mata, kobarkan semangat Jihad! Allahu Akbar! Komentar oleh Hasan — September 7, 2006 @ 4:14 pm kalau memang yang dibilang gus dur memang seperti itu lantas kenapa anda sekalian membelanya walaupun buat mengumpamakan(seperti cerita abu nawas tadi) kalau gitu kenapa di AL QURAN ditulis bahwa yang mengolok AL QURAN(MENGANGGAPNYA BERCANDA SEKALIPUN HANYA PERUMPAMAAN)dianggap KAFIR Komentar oleh rangga — September 9, 2006 @ 8:39 pm waduhh..saya jadi bingung nih dengan komentar mas rangga, sudahlah mas sebaiknya kita bertayabun kepada gusdur, apakah gusdur bicara dalam konteks bercanda yang sebenarnya atau nasehat yang dikemas dengan canda, sebelum saya sangat mohon maaf sama mas rangga dan yang lainnya Komentar oleh syamsudin — September 15, 2006 @ 4:29 pm Kalau ane cermati yg ngebela GD itu2 aja, tapi pake nama yg berbeda-beda. Soalnya intinya cuma satu, dia ga mau GD disalahkan atau dikritik. Kemudian dibungkus dengan ajakan bertabayun. Itu aja diulang-ulang. Sekedar catatan Abu Nawas dengan segala anekdotnya dalam kitab “Al-Aghani” karangan Al-Ashfahani, sarat dengan kebohongan. Pendamping khalifah Harun ar-Rasyid adalah ulama-ulama besar seperti Abu Yusuf Al-Qadhi, Abdullah bin Al-Mubarak dan Imam Malik bin Anas, bukan pendongeng semacam Abu Nawas. Komentar oleh Hasan — September 20, 2006 @ 9:12 am “Kl ada sesuatu yg tidak berkenan buatmu mk hujatlah GD sepuas puasmu”,tp setelah itu cobalah kamu pahami dan mengerti tentang apa yg tlh disampaikan oleh GD (walaupun untuk itu dibutuhkan waktu yg lama),maka insyaALLah kamu akan menjadi lebih pintar,cerdas dan arif dalam menyikapi hidup ini.(Anda jgn membiasakan hanya berpikir dgn otak saja tetapi mulailah berpikir dengan perasaanmu) Komentar oleh riefants — September 20, 2006 @ 2:56 pm ass.mengenai masalah gusdur menghina qur’an apakah anda bener2x tahu dan ndengerin dg mata kepala anda sendiri? atau apa anda hanya ikut-ikutan islam garis keras yg merasa benar sendiri.saya berharap and tidak seenaknya ngomong yg isinya melecehkan orang lain,ingat dg kaum khowarij yg sangat radikal mereka apa anda pengen termasuk dalam katagori man tasyabbaha biqoumin fahuwa minhum. anda harus tau gusdur hanya bilang kalo otak kita dlm keadaan ngeres jika kita baca qur’an yg mbahas masalah menyusui. anda harus paham sebelum nuduh orang sembarangan apalagi gusdur seorang kyai hati-hati klo kwalat.wssalm Komentar oleh gus yahya — September 21, 2006 @ 7:44 pm ass.ingat siapa yang mengkafirkan saudaranya sesma muslim maka dia yg kafir.kalo anda gak ngerti apa yg disampein gd maka ngaji to-ngaji lan ojo ngrasani to’.wass Komentar oleh gus yahya — September 21, 2006 @ 7:58 pm he bung ingat utekmu durung nyampek makanya ngaji-ngaji lan ojo ngrasani,mungkin gd kaya’ gitu agar orang-orang yang kaya’ u seng seneng ngrasani ben gelem ngaji dan bisa memahami kata-kata gd.makanya fas alu ahladz dzikri inkuntum lata’lamun(teko’o karo wong seng ngerti kalo u gak ngerti;okrek wass Komentar oleh gus yahya — September 21, 2006 @ 8:10 pm Gus yahya ga usah nganggo ancem2an lah,trus gak perlu ngremehno wong liyo. Terus ojo terjebak stigma islam moderat, islam garis keras, fundamentalis dsb. Iku istilah teko musuh2e Islam, saiki jamane mempererat ukhuwah, masalah gak bakalan rampung. Saiki sing ndukung GD, yo kudu sadar nek GD yo menungso, ugo iso salah. Sementara sing kontra lan protes, lewih becik nglurusno karo cara sing bijak. Wis gak usah diperpanjang. Wong Islam kuwi kabeh sedulur, opo gak isin ditonton musuh2e Islam, nek wong Islam pada doyan cekcok! Wss. Komentar oleh Hasan — September 22, 2006 @ 2:51 pm Al Insaanu Makhalul Khotto Wa Nisyan…tapi ko yo keseringan nylenehe…? btw, GusDur tu sholat ga yah…? ada yang pernah ngliat beliau sujud khusyu’ ga ? trus, ana juga pengin ‘protes’ sama Indosiar yang kemarin (ga tau besok2nya) menayangkan renungan sebelum berbukanya oleh GusDur… repot… Komentar oleh zhyd_elhamidy — September 27, 2006 @ 3:43 pm Saya kira itu syah syah saja karena itu adalah hak DAN PERLU DIINGAT BAHWA PERKATAAN ITU MENGANDUNG MAKNA YANG SANGAT DALAM DAN SAYA KIRA HANYA ORANG-ORANG TERTENTU SAJA YANG BISA MENGERTI MAKSUD UCAPAN GUS DUR KITA TIDAK BOLEH MENGADOPSI SECARA MENTAH -MENTAH KARENA GUS DUR ADALAH ORANG YANG TIDAK PENUH DENGAN TEKA-TEKI DAN PENUH DENGAN KEJUTAN HANYA ORANG GOBLOK SAJA YANG MENGATAKAN PENDAPAT GUS DUR ITU SALAH PIKIR DOOOOOOOOOOOOONK!!!!!!!!!! Komentar oleh ERVAN — September 28, 2006 @ 1:49 pm Assalamu’alaikum wr wb. Afwan, boleh taruh link gak ya di sini. Mungkin link2 berikut sedikit banyak bisa dibaca. Ada beberapa fakta di sana. Afwan kalo tidak berkenan, baik utk pendukung GD juga yg tidak setuju dengan GD. 500 Ulama Pulau Jawa Laporkan Gusdur ke Mabes PolriPenelitian Untuk Gus Dur ttg “Pornoisme”Gus Dur Menghina Al-Qur’anTantangan Debat Publik Kepada Gus Dur Sekali lagi afwan jika tidak berkenan. Wassalamu’alaikum wr wb. NB: Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan 1427 H bagi yg menjalankan… Komentar oleh Hamba Allah — September 29, 2006 @ 12:23 am duh gusti…Gusdur aja dah nyuruh kita jauh-jauh hari. yang gitu-gitu NDAK usah direpotin. bagusnya yang belum pinter kaya Gusdur gak usah ngisi koment deh. mas yang suka njawab, mbok yo kalo orang kasih koment baik terhadap Gusdur gak usah panas tho!!! dia juga orang islam kok, kaya anda juga yang masih sholat berjamaah di masjid, pake sarung dan kopiah di kepalanya. abis sholat bersalaman dan mencium tangan imam. mas koment gitu juga kan? Komentar oleh bayoe — September 30, 2006 @ 1:18 am Kata Gus Dur bahwa Al Quran itu alkita yang porno didunia, itu ada kebenarannya, dan ada hubungan dengan nabi kita Muhammad dalam Hadist banyak tertulis tentang Aisya dan Muhammad. Mengapa kita harus ribut soal pornografi ? itu kan sebahagian manusia-manusia munafik yang berlindung dibalik sorban agama. Komentar oleh Mr.Nunusaku — October 1, 2006 @ 6:19 pm Assalamu’alaikum semuanya… Udah donk…!!! Gak usah diperpanjang komen-komen tentang ucapan GD itu. Jujur, awalnya ana tertarik banget ama blog ini, tapi begitu liat2 komennya yang tambah lama tambah PANAS dan beremosi, kok jadi gak asyik ya, mendingan kita saling introspeksi diri aja tiap hari, itu lebih enak dan hangat lho, kayak dipeluk Allah, coba deh Insya Allah bener deh uenak tenan. Allah sayang kita lho…Dia sayaaaaaang banget ama kita, (aduh jadi kangen), kapan ya ke surga…?? Ketemu Nabi Muhammad saw, Nabi Ibrahim as, Ismail, Musa, Yusuf (gantengnya apa sih, masa’ Hizbullah kaya’ aku kalah ganteng…yeee, ya jelas kalah, hehe), ketemu Nabi Sulaiman, wah bisa minta ajarin bicara ama kucingku dong, hehe. Tulisanku diatas kalo gak nyambung maap yang mas, tapi benernya aku cuma pengen sharing ke semua muslim (kalo memang merasa sebagai seorang MUSLIM…!!!): Kita semua kan saudara, kan gak semestinya musuh2an, kalo’ dipikir-pikir do’a yang bunyinya, “…wa li jami’il muslimiina wal muslimat, wal mu’miniina wal mu’minat, alahyai minhum wal amwaat” (sori kalo salah), biasanya kan dibaca setelah mendo’akan Ortu, minta maghfirah buat kedua orang spesial kita, trus baru do’a yang tadi itu buat semua muslim & muslimat yang masih hidup atopun yang dah “duluan pergi”(bener gak?!). Nah, do’a itu kan di baca semua muslim di dunia, berarti setiap saat kita selalu dimintakan ampunan kepada Allah oleh saudara2 kita sesama muslim di seluruh penjuru dunia, bener gak…Ya Allah…indah ya Islam, hehehe. Makanya, gak usah aneh2 ta, mendingan ngomongne sing huenak ngunu ae po’o bos…hehehe, pun matur nuwun. Wassalamu’alaikum wr. wb. Komentar oleh Hizbullah berhati lembut — October 3, 2006 @ 10:05 am Perdebatan gini nih yah disukai ama syetandilanjut terus aja bozz… ane salut ama mas hizbullah!ini nih ciri muslim yang pantas kita teladani,berprasangka baik ma ALLAH.ALLAH itukan bukan DIKTAKTOR ALLAH itu Maha Pengasih dan Penyayang,Pemberi nikmat, Pemberi maaf, dll (pokoknya yang bagus2 dah)Moga kita masuk surga…Amin Komentar oleh petani miskin — October 17, 2006 @ 3:25 am Poso rek, jo pada tukaran ae…..La wong sing diomongin lagi enak-enak turu, La sampeyan kabeh pada otot2an,Gak maen! Komentar oleh Hasan — October 17, 2006 @ 10:59 am Asslamu’alaikum, Wr, Wb.Amat banyak yang harus di kaji dalam hal ini. Di atas saya udah baca banyak komen2 yang rada gimana gitu, tapi pada intinya ada dua kubu yang sedang terlibat di sini, yang satu begitu membenci GD yang dalam beberapa hal suka nyeleneh, di lain pihak ada yang begitu mendukung dan menganggap GD sebagai seseorang yang sebegitu mulia. Tapi kalau boleh saya menanggapi, kita sesama umat Islam jangan mudah terpancing dan terprovokasi oleh setan. Setan sangat menginginkan perpecahan dalam ummat. Allah berfirman : “berpeganglah kamu pada tali(agama) Allah.”Ayo, Kini adalah saatnya Kita untuk bersatu…..Yang dibutuhkan umat Islam itu adalah suatu persatuan seperti yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Terus terang saya sangat mendukung redaksi JIL. Karena sejujurnya Saya pribadi sempat dibuat “panas” dengan statemen GD tersebut. Bagaimana tidak, Masa kitab suci yang selama saya hidup di dunia dan di akhirat (Insya Allah) dikatain sebagai kitab yang porno. Tapi ketika saya membaca berbagai komen yang justru memecah belah umat, saya jadi semakin sedih…..Sodaraku…..Masih banyak musuh Allah yang harus kita hadapi,,,,Masih banyak orang-orang sesat yang menginginkan perpecahan kita… Jangan kita membuat Rasulullah bersedih…dan terlebihJangan kita buat setan tertawa dengan perpecahan kita…GD hanya manusia yang bukan apa-apa,,, kita tidak layak mati-matian membelanya atau juga menghinakannya…. Sekarang yang paling kita butuhkan adalah kesamaan visi untuk membuat Islam berjaya di muka bumi…Mari kita sama-sama beristighfar….memohon ampunan dari Allah…. karena itulah yang kita butuhkan sekarang…Mari…. sama-sama Kita Istighfar…. Bersatulah Sodaraku Komentar oleh Dodi — October 17, 2006 @ 1:28 pm bagus GD mengatakan seperti itu supaya kita semua mempelajarinya, agar kita belajar dan membaca isi Al-qur an ok salam buat semua umat islam jaya terus dan. tidak hnya komentar saja tapi juga belajar dan memahaminya isi Al-Quran . Komentar oleh budi prakoso — October 20, 2006 @ 3:52 pm Gus Dur kok dilawanTiada tanding tiada banding. Pak harto aja yang punya ABRI,Shimon perez yang punya Amerika samapai Poros tengah aja gak mampu. Hanya Allah saja yang mampu menghentikannya. Kalau benci ma Gus Dur minta aja pada Allah. Long live Gus Dur. Islam butuh seribu orang jenius seperti sampeyan untuk melawan Yahudi dan Amerika. Komentar oleh f4tih — October 30, 2006 @ 3:20 pm Hus, terlepas dari apakah Gus Dur benar atau salah, JANGAN MENDEWAKAN GUS DUR! Semulia apapun beliau pada kenyataannya, ingatlah bahwa dia juga bisa berbuat salah -_- Apakah statemen ini salah satu kesalahannya, itu sebaiknya tidak usah diperdebatkan lagi. Pribadi, menurut saya umat jangan diajak berteka-teki yang fatal begini… Bisa menimbulkan salah paham. Jadi kalaupun Gus Dur hanya berniat menyisipkan makna tersirat sekalipun, statemen ini patut disesali. Komentar oleh Sosuke Sagara — November 3, 2006 @ 4:40 pm Gus Dur bukan dewa !!!! tapi Waliullah. MAna ada wali yang ngaku dirinya wali. Gus Dur pun demikian. Banyak cerita tentang keajaiban beliau. Bukan mengkultuskan tapi agar yang saudara seiman yang lain tidak asal menghujat dan memfitnah beliau. Tabayyun …tabayyun…menghujat ulama itu haram. Komentar oleh f4tih — November 5, 2006 @ 3:27 pm KENAPA KITA SUSAH2 MEMBELA GD ATAUPUN MENGHUJATNYADIA HANYA MANUSIA BIASA TIDAK LEBIHKITA HANYA BISA BERCERMIN DAN BERFIKIR LAGI DARI KOMENTAR GD SEPERTI APA SIH ARTI “PORNO” ITU SEBENARNYA DAN BIARLAH TUHAN YANG “MEMBALAS” APA YANG DILAKUKAN GD TERLEPAS DARI ITU BENAR ATAU SALAH Komentar oleh NOFIK_TOP — November 7, 2006 @ 10:38 pm Emang betul koq, yang di kate ame GUS DUR. Knapa emang? Komentar oleh Adil — November 8, 2006 @ 10:48 am Hai saya rasa Gusdur Benar.Saya rasa Gusdur adalah seorang manusia yang selalu memberikan pembelajaran kepada umat2nya.Belajar menghargai,beljar sopan,belajar untuk membahas permaslahn yang timbul disekitar kita. Gusdur juga benar bahwa Al-qur’an merupakan kitab suci yang paling komplit.disitu ada berisi tentang kedokteran,sejarah,fiqh,astronomi,bahkan ada sedikit penjelasan tentang kePORNOan.Saya rasa Porno itu kan hanya maslah istilah yang telah tertanam dari kita.Jadi Jangan bandingkan kita dengan Gusdur.Pengetahuan kita tentang agama,fiqh,ushul fiqh,tasawauf itu belum ada apa2ya.kita harus mempelajari dulu jangan sampai memberikan tanggapan yang ga ada artinya seperti TONG KOSONG>HANYA NYARING BUNYINYA tetapi DALAMNYA KOSONG!!! disitu ada hikmah yang terkandung.bahwa kita sebagai umat islam harus lebih dan lebih lagi didalam mempelajari Al-quran.Gusdur adalah seorang alim ulama yang selalu memancing kita untuk terus belajar…belajar…dan belajar sampai maut menjelang.saya berdoa semoga Gusdur panjang umur dan selalu memberikan kita wejangan maupun pengetahuan2 yang bermanfaat bagi umat islam. Amin ya Robbal Alamin Komentar oleh Moh. Ari gusyanto — November 20, 2006 @ 9:59 pm saya rasa semua komentar diatas tidak lepas dari sejarah islam di indonesia,,,,,sehinga terjadi pro dan kontra,,sebagai sesama muslim saya menyarankan marilah kita jangan egois pada jalan pikiran kita…khusus untuk masalah porno tidak penting didebatkan karena kita udah pada dewasa.(mungkin) tapi..yg lebih penting adalah generasi kita…..sekali lagi lihatlah……..bagaimana generasi kita gak rusak……….klo kita yang dewasa (mungkin ) secara egois mengajarkan mereka porno…………ngotot dan kontra terhadap uu anti porno…menurut saya mengajarkan dan melegalkan generasi kita,,,berbuat porno……….kasian dong anak-anak kita,,,,!?,,mau jadi apa bangsa ini…. ( bagi yang berpikir seh…. ) Komentar oleh wiranto — November 25, 2006 @ 12:41 am Orang tua yang satu ini memang banyak yang mendukung, walaupun ucapan nyeleneh tetep aja dianggap hebat! aneh,… Stroke dan penyakit matanya membuat si GD ini tambah ngawur di tambah pengikut dan fansnya yang taqlid buta juga, didukung pula oleh Jaringan Iblis Liberal! Komentar oleh Maulana — December 1, 2006 @ 11:56 pm kalau dilihat dari segi fisik dengan mata yang cacat, si GD ini kayak gambaran dajjal !. apa memang dia dajjal yach!. moga aja nggak demikian yach, tapi kok tingkah dia lebih banyak nyeleneh dan melenceng dari kebanyakan ulama islam yach !. gusdur……………gusdur…., lu lebih baik jadi penentang terang-terang dech dari pada lu berkedok silam ! Komentar oleh desi — December 14, 2006 @ 1:22 pm Gus Dur aja kok ditanggapi biarin ajamulut-mulut dia sendiri kok capek juga dirasain sendiri sama GD gitu aja kok repot ntar setelah wafat baru urusan kita Komentar oleh Inoel — December 19, 2006 @ 9:07 am gak usah ribut ribut, toh yg dilihat oleh Allah swt sang pencipta alam jagat raya ini bukanlah kepintaran, kegantengan, ketenaran, dan hal2 lainnya, tapi yg dilihat oleh Allah swt adalah jiwa kita, so yg tidak mampu mengendalikan diri, nmeski dia seorang ahli filsafat, tasawuf sekalipun, tetap aja dia rendah dihadapanNYa. dan kita selaku manusia yg masih memiliki toleran apa salahnya memperingati dan menyampaikan kebenaran. kepada gusdur dan semunya yg memiliki ilmu yg dalam, ingatlah kebenaran tidak dapat diukur oleh lamanya ibadah, tingginya titel seseorang, gelar atw kedudukan, tapi sebagaimana kebenaran itu mampu melahirkan kekuatan pengendalian diri. bertobatlah sebelom pintu taubat ditutup. Komentar oleh irfandy ali — December 28, 2006 @ 8:19 pm Disarankan agar jangan berselisih persepsi agama yang mubazir membuang-buang waktu, tenaga, pikiran dan emosi PANAS, toch tidak akan selesai sebelum Allah datang dengan 1. Hari takwil kebenaran Kitab sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53. 2. Allah menjadikan Al Quran dalam bahasa asing ‘Indonesia’ selain dalam bahasa Arab sesuai Fushshilat (41) ayat 44. 3. Allah menyempurnakan wahyu Al Quran berkat do’a manusia sesuai Thaha (20) ayat 114,115. Dan hari-hari Allah sebanyak 444 ayat lainnya sesuai Ibrahim (14) ayat 5, Al jaatsiyah (45) ayat 14. Semuannya ini wajib ditunggu-tunggu akan tetapi sampai hari ini dilupakan oleh umat manusia. Padahal hal ini sudah datang di Indonesia, tinggal menunggu saat publikasinya. Wasalam, -Soegana Gandakoesoema- pembaharu persepsi tuggal agama awal millennium ke-3 masehi. Komentar oleh Soegana Gandakoesoema, pembaharu persepsi tunggal agama awal millennium ke-3 masehi — January 14, 2007 @ 9:00 am Memang koh apa yang dinyatakan Gus Dur itu ada kebenarannya, ada sangkut pautnya dengan nabi Muhammad SAWyang memang doyan kawi anak yang berumur 7 th dinikahi setelah 9 th baru disetubuhi sedangkan kakek ini telah berumur 53 th. Jika anak sampean yg berumur 9th maukah diberikan pada kakek yg berumur 53 th ? nah tolong jawabannya. Komentar oleh Mr. Nunusaku — January 24, 2007 @ 10:44 pm Ehm… buat nunusaku yang ngomentari Rasulullah, klo biasanya yang nyerang sama model gini ni non muslim, klo muslim berarti dah copot syahadatnya, soalnya ngejelekin Rasul Allah itu namanya ingkar sunah, islam mengajarkan segalanya dengan lugas, jangan memandang kebenaran dengan perasaan begitu, yang kita rasa bagus belum tentu bagus di mata Allah, sedang yang kita anggap jelek bisa saja bagus di mata Allah, soal jawabannya tentu saja ada, di jaman sekarang di indonesia aja, anak smp sudah jualan sedangkan di luar negri anak2 setingkat sd saja sudah sering sekali terjadi inces antara kakak beradik, dan banyak lagi contohnya. Komentar oleh seebayu — January 31, 2007 @ 11:09 pm assalamualaikum.. diri ini cuman bisa bilang…mari kita lebih arif dlm memandang suatu permasalahan…jgn sampai kita terjebak akan tulisan itu sendiri…sama seperti kita mengukur kadar keimanan dlm diri kita masing2,….toh nantinya juga di pdg makshar kita ga ngurusi orang lain….trima kasih dan wassalam…. Komentar oleh udin — February 18, 2007 @ 4:33 am Pro Gus Dur Komentar oleh ddfd — February 19, 2007 @ 8:58 am BARU LIHAT KULIT SUDAH BERANI BILANG ISINYA,SEBAIKNYA KALIAN BERISTIGHFAR,SIAPA YANG KALIAN TELADANI AKHLAKNYA?KALO MEMANG BENAR GUS DUR BERSALAH,KENAPA KITA TIDAK MENEGUR BELIAU SECARA SANTUN SEPERTI YANG DIAJARKAN RASULULLAH?KENAPA MALAH MENGOLOK2 SEPERTI CARA KAFIR QURAISY YANG SENANG MENGHASUT?DIAKUI ATAU TIDAK TELAH BANYAK JASA GUS DUR KEPADA BANGSA INDONESIA DAN DUNIA ISLAM TIDAK SEPERTI ANDA YANG HANYA MENGHASUT DAN MENEBARKAN KEBENCIAN KEPADA SESAMA Komentar oleh TRI SETIADI — February 22, 2007 @ 8:45 pm tetep aje,gusdur ga boleh ngomong begitu Komentar oleh adjid — March 13, 2007 @ 11:44 am kita akhiri perdebatan ini sampai disini aja,,OK..toh kyknya mslhny makin mengembang aje… Komentar oleh simon — March 27, 2007 @ 1:53 pm gto aja kok repot…. Komentar oleh simon — March 27, 2007 @ 2:05 pm AsWrWb jangan lupa kunjungi situs yang penuh maklumat baru berikut ini: http://www.aziznawadi.co.nr insyaallah tidak rugi, bagi tau ikhwan dan akhawat yang lain juga yah..! Komentar oleh nazrah — March 30, 2007 @ 4:21 am kalo mau mengenal tashawuf yang haq, kunjungi http://www.aziznawadi.co.nr Komentar oleh rahmayanti — March 30, 2007 @ 4:23 am gus dur orang unik dan kayaknya sekarang gusdur lagi belajar telanjang serta kencing sambil berlari supaya tahu bahwa gusdur tidak bisa di tiru oleh pengikutnya yang puritan terhadap diri gusdur Komentar oleh mustofa — April 4, 2007 @ 3:03 pm Gusdur sebenarnya membawa bencana, kenapa demikian? Dia bilang Al Qur’an itu paling porno ada kata menyusui dan menetek, hal ini dianggap porno oleh pikirannya yg Geblek itu.Akibatnya ALLAH menunjukan tentang air susu itu tepatnya di Jawa Timur tempat Dia berada, maka keluarlah air LUMPUR sampai sekarang (bukan air susu) malah lebih kotor.Kenapa mesti karena omongan Dia itu bisa menjadi begitu. Karena Dia dianggap sebagai Panutan dalam Agama, tetapi hati dan pikirannya seperti orang tak berilmu.kalau Dia bukan dianggap sebagai panutan dalam agama nggak jadi masalah, biarpun yang kotor dan bau yang keluar dari mulutnya, contohnya seperti orang kafir, menghina Islam ya nggak masalah malah akan menambah kebaikan terhadap orang islam yang sabar dan berilmu.Ini dianggap sebagia Panutan agama sampai sampai mendapat gelar Kiyai Haji lagi, tapi tak berilmu, Islam sebenarnya memiliki ajaran akhlak dan ilmu yang tinggi. Komentar oleh Ahmad Syafrie Parinduri — April 7, 2007 @ 7:11 pm teros2no wae wonk2….. Komentar oleh simon — April 9, 2007 @ 1:34 pm gusdur, keseringan gilanya dari pada benernya Komentar oleh ekadystiant — April 11, 2007 @ 7:41 pm Hidup Gusdur, biar bisa tobat. Komentar oleh Abdurahman Wahid Anjing — April 15, 2007 @ 11:27 pm gusdur koq diladeni, biarin aja ngoceh kan bisa kita biarin pepatah bilang GD menggonggong kafilah berlalu…. gitu aja koq repot.. Komentar oleh mailman — April 27, 2007 @ 10:26 am gus,mengapa dunia ini semakin sempit aje,pa mungkin kiamat udah deket ya… Komentar oleh saiful amri — May 22, 2007 @ 10:17 pm yang nanggepin berlebihan ttg Gus Dur….aku yakin dia tidak lulus SD. TK…TK Komentar oleh Muhammad Riza — June 9, 2007 @ 2:02 pm Menurut pendapat pribadi saya, GusDur itu diciptakan untuk membuat orang beribadah. Buar orang yang sependapat sama GusDur, Gusdur membuat mereka terus menerus berfikir tentang “betulkah kata2 Gusdur itu betul ? sesuaikah kata2 Gusdur dengan kandungan AlQur’an ?”. Lha buat Yang tidak setuju, Gusdur membuat mereka beristighfar. Gitu aja ko repot ? Komentar oleh GusDoer — June 13, 2007 @ 10:19 pm gusdur itu belum bangun dari tidurnya, jadi ijtihadnya ijtihad tidur waqktu bilang al-qur’an kitab paling porno. lihat aja di majalah hidayatullah. Komentar oleh widianto — June 21, 2007 @ 4:39 pm gus menurut saya anda asl jeplak saja tanpa dipikir, jadi kalau mau koment lagi mending dipikir 100000000x Komentar oleh gus HARRY — June 22, 2007 @ 3:55 pm Menurur saya kalau menanggapi gusdur tidak lulus SD atau TK,masalah menanggapi bukan masalah sekolah lulus atau tidak, sekolah seperti itu hanya soal dunia yang penting hati/qolbu apabila baik maka baik lah seluruhnya, Banyak yg sekolah tinggi jg Geblek dan kurang berakhlak, kita harus bisa membaca karena Allah pertama kali menurunkan Alquran adalah Iqra’/bacalah, semua bisa dibaca bukan hanya tersurat tapi tersirat juga ,dan masalah beristigfar tanpa omongan gusdur juga kita harus selalu istigfar dan zikir setiap saat Komentar oleh Ahmad Syafrie Parinduri — June 24, 2007 @ 9:10 pm Gusdur itu hanya seorang yang mempunyai kelemahan pada otaknya disebabkan karena penyakitnya yang lama diderita,dan tidak pernah lulus sekolah,pikirannya suka ngaco dan nyeleneh.amit-amit Gus Blok. Komentar oleh Muhammad Imam Muslim — July 8, 2007 @ 8:03 pm yang Punya Blog ini GOBLOK, apa anda tau definisi dari porno? pemikiran sempit otak keladai anda mungkin hanya tau arti definisi porno hanya sekadar pada pembahasan tubuh, padahal bukan hanya itu, makanya saran saya sekolah dulu yang pinter, minim smp lah biar sedikit tau..biar tidak asal kritik, eh iya pelajaran sd udah ada tentang peribahasa TONG KOSONG NYARIN BUNYINYA? kalo belum tau peribahasa itu ga usah cape2 tanya teman, aku beritau, jawabanyya adalah “ANDA=KAMU=SAMPEAN and in english is YOU!! heheheeh…. Komentar oleh abdy — July 9, 2007 @ 11:33 am dasar wong gendeng Komentar oleh adi — July 13, 2007 @ 12:50 pm masukin aja gus dur ke rumah sakit jiwa, biar komentarnya bisa direspon keluarganya yang sudah sekian lama ia tinggalkan. gus dur itu memang-memang gila, tapi yang lebih gila lagi orang yang mempercayai pada fatwanya Komentar oleh arief — July 14, 2007 @ 6:34 pm biasanya orang yang sudah kalah ulahnya akan bermacam-macam, contohnnya yang sedang diperdebatkan sekarang ini, ya Allah berilah diapetunjuk biar nggak ngawur ngeluarin fatwa, yang membuat umat muslim bisa terpecah belah.salah satu cara untuk menghentikannya adalah dengan membungkam mulutnya………..gitu aja kok repot…..!!!!! Komentar oleh matho — July 14, 2007 @ 6:42 pm waduh waduh… jangan esmosi dunk..! saya sih sependapat bahwa sebaiknya para “pemimpin” yang ucapannya didengarkan banyak orang.. bisa lebih mawas diri dalam berkata-kata.. lha iya kalau sempet setiap orang itu tabayyun langsung ke dia.. lha kalau enggak kan bisa berabe.. kaya berita gossip.. yang makin lama makin gak bener beritanya.. dari satu orang ke orang lain.. Ini terlepas dari GD or anyone.. bahkan diri kita masing-masing.. berhati-hati dalam lisan akan menjaga hubungan baik kita dengan sesama.. termasuk sesama pengguna web / forum ini.. apalagi sesama umat yang berkeyakinan sama.. bahwa Tiada “Ilah” sesembahan / yang diabdi selain ALLAH SWT dan Muhammad SAW adalah utusanNya.. saya cuma berharap dari “obrolan” di atas, kita semua bisa lebih memahami cara pandang orang lain.. dengan begitu bisa lebih menahan emosi atas ketidaksamaan penilaian atas suatu hal.. Wassalaamu’alaikum wr wb.. Komentar oleh mmbanget — July 25, 2007 @ 5:16 pm manusia boleh berbicara bebas di dunia,sesngghnya akan diminta pertanggung jawabannya oleh alloh di akhirat.ALLOHUAKBAR!!!seyogyanya kita jernih sebelum berpikir,berpikir sebelum berbicara.wass. Komentar oleh pangat@prience. — July 27, 2007 @ 11:49 pm semoga Allah menyadarkan Manusia yang tak Jelas Pemikirinnya ini,..tapi satu yang jelas klo dia itu “PERUSAK ISLAM MASA KINI” Komentar oleh Ridwan — August 30, 2007 @ 10:05 am gus dur sering kumpul2 diundang orang yg enggak tauhidnyaas jadi rizki yg didapati gusdur uang2 haram pesangon yg diperolehnya namanya saja gusdur[gadur]/semaunya dari nama saja dah kliatan enggak bener kyai yg satu ini ,,, lbh baik cari kyai yg jelas yg lain bannyakk,,, konon orang2 yg jemput gusdur kebetulan teman gue langganannya nampak seharian dlm forum dg enggak sholat enggak apa lalu kyai macam apa iniii Komentar oleh ali — September 2, 2007 @ 9:49 am capee’ deh (yang komen buanyak bgt).. wong Gus Dur tuh manusia biasa (punya kantong kotoran kaya’ kita kan?) bisa salah juga, kalo salah ya dibilang salah to’ ga usah malu-malu, kalo bener juga bilang aja bener. Al-Qur’an kan dibaca tiap hari, masa’ pedoman hidup kite, yang dipastikan keindahan bahasanya, yang dijaga keasliannya sepanjang jama ama Allah SAWT masa’ dijadiin bahan becandaan diomongin begituan pula (sampai enggan diriku menyebutkan kata itu), reaksi pertama sakit hati? pastilah… muslim mana yang ngga’ sakit hati? mending diem aja Gus daripada bikin kita2 orang pada beradu tulisan. panas.. panas nih.. (kaya’ dimana ya panasnya?) Komentar oleh arian — September 3, 2007 @ 2:10 pm sebagai manusia biasa yang mencoba mengetik dengan benar ternyata bisa juga salah tekan, huruf A-nya ikutan, dengan ini meminta maaf kepada seluruh pembaca. ini diluar kesengajaan. semoga Allah SWT memaafkan hamba yang hina ini. Astaghfirullah al adziimmm… Komentar oleh arian — September 3, 2007 @ 2:16 pm – komentar dihapus, terkait tidak beretika dalam diskusi – di sini bukan forum untuk menghina suatu ajaran agama! Nabi kami Muhammad SAW, membawa ajaran “untukku agamaku, untukmu agamamu…”, tolong anda belajar beretika dan menghargai orang lain, jika anda merasa ajaran agama yang anda anut itu baik,jangan tunjukkan kejelekan anda sendiri!!! admin tausyiah275 Komentar oleh WONG_GOBLOG — September 5, 2007 @ 9:54 am sesama warga indonesia kita memang harus saling damai tapi memang bener kalo gus dur ngomong “jangan bikin aturan hanya berdasarkan islam karena di indo banyak juga yang nonmuslim”tapi kalo bilang al-qur`an itu porno ya gmna ya soalnya porno kalo menurut saya itu kalo ada gambar yang fulgar ama cerita yang hot…..(dalam buku/tulisan) tapi selama saya baca al-qur`an ga da tu gambar yang fulgar` tau ga kenapa karena qur`an yang bikin bukan jendral he he he he he he Komentar oleh MBAH_BEJO — September 13, 2007 @ 2:18 am Kita harus maklum bahwa GD mungkin punya pemahaman sendiri tentang arti kata “porno” itu, yang tentu saja berbeda dengan pemahaman orang banyak. Itulah mungkin celakanya jika ada orang yang memahaminya dgn pengertian sempit.Walaupun begitu mudah2an ini tidak akan menjadi polemik berkepanjangan sehingga mengancam keutuhan ukhuwah islamiyah. Amin Komentar oleh Atho — September 13, 2007 @ 11:34 am didalam hukum islam semua adalah benar kecuali ada hukum yang menyalahkannya, semua adalah halal kecuali ada hukum yang mengharamkannya, dan semua jawaban adalah benar jika mempunyai alasan yang benar juga. jadi jangan kita memandang suatu hal dari satu sisi, jangan melihat kubus adalah hanya suatu bujur sangkar.artinya gusdur boleh berkata hal seperti itu jika dia mempunyai alasan hukum (agama) yang benar, kita pun boleh menyalahkannya kalau kita mempunyai landasan hukum (agama) yang benar. Intinya jangan menghakimi pendapat seseorang jika kita tidak mengetahui ilmu tentangnya/ tidak mempunyai alsan yang kuat dan benar. Komentar oleh bedjo — September 22, 2007 @ 1:48 pm Dari pada kita ‘Gibah’ tanya aja langsung ke GusDur Kayaknya beliau punya rumah/telepon/web/kantor apa lagi ya ??. mungkin ini jalan yang terbaik dari pada kita menerka2. Komentar oleh Acep Rahmat Kosim — September 24, 2007 @ 11:59 am Acep, kok dibilang ghibah ? Anda sudah baca belum semua detailnya ? Semuanya tertulis jelas, hitam diatas putih, bukan ghibah. Dan yang jelas gus dur & JIL adalah gerombolan penipu & pemfitnah Komentar oleh harry — October 6, 2007 @ 5:41 am Seringkali terjadi suatu perbedaan pendapat yang sudah tidak semestinya lagi terjadi, berlebihan, hingga seolah-olah menjadi berseteru dan saling memusuhi. Semoga tujuan dibuatnya blog ini adalah baik, untuk mengetahui mana yang benar dan salahnya (atau setidaknya mana yang lebih benar, atau setidaknya menambah wawasan mengenai dalil dari suatu topik yang ada)Di lain sisi terlihat bahwa sepertinya pembuat blog dapat mengedit bahkan menghapus tulisan yang tidak berkenan.Sekedar ide: bagaimana bila setiap comment yang tidak disertai dalil mohon dihapus saja, perbedaan harus ada dalilnya dan semoga suatu perbedaan tidak menjadi kian meruncing.Setiap tulisan yang “sensitif” cenderung akan menimbulkan pro dan kontra dan tidak akan menimbulkan suatu solusi melainkan menimbulkan suatu masalah baru jika tidak diarahkan. Harus ada aturan-aturan baku yang dibenarkan agar semuanya menjadi terarah.Jazakallah khairan. Komentar oleh Hamba Allah — October 19, 2007 @ 7:33 pm nabi Muhammad SAW. pernah bersabda bahwa orang yang paling berbahaya adalah para ulama yang sesat, kayak GUS DUR gitu menurut saya jangan ditanggepin omongan orang ngaco kayak gitu kalo gus dur menurut saya cuma orang yang pengen dapet perhatian aja Komentar oleh fuad — November 2, 2007 @ 10:25 am Qta harus kembali pada nurani. Ga perlu jauh-jauh untuk membela atas nama ‘ketinggian’ seorang ulama, ‘bahasa menakjubkan’, atau ‘ilmu tasawuf’ yg hanya bisa dipahami oleh segelintir orang. Yang jelas, Islam ini agama untuk banyak manusia. Sehingga penyampaiannya pun harus bisa diterima oleh khalayak manusia, bukan segmen orang2 tertentu. Tentunya kita, kalau menggunakan nurani (yg muncul atas pemahaman agama yg kurus, benar, dan jujur), akan askit sekali jika Quran sebagai dustur Ilahi malah dituduh yg merendahkan itu. Sudah, jangan pake argumen “Quran sudah tinggi, maka tidak perlu dibela jika ia direndahkan”. jangan. Sebab, argumen ini justru mengurangi ketinggian Quran itu sendiri. Mengurangi makna Quran itu sendiri, yg kudu dibela, dihargai, di”tolong”. Sebab Allah akan menolong siapapun yg menolong agamaNya (Q.S Muhammad 7, mhn dibenarkan bila salah). Tapi,…KH.Abdurahman Wahid tetaplah saudara kita. Kita kudu mendoakan beliau. Jangan sibuk pada debat ini, jika toh menyebabkan perpecahan diantara kita. Yg mau menganggap wali, monggo. Yg tidak ya monggo. Tapi, kualifikasi waliullah itu sangat ‘tidak bisa sembarangan diberikan’ begitu saja. Apalagi didasari oleh taklid semata, buka pemahaman Islam yg hanif, sesuai syariat, dan kaidah fiqh yg benar. Sebab menurut asya, tidak ada waliullah yg membiarkan Qurannya dihina, ataupun membiarkan dihina, apapun konteks muatannya. Guyon atopun serius. Berat atopun ringan. kalangan tertentu atopun khalayak ramai. Mari bertaubat, mari beristighfar. Sebab menjaga persatuan umat itu lebih didahulukan daripada bersikukuh pada argumen yg diambilnya. Peace! Komentar oleh redza — November 8, 2007 @ 4:48 pm Assalamu ‘alaikum wr. wbAna ingin sedikit urun rembug…keliatannya forum ini semakin menjadi-jadi.Pengen sedikit mengingatkan.Bagi yang mengkritisi Gus Dur (termasuk jg Ana) sebagai seorang muslim kita WAJIB mengingatkan saudara muslim kita yang lain bila memang salah,kita hanya manusia tempatnya salah dan lupa. Akan tetapi jika kita salah kita pun juga legowo mengakui kesalahan dan memperbaiki diri, bukan malah mencari pembenaran diri dan mencari massa sebanya2knya untuk mendukung. Kalo’ GusDur salah ya yg pengikutnya GusDur mohon diingatkan.Kalo’ tadi dikatakan GusDur Ulama, masa’ ulama kok senengane buat kontroversi. Ana sangat yakin jika Rasul dan para sahabat masih hidup mereka akan mengkritisi hal ini. Harusnya jika dikatan ulama mestinya ya ittiba’ pada Rasul… Apa rasululullah bertindak seperti itu…?????Dan lagi dalam QS. At Taubah Ayat 65-66 sangat jelas disebutkan 65. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”66. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. Udah jelaskan…????Bagi pengikut GusDur…mbok yo jangan taqlid buta, Imam syafi’i yang dijadikan madzhab saja sangat menentang taqlid buta. Sebenarny gak apa2 jika yang dikatakan GusDur itu pada saat dia sedang sendiri dan untuk dirinya sendiri. Yang jadi masalah adalah dia berkata dihadapan orang banyak dan ada yang menjadikan dia sbg panutan sehingga dikawatirkan dia malah menyesatkan umat yang aqidahnya belum kuat. Apakah seperti ini ciri seorang ulama / waliyullah??? Cobalah kita berpikir dengan jernih…Janganlah kita memperturutkan emosi dengan mati2an membela GusDur yang perkataannya belum tentu benar, jangan2 nanti kalo’ mati beneran bukannya mati syahid malah mati sangit.Harusnya yg kita perjuangkan adalah perkataan dan perjuangan rasulullah.Harusnya kita jg melihat siapa yang kita tokohkan, bagaimana kiprahnya dalam keluarganya…apakah bisa membimbing keluarganya sesuai dengan syariat islam ato tidak. Kalo menasehati keluarga+pengikutnya untuk berjilbab yang syar’i saja belum bisa bagaimana bisa menasehati orang lain.Akan tetapi bagi kita yg mengkritisi kita pun harus selalu introspeksi diri dan menjaga diri agar tidak jatuh dalam emosi gila. Kita juga wajib mengingatkan kepada kaum muslimin yang masih belum kuat aqidahnya tentang permasalahan ini, jangan samapi berlarut2 dan menimbulkan keresahan. Dan jika kita mengingatkan para pengikut GusDur haruslah yang sabar karna bisa jadi diingatkan sampe 1000 kali pun mereka tidak akan mau menerima. Saya adalah pengikut Rasulullah Muhammad saw, umatnya. BUKAN UMAT ATO PENGIKUT GUSDUR…..!!!!!!!! mari banyak2 istighfar agar trhindar dari fitnah seperti ini lagi. Subhanallohumma wabihamdika asyhadu alla ilaa ha ilaa anta astaghfiruka wa atubu ilaik Wassalamu ‘alaikum wr. wb Komentar oleh Nanang — November 13, 2007 @ 5:35 pm Gus Anda itu memang master of genius, jalan pikiran Anda itu ga bisa diindera, sampe-sampe pastor-pastor keparat itu bisa membuka aib tentang injil sampai sebegitu detailnya. kesimpulannya kitab suci kok porno, injil-injil… aneh!!!!! Komentar oleh imas — November 19, 2007 @ 9:03 am bravoo bwt GUS DUR…aku dukung sgala perkataanmu emg patut digituin koq… hahahah biar pada kocar kacir Komentar oleh muhammad aliyan — November 21, 2007 @ 1:52 pm imas yg aneeh!!!!! km yg seharusnya dipriksa oleh orang GILA!!! hahaha bravo GUS DUR… ttp JAYA sepanjang MASA hiiduuppp Komentar oleh muhammad aliyan — November 21, 2007 @ 1:55 pm Masya Allah klo Gusdur bilang Al Qur’an adalah kitab yang paling porno, itu sama saja dengan menyamakan Al Qur’an dengan Kitab Porno. Logika sederhana aja ya sebagai orang awam, klo Al Qur’an itu adalah kitab yang porno, maka dapat diibaratkan seperti ini,Nabi Muhammad diutus oleh Allah untuk menyampaikan Alqur’an kepada umat manusia, maka redaksinya dapat diganti “Nabi Muhammad diutus oleh Allah untuk menyampaikan kitab porno kepada umat manusia atau, Allah berfiman dalam Al Qur’an, bisa di anggap “Allah berfirman dalam Kitab Porno” atau, ketika ada lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), maka akan menjadi Musabaqah Tilawatil Kitab Pornoatau saat kita mengatakan, ajarkanlah kepada anakmu Al Qur’an, maka tentu akan berubah menjadi “ajarkanlah kepada anakmu Kitab Porno”atau, saat ibu-ibu melihat anaknya pandai baca Alqur’an dan dia mengatakan,”duh anakku udah pandai baca Al Qur’an lho jeng..” maka tentu akan berubah menjadi “duh anakku undah pandai baca Kitab Porno lho jeng..” Masya Allah… Mengatakan Al Qur’an sebagai kitab yang paling Porno maka sama saja dengan menganggap Al Qur’an sebagai kitab Porno, sama ketika kalau kita bilang Majalah Playboy itu majalah yang paling porno, tentu kita sepakat bilang kalau Majalah Playboy itu adalah majalah porno..ya kan ??trus kalau kita lihat di Mesjid ada tulisan TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an), maka dapat diganti dengan “Taman Pendidikan Kitab Porno”Masya Allah…..apa Gus Dur ndak mikir ya sebelum ngomong itu ? Rasulullah dan sahabat aja berjuang mati-matian menegakkan kalimat allah, eee dia (GD) enak-enak aja bilang kitab Porno…. Semoga Gus Dur bertobat….amin.. Komentar oleh yayoex — November 26, 2007 @ 2:54 pm harry, fuad, dan gengnya adalah tukang fitnah terbesar di Indonesia Komentar oleh didin — November 29, 2007 @ 11:42 am komentar gusdur masuk dalam gaya n lahjahNya. kalu gak komentar gitu bukan Dia.. menefsirinyapun berbeda2.. toh semua itu lebih memberikan pada kita banyak wacana sbgai proses kedewasaan berfikir yang objektif.dan saya menunggu kata – kata dan ungkapan yang lebih menarik dari yang sebelumnya. teruskan gus…. Komentar oleh ahmed — December 7, 2007 @ 2:16 am Kalo Kita Bicara Hukum Di Indonesia dan Lawan Bicaranya Bahas Tentang Aqidah Islam Sampai Kapan Pun Gak Nyambung…by http://www.aab32.com Komentar oleh http://www.aab32.com — December 12, 2007 @ 8:55 am mungkin maksudnya gu dur, Al-Quran itu menerangkan apa adanya dan sejelas2nya, jadi karena berkaitan dengan ruu app maka disebut kalimat porno. tapi itu cuman asumsi saya, kalau salah mohon maaf Komentar oleh cahyo achsanto — December 16, 2007 @ 11:29 pm Gusdur itu tau apa???Orang gak bisa liat aja, Mbok biarin aja nti juga di panggil jga ma allah.Ana yang baca situs ini juga ikut gregetan ma gusdur. Gitu kok ya ada pendukungnya ya??Dah jelas-jelas di udah “mendustakan Allah” Istighfar Gus!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!Orang Islam tapi KTP-nya doang..ISTIGHFAR Komentar oleh hamba allah — December 19, 2007 @ 9:06 am Apa gusdur itu da’jal??????????????? Komentar oleh hamba allah — December 19, 2007 @ 9:13 am Memang gus dur begitu, khan dia bukan sarjana berbasis islam toh, cuman berbasis satra aja, jadi nggak usah di dengar omongannya, dia memang sudah jauh tersesat, mudah2an Allah memberikan ganjarannya… Komentar oleh arman efendi — January 4, 2008 @ 9:58 am mas-mas.. mba-mba..yuk kita semuanya tersenyum..tarik nafas dalam dalam.. kita ngga tau lho kapan kita dipanggil sama yang diatas..kenapa kita ngga pilih untuk bahagia??yang lagi pada emosi coba bayangin senyum anaknya atau senyum anak siapa aja yang polos lugu penuh kasih sayang..aku ngga tau banyak soal agama,,so komentar akulove.. peace… respect…. Komentar oleh Putra — January 8, 2008 @ 10:09 am gusdur itu bukan kiai tapi dukun.wong matanya saja gak bisa ngliat mana bisa baca alquran.liat aja temennya saja inul.itulah kalau zaman sudah mendekati akhir banyak ulama yang fasik dan bodoh.Allohuakbar semoga Alloh menghukum dan melaknat orang yang menghina kitab suci yg tdk ada tandingannya Komentar oleh adin — January 11, 2008 @ 8:21 pm Assalamu’alaikum wr wb, saya selaku warga Indonesia merasa malu, mengingat seorang GusDur pernah menjabat sebagai presiden RI, pemimpin dari lebih 200 juta penduduk indonesia. Ya Allah, kumohon pada-Mu, jangan sampai terulang kembali tragedi ini. wassalamu’alaikum wr wb Komentar oleh Irfan — February 8, 2008 @ 7:24 am alhamdulillah tentu pro dan kontra kita d sini,sama2 mencintai dan mengagungkan islam terlebih lagi pada kitabnya alqur’anulkarim. Komentar oleh junaedi — February 21, 2008 @ 11:59 am nanang lagak km kyak ustat. . . .hati2 kl ngomong gusdur gk cuma punya pengikut yang setia,tapi jg punya lebih dari 12.000 laskar yang siap membungkam mulut2 sok pintar,salam panas (laskar 1 ) Komentar oleh PBM.(pasukan berani mati) — February 22, 2008 @ 3:30 pm buat yang mengaku singa gurun. .?kenalkan nm q junaedi dlm bhasa arab berarti(tentara). . .dan gusdur gak cma punya 1.junaedi tapi masih banyak bahkan ribuan.tolong jaga komen anda,tentang ulama kami(Gd)atau tantara ini akan membantai habis singa ompong di gurun(zufar sahara).salam panas PBM (1). .(pasukan berani mati/laskar 1 kiai graning) Komentar oleh PBM — February 22, 2008 @ 8:31 pm orang gila didengerin GUSDUR PANTESNYA ADANYA DI GROGOL Komentar oleh subhan — March 6, 2008 @ 10:06 pm LOE NGAPAIN bela-belain orang yang udah ga waras lagi eh Junaedi lu udah gila apa miring orang gila di belain dia udah bukan orang islam lagi coz udah berani ngatain kitab sucinya sendiri sadar lo ni gua siap ganyang GUSDUR KALO DIA NGOMONGNYA NGAWUR LAGI LEBIH BAIK DIAM KALO KAGA BISA NGOMONG YANG BAIK Komentar oleh subhan — March 6, 2008 @ 10:12 pm Memang begitulah keadaan keagamaan di Indonesia, tidak bisa disangkal lagi, fakta telah saya coba apa yang telah tertulis di buku tersebut, hanya karena menanyakan kenapa anda begitu percaya Sunan Bonang waktu wafat menjadi dua? Tidak adakah satupun orang yang mengetahui dirinya menjadi dua? Bukankah dia seorang ulama/”wali”, Sedang orang awam pun kalau akan meninggal sanak saudara berkumpul? Mungkinkah waktu sakhratul maut tak ada seorangpun menungguinya? Terus malaikan datang pada kuburan yang mana? Nahdliyin itu pun mencak-mencak, dengan muka merah, main tuding, dan langsung memutuskan silaturahim. padahal yang saya tanyakan (saya tidak dalam keadaan marah) hanya ingin tahu hal tersebut yang tak masuk akal. Dan hemat saya, apalah artinya memuji-muji, menyanjung-nyanjung seorang “wali” dengan berlebih-lebihan?, toh bukankah sudah jelas apa yang tersurat dalam Al Qur’an bahwa satu-satunya manusia yang ma’sum hanya para Nabi dan Rasulullah SAW? Jika memang mau ber-Islam yang sebenarnya ya hindari Ashobiyah, penilaian Ashobiyah, Kultus Individu (kenyataan di lapangan memang begitu). Memang tulisan buku Hartono AJ terasa pahit dan menusuk kalbu bagi yang membela golongan dan kyai2 mati-matian. Jika akidah anda banyak merujuk pada Qur’an dan Hadits2 shahih, Insya Allah tak ada yang perlu dihina dan dihujat. Islam sebenarnya ya Ahlussunah Waljamaah dengan pemahaman Salafus sholih tanpa ditambahi dengan bid’ah dan khurafat dan takhayul. Saya tadinya seperti anda merasa ga terima, alhamdulillah saya tidak terfokus pada yang bicara, saya cari dalil yang dia gunakan benar ga? Ahlul Haq adalah Allah SWT dan Rasul-Nya, bagaimanapun bertentangan dangan hawa nafsu saya, saya yakini apa yang datang dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Jika keanehan, keajaiban dan lain sebagainya yang terjadi pada selain nabi, apakah mutlak harus diyakini kebenarannya bahwa hal tersebut sesuai dengan apa yang disyariatkan oleh Islam? DAn haruskan apa yang dia ucapkan dan perbuat menjadi suri tauladan bagi umat Islam (di Indonesia?) Kurang sempurnakah apa yang disampaikan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya? Lebih utama mana meyakini Rasul SAW yang jelas2 ma’sum dengan “Wali” yang nota bene hanya cerita turun temurun dan dibesar-besarkan(oleh mereka yang ghuluw dalam menyanjungnya)? Seandainya para “Wali” tersebut dihidupkan lagi pun Insya Allah kaget dengan cara beragama yang seperti sekarang ini di kalangan masyarakat Jawa. Karena metode yang digunakan oleh para “Wali” itu sifatnya hanya darurat, karena dengan cara itulah Islam bisa diterima. Tapi apa lacur pada jaman sekarang ini cara berdakwah memakai metode jaman “Wali”, masihkah kita merasa menganut “Islam yang sebenarnya”? Bukankah pada jaman sekarang ini sudah ada yang menggugurkan kedaruratan? Saya pun kagum dengan metodenya, karena dengan metode tersebut banyak orang animisme masuk Islam. Tapi untuk jaman sekarang ini, jika diterapkan metode tersebut dipakai akan menjadi bias, rancu, dan kacau. Islam menjadi Hinslam (Hindu Islam), Krislam, Buslam dll dan akhirnya bias. Terus apa maksud Gus Dur dukung JIL, Pluralisme, bahkan yang katanya Ulama, KH, dan “Tokoh Islam”? pun mau diberkati oleh >10000 pendeta, akrab dan mau dijadikan centeng Israel (yg sudah jelas dilarang Allah), jadi juri FFI, jadi anggota BSF, bicara ceplas ceplos akibat stroke, jadi laskar kristus, mangku istri orang. Terus apa yang harus dibanggakan dengan orang seperti itu? Jika yang dibela kebenaran Islam, tegurlah GD, Rasulullah SAW saja mengancam anaknya Fatimah, jika mencuri dipotong tangannya. Berpahalakah orang yang membela GD habis2an hanya berlandaskan ketaqlidan, ghuluw dan fanatisme saja? Suatu contoh, dan sekarang masih. Dzikir itu kepada siapa? kepada Allah bukan? Kenapa harus dengan suara keras? Padahal dzikir dan berdo’a kepada Allah SWT harus dengan rendah hati dan suara yang lembut? Tulikah Allah SWT? Kalau dijawab tidak, terus dengan tujuan apa melakukan dzikir tsb dengan suara keras? Tidakkah itu mengganggu orang yang sholatnya terlambat? Komentar oleh eko — March 7, 2008 @ 12:40 am subhan sebelum km ganyang gus dur.km dulu yang akn kami bantai ku penggal dan ku arak kepalamu keliling kota surabaya. bagaimana bila kita ketemu saja. . . . dan satui lagi’ bukan gus dur yang gila tapi kamu.yang sinting,km gak tau kronologis kejadian waktu itu jd gak usah banyak bacot.(ini tantangan resmi)jawab testi q agar ini lebih lanjut. Komentar oleh PBM — March 13, 2008 @ 12:13 pm benar siapa saja yang menghina gus dur dia pantas mati,subhan kami tunggu jawabmu.sampai ketemu di medan perang Komentar oleh GARDA BANGSA — March 13, 2008 @ 12:18 pm eh subhan lagak kamu kayak tuhan aj pk ngehukumi orang muslim gak muslim.padahal kamu tu masih suka ONANI di kamar mandi. Komentar oleh baskoro — March 13, 2008 @ 12:42 pm ne yg nmnya subhan jangan percaya ama kata2 di atas itu cuma gertakan aj. . .saya hargai testi/komen kamu,boleh kami tau alamat email km ,biar kami bisa (add)nanti km tunggu. . . Komentar oleh pagar nusa — March 13, 2008 @ 12:50 pm eh subhan km dh bikin bangun macan yg udah tidur lebih dr 60th,tp ada gunanya jg soalnya udah kelamaan tidur,dan sekarang lagi lapar berat pengen cincang kamu punya badan,seperti dulu kami cincang dan bantai orang2 PKI. .km pasti cr tau tentang km jangan kuatir kita pasti ketemu . .cox Komentar oleh musa — March 14, 2008 @ 9:16 am subhan ente pengen mampus ya. . . .yg punya blog ini kyknya juga agak gila. . . Komentar oleh guruh — March 14, 2008 @ 9:24 am Assalamu ‘alaikum wr.wb Wong orang salah kok dibela-belain mati2-an.Tahu apa antum semua tentang perang dan jihad?Jihad bukanlah membela seseorang yang sudah jelas menghina Al Qur’an. Semoga Allah memberikan hidayah-Nya pada antum sekalian.Buat PBM, kalo antum emang brani mati silahkan antum pergi ke medan jihad di palestine, jangan cuman menyombongkan diri berani mati.Kalo ana tidak gentar sedikitpun karena yang menentukan hidup mati ana bukanlah antum. Antum tidaklah pantas untuk ditakuti karna antum hanyalah manusia, sama lemahnya dengan ana. Allah yang paling hak untuk ditakuti.Jika Allah berkehendak ana dan antum pun bisa mati besok pagi, bahkan hanya dengan kejatuhan seekor semut.Buat apa menyombongkan diri dengan mengatakan berani mati.“Rasulullah bersabda :”Barangsiapa yang terdapat kesombongan dalam hatinya sebesar biji dzaroh, maka ia akan masuk neraka”(HR.Bukhori-Muslim) Semoga Allah senantiasa mengampuni hamba2NYA yg selalu bertobat dan memohon ampun, dan semoga Allah memberikan hidayahNYA bagi kita semua. “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami ta’at kepada Allah dan ta’at (pula) kepada Rasul”. Dan mereka berkata: “Ya Tuhan Kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. (QS. Al-Ahzaab (33): 66-68) Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zhalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata:”Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari al-Qur’an ketika al-Qur’an telah datang kepadaku.Dan syaitan itu tidak akan menolong manusia”. (QS. Al-Furqan (25): 27-29) Itulah ancaman Allah bagi orang yang taqlid buta pada pemimpinnya. Jikalau antum memang orang islam yg istiqomah harusnya antum menghidupkan dan menegakkan sunnatullah dan sunnah rasul, bukan malah menghina. Mungkin jika saja GusDur hidup di jaman Rasulullah maka Umar akan segera memenggal kepalanya karena telah menghina Al Qur’an. Ya aiyuhal ladzina amanu ittaqullah, haqqo tuqotihii walaa tamutunna illaa wa antum muslimun. Wassalamu ‘alaikum wr.wb Komentar oleh nanang — March 21, 2008 @ 10:51 pm hhmm…. apa kalo rasulullah marah lantas berkata kotor/mengumpat?orang macam musa tidaklah pantas menyandang nama musa, nama Nabi yang senantiasa menjaga hatinya dari hal2 kotor.Anda secara tidak langsung juga merendahkan gus dur sendiri dengan bertabiat jelek spt itu, saya yakin gusdur juga gak suka kalo anda mengumpat2. ternyata orang yang suka mengumpat2, yang itu adalah perbuatan yang disukai syetan.Semoga anda terhindar dari firman Allah dalam surat Al An’am ayat 112.Marilah kita jauhi perbuatan2 syetan.Kemudian, anda2 yang mengatakan apakah pengen mati/mampus adalah termasuk orang2 yang berlebihan dan telah kufur pada Allah. Allah-lah yang menghidupkan dan mematikan manusia, kalian bisa apa? banyak2lah mohon ampun karena kekufuran kita semua.Sudahlah hentikan semua ini, tidak ada gunanya.baik yang pro maupun yang kontra dengan gus dur, mbok dikasih tahu 1 juta kali pun kita gak pernah bisa satu pendapat. Sudah kita serahkan pada Allah yang akan menghakimi, entah azab akan ditimpakan pada siapa, yang pro ato yang kontra itu kehendak Allah.yang pasti marilah kita banyak2 istighfar Komentar oleh hamba Allah — March 21, 2008 @ 11:12 pm hhmm…. apa kalo rasulullah marah lantas berkata kotor/mengumpat?orang macam musa tidaklah pantas menyandang nama musa, nama Nabi yang senantiasa menjaga hatinya dari hal2 kotor.Anda secara tidak langsung juga merendahkan gus dur sendiri dengan bertabiat jelek spt itu, saya yakin gusdur juga gak suka kalo anda mengumpat2. ternyata orang yang suka mengumpat2, yang itu adalah perbuatan yang disukai syetan.Semoga anda terhindar dari firman Allah dalam surat Al An’am ayat 112.Marilah kita jauhi perbuatan2 syetan.Kemudian, anda2 yang mengatakan apakah pengen mati/mampus adalah termasuk orang2 yang berlebihan dan telah kufur pada Allah. Allah-lah yang menghidupkan dan mematikan manusia, kalian bisa apa? banyak2lah mohon ampun karena kekufuran kita semua.Sudahlah hentikan semua ini, tidak ada gunanya.baik yang pro maupun yang kontra dengan gus dur, mbok dikasih tahu 1 juta kali pun kita gak pernah bisa satu pendapat. Sudah kita serahkan pada Allah yang akan menghakimi, entah azab akan ditimpakan pada siapa, yang pro ato yang kontra itu kehendak Allah.yang pasti marilah kita banyak2 istighfar Komentar oleh hamba Allah — March 21, 2008 @ 11:13 pm Afwan, boleh taruh link gak ya di sini. Mungkin link2 berikut sedikit banyak bisa dibaca. Ada beberapa fakta di sana. Afwan kalo tidak berkenan, baik utk pendukung GD juga yg tidak setuju dengan GD. 500 Ulama Pulau Jawa Laporkan Gusdur ke Mabes Polri Penelitian Untuk Gus Dur ttg “Pornoisme”Gus Dur Menghina Al-Qur’anTantangan Debat Publik Kepada Gus Dur Sekali lagi afwan jika tidak berkenan. Wassalamu’alaikum wr wb. Komentar oleh junaedi — March 21, 2008 @ 11:19 pm Allah SWT berfirman: “Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya. Orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab (Lauh Mahfuzh); hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (malaikat) untuk mengambil nyawanya,(diwaktu itu) utusan Kami bertanya:”Dimana (berhala-berhala) yang biasa kamu sembah selain Allah” Orang-orang musyrik itu menjawab:”Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami”, dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang kafir”. (QS. Al-Araf (7): 37) Komentar oleh junaedi — March 21, 2008 @ 11:28 pm wah seru juga ya diskusiin tentang gus dur.ada yang kepancing sampai ngumpat-ngumpat.malah ada yang sok-sok alim ngeluarin ayat-ayatih gue jadi takut. memang sich menilai gus dur agak repot..sebab tingkat kegeniusan gus dur melebihi kita semuacoba dech ngaca siapa sich tokoh yang mampu mengalahkan gus dur. selama ini belum ada tuh…cuma paling-paling hanya orang yang emosi melulu tanpa melihat dengan mata hati yang jenrih.orang yang bela gus dur maupun yang menghina gus dursaya kira orang yang salah. sebab gus dur bukan untuk di bela islam datang bukan untuk memajukan akal tetapi untuk memperbaiki akhlak. nah gus dur itu sebenarnya tujuannya satu memperbaiki akhlak jenengan-jenengan yang kelewatan ekstrem. Komentar oleh sina — April 10, 2008 @ 11:21 pm mohon maaf sebelumnya, utk akhi/ukhti sina,bisa ngasih dasar gk bahwa kata antum “islam datang bukan untuk memajukan akal ” ???Di dalam Al Qur’an banyak sekali yg bisa kita pelajari, bahkan banyak ilmuwan yang sangat takjub dengan kekinian kandungan Al Qur’an. Teknologi dan pengetahuan yang luar biasa terkandung di dalam Al Qur’an yang merupakan pedoman hidup kaum muslimin. Bagaimana antum bisa berkata seperti itu?Ana hanya menyarankan, banyak2lah mempelajari Al Qur’an memahami maknanya, jangan hanya cuman membaca saja. bagaimana kita bisa hidup sesuai dengan tuntunan Al Qur’an kalamullah jika kita tidak tahu isinya??? Kemudian untuk masalah gus Dur, antum berkata “gus dur itu sebenarnya tujuannya satu memperbaiki akhlak jenengan-jenengan yang kelewatan ekstrem”, ana kira jika Gus Dur ingin memperbaiki akhlak, harusnya tidak berkata dan berbuat semaunya. Harusnya ittiba’ rasul, baik dalam perbuatan maupun dakwahnya.Seseorang itu bisa dilihat dari dzahirnya, apakah akhlak Gus Dur sudah sangat mulia???Bagaimana dengan dakwah Gus Dur pada keluarganya???Apakah keluarga Gus Dur sudah memenuhi syariat islam, baik dalm tingkah laku maupun berpakaian??? Jadi, harusnya yang kita bela bukan Gus Dur nya, tapi Allah, Muhammad, dan Islam. Kita harus fair, Gus Dur hanyalah manusia biasa, sangatlah mungkin melakukan kesalahan, baik kecil maupun besar. Jadi kita harusnya lebih fair, kalo salah ya salah, kalo betul ya betul Komentar oleh hanif — April 14, 2008 @ 7:43 pm Gus Dur memang orang yang gendeng jika mengatakan bahwa Al-Quran itu kitab paling porno tetapi kita memang harus mengakui sebagai orang goblok yang tidak tahu maksud dari porno alias kitab yang tidak pernah ditutup-tutupi (oleh orang Yahudi) artinya masih murni. Komentar oleh khidir — April 15, 2008 @ 10:00 pm Hmmm… brarti nanti jika mau beli madu kita tanya ma penjualnya : Pak, saya mau beli madu, ni madunya “porno” apa tidak ya???Atau mungkin nanti akan ada juga dalam perusahaan atau negara yg menggunakan sistem open managemen, atau dalam bahasa akhi khidir managemen “porno” gitu ya..??? Atau dalam persidangan seorang saksi dituntut utk porno terhadap fakta yang ada. Gitu kan???Atau contoh kalimat lagiSaya melihat wanita itu dengan mata porno. Ana tanya pada antum semua yg baca, kira2 pas apa gak jika kita menempatkan kata porno seperti tadi.Nah jawaban antum itu sudah membalikkan apa yg disampaikan akhi khidir. Komentar oleh ikhsan — April 20, 2008 @ 6:43 pm mas nanang yang alim. . . .laskar2 dan orang2 GD gak cuma bisa ngomong,lebih dari 99 orang dari golongan kami telah turun di di tanah palestin, dan smp sekarang 13 orang belum di ketaui kabarnya saya harap anda yg gak cuma bisa ngomong dan ngeluarien dalil, , , , Komentar oleh pbm — April 22, 2008 @ 11:18 am Alhamdulillah jika memang demikian. Jikalau yang kita perjuangkan adalah tegaknya islam dan Tauhid itu adalah hal yg luarbiasa. Akan tetapi jika yg di bela mati2an adalah Gus Dur dengan tidak memandang apakah salah atau benar perbuatannya maka ini adalah SALAH, harusnya yg kita bela adalah Allah, Rasul dan Islam sbg dien kita. Jika adal yg menyalahi atau bahkan menghina dan memusuhi, maka ia adalah termasuk musuh bagi kaum muslimin.Ini kita juga menunggu giliran utk berjihad, bertempur di medan perang.Diantara kita kaum muslimin jg ada yg membentuk thoifah utk mempelajari ilmu dien dan disampaikan kpd kaum muslimin yg lain dan menegakkan islam lewat dakwah.Seorang mujahid yg akan dikirim utk berjihad tidak dengan serta merta berangkat tanpa bekal apapun, itulah sebabnya mengapa perlu i’dad dalam berjihad agar nanti di medan perang kita bukan lagi justru menyusahkan rekan yg lain. Dan kita juga antri utk dikirim karena utk menuju medan perang juga butuh dana.Di dalam jihad tidak mengenal kata KALAH. Jika memenangkan pertempuran berarti kita mendapatkan kejayaan islam, tp jika kita mati kita akan mendapatkan kesyahidan yg selalu dinanti2.Dan perlu di ingat juga, dalam berjihad tentunya kita jg harus ittiba’ rasul, rasul ketika terkena tombak juga berdarah dan bahkan gigi rasul patah.Hadis riwayat Sahal bin Sa`ad ra.:Bahwa dia ditanya tentang luka Rasulullah saw. dalam perang Uhud, Sahal menjawab: Wajah Rasulullah saw. terluka, gigi seri beliau patah serta topi perang beliau juga hancur. Fatimah putri Rasulullah saw. lalu membersihkan darah beliau sementara Ali bin Abu Thalib menuangkan air ke atas luka dengan menggunakan perisai. Ketika Fatimah melihat ternyata air hanya menambah pendarahan, ia lalu mengambil sepotong tikar dan membakarnya hingga menjadi abu. Kemudian Fatimah menempelkan abu tersebut pada luka beliau hingga berhentilah aliran darah itu”.(shahih muslim hadist no.1038) Jadi dalam i’dad yg diajarkan adalah taktik perang, cara berperang dan bertempur baik dg fisik maupun senjata, dan tentunya do’a dan munajat kita pada Allah. Dan perlu di ingat juga bahwa dari riwayat di atas menunjukkan bahwa rasul tidak kebal senjata, jadi tidak perlu kita menggunakan ilmu2 mistis yg justru nanti akan dijadikan ajang jin utk menjamah diri kita.Harapan kita hanya ada ” ‘isy kariiman aumut syahidan ”Hidup mulia atau mati syahid. Membawa kemenangan atau mendapatkan kesyahidan yg menjadi dambaan bagi kaum muslimin Semoga kita dijadikan sbg jundi2 Allah dlm menegakkan kalimatullah.Rapatkan barisan dalam perjuangan, luruskan niat kita, dan bersihkan aqidah kita shg kita tetap lurus di jalanNYA. Komentar oleh nanang — April 22, 2008 @ 4:02 pm Benar atau tidaknya perkataan pbm hanya Allah yg tahu…. Wallahu a’lam… Komentar oleh abu syahid — April 22, 2008 @ 5:19 pm tegur saja orang2 yg salah dengan kasih kalo masih saja berbuat salah dan iyu dosa biarkan Tuhan saja yh mnghukum, kita ga boleh bertindak krn kita bukan Tuhan. Soal pendapat Gus Dur saya setuju kalo apapun dan siapapun ga boleh bertentangan uud 45 dan pancasila biar saja para pejabatnya yg ngawur kita masyarakat indonesia setia pd pancasila Komentar oleh iwan — May 8, 2008 @ 9:18 pm Emang gusdur itu udah keterlaluan, oto bisaa di katakan dia antek Orientalis Mungkin, mentang2 punya otak cepet. Yaa kalo semua orang kayak gusdus, tahu dasar2 agama!! DLL, Kaloo orang2 awan, yang hanya mengkultuskan dan ikut2tan, bisa2 tersesat. Kalo udah tersesat siapa yang tanggung dosanya.. !!! Komentar oleh Muhammad — May 11, 2008 @ 5:32 pm masalah Gus Dur aja kok dibikin repot… GD bukannya menghina AlQur’an, tapi cuma pengen sampaikan pesan kalo pornografi itu sangat bergantung pada persepsi orang. So bisa aja “orang lain” suatu saat berdasarkan UU anti pornografi akan mengatakan kalo AlQur’an juga mengandung pornografi, so, UU itu tdk selayaknya diterbitkan (ini menurut yang setuju versinya GD). bagi yang pro GD, GD gak pernah kok minta dibela-belain sampai meneteskan darah penghabisan segala macam, beliaunya itu easy dan sabar, so tirulah kesabaran GD sebagaimana GD meniru kesabaran kanjeng nabi. Lagi pula GD gak suka perang, apalagi perang sesama muslim. What do you think…? Komentar oleh AREMA — May 17, 2008 @ 10:27 am memang kita yang terlalu bodoh tidah mengetahui yang sebenarnya.memang di alquran ada ajaran tetnatng menyusui kok.di kitab shahih bukhori muslim juga ada kok.kata kyai saya KH.AHMAD DAIN arif BADRUS memang ada kok.trus itu juga porno..tapi itukan ajran dan sudah jadi hukum bagi kita.kita belom sepantaran mentang gus dur.GD tuh waliyulloh kharismatik……jangan sekali2 menhina tokoh saya. Komentar oleh yudi — May 19, 2008 @ 11:42 am GUs Dur tu orang gila, jadi komentar2nya anggap aja sampah… Kami orang sumatra heran melihat tingkah laku orang2 jawa yang banyak “ngikut” gusdur. kok bisa kalian percaya ama omongan orang yang OTAKNYA TINGGAL SETENGAH (setengahnya lagi udah STROKE). Dasar orang2 aneh.. makanya banyak orang jawa yang jadi pembantu rumah tangga, karena orang jawa mau diperbudak oleh orang2 yang banyak duitnya. Komentar oleh Que — May 23, 2008 @ 4:10 pm Asalamu alaikum wr wb Akhi atau ukhti yang baik,hendaknya jangan mencela hingga membawa orang yang tidak bersangkutan dan tidak tahu menahu.Saya orang jawa,tapi mungkin ngga seperti yang anda maksudkan..?,toh hakikatnya semua manusia itu adalah budak contohnya saja Rosulullah saw,dia adalah budak Allah swt,dan dia tidak mengharapkan sedikit duniapun dari Allah swt,tapi hanya mengharap ridlo Nya semata.Dan sangat beda jauh dengan diri kita yang selalu berharap dunia dan selalu di perbudak oleh dunia, banyak orang yang stres,bahkan sampai melupakan agama hingga tidak tau lagi halal atau haram.Maaf sebelumnya,contoh almarhum ibu saya,dia pernah menjadi TKW di saudiarabia sebagai pembantu rumah tangga,sampai ibu meninggal dengan sebab sakit yang dibawa dari arab. Dia bkerja ikhlas karna Allah,antuk mencukupi keluarganya ,dia tidak punya alasan untuk tidak bekerja di arab,dia janda beranak 4,dan ijasah yang di punya hanya SD,mau dagang ngga ada modal,itulah ibu saya,tentunya saya sangat menghargai sekali atas perjuangannya. Mudah-mudahan anda sebagai orang yang arif bisa mengerti perasaan saya yang di jadikan Allah swt sebagai anak seorang pembantu.Dan seandainya anda yang arif mempunyai kariawan di perusahaan ,atau punya pembantu di rumah yang selalu melayani keluarga anda,saya sangat berterima kasih sama anda sbagai saudara seakidah,apa bila anda yang arif menghargai mereka sebagai mana mereka menghargai anda yang telah menolongnya karna Allah. Amin… Mengenai Gusdur,saya sama sekali tidak suka atas ucapan dan perbuatannya yang melangar syariat islam.*contoh,dia bilang bahwa AL QUR”AN itu kitab yang paling porno di dunia* Nabi,sahabat,tabiin2,bahkan ulama ahli tafsir dari IBNU KATSIR sampai AL MISBAH atau AL ASHAR,tidak ada yang menafsirkan hingga “SEORANG IBU YANG MENYUSUI ANAKNYA” di katakan porno. Wahai sodaraku GARDA BANGSA,sangat dosa besar apa bila seorang muslim membunuh saudaranya sendiri. Saudaraku GARDA BANGSA,sayapun tidak suka orang yang mencaci GUSDUR,apa bila GUSDUR berbuat baik menurut syariat islam. Wahai saudaraku seaqidah, Hendaklah jangan kau anggap sebagai allah setelah ALLAH,jangan kau anggap nabi setelah nabi Mukhammad saw. GUSDUR atau saya,atau anda.. hanyalah manusia yang tak lepas dari salah dan dosa. Wahai saudaraku, Apakah anda percaya bahwa GUSDUR atau SAYA di MAKSUM oleh Allah SWT dari kesalahan atau perbuatannya..?Rosulullah bersabda:Vainna khoirol khadiitsi kitabullah, wa khoirul had yii had yuu Mukhammaddin solallahu alaihi wasalam. artinya: sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah rosulullah solallahu alaihi wasalam. Sudah jelaskah anda siapa yang pantas disujudi dan ikuti.. ?, Insya Allah anda tau itu . Segala yang benar datangnya,dan segala yang salah adalah dari saya sendiri sebagai hamba yang dloif[lemah] wallahu a’lam bi sowab. salman assalwi *[29 mei 2008]“Siap di kritik” Komentar oleh salman assalawi — May 30, 2008 @ 1:31 am Maaf sebelumnya,kalimat terahir maksud saya : ” Segala yang benar datangnya dari Allah SWT,dan segala yang salah adalah dari saya sendiri sebagai hamba yang dloif[lemah] Komentar oleh salman assalawi — May 30, 2008 @ 1:40 am gitu aja kok ribut…ya, kapan qt ini bisa maju kalo gt aj ribut kang…. dibuka dulu wawasan dengan ilmu yang dalam baru bisa melihat segala sesuatu dari segala aspek, sehingga tidak mudah menyimpulkan Komentar oleh abdul — May 30, 2008 @ 9:41 am halamn apaan nih, Al quran kitab suci di blang porno. Emangnya pegangan hidup sampean tuh apaan?UUD45 yang harganya “goceng” eh klo dpasar lebih murah lgi…. tpi kgk di amalkan oleh bangsa dan negra. Komentar oleh Sonic Jihad — June 4, 2008 @ 9:38 pm Berpegang teguh pada Alquran & Hadist tiada kitab sesuci dan ssempurna Alquran, yang lain kitab book of record he…he… Takbir “Allohu Akbar” Komentar oleh Sonic Jihad — June 4, 2008 @ 9:41 pm menurut saya GD memang unik, komentar2 yg beliau lemparkan disatu sisi membuat orang bisa tersenyum bahkan ketawa, tapi disisi lain bisa juga membuat orang menjadi merah padam mukanya menahan marah, karena merasa tersindir ato memang benar2 “kena” dengan kalimat yg diucapakan GD, bagi saya GD tetap seorang figur yg luar biasa, karena apa yg dikatakannya mengandung nilai2 yang benar sejauh kita bisa memahami benar konteks dan maksud dibalik itu, pembelajaran yg benar2 kadang tanpa terasa diberikan tanpa orang2 sadari sudah masuk didalamnya walau dengan pro dan kontra yang tentunya sudah diperkirakan oleh GD, sehingga muncul istilah gitu aja kok repot, tidak perlu dipikirin dll. Jadi meminta GD istigfar adalah hal yg lucu karena semua org harus isftgfarkan? ( tidak ada org yg suci) Komentar oleh amos — June 5, 2008 @ 10:51 am salam bagi seluruh makhluk.. -Sang penyampai kabar- 1.Dan ternyata dia tertipu..bahwa media bukan tuhan yg wajib di imani,bahwa sang penyampai tetaplah penyampai saja dan tuhan tetaplah mahasumber dari segala pesan,firman,sabda itu sendiri. 2.ini hari kian banyak dalih dalih yg membenarkan kesalahan bahkan dipaksa untuk dipercayai..dengan alasan menjaga kehormatan negara,agama bahkan sudah dimulai di keluarga kecil!khusus soal agama rasa rasanya lucu saja di ujung jaman seperti ini versi makna dari sebuah kitab suci masih berganti ganti dan di cari cari..lalu gimana nasibnya orang orang yang blum sempat menikmati revisi makna kitab yg sudah ada sejak lama itu?apa sesungguhnya makna kehadiran sebuah kitab?apa pantas kemurnian sebuah kitab yg memuat pesan pesan tuhan di nodai oleh tangan tangan manusia,sekalipun seorang paman ,sepupu, atau handai tolannya tuhan sekalipun..3.nasionalis,humanis dan agamis..sejauh apa agama bisa diterapkan dalam sistem kebangsaan?yang ada hanya omong kosong!retorika para pemburu kekuasaan selalu fasih menjanjikan isu ga penting ini.islam tidak pernah mengenal sistem seperti ini,dan islam tidak pantas hanya menjadi bagian dari sistem..sebab islam adalah sistem itu sendiri!islam hanya mengenal kekhalifahan yang satu di muka bumi.maka ,saya pernah menanggapi radix nya aksi seorang teman di FPI dengan menertawainya..saya cuma katakan masih percuma menerapkan prinsip islam dengan tindakan represif di muka bumi nusantara ini selama kita masih rela menjadi bagian dari sempitnya nasionalisme.sungguh ini bukan usaha mematahkan semangat para aktivis aktivis islam disana.namun sudah seharusnya mereka menyadari arti kualitas ketimbang kuantitas!mulai mengarahkan jalur perjuangan kearah yang lebih berkelas.coba tanyakan pada umat,siapa yang merasa RUGI ketika Timor leste keluar dan menjadi negri katholik kedua di asia tenggara?yang pasti hanya soekarno di dalam makamnya.. kita masih mau meneruskan jiwa soekarno yang bangga dengan semboyan ”dari sabang sampai meraukenya”.ambisi pribadi yang kemudian dicekoki”penasehat-penasehat”yang telah mencegah negri ini menjadi nusantara darussalam.(buka lagi sejarah siapa yg gencar men-delete “..serta kewajiban melaksanakan syariat islam bagi pemeluknya” dalam sila pertama pancasila?betapa soekarno tak rela bangsa ini terpecah belah,tapi beliau lebih ikhlas bangsa ini kemudian berlumuran darah akibat konflik yang nyata.ya..konflik yang sangat nyata dari semua ini adalah konflik antara pro islam dan anti islam..jangan pernah percaya pada alasan lain yg menyebabkan konflik di manapun di bumi ini,karna sesungguhnya semua itu berpangkal dari masalah agama secara semu atau nyata nyata!dan memang begitu seharusnya..sebab inilah dunia..lalu apa soekarno bukan islam?ya..soekarno itu islam,kemal attaturk islam,bahkan sumanto juga islam.tapi bukan itu ciri yang di jadikan indikasi.ketiganya adalah manusia yang menempatkan agama pada level/urutan yang bukan pada puncak kehidupannya,maka agama tak pantas di jadikan kambing hitam dalam hal ini! 4.-JIL-apa ini?bisa apa mereka dalam mempengaruhi umat secara personal.isu basi!ada satu rumus pencegahan/perlawanan bagi hal hal yang bermaksud hina seperti ini.jangan biarkan terjadi kontak dalam perbandingan 1:2 atau 2:1(theory of eL kanaga) artinya.. Gus dur akan di dengar oleh kumpulan orang orang,juga sebaliknya,kumpulan gusdur akan di dengar oleh seseorang..tapi rahasia orang orang seperti gus dur dan pemanfaat figur lainnya adalah,bahwa mereka tidak dengar jika behadapan orang per orang. Gusdur..so what?bahkan anak kecil pun kelak akan mampu bilang;gw denger omongan lu bukan karna lu bapak gw,tapi karna isi omongan lu bener.. oke bos,sekian curhatnye.. Komentar oleh Menorah — June 6, 2008 @ 4:57 am memang mr. DUR harus di bunuh biar mampus Komentar oleh asap — June 6, 2008 @ 4:40 pm ha ha..ha.. banyak orang sudah gila tapi janganlah ikut-ikutan gila gusdur bisa dong bilang gitu dia kan tidak bisa melihat hanya bisa berkhayal, lha untuk memuaskan khayalanya itu maka dia ngomong sak penake…, selamat gus semoga panjang umur nikmati dulu neraka dunia sebelum kamu menikmati panasnya api neraka amin. Komentar oleh ajk — June 7, 2008 @ 1:29 pm gus dur dulu panutan skrg penghianat la wong jelass 2 ahmadiya tidak sesuai dngan ajaran islam kok gus dur masih membela.gus insaf jangan sok cari sensasi… Komentar oleh harianto — June 10, 2008 @ 11:41 am gus gus………..kamu itu udah lupa ingatan,skrg ibadah aja yang betul jangan bikin negara ini pusing gara2 omongangmu….!!!!!!!!!! Komentar oleh bobo — June 10, 2008 @ 11:59 am gus jangan sok tahu karena kita memang tdk boleh sok tahu dan hanya akan menimbulkan fitnah dan keributan ahmadiyah itu penjajah islam kok dibela gus,gus kamu ulama penghianat…!!! Komentar oleh islamin — June 10, 2008 @ 12:12 pm gusdur adalah musuh allah=musuh islam gusdur yahudi Komentar oleh benar — June 10, 2008 @ 1:59 pm Selamat! Anda sudah berhasil menebarkan fitnah bin provokasi dan kebencian diantara sesama muslim. Memang inilah sifat manusia, cenderung merasa paling benar sendiri dan tidak mau menerima masukan. Hati2 dalam menilai seseorang! Koreksi diri anda, kita semua tidak ada apa2nya dihadapan Allah. Komentar oleh fariz — June 10, 2008 @ 10:33 pm MUSUH ORANG ISLAM ITU BUKANLAH ORANG KAFIR AJA,MELAINKAN MUSUH ORANG ISLAM ITU GUSDUR.ORANG KAYAK GUSDUR ITU PANDAI TAPI KEPANDAIANNYA ITU SUDAH MEMAKAN OTAKNYA DAN MENJADIKAN DIRINYA MUSUH SEBENARNYA BAGI UMAT ISLAM.LAKNATULLOH!! Komentar oleh eno — June 11, 2008 @ 12:03 pm mungkin gusdur harus di cuci otak nya biar jernihhhhhh kali ya Komentar oleh bangsat — June 12, 2008 @ 10:38 am taii..gusdur emang dia kaya malaikat aja emang dasar tai..tu buta reot, Komentar oleh GD — June 12, 2008 @ 9:24 pm Gus Dur Kyai Sinting, yang suka ngomong dan fitnah orang seenaknya,seperti orang yg ga pernah ngerti agama..! ngomong kok seenak perutnya aja! dasar Kyai sableng!dan cuma orang yang kurang waras yang masih ngebelain Gus Dur jgn krn dia cucu pendiri NU jd ga pernah dianggap salah. Komentar oleh islam pemula — June 13, 2008 @ 7:37 pm Baca ini aja deh… http://perspektif.net/article/article.php?article_id=888 Komentar oleh sofian — June 19, 2008 @ 2:00 am gusdur jangan asal bicara..hatii2 anda seorang ulama..ingatkah anda tentang siapa orang yg pertama masuk neraka.. ulama yang salah dalam pengertiannya tentang agama..jangan bicara sembarangan ingat kita akan ditanyakan tentang pertanggungjawaban apa yang telah kita bicarakan dan kt lakukan. buat pengikut2 siapa saja ..golongan apa saja ..jangan mau ikut aja..dengarkan..telaah..jika itu baik.. ok..jika salah jgn …janganlah diikuti…jgn mau masuk lubang…seandainya ada jalan yg baik…terima kasih Komentar oleh ashadi — June 20, 2008 @ 9:56 pm Apa pantas orang seperti GD di sebuat Ulama?…Tidak sama sekali. Inilah akibatnya orang yang terlalu membanggakan logika untuk menilai segala sesuatu. GD itu menganut ajaran SPILIS. jadi kita harus hati2 dengan segala omongan nya. kita tidak bisa menganggap remeh orang ini. Semoga Allah memberi perlindungan dari orang2 yang sejenis dengan makhluk ini (GD) Komentar oleh ilham — June 23, 2008 @ 12:40 am ALLAHU AKBAR………….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! DEMI ALLAH GUS DUR WAJIB DI BUNUH & HALAL DARAHNYA…………!!!!!!!!!!!!! KYAI EDAN…………….!!!!!!!!!!!!!!! Yang Melindungi Gus Dur Semoga MASUK NERAKA JAHANAM…….!!!!!!!!!!!!!!!!!KARENA KALIAN TIDAK BEDA DARI SETAN………………….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!1 ALLAHU AKBAR……!!!!!!!! ALLAHU AKBAR……!!!!!!!! ALLAHU AKBAR……!!!!!!!! HDUP AL-HABIB RIZIEQ & FPI……!!!!!!!!!!!!!!! Komentar oleh Baz & Had — June 25, 2008 @ 3:36 pm wah wah wah semua orang mencaci dan merasa sok pinter ya? emang kalian semua sudah yakin akan masuk surga or neraka? siapa yang kafir? siapa yang pantas di bunuh? siapa yang pengkhianat? siapa yang yahudi?. sebaiknya di pikir dulu sebelim ngomong, harus ditelaah antara konteks dan teksnya. jangan hanya bilang ini salah ini benar. kalau orang merasa dirinya paling benar ya akhirnya kayak kelompok FPI itu, bisanya main hantam aja. kayak anak kecil dan hanya melihat apapun dari satu sisi saja. hanya dari kacamata islam aja, itupun islamnya juga hanya dari sisi yang sebagian aja. semoga kita bisa lebih bijak lagi…….. Komentar oleh M. Rofik — June 26, 2008 @ 1:12 am Asw. Saya seorang muslim yang minim agama.Tapi saya masih melek dan perduli dengan keIslaman saya.Saya juga bukan seorang ulama seperti kebanyakkan disini. Saya adalah seorang IT Planning atau bisa juga programmer.Saya tertarik ikut berkomentar, Just Speaking for my mind.Dan saya tidak terpengaruh oleh siapapun mengenai GD.Sebelumnya saya mohon maaf jika saya tidak mengetahui GD secara Mendalam.Dan Saya juga tidak mengtahui AA’ Gym secara mendalam. Hanya saya tahu keduanya adalah Ulama.1.Tapi yang saya ikuti selama ini, Kenapa GD yang katanya Pintar, wawasan Cerdas, Ahlinya Agama dll, malah tidak membawa kesejukkan dalam berdakwah??? Sangat berbeda dengan Ulama yg lain yg saya maksud. 2. Kenapa kok katanya yg bisa menelaah maksud gusdur, hanya orang2 pintar atau perlu pemikiran yg dalam. Bagi saya, ini TIDAK PERLU!!! karena rakyat gak perlu bertele-tele dalam hal mencernakan apa yang disampaikan. Kenapa harus beda dgn ulama lain yang begitu disampaikan langsung bisa diserap maksudnya. Terus terang saya merasa sesat dengan pernyataan gusdur. 3. Kontroversi2 lain yang membuat saya tidak simpatik dengan gusdur: Saya menyaksikan video pembaptisan dirinya digereja; Menuduh seseorang dng menyebutkan nama si anu, si poland; mengatakan partai2 selain PKB yang NU disebut Taik AyaM, Pengikut2nya yang anarkis dan gak simpatik, yang katanya dulu mau berjihad klo gusdur diturunkan dr kursi presiden (Emang Jihad boleh karena Manusia??? Bukankah Orintasi nya kepada ALLAH SWT); kemudian bersahabat dengan orang2 Yahudi dan sempat ingin membuka jalur kerjasama dngan Israel; Kemudian PKB yang selalu terpecahbelah dibawah kepemimpinannya… Masih Bnayak lagi mengenai gusdur yang saya tidak berkenan terhadap titelnya yang Kyai. Bagi saya gusdur bukanlah PANUTTAN yang PANTAS buat anak bangsa, Apalagi dijadikan IMAM.Saya saja Seorang yang bukan Ahli AGAMA, masih bisa berpikir WARAS. Dan mudah2an ALLAH tidak Menyesatkan saya dari Aqidah dan Syariat. Saya Mohon Maaf, kalau ada kesalahan kata. Khusunya bagi pendukung gusdur yang terlalu fanatik. Komentar oleh Marwan — July 5, 2008 @ 6:30 am Gusdur udah dilaknat Allah,liat tuh partainya ketahuan isinya.Udah jelas 300 juta ngobatin gusdur kok masih membantah.Sadarlah gusdur.Anda pelan2 udah dihukum Allah. Komentar oleh batak muslim — July 16, 2008 @ 2:25 pm Menemapatkan sesuatu pada tempatnya, itulah artinya adil. Segala sesuatu harus dilihat sesuai konteksnya. Turunnya ayat-ayat Al Qur-an ada asbabun nuzulnya. Munculnya sebuah hadits ada asbabul wurudnya. Karenanya, tidak adil jika sesorang menilai sesuatu di luar konteks. Buat orang-orang yang merasa tidak paham dengan sikap, pernyataan, atau pun tindakan Gus Dur, saya ingin bertanya, apakah anda sudah pernah membaca tulisan-tulisan/pikiran-pikiran Gus Dur? Kalau belum, nih saya kasih linknya: http://www.gusdur.net Coba, jadikan itu referensi sebelum anda menilai Gus Dur. Rasanya tidak fair kalau di satu sisi kita merasa tidak paham akan sesuatu namun di sisi enggan untuk berusaha memahminya. Komentar oleh Sofian — July 27, 2008 @ 9:21 am Politik Lawan Budaya dalam Islam Oleh: KH. Abdurrahman Wahid* Islam di banyak negri menampilkan wajah politik lebih banyak daripada wajah budayanya. Karena itu, penampilan Islam sebagai wadah kajian senantiasa berurusan dengan negara dan bukannya dengan bangsa. Ini adalah kenyataan sejarah yang tidak dapat dibantah oleh siapapun. Bahkan gerakan budaya (dalam hal ini pendidikan) yang bernama al-Ikhwan al-Muslimun, sebelum Perang Dunia ke-2 di Mesir yang dicetuskan oleh Hassan al-Banna (dihukum gantung karena gerakan itu) ‘dicuri’ orang dan pada ujungnya menjadi gerakan politik, adalah sebuah bukti dari kuatnya kecendrungan tersebut. Dewasa ini gerakan tersebut sudah resmi menjadi gerakan politik, seperti terjadi di Jordania dan Saudi Arabia. Gamal al-Banna, adik terkecil dari Hasan mencoba membuktikan melalui serangkaian tulisan, bahwa organisasi tersebut adalah organisasi budaya. Tetapi sejauh ini, Gamal belum dapat menghilangkan gambaran bahwa perkumpulan tersebut sebagai sesuatu yang politis. Sebenarnya, pandangan mayoritas kaum muslimin di seluruh dunia justru tidak menghendaki gagasan Islam politik. Kebanyakan mereka melihat Islam sebagai sesuatu yang bersifat budaya/kultural. Wacana ini dibuka oleh Nahdlatul Ulama (NU) yang didirikan tahun 1926. Pada tahun 1936 dalam muktamarnya di Banjarmasin (Borneo Selatan) dengan dihadiri sekitar enam ribu ulama, NU membuat dua keputusan yang sangat penting bagi masa depan Bangsa Indonesia. Para ulama NU dihadapkan pada pertanyaan: “wajibkah kaum muslimin di Hindia Belanda, mempertahankan kawasan tersebut yang dikuasai non-muslim?” Jawaban muktamar itu adalah: “kawasan itu wajib dipertahankan.” Ini diperkuat dengan refrensi dari Bughyah al-Mustarsyidin. Pertanyaan berikut adalah: “untuk melaksanakan syariat Islam, wajibkah didirikan sebuah Negara Islam?” Keputusan muktamar itu menyatakan: “tidak wajib.” Kedua pendapat di atas sangat dipengaruhi kemunculannya oleh dua orang yang masih terikat dalam hubungan persaudaraan, yaitu H.O.S Tjokroaminoto dari kota Surabaya dan KH. M. Hasyim Asy’ari. Mereka masih bersaudara, walaupun yang satu tokoh Syarikat Islam (belakangan berkembang menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia/ PSII), sedangkan yang satunya lagi adalah salah seorang pendiri NU. Bahkan ia kemudian diangkat menjadi Ra’is Akbar NU dengan temannya sesama santri KH. A. Mahfudz Dimyati dari Termas (Pacitan) dan Wakil Ra’is Akbar KH. Faqih Maskumambang dari daerah Dukun (Gresik). Kegigihan KH. M. Hasyim Asy’ari adalah membuat ‘terobosan’ dalam pemikiran kalangan tradisional di antara gerakan Islam yang berkembang di kawasan Hindia-Belanda. H.O.S. Cokroaminoto dan KH. Hasyim Asy’ari masih merupakan keluarga, karena keduanya berasal dari keluarga keturunan Ki Ageng Basariah dari Sewulan ( +10 km selatan Madiun). Di lingkungan inilah lahir beberapa orang pemimpin gerakan Islam di negeri kita, seperti KH. A. Kahar Mudzakir dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah, KH. A. Wahid Hasjim dari NU di PP Tebu Ireng Jombang, Alm. KH. A. Wahab Chasbullah dan Abdul Munir Mulkan dari kalangan Muhammadiyah dewasa ini, dan lain-lain. Pada intinya, mereka selalu menyuarakan gerakan Islam sebagai gerakan budaya/ kultural. Inilah yang membedakan mayoritas kaum muslimin di Indonesia, dari gerakan Islam di negeri-negeri lain. Tokoh-tokoh besar gerakan Islam di Indonesia masa lampau pun mengikuti pola budaya ini. Oleh sebab itu suara yang dibawakan NU lalu menjadi sesuatu yang sangat longgar penerapannya, karena selama ini banyak kalangan gerakan Islam di banyak negara seluruh dunia berwatak politis. Ditambah lagi mereka memiliki/ menguasai ‘media Islam’, dengan sendirinya pendapat mereka yang bersifat politis yang dianggap mewakili ‘pandangan Islam’ di negeri ini. Dengan demikian wacana gerakan Islam lebih banyak terlihat sebagai wacana politis. Pendapat NU lalu diperlakukan sebagai pandangan kelompok minoritas. Ini terjadi karena misspersepsi/ pandangan yang dangkal sejumlah pengamat bahwa mayoritas gerakan Islam di Indonesia bersifat politis. Penyatuan antara negara dan Islam sebagai agama justru berkembang dari luar gerakan Islam negeri kita. Karena itulah kita tidak usah heran menyaksikan ketika Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia di tahun 1945, merumuskan syariat Islam dalam kehidupan bernegara, seperti tertuang dalam Piagam Jakarta. Baru setelah seorang beragama Kristen, yaitu A.A. Maramis dari Sulawesi Utara menyuarakan keberatannya, lalu Muh. Hatta keesokan harinya memimpin sidang perwakilan berbagai gerakan Islam (Ki Bagus Hadikusuma dan KH. A. Kahar Mudzakir dari Muhammadiyah, A. Rahman Baswedan dari Partai Arab Indonesia, Abikusno Tjokrosuyoso dari PSII, Ahmad Subarjo, KH. A. Wahid Has’jim dari NU dan H. Agus Salim sebagai tokoh independen) membuang tujuh kata dalam Piagam Jakarta tersebut. Hampir seluruh dunia memandang gerakan Islam bersifat politik sebagai gerakan fundamentalis/radikal. Pandangan itu lalu menganggap pandangan budaya dari NU sebagai ‘moderat’. Penamaan serampangan seperti inilah yang lalu menciptakan kesan salah tentang gerakan Islam di seluruh dunia. Padahal kita juga melihat berbagai gerakan Islam seperti al-Qaidah yang dipimpin oleh Osama Bin Laden dari Afghanistan (bukankah lebih tepat Saudi Arabia?) dengan rasa was-was karena militasinya yang sangat tinggi. Juga lahirnya pendapat berbagai gerakan Islam, seperti Hizbut Tahrir di negeri kita, akan perlunya sistem pemerintahan berupa kekhalifahan, yang jelas-jelas merupakan pandangan politik yang bertentangan dengan UUD kita. Sulit rasanya untuk membenarkan gerakan-gerakan tersebut. Tetapi misteri seperti inilah yang membuat buku yang ada di tangan pembaca ini, menjadi sesuatu yang menarik dan perlu ada. Jika beberapa waktu yang lalu Majalah Tempo bermotto “enak dibaca dan perlu”, bukankah pembahasan tentang perlunya Islam budaya dan Islam politik kita lakukan, juga demikian? Jakarta, 1 Oktober 2007 Komentar oleh Sofian — July 27, 2008 @ 9:32 am Lucu juga ya……..masa gusdur dibelain mati-matian…..kalo islam itu sendiri dilecehkan qo malah pada diem….capeee dwehhh… Komentar oleh AMIR ELFADANY — July 27, 2008 @ 12:35 pm @Sofyan, anda terlalu bertele-tele.Saya pun sudah melihat website gusdur.net Itu merupakan propaganda untuk citra baik gusdur.Okelah saya setuju dengan pemikiran, wawasan, dan tulisannya memang begitu baik dan terkesan pintar. Tapi saya sebagai seorang pekerja keras, sesekali butuh pencerahan ROHANI. Kemudian klo Gusdur dikonteks kan sebagai Ulama, adakah dia membawa kesejukkan dalam berdakwah-bagi saya TAK ADA dakwah darinya yg dapat meningkatkan ketebalan IMAN. Justeru sebaliknya ketika gusdur berdakwah, saya merasa EMOSI karena pembelaa dia thdp non ISLAM sekaligus melecehkan ISLAM. Dulu sebelum GD jadi Preseiden saya sempat simpatik dgn GD.Namun beberapa bulan kepemimpinannya-BEGITU BANYAK KEBODOHAN YANG DILAKUKANNYA. Tentu saja, RAKYAT MERASA KECEWA.Seharusnya Pendukungnya MIKIR, kenapa Gusdur, diturun PAKSA dr RI1???Lagipun rakyatnya gusdur itu sapa??? Paling juga umat NU, itupun sebagian.GUSDUR itu BUTA, seharusnya anda sadar. Dia itu berbicara atas dorongan orang2 disekitarnya dan menjadikan GD sebagai tunggangan mereka.KALAU pun ada yang membela mati2an GUSDUR, saya cuma bisa mengatakan: “MEREKA LEBIH BUTA” Kalo anda Mengidolakan RASULULLAH SAW,adakah Gusdur BERUSAHA bersikap seperti MUHAMMAD SAW. Lebih baik konteks GUSDUR sebagai Ulama dicopot.Dan diberi Gelar Sebagai “TROUBLE MAKER”. Maaf klo dalam tulisan ini saya begitu lantang,Karena Kekecewaan yang semakin bertambah thdp GD. Komentar oleh Marwan — July 29, 2008 @ 6:14 pm GD cangkamu doang Komentar oleh ale — August 4, 2008 @ 9:09 pm Melecehkan? Lha bukannya payudara, nipple, susu itu masuk kategori pornografi? Lha gak salah dong katanya Gus Dur? Hihihihihi. Adalagi yang bilang pelecehan. Bukannya make bandwidth kantor buat nulis komen seperti saya ini adalah tindak korupsi yang lebih mencoreng lagi citra islam? Atau waktu kita ngelanggar lampu merah dijalan. Bukankah itu lebih mencoreng lagi agama islam yang katanya sangat ketat kedisiplinannya? wekekekekekekekekekekek!!! Silahkan saling menghujat dan menyumpahi. Saya nonton aja darisini sambil ngakak. Mungkin Gus Dur juga gitu kali ya? Hehehehe Komentar oleh krebo — August 25, 2008 @ 5:05 pm Seru banget diskusinya, kurang lebih dua tahun mengalir terus! Jadi ingat masa kecil, setiap habis nagji quran, selalu diberi bonus cerita atau kisah-kisah dari pak ustadz kampung yang sederhana, kisahnya paling seru tentang Abu Nawas! Ada yang mirip dengan yang didiskusikan di atas! Komentar oleh jun_pencangkul — August 28, 2008 @ 11:01 am GUS DUR ORANG KEBLINGER DDENGERIN … EMANG SAPE SEH GUS DUR ?.. YAHUDI BERKEDOK ISLAM KAH ? emang tanda2 akhir zaman … ya rasulullah .. kau sebaik baiknya mahluk ciptaan ALLAH, kekasih drpd kekasih … ya rosul . aku mendambakan syafa’aat dr mu ya rosul … Komentar oleh madotz — August 31, 2008 @ 11:47 pm Biarkan GUK DUR (Anjing Dur) Menggonggong… Kita Tunggu Rahasia Illahi.. Apakah Matanya dirubung BElatung ?? atau apa??? Komentar oleh Guk Dur (Anjing Dur) — September 6, 2008 @ 2:46 pm GUSDUR BEBEL GUSDUR BEBEL GUSDUR BEBEL GUSDUR BEBEL GUSDUR BEBEL Komentar oleh ARUL — September 9, 2008 @ 6:07 am Kebaikan dan kejahatan yang bercampur memang harus dipisahkan,ini perpecahan yang seharusnya.Tapi kalau kesatuan yang baik dipecahkan ini perpecahan yang pelakunya adalah biang kerok yang harus dipecahin kepalanya.Pokoknya yang bikin nista agama Islam akhir hidupnya hina. Dihinakan langsung oleh Allah atau melalu tentara-tentaraNya dari kalangan Manusia, Jin, Belatung, bakteri, virus mencret, kolesterol pembangkit stroke atau sel-sel pencernaan yang tidak mau kompromi seperti Ahmad Qodian yang berak mencret kencing di atas kasur sampai mati. Tunggu saja Komentar oleh asyik juga — September 9, 2008 @ 6:51 am Saya pernah mimpi ketemu GD ga pake baju, saya usap perutnya tiba-tiba jadi dajjal. Kurang lebih setahun yang lalu. Ada yang tahu ta’wilnya Komentar oleh ibnu sirin — September 9, 2008 @ 7:00 am Mas Ibnu sirin, Imam ibnu Sirin yang justru ahli ta’bir mimpi. Kalau baca di Tafsirul Ahlam Imam Ibnu sirin, orang yang telanjang (ga pake baju)artinya orang yang konsisten penuh dengan bidangnya, dan kalau kita mimpi memegang perut seseorang artinya kita dapat manfaat dari keberadaan orang tersebut. Kalau Dajjal, Naudzubillah. Sedikit kutipannya silahkan buka langsung di Tafsir mimpi Imam Ibnu sirin sudah diterjemahkan ada di Toko buku Si Buyung Senen. Bahwa ada seseorang yang datang ke Imam Ibnu sirin dan menanyakan ta’wil mimpinya, dalam mimpinya Ia melihat seorang yang bertelanjang di masjid memegang pedang dan kitab suci. Imam Ibnu sirin berkata pada pemimpi, “Orang yang kau lihat dalam mimpi pasti Imam Hasan AL-Basri” orang itu menjawab, “benar!” kata Ibnu Sirin, “benar seperti dugaan saya Imam Hasan alBasri adalah ulama yang konsisten menegakkan alQuran dan meluruskannya.” KAlau jadi Dajjal??Wallahu ,alam bissawab. Komentar oleh asyik juga — September 9, 2008 @ 7:16 am Komentar oleh mahdar hidayatullah — September 12, 2008 @ 9:06 pm Maaf, Saudara Mahdar.. Setahu saya Kitab suci kl yg dimaksud Kitabullah ada 4 (Taurat, Zabur, Injil, Alquran), cuma yg dijamin keasliannya s/d kiamat hanya Alquran. Mohon koreksi kl sy salah. tks Komentar oleh angger — September 17, 2008 @ 11:33 am assalamualaikum saya rasa blog ini (yang katanya menyuruh Gusdur istighfar) tidak punya niat murni untuk mengingatkan Gusdur, justru cendrung untuk mengumbar kesalahan orang lain (dalam hal ini Gusdur). Kalau anda bener pengen mengingatkan Gusdur . . . ya langsung aja tulis surat ke Gusdur atau dengan cara lain yang sekiranya pesan anda akan sampai ke gusdur. Tidak perlu anda gembar-gembor di blog (kecuali anda ingin cari sensasi) Komentar oleh didi — September 21, 2008 @ 7:19 pm MENCACI MAKI AGAMA DALAM KONDISI EMOSI Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Pertanyaan: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum syari’at menurut pandangan anda terhadap orang yang mencaci-maki agama dalam kondisi emosi, apakah dia wajib membayar kafarat? Apa syarat bertaubat dari perbuatan ini? Mengingat saya pernah mendengar dari para ulama yang mengatakan kepada saya, bahwa berdasarkan ucapanmu tersebut, sesungguhnya kamu telah keluar dari Islam. Demikian juga mereka mengatakan bahwa isterimu itu telah menjadi haram bagimu? Jawaban. Vonis hukum terhadap orang yang mencaci-maki agama Islam adalah bahwa dia telah melakukan kekufuran sebab mencaci-maki agama dan memperolok-oloknya merupakan tindakan murtad dari Islam dan kekufuran terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dien-Nya. Dalam hal ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengisahkan perihal suatu kaum yang memperolok-olok dien Al-Islam, bahwa mereka itu pernah mengatakan, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.” Lalu Allah menjelaskan bahwa senda gurau dan bermain-main seperti ini merupakan bentuk olok-olok terhadap Allah, ayat-ayat dan RasulNya dan bahwa mereka telah menjadi kafir karena itu. Allah berfirman. “Artinya : Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja’. Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?.’ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman..”. [At-Taubah : 65-66] Jadi, memperolok-olok Dienullah, mencaci-makinya, mencaci-maki Allah dan RasulNya atau memperolok keduanya merupakan kekufuran yang mengeluarkan seseorang dari dien ini. Sekalipun demikian, di sana masih ada peluang untuk bertaubat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Artinya : Katakanlah, ‘Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” [Az-Zumar:53] Bila seseorang bertaubat dari apapun bentuk riddah (keluar dari Islam) yang dilakukannya dan taubatnya itu adalah Taubat Nashuh (taubat yang sebenar-benarnya) serta telah memenuhi lima persyaratan, maka Allah akan menerima taubatNya. Lima syarat yang dimaksud adalah: Pertama. Taubatnya tersebut dilakukannya dengan ikhlas semata karena Allah. Jadi, faktor yang mendorongnya untuk bertaubat, bukanlah karena riya’, nama baik (prestise), takut kepada makhluk ataupun mengharap suatu urusan duniawi yang ingin diraihnya. Bila dia telah berbuat ikhlas dalam taubatnya kepada Allah dan faktor yang mendorongnya adalah ketaqwaan kepada-Nya, takut akan siksaanNya serta mengharap pahalaNya, maka berarti dia telah berbuat ikhlas dalam hal tersebut. Kedua. Menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan. Yakni, seseorang mendapati dirinya sangat menyesal dan bersedih atas perbuatan yang telah lalu tersebut serta memandangnya sebagai perkara besar yang wajib baginya untuk melepaskan diri darinya. Ketiga. Berhenti total dari dosa tersebut dan keinginan untuk terus melakukannya. Bila dosanya tersebut berupa tindakannya meninggalkan hal yang wajib, maka setelah taubat dia harus melakukannya dan berusaha semaksimal mungkin untuk membayarnya. Dan jika dosanya tersebut berupa tindakannya melakukan sesuatu yang diharamkan, maka dia harus cepat berhenti total dan menjauhinya. Termasuk juga, bila dosa yang dilakukan terkait dengan makhluk, maka dia harus memberikan hak-hak mereka tersebut atau meminta dihalalkan darinya. Keempat. Bertekad untuk tidak lagi mengulanginya di masa yang akan datang. Yakni, di dalam hatinya harus tertanam tekad yang bulat untuk tidak lagi mengulangi perbuatan maksiat yang dia telah bertaubat darinya. Kelima. Taubat tersebut hendaklah terjadi pada waktu yang diperkenankan. Jika terjadi setelah lewat waktu yang diperkenankan tersebut, maka ia tidak diterima. Lewatnya waktu yang diperkenankan tersebut dapat bersifat umum dan dapat pula bersifat khusus. Waktu yang bersifat umum adalah saat matahari terbit dari arah terbenamnya. Maka, bertaubat setelah matahari terbit dari arah terbenamnya tidak dapat diterima. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Artinya : (Atau) kedatangan sebagian tanda-tanda Rabbmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. ” [Al-An’am:158] Sedangkan waktu yang bersifat khusus adalah saat ajal menjelang. Maka, bila ajal telah menjelang, maka tidak ada gunanya lagi bertaubat. Hal ini berdasarkan firman Allah. “Artinya : Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang’, Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. “[An-Nisa’:18] Saya tegaskan kembali, sesungguhnya bila seseorang bertaubat dari dosa apa saja sekalipun berupa caci-maki terhadap agama, maka taubatnya diterima bilamana memenuhi persyaratan yang telah kami singgung tadi. Akan tetapi perlu dia ketahui bahwa suatu ucapan bisa jadi dinilai sebagai kekufuran dan riddah, akan tetapi orang yang mengucapkannya bisa jadi tidak divonis kafir karenanya dengan adanya salah satu penghalang yang menghalangi dari memberikan vonis kafir tersebut terhadapnya. Dan terhadap orang yang menyebutkan bahwa dirinya telah mencaci-maki agamanya tersebut dalam kondisi emosi, kami katakan, “Jika emosi anda demikian meledak sehingga anda tidak sadar lagi apa yang telah diucapkan, anda tidak sadar lagi di mana diri anda saat itu; di langit atau masih di bumi dan anda telah mengucapkan suatu ucapan yang tidak anda ingat dan tidak anda ketahui, maka ucapan seperti ini tidak dapat dijatuhkan hukum atasnya. Dengan begitu, tidak dapat dijatuhkan vonis riddah terhadap diri anda karena apa yang anda ucapkan adalah ucapan yang terjadi di bawah sadar (tidak diinginkan dan dimaksudkan demikian). Dan, setiap ucapan yang terjadi di bawah sadar seperti itu, maka Allah tidak akan menghukum anda atasnya. Dalam hal ini, Dia berfirman mengenai sumpah-sumpah tersebut. “Artinya : Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang disengaja. ” [al-Ma’idah:89] Bila orang yang mengucapkan ucapan kekufuran ini dalam kondisi emosionil yang teramat sangat (meledak-ledak) sehingga dia tidak sadar apa yang diucapkan dan tidak tahu apa yang telah keluar dari mulutnya, maka tidak dapat dijatuhkan hukum atas ucapannya tersebut. Dengan begitu, dia juga tidak dapat dijatuhi vonis riddah. Manakala tidak dapat dijatuhkan vonis riddah terhadapnya, maka pernikahannya dengan isterinya tidak (secara otomatis) menjadi batal (fasakh). Artinya, dia tetap menjadi isterinya yang sah akan tetapi semestinya bila seseorang merasakan dirinya tersulut emosi, maka cepat-cepatlah memadamkan emosinya ini. Yaitu dengan cara yang telah diwasiatkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ada seorang laki-laki bertanya kepadanya sembari berkata, “Wahai Rasulullah, berilah wasiat (nasehat) kepadaku!.” Lalu beliau menjawab, “Janganlah kamu marah. ” Lantas orang itu berkali-kali mengulangi lagi pertanyaan itu dan beliaupun tetap menjawab, ‘’Janganlah kamu emosi. ” Hendaknya dia dapat menstabilkan kondisi dirinya dan meminta perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Bila dia ketika itu sedang berdiri, maka hendaklah duduk; bila dia sedang duduk, maka hendaklah berbaring; dan bila emosinya benar-benar meledak, maka hendaklah dia berwudhu. Melakukan hal-hal seperti ini dapat menghilangkan emosi dari dirinya. Alangkah banyak orang yang menyesal dengan suatu penyesalan yang besar karena telah melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang ada di dalam emosinya tersebut akan tetapi (sangat disayangkan) hal itu setelah waktunya sudah terlewati (alias nasi telah menjadi bubur). [Nur ‘Ala ad-Darb, dari fatwa Ibn Utsaimin] [Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Muthofa Aini dkk, Penerbit Darul Haq] Komentar oleh taufik — September 23, 2008 @ 12:52 pm umm jujur saya cape bacanya ga abis2 seru dan cukup menyebealkan bikin mood turun naik, lama2 eneq n pengen komen. gmana semua saudaraku berpuasakah insyaAllah yah. wah klo menurut aku. Bismilahirahmanirrohim. hanya dengan kembali kepadaNya kita akan berpikir lebih jernih. jalani rutinitas dan tetap berusaha sebagai manusia untuk Allah, keluarga dan agama serta negara. so. im not a perfect one. but for sure, ketika orang sudah berada diatas dan dia bisa nomong apa sesuka dia maka semua pengikutnya akan mengikutinya. mo pemikiran dia bagus mo ini itunya bagus. terserahlah.. tapi inget kita harus tetap beware akan semua keburukan dari omongan itu. mulut itu tajam seperti halnya saya jika menjelekan GD akan membuat pengikutnya kesal padahal saya sendiri berkomentar menurut nalar dan pengetahuan saya. mungkin pengetahuan saya masi sedikit. dan anda lebih banyak. but kalo emang ada lontaran kalimat kata atau statemen yg memicu emosional orang lain mohon lebih di jelaskan. dan segera menyadari semua kesalahan karena kembali ke pengetahuan karena setiap manusia itu memiliki pengetahuan yg berbeda. perlu suatu medium agar pendapat seorang pemimpin dapat di garis ke maksut yg sesuai. :) insyaAllah semua akan baik2 saja. Komentar oleh abdul muis — September 25, 2008 @ 4:04 pm Yang penting bagi kita ummat muslim sedunia, jangan dengarkan ocehan-ocehan yang tidak berdasar, anggap saja itu seorang imam yang kentut tak shalat berjamaah, jadi tidak perlu diikuti lagi. Sekali lagi jangan dengarkan! Memang musuh yang paling berat dan paling susah untuk diperangi adalah musuh dalam selimut. (Munafikin) Komentar oleh Yasup — September 26, 2008 @ 10:14 am sibuta dari goa haNtU kayaknya dilaknat sampe kaga bisa liat,pernah selingkuh , kawan akrabnya s.peres (yahudi)and pake celana pendek (ngeliatin aurat/paha), demen pelesiran pake uang rakyat saat jadi presenter eeh presiden. Komentar oleh edi — October 5, 2008 @ 1:50 am Saya baru liat-liat saja di media masa belum denger si bos teler ngucap yang engak-engak tapi dari nngebaca saja udah enek apalagi kalo ngedenger langsung Hallo GD (gus dur, gede dubur, ambien kaliee)kalo si buta tersebut banyak yang ngedukung (antek-anteknya) berarti mereka lebih buta daripada yang buta yach. tul gak??? jawab dooong Guss Komentar oleh maheer — October 6, 2008 @ 1:24 pm Di zaman GD jadi presiden ada orang yahudi yang dijadikan penasehat ekonomi indonesia, (george soroz) aku bingung nich apa GD nggak lihat ayat yang bunyinya “janganlah orang – orang kafir engkau jadikan pemimpin-pemimpinmu” gimana nich???……. Komentar oleh ABU ALGHIFARI — October 20, 2008 @ 9:29 am sebenarnya kasihan juga tuh si GD, dimanfaatkan orang lain kok mau-mau aja. katanye sih sakti, jin-nya ratusan ribu yang ngawal, tetapi giliran di-lengserkan dari keraton kok kagak ade yang mbantuin ya…hehehe semoga aje lah kembali ke jalan yang benar. ingat usia Dur. katenya sih mbahe’nya GD sudah mem-puasai keturunananya selama 1 thn, jadi semuannya akan jadi ‘orang’. wong yang bapaknya nabi aja belum tentu anaknya nabi, malah kafir, ingat ceritanya Nabi Nuh ‘kan? dan sebalinya yang anaknya nabi belum tentunya orang tuanya masuk surga. moga aja sadar deh. Komentar oleh pecinta Indonesia — October 27, 2008 @ 1:31 pm gus dur kamu cpt mati kafir Komentar oleh rudi — November 6, 2008 @ 8:51 pm assalamu’alaikum. kalo emang kalian orang islam seharusnya bisa berpikir panjang,apa itu arti porno dalam Al Qur’an.kalo pingin tau isi Al Qur’an telaah lebih dalam lagi agar tidak tersesat.jangan menjastifikasikan seseorang dengan enak.bercerminlah, apa kita sudah mengerti semua kandungan Al Qur’an?wassalam. Komentar oleh maman — November 19, 2008 @ 5:38 am Eiit tunggu dulu jangan beratem, siapa bilang Al Qur’an kitab suci paling ” Porno ” ? coba simak dan barangkali Gus Dur perlu dialog dengan ahli Pornografi / Porno aksi atau Mesumgrafi ? lihat kitab lain yang di Injil Yehezkiel 23 : 20-22 mengatakan : ” Maka asyiklah ia terlebih daripada segala gundik mereka itu, yang dagingnya seperti daging keledai dan cemarnya seperti cemar kuda. Demikianlah dilakukannya semula segala perbuatan keji yang telah dibuatnya pada masa mudanya, tatkala orang Mesir itu menjamah mata susunya pada masa mudanya “. Cuman yang saya heran Gus Dur itu kan muslim kenapa begitu ? Komentar oleh masnunk — December 13, 2008 @ 9:23 am ealah… ternyata di sini forum rasan-rasan ta? wah asyik banget tuh… sebab hobi yang paling gratis tuh ya ngrasani, ga peduli pa kita dah lebih baik dari mereka pa justru makin bobrok, yang penting “NGRASANI TERUSSSSS” sampek mati! Hidup GHIBAH! Komentar oleh solkan — December 17, 2008 @ 9:29 am Sing Edan ya bener2 edan, jangan diikuti atau malah dikultuskan, sing waras ya mawas diri jangan sampe ikut kejeblos penyakit hati. yang dimaksud gus dur itu qurane gus dur..bukan qur’an punya orang Islam. Komentar oleh dolim — December 23, 2008 @ 4:29 pm wah… wah… ternyata setelah baca blog ini saya baru yakin bahwa di dunia ini masih banyak orang yang bodoh..(ya… kan gus)semakin tiggi ilmu seseorang maka akan ditinggikanlah derjatnya oleh Allah…kenyatannya derajat gusdur semakin tinggi tuh… Komentar oleh zain — December 25, 2008 @ 1:00 pm WOOOOOOOOOOOIIIIIIIIIIIIIIIIIII….PEACE…..PEACE……..ANDA ANDA SEMUA NYADAR GA SEH, MASA’ DARI APRIL 2006 SD DESEMBER 2008 (2 TAON) BISANYA CUMAN NGOMONGIN GUS DUR MULU ??? INI DAH 2009. DEMI MEMBESARKAN ISLAM SAYA HARAP PEMILIK BLOG INI MENUTUP SAJA ACCOUNT NYA. NGA MALU NEH SAMA SLANKER’S. KAMI MEMANG HIDUP SLENGEAN TAPI TOH TETAP BISA SALING MENGHARGAI…..OM, TANTE….MALU NGA SEH??? PLEASE DECH….PEACE ! Komentar oleh SLANKER’S — January 6, 2009 @ 3:31 am Ada orang yang benar-benar tau dengan segudang ilmunya trus ngomong ini-itu, ada juga orang yang gak tau dan gak punya ilmu tapi karna sok tau makanya ngomong ini dan itu biar dianggap tahu.Kalo orang mau nyalahin orang lain, mau mencela orang lain, menghujat orang lain tanpa melihat alasannya kenapa itu sih semua orang jg bisa.Kalau mau mengoreksi kesalahan orang mbok ya dengan bahasa yang santun, dengan dasar ilmu yang lebih memadai bahkan seharusnya lbh tinggi daripada yang dikoreksi. Lha wong anak baru kemaren, baru belajar alguran baru satu ayat aja udah koar-koar, ngomong sana ngomong sini. itupun belajarnya “AYAT BOLA” alias cuma tau luarnya aja tapi isinya kosong. dan biasanya yang sok ngritik gusdur itu ya orang-orang yang gak suka dgn beliau. kalau omongan Gusdur yang menurut saya udah tinggi ilmunya dan paham lebih memahami Alquran, apalagi orang-orang yg komentar negatif ttg gusdur, yang saya yakin benar hanya belum ada apa-apanya. orng yg lbh bnyk belajar agama dengan buku dari pada dengan guru. saya punya analogi gini, jika ada orang memakai baju tapi auratnya ada yang terbuka sedikit, terus dia berkata “wah saya porno nih karena aurat saya terbuka” atau ngomong gini “wah saya paling porno nich”. terus saat orang itu ngomong gitu ada orang lain yang nyata-nyata membuka memamerkan auratnya lebih banyak terus mendengar kata-kata itu. ada dua kemungkinan orang lain itu merasa cuek jika dia gak sadar diri, tapi akan merasa malu jika dia sadar. alasanya jika orang yang auratnya kebuka sedikit aja bs bilang dirinya porno sekali, berarti dia yang memarkan auratnya lebih banayak harus ngomong apa dan disebut apa?? menurut saya omongan Gusdur itu lebih saya nilai sebagai omomgna pemuka agama yang memahami agamanya, yang bersikap rendah diri dengan agamanya. selain itu mendidik umat islam, jika dalam Alquran yang hanya terdapat kata “menyusui” saja udah dianggap sebagai hal paling porno, apalagi kelakuan kita yang kadang ngomongnya gak karu-karyan, cara penampilan/pakaian kita yang kadang gak senonoh. terus mau dibilang apa diri kita yang kelakuan pornonya udah segudang?? Lagian apa yang berkomentar2 miring disini bener-bener tahu/nonton diaolog Gusdur saat itu secarta langsung?? atao hanya dari tulisan2 yang dengan segala gaya bahsanya bisa sekenarionya kadang bisa diedit, kalimat2 omongna orang bisa dipenggal-penggal??? Peace………. Ada “ilmu muda” yang baru boleh dipelajari oleh kita yang masih muda dan ada “ilmu tua” yang mungkin blm blh kita pelajari sebagai anak muda. karena “ilmu tua” harus dipelajari dengan kearifan dan kebijaksanaan yang lebih besar dimana anak muda yang blm cukup arif dan bijak. sehingga ketika kita mempelajari ilmu itu justru membawa perbedaan pendapat.jika ilmu kita “ilmu muda” maka kalau ada niat mengajarkannya maka ajarkanlah pada yang “ilmunya lebih muda” lagi. Komentar oleh masmus — January 9, 2009 @ 8:19 am terserah gusdur mau bilang apa toh dia gak bisa melihat cuma bisa bicara doang hanya allah yang tahu dia benar atau salah dia hanya bisa mendengar tapi tidak bisa melihat apa yang ada di dunia ini Komentar oleh hamba allah — January 10, 2009 @ 6:21 pm lagi2 gusdur pertanyaan: pernyataan mana yang benar dan anda bela : ALLOH swt Raja Manusia dan Raja semesta alam berfirman dalam Al-Baqarah ayat 26 “Sesungguhnya Alloh tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah daripada itu. Adapun orang-orang yang beriman ,maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka , tetapi mereka yang kafir mengatakan “Apakah maksud Alloh menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Alloh dan dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang di beri-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Alloh melainkan orang-orang fasik” Gus Dur yang kata tetangga saya dia wali : Loh, jelas kelihatan sekali. Di Alqur’an itu ada ayat tentang menyusui anak dua tahun berturut-turut. Cari dalam Injil kalau ada ayat seperti itu. Namanya menyusui, ya mengeluarkan tetek kan?! Cabul dong ini. Banyaklah contoh lain, ha-ha-ha… Komentar oleh erick — January 10, 2009 @ 10:19 pm Komentar oleh bobon — January 13, 2009 @ 3:32 am buat ummat islam, hati-hati,stlah saya check dari link-link komentator yang apposite trhdap Romo, mayoritas dari non-islam..Hati-hati dan waspada,sudah banyak referensi masuk, jika misioneris lebih tau islam drpda ummat islam ‘awwam. mari kita budayakan ber-etika dan berhusnuddhon. Komentar oleh bobon — January 13, 2009 @ 3:40 am Menanggapi banyaknya nada-nada sumbang tentang keberadaan Everest Media. Ada pengalaman yang justru tidak masuk akal. Saya Ruli, tinggal di Serpong (BSD), 38 tahun. Karyawan salah satu Bank Swasta di Jakarta Barat. MOHON MAAF kalau tulisan ini bukan bermaksud membuat banyak pihak kecewa. Tepatnya di awal Februari 2008 lalu saya pernah menemukan masalah. Sore hari, laptop Toshiba saya tiba-tiba hang. Seperti biasanya saya segera matikan listriknya, lantas saya restart ulang. Biasanya mau lagi berjalan normal. Tetapi sekarang ini sepertinya lain, hanya tampilan ‘blue screen’ dengan tulisan bahasa aneh, agak sedikit bunyi aneh klak-kletek, dan saya pun tidak tahu artinya. Lantas saya copot hardisknya untuk di-copy ke PC, dengan memakai external case SATA ternyata sama saja & ada bunyi kletak-kletek. Akhirnya saya membawa ke beberapa tempat recovery data di Harco Elektronik dan Mangga 2 Mall. Seperti biasa, saya menunggu beberapa hari. Tetapi saya tidak menegerti, ternyata mereka gagal menyelamatkan data saya dengan alasan bahwa kerusakannya adalah pada piringan/disk hardisk saya sudah parah (tergores). Saya pun mengambil harddisk SATA Seagate Momentus saya, dan mencoba merecover lagi ke beberapa tempat lain. Ternyata sama. Mereka gagal. Sama saja, terakhir saya coba ke Mall Ambasador, Sudirman Setiabudi, daerah Jakarta Barat juga, dan banyak tempat lain. Ternyata hasilnya sama saja. Padahal mereka juga mengaku-ngaku adalah master, ahlinya atau yang terbaik. Entahlah saya hampir putus asa. Saya sudah bingung harus kemana lagi saya antar harddisk saya agar dapat diselamatkan data – data penting di dalamnya. Saya juga hampir putus asa. Akhirnya saya coba terus mencari di Internet, di salah satu situs iklan gratis tampa daftar, saya menemukan Everesta Media, situsnya http://www.everezta.com. Awalnya saya sempat ragu – ragu dengan sosok Everesta Media. Karena sebelumnya, saya sempat membaca beberapa tulisan-tulisan bernada sumbang tentang Everesta di situs http://www.mediakomsumen.com, dan juga di situs Logic hardware yang bernada amat sinis terhadap Everesta Media. Tetapi, saya tidak mudah percaya langsung dengan tulisan mereka. Karena belum ada buktinya bagi saya! Ya. Coba-coba dululah siapa tahu lain apa yang banyak pihak propagandakan. Mungkin juga, sosok Everesta tidaklah seperti tulisan yang pernah saya baca. Awalnya. Saya coba -coba menelpon mereka.Ternyata mereka meminta saya mengantar harddisk saya ke tempat mereka di daerah Lenteng Agung arah Depok. Akan tetapi kalau diambil oleh mereka , akan dikenakan biaya, yaitu untuk biaya pengecekan dan transportasi, yaitu sebesar tujuh puluh lima ribu rupiah. Dari pada repot – repot pikir saya, karena juga saya juga agak sibuk waktu itu. Saya meminta mereka segera datang mengambil harddisk tersebut untuk direcover ke kantor saya. Saya pun harus bersabar lagi menunggu jawaban dari pihak mereka. Keesokan harinya saya ditelpon pihak mereka / Everesta Media, walau sempat tidak percaya. Mereka memngabarkan kepada saya, bahwa harddisk SATA saya dapat diselamatkan mereka, karena belum sempat dibongkar dalamnya. Katanya keberhasilan recovery data minimal 80% bukan 100%, juga waktunya agak lama minimal satu minggu, alasannya bahwa kerusakan harddisk saya tergolong sangat parah secara fisik (katanya ada sudah bunyi, head bacanya rusak, tidak terdetek BIOS lagi dan sudah banyak “bad sector area”). Mereka mengajukan biaya recovery data sebesar 5 juta rupiah. Jumlah yang sangat mengejutkan saya. Alangkah kagetnya saya! mahal sekali! Mahal sekali mas!!!! Padahal tidak seperti di tempat – tempat lain yang pernah saya tanya, jauh lebih murah! Karena mahalnya saya bingung sekali, sempat saya akan membatalkan saja. Saya curiga juga takut ditipu oleh mereka. Apalagi saya ingat artikel yang seperti yang pernah saya baca di http://www.mediakonsumen.com dan punya bung Logic hardware ini.karena terus penasaran, saya coba lagi tawar harganya agar dapat lebih murah. “Jangan mahal-mahal bah…..!” Entahlah, mereka tetap keras kepala… Tetap saja, mereka (pihak Everesta Media (http://www.everezta.com) tidak mau agar biayanya lebih murah. Karena terpaksa juga pasrah, mau tidak maulah! harus kemana lagi saya coba merecover data saya dengan harga jauh lebih murah, Sementara mereka belum tentu menjamin sanggup! Sebagaian besar mereka telah menyerah tak sanggup/ gagal. Akhirnya dengan terpaksa, saya menyetujui juga dengan biaya 5 juta rupiah secara tunai. Asalkan data-data saya benar – benar telah berhasil diselamatkan! Itu janji saya pada pihak Everesta Media. Bingung dan mencurigakan juga cara kerja Everesta Media seperti apa. Terpaksa harus menunggu lebih seminggu, akhirnya setelah 8 hari, mereka (pihak Everesta Media) tiba-tiba menelpon lagi kepada saya, memberitahukan bahwa sudah selesai semua data saya diselamatkan, diminta saya segera membuka e-mail saya, karena laporan datanya sudah dikirim. Segera saya cek e-mail saya, ternyata benar data saya sudah ada semua. Kesesokan harinya, mereka akan antar data-datanya ke kantor saya siang hari. Diminta juga, saya segera menyiapkan pembayarannya secara tunai 5 juta rupiah. Saya tidak mau rugi dong, saya harus cek lagi lebih detail apakah benar – benar data saya sudah ada. Saya mencoba mengingat satu – persatu data – data penting saya, yang sebagian besar saya sudah tak ingat lagi satu persatu. Ternyata benar! Aneh sangat tidak dapat dipercaya! mereka telah berhasil menyelamatkan data-data saya! Percaya tidak percaya! walaupun banyak nada sumbang tentang Everesta ! Tak terkecuali photo-photo anak saya waktu lahir dulu. Hebat juga Everesta Media, walaupun biaya recovery datanya cukup mahal, tidak percaya dan tak mungkin! tidak seperti di tempat-tempat lain yang pernah saya tanya. Walaupun, saya agak curiga takut ditipu. Sebenarnya jujur dalam hati kecil saya, sudah cukup puas dengan harga 5 juta rupiah. Bagi saya saat ini. Sangat tidak penting seperti apa tempat Everesta Media, siapa – siapa saja yang anggotanya, bagaimana cara kerja mereka, dan berapakah personil dari Everesta Media itu?! Justru yang terpenting bagi saya Everesta Media adalah lebih dan memiliki nilai tambah dari dari yang lain! Karena terbukti telah berhasil menyelamatkan data-data penting saya, bahkan yang sudah lama dihapus sekalipun. Sementara di tempat lain sudah gagal / menyerah. Ruli, Serpong (8-1). Percaya atau tidak semuanya! terserah anda! saya hanya menuliskan saja. Semoga berguna.Wassalam. Komentar oleh ruli — January 15, 2009 @ 11:30 am Menanggapi banyaknya nada-nada sumbang tentang keberadaan Everesta Media dengan harga recovery data yang agak mahal yaitu 5 juta. Ada pengalaman yang justru tidak masuk akal. Saya Ruli, tinggal di Serpong (BSD), 38 tahun. Karyawan salah satu Bank Swasta di Jakarta Barat. MOHON MAAF kalau tulisan ini bukan bermaksud menjelek-jelekan orang atau organisasi tertentu. Tapi untuk penyeimbang berita saja. Ada suatu cerita. Boleh percaya boleh tidak. Tepatnya di awal Februari 2008 lalu, saya pernah menemukan masalah. Sore hari, laptop Toshiba saya tiba-tiba hang. Seperti biasanya saya segera matikan listriknya, lantas saya restart ulang. Biasanya mau lagi berjalan normal. Tetapi sekarang ini sepertinya lain, hanya tampilan ‘blue screen’ dengan tulisan bahasa aneh, agak sedikit bunyi aneh klak-kletek, dan saya pun tidak tahu artinya. Lantas saya copot hardisknya untuk di-copy ke PC, dengan memakai external case SATA ternyata sama saja & ada bunyi kletak-kletek. Akhirnya, saya membawa ke beberapa tempat recovery data di daerah Harco Elektronik dan Mangga 2 Mall. Seperti biasa, saya menunggu beberapa hari. Tetapi saya tidak menegerti, ternyata mereka gagal menyelamatkan data saya dengan alasan bahwa kerusakannya adalah pada piringan/disk hardisk saya sudah parah (tergores). Saya pun mengambil harddisk SATA Seagate Momentus saya, dan mencoba merecover lagi ke beberapa tempat lain. Ternyata sama. Mereka gagal. Sama saja, terakhir saya coba lagi membawa ke jasa recovery data di bilangan Mall Ambasador, Jl.Setiabudi Sudirman, daerah Jakarta Barat juga, dan banyak tempat lain. Ternyata hasilnya sama saja. Padahal mereka juga mengaku-ngaku adalah master, ahlinya atau yang terbaik. Entahlah saya hampir putus asa. Saya sudah bingung harus kemana lagi saya antar harddisk saya agar dapat diselamatkan data – data penting di dalamnya. Saya juga hampir putus asa. Akhirnya saya coba terus mencari di Internet, di salah satu situs iklan gratis tampa daftar, saya menemukan Everesta Media, salah satu jasa penyelamat data, situsnya http://www.everezta.com. Awalnya saya sempat ragu – ragu dengan sosok Everesta Media. Karena sebelumnya, saya sempat membaca beberapa tulisan-tulisan bernada sumbang tentang Everesta dari berbagai pihak! Mengatakan, bahwa tempat Everesta Media tidak meyakinkan sekali! Tetapi, saya coba untuk tidak mudah percaya langsung dengan tulisan mereka. Karena belum ada buktinya bagi saya! Ya. Coba-coba dululah siapa tahu lain apa yang banyak pihak propagandakan. Mungkin juga, sosok Everesta tidaklah seperti tulisan yang pernah saya baca. Di tengah keputus-asaan, karena Everesta juga saya pikir akan sama dengan yang lain sebelumnya. Awalnya iseng-iseng saja kalau saja mereka bisa. Saya coba -coba menelpon ke pihak Everesta Media. Ternyata, mereka meminta saya mengantarkan harddisk saya ke tempat mereka di daerah Lenteng Agung arah Depok. Akan tetapi kalau diambil oleh mereka, dikenakan biaya, yaitu untuk biaya pengecekan dan transportasi, yaitu sebesar tujuh puluh lima ribu rupiah dibayar di muka. Awalnya saya ragu-ragu dan ciriga. Akhirnya, dari pada repot – repot pikir saya, karena juga saya juga agak sibuk waktu itu. Saya meminta mereka segera datang mengambil harddisk tersebut untuk direcover ke kantor saya. Saya pun harus bersabar lagi menunggu jawaban dari pihak mereka. Keesokan harinya saya ditelpon pihak mereka / Everesta Media, walau sempat tidak percaya. Mereka mengabarkan kepada saya, bahwa harddisk SATA saya dapat diselamatkan mereka, karena belum sempat dibongkar dalamnya. Katanya keberhasilan recovery data minimal 80% bukan 100%, juga waktunya agak lama minimal satu minggu, alasannya bahwa kerusakan harddisk saya tergolong sangat parah secara fisik (katanya ada sudah bunyi, head bacanya rusak, tidak terdetek BIOS lagi dan sudah banyak “bad sector area”). Mereka mengajukan biaya recovery data sebesar 5 juta rupiah. Jumlah yang sangat mengejutkan saya. Alangkah kagetnya saya! Saya tidak percaya!!! Mahal sekali! Mahal sekali mas!!!! Padahal tidak seperti di tempat – tempat lain yang pernah saya tanya, jauh lebih murah! Karena mahalnya saya bingung sekali, takut sekali telah ditipu Everesta Media! sempat saya akan membatalkan saja. Saya curiga juga takut ditipu oleh mereka (pihak Everesta).Karena terus penasaran di hati saya, saya coba lagi tawar harganya agar dapat lebih murah. “Jangan mahal-mahal…..!” Entahlah, mereka tetap keras kepala! Tetap saja, mereka (pihak Everesta Media (http://www.everezta.com) tidak mau agar biayanya lebih murah, alias tidak dapat ditawar lagi biayanya. Karena terpaksa juga & pasrah, mau tidak maulah! harus kemana lagi saya coba merecover data saya dengan harga jauh lebih murah, Sementara mereka belum tentu menjamin sanggup! Sebagaian besar mereka telah menyerah tak sanggup/ gagal. Akhirnya dengan terpaksa, saya menyetujui juga dengan biaya 5 juta rupiah secara tunai. Asalkan data-data saya benar – benar telah berhasil diselamatkan! Itu janji saya pada pihak Everesta Media. Bingung dan sangat mencurigakan juga cara kerja Everesta Media seperti apa. Terpaksa harus menunggu lebih seminggu tampa ada kejelasan. Tak sabar, akhirnya setelah 8 hari, mereka (pihak Everesta Media) tiba-tiba menelpon lagi kepada saya, dan memberitahukan bahwa sudah selesai semua data saya diselamatkan, diminta saya segera membuka e-mail saya, karena laporan datanya sudah dikirim. Segera saya cek e-mail saya, ternyata benar data saya sudah ada semua. Diminta juga, saya segera menyiapkan pembayarannya mutlak secara tunai 5 juta rupiah. Saya tidak mau rugi dong! saya harus cek lagi lebih detail apakah benar – benar data saya sudah ada. Saya mencoba mengingat satu – persatu data – data penting saya, yang sebagian besar saya sudah tak ingat lagi satu persatu. Ternyata benar! Aneh, sangat tidak dapat dipercaya!!! mereka telah berhasil menyelamatkan data-data saya! Atau mungkin Everesta sedang kebetulan ‘hoky’ jadi dapat menyelamatkan data-data saya. Aneh! Mungkin saja….! Percaya tidak percaya! Tak perduli, walaupun banyak nada sumbang tentang Everesta lantaran tempatnya tidak meyakinkan yang masuk gang itu! Tak terkecuali photo-photo anak saya waktu lahir dulu.Sangat mahal bagi saya, biaya recovery datanya! tidak seperti di tempat-tempat lain yang pernah saya tanya. Walaupun, pertama-tama saya curiga takut ditipu pihak Everesta karena tempatnya tidak meyakinkan. Sebenarnya jujur dalam hati kecil saya, terpaksa harus puas juga dengan harga 5 juta rupiah. Saat ini, sangat tidak penting seperti apa tempat Everesta Media, siapa – siapa saja yang anggotanya, bagaimana cara kerja mereka, dan berapakah personil dari Everesta Media itu?! Justru yang terpenting bagi saya Everesta Media adalah lebih dan memiliki nilai tambah dari dari yang lain! Karena terbukti telah berhasil menyelamatkan data-data penting saya, bahkan yang sudah lama dihapus sekalipun. Sementara di tempat lain sudah gagal / menyerah. Ruli, Serpong (8-1). Sekali lagi. Percaya atau tidak cerita. Terserah anda, jangan tuntut saya telah menipu anda di hari akhir kelak! Mau dianggap fiktip belaka silahkan. Terserah anda juga. Karena kebenaran cerita ini tidak akan pernah dibuktikan kebenarannya! Jangan tanya saya fiktip atau tidak. Hanya saja.Terima kasih kalau anda telah mau membacaya. Komentar oleh Ruli — January 27, 2009 @ 11:28 pm tolong dong isi tulisan jangan dirubah,..knapa yang pro menjadi contra, dan yang contra menjadi pro,…. tolong di cek ulang donk Komentar oleh ahcsant — February 9, 2009 @ 10:23 pm ya ndak papa nyuruh gus dur untuk istigfar. nabi muhammad aja istigfar 100 kali tiap habis shalat. jadi nasehat ini bukanlah untuk menjelekkan gus dur. kemuliaannya tidak akan berkurang karena hinaan atau celaan orang. gus dur tetaplah gus dur. demiiann juga dengan kehinaannya juga tidak akan bertambah karena sanjungannya. meskipun begitu saya cukup apresiasi dengan gus dur. dengan adanya gus dur baik yang membenci maupun mencintainya berani muncul. Komentar oleh muchojin — February 13, 2009 @ 4:07 pm Gus Dur, orang yg dibenci sekaligus dikagumi. Maksud lohh.. Komentar oleh Sword — February 18, 2009 @ 5:39 pm Gus Dur tidak perlu istighfar, karena ia tahu apa yang tidak ia lihat. Sementara “kita” tidak tahu apa yang “kita” lihat. Siapa yang harus istighfar? Komentar oleh HM Madarik Yahya — February 25, 2009 @ 1:44 pm hmmm…saya mau tanya buat yg pro-GDapa alasan GD menyatakan bahwa daging babi halal untuk dikonsumsi?(jlas2 mlnceng dr ajaran agama islam)dan pro israel?(dgn bnyaknya muslim yg terbunuh:anak2 dan wanita)??? Komentar oleh ita — February 26, 2009 @ 12:29 am dancuk Komentar oleh aan — February 28, 2009 @ 3:25 am porno!!! saya kok bingung sendiri dengan tentang devinisi porno apalagi hingga kini masih belum selesai-selesai. kalau saja al-quran itu porno saya tidak keberatan. bukankah tetek dengan alat kelamin itu juga sama-sama anggota. Meski di lihat atau di pertontonkan bahkan di bicarakan kenapa tidak boleh lawong sama-sama anggota badan! coba berfikir jernih! kenapa hingga kini tidak selesai-selesai tentang RUU pornografi? karena anggota tubuh atau badan ada undang-undangnya sampai kapanpun tidak akan selesai.seandainya ucapan atau tulisan saya di baca oleh semua orang maka akan saya tulis panjang lebar tentang nama-nama sekaligus gambarnya anggota badan. Komentar oleh qornain — March 15, 2009 @ 7:48 pm saya sejak dulu kagum dengan Gusdur dan dengan kekaguan ini saya mohon kepada beliau janganlah hak asasi saja yang di bahas apalagi di dengung-dengungkan. seharusnya ‘hak umum’ yang lebih penting kok malah tidak pernah di singgung. karena kalau hak asasi kita setuju otomatis secara mafhum mukholafahnya hak umum seharusnya juga di sepakati. kenapa mereka tidak berfikir ke arah situ?. Komentar oleh qornain — March 15, 2009 @ 7:59 pm kok gitu aja dikasih komentar sih.. Komentar oleh anang halim — April 5, 2009 @ 11:49 am berprasangka baik, itu kuncinya. Menghakimi dengan kaidah keilmuan yang kita yakini itu baik dan benar, belumlah tentu. karena keterbatasan kita akan wawasan keilmuan. Maka dari itu kita sebaiknya lebih banyak belajar lagi. Coba kita berkaca, jangankan untuk menilai orang lain apalagi sampai mengeluarkan statement tertentu, lha kita aja setiap hari bergumulnya dengan dosa terus, ingat Gusti Allah jarang-jarang, apalagi di kota besar banyak cewek cakepnya. Wah.. Pokoknya tata hati dulu deh.. belajar sama guru yang jagoan, jangan yang setengah-setengah. Peace Komentar oleh Agus Susanto — April 10, 2009 @ 12:28 am Katakanlah kepada mereka : “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya). Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu.” Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu) tentulah mereka akan menjawab : “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah : “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka taubat) niscaya Kami akan mengadzab (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (At Taubah : 64-66 Orang Islam Tidak Pantas Berolok-olok dengan Ayat2 dari Alquran itu Haram… Komentar oleh teman — May 7, 2009 @ 5:03 pm bagus gussss….. pokoke aku manut mawon kwrena aku tahu jenengan gak asal ngendiko Komentar oleh nurul lazim — May 8, 2009 @ 11:27 pm gitu aja kok repot,itukan kata gusdur yang katanya super hero (herosin kali yee…) Komentar oleh mulya — May 9, 2009 @ 11:18 pm tapi itu smua memang perlu ada klrifikasi,mana yang melek dan mana yang merem,mana yang jalan sendiri mana yang dituntun… Komentar oleh mulya — May 9, 2009 @ 11:21 pm a….h kalian tuh gmn sih agama sendiri dijelek-jelekin,bingung gue.. Komentar oleh dodi — May 9, 2009 @ 11:27 pm yang manut-manut aja sama dengan kambing atau kerbau…ditarik kemana aja ikut… Komentar oleh dodi — May 9, 2009 @ 11:42 pm Gus Dur emang kontroversial tapi kalo kita mau jernih apa yang dikatakan Gus Dur benar kok! cuman orang-orang yang gak suka aja bisanya melintir kalimat yang Gus Dur ucapin. Bravo Gus Dura ane dukung terus biar negara ini pinter Komentar oleh suprapto — May 11, 2009 @ 11:40 am mempelajari Al-Quran dan Hadist yang jelas lebih bermanfaat daripada berpayah-payah menerjemahkan kalimat Gus Dur Komentar oleh asyrop — May 18, 2009 @ 12:39 pm test Komentar oleh ddd — May 20, 2009 @ 7:13 pm Kita semua tau siapa gusdur hanya lewat media… Dulu dia Kelihatannya bagus dan hebat, dari gologan Islam, diharapkan bisa membela kepentingan Islam. Tapi semenjak menjabat jadi Presiden dimana banyak kaum muslimin di negeri ini yang mempercayakan kepadanya nasib mereka… justru kemudian malah bertolak belakang dari harapan, dia jadi seperti asal-asalan ngomong, membuat banyak orang tambah bingung pada saat krisis ekonomi yang membingungkan, seperti kelakar di warung kopi…pada posisi sebagai petinggi dinegeri ini adalah wajar kalau dia selalu disorot media dan seharusnya dia bisa menjaga lisan karena semua pembicaraannya dapat mempengaruhi situasi politik dan ekonomi bangsa dan negara serta memberikan dampak terhadap nasib orang banyak di negeri ini, yang yang paling kontroversi adalah masalah kerjasama dengan yahudi, masalah konfik Sarah di Ambon… dan belakangan ketahuan dia dibaptis di gereja… menerima penghargaan dari petinggi yahudi… yang hampir-hampir membuat negeri ini menjadi kacau-balau karena ulahnya, dan pada akhirnya diturunkan dari Jabatannya. Sekarang marilah kita pertanyakan apakah masih pantas untuk didengar pendapatnya? kalau menurut saya, barangkali sebaiknya kita abaikan saja semua kementarnya, biarlah dia mau berkomentar seperti yang ia mau. Bila masih ada media yang mengekpose berita tentang dia, median tsb juga perlu dipertanyakan, ada kepentingan apa? Maaf ya… komentar ini diberikan memang sudah telat. cuma ingin memberikan masukkan tambahan, mudah-mudahan ada manfaat. kita do’akan saja mudah-mudahan saja GD dan kita semua diberikan hidayahNya. amin. Komentar oleh someone — May 21, 2009 @ 3:17 am Ingat Jangan terlalu gampang menuduh orang di Babtis. tidak demikian karena Aku tahu sendiri rekaman VCD nya.Masalah gus Dur kerja sama dg Yahudi dulu itu karena Logisttik gerakan Aceh merdeka di sokong penuh Yahudi. Setelah pura2 kerjasama dg Yahudi ternyata Aman kan. baru GAM bergejolak setelah mega berkuasa karena dia gak tau cara mengakali Yahudi. kita memang gak tau Gus dur kayak apa. Aku mulanya juga benci Gus Dur tapi banyak hikmah peristiwa dari apa yg dia buat . Dan setelah sekian lama akhirnya aku baru paham tentang apa yg membuat kontroversi. Berarti aku telat mikir ketimbang GD. Barang kali yang lain gitu yaa…? Komentar oleh Anjani — May 21, 2009 @ 3:36 pm SETUJUUU… Contohnya aja waktu jaman jahiliyah Orde Baru . saat itu SDSB (judi berkedok sumbangan) sangat membumi seakan halal 100% tapi apa ada ulama yg bisa dan berani membubarkan ? Ternyata Gus Dur punya trik Jitu . Dia langsung membakar emosi semua Ulama dg mengatakan SDSB Halal. Setelah Demo besar-besaran maka Pemerintah Orba membubarkan SDSB.Saat gus Dur ditanya kenapa SDSB halal ? Dia jawab hanya untuk bikin emosi semua orang aja . Biar SDSB dibubarkan . nah kan ? Siapa sekarang yang telmi. Mengutip omongan Wimar Witular” pikiran gusdur itu berjalan cepat dan melompat-lompat sedang kita berjalan lambat jadi untuk ahu apa maksudnya tinggal nunggu peristiwanya aja” Komentar oleh Sofwa — May 21, 2009 @ 3:44 pm Kalau Gus Dur bicara saya yakin ada sesuatu dibaliknya jadi jangan makan mentah-mentah apa yang diucapkan. Gus Dur emang kontroversi tapi itulah demokrasi kalau ada yang kebakaran jenggot berarti tak tau demokrasi Komentar oleh suprapto — May 27, 2009 @ 12:54 pm demokrasi itu apa?dlam Islam hanya ada Syuro,sementara demokrasi buatan nasroni (KALIAN…red;TASYABBUH)!!! Komentar oleh jihadi — May 30, 2009 @ 10:12 am Islam itu Rahmatan lil Ngalamin artinya secara luas juga demokrasi mas!!! perbedaan adalah rahmat jadi tidak boleh mutlak-mutlakan merasa pendapat anda benar dan Saya atau Gus Dur itu salah. ane dukung anda Gus!!! 100 % Komentar oleh suprapto — May 30, 2009 @ 11:49 am itulah gus dur cara ngritiknya beda……kalw sampean gak seberapa tw gus dur jangan “menegatifkan” gus dur trus…….coba aja diskusi ma orangnya……………….. Komentar oleh yudha — May 31, 2009 @ 8:34 pm hidup gus lanjutkan perjuanganMusaya tahu anda lebih tahu dari saya kritikan ada sangat jauh lebih maju OK!!! Komentar oleh solikhin — June 3, 2009 @ 10:05 am yang nongomng dalam islam gak kenal demokrai itu berarti gak tau islam. dan bagi yang bilang islam gak kenal demokrasi seharusnya orang itu gak usah ngomong di forum ini, sebab apa yang diomongkannya bukan hasil syuro(musyawarah), ya kan?? kata-kata yang ditulis dan diomongkan disini pasti hasil pemikiran dan pendapat sendiri ya kan?? itu namanya demokrasi. dalam demokrasi orang boleh berpendapat, dalam Syuro pun ada demokrasi. Komentar oleh oglex — June 9, 2009 @ 4:05 pm Ingat Allah punya kuasa tapi tidak pernah memaksa, sedangkan tuan tidak punya kuasa tapi tuan suka memaksa. Komentar oleh abhm — July 9, 2009 @ 10:20 am Kalo ada yang g setuju Gusdur itu Kyai ya g usah menganggap Kyai dan sepertinya maksud GD sudah tercapai. (Mungkin) Masud GD adalah supaya orang-orang dapat menyampaikan pendapatnya masing2 baik itu yang pro dan kontra terhadap pernyataan tersebut atau pernyataan GD yang lain sehingga kita dapat menyimpulkan sendiri apa yang baik. Sepertinya hampir semua pernyataan GD akan membuat beberapa orang berselisih, namun dari perselisihan itu dapat diambil hikmah yang terkandung di dalamnya. Saya rasa GD juga ingin memberikan iklim demokrasi dan kebebasan berpendapat tumbuh dan berkembang di masyarakat kita. Komentar oleh Bobi Iswahyudi — July 12, 2009 @ 10:31 pm udahlah mas penulis..kang dur itu tuhan’y orang NU..kl Al-Quran di buat tissue toilet ma si dur jg sah2 aj bt orang NU..si dur mah di dunia aj udah di siksa apalagi di akhirat..ente mah yang waras ngalah aj.. Komentar oleh El Muhammad — August 12, 2009 @ 1:54 am komentar pertama tanggal 26 April 2006, jadi sudah lebih dari tiga tahun masih ada yg komentar, kalau saya no coment….. teruskan komentarnya sampai kapan ya? Komentar oleh sty — August 28, 2009 @ 10:28 am mesti di sadarkan orang2 sperti itu Komentar oleh zen madury — August 31, 2009 @ 8:36 pm Saya tidak mendengar sendiri perkatan Gus Dur tentang kitab suci paling porno. Dan saya tidak mengetahui apa maksud Gus Dur. Lebih baik kita meminta penjelasan sama GD dulu sblm menyalahkan.Kalau GD ngejelasin, insya Allah kita juga mangut-manggut. Komentar oleh sadar — September 19, 2009 @ 10:44 am Toh masing-masing punya amal… kaji saja lebih dalam. jangan pernah mendikte orang lebih dahulu sebelum mendikte diri kita sendiri lebih dulu… cari hikmahnya, jangan buat keresahan, pasti masing – masing punya alasan tertentu.. islam agama yang damai. Komentar oleh Apunk — October 10, 2009 @ 6:03 pm sesungguhnya..mereka2 yg mengatakan sedemikian x perlu di perangi kerana..bagi muslim yg beriman..muslimin sejati..mereka akan mengatakan golongn2 itu adalah musuh ketat Islam..tidak ada tempat mereka melainkn neraka dan seksa Allah SWT…ingatlah..mereka yg memburuk-burukkan AL-QURAN..akan menerima balsan yg mereka sendiri tidak terfikir..malahan mereka hanya mengeluarkan suara2 menyesal..hakikatnya mereka tahu tidak lagi d terima golongan itu…mereka tidak tahu…mengapa mereka mengagung-agungkan injil..Injil asalnya adalah salah satu Kitab muslimin..namun tlah d curi dan d sesatkn hingga skarang…jika d selidik kitab2 itu..tidak sebegitu jauh isikandungnya tapi..injil lebih kepada arah kesesatan..mereka sbnrnya tahu injil itu sudah sedia kala sesat..namaun mereka melindunginya dgn memburukan alquran..padahal mereka sudah tewas…pengadilan hanya Allah sahaja yg menentukan..mereka akan kelu berhadapan dgn kebenaran….bgi umat Islam, mereka hanya mampu bersabar dan mempertahan kn kesucian al-Quran…ingatlah golongan sesat..kmu tidak akan mnedapat kemenangan..mustahil… Komentar oleh wan — November 11, 2009 @ 10:37 pm sudahlah saudara2…gus dur itu manusia juga yg bisa salah. sebaiknya kita merenung pd diri kita ini sudah sejauh mana pengakuan islam kita ini, sudah sebesar apa perjuangan kita untuk islam. untuk yg diatas semua kok pemikiran kalian ndak beda jauh ya dengan orang NASRANI..apakah kalian ini sudah fasih baca basmalah??? perbanyaklah ilmu agama kalian dulu..bermanfaatkah ngasi2 coment?… Komentar oleh fauzy — December 30, 2009 @ 7:49 pm karena orang Islam banyak juga yang belum hapal isi Alquran,..mungkin beliau berkata demikian sebagai salah satu cara agar orang2 membaca Alquran,..dan banyak juga akhirnya orang yang baca Alquran membuka dan membaca isinya ,..meski cuman utk mencari istilah porno ini,..beginiilah mungkin type bangsa ini,..bila dibilang Alquran ini baik hanya dilihat disayang tapi tak dipelajari isinya,…tapi bila sesuatu itu dibilang buruk akan dicari2 keburukan2 nya,..coba dipikir secara bijaksana saja,… Komentar oleh ark — January 1, 2010 @ 7:55 pm yang lalu biarlah berlalu, jadikan sebagai pelajaran. Saatnya kita perbaiki diri untuk menuju iman dan takwa yang lebih baik. saling menasihatilah dalam kebenaran dan kesabaran. Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalamu’alaikum wr wbr. APA GUS DUR MERASA AMAN? Ahmad Sudirman XaarJet Stockholm – SWEDIA. Tanggapan untuk Presiden Gus Dur dan Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi. NU JADI BENTENG DAN SIAP BELA GUS DUR DIBAWAH UUD’45 SEKULAR Gus Dur sekarang masih tetap menikmati dan menghirup udara sekularisme di negara-negara Eropa yang dikunjunginya sampai 13 Februari 2000. Pikirannya menjadi segar dan nyaman dapat menghisap hawa paham sekularisme. Beberapa berita yang melambungkan isu-isu kudeta tidak menyebabkan Gus Dur terperanjat. Ancaman dari kiri-kanan tidak menjadikan otaknya yang penuh humor menjadi terkulai. Karena nun jauh di belahan dunia Asia Tenggara, di Negara Pancasila, Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi, Senin, 7 Februari 2000, mendeklarasikan bahwa “Nahdliyin siap di belakang Gus Dur jika ada pihak yang coba-coba mengkudeta presiden. Kita siap membela di bawah konstitusi kalau ada usaha kudeta. Tidak benar Gus Dur terancam karena Gus Dur didukung oleh banyak kalangan.

Dia pun memiliki legitimasi yang kuat” ( http://www.satunet.com/artikel/isi/00/02/07/6329.html ). NU BUKAN HANYA DUKUNG GUS DUR, TETAPI HARUS MEMBUANG PIKIRAN SEKULARISME-NYA Banyak orang terpesona pada Gus Dur dengan akrobat diatas talinya. Seperti yang diturunkan oleh Republika Online edisi: 27 Januari 2000 dengan menampilkan tulisan “Mengevaluasi Sang Guru” yang menggambarkan hasil pemikiran penulisnya dengan gambaran bahwa “melihat Gus Dur seperti ”lukisan Monalisa”, yang ”bisa menyesuaikan diri” dengan jiwa dan kondisi psikologis orang yang melihatnya. Oleh sebab itu, membaca ”ucapan, pikiran, dan tindakan Gus Dur” haruslah dengan perspektif yang benar, perspektif yang sesuai dengan karakter Gus Dur, yakni sebagai Guru (dengan ”G” besar) bagi bangsa Indonesia, khususnyaumat Islam” (Mengevaluasi Sang Guru, Republika Online edisi: 27 Januari 2000) Kelihatannya dengan diloloskannya tulisan “Mengevaluasi Sang Guru” oleh pengasuh Republika Online menunjukkan bahwa secara tidak langsung Gus Dur telah diangkat sebagai Guru bagi bangsa Indonesia, khususnya umat Islam. Disinilah saya melihat bahwa bagaimana sebagian rakyat Indonesia terpesona dengan keligatan Gus Dur dengan loncatan-loncatan sekularismenya, sehingga mampu memberikan bayangan dan gambaran kepada sebagian rakyat Negara Pancasila bahwa sekularisme adalah paham yang bisa menyelamatkan kemelut yang menimpa bangsa Indonesia. Apabila Gus Dur “….mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang” (Al Maidah, 5: 56). Tetapi kalau Gus Dur “….dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barangsiapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya” (An Nisa, 4: 143). Tentu saja bagi umat Islam “….janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman” (Al Maidah, 5: 57). PERSATUAN YANG DITERAPKAN GUS DUR PERSATUAN SEMU Persatuan yang didasarkan pada sekularisme merupakan dasar pijakan Gus Dur untuk merangkul seluruh rakyat Negara Pancasila. Karena itu ketika Gus Dur membicarakan persatuan, agama tidak boleh diangkat kepermukaan. Selama agama dijadikan dasar persatuan, maka selama itu persatuan tidak akan terlaksana. Itulah pemikiran yang keluar dari paham sekularisme-nya Gus Dur. Persatuan Gus Dur adalah persatuan yang tidak didasarkan pada keadilan, amanah dan perdamaian yang bertujuan untuk beribadah, bertaqwa dan mengharap ridha Allah SWT. Pemerintahan Gus Dur adalah pemerintahan yang tidak dibangun atas dasar masyarakat muslim dan non muslim didalam satu kekuasaan pemerintahan dimana Allah yang berdaulat, yang menerapkan musyawarah dan menjalankan hukum-hukum Allah dengan adil, berdasarkan akidah Islam dengan menghormati agama lain, dengan konstitusi yang bersumberkan dari Al Quran dan Sunnah, yang tidak mengenal nasionalitas, kebangsaan, kesukuan dan ras. Inilah sedikit tanggapan untuk Presiden Gus Dur dan Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi. Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada [EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.* Wassalam. Ahmad Sudirman NDONESIA kembali kehilangan seorang sosok guru bangsa. KH Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan Gus Dur wafat beberapa hari lalu. Meski demikian, karya-karya dan pemikirannya tidak akan pernah hilang dari bangsa Indonesia. Ialah sosok yang banyak menjadi inspirasi bagi rakyat Indonesia. Pikiran-pikirannya yang brilian selalu membuat segar suasana dan terobosan-terobosan baru. Tidak hanya itu, Gus Dur juga merupakan seorang tokoh ulama yang sangat disegani baik di tingkat nasional maupun internasional. Beliau termasuk ilmuwan sosial yang diakui dunia hingga saat ini. Berbagai jabatan penting pernah Gus Dur duduki. Puncaknya beliau menjadi Presiden ke-4 RI. Jalan pikiran Gus Dur tidak pernah bisa ditebak. Beliau bertindak sesuai dengan hati nurani yang dipadukan dengan nalar sebagai pertimbangan. Meski, kadang kala sepak terjangnya membuat sejumlah orang merasa risi dengannya. Tentunya karena Gus Dur adalah manusia biasa, yang fitrahnya sebagai tempat salah dan lupa. Pemikiran beliau juga tidak semua orang bisa menerimanya karena banyak hal. Ada yang tak bisa menerimanya dengan alasan politik, agama, ideologi, atau hanya karena tidak suka saja dengan pribadinya. Pejuang HAM Sosok Gus Dur juga merupakan pejuang demokrasi dan hak asasi manusia. Kaum minoritas di Indonesia selama ini selalu menjadikan beliau sebagai tempat berlindung ketika mendapat tekanan. Gus Dur selalu tampil menjadi yang nomor satu ketika hak-hak kaum minoritas ditindas. Dalam pandangan Gus Dur, kaum minoritas adalah juga warga negara Indonesia yang wajib untuk dilindungi secara hukum. Terutama pada kelompok-kelompok minoritas keagamaan, beliau sangat respek. Kita tentu masih ingat bersama ketika Ahmadiyah diserang dan dihujat habis-habisan Gus Dur berdiri sebagai seorang ulama yang membela mereka. Atau bagaimana Gus Dur membela kelompok minoritas yang kesulitan dalam membangun rumah ibadah mereka. Beliau berdalih bahwa pembangunan rumah ibadah adalah hak bagi setiap pemeluknya. Gus Dur pulalah yang pertama kali mengizinkan pertunjukan barongsai setelah lama dilarang dimainkan. Ketika beliau menjadi seorang presiden, agama Konghucu dilegalkan di Indonesia. Termasuk menghapus peraturan tentang warga negara keturunan dalam hal ini Tionghoa yang diharuskan mempunyai nama Indonesia. Bagi kaum Tionghoa, Gus Dur termasuk tokoh penting mereka dalam kebebasan dari diskriminasi. Beliau jugalah yang berinisiatif menghapuskan Tap MPR tentang pelarangan PKI dan ajaran komunisme di Indonesia. Juga mengupayakan rekonsiliasi antara mantan-mantan PKI dan segenap kelompok yang dulu memusuhinya. Dalam upaya ini usaha Gus Dur tidak sia-sia.

NU yang menjadi gerbongnya selama ini bisa berekonsiliasi dengan mantan-mantan PKI, meski sejumlah tokohnya menolak hal tersebut. Hubungan NU dengan umat kristiani juga membaik beberapa akhir tahun belakangan, meski sebelumnya juga tetap mesra. Inilah hasil karya pengarsitekan Gus Dur dalam program pengamanan Hari Natal oleh Banser NU. Sebagian umat Islam juga sering kali dibuat berang oleh tingkah laku kiai yang satu ini. Terutama ketika Gus Dur mengunjungi Israel, yang sampai saat ini masih menjadi musuh Islam. Apalagi ketika beliau mengungkapkan keinginannya untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Kekerasan bukan merupakan jalan yang baik dalam menyelesaikan masalah. Karena kekerasan yang dilakukan akan mengakibatkan kekerasan lainnya timbul. Prinsip inilah yang dianut Gus Dur dalam menyikapi permasalahan. Banyak anak bangsa yang melakukan kekerasan dengan berbagai dalih untuk kepentingan mereka, baik mempertahankan eksistensi atau sebagai legitimasi kebenaran tunggal versi mereka. Gus Dur secara tegas menolak dan mengecam berbagai aksi kekerasan yang terjadi di negeri ini. Demokrat sejati Jalan seberang (oposan) dalam berdemokrasi juga selalu diambil bapak bangsa ini.

Sejak mudanya Gus Dur berani menjadi oposan dari setiap penindasan oleh penguasa. Dengan terang-terangan beliau menyatakan tidak mau masuk dalam gerbong ICMI waktu didirikan. Saat reformasi 1998, ia juga menjadi pemrakarsanya. Rumahnya di Ciganjur dijadikan tempat pertemuan menentang rezim berkuasa saat itu. Dan karena kejeliannyalah Gus Dur bisa lolos dari rezim Orde Baru. Meski beliau dikenal sebagai pengkritik tajam pada penguasa saat itu. Bahkan terhadap partai yang didirikannya sendiri Gus Dur tetap menerapkan budaya oposan. Tentunya kita masih ingat saat bagaimana Gus Dur berseteru dengan keponakannya sendiri Muhaimin Iskandar berebut PKB. Atau ketika Gus Dur duduk sebagai presiden, banyak kontroversi yang mengikutinya. Mulai gonta-ganti menteri hingga protokoler yang sering dilanggarnya. Yang paling fenomenal adalah membuat Istana Presiden kehilangan kesakralannya dan menjadikannya sebagai istana rakyat. Dari semua presiden yang pernah ada mungkin Gus Dur-lah presiden yang paling mudah ditemui oleh siapa saja dan kapan saja. Inilah sosok aktor politik yang andal dan jeli meski pada akhirnya kena telikung juga sehingga Gus Dur menjabat sebagai presiden hanya separuh waktu saja. Dengan berbagai fenomenalnya Gus Dur mewarnai iklim demokrasi Indonesia dan mendidiknya menjadi dewasa. Namun, kondisi bangsa ini masih jauh dari harapan atas apa yang diperjuangkan Gus Dur selama ini. Kaum minoritas masih terpinggirkan, rakyat banyak yang miskin. Kezaliman para penguasa juga masih sering kita lihat. Tentunya itu semua menjadi tugas kita mewarisi perjuangan dan cita-cita luhur Gus Dur. Mewujudkan Indonesia yang demokratis, sejahtera, adil, dan makmur, tanpa mengabaikan prinsip-prinsip hak asasi manusia. Kini beliau pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Perjuangan dan cita-citanya akan terus hidup di sanubari kami. Selamat jalan Gus, kami akan selalu merindukan orang seperti engkau.

31
Dec
09

Selamat Jalan Gus Dur (KH.Abdur Rahman Wahid)

Duka yang mendalam mengiringi kepergian Gus Dur,putra terbaik  bangsa, wafat pada tanggal 30 Desember 2009. Tanggapan dan komentar dari berbagai kalangan bermunculan di media baik dalam maupun luar negeri. Kumpulan  komentar dan tanggapan ini sengaja kami kumpulkan sebagai bentuk kekaguman kami kepada Gus Dur.

Kepergian Gus Dur semoga  bangsa Indonesia tidak melupakan jasa-jasa beliau, dan kepada kita selaku pewaris mampu meneruskan perjuangan Gus Dur, Selamat jalan Gus Dur, Selamat Jalan Bapak  Demokrasi, Bapak Pluralism, Bapak Jurnalis,Bapak LSM , jasa dan perjuangan Engkau selalu melekat dihati bangsa Indonesia

Luthfi Hasan Ishaaq

Presiden Partai Keadilan Sejahtera Lutfhi Hassan Ishaaq berpandangan, seluruh keluarga besar Partai Keadilan Sejahtera mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga besar Nahdlatul Ulama atas wafatnya Hadratussyech Abdurrahman Wahid.

Abdurrahman Wahid merupakan seorang ulama dan tokoh nasional yang cukup berani dan terbuka dalam menyatakan berbagai pandangannya tentang Islam dan umat Islam. Dalam pandangannya yang sangat beragam itu, meskipun juga sering berbeda, PKS cukup bisa memahaminya. “Pandangan beliau yang sangat beragam tentang Islam dan umat Islam itu kami hargai dan cukup bisa kami pahami,” ujar Lutfhi. (MAM)
Prabowo Subianto

Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto mengaku sangat dekat dengan sosok Gus Dur, bahkan sejak ia masih kecil. Kediaman keluarga Prabowo di Matraman, Jakarta, bertetangga dengan kediaman Gus Dur.

“Beliau mewariskan sifat inklusif dalam sosoknya. Sebagai pemimpin umat Islam, ia juga diterima banyak golongan. Sebagai guru bangsa, beliau bisa jadi pengayom bagi semua unsur di Indonesia. Hal itu yang membuat saya terkesan. Pemikirannya sangat berani walau kadang sulit diikuti,” ujarnya.

Prabowo terakhir bertemu saat Gus Dur menikahkan putri keduanya, Yenny Wahid, beberapa waktu lalu. (dwa)

Soetrisno Bachir

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional Soetrisno Bachir menilai, bangsa ini kehilangan tokoh demokrasi dan humanisme. Hingga saat ini, belum ada tokoh sekelas KH Abdurrahman Wahid yang telah berjasa membuka wawasan masyarakat. Kepergian Abdurrahman Wahid tidak hanya kepergian bagi kalangan Nahdliyin, tetapi juga seluruh bangsa Indonesia.

Bangsa ini memang patut memberikan penghargaan bagi Gus Dur, tidak saja karena pernah menjadi presiden yang memimpin rakyat negeri ini, tetapi juga telah memberikan pencerahan bagi semua orang. “Kita tidak pernah meragukan komitmen kebangsaan dan sikap toleransi Gus Dur,” ujarnya. (MAM)

Muhaimin Iskandar

Muhaimin Iskandar, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), mengaku sangat terpukul dengan wafatnya Gus Dur. “Beliau itu ayah, guru, dan pemimpin yang selalu mendidik dengan berbagai caranya agar kita selalu mandiri dan kuat. Tiga hari lalu, saya masih terima SMS. Beliau mengatakan kondisinya baik-baik saja dan tidak usah khawatir,” paparnya.

Menurut Muhaimin, Gus Dur memang guru segala hal. Cara hidupnya sederhana serta selalu memberikan keteladanan dan pengayoman kepada semua. “Beliau itu tidak pernah memikirkan diri sendiri,” kenangnya.

Dalam politik, lanjutnya, Gus Dur selalu menanamkan untuk mengayomi, menghormati, dan mencintai sesama. (sut)
Sri Pannyavaro Mahathera

Bhikku Sri Pannyavaro Mahathera, Kepala Sangha Theravada Indonesia, merasakan kehilangan yang besar dengan wafatnya Gus Dur.

?Saya merasakan ketulusan hati Gus Dur dalam setiap kesempatan bertemu dan berdiskusi dengannya. Bagi saya, ketulusan itu sesuatu yang teramat mulia dari Gus Dur,” ungkap Sri Pannyavaro.

Ia menambahkan, Gus Dur adalah pribadi yang sangat menghargai setiap orang. Bagi Gus Dur, yang layak menjadi Bapak Bangsa, perbedaan adalah denyut kehidupannya. “Kebajikan dan kearifan Gus Dur akan tetap bersama kita,” imbuh pimpinan agama Buddha ini. (sut)

AA Yewangoe

Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pendeta AA Yewangoe bertemu Gus Dur tiga bulan lalu ketika ada sebuah gereja yang izinnya dicabut wali kota. ?Beliau datang ke Kantor PGI untuk memberikan dukungan. Itu adalah salah satu bukti, beliau menginginkan semua orang di Indonesia memperoleh haknya, hak beribadah,” katanya.

Dia melanjutkan, Gus Dur adalah tokoh bangsa yang tidak tergantikan. ?Beliau sangat memerhatikan kerukunan umat beragama di Indonesia,” katanya lagi. (sie)

Din Syamsuddin

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin mengakui, kepergian Gus Dur adalah kehilangan bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. Betapapun, selama hidupnya Gus Dur menampilkan peran tertentu dan memberikan jasa berharga bagi bangsa.

Walaupun banyak ide dan sikapnya yang kontroversial, kata Din, banyak pula idenya yang bermanfaat, seperti tentang pengembangan kemajemukan dan penguatan demokrasi. “Saya berharap hilangnya seorang tokoh umat dan bangsa segera tergantikan dengan tokoh lain,” harapnya. (nta)

Idrus Marham

Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Golongan Karya Idrus Marham menilai, siapa pun yang obyektif dan jujur pasti merasa kehilangan dengan wafatnya KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Menurut Idrus, KH Abdurrahman Wahid adalah tokoh bangsa yang punya kontribusi besar bagi pengembangan demokratisasi di Indonesia. Gus Dur banyak mendorong lahirnya demokratisasi dan kemanusiaan di negeri ini.

Menurut Idrus, banyak orang mengatakan, Gus Dur juga orang yang sering melawan arus. Namun, sesungguhnya Gus Dur justru membuat arus. Gus Dur membuat arus demokratisasi. Gus Dur membuat arus pluralisme di negeri ini. (sut)

KH Hasyim Muzadi

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi mengatakan, wafatnya Gus Dur merupakan kehilangan besar bagi warga NU dan bangsa. Gus Dur, yang merupakan mantan Ketua Umum PBNU, dinilai sebagai tokoh besar dalam NU. “Dalam dekade terakhir ini, belum ada gantinya orang yang sekelas Gus Dur,” katanya.

Bangsa Indonesia, lanjut Hasyim, kehilangan dua hal besar dan mahal dengan meninggalnya Gus Dur, yaitu demokrasi dan humanisme. Humanisme Gus Dur benar-benar berangkat dari nilai-nilai Islam yang paling dalam. Tetapi, humanismenya itu melintasi agama, etnis, teritorial, dan negara. (MZW)

Benny Susetyo

Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) A Benny Susetyo Pr mengakui kaget dengan kepergian Gus Dur. “Tiga hari lalu, sebelum operasi, Gus Dur masih telepon dan kami bercanda. Saya tak menduga, ia pergi begitu cepat,” katanya.

Diakui Benny. Gus Dur adalah tokoh yang sangat menghargai pluralisme dan kesatuan Indonesia. “Terakhir, ia memesankan, fundamentalisme itu jangan dimusuhi, tetapi harus dicintai. Ini jelas menunjukkan kecintaannya pada kesatuan Indonesia,” katanya lagi. (tra)

KH Ma’ruf Amin

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin mengakui, Gus Dur adalah seorang pejuang demokrasi yang cerdas. Ia berani dalam segala hal meskipun banyak yang tak sama pendapatnya dengan dia. Bila melakukan perubahan, jika menurut dia benar, tidak akan mau mengubah pendapatnya.

Wafatnya Gus Dur adalah kehilangan besar bagi Bangsa Indonesia. Kehilangan seseorang yang peranannya besar dalam perubahan di Indonesia.

Ma’ruf pernah menjabat Sekjen PBNU ketika Gus Dur menjadi ketua umum. (idr)

Amir Syamsuddin,

Amir Syamsuddin, Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, mengesankan Gus Dur adalah orang besar yang dilahirkan di republik ini. “Kita tidak bisa melupakan peranan Gus Dur yang terukir dalam sejarah sebagai tokoh yang menempatkan pluralisme, melindungi pluralisme, dan menghapus sekat-sekat. Dia pula yang berperan menghentikan dominasi militer,” katanya lagi.

Ini kehilangan besar bagi negeri ini. “Kita harus belajar dalam ketegasan bersikap dalam hal-hal seperti ini. Kalaupun ada kekurangan dalam dirinya, itu sangatlah tidak ada artinya dibandingkan peran dan jasanya. Dia putra terbaik. Dia harus ditempatkan di tempat yang terkemuka,” paparnya. (ana)

Kompas, Kamis, 31 Desember 2009 | 03:05 WIB

JAKARTA – Ajaran paling berharga dari Gus Dur di mata Ahmad Dhani adalah pluralisme. Yakni, bagaimana pentingnya bertoleransi di Indonesia yang kemudian memunculkan hal baru. Termasuk, menjadikan Konghucu sebagai salah satu agama yang diakui.Sebagai orang yang sering bersilaturahmi kepada Gus Dur, Dhani merasa mendapat banyak pelajaran. Tapi, yang paling membuat dia berpikir lebih luas adalah tentang pluralisme itu.Menurut Dhani, Gus Dur sudah mencapai apa yang dinamakan puncak pemahaman. Itu dicoba diterapkan di Indonesia melalui pemikiran dan kebijakannya saat menjadi presiden. ’’Beliau sangat sadar bahwa kemampuan yang hakiki hanya bisa diperoleh dengan toleransi. Pluralisme, itu ajaran Gus Dur untuk Indonesia,’’ ujar pentolan Dewa 19 itu kepada Pontianak Post tadi malam.

Dhani menyatakan, Gus Dur sebagai seorang yang memahami semua ilmu dan bisa berbicara dalam banyak bahasa. Tidak semua pemimpin di Indonesia bisa seperti itu. ’’Habibie itu pintar dalam hal teknologi, tapi tidak dalam hal lain. Gus Dur ini lengkap. Gus Dur adalah orang Indonesia terbaik setelah Bung Karno. Cuma ada dua, Soekarno dan Gus Dur. Yang lain masih belum,’’ ujarnya.

Dhani menilai Gus Dur sebagai tokoh yang memiliki pemikiran tak berbatas. Atas dasar itulah, sering pemikiran Gus Dur dianggap nyeleneh atau menuai kontroversi. ’’Banyak orang yang pemikirannya ’belum sampai’. Sulit bagi yang tidak bisa berpikiran terbuka untuk memahami apa yang dipikirkan Gus Dur. Bagaimana mungkin orang yang pikirannya dibatasi bisa memahami pikiran Gus Dur yang tidak terbatas,’’ tegasnya.
Kehilangan Kakak

Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, yang menjadi Wapres ketika Gus Dur memimpin negara pada 1999–2001, merasakan kehilangan yang sangat dalam. Bagi Ketua Umum DPP PDIP itu, Gus Dur adalah sosok sahabat sekaligus kakak yang sangat mengayomi.’’Kedekatan mereka lahir secara alamiah karena pemahaman ideologi dan paham kebangsaan yang sama,’’ kata Sekjen DPP PDIP Pramono Anung tadi malam (30/12).Begitu mendengar Gus Dur wafat, kata pria yang akrab disapa Pram itu, Megawati langsung berangkat ke RSCM. Selanjutnya, Mega juga datang untuk bertakziyah ke rumah duka di kawasan Ciganjur, Jakarta.
Saat itu Megawati dan keluarga besarnya berada di Bogor. Dia tengah menyiapkan peringatan ulang tahun (HUT) ke-67 suaminya, Taufik Kiemas, yang jatuh pada 31 Desember (hari ini). Rencananya, ultah ketua MPR itu bertepatan dengan momentum pergantian tahun ini dirayakan di Bogor.Pram menuturkan bahwa dirinya adalah saksi mata saat Gus Dur dan Megawati bertemu kali pertama setelah dilengserkan dari presiden dalam Sidang Umum MPR pada Juli 2001. Keduanya bertemu di kediaman Megawati di Jalan Kebagusan, Jakarta Selatan. Saat itu Megawati menggantikan Gus Dur sebagai presiden. Taufik Kiemas juga hadir dalam silaturahmi tersebut.Tidak seperti dibayangkan banyak orang, kata Pram, pertemuan itu sama sekali tidak menegangkan. Suasananya justru sangat gayeng layaknya pertemuan dua sahabat karib. ’’Mereka seperti lupa dengan politik. Asyik berbicara soal makanan dan kesehatan,’’ tutur Pram.Kapan pertemuan itu terjadi? ’’Saya lupa. Yang jelas sebelum 2004,’’ kata tangan kanan Megawati itu.
Ajak Salat Ghaib

Mantan Ketua Tanfidz Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Kalimantan Barat Syarif Abdullah Alkadrie mengajak masyarakat, khususnya kaum nahdliyin, untuk melaksanakan salat ghaib bagi mantan Presiden Abdurrahman Wahid. Mantan Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat tersebut mengaku terkejut mendengar khabar meninggalnya figur yang sangat dikaguminya itu.
“Saya benar-benar merasa kehilangan figur yang sangat besar, figur yang saya kagumi karena begitu menjunjung tinggi pluralisme serta nilai-nilai demokrasi,” ungkapnya Abdullah kepada Pontianak Post, kemarin (30/12). Saat dihubungi, figur yang kini kembali menggeluti profesinya sebagai akademisi tersebut sedang berada di Filipina. Abdullah berjanji, bakal menghimpun warga nahdliyin untuk menggelar pengajian, bagi mengenang Almarhum. Tanpa sungkan Abdullah mengemukakan bahwa tidak sedikit pemikirannya yang terilhami dari sosok yang dikenal dengan sebutan Gus Dur tersebut. “Tidak sedikit pemikiran Beliau yang begitu relevan dengan kondisi bangsa saat ini,” ucap dia.
Inspirasi Pemimpin Dunia

Penasehat DPP MABT (Majelis Adat Budaya Tionghoa) Kalbar Andreas Acui Simanjaya mengungkapkan, kepergian Gus Dur pada penutup tahun 2009 sungguh mengejutkan dan meninggalkan duka mendalam. “Bagi saya pandangan beliau yang humanis menjadi inspirasi bagi banyak pemimpin dunia, walaupun sebagian orang sulit menerima sikapnya yang terus terang dan apa adanya, “ kata Acui kemarin malam (30/12). Menurutnya, bagi warga Tionghoa tidak dapat melupakan jasa  Gus Dur. Dia tegas dan berani memulai langkah penting dalam berkehidupan bernegara di Indonesia ini. Semua warga Negara mesti dilakukan dengan setara dan adil.  Hal ini ditandai dengan upaya pengakuan Agama Konghucu, penghapusan SBKRI dan mencanangkan Imlek sebagai hari Libur Nasional. “Sikap tegas dan pengakuan Gus Dus untuk memperlakukan warga Tionghoa sebagai bagian tidak terpisahkan dari RI merupakan langkah  bersejarah tak akan pernah dilupakan. Dia seorang pemimpin yang mempunyai pikiran terbuka, antidiskriminasi dan menghargai perbedaan umat manusia sebagai keangungan sang pencipta,” kata Acui yang mantan anggota DPRD Kalbar itu.

Ikon Pluralisme

Mantan Ketua MPR Amien Rais memuji Gus Dur sebagai ikon pluralisme di Indonesia. Mantan presiden itu juga dinilai berhasil membawa organisasi yang pernah dipimpinnya, Nahdlatul Ulama (NU), dari kondisi marginal menjadi arus utama atau mainstream gerakan sosial politik di Indonesia.

Amien yang mengakui dirinya adalah sahabat sekaligus lawan berpikir Gus Dur itu memuji jebolan Al Azhar dan Universitas Baghdad tersebut sebagai anak bangsa yang telah berhasil memajukan pondok pesantren menjadi lebih terbuka serta mampu mendorong partisipasi pesantren dalam pembangunan nasional dan dunia Islam. ’’Kita kehilangan besar dengan tutup usianya Gus Dur. Saya berharap mudah-mudahan akan muncul tokoh baru dari kalangan Nahdlatul Ulama untuk melanjutkan perjuangan almarhum,’’ katanya di Jakarta kemarin.

Amien juga mencatat Gus Dur selama menjabat presiden berhasil mengubah lembaga kepresidenan menjadi lembaga yang tidak angker dan dapat diakses seluruh elemen bangsa. ’’Karena itu, kita ucapkan selamat jalan, semoga Allah menerima amal salehnya serta mengampuni kesalahan dan dosanya. Semoga Gus Dur mendapat husnulkhatimah,” tuturnya.

Amien yang sempat disebut-sebut terlibat perang dingin sejak lengsernya Gus Dur dari jabatan presiden tersebut mengaku hubungannya secara pribadi tetap baik. Setelah peristiwa itu, Amien dan Gus Dur tetap berkomunikasi dengan hangat, mayoritas ketika bertemu di ruang tunggu bandara. ’’Dulu waktu Indosat mau dijual ke Singapura, saya sempat berbicara setengah jam dengan Gus Dur. Enam bulan lalu, saya terakhir ketemu tetap ger-geran sambil ngrasani pemerintah sekarang. Jadi, tidak benar kalau disebut kami perang dingin,’’ tegasnya. (tom/noe/agm/ote/krl)

JAKARTA – Mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangungkusumo (RSCM) pada pukul 18.45. Gus Dur menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah sejak pukul 13.00 siang tadi dirawat intensif di ICU.

Wafatnya Gus Dur itu disampaikan asisten pribadi Gus Dur, Bambang Susanto. “Innalilahi wai inalilahi rojiun …telah meninggal dunia KH. ABDURRAHMAN WAHID(GUS DUR) di RSCM …Al-fatehah,” tulis Bambang dalam pesan pendek kepada JPNN.

Sebelumnya, kondisi kesehatan Gus Dur memang memburuk sepekan ini. Sejak dua hari lalu, Gus Dur juga sudah tidak lagi mau makan. Gus Dur sempat dijenguk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan dikabarkan Presiden SBY masih berada di ruang tempat Gus Dur dirawat ketika Gus Dur meninggal.

Selain keluarga dan kerabat dekat, sejumlah pejabat tinggi negara juga sudah berdatangani di RSCM. Menko Kesra Agung Laksono juga datang langsung. Meski demikian belum ada kepastian dimana dan kapan mantan ketua PBNU itu dimakamkan.

Gus Dur dilahirkan 4 Agustus 1940 di Jombang, Jawa Timur. Gus Dur meninggalkan seorang istri, Shinta Nuriyah dan empat putri.(zul/ara/jpnn)

Jakarta, Tribun – Tim dokter Kepresidenan membenarkan mantan presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur meninggal dunia pukul 18.45 WIB. Gus Dur mengalami komplikasi dan kritis pada pukul 18.15 WIB sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

Anggota tim dokter Kepresidenan, dr Jusuf Misbach, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, Rabu (30/12), mengatakan,Gus Dur dirawat sejak Sabtu (26/12). Kondisinya sempat membaik.
“Namun pada Rabu hari ini pukul 11.30 WIB kondisinya memburuk dengan komplikasi penyakit stroke, diabetes, jantung dan pada pukul 18.15 WIB kondisinya kritis,” ujarnya dikutip detikcom.

SBY membatalkan rencana kerjanya Kamis (31/12). Hal ini dilakukan untuk menghormati meninggalnya Mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Pesta terkait tahun baru juga dibatalkan untuk menghormati Gus Dur.
“Rencananya besok (hari ini), presiden akan melakukan kunjungan kerja ke Cipanas. Tapi acara itu dibatalkan untuk menghormati meninggalnya Gus Dur,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Bencana, Andi Arief.

Dari RSCM, jenazah Gus Dur disemayamkan di Ciganjur, tempat kediamannya selama ini.Pahlawan NasionalWarga nadliyin yang tergabung dalam PKB dan PPP mengusulkan Gus Dur agar menjadi pahlawan nasional. “Kami atas nama DPP PKB dan warga nahdliyin sangat kehilangan beliau. Kami minta kepada pemerintah untuk memberikan gelar pahlawan nasional dalam bidang demokrasi, pluralisme dan pejuang HAM kepada Gus Dur,” kata Ketua DPP PKB Marwan Jafar.
Menurut Marwan, Gus Dur adalah pemersatu Indonesia yang tak hanya disegani di level nasional, tetapi juga internasional. Gus Dur terbukti telah mampu memimpin NU dengan baik dan menjadi ketua dewan Syuro PKB.Usulan Gus Dur mejadi pahlawan nasional juga disampaikan oleh DPP PPP. Melalui Wakil Sekjen DPP PPP M Romahurmuzy, PPP secara resmi mengusulkan kepada pemerintah agar Gus Dur dianugerahi gelar pahlawan nasional.”DPP PPP menyatakan turut berduka cita atas wafatnya bapak bangsa KH Abdurrahman Wahid di RSCM. PPP mengusulkan kepada pemerintah untuk memberikan gelar pahlawan nasional atas peran Gus Dur yang luar biasa dalam membangun fondasi masyarakat sipil,” kata Romy.(lim)

Tribun Timur, Selalu yang Pertama

Ada peristiwa menarik?
SMS www.tribun-timur.com di 081.625.2233
email: tribuntimurcom@yahoo.com

Hotline SMS untuk berlangganan koran Tribun
Timur, Makassar (edisi cetak) : 081.625.2266.
Telepon: 0411 (8115555)

CIREBON – Ratusan Jamaah Pengajian Akar Jati Cirebon, gelar doa bersama dan tahlilan almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Masjid Assyuhada Desa Cipeujeh Wetan, Kecamatan Lemah Abang, Kabupaten Cirebon.

Setelah mendengar informasi wafatnya Gus Dur di sejumlah media elektronik, pimpinan jamaah Pengajian Akar Jati, KH Maman Imanul Haq, yang juga sebagai Dewan Syuro DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) langsung menginformasikan kepada ratusan jamaahnya dan menggelar doa bersama serta tahlilian yang di akhiri dengan pembacaan surat Yasin.Doa bersama dan tahlilan diikuti sekitar 500 jamaah pengajian Akar Jati yang secara spontan mendatangi Masjid Asyhuda. Almarhum Gus Dur dalam pengajian Akar Jati ini merupakan pembina sekaligus pengggas pembentukan kelompok pengajian ini.Jamaah Akar Jati yang berdatangan dari berbagai daearah di wilayah Cirebon masih melakukan tahlilan dan pembacaan surat Yasin yang dipimpin langsung pengasuh jamaah pengajian Akar Jati KH Maman Imanul Haq.Isak tangis jamaah Akar Jati pecah saat KH Maman memaparkan secara singkat kisah perjuangan mendiang Gus Dur semasa hidup. KH Maman pun, tidak kuasa menceritakan pengalaman bersama mantan Presiden RI ke 4 ini hingga meneteskan air mata saat menceritakan pengalaman dirinya dengan Gus Dur.

“Beberapa hari lalu, saya sempat bertemu dengan beliau. Saat itu Gus Dur sempat mengisyaratkan kepada saya bahwa dalam waktu dekat ini akan ada satu tokoh nasional yang sering sakit-sakitan bakal meninggal. Dia menceritakan hal itu saat berada di kantor PB NU di Jakarta,” papar Maman.Saat Gus Dur menyampaikan bakal adanya tokoh nasional yang meninggal, Maman tidak menaruh curiga bahwa hal itu bakal terjadi pada Gus Dur. Namun, setelah Gus Dur meninggal pada malam tadi dia mulai tersadar jika pernyataan yang disampaikan Gus Dur tersebut merupakan salah satu isyarat.Lebih lanjut Maman mengaku, pertemuan terakhir dirinya dengan Gus Dur pada 27 Desember lalu di Jakarta. Saat itu dia sempat menanyakan kondisi kesehatan Gus Dur. Dia hanya mejawab, “Saya bakal sembuh kok. Subhanaulllah Gus Dur memang memiliki semangat hidup yang luar biasa,” paparnya.

Dalam kesempatan itu Maman mengaku, pada pertemuan terakhirnya, Gus Dur sempat bercerita tentang kasus yang saat ini ramai dibicarakan yakni Century. Dalam kesempatan itu, Gus Dur sempat menyinggung jika kasus skandal Century hanya bisa diselesaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Dia hanya mengatakan, jika kasus Century hanya dapat di selesaikan oleh SBY sendiri. Hingga saat ini, saya belum bisa menangkap pesan yang disampaikan Gus Dur itu,” tegas Maman.Menurut Maman, banyak pesan dan cara pandang Gus Dur yang mesti di teladani. Dia menganggap Gus Dur merupakan sosok yang bisa masuk kepada berbagai komponen masyarakat.Sementara itu, di beberapa pondok pesantren di Cirebon seperti, Ponpes Kempek, Buntet Pesantre, para santri di tempat itu mayoritas melakukan doa bersama dan salat jenazah. Hanya saja, pelaksanaan doa bersama hanya diikuti oleh santri yang masih ada di pondok. Pasalnya, sebagian besar santri saat ini masih libur.

(Tantan Sulton Bukhawan/Koran SI/ram)

JAKARTA- Meninggalnya mantan Presiden Abdurahman Wahid atau Gus Dur menyisakan kesedihan bagi orang yang pernah dekat dengannya. Tak terkecuali dengan Inul Daratista.Pedangdut yang pernah dibela Gus Dur saat dicekal sejumlah ormas Islam ini menangis saat dihubungi okezone, Rabu (30/12/2009).

Sambil terisak, Inul menceritakan usai magrib tadi dia dibangunkan suaminya, Adam Suseno dan diberitahu bahwa mantan Ketua PBNU telah meninggal dunia di RSCM. “Saya kaget,” akunya.Inul awalnya berencana melayat Gus Dur ke rumahnya di Ciganjur. Namun, rencana tersebut dia batalkan. Dia khawatir jika melayat malam ini, maka dia akan berdesak-desakan dengan ratusan pelayat lainnya.

“Takut gak diterima. Jadi (melayat) besok saja,” pungkasnya.Diketahui, Inul yang terkenal berkat goyang gebornya sempat mengalami pencekalan di sejumlah daerah, khususnya Jawa Timur. Bahkan ormas Front Pembela Islam (FPI) juga ikut mencekal.Menghadapi hal ini, hanya mantan Ketua Umum PBNU ini lah yang membela Inul. Karena pembelaan ini, Inul merasa terlindungi. (uky)

Jakarta Berita wafatnya Mantan Presiden Republik Indonesia, Gus Dur memang mengejutkan. Para artis pun banyak berbela sungkawa lewat situs jejaring sosial, Twitter.

Kebanyakan dari mereka merasa kehilangan dengan meninggalnya Gus Dur. Ada juga yang mengungkapkan kenangan-kenangan dari Presiden Ke-4 Republik Indonesia itu.”Menurut gw beliau adl cendikiawan muslim sejati, nasionalis namun berfikiran sgt “internasional”. Open minded dan demokratis!”, jelas Meisya Siregar dalam akun Twitternya, Rabu (30/12/2009) malam.Beberapa artis mendengar kabar Gus Dur meninggal dari media massa. Sedangkan Vidi Aldiano mengetahi Gus Dur meninggal dari sahabatnya.Cut Memey pun turut berkabung untuk Gus Dur. “Bener, ada di breaking news di RCTI. RIP Gusdur…,” kata Cut Memey di Twitternya.

Selain Meisya dan Cut Memey, Fedi Nuril, Sherina, Wulan Guritno dan Tika Pangabean juga ikut menyumbang ucapan bela sungkawa di Twitter. “Info Headline, Satu Bapak Bangsa kita, Gusdur telah wafat pkl 18.45 yang lalu..Turut berdukacita..” jelas Wulan Guritno.Sosok Gus Dur tak hanya dekat dengan politisi, Mantan Ketua PBNU juga akrab dengan artis-artis Indonesia. Misalnya Ahmad Dhani yang mengaku mengagumi sosok Gus Dur. (ebi/fjr)

BANDUNG – Kapolda Jabar Irjen Pol Timur Pradopo mengajak wartawan mengheningkan cipta untuk almarhum KH Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur di Mapolwiltabes Bandung, Rabu (30/12/2009) malam sekira pukul 19.30 WIB.

Saat itu, wartawan sengaja berkumpul di Mapolwiltabes Bandung untuk mengikuti jumpa pers evaluasi akhir tahun yang digagas Polda Jabar.“Sebelum memulai acara, mari kita mengheningkan cipta sejenak untuk almarhum KH Abdurrahman Wahid yang meninggal hari ini. Semoga arwahnya diterima di sisi Allah SWT,” kata Timur di hadapan puluhan wartawan cetak dan elektronik, serta jajaran pejabat Polda Jabar dan Polwiltabes Bandung. Seluruh wartawan dan pejabat kepolisian kontan berdiri dan mengheningkan cipta selama sekitar 1 menit.

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid meninggal dunia di RSCM sekira pukul 18.45 WIB. Tim dokter Kepresidenan mengatakan, Gus Dur mengalami komplikasi penyakit stroke, diabetes, dan jantung. Sebelum meninggal dunia, Gus Dur sempat kritis pada pukul 18.15 WIB.Gus Dur dirawat sejak 26 Desember 2009 lalu. Kondisinya sempat membaik setelah menjalani perawatan. Namun, pada hari ini, kondisi Gus Dur sejak pukul 11.30 WIB memburuk dan kritis. Pada pukul 18.45 WIB, Gus Dur meninggal dunia. (mbs)

Rabu, 30 Desember 2009 | 20:28 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta -Pengacara senior dan rekan Gus Dur semasa masih berjuang di Forum Demokrasi, Todung Mulya Lubis, menyatakan dukanya yang dalam atas kepergian mantan Presiden RI yang keempat itu. “
“Kita kehilangan sosok negarawan yang memperjuangkan pluralitas bangsa. Seorang yang berjuang untuk moderasi dan toleransi sosial, beragama dan berbangsa,” katanya kepada Tempo, Rabu malam (29/12). “Jasanya tak akan pernah pupus dari memori kolektif bangsa ini.”Ungkapan duka juga disampaikan Direktur Eksekutif Imparsial Rachland Nashidik. Ia menyatakan wafatnya Gus Dur adalah kehilangan tak terkira bagi bangsa Indonesia, bagi perjuangan pluralisme, serta kebebasan beragama.Menurutnya, cita-cita dan perjuangan Gus Dur itu masih jauh dari mendekati selesai. Oleh karena itu, ia menyarankan agar pemerintah perlu bertindak benar dalam menghormati rasa kehilangan dan kesedihan ini dengan menyatakan perkabungan nasional bagi Gus Dur.

“Dengan pengibaran Bendera Merah Putih setengah tiang secara nasional,” katanya. Gus Dur atau Kiai Abdurrahman Wahid meninggal di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pukul 18.45 tadi. Hingga kini pihak keluarga masih bernding untuk menentkan lokasi pemakamannya.

INILAH.COM, Jakarta – Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Prabowo Subianto, akan menjenguk mantan presiden RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang masih berada di RSCM.

Ketua Umum Partai Gerindra Suhardi usai menjenguk Gus Dur di RS Cipto Mangunkusumo Minggu mengungkapkan, Prabowo kemungkinan akan menjenguk Gus Dur. “Mungkin iya. Ini saya mau berjumpa dengan beliau (Prabowo Subianto),” kata Suhardi, di Jakarta, Minggu (27/12).

Usai menjenguk Gus Dur, Suhardi mengungakapkan, kondisi mantan presiden tersebut berangsur-angsur pulih. “Beliau (Gus Dur) ingin jalan-jalan. Beliau juga masih bisa diajak berdiskusi. Terutama, tentang keadaan negara.”

Gus Dur dirawat di RS Cipto Mangunkusumo sejak Jumat 25 Desember kemarin untuk cuci darah rutin. Usai menjalani cuci darah di Gedung Central Medical Unit RS Cipto Mangunkusumo, Gus Dur harus tetap menginap untuk memperbaiki kondisi tubuhnya.

Gus Dur harus menginap di Ruang VVIP nomor 116 Gedung A, RS Cipto Mangunkusumo. Sebelum dirawat di RS Cipto Mangunkusumo, Gus Dur sempat menjalani perawatan medis di RS Jombang, Jawa Timur karena kelelahan setelah mengunjungi beberapa pondok pesantren di Jawa Timur. [*/jib]

INILAH.COM, Jakarta – Artis dan Presenter Kondang Dorce Gamalama menjenguk Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ke RSCM. Saat dijenguk, mantan presiden RI ini sedang tertidur pulas.

“Gus Dur kondisinya bagus. Tadi tidur,” ujar Dorce setelah membesuk di RSCM, Jakarta Pusat, Sabtu (26/12).Dorce menceritakan kepada wartawan, di ruang rawat Gus Dur ditemani oleh istrinya, Shinta Nuriyah. Gus Dur sedang sakit gigi. Sebab, ketua dewan syuro kebanyakan makan yang lezat-lezat.”Nah kata ibu, Gus Dur itu kena gigi. Gus Dur makan enak banget di suatu tempat, terus mampir lagi di suatu restoran yang enak banget, nah Gus Dur kena deh ususnya,” papar Dorce yang mengenakan busana muslim warna merah muda.Pria yang telah bertranseksual menjadi wanita itu, mengharapkan kesehatan Gus Dur dapat segera membaik. Dia juga mengaku sempat mengelus-elus kaki Gus Dur. “Kita berharap Gus Dur sehat, panjang umur. Alhamdulillah, saya tadi masuk ke dalam, saya elus-elus kakinya,” imbuhnya.

Dorce melanjutkan tidak ada selang yang terpasang di tubuh Gus Dur. Keterangan ini berdasarkan cerita yang didapat melalui istri Gus Dur.”Saya lihat tidur juga tidak pakai oksigen, nggak pakai infus, nggak pakai jarum-jarum suntikan. Tidurnya saja meluk guling,” ujarnya. [*/bar]

INILAH.COM, Jakarta – Meski belum tampak menjenguk, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar telah menelepon mantan presiden Abdurrahman Wahid. Percakapan keponakan dan paman itu berlangsung singkat.

“Ya sudah pasti ada telepon, Jumat (25/12) kemarin malam, keluarga beliau (Gus Dur) dari Jombang datang,” kata pengawal pribadi Gus Dur, Sulaiman kepada INILAH.COM, Jakarta, Sabtu (26/12).Sulaiman menuturkan tadi malam sekitar pukul 22.00 WB beberapa orang kerabat dari Jombang, Jawa Timur, datang menjenguk Gus Dur di RSCM Jakarta. Namun, ia tak melihat Muhaimin ada di antara rombongan.”Dia (Cak imin) menanyakan soal kondisi Bapak sekarang bagaimana, kan bagaimanapun juga itu pamannya,” kata Sulaiman.Belum ada kabar kapan Menagkertrans itu menjenguk Gus Dur di rumah sakit. “Belum tahu sampai kapan di RSCM, tunggu keputusan dokter, ini masih dalam proses penanganan hati-hati,” imbuhnya.

Tak ada hal serius terjadi pada tokoh PBNU itu. Gus Dur hanya perlu cabut gigi. Tetapi mengingat riwayat kesehatannya tidak cukup baik, dokter perlu telaten. “Beliau kan punya penyakit gula, darah tinggi, takutnya ada efek kemana-mana,” tandas Sulaiman [ikl/bar]

Ketua DPP PKB itu adalah Muamir Muin Syam. Ia tiba pukul 22.00 WIB sendiri tanpa didampingi pengurus PKB lainnya. Begitu tiba ia langsung menuju lantai 1, Gedung A RSCM, Jakarta, Jumat (25/12). Ketika dijenguk Gus Dur tengah beristirahat di ruangan VVIP nomor 116.

Hal ini dibenarkan asisten pribadi Gus Dur, Bambang Susanto. Politisi asal Brebes tersebut datang untuk menjenguk Gus Dur. Muamir merupakan pengurus PKB pertama yang datang menjenguk Gus Dur.

Menurut asisten pribadi Gus Dur, Bambang Susanto, Muamir datang hanya sebentar. “Dia ingin menjenguk Gus Dur. Karena beliau sedang istirahat, Setelah berbincang sebentar, akhirnya Pak Muamir pun pamit pulang,” ujarnya.

Mantan presiden Abdurrahman Wahid dirawat di ruangan VIP 116, Gedung A, RSCM. Gus Dur dirawat setelah sebelumnya cuci darah selama hampir lima jam sejak kedatangannya dari Surabaya. Saat ini, Gus Dur terpaksa di opname lantaran sakit giginya kumat. [jib]

Gus Dur akhirnya memilih rawat tinggal di RSCM lagi. Rencananya, Jumat (25/12) pukul 19.00, Gus Dur akan pulang ke Ciganjur. Tapi, rencana itu dibatalkan.

Hal ini disampaikan oleh istri Gus Dur, Ny Shinta Nuriyah. Kepada wartawan, Ny Shinta mengatakan bahwa malam ini, Jumat (25/12), Gus Dur akan menginap lagi di RSCM.Ketika ditanya sampai berapa lama menginap, Ny Shinta hanya menggeleng dan mengatakan:”Ya, itu terserah bapak saja. Dia maunya nginep di sini beberapa hari. Ya, terserah bapak. Dia memang suka datang ke sini. Nggak sakit juga dia datang ke sini (RSCM).”Setelah itu, Ny Shinta masuk menemani Gus Dur. Apa yang dikatakan istri Gus Dur itu dibenarkan oleh pengawal Gus Dur. Bahwa, Gus Dur memang sudah biasa datang ke RSCM.

”Gus Dur memang rutin ke RSCM. Biasanya tiga kali seminggu untuk cuci darah. Tiap Jumat juga Gus Dur ke RSCM,” kata asisten Gus Dur.[ims]

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar telah memecat adik Gus Dur, Lily Wahid. Kabarnya, pemecatan Wakil Ketua Dewan Syuro PKB itu membuat Gus Dur syok.

Namun, saat dikonfirmasi, PKB membantah sakit yang dialami Abdurrahman Wahid karena konflik internal partai. PKB juga membantah Gus Dur ngedrop karena pemecatan sang adik.”Bukan, ngga ada terkait dengan itu (konflik),” kata politisi PKB Marwan Djafar saat berbincang dengan INILAH.COM di Jakarta, Jumat (25/12).

Sebelumnya, DPP PKB yang dipimpin Muhaimin Iskandar telah resmi memecat secara aklamasi adik kandung Gus Dur Lily Wahid dari kepartaian. Pemecatan Lily terkait pengajuan Judicial Review Pasal 23 UU Kementerian Negara. Sementara PKB sendiri meyakini tidak ada pelanggaran hukum jika pasal tersebut dilanggar.”Jangan kaitkan sakit dengan urusan itu (pemecatan Lily Wahid),” tegas Marwan.

Karena, Gus Dur telah lama sakit, dan sempat beberapa kali koma. Mantan presiden RI ke empat itu punya komplikasi penyakit. “Karena sudah sepuh saja, gula dan kolesterolnya tinggi,” ujar dia.Apakah Muhaimin akan menjenguk Gus Dur? “Mendoakan pastilah, semoga Gus Dur cepat sembuh,” tandasnya. [Ikl/mut]

Ratusan nyala api dari lilin kecil yang ditempatkan di sekitar Tugu Yogyakarta menjadi pertanda rasa duka masyarakat di kota ini atas meninggalnya mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid.

Ratusan warga dari berbagai elemen masayarakat dan komunitas yang berbeda suku maupun budaya seolah menyatu untuk menyampaikan rasa dukanya di tempat yang menjadi ikon Yogyakarta itu, Kamis (31/12) dini hari.

“Tokoh seperti Gus Dur sulit tergantikan, dan mungkin sampai saat ini pun belum ada tokoh seperti almarhum,” kata Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (NU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Prof Dr Muhammad Maksum di sela kegiatan menyalakan 1.000 lilin untuk Gus Dur di Yogyakarta.

Menurut dia, Gus Dur adalah tokoh utama di Indonesia yang terus memperjuangkan keadilan tanpa membedakan suku dan budaya yang ada di negeri ini. Ia juga meyakini gelombang massa yang ingin menyampaikan rasa duka atas kepergian Gus Dur akan terus berlangsung dalam waktu yang lama, baik melalui aksi kepedulian atau dalam wujud doa bersama.”Bahkan tidak menutup kemungkinan kegiatan tersebut dilakukan di gereja maupun di kelenteng,” katanya.Namun demikian, menurut dia kepergian Gus Dur masih menyisakan banyak perjuangan yang harus dilanjutkan, di antaranya menegakkan keadilan di negeri ini. “Tetapi saya yakin perjuangan ini tidak akan berhenti, dan akan terus dilanjutkan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Tri Tunggal Romo Sapto yang juga hadir dalam aksi 1.000 lilin untuk Gus Dus tersebut mengatakan akan muncul Gus Dur-Gus Dur baru di Indonesia. “Gus Dur akan terus beregenerasi. Ia akan tetap ada,” katanya.

Dalam aksi tersebut sebuah foto Gus Dur saat masih menjabat Presiden Indonesia berkalungkan rangkaian bunga melati ditempatkan di kaki Tugu Yogyakarta. Disampingnya ada beberapa lilin, dan dupa yang dibakar, serta sekeranjang bunga mawar.Gus Dur meninggal dunia pada Rabu (30/12) pukul 18.45 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, karena komplikasi penyakit yang dideritanya. [*/mut]

Kuala Lumpur – Berita meninggalnya KH Abdurrahman Wahid atau biasa akrab disapa Gus Dur dengan cepat menyebar. Ucapan duka cita pun terus mengalir.Tidak saja di Indonesia, berita dan ucapan belasungkawa itu juga menyebar ke luar negeri termasuk di Malaysia. KBRI Kuala Lumpur menerima banyak ucapan belasungkawa dari masyarakat dan pejabat atas nama pemerintah Malaysia. Hal itu diungkapkan Minister Cousellor Pensosbud KBRI Kuala Lumpur Widyarka Ryananta, Rabu (30/12/2009).

“KBRI menerima banyak SMS ucapan takziyah untuk almarhum Gus Dur dari masyarakat Malaysia,” ujar Widyarka kepada detikcom. Widyarka mengatakan, pihaknya langsung menghubungi media-media Malaysia dan sejumlah pejabat Malaysia setelah pemberitaan wafatnya Gus Dur di sejumlah media Indonesia muncul. Semua pihak yang dihubungi, tambah dia, mengaku terkejut dan menyatakan belasungkawa atas kepergian mantan presiden RI itu untuk selama-lamanya.

“Bahkan ada media yang langsung membalas SMS mengatasnamakan rakyat Malaysia turut berduka cita. Kementerian Luar Negeri Malaysia bahkan menanyakan apakah KBRI akan membuka buku condolence di kedutaan, sebab mereka akan mengirim utusan,” ungkapnya.Selain itu, Widyarka juga mengatakan, sejumlah pejabat bahkan meminta nomor kontak langsung istri almarhum Gus Dur, Sinta Nuriyah untuk menyampaikan ucapan langsung serta mendoakan almarhum.

Sementara itu, media-media online Malaysia malam ini juga dengan cepat mengangkat berita meninggalnya Gus Dur. Kantor berita Bernama mengutip berita meninggalnya Gus Dur dari kantor berita Antara dengan judul ‘Bekas Presiden Indonesia Gus Dur Meninggal Dunia’. Situs Malaysiakini.com juga mengangkat judul ‘Mantan Presiden Gus Dur Pulang Ke Rahmatullah’. Begitupun dengan media online lainnya, bharian.com yang mengutip berita detik.com bahwa ‘Gus Dur Meninggal Akibat Pelbagai Komplikasi’. Ucapan belasungkawa juga disampaikan masyarakat Indonesia di Malaysia. Ketua PPI Malaysia Abdullah Abbas mengajak seluruh masyarakat Indonesia, khususnya pelajar Indonesia di Malaysia untuk mendoakan almarhum Gus Dur. “Kami keluarga besar PPI Malaysia sangat berduka atas wafatnya mantan presiden RI KH Abdurrahman Wahid. Kami mendoakan semoga arwah dan amal bakti beliau di terima di sisi Allah SWT,” ujarnya.

VIVAnews - Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Helmy Faishal Zaini, memiliki kenangan tersendiri kepada almarhum Abdurrahman Wahid. Menurutnya, mantan Presiden itu adalah tokoh yang gemar becanda.”Beliau memorinya luar biasa,” kata Helmy saat mendatangi RSCM, Jakarta, Rabu 30 Desember 2009.
Helmy menjelaskan, Gus Dur adalah sahabat dari ayahnya. Menurutnya, Gus Dur sering bercerita sering ke rumahnya. “Beliau sering tidur di rumah bapak saya,” kenang menteri asal PKB itu. “Dia juga sering becanda.”Helmy juga mengaku kaget saat mendengar meninggalnya Gus Dur. “Kita kehilangan orang besar, guru bangsa,” ujarnya. “Beliau adalah tokoh yang bisa menegakkan Islam dengan perdamaian, dengan santun, beragam. Beliau juga perintis kehidupan antarberagama.”

Helmy berharap arwah almarhum Gus Dur diterima di sisi Allah. Gus Dur meninggal setelah dirawat selama lima hari di Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo (RSCM). Gus Dur meninggal pukul 18.40, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjenguknya. Sebelum dibawa ke RSCM, Gus Dur sempat dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Jombang karena kelelahan saat ziarah ke makam ayahnya di Jombang, Jawa Timur.

BANDUNG – Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengaku kaget mendengar kabar wafatnya mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Selama ini Gus Dur tidak diketahui menderita penyakit berat.“Saya kaget. Ini sangat menyentak. Karena sebelum-sebelumnya tidak ada tanda-tanda beliau menderita sakit keras. Kalau tokoh-tokoh sebelumnya yang meninggal ada tanda-tanda menderita penyakit,” kata Heryawan kepada wartawan di Gedung Pakuan Bandung, Rabu (30/12/2009) malam.Di mata Heryawan, Gus Dur merupakan sosok tokoh yang berani berpikir kritis, dan mengeluarkan pendapat. Bahkan, kata dia, komentar-komentar Gus Dur kadang membuat orang senang dan tertawa. “Beliau berani mengeluarkan pendapat dan komentar-komentar. Makanya, tidak cocok jadi presiden karena tidak bisa menjaga kalimat. Tapi itulah beliau yang kita kenal. Berani berpendapat bebas,” kata Heryawan.

Heryawan sendiri mengaku tidak begitu mengenal dekat sosok Gus Dur. Dia mengaku terakhir bertemu Gus Dur sekira Mei 2008 di daerah Kalimantan Timur. Saat itu, ada pemilihan Gubernur Kalimantan Timur. PKB dan PKS berkoalisi dalam pilkada tersebut. “Yang paling berkesan, ya gaya bercanda beliau yang khas. Dalam setiap kesempatan, beliau kan selalu bercanda,” cerita Heryawan.Pada kesempatan tersebut, Heryawan mengimbau kepada warga NU di Jawa Barat agar mendoakan Gus Dur. “Kita doakan, mudah-mudahan amal baiknya diterima Allah SWT,” kata Heryawan.

Disinggung apakah akan menyempatkan diri melayat ke rumah duka, Heryawan mengaku sangat ingin. Namun, dia masih harus melihat jadwal kegiatan, karena besok merupakan akhir tahun.“Kitalihat saja nanti. Secara pribadi saya sangat ingin melayat. Karena kalau melayat itu baik. Tapi, saya juga harus melihat agenda kegiatan saya besok,” tandas Heryawan.

MAKASSAR – Sebanyak 100 orang peserta Dialog Akhir Tahun Pusat Studi Demokrasi Universitas Hasanuddin mengirimkan do’a bagi almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di sela pelaksanaan kegiatan.
Pengiriman do’a tersebut dipandu moderator Nasrun setelah dialog berlangsung sekira 15 menit berjalan. Kabar duka diterima salah seorang perserta Heny Handayani melalui pesan singkat yang langsung dikirim ulang ke moderator.”Kami meminta waktu sejenak untuk mengirimkan do’a bagi salah satu tokoh bangsa yang telah wafat beberapa saat lalu, Gus Dur di RSCM Jakarta. Salah seorang tokoh nasional mantan Presiden RI ke-4. Semoga arwah beliau diterima di sisi-Nya,” ajak Nasrun dalam acara yang digelar di Lantai 1 Rektorat Unhas, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar Rabu (30/12/2009) malam.Dialog Akhir Tahun bertajuk Ketidakadilan, Selebritas Baru di Indonesia itu menghadirkan dua orang pembicara dari akademisi Unhas.

Pembicara pertama Dosen FISIP Adi Suryadi Culla menyoroti kondisi kebangsaan saat ini. Menurut Adi, saat ini hukum di Indonesia tidak tegas. Banyak kasus yang tidak tuntas atau tidak tersentuh hukum.Gus Dur meninggal di RSCM setelah menjalani operasi gigi pada Senin 28 Desember kemarin. Kondisi Gus Dur sempat membaik, namun pada Rabu sore sekira pukul 18.45 WIB akhirnya mantan Presiden itu menghembuskan nafas terakhir.Yusuf Misbach, anggota tim dokter RSCM yang merawat Gus Dur mengatakan, mantan Presiden RI itu meninggal akibat komplikasi yang diderita Guru Bangsa ini. “Ini berkaitan dengan penyakit diabetes, ginjal, stroke dan jantung,” katanya.(ram)

MALANG, RABU - Kabar duka meninggalnya KH Abdulrahmad Wahid, langsung mendapat respon Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Malang, Umar Usman. Lelaki yang berprofesi juga sebagai dokter umum ini, menginstruksikan seluruh jajaran anak cabang dan ranting untuk menggelar Sholat Ghoib, pada Rabu (30/12) malam ini.Kabar meninggalnya mendiang mantan Presiden Republik Indonesia itu, diterima Usman melalui SMS pendek saat dirinya sedang bertugas di klinik medis miliknya di Kota Kepanjen, Kabupaten Malang, beberapa menit sebelum Gus Dur meninggal. Ia pun makin tercengang saat melihat tayangan tv, mengabarkan jika tokoh besar Nahdlatul Ulama itu menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta pukul 18.15 petang ini.

Menurut Umar, Gus Dur adalah tokoh besar NU yang tidak akan pernah bisa tergantikan. Perjuangannya dalam menegakkan kemanusian-kemanusian di Indonesia, adalah bukti jika keberadaanya sebagai bapak bangsa, layak mendapatkan predikat itu.”Semoga kami dan semua warga ansor serta NU di Kabupaten Malang, bisa meneruskan cita-cita beliau. Jasanya terlalu besar bagi kehidupan dan kemasalahatan umat,” papar Umar.Ia pun menambahkan, segai tokoh panutan yang tidak pernah tergantikan, Gus Dur adalah pahlawan kemanusian bagi rakyat kecil. “Perjuangan-perjuangan beliau untuk kemanusian sangat besar bentuknya. Semoga Allah membalas amal baiknya dan menempatkan Almarhum disisinya,” ungkap Usman saat ditelepon Rabu mala mini.Sementara itu, hingga malam ini, seluruh anak ranting dan cabang gerakan pemuda ansor di Kabupaten Malang akan melaksanakan sholat ghoib ditempatnya masing-masing untuk mendoakan Alamarhum Gus Dur. Ansor Kabupaten Malang pun rencananya akan menggunakan malam pergantian tahun yang tinggal satu hari kedepan, untuk tahlil akbar, bagi tokoh NU yang dekat dengan rakyat kecil dan berbagai golongan ini.
Sumber: beritajatim

SURABAYA–Yahya Staquf menyatakan bahwa meninggalnya Gus Dur sangat mengejutkan dan merupakan kehilangan besar bagi kalangan nahdliyin. Intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU) dan mantan juru bicara kepresidenan era Gus Dur ini mengaku terakhir bertemu almarhum pada Rabu pekan lalu dalam pertemuan dengan KH Mustofa Bisri di Rembang, Jawa Tengah”Saat itu beliau terlihat segar, mungkin karena habis cuci darah. Maka saya sangat terkejut ketika mendengar kabar beliau meninggal,” ungkap Gus Yahya saat ditelepon Republika dan sedang berada di Rembang untuk bersiap ke lokasi pemakaman Gus Dur di Jombang, Rabu (30/12) malam.”Beliau itu guru yang tidak ada tandingannya,” lanjut dia dengan nada terbata-bata, sedih.

Dia melihat Gus Dur sebagai orang yang sangat meyakini cita-cita Bung Karno, dengan kecerdasan dan kecerdikannya. ”Beliau menginginkan kemerdekaan Indonesia yang hakiki, selesainya masalah-masalah bangsa dan tegaknya keadilan dalam tata dunia,” tutur Gus Yahya.Mengenai sosok Gus Dur yang kontroversial, menurut dia, itu merupakan cara untuk menyiasati keadaan. ”Yang kita hadapi kan berupa kekuatan dan kekuasaan besar (hegemonik),” tandas Gus Yahya. asep nur zaman/kpo
JAKARTA–Ketua MPR RI Taufiq Kiemas melepas jenazah mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid untuk diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhirnya di sebelah utara pusara kakeknya KH Hasyim Asy’ari, Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Upacara pelepasan jenazah dilaksanakan secara militer di halaman kediaman almarhum Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, Kamis sekitar pukul 06.30 WIB.

Bertindak selaku inspektur upacara yakni Mayor Istono. “Saya Taufiq Kiemas menerima jenazah almarhum KH Abdurrahman Wahid untuk dimakamkan secara militer,” kata Taufiq saat upacara berlangsung. Setelah memberikan penghormatan, jenazah Gus Dur dibawa menuju ambulans untuk diberangkatkan ke Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU Halim Perdanakusuma. Lantunan tahlil dikumandangkan para pelayat mengiringi pelepasan jenazah Gus Dur. Para pelayat yang ikut melepas jenazah tampak tidak sanggup membendung kesedihannya saat mengantar jenazah pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menuju ambulans yang telah disiapkan sejak dini hari.Tampak hadir di antara pelayat, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, Menkominfo Tifatul Sembiring, dan sejumlah anggota DPR. Jenazah mantan Presiden Abdurrahman Wahid dijadwalkan diberangkatkan menuju Jombang, dengan menggunakan pesawat Hercules TNI AU C1341. ant/irf

Jakarta – Firasat wafatnya Gus Dur sudah terasa sejak Gus Dur berziarah terakhir ke makam kakek dan ayahnya di Tebu Ireng, Jombang. Adik kandung Gus Dur KH Salahudin Wahid yang juga pengasuh Ponpes Tebu Ireng mengaku dirinya sudah diberi sinyal dan firasat saat Gus Dur ke Jombang.”Gus Solah bercerita pada kami beberapa hari lalu di kediamannya. Gus Solah kaget dan heran tiba-tiba Gus Dur bilang, ‘dik mengko tanggal 31 jemputen aku nang kene’ (Dik, nanti tanggal 31 jemput saya di sini,” kata salah satu ketua PP GP Ansor Maskut yang mendapat cerita dari Gus Solah. Maskut menyampaikan kepada detikcom Kamis (31/12/2009).

Menurut Maskut, Gus Solah juga sudah merasa tidak enak saat Gus Dur memanggil dirinya dengan sebutan ‘dik’ (adik). Sebab, selama ini panggilan Gus Dur kepada Gus Solah selalu ‘Los’ kebalikan dari ‘Sol’ panggilan akrab Salahuddin Wahid sejak kecil.”Gus Solah juga mengaku rasa herannya saat Gus Dur memanggil dirinya dengan ‘dik’. Padahal seumur-umur kalau memanggil Gus Solah dengan ‘Los’. Atau memanggil Gus Umar dengan pangilan ‘Ram’, kebalikan Mar,” paparnya. Pernyataan Gus Dur ini dimaknai Gus Solah sebagai bentuk wasiat. Karena itu sejak awal, Gus Solah menegaskan bahwa bani Hasyim memang kalau meninggal dimakamkan di Tebu Ireng. Apalagi tokoh sekaliber Gus Dur.

TEMPO Interaktif, Jakarta – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Agiel Siradj mengatakan kondisi Gus Dur memang sudah memburuk sejak beberapa hari terakhir. Said Agiel sempat menjenguk Gus Dur kemarin. Menurutnya saat itu kondisi mantan presiden periode 1999-2001 ini sudah semakin parah.
“Saya kemarin menengok beliau. Saat itu kondisinya sangat parah,” KATA DIA ketika dihubungi. Saat itu ia masih sempat bercakap-cakap dengan mantan ketua dewan syuro Partai Kebangkitan Bangsa ini. Namun, kata Said, meski masih bisa bercakap-cakap, Gus Dur sudah tidak fokus lagi.Said Agiel mengatakan mendapat kabar tentang meninggalnya koleganya itu dari salah satu anak Gus Dur tak lama setelah ia berpulang pada pukul 18.45 waktu Indonesia bagian barat. Said mengatakan ia segera menuju ke Rumah Sakit Ciptomangunkusumo segera setelah mendengar kabar tersebut.Soal kapan dan di mana gus Dur akan dimakamkan, Said belum mengetahui secara pasti. “Sekarang saja saya sedang ke rumah sakit,” katanya.

Sekitar satu minggu yang lalu Gus Dur dilarikan ke rumah sakit di Jombang setelah perjalanannya ke Jawa Timur akibat menderita berbagai komplikasi termasuk ginjal. Setelah itu ia sempat dirawat di Surabaya sebelum akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit Ciptomangunkusumo untuk menjalani cuci darah.

Pesan Terakhir Gus Dur Soal Fundamentalisme

Sosbud / Rabu, 30 Desember 2009 22:29 WIB

Pesan Terakhir Gus Dur Soal Fundamentalisme

Metrotvnews.com, Jakarta: Menjelang akhir hidupnya, kepedulian mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid terhadap persoalan toleransi dan kerukunan umat beragama, tetaplah besar sehingga menitipkan pesan pada tokoh Katolik untuk memperlakukan kaum fundamentalis secara lebih bijak.Romo Benny Susetyo, Sekretaris Eksekutif Hubungan Antar Agama KWI di Jakarta, Rabu malam, merujuk pada pertemuan antara Ketua Dewan Kepausan untuk Dialog antar Agama Vatikan Kardinal Jean Louis Tauran dengan KH. Abdurrahman Wahid pada November 2009.

“Saat itu Gus Dur berpesan agar kaum fundamentalis jangan dijauhi tetapi harus dicintai,” katanya mengutip salah satu pesan Gus Dur.Menurut Romo Benny, Gus Dur adalah tokoh besar bagi bangsa Indonesia. Ia sangat memperhatikan isu-isu pluralisme dan mementingkan arti dari kejujuran. Selama hidupnya, Gus Dur dikenal sebagai sosok yang sangat mendedikasikan jiwa dan raganya untuk bangsa Indonesia.

“Menurut saya, hidup Gus Dur semata-mata untuk bangsa dan negara. Beliau meninggalkan kepentingan pribadinya untuk bangsa, orang yang mencintai bangsa dan menyediakan waktu untuk bangsa,” kata Romo Benny yang merupakan teman dekat dari almarhum Gus Dur.Gus Dur juga dikenal sebagai sosok yang hangat dan tidak pernah lepas dari guyonan-guyonan yang menyegarkan. Guyonan itulah menjadi ciri khas Gus Dur yang selalu diingat.Lebih lanjut Romo Benny mengatakan, meski didera sakit, Gus Dur masih sempat mengucapkan Selamat Natal padanya melalui telepon pada 25 Desember 2009.”Pada 25 Desember, beliau menghubungi saya untuk mengucapkan Selamat Natal. Saat itu Gus Dur sempat mengeluh karena sakit gigi, tapi tetap saja Gus Dur bilang masih sehat,” katanya.Dalam perbincangan tersebut, Romo Benny mengaku menerima pesan dari Gus Dur yaitu untuk menjaga Shinta Nuriyah Wahid, istri Gus Dur.”Beliau bilang titip ibu (Shinta Nuriyah Wahid),” katanya.

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid meninggal dunia pada usia 69 tahun karena sakit di RSCM Jakarta, Rabu pukul 18.40 WIB.Abdurrahman Wahid menjabat Presiden RI keempat mulai 20 Oktober 1999 hingga 24 Juli 2001. Putra pertama dari enam bersaudara itu lahir di Desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 4 Agustus 1940.
Gus Dur menikah dengan Shinta Nuriyah dan dikaruniai empat putri yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh (Yenni), Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari. (Ant/ICH)

Surabaya – Salah satu yang tak bisa melupakan Gus Dur adalah keluarga Alm Abdul Mudjib Manan. Mereka merasa kehilangan dengan meninggalnya Gus Dur. Keluarga Abdul Mudjib masih menyimpan peninggalan Gus Dur: kopiah ‘presiden’.

Saat menjadi Gus Dur menjadi presiden, Abdul Mudjib Manan pada tahun 1 Desember 2000 diangkat menjadi sekretaris presiden setelah sebelumnya menduduki posisi staf ahli.Apalagi setelah Gus Dur lengser, kopiah yang biasa dikenakan saat menjadi presiden diserahkan ke Abdul Mudjib Manan. Kopiah berwarna coklat yang terdapat tulisan Presiden RI dan Gus Dur diberikan sebagai kenang-kenangan.Sejak tahun 2001 hingga sekarang, kopiah yang dikenakan Gus Dur saat mengeluarkan deklarasi dekrit pembubaran DPR itu disimpan di lemari keluarga Alm Abdul Mudjib Manan yang sekarang tinggal di Perumahan Delta Sari, Waru, Sidoarjo, Jawa Timur.Abdul Mudjib Manan meninggal 26 Juni 2006. “Tidak ada yang tahu kalau kopiah bersejarah ini diberikan ke bapak. Mungkin hanya keluarga saja yang tahu,” kata Achmad Seno Aldinata, putra kedua Alm Abdul Mudjib Manan saat ditemui detikcom di rumahnya, Rabu malam (30/12/2009).

Bagi Seno, demikian biasa dipanggil, sampai kapanpun keluarganya akan menjaga kopiah tersebut hingga kapanpun. “Ini pesan bapak agar kopiah yang diberikan setelah GuS Dur lengser ini dijaga,” katanya didampingi ibundanya, Hj Sri Safarin.
Menurut Seno, almarhum bapaknya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Gus Dur sejak remaja. “Saat kuliah di Kairo pun satu kamar. Istilah orang Jawa sakliwetan,” kata Seno mengenang. Namun setelah usai kuliah keduanya sempat putus kontak.”Saat Gus Dur jadi presiden dan acara di Surabaya menyatakan jika kangen temannya yang tinggal di Surabaya. Lalu setelah disebutkan namanya, kemudian stafnya melacak nama bapak saya,” kata Sri Wahyuni alias Yuyun, putri pertama almarhum menambahkan.Setelah dilacak, akhirnya Abdul Mudjib Manan yuang menjadi salah satu dosen di IAIN Sunan Ampel bisa bertemu Gus Dur dan akhirnya diajak ke Jakarta. Menurut Yuyun, kopiah yang terbuat dari anyaman akar ini menjadi barang yang berharga bagi keluarganya.

“Kita sangat kehilangan Gus Dur. Gus Dur telah membuat sejarah bagi keluarga saya,” katanya.

Menariknya, sebagai otentikfikasi kopiah tersebut Gus Dur memberikan surat penyataan yang ditandatangani  24 Juli 2001. Dalam selembar surat bermaterai Rp 6000 itu, Gus Dur menyatakan telah memberikan peci kepada Abdul Mudjib Manan.
Di surat tersebut ditulis ciri-ciri peci tersebut antara lain: terbuat dari bahan sejenis akar-akaran, di kedua sisi tertulis Gus Dur dan Presiden RI. Serta “Peci tersebut saya pakai pada saat dibacakan dekrit Presiden RI pada tanggal 23 Juli 2001″

“Jadi kita tidak mengaku-aku, karena ini ada surat penyataan yang langsung ditandatangani Gus Dur,” pungkas Seno.(bdh/bdh)

JAKARTA–Berita meninggalnya Gus Dur menghiasi media on line internasional. Semua kantor berita asing mengabarkan mantan Presiden RI keempat ini meninggal.
‘Former Indonesian President Wahid Dies at 69′ demikian judul di laman harian terkemuka, New York Times. Times menulis, Gus Dur berjasa memerintah Indonesia dalam kondisi bergejolak usai runtuhnya Orde Baru.Times juga menyebut Gus Dur sebagai pejuang demokrasi dan Islam moderat. Sementara BBC mengenang Gus Dur sebagai Presiden RI yang pertama kali dipilih oleh DPR, pascaturunnya Soeharto.

Menurut BBC, Gus Dur terkenal dengan sikap toleransi beragama dan politiknya yang moderat. Gus Dur tak bisa berkuasa lama, lanjut BBC, karena gagal mengatasi krisis ekonomi dan konflik di sejumlah provinsi.Berita serupa juga datang dari Kantor Berita Bernama dan New Strait Times asal Malaysia, Strait Times dari Singapura. SEmentara di laman Al Jazeera, berita wafatnya Gus Dur belum muncul. evy/kpo

VIVAnews - Kabar meninggalnya mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab dipanggil Gus Dur  pada pukul 18.45 WIB cukup mengagetkan warga Solo. Sejumlah warga Solo pun langsung menggelar acara doa bersama di Bundaran Gladag, Solo.Doa bersama yang diikuti dari berbagai elemen masyarakat, di antaranya tokoh agama, kaum difabel, mahasiswa, olahragawan dan seniman. Banyak simpati dari masyarakat Solo maupun pengguna jalan yang secara kebetulan melewati bundaran tersebut. Mereka langsung ikut bergabung untuk ikut berdoa bersama.Beberapa batang lilin dinyalakan dan dipegang oleh masing-masing peserta. Mereka tampak terhanyut sedih ketika mendengarkan sebuah lagu yang berjudul Gugur Bunga yang dinyanyikan oleh salah satu peserta. “Guru bangsa kita, yaitu Gus Dur telah wafat,” ujar penggagas acara doa bersama, Mayor Haristanto dengan nada sedih, Rabu, 30 Desember 2009.

Selanjutnya, dia menjelaskan, doa bersama yang dilakukan ini menjadi momentum untuk mengenang figur Gus Dur. “Meskipun beliau merupakan tokoh yang kontroversial, tetapi dasar perjuangannya sebenarnya adalah untuk kepentingan bangsa  dan negara Indonesia. Hal inilah yang sepatutnya disadari oleh bangsa kita,” ujarnya.Selain melakukan doa bersama, aksi simpatik yang diikuti oleh sekitar 20 orang tersebut juga diselingi dengan pembacaan puisi-puisi. Selain itu, beberapa peserta juga membentangkan poster yang mengenang perjuangan dan jasa mantan Ketua PBNU ini bagi bangsa Indonesia. “Kita benar-benar merasa kehilangan bapak bangsa,” ujarnya.Doa yang dibacakan Ustad Abdullah Sungkar itu, mendoakan supaya arwah dan amal ibadah Gus Dur semasa hidup diterima di sisi-Nya. Selain itu, dia juga berpesan supaya semangat persatuan bangsa dan perjuangan demokrasi yang pernah dilakukan Gus Dur tetap terpelihara dengan baik.

“Figur Gus Dur sebagai pemersatu bangsa dan pembela kaum minoritas perlu ditauladani oleh seluruh bangsa Indonesia,” kata dia.

TEMPO Interaktif, Madiun – Ketua Nahdatul Ulama Kabupaten Madiun Mustaqim Basyari menginstruksikan warga Nahdlatul Ulama untuk menggelar Salat Gaib bagi meninggalnya mantan presiden Indonesia Abdurrahman Wahid.

“Bisa di masjid-masjid hingga musallah kampung,” kata dia, Rabu (30/12) malam. Salat Gaib, bisa dilakukan secara berjamaah. Biasanya, Salat ini dilakuan usai melakukan Salat Jumat dengan jamaah yang lebih besar. Basyari mengaku cukup bersedih mendengar kematian ulama yang dikenal sebagai bangsawan ini. Gus Dur, kata dia, merupakan ulama yang cukup ulet dalam memperjuangkan nilai-nilai keagamaan. Menurut dia, sebagai seorang muslim, tentu sangat bersedih dengan kepergian Ulama. Bahkan, seorang muslim yang tidak bersedih dengan kepergian Ulama bisa disebut sebagai orang munafik. “Karena Ulama adalah pewaris Rasulullah,” kata dia.

Lomba Karikatur Gus Dur

Orang kontroversial seperti GusDur selalu menarik perhatian setiap orang, baik tua mapun muda. Sehingga tak heran jika setiap orang memiliki pandangan tersendiri tentang sosok GusDur. Itulah yang terungkap dalam lomba melukis karikatur GusDur yang di adakan di Gresik Jawa Timur.

Sepak terjang GusDur yang sering kontroversial ternyata memiliki daya tarik tersendiri bagi sebagian orang. Sosok GusDur, ibaratnya adalah samudera yang memiliki sejuta mutiara. Tak heran, jika GusDur masih menjadi idola di kalangan masyarakat bawah.Inilah yang terlihat dalam lomba melukis karikatur GusDur, yang di adakan Pengurus Takmir Masjid Mambaul Falah Kelurahan Sidomoro Kecamatan Kebomas.

Lomba yang di ikuti 47 peserta ini, terdiri dari berbagai usia baik laki-laki maupun perempuan.

berbeda dengan kebanyakan para tokoh, GusDur memiliki kemampuan multi dimensi. Di samping sebagai tokoh politik, GusDur adalah seorang seniman, olahragawan, sejarawan, pengarang buku, ulama dan lain sebagainya.Dengan kompleksitas kemampuan GusDur itulah, masyarakat sering alergi dengan segala keputusan yang di ambilnya. Meski terkesan plinplan, namun, tujuan GusDur selama ini jelas, yakni persatuan dan kesatuan bangsa.Hal ini pulalah yang tergambar dalam sebagian lukisan karikatur peserta. di sini, GusDur mampu mengayomi suku minoritas hingga bisa hidup sejajar dengan suku lainnya.“Disamping sebagai ulama. Gusdur ternyata mampu mengayomi kelompok minoritas, termasuk yang berbeda agama” ujar Komang, salah seorang peserta lomba.Tak hanya itu, sejumlah peserta ada yang menggambar karikatur GusDur sedang memainkan wayang kulit bahkan ada pula yang melukis GusDur sedang bermain layang-layang.

Apapun hasil lukisannya, karikatur buatan peserta ini menunjukkan GusDur masih menjadi tokoh favorit di kalangan masyarakat akar rumput.Meski saat ini GusDur sedang di pojokkan oleh hampir semua kalangan, termasuk para kiai, tokoh pemerintahan hingga partai yang didirikannya sendiri, namun, GusDur tetap tegar dan terus maju. Inilah yang melatarbelakangi penitia untuk mengadakan lomba karikatur GusDur.“Saat ini, Gusdur di kucilkan oleh bekas orang dekatnya sendiri. Maka, kami berinisiatif memunculkan dukungan kembali pada Gusdur” jelas Ainur Rofiq, Ketua Panitia.

Bagi para peserta, melukis karikatur GusDur bukanlah hanya sekedar melukis, namun, labih dari itu, adalah berusaha memaknai karakter GusDur yang kontroversial.

Doakan Gus Dur, Umat Budha Nyalakan 1.080 Lilin

Di Vihara Budha Dhipa, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, umat Budha mendoakan kepergian Gus Dur. Mereka percaya, dalam hitungan waktu 49 hari ini, arwah Gus Dur harus terus didoakan karena masih dalam proses reinkarnasi.

BANYUMAS – Di Vihara Budha Dhipa, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, umat Budha mendoakan kepergian Gus Dur. Mereka percaya, dalam hitungan waktu 49 hari ini, arwah Gus Dur harus terus didoakan karena masih dalam proses reinkarnasi.

Dalam doa ini, umat Budha juga menyalakan sebanyak 1.080 lilin sebagai arti jumlah tasbih umat budha yang berisi 108 dikalikan sepuluh bilangan tahun sekarang.

Tak hanya itu, lilin-lilin ini juga sebagai simbol agar arwah Gus Dur diberi penerangan selama dalam proses reinkarnasi tersebut. Menurut Bhiksu Bhadra Ruci, pemimpin doa di Vihara Budha Dhipa mengatakan, dia meyakini jika Gus Dur tidak memerlukan doa lagi dari umat lain. Namun karena kecintaan mereka terhadap Gus Dur, maka umat Budha ini dengan ikhlas mendoakan Gus Dur.

“Kami Umat Budha percaya, jika dalam waktu selama 49 hari ini arwah Gus Dur masih dalam reinkarnasi. Artinya dia memerlukan doa-doa agar diberi penerangan dalam perjalanannya ke alam baka,” ujar Bhiksu Bhadra Ruci, Pemimpin Doa Vihara Budha Dhipa, Minggu (3/1/2010).

Dalam Pimpinan Pusat Majelis Budhayana Indonesia (PP MBI), Gus Dur sendiri menjabat sebagai salah satu anggota dewan konsultatif. Hal inilah yang juga mendasari umat Budha merasa dihormati oleh Gus Dur. Sebagai timbal baliknya, mereka akan terus mendoakan Gus Dur hingga hari ke-49 wafatnya Gus Dur, secara terus menerus.

Dalam doa ini, umat Budha juga memajang foto Gus Dur di tengah-tengah lilin yang menyala. Mengenai kepergian Gus Dur untuk selama-lamanya dan terkesan mendadak itu, diakui umat Budha di Purwokerto sangat mengejutkan dan menyimpan duka mendalam.

BOGOR | SURYA Online - Umat Katholik bersama badan sosial lintas agama (Basolia) Kota Bogor, Jawa Barat (Jabar), mengisi pergantian tahun dengan berdoa untuk mantan presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Gereja Katedral di kota itu, Kamis (31/12/2009) malam.

Tokoh lintas agama yang ikut berdoa bersama itu antara lain H Zaenal Abidin mewakili umat Islam, Darwin Darwaman dari Protestan, Johan Freinky dari Budha, I Wayan Suastika dari Hindu, Thung Tjong He dari Konghucu, dan pemimpin umat Khatolik Kota Bogor Mgr Michael Angkur.

Menurut Mgr Michael Angkur di Bogor Jumat (1/1/2010), umat lintas agama di Kota Bogor telah memiliki wadah silaturahim dan komunikasi yang sudah melembaga dalam Basolia.

Basolia memiliki banyak kegiatan baik terkait dengan pencerahan umat melalui penguatan toleransi dalam kehidupan beragama, membangun tradisi saling menghormati atas keragaman dan perbedaan keyakinan hingga menggagas kegiatan sosial untuk masyarakat tanpa dibatasi agama, ras, maupun golongan.

Wafatnya Gus Dur merupakan kehilangan besar bagi para penggiat Basolia, karena semasa hidup ia dinilai telah banyak memberikan teladan dan inspirasi bagi keharmonisan hubungan antarumat beragama.

Hal itulah yang mendorong pihak Basolia bersama Gereja Katedral untuk menggelar bersama, yang dipusatkan di gereja terbesar di Kota Bogor yang berlokasi di Jalan Kapten Muslihat tersebut.

“Kami ikut merasa kehilangan Gus Dur. Beliau guru dan sosok bapak bangsa yang penuh teladan, yang memiliki andil besar dalam menciptakan kerukunan antarumat beragama di Indonesia,” tegas Michael Angkur.

Zaenal Abidin dari Islam menegaskan, Gus Dur merupakan tokoh besar bangsa Indonesia yang sulit dicarikan tandingan atau penggantinya. Gus Dur bukan hanya Nahdlatul Ulama (NU) atau umat Islam saja, namun telah menjadi milik bangsa Indonesia yang terdiri dari ragam agama dan ras.

“Gus Dur merupakan benteng pemersatu kehidupan umat beragama di Indonesia. Semua elemen bangsa merasakan kehilangan beliau. Tak heran bila kepergiannya menjadi duka bagi semua,” ujarnya.

Doa bersama yang digagas Basolia bersama Gereja Katedral sebagai bentuk penghormatan terakhir atas jasa besar yang pernah disumbangkan Gus Dur semasa hidup. Sumbangan nyata yang diberikan Gus Dur kepada bangsa ini tidak akan pernah lekang oleh waktu, sehingga hingga kapanpun akan selalu dikenang umat manusia.

“Kami merasa sangat kehilangan Gus Dur. Sosok beliau tidak ada penggantinya. Namun kami yakin cita-cita besar perjuangan beliau akan dilanjutkan oleh semua elemen bangsa, karena semua pihak sudah menyadari pentingnya hidup berdampingan penuh toleransi dalam suasana keragaman,” katanya.

Ketua Makin Kota Bogor, Thung Tjong He menambahkan, umat Konghucu menyampaikan duka yang mendalam atas wafatnya Gus Dur. Jasa yang pernah diberikan tidak akan pernah dilupakan umat Konghucu hingga kapanpun.

Semasa menjadi presiden, Gus Dur menetapkan hari raya Imlek Konghucu sebagai hari libur nasional. Selain itu Gus Dur juga mengeluarkan kebijakan mengakui Konghucu sebagai agama yang sah yang diakui negara.“Kami mendo`akan yang terbaik bagi Gus Dur. Semoga beliau mendapatkan surga tuhan,” katanya.

ant

F-PKB Kirim Surat Permohonan Angkat Gus Dur Sebagai Pahlawan Nasional

JAKARTA | SURYA Online - Menyikapi dorongan publik yang menginginkan agar mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ditetapkan sebagai pahlawan, Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) mengambil langkah konkret dengan mengirimkan surat resmi permohonan pengangkatan Gus Dur sebagai pahlawan kepada Presiden RI, Senin mendatang.

“Fraksi PKB menyadari bahwa desakan publik untuk menjadikan Gus Dur sebagai pahlawan nasional kian menguat, meluas, dan merata di semua lapisan sosial,” ujar Ketua Fraksi PKB Marwan Ja’far, Minggu (3/1/2010), kepada Kompas melalui layanan pesan singkat.

Pengajuan ini sesuai dengan tata cara pengusulan dan pengajuan gelar pahlawan sebagaimana diatur dalam Pasal 30 UU No 20/2009 tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan.

“Bagi F-PKB, almarhum sangat memenuhi syarat, baik umum maupun khusus, seperti yang diatur dalam Pasal 24, 25, dan 26 UU No 20/2009,” ujar Marwan.

F-PKB, lanjutnya, juga mendorong pimpinan DPR sebagai representasi DPR secara institusional, dan semua fraksi di DPR melakukan langkah serupa, yaitu mengirimkan surat resmi kepada pemerintah yang pada intinya mengusulkan agar Gus Dur diberi gelar sebagai pahlawan nasional.

“Hanya melalui mekanisme inilah Presiden akan memiliki cukup data dan alasan secara legal formal untuk segera memproses pemberian gelar pahlawan terhadap guru bangsa KH Abdurrahman Wahid,” ujar Marwan.

F-PKB, tambahnya, mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mengusulkan Gus Dur sebagai pahlawan nasional, dan juga kepada pemerintah yang telah merespons dengan baik tentang pemberian gelar tersebut.

hin/kcm

LOWOKWARU | SURYA – Tokoh Muhammadiyah, Prof Dr Amien Rais menyatakan dukungan penuhnya terhadap pencalonan almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai pahlawan nasional. Dukungan ini disampaikan Amien usai menjadi pembicara dalam sebuah kuliah tamu di Universitas Muhammadiyah Malang, Sabtu (2/12).

“Saya rasa itu tidak usah dipertanyakan lagi. Setiap mantan presiden di negara ini secara otomatis layak diberi gelar pahlawan nasional,” kata mantan Ketua MPR di era kepresidenan Gus Dur ini.Bahkan, Amien menilai, penyematan gelar pahlawan nasional untuk Gus Dur adalah sebuah kewajiban. Menurutnya, kelayakan itu sudah sepatutnya diberikan untuk segala pengorbanan tenaga, pemikiran, dan waktu, yang telah diberikan untuk negara.

Lalu, apa peran terpenting Gus Dur? “Ah, banyak sekali, tidak usah ditanya yang demikian,” tukas Amien.Pria yang ’melengserkan’ Gus Dur dari kursi presiden ini tak menyangkal seputar kehidupan politik mereka yang selalu berseteru. Namun, ia mengatakan hal tersebut sebagai sebuah proses yang wajar dijumpai dalam kehidupan demokrasi. ”(Perseteruan) Itu tidak ada hubungannya dengan ini. Dalam negara demokrasi, perbedaan pandangan itu wajar. Tapi, di luar itu, persahabatan tetap harus dibina. Tetap saja kalau ada mantenan kami masih njagong sama-sama,” katanya.

Dalam orasi ilimiah yang disampaikannya ke seluruh mahasiswa baru angkatan 2009 kemarin, Amien menyampaikan kekhawatirannya terhadap lima masalah terbesar dunia saat ini. Kelima masalah itu adalah, meledaknya populasi, kekurangan pangan, krisis energi, kehancuran ekologi, serta krisis kemanusiaan.
Usai mengisi kuliah tamu, Amien mengatakan ia akan melanjutkan perjalanan dengan bertakziah ke keluarga besar Gus Dur. ”Ya, setelah ini saya ke sana,” ujarnya singkat. ab

BOGOR  | SURYA Online - Mahasiswa Kota Bogor, Jawa Barat (Jabar), mendukung penuh Presiden RI keempat, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Pahlawan Nasional, kata aktivis mahasiswa Instistut Pertanian Bogor (IPB), Siti Frihatin.

“Anugerah pahlawan nasional bagi Gus Dur sudah seharusnya dilakukan negara. Hal itu sebagai konsekuensi atas jasa yang telah diberikannya kepada bangsa ini,” kata mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB itu di Bogor, Minggu (3/1/2010).

Frihatin melanjutkan, pengakuan terhadap jasa besar Gus Dur bagi negara ini telah ditunjukkan oleh segenap elemen bangsa dan sangat besarnya simpati masyarakat kepada Gus Dur, hingga ke tempat peristiahatan terakhir di Pesantren Tebuireng sebagai tanda pengakuan tulus masyarakat akan jasa besar Gus Dur.

“Saya kira pengakuan tertinggi terhadap anugerah pahlawan seorang tokoh justeru berasal dari masyarakat. Masyarakat sudah melakukannya untuk Gus Dur,” tegasnya.Hal senada diutarakan Akhmad Khoirul Umam, mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Ibn Khladun (UIKA) Bogor yang mendesak pemerintah untuk segera menganugerahkan pahlawan nasional kepada Gus Dur.“Jasa Gus Dur bagi bangsa ini, bahkan dunia internasional, teramat besar. Sudah sewajarnya pemerintah menganugerahi Gus Dur dengan tanda jasa pahlawan nasional,” kata alumnus Pesantren Daarul Rahman Jakarta ini.Ismat, tokoh Muslim Bogor menambahkan, turut mendukung rencana pemerintah memberikan anugerah Pahlawan Nasional kepada Gus Dur.“Anugerah pahlawan nasional terlalu kecil untuk tokoh sekaliber Gus Dur, mengingat besarnya jasa yang diberikan bagi dunia internasional, terutama dalam konteks toleransi antarumat beragama, perdamaian antarbangsa hingga masalah kemanusiaan universal,” kata Ismat.

ant

Gus Dur, Dari Kursi Pijat sampai Lagu Trio Macan

KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Dur, telah berpulang. Namun, beberapa barang pribadinya masih berada di ruang kerjanya, Kantor PBNU, kawasan Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (2/1), untuk mengingatkan kita padanya.

Seorang petugas keamanan Kantor PBNU, Chairul Taufik, hapal benar apa yang ada di dalam ruang kerja yang kini tertutup rapat dan digembok itu. Menurutnya, saat Gus Dur masih rutin berkantor di PBNU, ia memanjakan dirinya dengan beberapa barang pribadi, seperti kursi pijat listrik, tape, dan sebuah televisi. Barang-barang itu kini masih berada di ruang kerja Gus Dur.“Kursi kerja bapak bisa mijet otomatis. Jadi, kalau bapak pegal-pegal, kursinya tinggal dihidupin untuk mijet,” kata Chairul Taufik saat ditemui di Kantor PBNU, Sabtu (2/1).

Ia menambahkan, sebenarnya ada satu lagi barang pribadi Gus Dur, yakni audio book lengkap dengan headset-nya. Untuk barang ini, oleh Gus Dur selalu dibawa ke mana pun dia bepergian.Karena kedekatannya, Taufik mengaku tak percaya saat asisten pribadi Gus Dur, Sulaiman, mengatakan kepadanya bahwa bosnya itu telah tiada pada Rabu (30/12) pukul 18.45 WIB.

Taufik menceritakan, kala itu ajudan sengaja datang ke ruang kerja Gus Dur untuk mengambil kaset-kaset pribadi milik Gus Dur. “Pas Bapak meninggal, ajudan dan sopir Bapak datang ke sini mengambil kaset-kaset. Nggak tahu ambil kaset lagu apa, tapi sepertinya sih, musik yang klasik-klasik gitu,” ungkapnya.
Meski sudah tidak menjadi Ketua Umum PBNU, ruang kerja Gus Dur oleh pihak PBNU sengaja tidak boleh ditempati orang lain. Ruang kerja Gus Dur dengan satu meja dan sebuah televisi serta tape musik yang ada di atasnya itu memang khusus untuk Gus Dur.Di belakang meja terdapat sebuah kursi pijat listrik, sedangkan di depan meja ada tiga kursi warna hijau untuk menerima tamu. Satu rak berisi buku-buku bacaan Gus Dur juga masih berada di sana. Taufik mengatakan, kala lelah, terkadang Gus Dur tidur di lantai yang hanya beralaskan sebuah karpet tipis di depan meja kerjanya.

Taufik mengaku sangat kehilangan bosnya itu. Di mata Taufik, Gus Dur adalah sosok bos yang sangat memerhatikan bawahannya, termasuk para petugas keamanan Kantor PBNU.Ia mengaku terakhir bertatap muka dengannya saat Gus Dur datang ke Kantor PBNU menjelang hari Lebaran lalu. Kala itu, Gus Dur sempat mengecek persiapan keuangan tunjangan hari raya (THR) lebaran untuk bawahannya.Khusus dari Gus Dur, Taufik mengaku setiap petugas keamanan kebagian jatah THR Rp 1 juta dan itu rutin diberikan setiap tahunnya. “Gus Dur baik sama petugas keamanan semua. Dia orangnya merakyat dan sederhana. Kami dapat THR Rp 1 juta setiap orang. Kalau dari pihak kantor sendiri nggak sampai segitu,” ungkapnya.Karena latar belakang Gus Dur adalah pesantren, terkadang Taufik tak segan mencium orang yang disebut-sebut sebagai keturunan wali itu. “Kalau yang lain sudah pada salaman, security ikut cium tangan,” ujarnya.

Hafal Lagu SMS

Gus Dur juga pecinta musik sejati. Dari musik klasik, rock, pop, hingga dangdut. Bahkan lagu dangdut berjudul SMS yang dipopulerkan tiga cewek seksi Trio Macan pun dihafalnya. Khusus lagu Rhoma Irama, Gus Dur hampir seluruh lagu Raja Dangdur ini hafal.Kegemaran lagu dangdut ini disampaikan oleh sopir pribadi Gus Dur, Chairul Waton yang telah mengabdi selama 20 tahun. Chairul menceritakan banyak hal unik yang selama ini belum diketahui masyarakat luas, khususnya hobi musik dangdutnya Gus Dur.

Saat berkendara, Gus Dur lebih sering duduk di jok bagian depan atau di samping Chairul Waton yang sedang mengemudi. Untuk memuaskan hobinya terhadap musik dangdut, tangan Gus Dur pasti langsung memutar frekuensi radio yang ada di dashboard. “Sebelum ganti mobil, bapak hampir tiga tahun nyetel Radio Muara (radio dangdut ibukota),” kata Chairul di Jakarta, Sabtu (2/1).Ada beberapa lagu dangdut yang disukai dan bahkan Gus Dur hafal di luar kepala. Selain lagu hits SMS dengan penyanyi Trio Macan, semua lagu karya Rhoma Irama, Gus Dur juga hafal lagu Nyai Ronggeng yang ditenarkan kembali lewat penyanyi kontroversial Inul Daratista. “Saya juga heran Gus Dur bisa hafal lagu itu semua,” ujarnya.

Untuk lagu Nyai Ronggeng, ternyata ada kisah tersendiri. Gus Dur pernah mengatakan kepada Chairul bahwa lagu tersebut mengingatkan Gus Dur akan perjalanan hidup ibunya. “Lagu Ronggeng jadi mengingatkan bapak pada ibunya. Kata Gus Dur, dulu dari nggak punya sampai punya,” ungkapnya.Saat kami tanya kenapa Gus Dur bisa kepincut lagu-lagu Rhoma Irama. Chairul menjelaskan, bahwa Gus Dur itu adalah seorang sastrawan, yang mengerti makna dan isi dari sebuah syair lagu. Dan kebetulan, lagu-lagu karya Rhoma Irama memiliki syair-syair yang menurut Gus Dur sangat bagus. “Bapak mengerti benar maksud syair lagu-lagu Rhoma Irama,” tuturnya. persdanetwork/coz

Hormati Gus Dur, Syiah Bangil Gelar Tahlil

PASURUAN | SURYA Online – Ratusan umat Islam Syiah melaksanakan tahlil khusus untuk almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Masjid Astsaqolain Yayasan Pesantren Islam (YAPI) Kenep, Beji, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur (Jatim), Sabtu (2/1/2010).Pengajar Pesantren YAPI, Ustadz Segaf Assegaf, Sabtu, menjelaskan, tahlil khusus tersebut untuk menghormati KH Abdurrahman Wahid sebagai tokoh pluralis yang tidak membeda-bedakan kelompok.Ia menyebutkan, meski Gus Dur tidak pernah mendatangi Pesantren YAPI di Bangil, umat islam Syiah merasa telah dibelanya. Ustadz Segaf mengatakan, sewaktu umat Islam Syiah dituduh mempunyai Al Quran berbeda dari umat Islam lainnya, Gus Dur yang melakukan klarifikasi bahwa Al Quran umat Syiah sama dengan umat Islam lainnya.

Ustadz Segaf juga mengungkapkan, pemikiran-pemikiran Gus Dur juga sangat pas dengan pendapat-pendapat Islam Syiah, sedangkan perbedaan-perbedaan selama ini hanya keniscayaan semata.Ia menjelaskan, umat Islam Syiah di Bangil selama ini juga secara rutin melaksanakan, tahlil, khaul, serta peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.Sementara, Kepala YAPI Bangil, Ustadz Abdul Mukmin menjelaskan, YAPI Bangil pada awalnya berdiri di kawasan Kancil Mas Bangil sekitar tahun 1974.YAPI Bangil sebelumnya berada di Bondowoso. Namun pada tahun 1985 YAPI Bangil pindah ke Kenep, Beji, untuk santri putranya. Sedangkan santri putrinya masih berada di Kota Bangil.

Jumlah santri YAPI sebanyak 315 santri putra, dan 240 santri putri yang datang dari berbagai kota di Indonesia. Sementara YAPI hanya ada di Bangil, tidak membuka cabang di kota lain. Sistem pendidikannya mulai jenjang SMP hingga SMA serta Hauzah (khusus agama Islam).

Di Solo, Umat Lintas Agama Gelar Doa untuk Gus Dur

Jakarta – Di tengah hiruk-piruk perayaan pergantian tahun di jalanan, sekitar 150 orang duduk dengan khusyuk di gedung serba guna Gereja Kristen Jawa (GKJ) Manahan, Solo. Mereka adalah umat dari berbagai penganut agama yang mendoakan kepergian Gus Dur.

Acara doa antar-iman melepas kepulangan Gus Dur tersebut bertema meneruskan komitmen terhadap demokrasi, pluralitas dan humanisme. Dalam pandangan seluruh peserta acara, tiga hal penting itulah yang selalu diperjuangkan Gus Dur selama puluhan tahun hingga Gus Dur tutup usia.Dari Kalangan Konghucu diwakili oleh rohaniawan Adi Candra. Adi mengatakan, Gus Dur layaknya dewa atau malaikat bagi warga Konghucu di Indonesia.”Tanpa jasa Gus Dur, agama Konghucu akan tetap terdiskriminasi atau bahkan telah terhapus dari bumi Indonesia,” ujar Adi, Kamis (31/12/2009) malam.

Pendeta Eko Darsono yang mewakili Kristen Protestan menilai tulisan-tulisan Gus Dur dekade 80-an hingga 90-an menyadarkan para pemimpin agama tentang pentingnya kebersamaan. Ide-ide Gus Dur tentang kesamaan hak menyadarkan sebagian besar warga tentang hak politik. Sedangkan keberanian Gus Dur menentang kesewenangan, menjadi penyemangat untuk menghargai kemanusiaan.

Hal serupa juga ditegaskan oleh Bagyo Hadi dari Parisadha Hindu Dharma. Bagyo mengatakan, banyak tokoh yang kelihatan berani atau bergaya pemberani. Namun hanya Gus Dur tokoh yang keberaniannya tanpa tanding dan tanpa pamrih dalam memperjuangkan kebenaran dan persamaan hak. Sebagai rohaniawan Islam, dia mampu menembus segala batas sehingga bisa semua kalangan.Romo Heri Irianto dari kalangan Katolik dan Zainal Abidin dari perwakilan umat Islam mengatakan, Gus Dur adalah pejuang yang gigih untuk memberi tempat bagi semua orang dan membangun kerjasama dalam kehidupan berbangsa. Gus Dur menolak semua kekerasan atas dalih apapun, apalagi dalih agama.”Beliau orang yang selalu rindu perbaikan kehidupan bersama, didasari oleh kecintaan pada semangat kehambaan kepada Tuhan,” ujar Romo Heri.Acara ditutup dengan doa bersama para peserta acara yang dipimpin secara bergilirian oleh para rohaniawan tersebut. Sebelumnya dibacakan puisi oleh penyair Wary Wirana.

(mbr/rdf)

Oleh: M. Najibur Rohman *)

Beberapa waktu lalu (23/5/2006), kita sempat dikejutkan dengan keributan yang terjadi pada saat forum Dialog Lintas Etnis dan Agama di Purwakarta, Jawa Barat. Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) yang datang sebagai keynote speaker dalam diskusi itu dipaksa keluar forum oleh sekelompok massa gabungan dari FPI (Forum Pembela Islam), MMI (Majelis Mujahidin Indonesia), Forum Umat Islam dan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia).

Kejadian ini tentunya menjadi preseden buruk bagi pluralitas bangsa Indonesia. Iklim demokrasi seolah dikebiri dengan tindakan-tindakan main hakim sendiri, tidak menghargai pendapat dan sikap memaksakan kehendak. Karenanya, pasca kejadian di Purwakarta tersebut, gap antara massa ––katakanlah–– kelompok Islam radikal dengan pendukung Gus Dur ditambah kelompok Islam moderat lain sempat mewarnai pemberitaan di berbagai media massa.

Melihat ini semua, memang rasanya aneh untuk tidak mengatakan adanya gejala-gejala neo-Wahabisme yang semakin menukik tajam. Goncangan klaim kebenaran (truth claim), anarkisme atas nama agama, jihad (bi ma’na qital), terorisme dan sebagainya selalu menghiasi sikap keberagamaan umat Islam di Indonesia. Maka tak salah jika kemudian Muqsith Ghazali menyebutnya dengan Wahabisasi Islam Indonesia (Islamlib.com, 06/02/2006).

Menurut Muqsith, minimal ada empat ciri dalam gerakan-gerakan neo-Wahabi di Indonesia. Pertama, mereka selalu mempersoalkan Pancasila dan UUD 1945 karena dianggap bukan sebagai ijtihad Tuhan, melainkan ijtihad manusia. Kedua, adanya ciri penolakan terhadap sistem demokrasi yang dianggap sekuler. Ketiga, perjuangan legalisasi syari’at Islam yang lebih bersifat partikular. Dan keempat, penyangkalan terhadap tradisi atau adat.

Kalau kita cermati, gerakan-gerakan neo-Wahabi ini sangat cepat masuk dalam akar-akar kehidupan masyarakat. Barangkali itu disebabkan tawaran mereka yang riil, yakni “kembali kepada Allah”. Karenanya, yang menjadi sasaran mereka adalah masyarakat awam agama yang cenderung berpandangan “oposisi biner” dalam melihat globalisasi, kemajuan IPTEK yang dianggap semakin mengikis moralitas masyarakat dan “westernisasi” yang liberal dan sekuler. Ini dalam ranah kultural.

Dalam konteks “struktural”, doktrin-doktrin neo-Wahabi juga telah banyak disuntikkan melalui sistem aturan pemerintah, baik pusat maupun daerah. Dukungan terhadap Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) salah satunya. Selain itu, di beberapa daerah di Indonesia juga telah banyak diterbitkan peraturan daerah yang berbasis syari’at Islam seperti di Tangerang, Cianjur, Pamekasan, Maros, Tasikmalaya dan sebagainya. Menyikapi gejala ini, kita sebagai umat muslim memang mesti tersadar dan tanggap. Bahwa neo-Wahabisme mesti digugat karena telah menciderai jiwa Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Di sisi lain, sejarah Indonesia telah membuktikan bahwa paham Wahabi menorehkan “noda hitam”. Karena, seperti yang diungkap oleh William Montgomery Watt yang mengutip Henry Laoust, paham Wahabi yang dirintis oleh Muhammad Ibn Abdul Wahhab (1703-1783) ––yang saat itu “kongkalikong” dengan pemerintah Saudi Arabia di bawah Ibn Saud–– merupakan paham yang eksklusif. Watt menulis: Wahabi sebagai “a fresh edition of Hanbalite doctrines and of the prudent agnosticism of the traditional faith“.

Wahabi, seperti halnya beberapa pemikir yang seringkali dijadikan rujukan: Imam Ahmad Ibn Hanbal, Ibn Taimiyah dan Ibn Qayyim al-Jawziyah ingin menegakkan kembali Islam atas dasar “nash” yang dipahami secara tekstual dan melepaskan umat dari pemujaan terhadap pengetahuan. Namun, untuk mencapai itu, Wahabi seringkali memakai cara-cara kasar dan kekerasan. Karenanya, ketika tiga tokoh utama Wahabi Indonesia, yakni Haji Miskin dari Luhak Agam, Haji Piobang dari Luhak Lima Puluh Kota dan Haji Sumanik dari Luhak Tanah Datar, menyebarkan doktrin Wahabi di tempat kelahiran mereka, Minangkabau, akhirnya justru meletupkan perang Paderi karena mendapatkan perlawanan dari kaum Adat memegang teguh tradisi mereka.

Tentunya, kita bisa membayangkan, bagaimana jadinya ketika masyarakat Indonesia mengambil posisi keberagamaan dengan corak (neo) Wahabi? Saya berani menjamin, disintegrasi bangsa akan menjadi ancaman serius bagi kita. Ini dikarenakan tidak adanya pengakuan terhadap keberbedaan seperti halnya dalam ideologi Pancasila. Apalagi, jika perbedaan tersebut dikaitkan dengan interpretasi terhadap teks-teks (yang dianggap) suci. Mungkin, negara kita ini akan menjadi sangat “tertutup” dan bermetamorfosis sebagai “The New Taliban”.

Karena itu, harus ada langkah tegas, baik dari kelompok agamis, para pakar, pemerintah, aparat keamanan dan elemen-elemen lain dalam upaya mencegah terjadinya gelombang neo Wahabisme yang semakin besar. Pertama, meneguhkan kembali Pancasila. Di dalam sila-silanya, Pancasila telah mencerminkan diri sebagai nilai universal yang lintas simbol, agama, suku, etnis, golongan dan sebagainya. Keberbedaan sangat diakui dan dihargai di dalam dasar negara kita. Karena itu, kekuatan Pancasila ––meskipun cenderung tidak disukai di masa orba karena digunakan sebagai alat hegemoni–– mestilah diteguhkan kembali sebagai dasar negara yang abadi dan kokoh yang menyatukan seluruh masyarakat Indonesia dalam satu wadah bersama: INDONESIA.

Kedua, dalam konteks agama, harus dipisahkan antara ruang akidah dan muamalah. Ini penting untuk dilakukan karena seringkali kedua ruang tersebut dicampuradukkan sehingga menjadikan umat Islam terjebak pada penilaian hitam-putih atau salah-benar terhadap apa yang diyakininya. Untuk menancapkan penalaran semacam ini maka diperlukan faktor-faktor pendukung seperti aspek pendidikan, pelatihan-pelatihan dan advokasi kepada masyarakat.

Ketiga, menciptakan piranti hukum yang jelas terhadap berbagai tindak anarkis yang seringkali dipakai kelompok-kelompok neo Wahabi. Jika selama ini aparat keamanan seringkali enggan menindak ketika melihat berbagai aksi neo Wahabi yang penuh “darah”, maka sekarang harus diubah. Karena, secara hukum kita tidak diperbolehkan main hakim sendiri untuk menutup paksa gereja, bertindak kasar terhadap aliran minoritas (semisal Ahmadiyah dan Lia Eden), penutupan tempat-tempat yang dianggap berbau maksiat dan sebagainya. Tidakkah semua itu menjadi tugas aparat negara?

Keempat, ada ruang dialog yang dialogis. Kasus pengusiran Gus Dur di Purwakarta membuktikan belum adanya ruang dialog yang dialogis tersebut. Dengan dialog tersebut, maka akan ada akomodasi pendapat dari berbagai kalangan agar dapat “sharing idea” di dalam sebuah forum atau arena tertentu agar saling memahami problem yang dibahas dengan komprehensif dan tidak asal tuding.

Kelima, memperkuat basis kultural masyarakat dengan model keagamaan yang arif dan bijak, bukan model ekstrim dan radikal. Selama ini, aspek ini seringkali dilupakan. Karena, ide-ide progresif lebih berorientasi akademik dari pada orientasi praksis di lapangan. Sehingga, ide-ide yang dicetuskan dalam rangka membentuk Islam yang humanis justru tidak mampu ditangkap oleh masyarakat karena kesulitan “menerjemahkan” gagasan yang “melangit” ke dalam gagasan yang “membumi”. Bahkan, belum-belum masyarakat sudah banyak yang apatis karena adanya kesulitan tersebut.

Wal akhir, seperti “pesan” Allah swt, kita mesti berlomba-lomba menjadi umat yang terbaik (khairu ummat) yang mampu memaknai Islam dengan humanis, toleran dan tentunya penuh kekritisan. Bukan berislam dengan corak neo-Wahabi yang keras, sempit dan intoleran. Wallahu a’lam.

*) M. Najibur Rohman, pemimpin redaksi majalah Justisia Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang. Alumnus PP at-Taslim Lasem, Jawa Tengah.

Meski Tertidur, Bisa Ceritakan Isi Khutbah Jumat

Berbicara keunikan sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memang tak ada habisnya. Tak hanya pandai dan humoris, guru bangsa itu konon juga tahu apa yang terjadi di sekitarnya meski ketika itu tengah tidur. Berikut laporannya.

ADALAH pengamat sosial Ahmad Sobari (Kang Sobari) yang tertarik dan mengagumi almarhum Gus Dur dari kebiasaan tidurnya. Padahal dia sendiri adalah intelektual dan kebetulan mengikuti faham Muhammadiyah yang dikenal tidak percaya pada hal-hal bersifat mistis dan aneh-aneh. Kang Sobari sebagai intelektual muda saat itu, pernah mendapat  kesempatan mengikuti kunjungan Gus Dur ke beberapa negara di Timur Tengah. Dalam satu waktu ketika menjalankan shalat jumat di salah satu masjid di Timur Tengah, menurut penuturan Kang Sobari dalam berbagai kesempatan, setelah shalat sunah dua rakaat, Gus Dur langsung tertidur. Meski sambil duduk bersila, dia tampak lelap sehingga terlihat sama sekali tidak mendengarkan khutbah jumat yang disampaikan khatib di masjid tersebut.

Sampai khutbah berakhir, Gus Dur baru bangun tidur dan mengikuti shalat berjamaah. Ketika usai shalat, Kang Sobari berceletuk, “Khutbah bahasa Arab semua, saya tidak ngerti, gak dong maksudnya,” ujar Sobari saat itu.Di luar dugaan, Gus Dur kemudian menceritakan isi khutbah dalam bahasa Arab tersebut dari awal sampai akhir. Kang Sobari merasa heran ternyata Gus Dur mengikuti secara runtut dari awal sampai akhir dengan menirukan khutbah dalam bahasa Arab.

Dari situ Kang Sobari mengakui Gus Dur punya kelebihan atau daya linuwih meski dalam keadaan tidur. Tentu saja selain kelebihan utama Gus Dur dalam soal pemikiran. Jadilah Kang Sobari selalu dekat dengan Gus Dur dan bapak pluralisme itu juga menganggap Kang Sobari orang dekatnya.Tak heran ketika Gus Dur menjadi Presiden Ke-4 RI, Kang Sobari yang dipercaya menjadi Pemred LKBN Antara, begitu dekat dengan Gus Dur. Selain itu, juga dekat dengan komunitas Nahdlatul Ulama (NU) dan kelompok lain yang merapat ke Gus Dur.

Melebihi

Di berbagai kesempatan menjadi panelis diskusi bersama Gus Dur, cendekiawan muslim, almarhum Dr Nurcholis Madjid (Cak Nur) juga sudah tidak asing dengan kebiasaan tidur Gus Dur di atas meja pembicara. Pernyataan dan pendapat yang disampaikan tidak ada bedanya jika Gus Dur tidak tidur.Artinya Cak Nur tetap bicara lantang dan bersemangat tanpa melihat patner diskusinya tidur atau tidak. Sebab meski tidur, ketika diberi kesempatan berbicara untuk menanggapi atas pernyataan panelis lain, juga dijawab secara lengkap dan tuntas.Dari kebiasaan tidur ketika berada di mimbar panelis, Cak Nur dalam satu kesempatan mengaku sudah terbiasa, dan Gus Dur tetap bisa menanggapi secara keseluruhan sehingga tidak memengaruhi semangat berdiskusi.Artinya Cak Nur tetap menyampaikan pendapat secara serius, argumentatif, dan tidak asal karena lawan bicara tidur. Yang mengherankan pendapat Gus Dur selalu melebihi yang diperkirakan. Misalnya, dalam memberi referensi Gus Dur selalu menambahkan hal yang sebelumnya tak disampaikan ke audensi. Tidak jarang pemandu diskusi, bahkan Cak Nur sendiri mengingatkan para penanya menyampaikan pertanyaan yang ditujukan pada Gus Dur meski dalam keadaan tidur. Nanti akan terjawab meski tidak diulang oleh moderator.

Ketika Gus Dur giliran berbicara, suasana diskusi biasanya menjadi semarak lantaran joke-jokenya keluar dan menghidupkan suasana diskusi. Yenny Wahid, putri Gus Dur mengaku harus mengeraskan alat bantu pendengar untuk menjaga agar ayahnya tidak tertidur. Apalagi jika dalam acara resmi kenegaraan saat menjabat Presiden RI, dialah yang paling sibuk menjaga ayahnya agar tidak tertidur.
Kebiasaan tidur dalam perjalanan, ternyata menyebabkan Gus Dur tidak pernah lelah dalam menempuh perjalanan jarak jauh. Bayangkan saja, Gus Dur sering melakukan perjalanan darat keliling Jawa, tanpa istirahat cukup.

Bambang Susanto, asisten bidang media mengakui ketika perjalanan jarak jauh, Gus Dur selalu bisa tidur dalam kendaraan. Beliau bangun ketika hendak istirahat makan dan shalat. Selebihnya digunakan tidur atau mendengarkan musik. Wajar jika ajudan yang menemani merasa capek karena tidak bisa mengikuti Gus Dur yang mudah tidur dalam perjalanan.

Ilmu Laduni

Kalau nabi dan rasul Allah diberikan mukjizat serta para wali Allah diberikan karamah, di kalangan NU dikenal adanya kiai atau tokoh yang sangat dekat dengan Allah SWT dan diberikan karunia berupa ilmu laduni.Di kalangan warga nahdliyyin, Gus Dur disebut-sebut tokoh yang memiliki ilmu laduni. Dia tahu apa yang akan terjadi kemudian atas sesuatu hal sebelum orang lain mengetahuinya. Benarkah demikian?

Ada pengalaman menarik yang dialami Imam Nachrawi, ketua PKB Jatim kubu Cak Imin atas ilmu laduni yang dimiliki Gus Dur. Imam yang dihubungi Suara Merdeka, Minggu (3/1) petang menyatakan, pengalaman menarik itu terjadi sekitar tahun 1995 lalu.

Imam menceritakan, pada 1995 bertempat di Cibubur, Pengurus Besar (PB) PMII menggelar Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas). Ada banyak tokoh yang diundang sebagai narasumber. Di antaranya Prof Dr Jimly Assidiqie dan Gus Dur. “Saat itu, moderator mempersilakan Prof Jimly menyampaikan materi lebih dulu,” katanya.Saat Jimly yang dikenal pakar hukum tata negara itu menyampaikan panjang lebar materi mengenai transisi demokrasi dan positioning gerakan mahasiswa, Gus Dur yang duduk di meja pemateri bersama narasumber lainnya, terlihat tertidur. Bahkan, tak jarang tidur Gus Dur disertai suara dengkuran.

“Ketika tiba giliran Gus Dur menyampaikan materi, moderator membangunkan tokoh NU itu. Gus Dur langsung ngomong secara detail dan panjang lebar. Bahkan, Gus Dur membahas sangat tajam atas materi yang disampaikan Prof Jimly sebelumnya. Hal itu membuat banyak peserta Muspimnas PMII terheran-heran,” katanya. Imam mengatakan, realitas itu dia ketahui secara langsung dan makin meneguhkan kepercayaan bahwa Gus Dur memang memiliki ilmu laduni. “Gus Dur memiliki pemahaman atas banyak masalah jauh melebihi orang lain. Karena itu, forecasting-nya jauh ke depan dan tepat,” ujarnya.Contoh lainnya, kata Imam, adalah pemikiran Gus Dur tentang pentingnya menjalin hubungan dengan negara Yahudi, Israel. Pemikiran ini ditentang banyak kelompok Islam lain di Indonesia. Padahal, kata Imam, pemikiran Gus Dur didasarkan pada kepentingan bahwa menjalin hubungan langsung dengan Israel akan memudahkan desakan Indonesia kepada negara Yahudi agar menghentikan konflik dengan Palestina. “Dengan membuka hubungan diplomatik, ya otomatis membuka dialog dan diplomasi,” tukasnya.

Apakah ada tokoh lain yang memiliki ilmu laduni? Sepengetahuan Imam Nachrawi, KH Ali Mas’ud dari Pagerwijo, Kabupaten Sidoarjo adalah sedikit kiai dan tokoh NU yang disebut-sebut memiliki ilmu laduni. Contohnya, ketika terjadi banjir besar di kawasan Kali Porong Sidoarjo pada 1980-an, Kiai Ali datang ke pinggir daerah aliran sungai itu. Dengan bersenjatakan lidi sapu, dia mengalihkan air bah Kali Porong agar tak menerjang kawasan permukiman dan pertambakan penduduk.  “Gus Dur dan beberapa tokoh lainnya di NU memang memiliki kemampuan intelegensi dan ilmu yang jauh lebih tinggi dibanding tokoh lainnya. Tokoh semacam ini biasanya dikaruniai ilmu laduni,” tegas Imam Nachrawi.

Ilmu laduni juga biasanya dianugerahkan Tuhan Yang Maha Kuasa kepada kiai-kiai yang bergerak di tarekat. Disebut-sebut bahwa KH Asrori Al Ishaqi, pimpinan tarekat Kedinding Lor Surabaya juga memiliki ilmu laduni. Ilmu itu diturunkan ayahnya yang juga penggagas tarekat Kedinding Lor Surabaya, KH Utsman. Kiai Utsman berguru soal tarekat kepada guru tarekat Rejoso KH Romli Tamin yang juga ayahanda KH Mustain Romli dan KH Dimyati Romli. (A Adib, Ainur Rohim-62)

Gelar Pahlawan setelah Nama Bersih

JAKARTA – Kontroversi seputar impeachment terhadap KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terjadi pada Sidang Istimewa MPR tahun 2001 lalu harus dituntaskan agar tidak menodai gelar pahlawan nasional bagi guru bangsa tersebut.

Sebab, menurut pengamat politik dan peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi, impeachment terhadap Gus Dur masih belum jelas. ”Hingga kini tidak ada keputusan hukum Buloggate I dan Bruneigate pada Presiden Ke-4 RI tersebut,” katanya, Minggu (3/1).Dia berpendapat, sebaiknya pemulihan nama baik Gus Dur dan pemberian gelar pahlawan nasional bisa dilakukan secara simultan. Dua hal tersebut bisa dilakukan secara bersamaan. Idealnya rehabilitasi diberikan, baru gelar pahlawan. ”Jika gelar telanjur diberikan, tapi tidak ada rehabilitasi terhadap beliau, maka gelar bisa ternoda,” tambahnya.Burhan menjelaskan, bagaimana pun proses impeachment terhadap Gus Dur yang dianggap tersandung kasus bulog, sangat debatable dan politis, karena terjadinya konspirasi politik di Senayan saat itu. ”Sampai detik ini tidak ada proses hukum yang membuktikan keterlibatan Gus Dur dalam kasus Buloggate dan Bruneigate, sehingga lebih terkesan politis sekali alasan pelengseran Gus Dur saat itu.”

Dihubungi terpisah, pengamat politik Tjipta Lesmana mengatakan, Gus Dur perlu mendapat rehabilitasi namanya terlebih dulu sebelum mendapat gelar pahlawan nasional.Tahlil Sementara itu, peringatan tujuh hari wafatnya Gus Dur digelar dalam dua versi waktu berbeda antara yang di Ciganjur, Jakarta, dengan yang di Jombang, Jawa Timur.“Versi Jakarta peringatan tujuh harinya digelar pada Selasa (5/1) malam, sementara versi Jombang pada Rabu (6/1) malam,” kata keponakan Gus Dur, Saifullah Yusuf, di Surabaya, Minggu.Meski berbeda waktu, menurut Saifullah, hal itu sudah disepakati oleh pihak keluarga, baik yang ada di Ciganjur maupun di Tebuireng, Jombang. “Khusus di Jombang, nanti saya dan Pak Gubernur (Soekarwo) akan datang dalam acara tahlilan tujuh hari Gus Dur di Tebuireng,” kata Wakil Gubernur Jatim itu.Mengenai banyaknya peziarah yang sampai membawa tanah uruk makam Gus Dur, dia menganggap sebagai hal yang wajar dan tidak perlu ada larangan.Menurut pandangan saya, itu bukan perbuatan syirik. Wajar, masyarakat bersikap seperti itu untuk mencari berkah. Tidak perlu dilarang,” kata pria yang akrab disapa Gus Ipul itu.

Ia menambahkan, sikap seperti itu lazim dilakukan warga nahdliyin yang menganggap sesuatu yang melekat pada diri seorang wali atau ulama besar bisa mendatangkan berkah. Apalagi, lanjut Gus Ipul, semasa hidupnya Gus Dur sering kali melakukan ziarah ke makam para wali, baik yang ada di Indonesia maupun luar negeri.

Bahkan, sebelumnya jenazah Gus Dur sempat akan dikebumikan di Makam Auliya, Dusun Tambak, Desa Ngadi, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Jatim dan Ciganjur, Jakarta. Namun akhirnya keluarga memutuskan pemakaman mantan Ketua Umum PBNU itu di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Kamis (31/12) lalu.(di,ant-49)

Kubu Yenny Akan Resmikan PKB Gus Dur

JAKARTA- Yenny Wahid akan memotori pembentukan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang memperjuangkan visi dan misi ayahnya, KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur. Rencananya, PKB baru ini akan diresmikan saat Muktamar, Maret atau April mendatang.”Yang pasti akan ada metamorfosis dari PKB yang ada, yang selama ini disingkirkan oleh Muhaimin,” kata juru bicara yang ditunjuk oleh Yenny Wahid, Imron Rosyadi Hamid, Minggu (3/1).

Namun demikian, lanjut Imron, pihaknya belum menentukan nama apa yang akan digunakan PKB metamorfosis tersebut. Sementara itu beberapa nama telah beredar, antara lain PKB Gus Dur, PKB Perjuangan dan PKB Indonesia.
”Apa pun namanya, partai akan betul-betul mengusung semangat dan visi Gus Dur,” kata dia.PKB hasil metamorfosis, kata Imron, nantinya juga akan menampung massa yang berada di luar Nahdlatul Ulama, seperti kalangan di luar Islam. Dalam catatannya, PKB Muhaimin dalam Pemilu 2009 telah kehilangan 70 persen suara dibandingkan dengan Pemilu 2004. ”Dia hanya mendapat 30 persen suara,” katanya.

Terpisah, kubu Muhaimin Iskandar menilai upaya kubu Yenny Wahid untuk meresmikan PKB versi baru hanyalah memanfaatkan momentum berpulangnya Gus Dur. Menahan Diri Menurut salah satu Ketua DPP PKB pimpinan Muhaimin, Abdul Kadir Karding, sebaiknya seluruh pihak menahan diri karena suasana masih berkabung. ”Ini tiba-tiba muncul kan memanfaatkan momentum dan energi politik Gus Dur saja,” kata Abdul Kadir, Minggu (3/1).Menurut Abdul Kadir, sebaiknya semua pihak mendoakan Gus Dur agar arwah mantan presiden itu nyaman dan nikmat di alam sana. ”Kalau begini, bisa membebani Gus Dur di alamnya sana,” katanya.

Sementara mengenai bantahan kubu Yenny soal wasiat Gus Dur kepada Muhaminin untuk menyatukan PKB, Abdul Kadir meminta hal itu ditanyakan langsung ke Muhaimin.”Lebih baik tanya ke Muhaimin. Tapi namanya juga wasiat, ya harus disampaikan. Kalau tidak disampaikan, kan juga salah,” ujarnya sambil mempersilakan siapa pun yang merasa mendapat wasiat dari Gus Dur untuk menyampaikannya.(dtc-76)

Gusdur dan Penolakan Perda Syariat

Gusdur pernah menolak penerapan syariat Islam di beberapa daerah, penolakan ini bagi saya masih bisa dimaklumi, toh yang ditolak bukan penerapan syariat secara individu, seperti shalat, puasa, dll. tapi lebih dekat pada penerapan syariat dalam ranah publik, seperti potong tangan, rajam, dll.Dasar penolakan ini bagi saya kembali pada sebuah alasan penting, yaitu keadaan umat Islam Indonesia yang belum memenuhi syarat untuk menerapkan syariat Islam, Alasan ini muncul karena keadaan ekonomi masyarakat Indonesia masih carut marut, kita bisa ambil contoh bayangan, anggap saja suatu pemerintah daerah ingin menerapkan hukum potong tangan bagi pencuri, sedangkan keadaan masyarakatnya masih sangat miskin, dari saking miskinnya, sampai-sampai alasan mencuri menjadi sebuah keprihatinan, karena kalau tidak mencuri mereka tidak ada yang bisa dimakan, jika keadaan masyarakatnya seperti ini, apakah adil menerapkan potong tangan bagi mereka? Tentu tidak, malah bisa jadi mereka akan sangat membenci Islam. Hal seperti ini pernah terjadi pada masa Umar, dulu beliau menghentikan penerapan hukum potong tangan, karena umat Islam sedang mengalami kemiskinan dan kelaparan (’amul maja’ah), alasan yang digunakan Umar ketika itu adalah karena keadaan umat Islam (kemiskinan) tidak memenuhi syarat untuk diterapkannya syariat potong tangan. Nah! Bagi saya yang diinginkan Gusdur sebenarnya (wallahu a’lam) menganjurkan masyarakat untuk mempersiapkan terlebih dahulu syarat-syarat penerapan syariat, yaitu dengan cara meningkatkan kehidupan ekonominya, setelah itu mereka sendiri yang akan membutuhkan peraturan yang benar-benar bisa membuat pencuri kapok, apa itu? ya! potong tangan. Selama ini yang terjadi di Negara-negara yang telah atau yang masih mau menerapkan syariat Islam, cenderung memaksakan hukuman ala Islam, sehingga kesannya seakan-akan Islam lah yang butuh umat dan bukan umat yang butuh Islam. Islam itu tidak butuh potongan tangan (hukum mencuri), tidak butuh orang yang mati berdarah-darah karena dilempari batu (hukuman pezina yang punya pasangan nikah), lagi pula buat apa Islam mengumpulkan potongan tangan orang-orang yang panjang tangan? Yang diinginkan Islam sebenarnya adalah keamanan dan ketenangan bagi mereka yang punya harta, dan filosofis hukuman seperti ini adalah, ketika saya dilarang (oleh syariat Islam) untuk mencuri barang orang lain, maka orang lain pun terkena larangan yang sama untuk tidak mencuri barang milik saya, sama juga ketika saya dilarang mendekati istri orang, maka orang lain pun terkena larangan untuk mendekati istri saya.

Jadi, menurut saya, penolakan Gusdur terhadap Perda penerapan syariat Islam bukan penolakan yang bersifat totalitas atau menganggap syariat Islam tidak baik, tidak! Tapi lebih pada kondisi masyarakat yang belum memenuhi syarat, kondisi masyarakat kita masih berada di bawah standar syarat menerapkan syariat Islam, nanti kalau seumpama masyarakat kita sudah hidup sejahtera, ekonomi tercukupi, masyarakat sendirilah yang akan meminta untuk diterapkan syariat Islam, dan saya kira orang-orang yang tidak terbersit sedikit pun untuk mencuri atau untuk berzina akan sepakat, karena hal ini ibarat membuat benteng bagi kehormatannya agar tidak diinjak-injak orang lain.

Sedikit Dari Yang Saya Kenal Tentang Gus Dur (KH.Abdurrahman Wahid)
Kamis, 31 Desember 2009

Oleh: Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Saya mengenal nama Gus Dur sudah lama, yaitu sejak pertengahan tahun 1970-an. Ketika itu, Gus Dur pulang dari Baghdad, dan karena belum dinyatakan lulus dari belajarnya di Irak, ia mau mengambil kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Oleh karena, Gus Dur tidak memiliki dokumen yang cukup, maka niatnya itu gagal, sesuai dengan peraturan, tidak bisa diterima.

Mendengar bahwa Gus Dur tidak bisa diterima, kuliah tingkat doctoral di IAIN Sunan Ampel Surabaya, maka Pak A. Malik Fadjar, yang waktu itu menjabat sebagai Sekretaris Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang menemuinya. Pak Malik menawarkan agar Gus Dur, meneruskan saja di IAIN Malang. Ketika itu, IAIN Sunan Ampel Malang sudah membuka program doctoral. Namun Pak Malik Fadjar tidak mempersilahkan Gus Dur menjadi mahasiswa doctoral melainkan justru diangkat sebagai pengajar di tingkat doctoral itu.

Atas tawaran Prof. Malik Fadjar, M.Sc, Gus Dur menerima, hanya dia mengaku tidak punya pangkat sebagai persyaratan sebagai pengajar di tingkat doctoral. Pak Malik kemudian menyanggupi, memberi pangkat Gus Dur, golongan IV/a. Mulai dari sini, KH.Abdurrahman Wahid mengajar di IAIN Malang tingkat doctoral, berstatus sebagai dosen luar biasa selama beberapa tahun. Gus Dur berhenti memberi kuliah, karena pindah ke Jakarta. Namun secara resmi, Gus Gur belum pernah menyatakan berhenti atau diberhentikan sebagai dosen di IAIN Malang. Pernyataan ini pernah saya sampaikan, tatkala menyambut Gus Dur sebagai Presiden, ketika berkunjung di UIN Maliki Malang.

Sejak itu, Gus Dur memiliki banyak kegiatan di Malang, terutama terkait dengan kegiatan kerukunan umat beragama. Selain ke IAIN Malang, Gus Dur biasanya juga menemui kawannya, di antaranya Romo Yansen, pengajar di STFT Malang. Gus Dur bersama Pak Malik Fadjar sering menyelenggarakan penelitian bersama dengan umat agama lain, seminar, kerjasama sosial kemasyarakatan sebagai bagian dari kegiatan bersama umat berbagai agama di Malang. Beberapa kegiatannya dilakukan di Paniwen, Sumber Pucung dan beberapa tempat lainnya.

Lewat Pak Malik Fadjar, saya banyak ditugasi untuk mengetik tulisan-tulisan Gus Dur berupa laporan kegiatannya. Selain itu, saya juga ditugasi untuk menyusun beberapa laporan, misalnya membuat monografi kerukunan umat beragama, termasuk juga menyusun abstraks dari beberapa laporan kegiatan sebagai bahan seminar, dan beberapa tulisan lainnya tentang kegiatan kerukunan umat beragama tersebut.

Setelah Gus Dur pindah ke Jakarta dan banyak kegiatannya di LP3ES dan juga di tempat lainnya, saya oleh Pak Malik Fadjar seringkali diajak mengikuti acara-acara penting yang diselenggarakannya. Pada waktu-waktu tertentu, Gus Dur bersama koleganya mengadakan diskusi terbatas, yang diikuti antara lain oleh Pak Dawam Rahardjo, Pak Muchtar Buchori, Pak Muslim Abdurrahman, Pak Djohan Efendi, Pak Utomo, Pak Malik Fadjar dan lain-lain. Ketika itu, saya masih sangat yunior, sehingga peran saya hanya sebatas pendengar, dan jika diperlukan, membantu menulis laporan dan mengetiknya.

Pernah pada suatu ketika, sekitar akhir tahun 1983, diadakan diskusi terbatas, —–kalau tidak salah, mengambil tempat di rumah Pak Muchtar Buchori di Jakarta. Diskusi yang diikuti antara lain oleh beberapa tokoh yang saya sebutkan di muka, membicarakan dua hal penting, yaitu pertama, mendiskusikan rencana-rencana kegiatan Pak Nurcholis Madjid setelah pulang dari Amerika Serikat. Para tokoh tersebut, tidak ingin sepulang dari Amerika, kegiatan Nurcholis Madjid hanya sebatas berceramah dari satu tempat ke tempat lain.

Kedua, adalah berdiskusi tentang bagaimana menyusun skenario agar pada Muktamar NU yang sebentar lagi ketika itu (1984) akan digelar di Asem Bagus, Situbondo, Gus Dur terpilih sebagai ketua umum PB NU. Pada saat itu, para tokoh memandang bahwa untuk memajukan dan mendinamisasikan NU, maka Gus Dur harus didorong sebagai pucuk pimpinannya. Ternyata, muktamar NU di Situbondo, benar-benar berhasil mengangkat cucu pendiri NU yang pernah belajar di Mesir dan juga di Baghdad ini, sebagai Ketua Umum PBNU.

Karena ketika itu, saya masih tergolong sangat yunior dibanding para tokoh tersebut, maka sekalipun memiliki idea atau pandangan, saya tidak berani menyampaikannya. Namun, ketika itu saya merasa agak gelisah, apabila Gus Dur benar-benar berhasil menduduki posisi sebagai Ketua Umum PBNU. Kegelisahan saya itu muncul tatkala membayangkan antara Gus Dur sendiri dengan umat yang akan dipimpinnya. Sekalipun saya tahu, bahwa Gus Dur adalah cucu pendiri NU, akan tetapi saya melihat ada jarak yang sedemikian jauh dengan umat yang akan dipimpinnya.

Dalam pandangan saya, jika Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU, maka saya membayangkan NU akan menjadi bagaikan angsa. Seekor angsa memiliki badan besar, kepala kecil, tetapi lehernya sedemikian panjang. NU akan seperti angsa itu. Maksud saya, jika Gus Dur menjadi ketua PBNU, maka antara Gus Dur yang pikiran-pikirannya sedemikian cemerlang, dinamis, inovatif, sangat luas, dan sedemikian modernnya akan menjadi pimpinan warga NU yang kebanyakan ada di pedesaan. Antara Gus Dur dan warna NU yang tinggal di kabupaten/kota, kecamatan, desa, dan bahkan di pinggiran-pinggiran laut, pulau kecil, dan di pedalaman, akan berjarak yang sedemikian jauh. Saya umpamakan, antara Gus Dur dengan kebanyakan umatnya, bagaikan kepala dengan badan angsa, dipisahkan oleh leher yang sedemikian panjang.

Jika benar-benar dipimpin Gus Dur, NU akan menjadi bagaikan angsa, tidak bisa bergerak cepat, karena badannya terlalu besar, tetapi suara kerasnya terdengar kemana-mana. Apa yang saya gambarkan tersebut, saya lihat kemudian ada benarnya. Pikiran-pikiran Gus Dur tentang agama, politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan lain-lain selalu berjarak dengan umatnya yang sedemikian besar jumlahnya dan bervariatif itu. Oleh karena itu maka seringkali terjadi, pikiran-pikiran Gus Dur tidak sambung dengan masyarakat bawah yang dipimpinnya. Saya ketika itu berpikir dan berdoa, bagaimana agar antara kepala angsa dan badannya, sebagai gambaran NU, semakin mendekat. Artinya, umat berhasil semakin bisa memahami dan mengikuti pikiran-pikiran cerdas Gus Dur. Selain itu, saya juga berdoa agar kepala angsa juga semakin besar. Artinya, tokoh-tokoh sekaliber Gus Dur di NU semakin banyak.

Tatkala menjabat sebagai Presiden, Gus Dur pernah saya undang ke UIN Maliki Malang. Ketika itu UIN Maliki Malang masih berstatus sebagai sekolah tinggi, yaitu STAIN Malang. Presiden yang sekaligus juga Kyai besar ini, hadir untuk memberikan ceramah, mengenai pandangannya tentang pendidikan Islam di masa depan, dan juga sekaligus meresmikan penggunaan Ma’had al Aly, Sunan Ampel, STAIN Malang. Prasasti peresmian itu, sampai sekarang masih ada di depan Ma’had, dan saya kira, selamanya tidak akan pernah hilang dari tempat itu. Gus Dur akan tetap dikenang oleh warga kampus UIN Maliki Malang, baik sebagai dosen yang belum pernah berhenti, tokoh umat, cendekiawan, dan sebagai Presiden RI yang pertama hadir di kampus UIN Maliki Malang.

Satu hal yang tidak pernah akan saya lupakan dari Gus Dur`, ialah pesan beliau terkait STAIN Malang yang kini telah berubah menjadi UIN Maliki Malang. Pesan itu menyangkut konsep memadukan bentuk lembaga pendidikan Islam, antara ma’had dengan kampus. Konsep itu, oleh Gus Dur dianggap sangat tepat. Sebelum pulang dari meresmikian Ma’had STAIN Malang, Gus Dur singgah di pendopo Kabupaten Malang untuk santap siang. Pada kesempatan santap siang itu, beliau berpesan kepada saya, dengan mengatakan :  bentuk lembaga pendidikan ingkang panjenengan kembangaken sampun leres. Memadukan antawis tradisi perguruan tinggi lan pesantren, utawi ma’had. Sampun ngantos diubah-ubah, puniko sampun leres, ateges sampun kepanggih bentuk lembaga pendidikan ingkang tepat. Menawi wonten persoalan, kulo saget dikabar, Lan menawi tindak Jakarta, monggo mampir dateng istana. Ketika itu, segera saya jawab, inggih, insya Allah, matur nuwun, dalem isthoken.

Pesan Presiden KH Abdurrahman Wahid yang disampaikan dengan menggunakan Bahasa Jawa kromo——bahasa halus, terkait dengan konsep pendidikan yang menggabungkan antara tradisi pesantren dan kampus itu, tidak pernah saya lupakan. Pesan Gus Dur tersebut juga dikuatkan oleh Ibu Sinta Nuriyah yang ketika itu duduk di sebelah suaminya. Bersama Gus Dur dan Ibu Sinta Nuriyah, Pak Djohan Efendi, Pak Muslim Abdurrahman, dan beberapa pejabat lain, termasuk saya sebagai pimpinan STAIN Malang. Sekalipun Gus Dur sudah wafat, hari Rabu, tanggal 30 Desember 2009 jam 18.45 di Jakarta, saya bertekad mewujudkan pesan-pesan itu, hingga kampus ini ke depan semakin maju dan sempurna. Atas wafatnya Gus Dur kita semua berduka, dan berdoa, semoga Gus Dur ditempatkan oleh Allah swt., pada tempat yang mulia, di sisi-Nya. amien.

Penulis adalah Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim

Gus Dur AminRais dan

Hubungan Pak Harto dengan umat semakin akrab. Tapi, tak begitu dengan    tokoh NU, Abdurrahman Wahid, dan tokoh Muhammadiyah, Amien Rais.

Tabuhan beduk serta alunan takbir Pak Harto yang menyentuh dan
menyejukkan, di malam lebaran silam, bisa ditafsirkan macam- macam.   Itulah, agaknya, pertama kali Pak Harto digambarkan telah melebur    langsung di tengah umat dan menunjukkan keberpihakannya kepada umat    mayoritas di negeri ini. Sehingga, tak heran bila ada yang menilai,    makin mengental saja era yang kini kerap dibilang “bulan madu antara    pemerintah dan umat Islam” itu.    Betapa indahnya, memang, hasil “puncak pendekatan” Pak Harto kepada    umat Islam itu. Dan, itu akan menambah kecintaan rakyat kepada    beliau,” kata Abdul Gafur, salah seorang ketua Golkar, mengomentari    malam takbiran itu kepada FORUM.

Akrab dengan umat, tapi tampaknya tak begitu yang terjadi antara Pak    Harto dan dua tokoh dari basis Islam terbesar, Nahdlatul Ulama (NU)    dan Muhammadiyah, yakni Abdurrahman Wahid dan Amien Rais. Dengan   alasan, kendati Ketua PBNU Abdurrahman Wahid, sudah bersalaman dengan    Mbak Tutut, salah seorang ketua Golkar, tampaknya ia belum juga bisa    “diterima” Pak Harto.   Keadaan yang sama tampaknya juga dialami Amien Rais, Ketua Umum PP    Muhammadiyah. Ia disebut-sebut akan mundur dari Dewan Pakar ICMI. “Dia    akan dipindahkan ke Dewan Penasihat,” ujar seorang sumber tentang    Amien. Bahkan, sumber lain enyebutkan, doktor lulusan Universitas    Chicago, Amerika Serikat, itu sudah membuat surat pengunduran diri.    Tak hanya dari jabatan ketua Dewan Pakar, tapi juga dari ICMI. Konon, mulanya adalah perdebatan sengit di tubuh ICMI. Khususnya dalam  sebuah sidang Dewan Pakar organisasi itu, menyusul pernyataan keras   Amien di berbagai media massa. Kala itu, demikian sumber FORUM   memaparkan, sejumlah anggota meminta Amien memperlunak    pernyataan-pernyataannya. Sejumlah pendapat dan komentarnya terhadap    situasi mutakhir di dalam negeri, khususnya tentang konsesi tambang    milik Freeport, di Irian Jaya, memang sangat lugas. Sedang dalam    wawancaranya dengan FORUM, sehubungan dengan sejumlah kerusuhan yang    terjadi, misalnya, Amien antara lain mengatakan, “Pengusaha kecil    hanya bisa hidup melata tanpa daya di bawah pohon itu. Bahkan, untuk    menghirup sinar matahari pun tidak bisa. Itu jelas sangat memalukan.    Betul-betul memalukan. Bahkan saya agak emosional menilai, itu sudah    menjijikkan. Tingkat kolusi luar biasa,” kata Amien.    Karena pernyataan-pernyataan lugas Amien, ditambah komentar- komentar    lainnya (mulai dari soal suksesi sampai Freeport) itulah, kabarnya,    Pak Harto lalu mengambil jarak dengan pemimpin Muhammadiyah itu. Dan,    belum lama ini, Pak Harto sempat menyampaikan “kekecewaan”-nya itu   kepada Menristek B.J. Habibie yang juga Ketua Umum ICMI. kepada yang   bersangkutan. Bahkan, pada 6 Februari 1997, dalam sebuah rapat di   kediamannya, yang berlangsung selama lima jam, Habibie mengulang   ucapan Pak Harto kata demi kata. Tanpa mengurangi titik-komanya.    Konon, tindak-lanjut lebih jauh terhadap Amien baru dilakukan Senin,   24 Februari ini. Dalam forum yang berlangsung di rumah Habibie itulah    “nasib” Amien diputuskan lebih pasti. Kendati Ketua Achmad Tirtosudiro    membenarkan keriuhan di ICMI itu, seperti disampaikannya kepada SCTV,    toh, Habibie sendiri, kepada wartawan yang mencegatnya seusai acara   silaturahmi Korps Alumni HMI, Kamis malam, membantah semua itu. “Soal    itu tidak usah ditanyakanlah. Saudara kan bisa mengutip ceramah yang    saya sampaikan tadi,” kata Habibie menghindar.

Amien Rais pun membantah desas-desus itu. “Itu hanya rumor,” katanya.    “Siapa yang berani memarahi ketua umum PP Muhammadiyah?” ujar Amien   berkelakar. Menurut Amien, ICMI tetap seperti sediakala. Tak terjadi    apa-apa. Begitu juga yang menyangkut dirinya. “Mana mungkin saya   keluar dari ICMI. Saya kan yang mendirikan ICMI,” kata Amien kepada    FORUM.    Toh, kabar angin (rumor) atau bukan, “peristiwa” itu cukup menarik.   Soalnya, kalau benar Amien sampai mundur dari ICMI, ituakan    menunjukkan “ketidakkompakan” elite Islam yang selama ini ada.    Padahal, banyak pihak menilai, justru masa sekarang ini adalah bulan   madu Islam dan pemerintah. Dan, Amien sebagai pemimpin    Muhammadiyah–bukan sebagai tokoh ICMI–adalah eksponen penting dari    masa bulan madu tersebut.

Tak hanya dengan pemerintah Gus Dur dan Amien Rais terlihat renggang.    Antara mereka berdua pun sebenarnya tak sejalan, misalnya. Kendati    keduanya sama-sama memiliki kekentalan watak dan semangat kecendekiaan    dan kemusliminan, toh kerap dituding selalu berseberangan dalam    mengekspresikan kecendekiaan dan keislamannya tadi. (Sampai-sampai,    budayawan Emha Ainun Nadjib perlu repot-repot melibatkan diri dalam    “Rujuk Sunda Kelapa” untuk mempertemukan kedua tokoh Islam itu    beberapa waktu lalu).    Sementara, Gus Dur sendiri tak jarang dianggap nyeleneh tidak hanya    oleh pihak pemerintah, tapi juga di kalangan NU sendiri. Mulai dari    sarannya mengganti assalamualaikum (yang oleh sejumlah orang dinilai    sangat khas Islam) dengan ucapan selamat pagi, sampai kedekatannya    dengan pemimpin Partai Demokrasi Indonesia yang tersisih, Megawati,    dan yang terakhir mengundang Siti Hardiyanti Rukmana, putri Presiden Soeharto dan juga salah seorang ketua Golkar, ke pesantren-pesantren    NU di Jawa Timur.

Gus Dur sudah mulai keluar dari koridor dan memihak pada kekuasaan,”    ujar Mauludin, Koordinator Generasi Muda NU Surabaya, mengomentari    acara undang-mengundang tadi. Sementara, pengamat politik Arbi Sanit    menilai langkah Gus Dur itu tak lepas dari interes politik. Soalnya,    sejak terpilih dalam Muktamar NU di Cipasung, PBNU pimpinan Gus Dur    belum diterima Pak Harto. Bahkan, setelah “salaman politik” Gus Dur    dengan Pak Harto di Pesantren Genggong, Probolinggo, akhir tahun lalu,    Gus Dur pun tak termasuk dalam rombongan Pengurus Induk Koperasi    Pondok Pesantren saat menghadap Pak Harto medio Januari lalu. Padahal,    hampir semua pemimpin NU hadir di Istana kala itu. Dan itu dinilai    sebagai semacam pengucilan politik. Apalagi, “Karena keterpojokan    itulah Gus Dur lalu berbalik,” kata Arbi.

Gus Dur sendiri, sebagaimana biasa, tenang-tenang saja. Sebenarnya,    menurut Gus Dur, pihaknya telah bersikap adil kepada semua pihak.    Dalam hal menjadikan NU sebagai panggung ketiga OPP, misalnya, ia pun    ingin bersikap serupa terhadap PPP. “Tapi, bagaimana saya akan   menawarkan NU kepada PPP, wong Buya Ismail-nya nggebukin saya,” kata    Gus Dur. Itulah nuansa warna “politik” Islam, dengan eksponen maupun    pendukungnya. Ada gerakan yang sengaja bermain di pentas politik, ada    yang ingin menjaga jarak dengan kekuasaan, dan ada pula yang asyik    berada di pinggir. Masing-masing kadangkala menyembulkan “perbedaan    pandangan”Ñkeadaan yang secara teologis disebut “akan membawa rahmat”.    Dan, bagi Pak Harto, kekecewaan dan perbedaan pandangannya dengan tokoh-tokoh Islam, seperti Amien Rais di Muhammadiyah dan Gus Dur di    NU itu, tampaknya tak menghalangi langkahnya untuk mendekati umat.   Itulah sebabnya, mengapa Pak Harto lebih senang berhubungan langsung    dengan muslimin Indonesia, sebagaimana dilakukannya di waktu takbir    akbar itu, ketimbang dengan para pemimpin organisasinya. Buktinya,    malam itu, hanya para artis dan tokoh muslim penghimpun massa, seperti    Rhoma Irama, Zainuddin M.Z., dan Emha Ainun Nadjib, saja yang menghias    panggung Monas. Dan, malam itu, Pak Harto telah tampil sebagai    pemimpin dan pemersatu umat Islam Indonesia. Insya Allah. Maman    Gantra, Zuhri Mahrus, Fahmi Imanullah, Hanibal W.Y.W. (Jakarta), dan Marcelino X. Magno (Jakarta)

Kepergian Gus Dur Duka Semua Elemen Bangsa

Bogor (ANTARA News) – Tokoh Badan Sosial Lintas Agama (Basolia) Bogor Jabar KH Zaenal Abidin, mengatakan, kepergian KH Abdurrahman “Gus Dur” Wahid merupakan duka bagi semua umat agama dan elemen bangsa.”Semua umat agama dan elemen bangsa ini merasa kehilangan Gus Dur. Bahkan dunia internasional pun kehilangan beliau, karena hingga sejauh ini tokoh pluralis yang bisa diterima semua kalangan hanya beliau,” kata Zaenal Abidin di Bogor, Sabtu.Warga Kota Bogor, Jawa Barat, kata dia, masih merasa kehilangan mendalam atas wafatnya Presiden ke-4 RI.Besarnya pengaruh Gus Dur, lanjut dia, terlihat dari tingginya penghormatan bangsa ini terhadapnya. Tak ayal begitu informasi wafatnta Gus Dur menyebar, secara spontan warga melakukan takjiah. Sejak di RCSM, Ciganjur Jakarta hinga Tebuireng Jombang, jenazah Gus Dur dibanjiri peziarah.

Menurut Zaenal, semua umat beragama ikut mendoakan Gus Dur. Tak ayal bila bukan hanya masjid yang melakukan salat ghaib, namun kalangan gereja, pura, vihara, hingga klengteng tak mau tertinggal, ikut larut dalam duka serta mendo`akan tokoh yang dijuluki bapak bangsa.”Saya kira hingga saat ini, tokoh besar di Indonesia yang wafatnya ditangisi serta didoakan umat enam agama hanya Gus Dur. Itu menunjukkan jasa Gus Dur bagi bangsa ini dirasakan semua kalangan dan sosoknya dihormati semua pihak,” katanya.Dari internal umat Islam sendiri, doa untuk Gus Dur terus mengalir. Hal tersebut tidak hanya dilakukan oleh warga Nahdlatul Ulama (NU) saja sebagai habitat yang membesarkan dan dibesarkan Gus Dur, namun juga ditunjukkan oleh warga Muhammadiyah serta berbagai aliran lainnya. Bahkan warga Syiah yang kerap dianggap sangat berbeda pandangan dengan Muslim sunni pun ikut mendoakan Gus Dur.

Doa untuk Gus Dur juga berkumandang di seantero republik mulai Sabang hingga Papua. Jutaan umat dari lintas agama melakukan ritual keagamaan dengan caranya masing-masing, untuk melepaskan kepergian Gus Dur.Warga Aceh dan Papua yang sejak beberapa dekade silam selalu bergolak, ikut berduka atas wafatanya Gus Dur. pasalnya, menurut Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, Gus Dur merupakan pembuka jalan damai krisis kemanusiaan di Aceh. Sedangkan bagi warga Papua, Gus Dur tak lain sebagai orang yang paling punya andil mengembalikan nama Papua setelah sejak zaman Orde Baru dipaksa diganti dengan nama Irian Jaya.

Lebih lanjut Zaenal mengatakan, dirinya berharap penghormatan terhadap Gus Dur tidak hanya dilakukan hanya beberapa saat hingga tujuh hari seusai ia wafat. Namun harus dilakukan secara substansial, yakni dengan melanjutkan cita-cita besar perjuangannya dalam mewujudkan kehidupan berbangsa yang toleran, plural dan demokratis.”Penghormatan terbesar terhadap jasa Gus Dur harus dilakukan dengan melanjutkan cita-cita besar gagasan dan perjuangannya. Hal itu merupakan kebutuhan serta kemiscayaan yang harus kita perjuangkan, karena kita tidak mungkin bisa membangun bangsa yang besar ini secara sendiri-sendiri dan tidak menghargai keragaman yang ada,” katanya.(*)

COPYRIGHT © 2010

BERAGAMA ALA GUS DUR…

Wafatnya Gus Dur memang benar-benar membuat banyak kalangan terhenyak. Kenapa secepat itu Gus, njenengan meninggalkan kita semua? Pertanyaan ini bahkan bukan hanya dilontarkan oleh umat atau para pengagumnya, namun juga oleh para lawan politiknya. Bagi pengagumnya, barangkali masih merasakan kehausan oleh kiprah nyata Beliau yang betul-betul terasa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebaliknya bagi para lawan politiknya, Gus Dur merupakan sosok yang menantang untuk dilawan, bukan soal kalah atau menang. Di sini akan mengurai bagaimana Gus Dur memahami dan menjalani agamanya dari kacamata pengagumnya.

Yang pertama, Gus Dur adalah penganut ajaran agama Islam yang kuat dan teguh. Dalam segala hal, Beliau selalu pasrah kepada Allah dan berharap kekuatan hanya dari Allah. Hal ini terbukti bahwa Beliau tidak mengenal takut dan mencari aman dalam bertindak. Memang begitulah sikap seorang mukmin dan muslim sejati sebagaimana tercantum dalam Al Quran Surat Al Baqoroh ayat 112 yang artinya : “(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”

Kedua, Beliau berkeyakinan betul akan kebenaran dan kemuliaan agamanya, sehingga tidak ada rasa khawatir bahwa agamanya akan hancur oleh pihak-pihak lain selama penganutnya beragama secara benar. Hal ini mendasari sikap Beliau yang sangat menentang kekerasan apapun bentuknya terhadap penganut agama lain. Tindakan-tindakan teror terhadap penganut agama lain justru akan memperlemah kekuatan agama itu sendiri. Agama akan kuat dan jaya apabila penganutnya juga kuat dan berkualitas dalam menjalankan agamanya. Membangun peradaban melalui kemuliaan akhlak dan kecerdasan intelektual adalah cara yang tepat untuk menjaga kejayaan Islam sebagaimana dulu dilakukan oleh Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya.

Ketiga, Beliau dalam beragama lebih mementingkan isi dan esensi daripada simbol-simbol. Maka tidaklah aneh manakala beliau dimintai pendapat antara assalamu’alaikum dan selamat pagi adalah sama, sebab esensinya memang sama, yang penting adalah makna dan keikhlasan mengungkapkannya. Bagi orang Jawa, ungkapan sugeng enjang, sugeng ndalu adalah ungkapan santun yang menyatakan doa keselamatan untuk orang yang ditemuinya. Untuk seorang muslim yang memang sudah menyatu dengan Allah, maka berdoa dengan cara dan bahasa apapun adalah tidak masalah. Sebab baginya, Tuhan ya Allah. Allah itu Tuhan. Untuk agama lain, ya terserah…lakum dinukum waliya din. Oleh karena itu, Gus Dur pun berhasil meyakinkan kaum Nahdliyin untuk menerima Pancasila sebagai dasar organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dengan silanya yang pertama Ketuhanan Yang Maha Esa.

Keempat, Gus Dur menyadari bahwa Islam hadir di Indonesia di saat sudah ada agama dan keyakinan lain di negara ini. Indonesia adalah negara bangsa bukan negara agama. Indonesia dibangun di atas berbagai suku dan budaya yang hidup didalamnya. Oleh karena bukan negara agama, maka Umat Islam pun tidak boleh memaksakan agamanya sebagai dasar konstitusi negara. Justru umat Islam harus mengembangkan sikap toleransi terhadap penganut agama lain dalam rangka mengisi dan membangun bangsa ini. Hal ini juga sesuai dengan sikap Nabi Muhammad yang berusaha membangun peradaban santun dan damai, jauh dari kekerasan di tengah-tengah kemajemukan masyarakat Madinah. Oleh karena itu sikap pluralisme dan multikulturalisme harus senantiasa dibangun dan dijaga oleh umat Islam di Indonesia.

Kelima, Demokrasi yang senantiasa disuarakan dan dilakukan oleh Gus Dur bukanlah karena dipengaruhi oleh orang Barat. Gus Dur adalah orang Islam tulen. Beliau dari kecil ngaji di pesantren, dididik langsung oleh kakek Beliau KH. Hasyim Asy’ari yang jelas-jelas bukan sembarang ulama, kemudian dilanjutkan dengan pendidikan di negara yang merupakan basis pendidikan Islam, yaitu Mesir dan Irak. Sehingga demokrasi, bagi Gus Dur, juga merupakan pemahaman mendalam yang didasari penuh oleh ajaran Islam. Demokrasi dibangun oleh adanya penghargaan terhadap hak-hak asasi seorang manusia. Hak untuk hidup, berpikir, menyatakan pendapat dan berkeyakinan sepenuhnya dijamin oleh ajaran Islam. Penghormatan dan penghargaan tanpa pamrih terhadap hak-hak inilah yang melahirkan demokrasi. Selama ini demokrasi belum berjalan secara optimal karena adanya pamrih dan kepentingan pribadi atau golongan yang menjalankannya. Demokrasi disetting sedemikian rupa oleh penguasa atau pihak-pihak tertentu hanya untuk memenuhi keuntungan dan kepentingannya sendiri. Gus Dur sangat menentang hal demikian.

Keenam, Gus Dur adalah seorang yang gigih dan teguh dalam menyatakan kebenarannya, meskipun menghadapi kecaman, celaan dari pihak lain. “Katakanlah yang benar walau pahit rasanya”, (Qul al haqq walau kana murran). oleh karena itu tidaklah aneh bila banyak peristiwa-peristiwa yang oleh orang banyak dianggap salah, oleh Gus Dur belum tentu salah tapi juga tidak dianggap betul. Yang hitam bukanlah hitam, yang putih belum tentu putih. Dalam hal-hal seperti itu, Gus Dur lebih banyak memberikan pendidikan hakekat kepada umatnya. Lihat kasus Inul, di saat banyak orang mengecam dan memvonisnya, kepada Gus Dur lah akhirnya Inul berkeluh kesah. Gus Dur bukannya membela Inul, namun secara tersirat Gus Dur memberikan pendidikan yang luar biasa secara tidak langsung, yaitu pertama, Inul adalah manusia biasa, bukanlah malaikat. Jadi wajarlah kalau berbuat salah, namun bukan berarti harus dihina dan diperlakukan secara semena-mena. Justru kita harus kasihan kepada sosok seperti Inul ini. Dia justru harus dibimbing untuk menyadari perbuatannya bahwa setiap tindakan mesti disertai tanggung jawab. Dan tindakan mengandung resiko. Oleh karena itu harus dipikir matang-matang sebelum bertindak. Kedua, bahwa yang penting adalah penontonnya. Meskipun si Inul mau goyang jempalitan nggak karuan, kalau tidak ada yang nonton pasti dia capek sendiri. Nah yang penting didandani juga penontonnya, umat itu sendiri. Nah itu kan kerjaan para ulama, kyai, habib, bahkan penonton itu sendiri. Kalau umat Islam kuat dalam menjalankan ajaran agamanya, pasti akan menjauhi menonton hal-hal demikian. Ketiga, Hal tersebut menunjukkan bahwa masih banyak PR (Pekerjaan Rumah) bagi umat Islam untuk memperkuat diri dengan membangun peradaban yang sesuai dengan ajarannya. Kekuatan teknologi, ilmu pengetahuan dan media adalah mutlak dibutuhkan untuk mengimbangi infiltrasi dahsyat dari budaya Barat. Dibutuhkan generasi-generasi muslim yang menguasai tiga hal tersebut sehingga mampu mengatasi permasalahan-permasalahan moral yang disebabkan oleh kekuatan media Barat.

Ketujuh, ……

Kedelapan, …..

Dan masih banyak lagi, yang belum mampu penulis ungkapkan karena keterbatasan penulis. Demikianlah penulis yang tidak pernah berdekatan secara fisik dengan Beliau namun dekat dengan pencerahannya, mencermati sekelumit bagamana Gus Dur beragama dan menerapkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan sikap beliau mestinya bukanlah hal aneh bagi seorang muslim sejati. Selamat jalan Gus Dur, semoga engkau pulang ke pangkuan Ilahi dengan Ridho dan DiridhoiNya… Amin…

Mohon izin mengomentari “yg pertama” dan”kedua” Memang begitulah seharusnya pendirian orang beragama . Jgn mengurusi kepercayaan orang lain,apalgi iman . Kalo agama kita A jgn coba2 mau cari jawaban kenapa sih .kok agama B begitu begini ? Karena kalo kt BISA ngerti “begini begitu” nya agama B ,MUNGKIN kt sdh jadi penganut agama B. Gus Dur KEKEUH ,KUKUH pendiriannya terhadap agama yg dianutnya. Beliau memang PAHAM MEMAHAMI agama2 lain karena itu beliau TDK TAKUT IMAN kepercayaannya akan BISA di[pengaruhi iman kepercayaan ORANG LAIN.

Makanya BENARLAH orang yag suka mau ganggu2 ketentraman agama orang lain sebenarnya TDK PUNYA IMNAN yg KUAT. Gus DUR menurut sy juga TIDAK SUKA mentang2 kuat menekan yg lemah. Misalnya saja SIAPA yg berani MENGHALANGI pembangunan Musholla atau Mesjid dengan IZIN atau TANPA IZIN. Pasti jalan ! Mohon maaf dgn sedikit, mengganggu kelancaran LL dgn memasang drum2 atau pot2 dan diatasnya diletakkan karton2 meminta sumbangan (pdhl sdh dilarang MUI).Dan TDK ADA YG MERIBUTKAN walaupun katanya uang hasil sumbangan tsb.tdk sepenuhnya masuk kas resmi ,tp dimabil prosentasi pengumpulnya.
Dalam soal TOLERANSI AGAMA atau APA`SAJA GUS DUR TIDAK ADA DUANYA. Tapi mudah2an kata pepatah patah satu tumbuh seribu. Selamat jalan dan selamat beristirahat KEKAL dan DAMAI disi ALLAH SWT GUS DUR YANG TERKASIH. AMIN.

Umat Islam Indonesia dan Ideologi Komunis

Waruno Mahdi*

SEBANYAK 90 persen penduduk Indonesia beragama Islam. Sudah semestinya umat ini memegang peran penting dalam kehidupan bangsa. Sudah hampir seribu tahun, di pesisiran Nusantara bertaburan pusat kebudayaan madani Islam yang cergas berniaga. Umat Islam jugalah yang memelopori perlawanan terhadap penjajahan Portugis dan Belanda serta menjadi perintis perjuangan kemerdekaan nasional dengan pembentukan Sarekat Islam.

Namun, umat Islam Indonesia menderita serba kekurangan sepanjang zaman penjajahan, sampai-sampai oleh seorang pengamat pernah dijuluki sebagai “kelompok mayoritas yang bermentalitas kelompok minoritas”. Walaupun jumlahnya 90 persen dari penduduk, dalam kehidupan politik, umat Islam Indonesia seakan-akan “minder”. Pertama kalinya dalam sejarah Republik Indonesia, yang menjadi presiden kini tokoh partai Islam. Maka dapat diharapkan, umat mayoritas ini akan menempati kembali kedudukan terkemuka yang layak dalam kehidupan bangsa. Sayang, realisasi harapan ini masih dirintangi oleh kekurangan solidaritas di dalam umat Islam sendiri. Nyatanya, umat mayoritas inilah yang paling keras bereaksi terhadap prakarsa Presiden Abdurrahman Wahid untuk memeriksa kembali Ketetapan Nomor XXV/MPRS/1966. Mungkin tokoh partai Islam lain berat menyaingi kepopuleran Gus Dur di dalam dan di luar negeri, maka dilihatnya kasus ketetapan MPRS ini sebagai “kesempatan”.

Selain dampak langsung persaingan itu masih ada dampak balik. Akibat serangan-serangan terhadapnya, Gus Dur terpaksa bersikap defensif, termasuk “terjebak” memecat Laksamana Sukardi tanpa alasan yang memadai serta kurang tegas mengecam aksi Banser terhadap redaksi Jawa Pos. Beradu pendapat secara bebas itu memang satu asas demokrasi. Tapi segalanya itu harus dalam kerangka pembelaan keutuhan wadah demokrasi dan negara hukum itu sendiri. Yang menjadi ukuran adalah apakah kritik tertentu itu konstruktif akan mencegah satu kekeliruan, atau destruktif — semata-mata akan menjatuhkan saingan politik.

Para tokoh modern partai-partai Islam itu cendekiawan yang paham akan tamadun politik modern dalam tatanan demokrasi. Argumentasi Gus Dur mengenai ketetapan MPRS yang amat gamblang itu pasti mereka pahami pula. UUD 1945 tidak memberi peluang untuk melarang satu ideologi, tapi hanya sekadar untuk melarang satu partai — itu pun tentu hanya setelah memenuhi prosedur hukum yang sah.

Baiklah kasus Tap No. XXV/MPRS/1966 itu kita teliti lebih saksama. Dasar syak wasangka umat Islam terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah karena komunisme itu ateis. Sebenarnya, orang PKI pun ada yang beragama, sedangkan orang ateis di Indonesia ada yang tak berhubungan dengan PKI, bahkan ada yang bermusuhan dengan PKI. Jadi, kalau memang ateisme yang dilawan, malah melesetlah jika yang disasari itu khusus komunisme. Pemojokan orang komunis dengan dalih bahwa mereka anti-Tuhan itu asalnya satu taktik zaman penjajahan yang bertujuan memecah-belah gerakan kemerdekaan nasional dulu.

Pokok ajaran komunis itu bukan ateisme, melainkan teori perjuangan kelas. Agama oleh Karl Marx dipandang sebagai alat kelas penindas untuk meninabobokan kelas tertindas, maka ditentangnya. Marx ternyata keliru. Agama bisa juga memihak kaum tertindas. Kita ingat peran mazhab Protestan di Eropa dan agama Islam di Indonesia dalam perjuangan melawan feodalisme pada abad ke-15 dan ke-16. Lihatlah juga kasus “teologi pembebasan” di Amerika Latin pada abad ke-20. Akhirya, sikap komunis terhadap agama ini-itu sekadar taktik, seperti partai memilih akan berkoalisi dengan siapa.

Keberatan hakiki terhadap komunisme sejak dulu bukan ateismenya, melainkan teori perjuangan kelas dengan penumbangan negara lama dan penegakkan “diktatur proletariat”. Tapi PKI dulu saja sudah akur dengan “sosialisme ala Indonesia” rumusan Sukarno, yang mereka anggap akan menuju tatanan sosialis mereka tanpa perlu menumbangkan negara RI. Memang Karl Marx merumuskan teori perjuangan kelasnya di zaman antagonisme kelas abad ke-19, waktu gerakan “kelas proletar” tidak mendapat akses ke proses pemerintahan. Dalam abad ke-20, gerakan buruh di negeri industri disertakan sebagai salah satu sokoguru negara, sehingga tidak lagi antagonis. Setelah Uni Soviet roboh dan perang dingin berakhir, isu “diktatur proletariat” di kalangan komunis sedunia sudah sepi benar. Dulu sajapun, orang komunis cuma berbahaya ketika dilarang dan dipaksa bergerak di bawah tanah. Tidak nyenyaklah orang tidur, menduga-duga mereka gelap-gelap lagi berbuat apa. Sedangkan kalau bergerak legal dalam rangka tatanan demokrasi, mereka malah turut memikul tanggung jawab negara.

Prakarsa Gus Dur untuk konsisten menegakkan kembali legalitas juga dalam hal menghapuskan Tap No. XXV/MPRS/1966 itu masih punya aspek lain. Pada 1965-1966, umum tidak menggugat ketika oknum yang diduga sebagai PKI dibantai ratusan ribu orang. Toh itu orang komunis, sangkanya. Belakangan, giliran orang Islam alim-alim yang menjadi korban di Tanjungpriok, Lampung, dan juga di Aceh.

Adat bunuh-bunuhan yang “dimasyarakatkan” oleh Orde Baru sebagai cara politik itu adat jahiliah yang amat berbahaya untuk nasib bangsa. “Adat” itu mengancam kehidupan orang Islam dan orang Kristen di Maluku, dan merongrong keutuhan Negara Kesatuan Republika Indonesia (NKRI). Jika dibiarkan terus, siapa bisa menjamin tak mungkin satu saat pengikut Muhammadiyah bunuh-bunuhan dengan Nahdlatul Ulama? Dan lepas dari soal pembunuhan, kalau sekali boleh sewenang-wenang melarang PKI, apakah besok boleh melarang PPP atau Golkar? Tidakkah dulu sudah pernah melarang Masyumi dan PSI? Memang akseptasi terhadap pelanggaran hukum itu serupa jin: sekali boleh menyelinap dari botol, sulit dibuat masuk kembali. Lumrah jika Gus Dur selaku Presiden RI bertekad membasmi adat sesat pembantaian lawan politik dan pelarangan ideologi itu sampai ke akarnya. Sedangkan pangkal mula adat warisan Orde Baru itu tiada lain dari pembantaian 1965-1966 dengan Tap No. XXV/MPRS/1966 itu.

Kalau presiden dari partai Islam ini berhasil, berartilah peran teladan umat Islam itu pulih kembali, maka terhapuskanlah sikap “minder” yang dulu itu. Dalam tamadun demokrasi, mayoritas unggul karena cakap mengatur kehidupan bersama yang rukun tanpa harus memaksa minoritas takluk. Sejarah masa kejayaan Islam berlawanan sekali dengan gambaran “minder” dan “sektaris” yang suka dilekatkan pada umat islam. Ini tidak saja jelas misalnya dari zaman Harun al-Rasyid, ketika Bagdad menjadi pusat ilmu pengetahuan dan kesenian yang masyhur di seluruh dunia.

Kita ingat riwayat Sultan Salah ad-Din, sampai sekarang dikagumi orang Eropa yang menamakannya “Saladin”. Beliau mengalahkan balatentara kaum Serani dan menyisihkan mereka dari Palestina, kemudian mempertahankan Jerusalem terhadap serbuan baru dalam Perang Salib Ke-3. Walaupun demikian, beliau dalam sastra dan pustaka sejarah di Eropa dilukiskan sebagai penguasa yang arif bijaksana. Dicatatnya juga perlakuan beliau yang begitu manusiawi terhadap umat non-Islam (terutama Kristen dan Yahudi).

Sejarah Indonesia cukup contohnya akan tokoh Islam yang menjadi teladan. Lihatlah Syekh Yusuf pada abad ke-17. Tidak saja unggul selama memimpin perlawanan Banten terhadap VOC, dalam tawanan pun, dalam pengasingan di Tanjung Harapan, beliau tetap dihormati sebagai pemimpin agama, tidak sekadar oleh umatnya sendiri. Orang Eropa di Afrika Selatan turut hormat kepada beliau (yang mereka sebut “Sheik Joseph”) sebagai ulama yang arif dan berpengetahuan luas. Dalam pergerakan kemerdekaan, tokoh nasional yang dikenal paling cendekia, paling luas pengetahuannya, mahir delapan bahasa, dan sekaligus tercatat sangat toleran kepada orang yang berbeda pendiriannya justru seorang tokoh Islam, yaitu Haji Agus Salim.

Walaupun penduduk masih serba kurang pendidikan, tokoh-tokoh Islam yang sempat bersekolah sejak paling permulaan pergerakan tidak berpandangan sempit. Lihatlah baik Tirto Adisoerjo maupun Tjokroaminoto. Sarekat Islam menjadi wahana yang luas, sampai-sampai PKI itu sendiri terjadi dari salah satu bekas fraksi SI itu! Walaupun pergerakan lalu berurai atas bunga-rampai arus politik, menghadapi ancaman Perang Dunia II, mereka dapat berpadu kembali: bertemu Abikoesno Tjokrosoejoso (PSII) dengan Husni Thamrin (Parindra) dan Amir Sjarifoeddin (Gerindo) mengorganisasi Rapat Umum GAPI yang memprakarsai Kongres Rakjat Indonesia 1939, menghayati persatuan Nasasos yang diimingkan oleh Bung Karno.

Kebijakan Gus Dur yang mengandalkan toleransi antara golongan, suku bangsa, dan umat ini benar-benar “kembali ke asal”, menghayati kembali gagasan bapak-bapak kemerdekaan yang dulu, sambil menjamin prasarana terbangunnya tamadun politik negara demokrasi sekarang. Bersamaan dengan itu, kebijakan tersebut mencerminkan jiwa kebesaran Islam periode kejayaan negeri “di atas angin” dan tokoh Islam terkemuka pergerakan nasional negeri “di bawah angin” ini.
Tokoh-tokoh politik Islam berpendidikan modern sekarang berat tanggung jawabnya, kalau mendahulukan perhitungan singkat persaingan antarpartai dan meremehkan kepentingan bersama yang lebih besar. Mereka pasti paham akan makna penting kebijakan Gus Dur itu khusus bagi umat Islam Indonesia seluruhnya, agar menempati kedudukan yang layak sebagai barisan pokok dalam derap maju bangsa Indonesia.

*) Ahli linguistik historis dan sejarah kebudayaan, kini tinggal di Berlin, Jerman

Sumber:
Tempo No. 14/XXI/5-11 Juni 2000

Jum’at, 01 Januari 2010 , 07:49:00

Gus Dur Pahlawan Rakyat Kecil dan Keadilan
Terlalu Besar Dimata NU

SETENGAH TIANG: Masyarakat mengibarkan bendera setengah tiang. Ungkapan belasungkawa atas wafatnya mantan presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid. MUJADI/PONTIANAK POST

PONTIANAK – Sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memiliki nilai yang terlalu besar dimata warga Nahdlatul Ulama (NU) se-Indonesia. Gus Dur merupakan cucu pendiri NU, KH Hasyim Ashari dan anak KH Abdul Wahid Hasyim.“Gus Dur bukan hanya generasi ke-3 pimpinan NU, tapi dibawah kepemimpinannya,  NU berkembang seperti sekarang. Beliau pahlawan kebangkitan NU, setelah banyak kekosongan waktu orde baru,” kata Ketua Pengurus Wilayah NU Kalbar Drs M Zeet Hamdy Assovie MPM dihubungi kemarin (31/12) siang.Ia sendiri sering berkomunikasi langsung dengan Gus Dur. Wafatnya Gus Dur membuat Zeet sangat kehilangan. Disamping Gus Dur sebagai pahlawan rakyat kecil dan keadilan. Orangnya juga konsisten membina hubungan umat beragama.

“Beliau figur paling mampu dan terbaik untuk membuat suasana nyaman dalam menciptakan kerukunan umat beragama. Indonesia selalu butuh figur seperti Beliau,” tegasnya.Gus Dur mampu mentransfer pesan, ajaran, petuah, dan ajakannya pada semua insan Nahdliyn. Semua itu seperti sudah mengalir dalam tubuh warga NU se-Indonesia. “Pikiran Gus Dur selalu mengutamakan kerukunan umat beragama,” katanya.Menurut Zeet, Gus Dur merupakan satu-satunya tokoh nasional yang belum memiliki tandingan. Memang jika dilihat dari paham kebangsaan, Gus Dur No.2 setelah Mantan Presiden Pertama Indonesia Soekarno.“Tapi jika dilihat dari kemampuannya menyatukan banyak pandangan dari berbagai umat beragama. Belum ada yang bisa menyaingi Beliau,” ujar Zet.

Nilai Gus Dur yang begitu besar bagi NU membuat seluruh warga Nahdlyn berduka cita dan menggelar tahlilan selama satu minggu, mulai malam tahun baru 2010. Di Kalbar sendiri kegiatan tahlilan dipusatkan di Sekretariat PWNU Kalbar Jalan Gusti Hamzah No.1 Pal 3.Sementara itu, terkait masalah perlengseran Gus Dur ketika masih menjabat sebagai Presiden RI. Zeet mengatakan, Gus Dur tidak pernah mempersoalkan hal itu.

“Malah setelah kejadian Gus Dur harus mengundurkan diri dan disorot dengan mengunakan celana pendek. Beliau langsung berkumpul dengan warga NU dan tertawa bersama,” kata Zeet, mantan Sekda Singkawang itu.Gus Dur menyampaikan, bukan keinginannya sendiri untuk menjadi presiden, yang memilih anggota DPR/MPR. “Beliau sudah mengajarkan pada kita untuk tidak melakukan anarkis atas kejadian itu,” ujarnya.Tapi kata kunci pesan yang ingin disampaikanya Gus Dur. Selama dua tahun menjabat, banyak hal-hal mendasar yang dilakukannya. Gus Dur berani melakukan merger beberapa departemen untuk perbaikan bangsa.“Bukti keberhasilan Beliau, saat ini rakyat Indonesia lebih dewasa. Gus Dur pun diterima semua kalangan dan golongan rakyat Indonesia,” pungkas Zeet. (mde)

Mahathir Mohamad: Gus Dur Patriotik dan Nasionalis

Jum’at, 01 Januari 2010 | 06:59 WIB

TEMPO Interaktif, Kuala Lumpur – Ungkapan belasungkawa dari para tokoh dunia terus mengalir atas meninggalnya Presiden Ke-4 Republik Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Di Kuala Lumpur, mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mendatangi Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk menyampaikan rasa duka citanya, Kamis (31/12).Selama beberapa menit Mahathir melakukan penghormatan terakhir dengan membubuhkan ucapan dan tandatangan di Book of Condolence yang disiapkan di lobi depan  Kedutaan Besar Republik Indonesia Kuala Lumpur, dilanjutkan dengan berdoa di depan foto Gus Dur.“Saya ikut berduka cita atas kepergian Gus Dur,” ucap Mahathir. “Bagi saya beliau adalah seorang patriotik dan nasionalis bagi bangsa Indonesia dan umat Islam.”
Mahathir juga sempat menyinggung sikap humoris Gus Dur. “Beliau banyak mempunyai cerita lucu yang sering membuat kita tertawa, walaupun sedang membicarakan hal serius,” kenang dia.Walaupun dalam beberapa masalah terdapat perbedaan pandangan, Mahathir mengaku tetap hormat kepada Gus Dur.

Selain Mahathir Mohammad, Wakil Menteri Luar Negeri Malaysia A. Kohilan Pillay juga mendatangi KBRI Kuala Lumpur untuk menyampaikan ucapan belasungkawa.

Gus Dur meninggal di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada Rabu (30/12) pukul 18.45. Almarhum wafat karena komplikasi penyakit diabetes, ginjal, dan stroke.

Mahathir Mohamad: Gus Dur Patriotik dan Nasionalis

Jum’at, 01 Januari 2010 | 06:59 WIB

TEMPO Interaktif, Kuala Lumpur – Ungkapan belasungkawa dari para tokoh dunia terus mengalir atas meninggalnya Presiden Ke-4 Republik Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Di Kuala Lumpur, mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mendatangi Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk menyampaikan rasa duka citanya, Kamis (31/12).Selama beberapa menit Mahathir melakukan penghormatan terakhir dengan membubuhkan ucapan dan tandatangan di Book of Condolence yang disiapkan di lobi depan  Kedutaan Besar Republik Indonesia Kuala Lumpur, dilanjutkan dengan berdoa di depan foto Gus Dur.

“Saya ikut berduka cita atas kepergian Gus Dur,” ucap Mahathir. “Bagi saya beliau adalah seorang patriotik dan nasionalis bagi bangsa Indonesia dan umat Islam.”

Mahathir juga sempat menyinggung sikap humoris Gus Dur. “Beliau banyak mempunyai cerita lucu yang sering membuat kita tertawa, walaupun sedang membicarakan hal serius,” kenang dia.Walaupun dalam beberapa masalah terdapat perbedaan pandangan, Mahathir mengaku tetap hormat kepada Gus Dur.

Selain Mahathir Mohammad, Wakil Menteri Luar Negeri Malaysia A. Kohilan Pillay juga mendatangi KBRI Kuala Lumpur untuk menyampaikan ucapan belasungkawa.
Gus Dur meninggal di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada Rabu (30/12) pukul 18.45. Almarhum wafat karena komplikasi penyakit diabetes, ginjal, dan stroke.

Gus Dur dan Islam

Submitted by admin on Sat, 01/02/2010 – 00:00

Gus Dur dan Islam

Mamun Murod Al-Barbasy
Ketua PP Pemuda Muhammadiyah

nnalillahi wa inna ilahi rojiun. Tokoh besar dan bapak bangsa dengan beragam predikat, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), telah berpulang ke rahmatullah pada 30 Desember 2009. Siapa pun yang mengenal Gus Dur secara dekat, baik dalam artian fisik maupun dekat, karena gagasan pemikirannya dipastikan paling merasa kehilangan.

Gus Dur adalah sosok pemikir Islam genuine Indonesia. Gus Dur merupakan sosok pemikir Muslim yang lebih menggambarkan wajah Islam Indonesia yang sesungguhnya akulturatif, moderat, dan toleran. Pemikiran Gus Dur berbeda dengan pemikiran mereka yang mencoba menampilkan wajah Islam skriptu-ralis yang serba rigid dan berbeda juga dengan mereka yang mencoba menampilkan wajah Indonesia yang sekuleristik.

Pendekatan serba fikih

Lazimnya kebanyakan pemikir dari kalangan pesantren yang mendasarkan pemikiran pada pendekatan fikih, Gus Dur juga dikenal sebagai pemikir yang dalam menyikapi perkembangan selalu mendasarkan pada pendekatan fikih.
Dampak pendekatannya yang serba fikih menjadikan tampilan pemikiran Gus Dur selalu tidak hitam-putih. Ini mengingat banyaknya sumber yang dijadikan sebagai rujukan pemikiran. Dalam tradisi NU, yang menjadi sumber hukum bukan sekadar Alquran dan hadis, melainkan juga ijmak dan qiyas. Dalam hal sikap dan pemikiran politiknya, Gus Dur juga selalu berusaha mengambil jalan tengah (tawas-suth). Gus Dur tidak mau terjebak dan mengambil jalan ekstrem (tat-haruf) atau mengambil jalan paling lunak.

Asas tunggal

Ketika rezim Orde Baru bermaksud menetapkan Pancasila sebagai asas tunggal, NU melalui Munas Alim Ulama 1983 di Situbondo dan diperkuat oleh keputusan Muktamar NU ke-27 1984 di tempat yang sama menerima asas tunggal. Motor penerimaan asas tunggal ini tidak lain adalah Gus Dur dan KH Achmad Siddiq. Keduanya dipilih melalui mekanisme ahlul halli wal aqdhi sebagai ketua Taniidziyah dan rais Am Syuriah PBNU.

Dibanding ormas lainnya, NU adalah ormas pertama yang menerima asas tunggal. Alasannya bukan didasarkan pada strategi perjuangan politik dalam artian yang abstrak, melainkan keabsahannya di mata fikih. NU juga memberi batasan yang jelas antara wilayah kekuasaan agama dan wilayah kekuasaan negara. Gus Dur menyatakan bahwa antara agama dan negara mempunyai tugas dan tanggung jawab sendiri-sendiri. Dalam hal yang tidak sama, katakanlah dalam melaksanakan wawasan Islam, itu menjadi tanggung jawab umat Islam, tanpa harus membebani negara.

Negara diminta hanya untuk mengayomi hal-hal yang terkait dengan maslahatil ammah, tanpa membedakan suku, agama, bahasa, dan warna kulitnya.Atas dasar ini, tidak heran kalau NU dengan mudah menerima asas tunggal. Menurut Gus Dur, kehidupan yang diasastunggali Pancasila merupakan wewenang negara. Tapi, ada juga kehidupan yang tidak berada di bawah wewenang negara, yaitu akidah (iman). Sementara itu, ormas lain sangat kesulitan beradaptasi dengan keinginan pemerintah ini. Hal ini karena mereka tidak mampu mendudukkan antara keimanan dan ideologi.

Mereka juga menganggap bahwa soal Pancasila itu berada di luar masalah agama karena Pancasila hanya diterima sebagai ideologi tanpa dikaitkan dengan alasan keagamaan. Ini juga, menurut Gus Dur, tidak benar karena berarti mereka mempunyai kesetiaan ganda setia pada Pancasila dan pada agama. Dalam pandangan Gus Dur, kalau kita setia pada Islam, juga harus setia pada negara. Sebab, negara merupakan bagian dari kegiatan masyarakat yang dibuat bersama dengan orang lain. Sementara itu, akidah merupakan milik kita sendiri. Jadi, ada perbedaan, tetapi tetap dalam satu kaitan.

Relasi agama dan negara

Komitmen dan pembelaan yang begitu total terhadap Pancasila menjadikan Gus Dur sebagai salah satu dari sedikit cendekiawan Muslim yang menolak setiap upaya menjadikan Islam sebagai dasar negara. Penolakan ini tentu bukan tanpa alasan. Paling tidak, ada dua alasan mendasar, yaitu selain Pancasila dipandang sebagai bentuk kompromi politik final, juga Islam sendiri, menurut Gus Dur, tidak mempunyai konsep tentang negara.Dalam Alquran misalnya, tidak terdapat kata al-daulah. Pengertian kenegaraan hanya menggunakan istilah baldah. Jadi, di sini, Islam tidak mempunyai konsep yang definitif. Dalam persoalan yang paling pokok terkait suksesi kekuasaan, Islam juga tidak cukup konsisten. Terkadang, memakai istikhlaf, bayah, atau ahlul halli wal aqdhi. Padahal, suksesi kekuasaan adalah persoalan cukup urgent dalam masalah kenegaraan.

Tidak adanya bentuk yang baku tentang negara, menurut Gus Dur, telah membuat perubahan historis atas bangunan negara yang ada menjadi tak terelakkan. Dengan kata lain, kesepakatan akan bentuk negara tidak dilandaskan pada dalil naql (nash), melainkan pada kebutuhan masyarakat. Inilah yang membuat hanya sedikit sekali Islam berbicara tentang bentuk negara dan proses suksesi kekuasaan.Meski menolak negara Islam, bukan berarti Gus Dur tak menghendaki terciptanya masyarakat Islami (lebih pada value). Gus Dur berbeda pendapat dengan mereka yang ingin membina masyarakat Islam. Sebab, itu merupakan pengkhianatan terhadap konstitusi karena ia akan menempatkan non-Muslim sebagai masyarakat kelas dua. Tapi, sebuah masyarakat Indonesia yang di dalamnya terdapat umat Islam yang tumbuh kuat dan berfungsi akan dianggap lebih baik.

Pembela minoritas

Gus Dur juga dikenal sebagai pembela kelompok minoritas. Tidak saja dalam hal keagamaan, tapi juga minoritas dalam politik. Dalam kasus Monitor 1990 yang dinilai melecehkan Muhammad SAW, Gus Dur justru tampil membela dan mengecam keras pemberedelan Tabloid Monitor. Karena, itu sama artinya memberikan otoritas dan membenarkan perilaku otoriter pemerintah dalam melakukan pemberedelan. Pembelaan Gus Dur bukan lantaran tidak marah atas polling Monitor, namun , karena sikap umat Islam yang terkesan mau main hakim sendiri, termasuk menuntut pencabutan SIUPP yang sama sekali tidak demokratis.

Usai politik sapu bersih pemerintah dalam peristiwa penyerbuan kantor DPP PDI, 27 Juli 1996, suara-suara kritis yang tadinya begitu keras hilang seketika. Masyarakat juga dibuat ketakutan luar biasa. Dalam suasana yang mencekam ini, Gus Dur tampil dengan mendirikan posko pengaduan bagi mereka yang merasa kehilangan keluarganya serta mengalami kerugian fisik ataupun harta benda.

Pembelaannya terhadap keluarga Kong Hu Chu dalam persidangan di PTUN Surabaya, yang kebetulan perkawinannya tidak diakui pemerintah, lantaran mereka bersikukuh beragama Kong Hu Chu setidaknya menjadi bukti lain dari kepedulian Gus Dur terhadap kelompok minoritas.Pembelaan Gus Dur juga diberikan kepada kelompok minoritas lainnya yang hak-hak politik dan ke-agamaannya dikebiri oleh negara dan sebagian umat Islam, seperti pembelaannya terhadap Dar al-Arqam, Syiah, dan Ahmadiyah.

Demikianlah sekelumit gagasan-gagasan besar Gus Dur yang selama ini diperjuangkan secara konsisten hingga akhir hayatnya. Hasilnya, di saat Gus Dur masih hidup pun sudah mulai bisa dirasakan.Gagasan-gagasannya telah merasuk di sebagian besar generasi muda NU dan dalam batas tertentu juga telah merasuk di lingkup angkatan muda Muhammadiyah.Seiring wafatnya Gus Dur, harapannya adalah tentu gagasan-gagasan Gus Dur akan semakin membumi. Amin dan semoga.

Gus Dur merupakan sosok pemikir Muslim yang lebih menggambarkan wajah Islam Indonesia yang sesungguhnya akulturatif, moderat, dan toleran. Pemikiran Gus Dur berbeda dengan pemikiran mereka yang mencoba menampilkan wajah Islam skriptu-ralis yang serba rigid dan berbeda juga dengan mereka yang mencoba menampilkan wajah Indonesia yang sekuleristik. Pendekatan serba fikih Lazimnya kebanyakan pemikir dari kalangan pesantren yang mendasarkan pemikiran pada pendekatan fikih, Gus Dur juga dikenal sebagai pemikir yang dalam menyikapi perkembangan selalu mendasarkan pada pendekatan fikih. Relasi agama dan negara Komitmen dan pembelaan yang begitu total terhadap Pancasila menjadikan Gus Dur sebagai salah satu dari sedikit cendekiawan Muslim yang menolak setiap upaya menjadikan Islam sebagai dasar negara. Pembelaannya terhadap keluarga Kong Hu Chu dalam persidangan di PTUN Surabaya, yang kebetulan perkawinannya tidak diakui pemerintah, lantaran mereka bersikukuh beragama Kong Hu Chu setidaknya menjadi bukti lain dari kepedulian Gus Dur terhadap kelompok minoritas.Pembelaan Gus Dur juga diberikan kepada kelompok minoritas lainnya yang hak-hak politik dan ke-agamaannya dikebiri oleh negara dan sebagian umat Islam, seperti pembelaannya terhadap Dar al-Arqam, Syiah, dan Ahmadiyah. Hasilnya, di saat Gus Dur masih hidup pun sudah mulai bisa dirasakan.Gagasan-gagasannya telah merasuk di sebagian besar generasi muda NU dan dalam batas tertentu juga telah merasuk di lingkup angkatan muda Muhammadiyah.Seiring wafatnya Gus Dur, harapannya adalah tentu gagasan-gagasan Gus Dur akan semakin membumi.

TOKOH BICARA; Kita Kehilangan Gus Dur, Pejuang Toleransi
Kamis, 31 Desember 2009
Aktivis Forum Demokrasi, Todung Mulya Lubis, melalui layanan pesan singkat, menuliskan, “Kita kehilangan sosok Negarawan yang memperjuangkan pluralitas bangsa. Seorang yang berjuang untuk moderasi dan toleransi sosial, beragama, dan berbangsa. Gus Dur adalah pilar pluralisme dan benteng bangsa melawan fundamentalisme. Gus Dur adalah seorang demokrat sejati yang menghormati lawan politiknya.”

Sesaat setelah Presiden Indonesia periode 1999-2001 KH Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur, diwartakan meninggal, puluhan SMS dan e-mail menandakan dukacita yang mendalam dari berbagai kalangan mengalir ke Redaksi Kompas. Kepergian Gus Dur tidak hanya kehilangan besar bagi negeri ini, tetapi juga bagi seluruh umat beragama. Gus Dur adalah simbol kebersamaan dan toleransi.

Umat Kristen Sulawesi Utara kehilangan atas wafatnya Gus Dur. “Ia adalah tokoh perdamaian dan ‘pahlawan’ minoritas. Kami benar-benar kehilangan. Belum ada tokoh setara Gus Dur,” kata Ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa Pendeta AO Supit, Rabu (30/12) di Manado. Ia pergi meninggalkan semerbak melati. (zal/tra)

***

Tidak pernah memutuskan Tali Silaturahmi

“Gus Dur menjadi pelopor penting persaudaraan antar umat beragama. Gus Dur adalah pelopor penting demokrasi, bukan hanya teori, tetapi juga praktik. Gus Dur pernah bilang ke saya, kalau misalnya kemunduran di Muhammadiyah terjadi, dia sangat menyangkannya, dia juga prihatin pada Muhammadiyah jika ada kemunduran. Padahal Gusdur itu mantan Ketua Umum PBNU.Januari tahun ini dia datang ke rumah saya. Kami ngobrol banyak hal. Dari mulai hal kecil sampai hal besar. Kami bicara politik, kami juga bicara pancasila, dan banyak hal. Kami ngobrol panjang lebar selama dua jam. Dia diatas kursi roda dan kami lancar bicara. Bagi saya, Gusdur adalah orang yang sangat rajin untuk bersilaturahmi. Dan saya akui saya pun kalah rajin.” (Ahmad Syafi’i Ma’arif, Mantan Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah)

Tokoh Persaudaraan Antar Umat

“Gusdur adalah tokoh yang disegani baik di dalam maupun di luar negeri. salah satu yang menonjol dari Gusdur adalah bagaimana menjadi pemersatu bangsa misalnya sumbangannya bagai perdamaian dunia dan persaudaraan antar umat beragama.

Sekalipun pernah menjadi pemimpin Nahdlatul Ulama yang merupakan organisasi Islam  terbesar di Indonesa, Gusdur tidak eksklusif dalam berpandangan soal persaudaraan. Gus Dur membuka diri dan bisa berdialog dengan banyak pihak yang berbeda keyakinan.

Gus Dur sebagai salah sau perekat persaudaran di Indonesia akhirnya bukan hanya menjadi milik keluarganya, melainkan juga telah menjadi milik bangsa, negara, bahkan dunia. Wafatnya Gus Dur adalah sebuah kehilangan bagi semua pihak. Sudah sangat tepat jika negara dan bangsa harus bebela sungkwa terhadap wafatnya gusdur. Apalagi beliau adalah mantan presiden.”  (Mahfud MD, Ketua Mahkamah Konstitusi)

Pemikir Islam Berwawasan Kebangsaan

“Semua rakyat Indonesia kehilagn tokoh ebesra, pemikir Islam yang berwawasan kebangsaan, yang sangat mengayomi semua unsur bangsa. ebetulan saya juga cukup dekat dengn beliau dan keluarganya sudh cukup lama. jadi kita sangat kehilangan atas kepergianbelia.

Saya kira sikap beliau yang paling inklusif, sikap beliau sebagai pemimpin islam yang moderat dan berwawaan kebangsaan. Saya kira ini warisan beliau kepada kita semua. (Prabowo Subianto, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra)

Pahlawan Demokrasi dan Multikultural

“KH Abdurrahman Wahid alias Gusdur adalah tokoh besar. lihat saja, baru saja meninggal, banyak tokoh yang datang melayat. Negara seharusnya memberikan penghargaan kepada beliau. Beliau bisa juga diusulkan sebagai pahlawan demokrasi atau pahlawan multikultural.

Saya mengenal sosok Gus Dur sudah sangat lama sehingga sangat memahami dan tahu betul bagaimana karakternya sebagai pemimpin. Gus Dur adalah figur pemimpin yang layak dicontoh. Tidak banyak figur pemimpin yang seperti Gus Dur. Saat ini kita butuh pemimpin seperti beliau yang tidak terseret arus. Pemimpin saat ini takut terhadap massa. Kalau Gus Dur adalah pemimpin yang tidak terseret arus. (Jimly Asshiddiqie, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi)

Membangun Perlunya Kemajemukan

“Selama hidupnya, Gusdur telah menampilkan peran tertentu dan memberikan jasa bagi bangsa Indonesia. Walaupun Gus Dur  memiliki banyak ide dan bersikap kontroversial, banyak pula idenya yang bermanfaat seperti pengembangan atas perlunya kemajemukan dan penguatan demokrasi.

Saya berharap hilangnya seorang tokoh umat dn bangsa ini akan segera tergantikan dengan munculnya tokoh lain, khususnya di kalangan umat Islam. (Din Syamsuddin, Ketua umum PP Muhammadiyah)

Sumber: Koran Sindo Edisi kamis 31 Desember 2009

SEORANG pengamat asing memandang, Indonesia tidak akan pernah mendapatkan figur pemimpin yang seperti K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dalam 100 tahun ke depan.

Dr. Larry Marshal dari La Trobe University, Australia, menyebut Gus Dur sebagai pemikir cemerlang yang memiliki pandangan luas. Marshal bahkan sangsi Indonesia bisa melahirkan pemikir-aktivis seperti Gus Dur dalam jangka waktu seratus tahun ke depan. Apresiasi dan pujian dari masyarakat intelektual dunia ini bukan sekali ini saja. Gus Dur kerap menerima sejumlah penghargaan dari banyak lembaga internasional yang bersimpati terhadap perjuangannya selama ini.

Dalam konferensi tahunan ketujuh yang diadakan Globalization for The Common Good, From The Middle East to Asia Facific: Arc of Conflict or Dialogue of Cultures and Religions, 30 Juni-3 Juli 2008, di Melbourne, Australia, para peserta dan pembicara yang berasal dari universitas-universitas terkemuka pelbagai negara ini hampir selalu menyebut Gus Dur sebagai contoh ideal pemuka agama tradisional yang begitu gigih memperjuangkan semangat toleransi dan perdamaian.

Bahkan, Prof. Muddathir Abdel-Rahim dari International Institute of Islamic Thought and Civilization Malaysia, menunjuk Gus Dur sebagai sosok yang berhasil membalik prasangka banyak kalangan tentang wajah Islam yang cenderung dipersepsi tidak ramah terhadap isu-isu toleransi dan perdamaian. Prof. Abdullah Saeed dari The University of Melbourne juga mengakui posisi penting Gus Dur dalam upaya kontekstualisasi nilai-nilai universal Alquran. Dr. Natalie Mobini Kesheh dari Australian Baha’i Community mengatakan, satu-satunya pemimpin Islam dunia yang begitu akomodatif terhadap komunitas Baha’i adalah Gus Dur. Prof. James Haire dari Charles Stuart University, New South Wales, berkali-kali memberi pujian kepada mantan Presiden Republik Indonesia yang ia nilai paling gigih dalam memberi perlindungan terhadap kelompok minoritas.

Di sisi lain, khususnya di dalam negeri, Gus Dur adalah tokoh yang pernyataan-pernyataannya kerap mengundang kontroversi. Di satu sisi ia mengedepankan sekularisme, tapi di sisi lain ia habis-habisan menunggangi simbol-simbol keagamaan seperti pesantren, ke-kiai-annya, atau ke-Gus-annya. Di sana-sini ia berteriak agar jangan terlalu mengeksploitasi hukum Islam dalam kehidupan berbangsa yang pluralis. Namun ketika ada yang hendak melengserkannya dari kursi kepresidenan, tiba-tiba muncul istilah “fikih dalam menghadapi makar terhadap pemimpin umat”. Tiba-tiba saja ayat-ayat Alquran digunakan untuk mengecam orang-orang yang hendak menjatuhkan dirinya. Tapi, itulah Gus Dur.

Sebagai politisi dan pejuang hak asasi manusia (HAM), Gus Dur memang manusia yang sangat langka. Dan, kemampuannya melakukan pembedaan secara jernih mengenai posisinya itu adalah sesuatu yang mengagumkan. Perjuangannya untuk tetap membela hak-hak minoritas tak pernah surut kendati tampak tidak menguntungkan secara politik. Ketika kebanyakan politisi angkat tangan dan bungkam terhadap kasus minoritas Ahmadiyah, Gus Dur justru tampil di garda depan sebagai pembela hak-haknya. Selamat jalan Gus…. **   (Galamedia/SF)

Sejarah hidup Gus Dur – Mengenang Perjalanan Hidup Gus Dur. Kiai Haji Abdurrahman Wahid yang sering dikenal dengan nama Gus Dur adalah salah satu tokoh nasional yang banyak mewarnai perjalanan bangsa Indonesia. Cucu ulama besar KH Hasyim Asy’ari tersebut pernah menjabat Ketua Nahdlatul Ulama. Gus Dur pula yang mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa atau PKB pada era reformasi.

Gus Dur meninggal dunia pada Rabu (30/12/2009) sekitar pukul 18.45 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) setelah sempat dirawat beberapa hari dan menjalani cuci darah. Gus Dur meninggalkan seorang istri, Shinta Nuriyah, dan empat anak, masing-masing Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zanuba Arifah, Anita Hayatunnufus, dan Inayah.Perjalanan hidupnya dimulai di Jombang, Jawa Timur, tempat ia lahir pada 4 Agustus 1940. Ia menjalani pendidikan sekolah dasar di Jakarta sejak tahun 1953 dan melanjutkan ke SMEP di Yogyakarta tahun 1956. Kemudian, Gus Dur melanjutkan pendidikan di pesantren Tambakberas Jombang pada tahun 1963. Gus Dur juga sempat mengenyam pendidikan di Universitas Al Azhar, Department of Higher Islamic and Arabic Studies, Kairo dan Fakultas Sastra, Universitas Baghdad, Irak, pada tahun 1970 tetapi tak sempat menyelesaikan.

Selepas itu, Gus Dur berkarier menjadi guru dan dosen selama bertahun-tahun. Gus Dur menjadi Guru Madrasah Mu’allimat, Jombang (1959 – 1963), Dosen Universitas Hasyim Asyhari, Jombang (1972-1974), dan Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asyhari, Jombang (1972-1974).Gus Dur juga aktif di pesantren menjadi sekretaris Pesantren Tebuireng, Jombang (1974-1979) dan menjadi konsultan di berbagai lembaga dan departemen pemerintahan pada tahun 1976. Selanjutnya, Gus Dur menjadi pengasuh Pondok Pesantren Ciganjur, Jakarta, sejak tahun 1976 hingga sekarang.Di organisasi Nahdlatul Ulama, Gus Dur menjadi anggota Syuriah Nahdlatul Ulama tahun 1979-1984. Ia juga menjabat Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk empat periode. Masing-masing 1984-1989, 1989-1994, dan 1994-1999, dan 2000-2005.

Sementara itu di bidang pemerintahan, Gus Dur pernah duduk, baik di lembaga legislatif maupun eksekutif. Ia menjadi anggota MPR dari utusan golongan selama dua periode. Masing-masing periode 1987-1992 dan 1999-2004. Karier politik tertingginya adalah menjadi Presiden RI selama 2 tahun pada 1999-2001.

Gus Dur dikenal sebagai tokoh kerukunan umat beragama, bahkan cukup kontroversial karena menjadi anggota Dewan Pendiri Shimon Peres Peace Center, Tel Aviv, Israel. Ia pernah menjadi Wakil Ketua Kelompok Tiga Agama, yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi, yang dibentuk di Universitas Al Kala, Spanyol, serta Pendiri Forum 2000 (organisisasi yang mementingkan hubungan antaragama). Ia juga pernah menjabat Ketua Dewan Internasional Konferensi Dunia bagi Agama dan Perdamaian atau World Conference on Religion and Peace (WCRP), Italia, tahun 1994.

Gus Dur juga pernah menjadi Ketua Dewan Pimpinan Harian (DPH) Dewan Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (TIM) periode 1983-1985. Meski mengalami penurunan kemampuan melihat, Gus Dur dikenal masih suka membaca melalui suido book bahkan sampai menjelang akhir hayatnya. Ia juga dikenal produktif menulis artikel dan buku.

Gus Dur juga banyak mendapat penghargaan, seperti gelar doktor honoris causa dari Universitas Jawaharlal Nehru, India, Bintang Tanda Jasa Kelas 1, Bidang Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan dari Pemerintah Mesir, Pin Penghargaan Keluarga Berencana dari Perhimpunan Keluarga Berencana I, Ramon Magsaysay, Bintang Mahaputera Utama dari Presiden RI BJ Habibie, gelar doktor honoris causa bidang perdamaian dari Soka University Jepang (2000), Global Tolerance Award dari Friends of the United Nations New York (2003), World Peace Prize Award dari World Peace Prize Awarding Council (WPPAC) Seoul Korea Selatan (2003), Presiden World Headquarters on Non-Violence Peace Movement (2003), penghargaan dari Simon Wiethemtal Center Amerika Serikat (2008), penghargaan dari Mebal Valor Amerika Serikat (2008), penghargaan dan kehormatan dari Temple University, Philadelphia, Amerika Serikat, yang memakai namanya untuk penghargaan terhadap studi dan pengkajian kerukunan antarumat beragama, Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study (2008). kompas.

Bukan Sekedar Tak Ada Perang, Tapi Juga Jaminan Keadilan

Jakarta-thewahidinstitute.org. Ketika menjelaskan peran Indonesia sebagai poros muslim moderat dunia, KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur banyak membicarakan kiprah Nahdlatul Ulama, ormas keagamaan terbesar Tanah Air, dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Mantan Ketua Umum PBNU ini juga bercerita bagaimana tokoh NU dan nasional pada masa-masa awal kemerdekaan membincang isu Islam dan kebangsaan secara serius dan mendalam. Diskusi itu berlangsung antara Haji Oemar Sahid Tjokroaminoto dan dua sepupunya KH Hasyim Asy’ari dan KH A Wahab Chasbullah, dua tokoh NU. Diskusi ini biasanya berlangsung bakda Zuhur dan usai sebelum Magrib. Selain ketiganya, Soekarno, kelak menjadi Presiden Indonesia pertama dan juga menantu Oemar Sahid, juga ikut terlibat di dalamnya.

Dalam Muktamar NU di Banjarmasin tahun 1935, NU berpandangan bahwa umat Islam tak berkewajiban mendirikan negara Islam. Sikap ini kemudian memperkuat  perumusan Pancasila dan Proklamsi kemerdekaan Indonesia .”Nasionalisme adalah dasar pendirian bangsa Indonesia,” tegas Gus Dur.

Terkait isu fundamentalisme Gus Dur juga menegaskan pandangannya yang demokratis. Kaum fundamentalis, kata Gus Dur, sesungguhnya tak boleh dianggap sebagai musuh yang mesti diperangi. Sebab, memeranginya sama artinya keluar dari ajaran agama yang menjunjung tinggi kemanusiaan. “Kita justru harus mengajaknya berdiskusi,” kata Gus Dur. Gus Dur bahkan mengutip sebuah hadis “Barang siapa yang mengkafirkan sauradara muslimnya, maka sesungguhnya telah kafirlah dia”.

Demikian pandangan Gus Dur yang mengemuka dalam Dialog Bersama Kardinal Jean-Louis Tauran dan Abdurrahman Wahid bertajuk “Indonesia: Center of Moderate Muslims in The World”, di ruang pertemuan The Wahid Institute Jakarta Jalan Taman Amir Hamzah Jakarta, Kamis (24/11/2009) .

Kardinal Jean-Louis Tauran adalah President of the Pontifical Council for Interreligious Dialogue, Gereja Vatikan, Roma Italia. Pria kelahiran 5 April 1943 di Bordeaux, Prancis, ini sengaja mengunjungi The Wahid Institute sebagai salah satu tujuan dalam lawatannya selama di Tanah Air untuk berdiskusi terkait isu dialog antar agama dengan sejumlah aktivis pegiat toleransi dan pimpinan media massa.

Dalam sambutannya, Kardinal Tauran  mengungkapkan filosofi tentang perdamaian yang juga dasar pijakan Vatikan. Perdamaian, katanya, bukan sekedar karena tak adanya situasi perang, namun lebih jauh bermakna perlindungan atau jaminan dan keadilan. Di dalamnya ada tiga fondasi yang tak bisa dilepaskan satu sama lain: toleransi (tolerance); saling menghormati (mutual respectness),Kerjasama antar pemeluk agama (cooperation).

Menjawab pertanyaan Ulil Abshar Abdalla, salah seorang peserta dialog yang juga dikenal sebagai intelektual muda NU dan akan mencalonkan menjadi Ketua Umum PBNU mendatang, Tauran menjelaskan. Salah satu problem yang menyebabkan terjadinya perlakuan buruk terhadap umat Islam adalah soal kekurangmengertian masyarakat Eropa terhadap Islam. Selain itu realitas sebagian besar muslim yang berprofesi sebagai pekerja juga menjadi hambatan lain. Karena itu dirinya mendorong agar masyarakat muslim juga bisa berkiprah lebih luas di bidang pendidikan, misalnya dengan melahirkan para profesor.

Acara yang berlangsung selama dua jam ini dipandu Rosihana Silalahi, presenter SCTV, dan dihadiri  berbagai perwakilan dari Departemen Luar Negeri Indonesia, tokoh agama, intelektual muda, politisi, dan LSM/Ormas dengan latar keagamaan dan beberapa wartawan media cetak dan elektronik.

Dalam sambutannya selakuk Direktur The Wahid Institute, Yenny Zannuba Wahid berterima kasih atas kunjungan Cardinal Tauran ke lembaganya. Yenny menjelaskan, betapapun dialog antaragama satu forum yang selalu harus dibina, baik dilingkup internal Islam maupun antarumat beragama, khususnya di Indonesia sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar dunia yang moderat.

Di akhir diskusi Cardinal Tauran juga mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Adha” yang jatuh besok Jumat, 27 November 2009 (BSF & AMDJ).

Jakarta-gusdur.net. Di hadapan sejumlah elemen mahasiswa di Kantor PBNU Jakarta, mantan Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid menyatakan kekecewaannya terahadap sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait rekomendasi Tim 8. “Terus terang saja saya kecewa. Karena tidak disebut-sebut soal kedaulatan hukum,” katanya.

Gus Dur juga menilai SBY lepas tangan dan cuci tangan dalam kasus dua pimpinan nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah itu.  Kekecewan serupa juga ditujukan Gus Dur kepada sikap Polisi dan Kejaksaan yang tak menghentikan kasus Bibit dan Chandra ini. Polisi bahkan tetap melimpahkan berkas Bibit ke kejaksaan. “Itu yang menambah kekecewaan kita,” Tambahnya lagi.

Rohaniwan sekaligus Guru Besar Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta Romo Franz Magnis Suseno, menyatakan hal senada. Terkait kasus itu, Romo Magnis menilai, yang mesti dicermati bahkan bukan sekadar apakah konflik antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polri selesai atau tidak, tapi bagaimana “nasib” KPK selanjutnya. “Kita ingin KPK punya gigi, jangan sampai diperlunak,” tegasnya.

Dengan terpilihnya kembali SBY lewat kemenangan yang meyakinkan dan didukung mayoritas rakyat, menurut Frans Magnis sudah seharusnya SBY lebih berani dalam memberantas korupsi. Jika terkesan ragu-ragu situasi ini dianggap berbahaya. Koruptor bisa lebih leluasa.

Sesaat setelah berlangsungnya siaran langsung pidato Presedin SBY terkait rekomendasi Tim 8, Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi (KOMPAK) langsung menyatakan kekecewaannya. “Kami kecewa terhadap apa yang disampaikan SBY,” ujar Koordinator Kompak Fadjroel Rahman di kantor Imparsial, Senin (23/11) malam seperti dikutip kompas.com.

Pihaknya bahkan berencana menggelar demo secara terus-menerus untuk menggulingkan pemerintahan SBY. Itu, katanya, bentuk kekecewaan terhadap Presiden. Sebab, awalnya KOMPAK berpikir bahwa Pemerintahan SBY akan serius dalam memberantas mafia hukum, tetapi pidato Presiden mencerminkan sebaliknya (AMDJ). []

Ujian Politik

Ujian Politik

M Zaid Wahyudi*

Faktor keturunan di dunia politik Indonesia, sejak kemerdekaan hingga kini, sangat menentukan. Nama politisi besar di belakang nama para politisi baru menjadi modal untuk mendongkrak karier politik lebih cepat. Garis keturunan dalam perekrutan kader politik terkadang mengalahkan faktor kompetensi. Salah satu politisi muda yang memiliki darah biru politik adalah Zannuba Arifah Chafsoh Rahman atau dikenal dengan nama Yenny Wahid. Putri kedua mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dan cicit pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari, ini mengawali karier politik praktisnya dengan menjadi pengurus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sejak 2005.

Kehadirannya dalam dunia politik cukup fenomenal. Namanya cepat meroket saat ia menjadi Sekretaris Jenderal PKB pada 2007. Namun, gaung namanya pun surut pascakonflik PKB pada 2008 yang membuat PKB versi Ketua Umum Dewan Syura PKB Abdurrahman Wahid gagal ikut Pemilu 2009.

Berikut petikan wawancara Kompas dengan Yenny Wahid di Jakarta, Jumat (30/10), tentang politik keturunan di Indonesia dan harapannya terhadap kehidupan politik ke depan.

Bagaimana pandangan Anda tentang politik keturunan?

Saya cukup terpecah karena saat faktor keturunan memiliki fungsi penting dalam politik agak bertentangan dengan nurani saya. Di satu sisi, seharusnya ada kesamaan dan keadilan untuk semua, tanpa memandang orangtuanya. Tetapi, di sisi lain, realitas menunjukkan keturunan memiliki fungsi besar untuk ‘membuka pintu’ dalam membangun hubungan dengan pihak lain.

Sejak awal, saya juga dididik bahwa setiap manusia memiliki kedudukan yang sama di mata Tuhan, hukum, dan masyarakat. Unfairness (ketidakadilan) yang terjadi akibat faktor keturunan dalam politik saat ini tetap harus dikoreksi.

Namun, bagi saya, yang penting adalah apa yang akan saya lakukan setelah ‘pintu’ itu terbuka. Itu kembali ke diri saya sendiri. Nama besar tanpa didukung kerja keras dan usaha sungguh-sungguh tidak akan ada artinya. Saya percaya bahwa nama besar itu seperti bakat, hanya menyumbang 1 persen terhadap kesuksesan seseorang. Sisanya, 99 persen ditentukan oleh kerja keras setiap individu.

Apa tantangan terbesar menyandang nama Wahid?

Harus betul-betul menjaga tingkah laku dan ekspektasi tertentu yang dikaitkan dengan nama itu. Kalau tidak pandai mengelola ekspektasi itu, bisa mengecewakan masyarakat dan membuat malu orangtua. Nama besar itu bisa menjadi anugerah atau beban, tergantung bagaimana mengelolanya.

Jika politik keturunan menimbulkan ketidakadilan, bagaimana mengoreksinya mengingat hal ini juga terjadi di negara-negara Barat yang demokrasinya sudah maju?

Dengan memperkuat sistem meritokrasi. Di Indonesia belum terbangun budaya yang bangga jika mampu berprestasi atau sukses berdasarkan kerja kerasnya sendiri dari bawah seperti dalam The American Dream.

Dalam kultur NU, proses meritokrasi itu berjalan lebih demokratis dibanding di partai politik. Dalam kultur kiai NU, kiai yang memiliki ilmu lebih banyaklah yang lebih dihargai. Artinya, kiai dihormati karena keilmuannya. Jika ada keturunan kiai yang kurang memiliki ilmu, penghormatan atas dirinya hanya sebatas pada keturunannya saja.

Sebagian pihak menilai Anda hanya memanfaatkan nama besar Gus Dur?

Wajar orang menilai itu karena mereka hanya mengenal sosok saya sebagai anaknya Gus Dur. Tak perlu dibuat marah atau sakit hati. Tunjukkan saja dengan kerja dan prestasi. Saat ini saya nyaman dengan prestasi yang saya peroleh, baik ketika menjadi wartawan, mahasiswa di Universitas Harvard, atau keanggotaan saya di sejumlah forum internasional yang sudah atau akan saya jalani.

Apa yang membuat Anda terjun ke politik praktis?

Butuh waktu 3-4 tahun untuk memutuskan masuk ke politik praktis karena bebannya sangat besar. Tapi, ketika Bapak (Gus Dur) lengser pada 2001, rasa kehilangan masyarakat sangat besar karena mereka merasa Gus Dur dapat dititipi amanah. Dari saat itu saya berjanji akan terus memperjuangkan kepentingan mereka bagaimanapun caranya.

Setelah menjadi pengurus PKB pasca-Muktamar 2005 di Semarang, semangat itu makin mengental karena banyak bersentuhan langsung dengan masyarakat di bawah. Mau tidak mau, akhirnya saya harus terjun ke politik praktis untuk meneruskan garis perjuangan dan pengabdian keluarga kepada masyarakat seperti yang dilakukan eyang-eyang saya.

Sikap itu saya ambil daripada nanti menyesal karena hidup hanya untuk diri sendiri. Bagi saya, berpolitik itu memiliki dua potensi, membebaskan atau justru menyengsarakan. Pilihan itu ada pada para politisi sebagai pembuat kebijakan.

Anda merasa mewakili garis politik Gus Dur?

Secara nilai pasti karena saya dibesarkan dalam tata nilai politik yang dibangun Gus Dur sejak saya kecil. Sikap itu betul-betul mewarnai cara pandang saya dalam menilai sesuatu dengan prinsip egaliter, humanis, fair, dan sedikit nekat.

Akar pendukung Gus Dur adalah warga Nahdlatul Ulama dan kelompok minoritas. Bagaimana Anda memandang mereka?

Mereka semua adalah mitra dalam membangun negeri. Kualitas pembangunan negeri ini sangat ditentukan oleh semua lapisan masyarakatnya.

Kekuatan dan peranan NU dalam pembangunan bangsa tak bisa dipandang kecil. NU merupakan organisasi massa Islam terbesar di dunia dengan jumlah warga diperkirakan mencapai 80 juta jiwa. NU dapat menjadi mitra pemerintah dalam bernegosiasi dengan negara-negara asing untuk menjalankan politik luar negeri yang bebas aktif.

Apa pentingnya menjadikan mereka sebagai mitra? Bukankah pembangunan selama ini dikendalikan oleh elite?

Elite memang memegang peranan besar karena mereka berfungsi sebagai agen dan mesin pendorong perubahan. Tetapi, jika massa yang ada di bawah kualitasnya tidak sebanding, mesin itu akan sulit bergerak. Elite boleh membuat kebijakan apa pun, tetapi yang menjalankannya tetap masyarakat.

Untuk itu, diperlukan adanya kepemimpinan yang inspiratif sehingga mulai dari lapisan atas-bawah dan atasan-bawahan bisa saling bekerja sama dan tidak saling mengambil keuntungan terhadap yang lain untuk diri sendiri.

Sekarang tak bisa lagi menjadikan masyarakat akar rumput sebagai alat elite semata. Dalam pemilihan langsung seperti saat ini, justru elite yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat. Hal itu tidak dapat disalahkan kepada rakyat karena mereka hanya meniru perilaku elite. Elite secara terang-terangan mempertontonkan bahwa dalam proses politik saat ini, mereka yang harus untung lebih dulu dibandingkan rakyat yang diwakilinya.

Kondisi itu kemudian berkembang menjadi keserakahan kolektif, yang ujungnya bisa menghancurkan bangsa karena tak ada lagi nilai luhur yang dipegang. Kalau ingin berubah, maka harus dimulai dari elite dulu.

Sumber: Kompas cetak, Rabu, 11 November 2009 | 03:13 WIB
Foto: KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Agama Melawan Orang-orang Liberal

Cam McGrath*

KAIRO (IPS) – “PARA pengawal moralitas masyarakat” memakai instrumen hukum Islam untuk melawan ide-ide yang mereka anggap tak bermoral dan bid’ah -atau sekadar mencari popularitas.

“Kami prihatin jumlah kasus hisba meningkat selama tahun-tahun terakhir ini,” ujar Gamal Eid, direktur eksekutif Arabic Network for Human Rights Information (ANHRI).

Hisba adalah perkara hukum yang diajukan seseorang secara sukarela untuk melindungi masyarakat dari seseorang yang perkataan atau perbuatannya dianggap membahayakan Islam. Diperkenalkan di Mesir pada abad ke-8, instrumen hukum yang kabur itu mendorong umat Muslim untuk membantu sesama pemeluk agama, dan juga negara, dan bertanggung jawab menegakkan kebajikan agama.

Konstitusi Mesir mengizinkan penggunaan hisba untuk mendorong keterlibatan warga demi kebaikan masyarakat. Kini kelompok-kelompok HAM mengatakan, pada dekade lalu pemerintah membiarkan penyalahgunaan aturan hisba untuk meredakan kelompok konservatif dan menekan lawan-lawan rezim.

“Sekira 95 persen kasus yang sampai ke pengadilan menyangkut penulis, seniman, dan wartawan yang kritis terhadap pemerintah,” ujar Eid. “Akibatnya muncul suasana ketakutan; orang takut menyampaikan pikiran dan pendapat mereka.”

Penulis sekuler Sayed El-Qimni, pengusaha telekomunikasi Naquib Sawiris, dan penulis feminis Nawal El-Saadawi adalah orang-orang terkenal yang pernah jadi target perkara hukum hisba.

Para pengacara konservatif dan agamawan menyatakan, tulisan El-Qimni soal agama dan mitologi menghina Tuhan, karenanya mereka mengajukan perkara hisba yang mendesak pemerintah agar mencabut hadiah sastra untuknya dari pemerintah dan mencabut kewarganegaraannya.

Sawiris membakar kemarahan pengacara Islam Nizar Ghorab saat dia tampil dalam sebuah acara bincang-bincang televisi bulan lalu. Sawiris mengkritik pasal-pasal dalam konstitusi yang menjadikan syariah (hukum Islam) sebagai dasar sistem hukum negara. Ghorab menuduh pengusaha Kristen itu menghina Islam di muka umum, dan menuntut agar dia dipenjara.

Pengacara lainnya, Nabih El-Wahsh, mengajukan perkara hisbah terhadap El-Saadawi setelah dia mendirikan organisasi sipil yang mempromosikan pemisahan negara dan agama. Dia menuduhnya menghina Islam, dan menuntut hukuman penjara.

Ini bukan kali pertama El-Wash menggunakan hisba untuk melawan El-Saadawi. Pada 2001, dia mengajukan gugatan dalam upaya menceraikan-paksa El-Saadawi dan suaminya, Sherif Hetata, karena dia menganggap penulis sekuler itu menjadi atheis. Umat Muslim dilarang menikah dengan orang yang tak seiman, ujarnya di pengadilan.

El-Saadawi juga dikenal dalam kasus hisba yang membuat buku-bukunya dilarang dan kewarganegaraannya dicabut. Selain menangkis serangan itu, El-Saadawi bersikeras bahwa buku-bukunya tak berkaitan dengan seseorang.

“Mereka adalah pengacara-pengacara tanggung… orang-orang yang suka bikin sensasi dengan memanfaatkan situasi meningkatnya fundamentalisme Islam dan melemahnya pemerintah menghadapi Persaudaraan Muslim yang kuat,” ujarnya kepada IPS. “Mereka tak hanya mengajukan saya ke pengadilan, mereka mengajukan setiap orang ke pengadilan.”

Masalahnya, kata dia, adalah keterlibatan pemerintah dalam tuntutan hukum terhadap pengkritiknya yang vokal. Legislasi yang diterapkan pada 1996 mengharuskan jaksa penuntut umum sendiri yang memutuskan kasus-kasus mana yang diserahkan ke pengadilan.

“Jaksa penuntut umum sangat selektif, terkadang mereka menunjuk sebuah kasus dan terkadang tidak,” ujar El-Saadawi. “Jelas mereka mendapat lampu hijau dari atas. Jaksa penuntut umum tak pernah menyerahkan kasus hisba yang melawan menteri atau pejabat pemerintah ke pengadilan. Tapi mereka selalu membawa kasus pemikir dan penulis yang mengkritik pemerintah, seperti saya.”

Tak seorang pejabat pun dalam daftar tuntutan hisba yang diajukan setiap tahun, tapi kelompok-kelompok HAM yakin jumlahnya meningkat. Departemen Hukum ANHRI mendokumentasikan lebih dari 600 kasus hisba tahun lalu, belum termasuk yang tak tercatat.

“Kami menerima kasus-kasus yang terkenal, tapi ada ratusan kasus lainnya, yang tergantung pada upaya hakim,” ujar Eid.

Beberapa pengacara konservatif dan agamawan menjadi sumber sebagian besar perkara hisba itu. Beberapa di antara mereka meniti karir dengan kasus-kasus itu.

El-Wahsh mengajukan lebih dari 1.000 kasus hisba selama satu dekade terakhir. Pengacara lainnya meraih ketenaran dengan memperkarakan pemikir-pemikir independen terkemuka ke pengadilan.

“Tak perlu keluar uang untuk mengajukan kasus hisba. Tapi ketika Anda mengajukan perkara hibah melawan orang terkemuka, yakinlah Anda akan diwawancarai dan muncul di televisi,” ujar Eid. “Pengacara-pengacara itu mendapat uang dari popularitas ini, sehingga beberapa dari mereka memasukkan lebih dari 200 kasus setiap tahun. Mereka tahu pengadilan akan menolak sebagian kasus mereka, tapi ini adalah sarana promosi yang bagus.”*

Translated by Imam Shofwan
Edited by Budi Setiyono

* ) Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS.

SBY-JK Saksi Pernikahan Yenny-Dhohir

Ciganjur-wahidinstitute.org. Di depan KH. Abdurrahman Wahid dan H. Anshori sang penghulu, Dhohir Farisi lancar menjawab ijab-kabul dalam bahasa Arab. Sekali jawab, dua saksi akad nikah Kamis siang itu (15/10), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan sah, dan langsung diikuti tempik sorak para hadirin yang memadati Masjid Al-Munawwarah. Di antara para hadirin tampak beberapa tokoh penting: Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto yang mengenakan batik warna krem, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, dan beberapa politisi lainnya. Hadir juga para kiai Nahdlatul Ulama (NU) seperti KH. Mustofa Bisri, Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi dan Ketua PBNU Said Aqil Siradj, termasuk tokoh muda NU Ulil Abshar Abdalla.

Prosesi pembacaan ijab-kabul Dhohir Farisi dengan Zannuba Arifah Chafsoh, akrab disapa Yenny Wahid, dimulai pukul 14.13 WIB dimana Gusdur, sapaan akrab KH. Abdurrahman Wahid, langsung bertindak sebagai wali nikah. Setelah Ijab-kabul, acara dilanjutkan dengan penyerahan mas kawin berupa 10 ekor sapi seharga Rp.90,9 juta oleh Dhohir kepada Gudur. Sepuluh sapi diserahkan secara simbolis dalam bentuk lonceng dan sertifikat yang dibingkai. Setelah itu sang penganti pria bersama rombongan menuju kediaman Gus Dur diiringi tabuhan rebana dari mahasiswa Perguruan Tinggi Ilmu al-Quran (PTIQ).

Sebelumnya, prosesi akad nikah dimulai dengan acara serah terima dari keluarga besar mempelai laki-laki kepada keluarga perempuan yang digelar di lokasi samping masjid, tempat akad dilakukan. Kepada keluarga perempuan, perwakilan pengantin pria menyatakan menyerahkan Dhohir Farisi kepada keluarga besar Gusdur dan kelak akan menjadi anggota baru keluarga tersebut. Perwakilan keluarga Dhohir juga meminta Gusdur kelak bisa membimbing Dhohir menjadi suami sekaligus bagian keluarga seperti yang diharapkan. “Ananda Dhohir Farisi akan memegang teguh prinsip dan nilai-nilai Islam Ahlussunnah Waljamaah,” ungkap perwakilan keluarga itu.

Dhohir sendiri lahir dan besar dalam lingkungan keluarga Nahdliyin dari pasangan H. Ma’ruf Al-hasyim dan Hj Ma’rufah. Sang ibu tercatat pernah menjadi sebagai ketua Fatayat Cabang Kraksaan, Probolinggo, organisasi perempuan di bawah organisasi NU. Bersekolah di  Ma drasah Ibtidaiyah (MI) NU Kraksaan, Dhohir kecil terbiasa membagikan majalah Aula, media komunikasi warga NU ke rumah-rumah pengurus dan anggota NU setempat.

Prosesi akad nikah ditutup dengan pembubuhan tanda tangan Yenny-Dhohir di buku nikah mereka dan dilanjutkan dengan ucapan selamat di pelaminan. Namun saat membubuhkan tandatangan Yenny Wahid tampak kesulitan dan bingung di mana dia harus membubuhkan tanda tangan. “Maklum, pengalaman pertama, dan mudah-mudahan yang terakhir,” goda pembawa acara melalui mikropon.Yenny pun tampak tersipu malu.

Wapres Jusuf Kalla dan Ibu Mufidah Kalla datang lebih dulu sekitar pukul 13.25 WIB.Tak lama kemudian Presiden SBY datang bersama Ibu Negara Ani Yudhoyono dan rombongan. Setelah sesi foto dengan pasangan pengantin dan ramah-tamah, sekitar 15.20 WIB Presiden SBY dan  Ibu Negara langsung meninggalkan tempat dengan kawalan ketat. Sementara Jusuf Kalla masih menyempatkan makan hidangan tuan rumah sebelum akhirnya juga meninggalkan tempat.

Sehari sebelumnya, keluarga juga menggelar acara pemasangan bleketepe, anyaman daun kelapa dan padi, oleh Gus Dur di Ciganjur sebagai tanda pemilik rumah tengah memiliki hajat. Acara ini kemudian dirangkai dengan pengajian al-Quran, siraman dengan air dari tujuh sumber, sungkeman dan ditutup midoderani pada malam harinya (AMDJ) []

Jakarta-gusdur.net. Kedatangan rombongan mempelai pria di Masjid Al-Munawwarah, Ciganjur  pagi itu (13/10) langsung disambut suara rebana yang ditabuh tim rebana Institut Ilmu al-Quran (IIQ) Jakarta. Sementara rombongan yang laki-laki masuk ke dalam masjid, rombongan perempuan dari mempelai pria masuk ke kediaman KH. Abdurrahman Wahid, yang lokasinya bersebalahan dengan rumah mantan Presiden RI ke-4 itu. Rombongan itu langsung diterima keluarga besar KH. Abdurrahman Wahid bersama sang isteri, Sinta Nuriyah Wahid.

Tak lama giliran Wakil Presiden yang datang menuju ruangan VVIP dimana Gus Dur dan keluarga menunggu. Kedatangan orang nomor dua itu disambut meriah tempik rebana Madura. Setelah itu baru tiba giliran Presiden RI beserta rombongan yang datang.

Beberapa saat kemudian rombongan keluarga dari mempelai perempuan, KH. Abdurrahman Wahid bersama isteri dan kedua petinggi negeri itu menuju masjid, tempat dilangsungkan akad nikah.

Pemandangan pagi itu merupakan sesi gladi resik acara akad nikah Yenny Zannuba Arifah Chafsoh Rahman atau akrab disapa Yenny Wahid dengan Dhohir Farisi, pria kelahiran probolinggo dari pasangan H Maruf Hasyim dan Hj Ma’rufah, yang akan digelar Kamis besok (15/10).

Sekitar 60-an orang terlibat di sesi gladi resik pagi itu. Limapuluhan orang dari panitia pelaksana akad nikah, sepuluh orang dari pihak protokoler dan Pasukan Pengaman Presiden dan Wakil Presiden. “Acara gladi resik sendiri mulai pukul 10.00 WIB sampai 13.00 WIB,” kata Gamal Ferdhi salah seorang panitia bagian media (14/10).

Seperti diberitakan, akad nikah pasangan yang dilangsungkan Kamis besok ini akan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Keduanya bertindak sebagai saksi.

Lantaran kedatangan orang nomor satu dan dua negeri ini sedianya jalan menuju lokasi, mulai dari Jalan Raya Cilandak  hingga menuju Jalan Warung Sila ditutup sementara pada pukul 13.00 -13.30 WIB dan 15.30-16.00 WIB.”Untuk itu keluarga besar mempelai meminta maaf kepada masyarakat yang terganggu dengan ini dan harap memakluminya,” kata Gamal.

Seremoni acara akad nikah rencananya dimulai pukul 12.00 WIB dan berakhir pukul 21.00 WIB. Dan Gusdur rencananya yang akan langsung menjadi walinikah bagi pernikahan puteri keduanya itu. Yang bertindak sebagai pencatat nikah adalah Khaliq dari Kantor Urusan Agama setempat dan dipandu Moqsith Ghazali, salah satu peneliti senior the Wahid Institute, yang didapuk sebagai master ceremony. Sedang yang akan memberi nasihat perkawinan adalah KH. Mustofa Bisri yang akrab disapa Gus Mus.

Selama prosesi akad nikah berlangsung, para wartawan tak diperkenankan langsung meliput di dalam ruangan. Namun begitu, menurut Gamal panitia untuk urusan media, menyatakan pihaknya sudah menyiapkan ruangan khusus media berupa layar teve yang langsung tersambung ke tempat acara, termasuk bahan-bahan untuk media. Pada pukul 18.00 – 18.30 WIB mempelai juga akan menggelar konferensi pers terkait acara akad nikah. Acara akad itu akan dilanjutkan dengan resepsi pernikahan pada Minggu (18/10) yang digelar di Gedung Sampoerna Jalan Sudirman Jakarta.

Yenny Wahid lahir di Jombang Jawa Timur pada 29 Oktober 1974. Ia puteri kedua dari empat bersaudara:  Alissa Qotrunnada Munawaroh Rahman (kakak), Anitta Hayatunnufus Rahman (adik), dan Inayah Wulandari Wahid (adik). Lulus sebagai sarjana di Desain dan Komunikasi Visual Universitas Trisakti, mantan jurnalis The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne) pada 1997-1999 ini melanjutkan studinya di Harvard University.

Pada 2004 menjadi Direktur the Wahid Institute, lembaga yang didirikan untuk memperjuang ide-ide besar Gusdur di bidang toleransi dan perdamaian. Jabatan itu dipegangnya hingga kini. Yenny juga penah menjabat sebagai staf Khusus Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik dan menjadi Sekjen DPP Sekjen DPP Partai Kebangkitan Bangsa.

Secara tak sengaja Yenny bertemu Dhohir Farisi, sang pujaan hati, dalam sebuah acara kampanye Gerindra di Jawa Timur. Farisi yang lahir pada 14 April 1976 sendiri dibesarkan di lingkungan keluarga Nahdliyin. Ibunya HJ. Mar’ufah pernah menjadi salah seorang pimpinan Fatayat Nahdlatul Ulama Cabang Kraksaan, Probolinggo. Ia anak keempat dari lima bersaudara: Zainal Kamal, Faisol Reza (mantan ak­tivis Partai Rakyat Demokratik/PRD), Ahmad Mastaba, Dhohir Farisi, dan Roziqi.

Fa­risi kecil mengawali pendidikan formal di Ma­drasah Ibtidaiyah (MI) NU Kraksaan. Lulus MI, dia melanjutkan ke SMPN 2 Kraksaan. Gelar S1-nya diperoleh di Fakultas Filsafat Universitas Gajahmada Yogyakarta.

Sebelum terjun ke politik dan bergabung dengan Partai Gerindra, Farisi aktif di salah satu perusahaan konsultan khusus lingkungan hidup di Jakarta. Pada pemilu legislatif April lalu, dia menjadi caleg DPR dari daerah pemilihan Jatim IV (Lumajang-Jember) dan berhasil lolos ke Senayan (AMDJ) []

30
Dec
09

Untuk Bahan Renungan Bagi kita

Skandal Bank Century kian bergulir panas. Masalah ini menjadi heboh sebab ada tudingan yang menyebut kucuran dana bail out (penyelamatan) untuk Bank Century sebesar Rp 6,7 triliun mengalir ke tim kampanye Partai Demokrat dan tim pemenangan SBY-Boediono pada Pilpres lalu.

Dugaan itu muncul dengan indikasi Hartati Murdaya, pemimpin kelompok CCM (Central Cipta Mudaya) dan Boedi Sampoerna, salah satu penerus keluarga Sampoerna, yang notabene nasabah kakap Bank Century merupakan penyokong dana Partai Demokrat.

Sebelum Bank Century diambil alih LPS, Boedi Sampoerna, seorang cucu pendiri pabrik rokok PT HM Sampoerna, Liem Seng Thee, masih memiliki simpanan Rp 1,895 triliun pada November 2008, sedang simpanan Hartati Murdaya Rp 321 miliar.

George Junus Aditjondro dalam bukunya yang berjudul Membongkar Gurita Cikeas : Di Balik Skandal Bank Century, yang menghubung-hubungkan Century dengan Partai Demokrat dan orang-orang dekat SBY.

Buku itu tidak secara khusus membahas rahasia di balik skandal Bank Century, apalagi secara khusus mengupas aliran dana dari Century ke Partai Demokrat atau ke Tim Pemenangan SBY-Boediono, melainkan lebih luas lagi, yakni menjawab rahasia di balik kemenangan fantastis Partai Demokrat.

Menurut George, pria asal Pekalongan, Jawa Tengah ini, dukungan terhadap SBY dimulai Hartati menjelang Pemilu 2004 dan kian meningkat menjelang Pemilu 2009. Pengelola Arena Pekan Raya tersebut berulang kali menyediakan gelanggang promosi bisnisnya sebagai lokasi kegiatan Partai Demokrat, termasuk Rapimnas Demokrat, 8-9 Februari 2009. Selanjutnya, dalam tim kampanye SBY-Boediono, Hartati menjadi Wakil Koordinator Operasi I.

Sedang investigasi Aditjondro terhadap kelompok Sampoerna, ditemukan adanya dukungan dana Rp 90 miliar kepada kelompok media Jurnal Nasional (Jurnas) yang menurut dia, memang dekat dengan Partai Demokrat dan SBY sejak 2006 hingga 2009. Di saat itu, injeksi dana ke kelompok Jurnas mulai bergeser ke pengusaha-pengusaha yang dekat dengan keluarga Cikeas, di bawah koordinasi Gatot Mudiantoro Suwondo, yang kebetulan Dirut BNI.

Aditjondro kini aktif mengajar di Program Studi Ilmu Religi dan Budaya (IRB) Universitas Sanata Darma Yogyakarta (sejak 2005) itu juga mengungkap hubungan yayasan-yayasan yang berafiliasi ke SBY dan Ny Ani Yudhoyono. Kebutuhan akan dana kampanye yang kian meningkat, terdongkrak oleh besarnya biaya “pencitraan” SBY melalui media, serta luasnya jangkauan kedermawanan yayasan-yayasan tersebut.

Hal itu membuat keluarga Cikeas makin tergantung pada sejumlah pengusaha kakap yang berasal dari era Soeharto, seperti Syamsul Nursalim, Hartati Murdaya, kelompok Sampoerna, serta perusahaan yang muncul di era SBY seperti PT Powertel dan Batik Allure.

Dana kampanye yang begitu besar, kata George, yang sebagian tidak terdaftar di KPU, menimbulkan kerentanan kubu Cikeas terhadap pengusaha dan makelar kasus seperti Artalyta Suryani alias Ayin, bendahara Yayasan Mutu Manikam Nusantara yang juga merupakan pelindung Syamsul Nursalim, pengemplang BLBI yang berhasil mengelabuhi tiga presiden berturut-turut, dan sampai sekarang masih melenggang dengan bebas.

Menyangkut yayasan-yayasan yang dibina SBY dan Ny Ani Yudhoyono, George menjelaskan, kepengurusan yayasan-yayasan ada di tangan sejumlah menteri, mantan menteri, purnawirawan perwira tinggi yang seangkatan SBY, sejumlah pengusaha, dan anggota keluarga besar SBY yang juga terjun di bidang bisnis, seperti Hartanto Edhie Wibowo, Edhie Baskoro Yudhoyono (putra bungsu SBY), serta Anissa Pohan.

Hartanto, yang merupakan adik bungsu Ani Yudhoyono, ungkap George, telah terjun di dunia bisnis serat optik di PT Powertel, bersama adik Menko Perekonomian Hatta Radjasa.

Kata Aditjondro, “Pada awalnya mereka ditengarai mendapat proyek-proyek bagi Powertel sewaktu Hatta Radjasa masih menjabat Menteri Perhubungan. Edhie Baskoro memulai bisnis dalam produksi kue kering dengan berbagai kemudahan, sedang Annisa serta dua mertuanya sudah menjadi promotor Batik Allure.”

“Yayasan-yayasan ini harus berhenti membonceng nama keluarga besar Cikeas. Selain itu, yayasan-yayasan ini harus diaudit oleh auditor independen, dan hasilnya dilaporkan ke parlemen, serta terbuka bagi media,” katanya.

George dalam hal ini tidak mengungkap besaran dana-dana dari yayasan-yayasan tersebut. Justru itu, ia menawarkan dilakukannya audit. Menurut dia, penelitiannya yang tertuang dalam buku itu lebih menggugat apakah kemenangan Demokrat yang fantastif itu dapat dikatakan sebagai kemenangan legal.

Diluncurkannya buku “Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century” oleh George Junus Aditjondro sedang menjadi topik hangat hampir di semua media informasi. Berikut beberapa kliping  artikel yang sempat saya baca dan saya kumpulkan disini.

Buku “Gurita Cikeas” Dijajakan Keliling

(Liputan6.com – Selasa, 29 Desember)

Semarang: Setelah sulit dicari dan ramai diberitakan, buku “Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century” banyak diburu masyarakat. Pemandangan itu terlihat di Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (28/12). Mentek, pedagang buku keliling menjajakan buku karya George Junus Aditjondro itu di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jateng Jalan Pahlawan, Kota Semarang.

Mentek cuma membawa sepuluh buku dan langsung ludes. Ia berharap mendapat keuntungan lebih dari hasil penjualan buku seharga Rp 40 ribu dan Rp 50 ribu. Dari hasil penjualan Mentek mendapat 10 persen. Tak jelas siapa yang memerintahkannya menjual buku itu.

Sunu Fajar, seorang aktivis, mengaku tertarik membeli buku setebal 183 halaman itu untuk menambah referensi kasus Bank Century yang sedang marak. (AIS/YUS)

Komnas HAM Akan Lindungi Toko Buku

(Liputan6.com – Selasa, 29 Desember)

Liputan6.com, Jakarta: Terkait kontroversi buku Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia berencana memberikan surat jaminan perlindungan bagi sejumlah toko buku. Hal ini dilakukan untuk menyikapi ketakutan berbagai toko buku untuk menerbitkan buku tersebut. Saat ini pihak penerbit baru mencetak 4.000 buku yang 70 persennya tertahan di toko-toko buku besar.

Sensasi buku Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century ini terus menuai rasa penasaran masyarakat. Di Jakarta hingga Yogyakarta buku karya George Junus Aditjondro itu terus diburu walau belakangan sangat sulit ditemukan [baca: "Gurita Cikeas" Menghilang]. (WIL/YUS)

Priyo: Melarang Peredaran Buku Bisa Timbulkan Persoalan

(Jakarta – Antara – Selasa, 29 Desember)

Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso mengatakan melarang peredaran buku “Membongkar Gurita Cikeas” pada era demokrasi yang transparan saat ini bisa menimbulkan persoalan baru.

“Hendaknya semua pihak bisa menahan diri, meskipun saya tetap memberi apresiasi atas kesedihan keluarga Presiden Yudhoyono. Biarlah buku ini menjadi “warna-warni” demokrasi kita,” kata Priyo Budi Santoso, di Gedung DPR, Jakarta, Senin.

Priyo juga menyerukan kepada semua pihak, terutama pada George Junus Aditjondro si penulis buku, agar tidak menimbulkan amarah baru jika buku itu belum patut diterbitkan, karena data di dalam buku itu sumir atau tidak valid dan kebenarannya sangat disangsikan.

Ketua DPP Partai Golkar ini menambahkan, melalui buku “Membongkar Gurita Cikeas” adalah yang kedua kalinya George Junus Aditjondro membuat sensasi soal keluarga presiden.

Sebelumnya, kata Priyo, Aditjondro pernah menulis buku tentang keluarga presiden Soeharto yang judulnya juga sensasional.

“Dulu pada era Pak Harto suasana menjadi sangat heboh. Saat itu Partai Golkar dengan susah payah mengkritik buku tersebut karena datanya sangat bias,” kata Priyo yang menyatakan belum membaca isi buku tersebut.

Apakah buku ini sama dengan dengan buku pada era Soeharto, katanya, biarlah waktu yang mengujinya.

Menurut dia, melalui buku ini George mempertaruhkan reputasinya sebagai doktor, dosen, dan mantan aktivis, jika ternyata buku tulisannya hanya sensasional.

“Apakah isi buka itu benar atau tidak, waktu yang akan membuktikannya,” kata dia.

Soal usulan agar buku “Membongkar Gurita Cikeas” diklarifikasi melalui buku lagi, menurut dia, itu gagasan yang baik.

Kalau memang diperlukan, kata dia, bisa saja keluarga Presiden Yudhoyono atau Partai Demokrat menerbitkan buku putih untuk mengklarifikasi persoalan yang ditulis George Junus Aditjondro.

“Kalau kami tidak dalam posisi untuk menjawabnya kecuali hanya menyarankan,” kata Priyo.

Diakui Priyo, dirinya belum membaca secara keseluruhan isi buku setebal 183 halaman tersebut, tapi baru membaca cuplikannya sepenggal-sepenggal saja melalui “facebook”, media online, media cetak, dan melalui siaran televisi.

Fraksi Golkar Tak Akan Gunakan Data “Gurita Cikeas”

(Liputan6.com – Selasa, 29 Desember)

Ketua Fraksi Partai Golkar Setya Novanto menegaskan, fraksinya tidak akan menggunakan data dalam buku Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century karya George Junus Aditjondro dalam mengusut kasus Bank Century. “Data dalam buku Membongkar Gurita Cikeas belum diuji kebenarannya,” katanya di Jakarta, Senin (28/12).

Menurut Setya, selama ini dalam berargumentasi fraksinya selalu menggunakan data dari sumber-sumber resmi, seperti BPK. Bukan hanya itu, katanya, kalau pun menggunakan data pembanding tentu berasal dari lembaga-lembaga penelitian yang sudah memiliki reputasi tinggi.

“Yang kita pakai dulu biasanya data resmi dari lembaga negara, lalu dari lembaga penelitian universitas, dan yang punya reputasi tinggi di dunia penelitian. Jadi tidak sembarangan,” tambah Setya.

Setya Novanto mengaku belum membaca seluruh buku itu. Namun dia meminta, agar tidak menimbulkan fitnah, sebaiknya buku tersebut diteliti dan diuji kesahihannya.

Di tempat terpisah, anggota Panitia Angket Kasus Bank Century dari Fraksi Hanura Akbar Faisal juga mengatakan hal yang sama. “Panitia Angket Kasus Bank Century belum perlu menggunakan data buku Membongkar Gurita Cikeas sebagai referensi,” katanya.

Yang jelas, ujar Akbar Faisal, data dari Badan Pemeriksa Keuangan yang kini ada di Panitia Angket sudah cukup sebagai dasar untuk melakukan verifikasi kasus itu. (SHA)

Toko buku Gramedia ternyata tidak menjajakan buku karya George Junus Aditjondro berjudul ‘Membongkar Gurita Cikeas Di Balik Skandal Bank Century’ yang mendapat reaksi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Menurut Saraswangi, supervisor Toko Buku Gramedia di Pondok Indah, di tempatnya tidak beredar buku berjudul ‘Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century’. “Di sini tidak ada buku itu,” kata dia saat dihubungi VIVAnews di Jakarta, Minggu, 27 Desember 2009.

Namun, dia mengakui, tidak mengetahui toko buku Gramedia lain maupun yang di pusat. “Coba saja dicek ke sana, tapi yang pasti kita tidak mendapat kiriman dari pusat,” ujar Saras.

General Manager Marketing Gramedia Pustaka Utama Nung Atasana juga berpendapat senada. Dia menuturkan, tidak mendengar tentang buku karya George Junus Aditjondro yang dikabarkan telah ditarik dari peredaran itu. “Di Gramedia, kami tidak dengar informasi buku itu,” kata dia.

Apalagi, dia mengakui, mendengar buku yang kabarnya mendapatkan reaksi dari Presiden SBY itu dari televisi. “Kebetulan saya juga lagi cuti menengok orangtua,” tutur Nung.

Buku Harus Dihargai Tapi Jangan Memfitnah

Terbitnya buku ‘Membongkar Gurita Cikeas’ Di Balik Skandal Bank Century semestinya tidak dipermasalahkan. Pengungkapan fakta dalam buku itu harus dihargai.

“Pengungkapan itu harus dihargai. Tapi kita tidak boleh memfitnah,” kata Syafii pada detikcom, Minggu (27/12/2009).

Syafii mengaku tidak tahu terkait fakta-fakta yang disebutkan George seperti keterlibatan Presiden SBY dan keluarganya dalam kasus Century. “Makanya saya tidak memasukkan materinya dulu,” tuturnya.

Menurut Syafii, Membongkar Gurita Cikeas tidak perlu dipermasalahkan sebab, buku seperti itu bukanlah perkara baru.

Sebelumnya, Mei 2006, George juga pernah mengeluarkan buku mengenai korupsi di lembaga kepresidenan berjudul ‘Korupsi Kepresidenan Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga: Istana, Tangsi, dan Partai Penguasa’.

“Dia orang intelektual, mantan wartawan, dan juga  seorang pengamat. Dia bukan orang sembarangan,” pungkasnya.

George Junus Aditjondro, sipenulis buku Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century benar-benar sedang menjadi bintang di penghujung tahun 2009. Di era pemerintahan Suharto nama George Junus Aditjondro juga sempat menjadi figur yang menarik perhatian karena beberapa goresan penanya yang tajam mengkrtitik pemerintah pada saat itu. Di penghujung 2009 ini dia tiba-tiba muncul dengan sebuah buku berjudul Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century. Siapa sebenarnya sosok George Junus Aditjondro? Mari sekilas kita mengenal George Junus Aditjondro.

George Junus Aditjondro (lahir pada 27 Mei 1946 di Pekalongan, Jawa Tengah) adalah seorang sosiolog asal Indonesia.

Pada sekitar tahun 1994 dan 1995 nama Aditjondro menjadi dikenal luas sebagai pengkritik pemerintahan Soeharto mengenai kasus korupsi dan Timor Timur. Ia sempat harus meninggalkan Indonesia ke Australia dari tahun 1995 hingga 2002 dan dicekal oleh rezim Soeharto pada Maret 1998. Di Australia ia menjadi pengajar di Universitas Newcastle dalam bidang sosiologi. Sebelumnya saat di Indonesia ia juga mengajar di Universitas Kristen Satya Wacana.

Saat hendak menghadiri sebuah lokakarya di Thailand pada November 2006, ia dicekal pihak imigrasi Thailand yang ternyata masih menggunakan surat cekal yang dikeluarkan Soeharto pada tahun 1998.

Pada akhir bulan desember 2009, beberapa lama setelah peluncuran bukunya terakhir, Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyalurkan keprihatinanya atas isi buku tersebut. Buku itu sempat ditarik dari etalase toko walaupun pada saat ini belum ada keputusan hukum terhadap peredaran buku itu.

Bibliografi

  • Aditjondro, George Junus (2006). Korupsi Kepresidenan : reproduksi oligarki berkaki tiga : istana, tangsi dan partai penguasa. Yogyakarta: LKiS. ISBN 979-8451-68-6.
  • Aditjondro, George Junus (2003). Korban-korban pembangunan : tilikan terhadap beberapa kasus perusakan lingkungan di tanah air. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. ISBN 979-3237-64-3.
  • Aditjondro, George Junus (2003). Pola-pola gerakan lingkungan : refleksi untuk menyelamatkan lingkungan dari ekspansi modal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. ISBN 979-3237-65-1.
  • Aditjondro, George Junus (2003). Kebohongan-kebohongan negara : perihal kondisi obyektif lingkungan hidup di nusantara. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. ISBN 979-3237-63-5.
  • Aditjondro, George Junus (2002). Membedah kembar siam penguasa politik dan ekonomi Indonesia. Jakarta: LSPP, 169.
  • Aditjondro, George Junus (2001). Ketika semerbak cengkih tergusur asap mesiu. Jakarta: Tapak Ambon, 250.
  • Aditjondro, George Junus (2000). Menyongsong matahari terbit di puncak ramelau : dampak pendudukan Timor Lorosa’e dan munculnya gerakan pro-Timor Lorosa’e di Indonesia. Jakarta: Yayasan HAK dan FORTILOS, 312.
  • Aditjondro, George Junus (1999). Tangan-tangan berlumuran minyak : Politik minyak di balik targedi Timor Lorosae. Jakarta: Solidamor, 158.
  • Kontroversi peredaran buku Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century karya George Junus Aditjondro mengundang berbagai reaksi di kalangan, termasuk elite politik. Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng enggan menanggapi isi buku tersebut.
  • Menurut Andi yang ditemui di Bandung, Jawa Barat, Selasa (29/12), buku tersebut tidak ilmiah. Artinya pihak-pihak yang telah disudutkan tidak perlu melawan dengan membuat buku putih sebagai tandingan. Lebih lanjut, pemerintah akan berkonsentrasi pada program pembangunan.
  • Hampir sama dengan komentar Andi, Ketua Fraksi Partai Golkar Setya Novanto menegaskan, fraksinya tidak akan menggunakan data dalam buku Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century karya George Junus Aditjondro dalam mengusut kasus Bank Century. Menurut Setya, selama ini dalam berargumentasi fraksinya selalu menggunakan data dari sumber-sumber resmi, seperti Badan Pemeriksa Keuangan [baca: Fraksi Golkar Tak Akan Gunakan Data "Gurita Cikeas"].
  • Sementara Komisi Nasional Hak Asasi Manusia meminta agar pemerintah tidak lagi melarang peredaran buku seperti zaman Orde Baru. Sebagai bentuk perlindungan, Komnas HAM mendatangi toko buku Gramedia di kawasan Matraman, Jakarta Timur untuk membuktikan kalau buku tersebut tidak terancam penjualannya

Ramadhan Pohan Bantah Kebijakan Penarikan Buku “Gurita Cikeas”

Senin, 28 Desember 2009 | 18:38 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Anggota Fraksi Partai Demokrat Ramadhan Pohan menampik tudingan kebijakan penarikan buku membongkar Gurita Cikeas dari Dewan Pembina Partai Demokrat. Buku ini menghilang dari peredaran setelah didiskusikan di Yogyakarta baru-baru ini.

“Tidak ada perintah penarikan buku itu. Pak SBY pun sangat tidak happy dengan persoalan itu,” ujar Ramadhan disela-sela diskusi Strategi Lindungi Kebebasan Berekspresi di Era Multimedia di Kantor Dewan Pers, Senin (28/12).

Seperti halnya Ramadhan, juru bicara Presiden Julian Aldrin Pasha juga sudah membantah tudingan George Junus Aditjondro itu. Julian juga mengatakan tidak ada larangan atau perintah menarik buku tersebut dari peredaran.

Seperti diberitakan buku yang ditulis George Junus Aditjondro ini menjadi kontroversi. Buku tersebut dikabarkan membeberkan informasi yang berkaitan dengan yayasan yang dikelola keluarga Susilo Bambang Yudhoyono. George juga menuliskan yayasan-yayasan tersebut sebagai upaya untuk mengumpulkan dana kampanye menjelang pemilihan Presiden lalu.

Ramadhan pun mengaku mengetahui benar penulis buku tersebut dan sempat menjadi teman sejawat saat di Amerika Serikat. Mantan Pemimpin Redaksi Harian Jurnal Nasional itupun membantah dirinya pribadi dan Harian Jurnal Nasional kecipratan dana Century seperti yang dituduhkan oleh George Junus. Ramadhan juga mengatakan tidak pernah ada upaya verifikasi soal tuduhan tersebut kepada dirinya atau yang lainnya.

Ramadhan pun mengatakan secara pribadi tidak setuju dengan penarikan atau pelarangan buku tersebut. Dia mengatakan lebih sepakat dan berpikir untuk melawannya dengan menerbitkan buku tandingan. Dia pun mengaku mendapat banyak kritikan dan pertanyaan dari koleganya di luar negeri. Namun dia menampik rumor tersebut.

Pengunjung Peluncuran Buku “Gurita Cikeas” Membludak

Rabu, 30 Desember 2009 | 12:17 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Ratusan orang memadati acara peluncuran buku Gurita Cikeas di Coffe Doekoen, kawasan Pancoran, Rabu (30/12) siang. Mereka rela mengantre untuk memburu buku karya Georje Junus Aditjondro.

Berdasarkan pantauan Tempo, acara ini akan diisi dengan bedah buku oleh penulis. Meski diperuntukkan untuk media dan kalangan terbatas, acara ini sudah dipadati masyarakat umum. Mereka sudah mendatangi tempat acara bahkan sejak satu jam sebelumnya.

Panitia menempatkan satu tenda ukuran 5×6 meter persegi. Namun, tambahan tenda ini masih terasa sempit dibanding pengunjung yang datang. Suasana dalam kafe yang mungil pun disesaki pengunjung dan wartawan. Tak ayal, kondisi ini dikeluhkan beberapa pengunjung. Suasana panas dan pengap tak terhindarkan. Dua AC yang bekerja maksimal seolah tak berpengaruh.

“Pengunjung banyak, tempat kecil,” keluh Hendri, salah seorang pengunjung. Dia menambahkan, sepertinya panitia tidak memperkirakan pengunjung acara ini bakal membludak. “Seharusnya diantisipasi. Buku ini kan lagi diburu banyak orang,” tambah dia.

Warga Pasar Minggu ini mengaku sengaja datang untuk mendapatkan buku kontroversial ini. Rasa penasaran terhadap isi buku telah menyebabkan dia rela meninggalkan sejenak aktivitasnya sebagai wiraswasta.

Politisi Demokrat Ramadhan Pohan tidak menyangka George Junus Aditjondro yang dikenalnya itu menuding dirinya terkait aliran dana Century, seperti yang ditulis dalam buku ‘Membongkar Gurita Cikeas. Ramadhan Pohan akan segera mengambil langkah. “Saya akan mengambil tindakan kepada George Junus Aditjondro,” kata Ramadhan Pohan, anggota Komisi I Bidang Komunikasi, dalam diskusi di Dewan Pers, Jakarta, Senin (28/12).

Menurut Ramadhan Pohan, dia tidak akan menggunakan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), seperti yang menjerat Prita Mulyasari. Pemimpin Redaksi Jurnal Nasional ini beralasan, bila UU ITE digunakan maka dirinya tidak konsisten. “Tapi saya pakai jalur lain bersama tim saya. George menyebut saya tiga kali di televisi menerima dana Century,” ujar dia. Seperti diketahui, buku yang berisi dugaan keterlibatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan keluarganya dalam kasus Century. Yayasan-yayasan yang dikelola keluarga Cikeas juga disebut sebagai motor dalam mencari dukungan politik dan mencari dana. ‘Membongkar Gurita Cikeas’ sudah menarik perhatian publik meski baru akan diluncurkan pada Rabu 30 Desember 2009 pukul 12.00 WIB di Doekoen Cafe, Graha Permata Pancoran, Blok A, Pancoran.

Juru bicara Kepresidenan, Julian Aldrin Pasha, mengaku SBY prihatin atas penerbitan buku itu. “Di dalam buku itu disebutkan dengan fakta-fakta yang sepertinya tidak akurat dan tidak mengandung kebenaran yang hakiki. Ini yang diprihatinkan presiden,” kata dia di kediaman SBY di Cikeas, Bogor, Sabtu (26/12). (Vivanews)

TEMPO Interaktif, Jakarta – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Assiddiqie menilai buku Membongkar Gurita Cikeas, Di Balik Skandal Bank Century karya George Junu Aditjondro tidak dapat ditanggapi secara ilmiah sebab buku tersebut bukan buku ilmiah. Meski belum membacanya, Jimly mengatakan buku tersebut tak perlu ditanggapi secara berlebihan.

“Dianggap sebagai angin lalu saja,” kata Jimly di kantornya, hari ini (29/12).

Menurut Jimly, sejumlah buku karya George Aditjondro yang diterbitkan sebelumnya sebagian besar merupakan opini. Sehingga, tidak dapat disebut sebagai karya ilmiah melainkan propaganda.

Jimly berpendapat sebuah buku ilmiah tidak dapat menggunakan sumber media massa sebab media tidak termasuk sumber ilmiah. Media dapat dijadikan sumber penelitian jika berhubungan dengan analisa isi.

Buku Membongkar Gurita Cikeas karya George Aditjondro menimbulkan kontroversi. Sejumlah pihak keberatan dan berencana menggugat. Pihak yang keberatan antara lain Direktur LKBN Antara Mukhlis Yusuf. Mukhlis keberatan karena dituding mengalihkan Public Service Obligation sebesar Rp 20,3 miliar kepada Bravo Media Center.
Jimmly menambahkan, pengajuan gugatan dapat dilakukan agar tidak terjadi fitnah, sehingga kebenarannya dapat dibuktikan di pengadilan. Meski memberikan opini juga merupakan sesuatu yang sah. “Boleh-boleh saja toh berpendapat, kalau tidak suka silakan gugat,” kata dia.

Selasa, 29 Desember 2009 | 15:53 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melarang para pejabat Departemen Keuangan berhubungan dekat dengan para bankir yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan. Salah satu interaksi yang dilarang adalah bermain golf bersama.

“Mainlah dengan kolega (sesama pejabat Departemen Keuangan) saja, biar lebih akur,” kata Sri Mulyani di Jakarta, Selasa (29/12). Menurut dia, masyarakat sekarang sangat awas perihal interaksi pejabat. “Lebih baik menghindar daripada harus capek-capek menjelaskan,” ujarnya.

Sikap itu merupakan bagian dari reformasi Departemen Keuangan yang dijalankan oleh Menteri Sri Mulyani. “Reformasi menuntut perubahan tata kelola, agar pengelolaan transparan accountable dan efisien,” ucap Sri Mulyani.

Reformasi di Departemen Keuangan merupakan mandat dari Undang Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan Undang Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.

Penentuan bank mitra pemerintah pun diatur via tender. Berbeda dengan dulu saat pejabat bebas memilih bank kesukaan mereka untuk menempatkan kas negara. Praktek tersebut membuat pejabat sering dilobi bankir agar mau menempatkan dana di bank mereka. “Mau tidak mau pasti ada sedikit bingkisan,” ucap Sri Mulyani.

Namun, bila dilakukan dengan tender terbuka, Departemen Keuangan tidak hanya lebih bersih dari praktek kolusi, namun bank juga berkompetisi saling menawarkan jasa terbaik. Bank bersaing menekan biaya operasional sehingga menguntungkan pemerintah. Sebagai gantinya, pemerintah menganggarkan Rp 3 triliun sebagai reward bagi pengelolaan uang negara.

Kontroversi Audit Century, Dua Versi Satu Acuan

Meski sama-sama mengacu pada MoU Uni Eropa, BPK dan BI punya interpretasi berbeda soal analisis sistemik.

* * *

PEJABAT Sementara Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution agak terbata-bata. Diurainya kata demi kata secuplik isi siaran pers yang dibacakannya saat menggelar konferensi pers bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di gedung Departemen Keuangan pada 24 November lalu.

Kata-katanya tak lancar lantaran ia berbaik hati menyulihbahasan isi kutipan Nota Kesepahaman (MoU) Uni Eropa yang menjadi acuan bank sentral dalam melakukan analisis dampak sistemik Bank Century. “Saya terjemahkan saja ya,” ujarnya kepada para wartawan.

Darmin rupanya ingin agar pemahaman wartawan atas isi Nota itu tak meleset. Maklum, dalam laporan hasil audit investigasi Badan Pemeriksa Keuangan disebutkan bahwa institusinya telah melanggar isi nota itu.

BPK menyimpulkan tak ada kriteria terukur dalam penetapan dampak sistemik yang membuat Bank Century harus diselamatkan oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan, yang beranggotakan Gubernur BI dan Menteri Keuangan.

Analisis BI pun diragukan, karena tidak digunakannya indikator kuantitatif dalam mengukur dampak sistemik, selain pada analisis terhadap institusi keuangan. Akibatnya, keputusan penyelamatan Century pada 20 November 2008 yang menelan dana hingga Rp 6,7 triliun lebih didasarkan pada pertimbangan psikologi pasar.

Kesimpulan akhir BPK itu dibuat dengan mengacu pada isi MoU Uni Eropa atau Memorandum of Understanding on Cooperation between The Finacial Supervisory Authorities: On Cross-Border Financial Stability (1 Juni 2008).

Dalam MoU tersebut disepakati ada empat aspek sebagai dasar penentuan dampak sistemik, yaitu aspek institusi keuangan, pasar keuangan, sistem pembayaran dan sektor riil. Keempat-empatnya harus diukur dengan indikator kuantitatif.

Persoalannya, menurut BPK, BI hanya menggunakan indikator kuantitatif untuk aspek institusi keuangan. “Sedangkan untuk aspek lainnya lebih mendasarkan pada pertimbangan kualitatif,” begitu bunyi dokumen audit BPK setelah hampir 600 halaman itu. Akibatnya, kata BPK, “Assessment lebih banyak didasarkan pada judgement dan mengandung sejumlah kelemahan.”

Cacat lainnya, yaitu BI dianggap tidak konsisten dengan MoU itu karena mamasukkan aspek pertimbangan psikologi pasar. Ini membuat BI menyimpulkan bahwa kasus Bank Century bakal berdampak sistemik, yang dapat memicu gangguan di pasar keuangan dan sistem pembayaran.

Padahal, dari sisi aspek institusi keuangan dan sektor riil, pengaruh Bank Century tidak signifikan (low to medium impact). “Dari aspek institusi keuangan terlihat bahwa size Century tidak signifikan dibandingkan dengan industri perbankan nasional,” kata BPK, “namun, KSSK lebih memperhantikan aspek psikologi pasar.”

Berdasarkan wawancara dengan beberapa pejabat dan staf bank sentral, BPK juga terkesan meragukan digunakannya MoU Uni Eropa sebagai dasar analisis. “Dalam wawancara pada 11 September 2008, HA menjelaskan metode ini masih coba-coba,” BPK menuliskan dalam audit tersebut. Metode ini pun baru pertama kali digunakan ketika menganalisis dampak sistemik Century.

Berbagai kesimpulan inilah yang dibantah keras oleh Darmin dan Sri Mulyani. Dalam tanggapannya ke BPK, BI menegaskan ditambahkannya aspek psikologi pasar mengacu pada pengalaman krisis 1997/1998. Saat itu, penutupan 16 bank yang pangsa pasarnya hanya 2,3 persen dari total aset perbankan, ternyata mengakibatkan dampak berantai yang memicu krisis perbankan.

“Gangguan pada sektor keuangan dapat dengan cepat menjalar ke berbagai sektor lainnya, sehingga menciptakan ketidakstabilan sosial politik yang dapat dengan cepat mengganggu psikologi pasar dan meruntuhkan kepercayaan masyarakat,” ujar BI.

Menurut Sri, judgement juga tidak bisa dikonotasikan negatif. Apalagi, penilaian pun dilakukan atas dasar data-data kuantitatif. “Saya tidak mengerti kenapa BPK menyatakan hanya qualitative judgement,” ujarnya. “Padahal ada sederet data kuantitatif yang digunakan.”

Darmin pun menyatakan, keputusan dibuat atas dasar pertimbangan kualitatif dan kuantitatif. Keduanya pun kemudian menyodorkan sederet angka-angka sebagai indikator rawannya ekonomi domestik saat keputusan penyelamatan Century dibuat.

Darmin justru balik mempertanyakan pemahaman BPK soal isi MoU Uni Eropa. Ia lantas mengutip halaman 34 MoU tersebut yang bunyi aslinya sebagai berikut:

“Prioritisation in the assessment. In the case of a rapidly unfolding crisis, one may need to focus the assessment on the most critical parts of the financial system….In such a situation, one may also need to place more reliance on qualitative judgements rather than on up-to-date quantitative information.”

Dari kutipan MoU itu, kata Darmin, cukup jelas bahwa penggunaan unsur penilaian kualitatif lebih penting ketimbang informasi kuantitatif yang up to date. “Pertimbangan yang mendasari MoU Uni Eropa itu tentu telah didasari baik oleh hasil kajian maupun pengalaman mereka dalam mencegah dan menangani krisis keuangan,” ujarnya.

GRACE S GANDHI | METTA DHARMASAPUTRA

SENGKARUT ANALISIS SISTEMIK

Badan Pemeriksa Keuangan mencatat sejumlah kelemahan dalam analisis dampak sistemik kasus Bank Century yang dibuat oleh Bank Indonesia dan pemerintah. Salah satunya, kesimpulan yang lebih didasarkan pada judgement kualitatif. Sebaliknya BI dan pemerintah menganggap, kesimpulan BPK lah yang keliru. Alasannya, di balik keputusan itu, terdapat sederet data kuantitatif yang dijadikan dasar pertimbangan.

Temuan BPK

- Terdapat inkonsistensi BI dalam penerapan MoU Uni Eropa dengan penambahan aspek psikologi pasar ketika menganalisis dampak sistemik Century.

- BI tidak menggunakan indikator kuantitatif dalam menilai dampak di luar aspek institusi keuangan. Penilaian lebih didasarkan pada judgment.

- Proses pembuatan analisis dampak sistemik Century terkesan tergesa-gesa, karena hanya dibuat dalam dua hari dengan metode yang baru pertama kali digunakan dan belum pernah diuji coba.

- Data yang digunakan bukan data mutakhir karena per 31 Oktober 2008.

- KSSK tidak mempunyai kriteria terukur untuk menetapkan dampak sistemik Cetnury, tapi lebih mendasarkan keputusannya pada judgement.

- Dari aspek institusi keuangan, ukuran Century tidak signifikan dibandingkan industri perbankan nasional.

• Dana pihak ketiga 0,68%

• Kredit 0,42%

• Aset 0,72%

- KSSK lebih memperhatikan aspek psikologi pasar dalam menetapkan Century sebagai bank gagal berdampak sistemik.

10 INDIKATOR SRI MULYANI

Selaku bekas Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan, Sri Mulyani baru-baru ini memaparkan 10 indikator yang menggambarkan betapa rawannya ekonomi domestik saat keputusan penyelamatan Century dibuat pada 20 November 2008.

1. Pasar uang dunia tertekan pasca kejatuhan Lehman Brothers dan lembaga keuangan global lainnya

2. Pasar saham dunia guncang. Indeks saham Jakarta merosot dari 2.830 (9 Januari 2009) menjadi 1.155 (20 November 2008)

3. Harga surat utang negara merosot ditandai dengan meroketnya yield dari sekitar 10% menjadi 17,1% (20 November 2008). Setiap kenaikan 1%, beban bunga SUN di APBN bertambah Rp 1,4 triliun).

4. Credit Default Swap Indonesia melesat dari 250 basis point (awal 2008) menjadi di atas 1.000 bps (November 2008).

5. Terjadi pelarian modal akibat gangguan likuiditas di pasar saham.

6. Cadangan devisa merosot 13% dari US$ 59,45 miliar (Juni 2008) menjadi US$ 51,64 miliar (Desember 2008).

7. Rupiah bergejolak dan terdepresiasi 30,9% dari Rp 9.840 (Januari 2008) menjadi Rp 12.100 (November 2008)

8. Sistem perbankan dan keuangan domestik di ambang batas krisis berdasarkan Banking Pressure Index (Danareksa Research Institute) dan Financial Stability Index (BI).

9. Potensi pelarian modal lebih besar dari para nasabah bank karena tidak ada penjaminan penuh di Indonesia, seperti diterapkan negara-negara lain.

10. Para pemimpin dunia (G-20) mengadakan pertemuan pada 13-15 November 2008 membahas penanganan krisis global.

5 ALAT UKUR BANK INDONESIA

Terdapat lima aspek yang digunakan BI untuk menganalisis bank gagal berdampak sistemik. Kelima aspek itu telah diterima Panitia Kerja RUU-JPSK Komisi XI DPR (2004-2009). Berdasarkan analisis tersebut, disimpulkan penutupan Bank Century berpotensi menimbulkan dampak sistemik, khususnya melalui jalur psikologi pasar, sistem pembayaran dan pasar keuangan.

1. Sistem pembayaran (dampak medium hingga tinggi)

- Pasar Uang Antar Bank tersegmentasi. Bank-bank besar tidak mau lagi meminjamkan dana ke bank kecil. Data sepekan terakhir sebelum 20 November 2008 menunjukkan, transaksi PUAB hanya antar sesama bank besar, menengah, atau kecil.

- Terdapat 18 bank setara Century yang terancam kesulitan likuiditas jika terjadi perpindahan dana ke bank-bank besar (flight to quality).

- Jika Century ditutup, terdapat lima bank lainnya yang bakal mengalami kesulitan likuiditas, karena menempatkan dana di Century.

- Dana pihak ketiga pada 23 bank itu terus merosot. Puncaknya pada September-November 2008.

- Tiga bank BUMN bahkan harus diperkuat likuiditasnya dengan penempatan dana pemerintah Rp 15 triliun.

2. Pasar keuangan (dampak medium hingga tinggi)

- Pasar saham tertekan bahkan sempat dihentikan dua kali.

- Harga surat utang negara merosot

- Premi risiko atau Credit Default Swap (CDS) Indonesia melonjak dari 350 basis point menjadi lebih dari 1.200 bps dalam kurun kurang dari satu bulan pada Oktober 2008 (bandingkan dengan CDS pada November 2009 yang di bawah 200 bps).

3. Psikologi pasar (dampak medium hingga tinggi)

- Jika muncul rumor negatif atas 23 bank tersebut, akan memicu kepanikan dan menimbulkan penarikan dana besar-besaran (bank run).

- Dalam kondisi krisis, penutupan Century berpotensi menimbulkan contagion effect yaitu menularnya ketakutan ke nasabah bank-bank kecil lain, yang saat itu juga kesulitan likuiditas, sehingga menarik dana besar-besaran.

4. Lembaga keuangan (dampak rendah hingga medium)

- Peran Century dari sisi pangsa pasarnya tidak signifikan. Namun, nasabahnya cukup besar (65.000) dengan jaringan cukup luas (30 kantor cabang, 35 kantor cabang pembantu).

- Dalam kondisi bukan krisis, penutupan bank ini tidak akan berdampak sistemik

5. Sektor riil (dampak rendah)

- Peran Century dalam pemberian kredit ke sektor riil tidak signifikan
Sumber: Departemen Keuangan, Bank Indonesia, Laporan Audit BPK

audit, Bank Century, Boediono, BPK, hak angket, KKSK, Sri Mulyani

Komentar [23]

Feed •   Trackback •   Kirim Komentar

23 Komentar untuk “Sistemik Versi BPK atau BI yang Benar?”

  1. pengamat | 4 December, 2009 09:52

Yah jelas aja BPK kaga objektif lah wong ketuanya hadi purnomo punya rasa sakit hati ama Sri Mulyani karena dilengserkan dari Dirjen Pajak.

Dulu coba sapa yg brani kritik tuh si hadi purnomo, si kwik kian gie aja ampe nyembah-nyembah minta maaf waktu kritik si hadi purnomo ini…

  1. awam | 4 December, 2009 13:25

betul, ini ulah hadi purnomo yang bermain politik. penilaian bpk itu tidak objektif hanya ngikuti arus politik

  1. Herman RH | 4 December, 2009 16:28

Kita ini tinggal di endonesia atau di eropah? kok yg jadi acuan aturan uni eropa.
lagian bank udah bobrok dari tahun 2005 kok masih aja sibuk diselamatken. cuba dari tahun 2006 dilikuidasi, beres!

  1. Rakyat Menilai | 4 December, 2009 16:36

Kalau argumentasi di atas memang masuk akal maka langkah penyelamatan Bank Century tersebut lebih banyak manfaatnya. Yang penting sekarang adalah pengungkapan aliran dana yg dicurigai mengalir kepada parpol atau perorangan, jika tidak terbukti maka seluruh rakyat Indonesia akan mengetahui siapa aja orang-orang sebagai pengacau di negeri ini dan biarlah masyarakat yang menghukum mereka.

  1. Djohan Suryana | 5 December, 2009 04:03

Kalau Bank Century diselamatkan melalui bail-out rp 4,7 triliun ternyata tidak terjadi rush, bukankah itu berarti bahwa bail-out itu berhasil? Sebaliknya, jika tidak diselamatkan kemudian terjadi krisis perbankan seperti tahun 1998, lalu siapa yg disalahkan?

  1. Budi A | 6 December, 2009 06:05

memang indonesia anggota Uni Eropa?

  1. sri | 6 December, 2009 06:15

Kalau waktu itu (semester 2 th 2008) situasi ekonomi sebenarnya gawat (”diam-diam” ada krisis), penyelesaiannya kenapa tidak seperti negara2 yang mengalami krisis ekonomi? 10 th lalu Indonesia alami krisis; bank2 yang tidak layak hidup ditutup; yang bermodal negatif dikelompokkan untuk merger, take over,dst. kalau modal negatifnya kecil dibiarkan beroperasi. dulu tidak ada LPS. 16 bank ditutup lalu rush (ekonomi makro dan politik juga berperan). tapi 2008 ada LPS dan nilai penjaminan sdh dinaikan. kalau benar bank2 banyak yang nyaris collapsed semester 2 th 2008, kenapa tidak segera dibikin resolution spt tahun 1997/1998?

  1. Lee | 6 December, 2009 07:52

Lho memangnya BPK punya kualifikasi menilai dampak pasar? Bukannya BPK itu auditor negara? Auditor kan belum tentu bisa menilai dampak psikologi pasar yang sangat rill bisa dilihat dari keseharian pasar modal & pasar uang.
Kualifikasi BPK harusnya dipertanyakan untuk menilai kasus ini. Kalau untuk aliran uang dan procedure compliance, mungkin BPK punya wewenang tapi tidak untuk hal2 lainnya.

  1. Johny tahanora | 6 December, 2009 11:58

Bpk cuma auditor bukan dlm kapasitasx untuk menilai apakah akan ada akibat sistemik dr penutupan/penyelamatan suatu bank

10. Mirna Jay Simbolon | 6 December, 2009 13:18

Jangan gubris pernyaaan SBY. Lagi lagi SBY membantah kebenaran publik bahwa dia memang tidak beramal hal-hal signifikan bagi rakyat dan negeri ini, berkilah ada yang hendak coba melakukan pembunuhan karakter dia dan PD.

Itu hanya gertak SBY karena kejabisan cara membendung demo-demo besar massif di hari-hari mendatang yang harus berujung pada pelengseran dia. Lima tahun lebih dari cukup buat seorang pemimpin yang tidak jelas dan hanya jual kata-kata. Kalau pemimpin begitu dibiarkan 5 tahun lagi sampai 2014, rakyat yang akan semakin susah.

Pelengseran tanpa gagal dan dengan apapun caranya adalah wjib bagi kita selruh ummat Islam dan ummat beragama dan lintas agama disini. Sebab SBY adalah tukang bohong, tidak punya wawasan kenegaraan, dan arahnya dia tidak ada sikap yang jelas membela rakyat apalagi mensejahterakan. Rakyat di bawah SBY terbukti semakin melarat dan ni tak ada hubungannya dengan global crisis sama sekali. Tanah dan alam Indonesia yang kaya ludes tanpa rakyat menikmati.

Lihat, Papua dan propinsi-propinsi lain pantas kembali bergejolak, dan merdekalah masing-masing alau perlu. Mmereka tidak mendapat kehidupan yang layak meskipun pemerintah oknum terus mengelabuhi rakyat merayakan kemerdekaan dan mewajibkan itu dirayakan dengan bendera-bendera di depan rumah masing-masing, penipuan gaya Orba, sejak 1945, kemerdekaan dan kemakmuran yang hanya dinikmati sedikit orang disini.

Sementara rakyat di sebuah wilayah di Jawa Timur dilupur Lapindo pun dibiarkan SBY. Dan rakyat yang lain, masih di Jawa Timur juga, antara lain, yang lokasinya ada sumber migas Exxon, mereka tidak mendapatkan apa-apa, padahal migas yang terkandung di dalamnya ratusan juta barel dan itu jelas mendatangkan triliunan dolar bagi Negara yang harunya untuk pembangunan ramah rakyat dan untuk rakyat tetapi semuanya ditilep mafia/pemerintah Indonesia. Exxon sudah mengaloaksikan kompensasi itu tetapi ditilep oknum-oknum di pemerintah pusat dan pempo. Seorang ibu disana walau sudah memprotes serak dan berlinang airmata hanya dapat gigit jari. Apa yang akan terjadi kalau rakyat yang hanya menuntut hak saja tidak diperjuangkan oleh SBY? Untuk apa kita mahasiswa seluruh negeri ini dan rakyat bangsa ini membela dan mempertahankan SBY sampai 1914? Goblokkah kita?

Hari ini terkabar seorang anak dan ayah sudah bunuh diri akibat berkesulitan ekonomi. Sudah banyak rakyat negeri ini terpaksa mati karena kezaliman SBY dan pemerintah-pemerintah sebelumnya. Hari lalu kapal tenggelam, tentu rakyat yang mati bukan SBy dan keluarganya, akibat tidak ada disiplin angkutan, karena pemerintahan tidak tegas SBY. Ini hanya segelintir contoh penderitaan rakyat bangsa, karena ketidak jelasan, tidak adanya wawasan dan pelaksanaan kebijakan yang harusnya pro rakyat. Tetapi SBY selalu membuat pernyataan-pernyataan bantahan, sensitive, dan reaktif yang tidak substantive dan tidak signifikan, untuk melupakan tugas-tugas pembangunan yang ramah public. Padahal semua harusnya mudah untuk dia karena presiden mandat oleh rakyatnya untuk berbakti kepada rakyatnya. Jadi tidak ada alasan kita semua tidak melengserkan SBY apapun cara kita, sebelum justru negara ini akan bubar, karena ketidak jelasan sikap dan pelaksanaan pembangunan yang harusnya digerakkan oleh presiden.

Maka siapapun kita sebagai mahasiswa, cendekiawan, preman, ulama, dan bahkan anggota kabinet SBY, dan khususnya seluruh anggota DPR, dan kami himbau juga intelijen, kepolisian dan tentara, harus pro mahasiswa dan rakyat, untuk satu jiwa dan kata bahwa memang SBy sudah tidak berguna dan harus dilengserkan bersama-sama. Kalau tidak, kami sangat hakul yakin Indonesia akan runtuh. Beberapa orang sudah mengatakan bahwa SBY adalah Gorbachevnya Uni Soviet dulu yang meruntuhkan sebuah adikuasa itu berkeping-keping. Tetapi Rusia kini bangkit dan kembali kuat setelah diambilalih Vladimir Putin, bekas kepala intelijen cerdas dan berani bagi rakyat Rusia dan republik-republik satelitnya. Tetapi Indonesia baru masuk ke tahap kehancuran, dan ini semakin nyata setelah dipegang SBY yang pandai berpura. Sebuah rumah mewah di Los Angeles sudah tersedia untuk SBY kalau SBY berhasil membubarkan Indonesia. Duduga Indonesia akan runtuh justru kalau People Power tidak berhasil melengserkan SBY. Melengserkan SBY biayanya lebih murah daripada Indonesia bubar. Pernyataan pembunuhan karakter oleh SBY hanya cara-cara dia mencari dukungan kepada rakyat yang bodoh. Rakyat pintar tak mungkin bela SBY lagi.

Jangan sepelekan rakyat yang sebentar lagi akan mengamuk massif dimana-mana dan kali ini tanpa digerakkan dan tanpa koordinasi, tidak seperti kerusuhan sebelum pelngsean Suarto dulu. Melengserkan SBY biayanya lebih kecil lebih hemat sebab people power cukup focus pada pelengseran SBY. Tetapi kalau DPR yang main-main maka kita mahasiswa akan pilih lengserkan dulu DPR baru setalah itu SBY.

Kita dan rakyat pasti tidak lagi menganggap pernyataan-pernyataan SBY termasuk pernyataan terbarunya “pembunuhan karakter terhada dirinya dan partainya” jelas bernilai sampah untuk mengulur waktu. Ini cara dan lagu lama yang selalu disenandungkan SBY, yang tentu tidak efektif dan bahkan akan ajdi boomerang, sebab rakyat dan mahasiswa sudah sangat cerdas, hanya tinggal dosen-dosennya yang masih munafik seperti Effendi Gazali, khususnya, yang mungkin saja diperalat SBY; dia selalu membawa hanya ke demo-demo “damai” demoa bohongan. Kalau rakyat sudah sangat dizalimi dengan sikap tidak jelas SBY, tidak perlu lagi tempuh jalan normal damai. Ayooo… kita buang pemimpin yang tidak pro rakyat. Terlalu banyak yang tidak dilakukan SBY untuk rakyat dan bangsa ini kecuali pembohongan-pembohongan, sejak cara BLT dan banyak lagi, tidak jelas, hanya untuk beli suara.

Lihat, di hal yang lain, kebijakan pendidikan, ujian nasional pun terbukti mengorbankan ribuan adk-adik kita, mereka tak mampu lulus, ini adalah kesalahan besar kbijakan pndidikan menteri Bambang Sudibyo di bawah pemerintahan SBY 2004-2009 dan mereka harus bertangung jawab dan masuk penjara. Tetapi SBY membiarkan dia selamat dan kini menikmati masa tua kaya hasil pensiun sebagai mantan Mendiknas. Tentu UAN bleh saja asal persyaratan pokok terlampaui yaitu antara lain semua buku pelajaran gratis dibagi dan seragam bagi seluruh adik-adik siswa kita. Sebetulnya di balik ujian nasional adalah proyek korupsi terselubung sangat besar. Contoh lainnya, di departemen agama, ongkos haji Indonesia jauh lebih mahal dibandingkan kita rakyat di Amerika yang hanya US$80 ribu, ini pun membuktikan adanya korupsi terselubung di perhajian di depag Indonesia. Inikah SBY katanya memberantas korusi? Apanya yang diberantas? Korupsi-korupsi saat ini terang-terangan atau terselubung, atas nama berbagai proyek kebijakan oleh menteri-menteri dan bawahannya, jauh lebih dahsyat. Ada atas nama IT, ada atas nama pembangunan jalan Indonesia timur dan macam-maam yang lain lagi, dan SBY pura-pura tidak tahu. Untuk apa kita punya presiden macam ini? Ayooo kita lengserkan segera. Selesaikan SBY!! Tempuh berbagai cara sesuai kemampuan. Maju terus samai dia malu dan lengser keprabon. Jangan biarkan dia melenggang samai 2014. Kalau tidak dengan situasi ekonomi kian tak jelas ini, maka matilah saudara-saudara kita rakyat miskin kota, rakyat miskin desa, prajurit-prajurit rendah, dan yang lain negeri ini! Malunya kita, pembual itu justru kini menjadi presiden RI?!!!

11. Bob | 7 December, 2009 01:50

Ini sebenarnya masalah pengawasan BI dari awal. Lucunya BI bukan mengakui kelemahan pengawasannya malahan menjustifikasi penyelamatannya. Kalau MenKeu okelah menjustifikasi, karena dia ketiban pulung, tahunya belakangan pas udah masalah.

BI harusnya minta maaf dulu karena kelalaian pengawasannya, dan harus ada yg dihukum.. Bagian Pengawasan mulai dari Kepala, Direktur sampai Deputi Gub Pengawasannya harus dipecat, karena telah merugikan negara..

12. ari lumbangorat | 7 December, 2009 07:48

Akibat krismon 98, kita menerapkan aturan perbankan yg sangat ketat pd th 1999-2003, pd saat perbankan dibawah BPPN. Bank2 tidak boleh lagi main derivatives. Inilah yg menyelamatkan Indonesia tidak ikut dalam krisis keuangan Okt-Nov 2008. Ada pihak2 pd waktu itu yg ingin meliberalkan pasar perbankan kita, tetapi BPPN berkeras utk menerapkan aturan yg ketat.

13. aisyah muna | 7 December, 2009 08:46

saya mungkin cuma anak kecil yg tdk tau apa-apa…
tapi saya sedih melihat bapak-bapak ibu-ibu om-om ini saling tuding sana sini…hiks(`’_’`)
bukankah yang kita lakukan semuanya satu tiada lain untuk negara kita indonesia..
hiks..sampai kapan akan saling beradu..tidak dulu tidak sekarang sama aja..dari jaman baheula dan entah sampai nanti saya tidak tau..berganti pemerintahan..tetap aja bermasalah..tetap saja protes..proses yg sangat alami..karena tak ada yang sempurna..
bapak-bapak…kakak-kakakku..knapa kita tidak bersatu saja..mendukung apa yang sedang berjalan…jika salah kita ingatkan..tapi bisakah dengan cara tenang..tanpa ada rasa iri dan dengki di hati..?
seperti kita mengingatkan kepada saudara sendiri, mengingatkan orang tua kita,karena kita kan memang bersaudara…
(-_-)…

kakak-kakakku..mari kita bangun bangsa ini bersama…
jika terus saling adu..kapan kita akan akur…
kapan kita damai…
kak…saya cuma berfikir, kalaupun akan berganti pemerintahan lagi, akankah sempurna?yakinkah kita?
kak..kakak mau pemerintahan sempurna yang bagaimana?adakah orangnya?yang sempurna?siapa?yakinkah?berapa rupiah lagi yang akan terbuang?
kak..mari dari kita masing-masing bergerak memberikan yang terbaik buat negara ini dari kita.

kak…berapa banyak waktu yang kita buang untuk mengkritik ‘orang-orang’ itu,pun yang mungkin punya tujuan sama membangun negara ini,dengan waktu yang kita pergunakan untuk mengerjakan sesuatu yang berarti untuk negara ini?berapa banyak sudah yang kita sumbangkan dari kita untuk negara…

saya ingat kata-kata seorang bapak disuatu film..saya lupa tepat kata-katanya..seperti ini” banyak-banyaklah memberi dan jangan banyak meminta”.

Tenangkan hati yuk kak…
indah rasanya jika tak ada iri dan dengki..(-_-)
saya merindukan kalian kakak-kakakku..saya hanyalah seorang anak yang rindu kedamaian di indonesiaku….

14. Mirna Jay Simbolon | 7 December, 2009 09:44

Prita 204 juta. Jumlah ini besar kali buat rakyat biasa apalagi kalau kita, mahasiswa. Namun yang lebih nggak beres tentu SBY yang pada tiap kesempatan selalu oportunis, bersolek mempercantik kata-kata pidato. Jaksa manapun nggak mungkin membuat tuntutan ngawur kalau pemimpin nasional dalam hal ini SBY tegas seperti masa Suharto dulu. Tapi SBY nggak ditakuti pejabat bawahan. Karena dia hanya pandai bicara bersolek kata-kata pidato. Kesalahan menggunung ada di SBY.

Masa Suharto dan masa Mega nggak ada pejabat atau bawahan yang kurang ajar sebab presiden-presiden itu berani perintahkan pemecatan kalau mencoreng pemerintahannya. Suharto punya malu kepada rakyat dan dunia. Kalau nggak, jaksa agung itu yang akan dipecat atau digeser. Jaksa agung dan ketua MA diangkat dan diberhentikan presiden.

Persoalan utama ada di presiden kita ini. Ini bencana buat kita semua, anak bangsa, kau dan aku, mahasiswa, intelektual, dan rakyat negeri ini. SBY semakin menantang rakyat yang dianggap selalu bodoh. Kita ditipu dengan solek kata-kata. Kita nggak percaya lagi SBY. Kami tunggu teman-teman segenerasi di militer dan kepolisian untuk berpikir sama. Seorang hadirin duduk baik-baik saat SBY berpidato dianggap ngantuk dan dibilang sakit oleh SBY. Presiden ini sensi, reaktif dan mudah marah kalau menyangkut kepentingan pribadinya tetapi buta mata dan hati kalau menyangkut ketidakadilan dan derita rakyat. Apa kita masih menunggu dia menikmati fasilitas negara yang mewah keluar negeri naik pesawat gratis dan gaji tinggi dari negara hingga 2014?

Maka semakin banyak bencana malapetaka langsung dan nggak langsung akibat sikap mendua SBY. Membangun negara juga embangun mentalitas pejabat dan bawahan dengan tindakan tegas. Semakin banyak pejabat yang pandai berbohong dan sok jaga imej, wibawa bohongan, persis meniru SBY. Lihatnya Susno dll. Mereka nggak lagi takut pada rakyat. SBY juga nggak takut rakyat dan selalu menipu rakyat dengan solek kata-kata. Ini bencana besar. Kalau bawahan nggak takut pada pemimpinnya sebab wibawa hanya sekadar kata-kata tanpa tindakan konkrit, dan selalu main-main, tunggu balasan rakyat. Ini sudah soal pribadi antara SBY dan rakyat. Kasus Prita dan lain sebagainya nggak akan terjadi kalau Presiden berwibawa nyata, setidaknya seperti Suharto, tetapi membela kebebasan ekspresi dengan nyata seusia dengan zaman. Saat ini hukum dan keadilan telah dipermainkan justru oleh aparat hukum tetapi SBY diam sejuta kata. Kau dan aku lihat, bahkan menurut Fahmi Idris, keluarga jaksa mendapat layanan gratis dari RS Omni ‘Internasional’. Macam apalagi ini.

Harusnya SBY berani meminta jaksa agung memeecat jaksa kasus Prita. Kalau hal begini saja SBY tidak berani dan selalu berkilah tak mau mencampuri penagdilan, presiden macam apa ini. Bukankah Jaksa Agung dan Ketua MA juga diangkat Presiden? Kalau saja SBY berani, seperti masa Suharto dahulu, apapun ketidak beresan di negeri ini termasuk soal korupsi sekalipun, bisa terberantas dengan sendirinya, sebab koruptor pasti takut pemimpin nasional. Dengan pemimpin nasional yang parah, Negara dan bangsa tidak mungkin pulih. Kini koupsi semakin merajalela, karena tak ada bawahan dan pejabat yang takut presiden dan bahkan mentertawakannya, melecehkannya. Korupsi dengan berbagai alas an proyek ini itu semakin menjadi-jadi dengan alas an seolah-seolah untuk membangun berbagai prasarana. Semua dimarkup dan ditilep berjamaah akibat seorang presiden yang tidak mau tahu dan sekadar membuat kaa-kata idato tanpa tindakan yang konkrit. Jadi sepengetahuan kami, sejak 2004 SBY tidak banyak bertindak substantif. Kasus Munir pun dilupakan. SBY pandai membelokkan berbagai masalah. Justru banyak yang mengatakan pembunuhan atas Munir pun dia tahu dan dia terimplikasi Semua masalah bisa ditelusuri dari kejadian peristiwa yang sama dalam waktu. Waktu itu Munir gencar menentang dalam iklan di tvtv kemungkinan dipilihnya SBY oleh rakyat tahun 2004. Jadi percayalah pada kami mahasiswa yang seperti kalian juga kritis bahwa kasus Bank Century pun akan menguap, apalagi komisi pengusutan di DPR dipimpin Idrus, gang pengkhianat negara. Idrus adalah bagian tangan SBY. Lihatlah kalau dia bicara, sangat bohong, dan orang-orang seperti dia di negeri ini tanpa kecuali perlu dicari tempat mangkal mereka dan kita ledakkan.

Ringkas kata berbagai kemunduran Indonesia justru dieprpaah oleh kepemimpinan buruk SBY yang tidak tegas, tidak berani, tidak jelas. Pemimpin jelas, tegas dan berani demi rakyat itu harus, pemimpin nggak jelas, tidak berani, tidak tegas, dan hanya ap hari bersolek dan mempercantik kata-kata pidato palsu, yang diset indah di telinga, buang dan lengserkan segera.

Tak ada lagi rakyat kota dan desa percaya lagi dengan pidato SBY. SBY masih pakai strategi lama. Tersisa sedikit rakyat desa yang masih dapat dibuai dengan pidato-pidato palsu SBY. Hari-hari mendatang ini kita anak bangsa dan semua mahasiswa harus dalam satu kata: Lengserkan. Sebab ujung dan pangkal permasalahannya di pemimpin nasional yakni SBY.

15. John Pardede | 7 December, 2009 10:27

Setuju sekali. Hayoooo bergerak. Kita ajak juga pendemo tandingan, preman-preman bayaran SBY yang hitam-hitam kulitnya agar sadar dan berbalik melawan SBY. Kita ajak Hariman, Sri Bintang Pamungkas, Gus Dur, Amien Rais, juga Adnan Buyung Nasution, opung beruban putih total itu bersama abang Todung Mulya Lubis, rektor-rektor semua PT, tekan bekas Tim 8 SBY sendiri untuk berhati nurani berbalik menetang SBY, jelmaan Suharto jilid dua. Kita ajak tokoh-tokoh nasional tersebut dari luar pemerintah, dan juga menteri kabinet SBY yang brutus, bersama-sama melengserkan presiden SBY yang ngacau. Ketika Hatta Rajasa dan Andi Malarangeng cs dan Edi Baskoro anak ingusan yang KKN dan bisa menjadi anggota DPR itu pergi ke polda mengasukan LSM Bendera itu, sama saja mling teriak maling. Itu bukan cara pembuktian gentlemen. Mana ada maling mengaku? Kalau berani periksa seluruh rekening bank mereka dan saudara-saudara mereka. PPATK kalau tidak jujur, meminjam kata ito Mirna, kita sikat juga. Cari dimana perjalanan dan mangkal ketua PPATK tu, kita tanyai apa dia juga ditekan SBY dan dikendalikan SBY seperti Idrus, dan kita tabrak mobil mereka. Kita intip dimana mereka makan di restoran, kita munirkan. Taruh racun di minuman mereka.

16. S.piningit999 | 7 December, 2009 12:29

Orang bersih pasti di turunkan…Gus Dur di lengserkan…sekarang Sri dan Boediono…lagu lama boss. BPK urusin aja proyek pemerintah seperti biasa…business as usual gitu lho. DPR…no comment….para boss…!!????

17. Mirna Jay Simbolon | 7 December, 2009 21:23

Surat elektronik darmawangsa? Kita nggak terkejut hal beginian. Kita justru harus jeli dan kritis. Bagaimana kita mahasiswa menyikapi rumor surat elektronik? Nggak usah terkejut. SBY sebelumnya sudah membuat maam-maam isyu. Mulai tentang dia yang hendak ditembak dan sampai demo hari mendatang yang ditunggangi, ada agenda lain dan sebagainya. SBY tidak hanya sensi dan reaktif tetapi jusru licik dan sengaja membuat isyu ini. Ini cara lama untuk mencari dukungan seolah-olah dia yang terbaik dan paling benar, berharap masih ada rakyat yang mau mendukung dia. Kalau mereka dan kita melengserkan SBY, jusru itu menegakkan UUDdan bukan melanggar.

Tapi dia lupa isyu-isyu ini kian menunjukkan semuanya telah dia rancang untuk tujuan tersebut. Pasti kita bertanya apa masih ada yang percaya SBY hari ini? Bukankah semacam ini adalah cara masa lalu untuk mencoba menjatuhkan citra lawan-lawannya, dengan agenda PD akan etapi dipilih pada 2014; adaal PD sudah tamat.

Ah, ketahuan dan mudah dibaca. Lagian, menurut kami mahasiswa, kalaupun ada pertemuan Darmaangsa dan benar bermaksud melengserkan SBY, itu sah-sah saja, dan justru kita kebanyakan mahasiswa dan juga banyak rakyat ini merestui. Mari kita segera lengserkan SBY dengan cara apapun, sebab negeri ini semakin hancur di bawahnya. Jangan takut. Maju tarus, bapak-bapak, ibu-ibu dan jendera-jenderal pejuang bangsa sejati. Buang SBY cepat-cepat. Makin cepat makin baik. Dan mari bergabung jenderal-jenderal aktif, menteri-menteri cabinet, dan seluruh anggota DPR berhati nurani bersatu menjatuhkan biang keladi itu, S – B – Y yang nggak jelas. Negeri ini sudah hancur dari segala bidang dan semakin parah karena SBY. Rakkat dimana-mana di kepulauan Nusantara, di desa dan di koa, semakin melarat, juga karena SBY, terlepas ekonomi Indonesia konon membaik, tapi PDB/GDP nggak dinikmati rakat. Gas mahal, bensin mahal, internet mahal, pulsa mahal, air PAM mahal, kaau dilihat dari penghasilan rata-rata rakyat ini. Haga di luar negeri nggak dapat dijadikan ukuran sebab penghasilan rakyat di luar negeri sangat tinggi. Pakai otak dong. Mari segera lengserkan SBY. Maju terus kita bersama, lengserkan si pembohong dan si pesolek kata-kata pidato. Itulah ciri orang munafik, antara perkataan dan amal tindakan nggak sama. Kita justru minta siapapun dapat membaca selama 5 tahun dibawah SBY turun ke jalan bersama, teriakkan keras dan lakukan tndakan apapun untuk penyelamatan Negara dari SBY, boneka dan tangan imperialis kapitalis buta dan nggak jelas. Demo tandingan dan demo damai bersatulah, mari kita buang dan lengserkan SBY. Kalau nggak, percayalah pada kami, dia nggak bakalan dapat membangun negeri ini, sebab dia memang ngak ada wawasan itu dan juga pengecut. Apa kita nggak malu 5 tahun sudah kita hanya dibohongi? Pendidikan hancur, hukum rusak, keadilan nggak ada, ekonomi nggak dibangun masif untuk rakyat. Kita malu dengan Hugo Chaves dan Evo Morales yang mampu bahkan menasinalisasi perusahaan-perushaan migas asing, meeka berani dan memiliki bargaining power, pekan ini Morales dipilih lagi rakyatnya dan berkata, kemenanganku kami persembahkan untuk rakyatku dan untuk pemimpin-pemimpin yang anti imperialis. Hebat dan dahsyat. Ada 4 pemimpin hebat di dunia ini anara lain: Ahmad Dinejad, Vladimir Putin, dan kedua pemimpin tersebut, serta Hu Jintao. Indonesia? Tanyakan pada diri kalian sendiri. Ah malu. SBY hanya jaim dan tidak jelas, mari kita lengserkan, tolonglah jenderal-jenderal dan tokoh-tokoh masyarakat negeri ini, bersatah dan etap dalam satu kata, LENGSERKAN.

18. Saki | 9 December, 2009 16:19

Ah pintar cakap adik2 mahasiswa ya. Muji2 Ahmadinejad yg menindas rakyat sendiri dan kini jadi sorotan dunia karena pemerintahan semena2.

Jangan mengatasnamakan rakyat seolah2 semua ga percaya lagi sama SBY. Saya rakyat dan saya percaya dia. Banyak rakyat kayak saya mendambakan kestabilan, ogah diobok2 orang yg hanya mau memanfaatkan kita karena gondok kalah pemilu dan mau menjungkalkan SBY.

Peringatan SBY ternyata betul toh, demo hari ini ditunggangi. Pake ribut lagi di Makassar.

Adik2, susah ga ngurus BEM? Susah ya? Apalagi ngurus negara. Jadi jangan mudah apa2 bilang tumbangkan, revolusi, dll. Pikirkan efeknya.

Boleh tak suka SBY. Tapi ada yg namanya sopan santun demokrasi: kalau orang bicara, dengarkan dulu. Jangan lantas dibilang dia pasti salah. Siapa tahu kali ini dia yg benar, kita yg salah.

Lagipula, jangan harap didengar orang kalau kita saja ogah mendengarkan orang.

19. Tai Long | 10 December, 2009 09:09

Hentikan debat kusir tidak berguna.
Kita tunggu saja pengungkapan aliran dana bail-out century.
Tp SBY harus punya good will, jika tidak mau rakyat punya prasangka.
Di kampung yg penuh maling, jangan salahkan warganya jika sering curiga.

20. Kuli | 10 December, 2009 23:10

Sudah-sudah ribut terus, kita yang di luar negri udah bosen lihat Indonesia ribut terus. Negara lain sudah seribu langkah lebih maju dengan kerja keras dan percaya pada pemimpinnya, ini malah ribut sendiri. Kalo ingin pemimpin yang benar 100%, bersih 100%, terbuka 100% dan jujur 100%, anda2 semua salah tempat untuk hidup, lebih baik pergi saja ke alam yang lain.

21. Hishamuddin Rais | 11 December, 2009 01:24

Projek pembodohan orang Melayu
Hishamuddin Rais
Dis 4, 09
12:18pm
United Malays National Organisation berkhayal bahawa gerombolan mereka sahaja yang mewakili orang Melayu. Dakwaan ini sebenarnya satu dongeng yang sengaja disebarkan untuk membodohkan fikrah orang Melayu.

Projek pembodohan Melayu ini sebahagian daripada strategi politik United Malays National Organisation. Selama lebih 50 tahun, proses pembodohan ini telah dilakukan. United Malays National Organisation amat amat sedar tanpa projek pembodohan ini, mereka akan hilang kuasa untuk memerintah.

Pada zaman feudal dahulu, orang-orang Melayu dibodohkan dengan pelbagai dongeng tentang daulat raja, tentang hikmat raja, tentang kehebatan raja, tentang ilmu raja atau tentang raja yang mewakili tuhan di bumi ini.

Dakwaan ini semuanya dongeng. Semua ini sebahagian daripada projek membodohkan Melayu.

United Malays National Organisation tidak mahu orang Melayu memiliki fikrah dan berkeupayaan untuk berfikir secara bebas. Susuk yang memiliki fikrah dan berkeupayaan berfikir secara bebas pasti akan menjauhkan diri daripada gerombolan ini.

Manusia yang berfikir akan berupaya untuk melihat tipu belit yang sedang dijalankan oleh gerombolan ini.

Projek pembodohan ini ada yang dijalankan dengan licik sehingga tidak dapat dilihat; ada pula yang amat jelas dan dapat dilihat dengan mudah. Projek pembodohan yang licik dan yang terang berjalan serentak untuk membonsaikan akal fikrah manusia Melayu.

Cara pertama:

Menakut-nakutkan Melayu tentang bahaya orang asing. Orang asing yang dimaksudkan oleh gerombolan ini tidak lain dan tidak bukan – orang Cina. Kaum ini dijadikan “momok” untuk terus menakut-nakutkan orang Melayu.

Akan ditimbulkan pelbagai cerita untuk membuktikan bahawa ekonomi negara ini dimiliki oleh orang Cina. Racun membenci Cina telah memandulkan fikrah Melayu untuk melihat dengan jelas bahawa wujud persekongkolan intim antara kroni gerombolan United Malays National Organisation dengan para cukong Cina.

Para cukong yang mengaut harta kekayaan sebenarnya bekerjasama dengan gerombolan United Malays National Organisation – kerjasama mereka ini seperti hubungan abang dengan adik.

Cuba kita kembali kepada kes bank Bumiputera Malaysia Finance (BMF) yang lingkup pada tahun 1980-an dahulu. Nama seperti Hashim Shamsuddin dan Lorraine Osman akan muncul; kemudian diikuti nama George Tan. Siapakah Lorraine Osman? Dia ini tidak lain dan tidak bukan bendahari gerombolan sendiri!

Skandal bilion ringgit ini hanyalah satu contoh daripada berjuta-juta contoh lain – belum lagi diambil kira kes PKFZ, Bakun, Perwaja, Formula 1, Piala Monsoon, KLCC – wujud kerjasama antara gerombolan dengan “orang asing” ini untuk menjarah hasil negara.

Cara kedua:

Menyebar berita dongeng bahawa sesiapa yang menentang United Malays National Organisation bererti menentang raja dan monarki. Dakwaan ini bukan sahaja dongeng tetapi cerita lawak.

Orang Melayu sengaja dibodohkan dan tidak diarifkan untuk memahami bahawa melawan, menentang atau mengkrtitik sistem monarki ini bukan sesuatu yang pelik atau menghairankan.

Dalam sejarah negara Arab, banyak raja telah dicampakkan dalam tong sampah sejarah. Raja Feisal dari Iraq, Raja Farouk (Mesir), Raja Idris (Libya), Raja Bagi Segala Raja Ahmad Reza Pahlevi (Iran) – semuanya dihumbankan.

Justeru, menentang monarki bukan sesuatu yang asing dalam sejarah tamadun manusia. Malah menentang monarki adalah tindakan progresif dan maju.

Tetapi orang Melayu sengaja dibodohkan agar terus terperangkap untuk tunduk melutut tanpa berfikir. Orang Melayu tidak diberi kefahaman yang jelas bahawa “menjunjung ke bawah duli” itu ertinya “menjunjung tapak kaki”. Orang Melayu tidak diberitahu bahawa “pacal” itu ertinya “anak anjing”.

“Patik pacal yang hina menyembah duli tuanku” bermakna “saya ini anak anjing yang hina menjunjung tapak kaki kamu”. Bukankah kenyataan ini kerja bodoh dan memperbodohkan diri sendiri?

Kenapa orang Melayu boleh dibodohkan sebegini? Kenapa orang Mealyu mahu menjadi bodoh dan terus dibodohkan?

Cara ketiga:

Sesiapa yang menentang United Malays National Organistion dikatakan menentang Islam. Dakwaan ini juga projek membodohkan orang Melayu. Bagaimana menentang gerombolan ini disangkutpautkan dengan agama tidak pula dilakar dengan jelas.

Islam ialah agama kepercayaan. Manakala United Malays National Organistion adalah satu gerombolan politik. Islam wujud 1,500 tahun dahulu. Gerombolan yang beroperasi hari ini hanya wujud semenjak tahun 1988. Manusia Melayu menganut Islam 500 tahun dahulu dan tidak ada sangkut paut dengan United Malays National Organisation.

Manusia Melayu menganut Islam bukan kerana United Malays National Organisation. Mereka menganut Islam kerana satu kepercayaan agama.

Tetapi orang Melayu di Malaysia ini terus ditakut-takutkan seolah-olah gerombolan ini wakil tuhan di atas bumi ini. Dakwaan ini karut. Tidak ada sesiapa yang mewakili tuhan di atas bumi ini. Menentang United Malays National Organisation bukan menentang agama, bukan menentang Islam dan bukan menentang tuhan.

Yang Maha Esa tidak pernah melantik United Malays National Organisation untuk menjadi wakilnya. Malah Yang Maha Esa tidak juga melantik pope, sami, dalai, ayatollah, paderi, rabbai untuk menjadi wakilnya.

Apa yang terjadi, para agamawan ini orang-orang yang beramal dan beribadat. Mereka mengikut selurus dan setepat mungkin ajaran-ajaran daripada kitab-kitab suci. Semua mereka hanyalah manusia yang sama seperti makcik dan pakcik di Felda Sungai Rokan – bezanya mereka boleh berfikir dan berilmu.

Ahkirnya:

Projek pembodohan Melayu ini telah dibudayakan. Ertinya, ia menjadi sebahagian daripada proses pembudayaan fikiran Melayu. Lembaga-lembaga daulah yang wujud diarahkan untuk terus menjalankan projek pembodohan ini.

Kaedah pembelajaran dan media menjadi dua lembaga yang digunakan untuk projek membodohkan Melayu. Media Melayu – jika dibandingkan dengan media yang bukan Melayu – amat ketara perbezaan kandungannya.

Tahap laporan berita, tahap tulisan rencana, tahap soal jawab agama dalam media Melayu – semuanya memiliki nilai bodoh yang amat tinggi.

Begitu juga kaedah pembelajaran dan keilmuan. Anak-anak muda Melayu terus diperbodohkan dalam sistem pembelajaran yang sedia wujud. Justeru, ibu bapa dalam masyarakat Cina tidak mahu anak anak mereka masuk ke sekolah aliran Melayu.

Mereka tidak mahu anak-anak mereka jadi bodoh. Dalam masa yang sama, makin ramai ibu bapa Melayu telah mula menghantar anak-anak mereka ke sekolah aliran Cina.

Di sekolah aliran bukan Melayu, masih ada peluang untuk anak-anak sekolah ini diajar berfikir, bukan diajar untuk menjadi bodoh.

Kemelut politik hari ini adalah hasil daripada projek pembodohan orang Melayu. Masih ramai lagi orang Melayu yang bodoh sehingga mereka gagal untuk membezakan apa yang betul dan apa yang salah; apa yang hak dan apa yang batil.

Projek bodoh ini telah juga memesongkan nilai budaya orang Melayu. Orang Melayu yang telah dibodohkan gagal melihat bahaya rasuah, malah mereka dengan bangga akan mengangkat pemimpin pengamal rasuah.

Orang Melayu yang telah berjaya dibodohkan gagal melihat bagaimana sistem kehakiman dan keadilan dalam negara ini boleh dijual beli. Mereka ini terus ingin menjadi bodoh.

Orang Melayu yang ingin terus menjadi bodoh gagal melihat pembunuh, penculik, pengambil rasuah – ini semua bukan pekerjaan salah.

Budaya songsang lagi bodoh ini melihat kejahatan itu sebagai baik dan suci kerana ia dilakukan oleh manusia Melayu beragama Islam yang memiliki kad gerombolan United Malays National Organisation.

22. mBah Klowor | 12 December, 2009 23:44

Kita punya aparat Pemeriksaan Fungsional yg melakukan pengawasan dibidang keuangan yaitu BPK (Legeslatif), BPKP dan Inspektorat Jenderal (Executif) tapi Negara Kita Republik Indonesia menduduki Peringkat lima besar Negara Terkorup didunia. Ini berarti bahwa ketiga Lembaga/Institusi tsb tidak menjalankan fungsinya dengan baik ato dng kata lain tidak dpt dipercaya 100%. ato hasil Audit ketiga Lembaga tsb belum tentu 100% benar.BPK mestinya meng Audit ada tidaknya dana Bank Century yg mengalir ke PD dan orang2 disekitar SBY spt yg dituduhkan oleh orang2 ttentu, bukannya menilai/mempersoalkan pengambilan keputusan Pemerintah/BI dlm menetapkan pemberian Bail Out ke BC.ini mah sama dengan Polisi yg mempersoalkan pengambilan keputusan secara Kolektif Kolegial di KPK yg dipakai sbg dakwaan Penyalah gunaan wewenang yg dilakukan oleh Bibit & Chandra.

23. aBANG siSATio | 14 December, 2009 10:20

Siapa yang tidak tau kalau orang pajak itu paling korup didunia? Siapa yang tidak kenal ketua BPK, Hadi Purnomo, ex dirjen pajak yang cuma Sri Mulyani yang berani memecatnya? Cara pemeriksaan orang-orang pajak dipakai untuk kasus ini. Orang-orang pajak kalau meriksa orang selalu cari-cari dan seenaknya, dengan tujuan untuk memeras. Siapa yang tidak tahu hal ini?? Mentalitas ini yang diterapkan waktu BPK mengaudit kasus Century.

Sejarah telah bertutur: jangan main-main dengan massa yang berkerumun. Penguasa sekuat apa pun bisa ambrol bila melawan massa seperti itu. Gerakan people power di Filipina telah menghancurkan rezim Ferdinand Marcos. Gelombang unjuk rasa mahasiswa pada 1998 juga telah melengserkan Soeharto.

Itu dulu, Bung. Untuk menumbangkan penguasa, orang perlu berkumpul di satu tempat. Mereka berunjuk rasa bersama-sama meniru demo ala Lech Walesa atau Tragedi Tiananmen. Lalu menggabungkan energi kemarahan sehingga menghasilkan tuntutan yang meledak-ledak.

Sekarang orang tak perlu berkerumun di satu tempat untuk menggerakkan people power. Ini zaman web 2.0 (meminjam definisi Tim Tim O’Reilly) , Bung, era orang bisa menyuarakan pendapatnya  dengan lantang . Facebook dan Twitter jauh merasuk ke relung-relung kantor, kampus, juga tempat-tempat nongkrong. Cukup teriakkan kepedihan bersama di Facebook, “jemaah fesbukiyah” akan mendukungnya spontan. Lihat saja gerakan mendukung dua pimpinan nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi, Bibit Samad Rianto dan Chandra M.

Hamzah. Hanya dalam hitungan hari, sekarang sudah terkumpul “kerumunan” yang terdiri atas lebih darisejuta pendukung.Mereka sangat lantang dan juga galak. Gerakan mengenakan pita hitam atau baju hitam sebagai bentuk keprihatinan terhadap matinya keadilan hukum dan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan polisi serta kejaksaan sebagai contohnya. Dalam sekejap, gerakan mengenakan pita hitam menyebar ke mana-mana.

Padahal, dalam gerakan ini, tak ada yang disebut superinfluential people, seperti teori Malcolm Gladwell dalam bukunya, The Tipping Point. Dulu setiap perubahan selalu membutuhkan “orang berpengaruh”. Polandia butuh Lech Walesa. Gerakan reformasi 1998 di Indonesia butuh orang-orang seperti Amien Rais, Abdurrahman Wahid, Sri Sultan Hamengku Buwono, juga para orator mahasiswa, yang kini sudah duduk manis di kursi Dewan Perwakilan Rakyat.

Merek Hush Puppies, seperti kata Galdwell, pun butuh orang berpengaruh. Merek yang hampir mati itu tiba-tiba melejit–penjualannya terbukukan 5.000 persen–lantaran orang-orang penting tiba-tiba memakai sepatu Hush Puppies.People power melawan ketidakadilan terhadap Bibit dan Chandra tidak membutuhkan superinfluential people. Mereka tak butuh koordinator lapangan atau orang-orang yang mencari donasi untuk membeli nasi bungkus. Saat orang merasakan “kepedihan yang sama”, orang pun berkerumun di Facebook dan Twitter serta situs jejaring sosial lainnya. Tak peduli siapa yang meneriakkannya. Siapa yang kenal dengan pembuat “Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Rianto”, yakni Usman Yasin? Mungkin 99 persen pendukung gerakan ini dipastikan tak mengenalnya.

Dulu betapa repotnya mengumpulkan sejuta orang. Kini bisa terkumpul dengan beberapa klik komputer. Inilah People Power 2.0. Di Indonesia, setidaknya sudah dua kali people power model ini lahir dan menekan dengan kuat orang-orang yang berkuasa. Yang pertama, saat Prita Mulyasari, penulis e-mail yang dipenjarakan Rumah Sakit Omni Serpong. Yang kedua adalah gerakan dukungan terhadap KPK dan membuat Presiden Yudhoyono tergopoh-gopoh memanggil tokoh penting, membentuk Tim Pencari Fakta.

Kepolisian, kejaksaan–atau Presiden sekalipun–boleh menganggap remeh gerakan ini. Mereka mungkin akan bilang, “Ah, itu kan cuma di Facebook” atau “Ah, itu kan bukan gerakan kaum elite, bukan gerakan rakyat”. Tapi keadaan bisa berbalik. Perubahan memang selalu dipelopori dari kalangan kelas menengah, baru kemudian menetes ke masyarakat kelas bawah atau atas. Sekarang sudah terbukti, sejuta  facebooker bisa menggoyang Yudhoyono, yang meraih dukungan dari 41 juta orang pada Pemilu 2009.

Bila masyarakat marah, People Power 2.0 akan terus bergulir, membesar bak bola salju. Seperti kata Mahfud Md., Ketua Mahkamah Konstitusi. “Kalau pemerintah tidak bisa memberi keadilan, rakyat akan mencari keadilan sendiri.”

Bibit Rianto, Chandra Hamzah, Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Rianto, KPK, Web 2.0

Mustahil ada people power di sini. Belum ada bukti sejarah. Gerakan kerusuhan dan mahasiswa 1997&8 karena ada yang menggerakan, Paman Sam, yang sudah ngak senang dengan Suharto, waktu itu Suharto dianggap sudah memeluk nasionalisme — gayanya sendiri — mirip nasionalisme pendahulunya, Sukarno. Waktu itu Suharto mulai sulit didikte Amerika dkk khususnya IMF. Waktu itu oknum-oknum di sipil dan petinggi dalam tentara “diminta” agen-agen Amerika agar “pembantu” Amerika menjatuhkan Suharto, dengan berbagai rekayasa termasuk kerusuhan, demo menyeluruh masif dan beberapa penembakan atas mahasiswa, dan jatuhlah Suharto. Tapi sekarang SBY setia dan pro Amerika dalam segala kebijakannya, jadi Amerika mustahil membantu misalnya menjatuhkan SBY. Dengan people power? Idih…tak mungkin. Gerakan Massardi? Hanya membaca puisi. Gerakan Effendi Gazali? Juga membaca puisi dan tak jelas. Gerakan mahasiswa? Dosen-dosennya pengecut. Jadi gerakan membela rakyat, itu ku pikir hanya omong kosong dan sebatas di mulut. Semua hanya sebatas di mulut, bukan aksi bertarget. Lagian mahasiswa sekarang terlalu lemah dan mudah terpecah. Jadi jangan berhepotesa. Kalau tak ada penggerak dari luar seperti masa penjatuhan Suharto atau sebelumnya, Sukarno, oleh Suharto sendiri, tak mungkin SBY bisa jatuh. Polri dan Kejagung pun ada agenda lain. Kejagung sekadar meminta gaji naik, meskipun anak buahnya bergaji jauh dari cukup, di saat banyak rakyat negeri ini kelaparan, dan anak serta cucu mereka pada busung lapar, lihat di Nusa Tenggara dll. Jadi agenda menaikkan gaji itu membonceng juga. Hendarman membelokkan ke sana. Kita lebih senang SBY meskipun fakta menunjukkan SBY sepertinya pun tidak perduli bangsa, rakyat dan negara. Lihat, semua departemen pegawainya masih banyak dari anak-anak pejabat yang pernah bekerja disana. Kalau ayahnya hakim atau jaksa maka anaknya juga nantinya bekerja di bawah departemen dan lembaga itu. Kalau bapaknya dulu di BI maka anaknya atau menantunya juga di BI. Jadi dimana reformasi kelembagaan atau birokrasi? SBY tidak melihat penyelewengan itu kok. Untuk masuk kepolisisan dan ketentaraan juga selama ini harus menyuap jutaan rupiah. Mana yang bisa dikatakan pemerintah terutama SBy melakukan reformasi? Apa dia tahu makna reformasi? Lagian sikapnya selalu ambvalen, itu pastinya selamanya. Suatu karakter tak akan berubah. Jadi People Power di negeri ini hanya mitos, Oom. Itu baru terjadi bila ada kekuatan besar dari luar yang membantu gerakan seperti itu, Oom. Banyak yang tidak dilakukan SBY, tetapi kalian tak mungkin bisa berbuat kalau tidak berbuat nyata apapun caranya dan tidak meminta bantuan PBB dan CIA. Kalian harus kirim surat banyak-banyak ke Amnesty International, ke United Nations, ke CIA, yang semuanya tingal browse, buka di Internet websites mereka, mengeluhlah dan samaikan kebrobrokan SBY dan pemerintah itu sekarang! Ketik dan ketik, kirim dan kirim. Dan juga kalian perlu beraksi konkrit dan bertarget. Jadi bertindak dan jangan sekadar berpuisi. Tak kah Oom Oom tahu telinga semua pejabat kita sudah congekan dan mereka sudah tak punya hati nurani? Janganlah berharap keadilan dan hati nurani, itu mimpi, Oom.

MEREKA YANG DISEKITAR BOEDIONO

Boediono, kini tak bisa sebebas beberapa waktu lalu ketika menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia. Ia pun ‘dipaksa’ untuk menjadi politisi dalam waktu singkat. Sekarang mantan Menko Perekonomian itu juga harus pandai-pandai berkomunikasi dengan masa dan berada ditengah khayalak ramai, sesuatu yang jarang dilakukannya.

Profesor ekonomi dari Universitas Gajah Mada itu memang di kenal santun, sederhana dan kalem. Selama menjabat berbagai posisi penting di pemerintahan, Ia dikenal irit bicara. Ia pun tak pernah mencicipi menjadi politisi.

Kini, setelah menerima pinangan Susilo Bambang Yudhoyono menjadi calon wakilnya untuk bertarung dalam pemilihan presiden mendatang, mau tak mau Boediono harus ‘bersolek’. Untuk ‘mendandani Boediono’, di sekelilingnya selalu ada yang siap sedia.

Mereka ada yang berasal dari tim sukses, petinggi partai, tokoh masyarakat dan orang-orang dekat Boediono.

Dari Tim Kampanye Nasional SBY-Boediono ada Rizal Mallarangeng yang setia mendampinginya. Rizal menjadi semacam juru bicara dan menkordinasikan kegiatan semua dilapangan. Dalam rangkaian kampanye Boediono ke Ende, Denpasar dan Solo yang  saya ikuti , Rizal-lah yang rajin berkomunikasi dengan pers dan mengatur kegiatan.

“Saya memang khusus ditugaskan untuk mendampingi Pak Boed,” katanya ketika berbincang-bicang disela rangaian kegiatan kampanye.

Selain itu, ada Komisaris Utama Perusahaan Pengelola Aset dan koleganya di Forum Stabilisasi Sektor Keuangan Raden Pardede yang rela meninggalkan jabatannya di pemerintahan untuk masuk ke jajaran Tim Sukses SBY-Boediono. Raden pernah dicalonkan menjadi Gubernur Bank Sentral, namun gagal. Kemudian, ada juga ekonom Universitas Indonesia (UI) yang juga staf khusus Menteri Keuangan Chatib Basri dan Staf Khususnya di Menko Perekonomian M Iksan.

Mereka bertiga turut serta dalam kampanye menemani Boediono untuk memberikan masukan terbaru, khususnya mengenai persoalan perekonomian.

Perwakilan partai koalisi yang mengusung SBY-Boediono juga tak ketinggalan. Di dalam rombongan kampanye Boediono tampak hadir politisi PAN Patrialis Akbar, Politisi PKS Mabruri, Sahar L Hasan dari PBB, Hanif Dakhiri dari PKB dan Sekjen PKPI Samuel Samson.

Orang-orang yang disebut, Rizal, sebagai ’sahabat’ Boediono pun sering menempel. Diantaranya, tampak Budayawan Goenawan Muhamad, novelis Ayu Utami dan aktivis Nong Darol Mahmada.

Merekalah orang disekitar Boediono. “Kita selalu berdiskusi dengan Pak Boed dan memberikan masukan dari berbagai bidang, ” kata Rizal.

Saat ditemui, Goenawan Muhammad mengaku memberikan masukan kepada Boediono, termasuk untuk untuk mempersiapkan debat cawapres pada 2 Juli nanti. “Feeding (masukan) yang diberikan kepada beliau banyak dari berbagai tokoh dan bagus-bagus,” katanya.

Tak ketinggalan, istri Boediono juga turut dirias. Herawati Boediono yang dikenal sederhana dan apa adanya, kini harus menerima untuk didandani.

Ketika mendampingi suaminya dalam kampanye di GOR Lila Buana dan mengunjungi Pesta Kesenian Bali (PKB) di Denpasar, Herawati yang menggenakan kebaya merah muda dipadu dengan kain batik tampil beda dengan sentuhan sedikit make up. Herawati juga mengajak berbincang masa, terutama kaum perempuan.

16
Dec
09

KECERDASAN DAN KEPRIBADIAN

KECERDASAN DAN KEPRIBADIAN [1] PENGANTAR (C) 1999—2009 — EE ONE S Berdasarkan pada pengetahuan dan pendapat saya pribadi, keberhasilan seseorang dalam kehidupan dunia ditentukan oleh 3 faktor utama: [ urutan tak menyatakan prioritas ] * kecerdasan (inteligence). * kepribadian (personality). * idzin dan perkenan ilaahi (divine permission and approval) atas: o do’a dua orangtua kepada anaknya. o do’a orang-lain yang ikhlas kepadanya. o do’a diri-sendiri atas ilmu bermanfa’at dan riqzi halal, hanya karena Allah semata. Berkaitan dengan tiga faktor diatas, pada kesempatan ini, saya ingin mengemukakan sedikit tentang: * kecerdasan rangkap (multiple intelligence). * kepribadian rangkap (multiple personality). * sifat rangkap ilaahi (divine multiple characteristics). Silahkan ikuti pos berikut … … Kembali Ke Atas Go down http://bmwcourier.forum-express.com Admin Administrator Administrator IT Advisor Nama Singkat: Admin Nama Lengkap: Administrator Banyak Pemposan: 162 Sejak: 06.06.09 Lokasi: Jakarta – Bogor Pekerjaan: TI Slogan: Sukses adalah kredit Komentar: Silahkan memposkan pesan PostSubyek: Re: PERILAKU: Kecerdasan Dan Kepribadian Thu 11 Jun 2009 – 10:51 KECERDASAN DAN KEPRIBADIAN [2] KECERDASAN RANGKAP | MULTIPLE INTELLIGENCE (C) 1999—2009 — EE ONE S Berdasarkan pada teori kecerdasan rangkap, terbukti kemudian, dan telah diterima dunia internasional bahwa ada lebih selusin bentuk kecerdasan berbeda yang membuat orang sukses dalam hidupnya. Teori multiple intelligence mulai dikembangkan dalam 1983 oleh Dr. Howard Gardner, profesor pendidikan pada Universitas Harvard, AS. Ia menyatakan bahwa penentuan kecerdasan tradisional, berdasarkan pada tes IQ, adalah sangat terbatas. Ia mengemukakan beberapa kecerdasan spesifik, yang mungkin dimiliki rata-rata orang, yang merangkum potensial manusia, dari usia kanak-kanak hingga dewasa. Gardner mengemukakan beberapa macam kecerdasan, namun tak menutup kemungkinan adanya tambahan kecerdasan lain, sebagai berikut: * kecerdasan berbicara | berbahasa (verbal | linguistic intelligence, VLI), cerdas dalam kata-kata, bebicara dan berbahasa (word smart); unggul di bidang bahasa, berbicara, ceramah, pidato, menulis, atau mengarang. * kecerdasan logikal | matematikal (logical | mathematical intelligence, LMI), cerdas dengan nalar dan angka-angka (number-reasoning smart) atau kecerdasan rasional (rational intelligense, RI), cerdas dalam pikiran (thinking smart); unggul di bidang sains dan teknologi. * kecerdasan visual | spasial (visual | spatial intelligence, VSI), cerdas dengan gambar atau citra dan persepsi terhadap dimensi ruang (picture smart); unggul di bidang disain, arsitektur, atau seni-rupa. * kecerdasan somatik | kinestetik (somatic | kinesthetic intelligence, SKI), cerdas dalam penampilan badan dan gerak (body smart); unggul di bidang olahraga, beladiri, seni-tari, atau bahasa tubuh (body language). * kecerdasan musikal | ritmik (musical | rhythmic intelligence, MRI), cerdas dalam musik dan irama (music smart); unggul di bidang musik atau seni-suara. * kecerdasan intrapersonal (intrapersonal intelligence, NPI), cerdas dalam diri-sendiri (self smart); unggul di bidang pengenalan diri. * kecerdasan interpersonal (interpersonal intelligence, XPI) atau kecerdasan sosial (social inteligence, SI), cerdas dalam berinteraksi dengan orang dan dalam bermasyarakat (people smart); unggul di bidang komunikasi antar perorangan dan hubungan masyarakat. Dari daftar kecerdasan diatas, 2 kecerdasan pertama adalah dua kecerdasan yang selama ini dikorelasikan dengan tes IQ (Intelligence Quotient). Sedangan 5 kecerdasan lainnya merupakan kecerdasan yang dikemukakan Gardner, yang mana selama ini dikesampingkan atau diabaikan, padahal secara faktual dianggap merupakan kecerdasan setara dengan 2 kecerdasan pertama. Disamping 7 kecerdasan diatas, ditambahkan lagi kemudian 2 kecerdasan lain: * kecerdasan naturalis (naturalist intelligence, NI), cerdas dengan alam (nature | environment smart); di bidang lingkungan dan alam sekitar. * kecerdasan ekstensialis (extentialist intelligence, XI), cerdas terhadap keberadaan (extent smart); unggul di bidang pemahaman keberadaan sesuatu. Perkembangan lebih lanjut memungkin adanya 3 tambahan kecerdasan lagi terhadap jenis kecerdasan telah dikemukakan Gardner: * kecerdasan emosional (emotional inteligence, EI), cerdas dalam perasaan (feeling smart); unggul di bidang perasaan dan hubungan dgn org lain. * kecerdasan spiritual | rohani (spritual intelligence, SI), cerdas dalam kerohanian, ketuhanan dan agama (religion smart); unggul di bidang agama dan ketuhanan atau teologi. * kecerdasan finansial (financial intelligence, FI), cerdas dengan uang dan mengelola keuangan (money smart); unggul di bidang bisnis | niaga. Hingga kini beberapa jenis kecerdasan lain masih belum teridentifikasi secara spesifik, tapi waktu akan memberitahukan kepada kita kemudian. Pada dasarnya bisa jadi tiap manusia mungkin memiliki semua kecerdasan, tapi umumnya hanya satu, dua, tiga atau beberapa bagian dari semua kecerdasan tersebut menonjol, unggul atau dominan dalam diri seorang individual, dan dalam proporsi berbeda, dan umumnya dalam kecerdasan-kecerdasan yang bertalian, dan kecerdasan-kecerdasan mana yang dominan tercermin dari sikap dan perilaku, dan tindakannya. Seseorang mungkin saja memiliki keunggulan dalam kecerdasan verbal | lingustik, kecerdasan logikal | matematikal, dan kecerdasan visual | spasial, ketiganya sekaligus, tapi sangat buruk dalam kecerdasan musikal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan interpersonal misalnya. Tak ada seorang pun manusia sempurna dan memiliki segalanya secara sekaligus bersamaan. Jadi tiap orang pada dasarnya memiliki semua bentuk kecerdasan, tapi kebanyakan hanya ada dua atau tiga kecerdasan saja yang berkembang dan hanya satu yang dominan, yang dikenal sebagai bakat atau bawaan, sehingga tak banyak yang unggul dalam kecerdasan rangkap, dan sukses lebih di satu bidang keahlian. Ada baiknya kalau kita tak hanya mengandalkan kecerdasan di satu bidang saja, karena kita juga bisa berkembang di bidang lain, yang bukan bakat kita, asalkan kita mau belajar dengan tekun dan serius. Jika tdk, kita akan terperangkap di bdg satu kecerdasan, dan ini menjelaskan mengapa banyak orang dodol tapi kaya, dan punya kedudukan tinggi, dan banyak orang pintar hidupnya melarat dan dipekerjakan oleh orang dodol. Kecerdasan manusia adalah sesuatu yang sangat kompleks, dan ternyata sangat erat hubungannya dengan kepribadian, dimana intelligence test (uji kecerdasan) pada umumnya hanya mencakup lingkup sangat terbatas dan tak bisa diadakan untuk lingkup menyeluruh. Sebagai contoh, bagaimana dengan sebuah pertanyaan seperti “Apakah tindakan anda akan lakukan jika anda menemukan di jalanan sebuah amplop tercecer yang bersegel dan beralamat lengkap dan berperangko baru di jalanan?” Satu pertanyan yang berlaku untuk suatu uji kecerdasan, tapi juga berisi uji kepribadian. Jawaban untuk pertanyaan tersebut bisa beragam dalam satu multiple choice (pilihan rangkap.) Jika anda mengirimkannya kembali atau mengembalikannya ke kantor pos atau ke seorang tukang pos, maka anda akan memperoleh skor 2. Jika anda menyadari bahwa itu milik seorang lain dan mencoba memberikannya katakanlah ke seorang polisi, maka anda memperoleh skor 1. Tapi jika anda membukanya, maka anda memperoleh skor 0; yang mana secara moral tak dibenarkan dalam masyarakat umum; tapi suatu tindakan yang intelligent and smart (cerdas dan cerdik), terutama bila anda melihat sejumlah uang di dalamnya. Jadi ini merupakan pertanyaan yang bermuatan kultur, moral dan etika. Lebih banyak tentang multiple intelligence (kecerdasan rangkap) dan intellectuality (keterpendidikan, keterpelajaran), anda bisa membacanya di berbagai internet web-site tentang itu, antara lain via taut | hyperlink berikut.

06
Dec
09

Menanti Partisipasi Politik Perempuan

Menanti Partisipasi Politik Perempuan

Dalam buku Menuju Kemandirian Politik Perempuan (2008), Siti Musdah Mulia?perempuan pertama peraih doktor dalam bidang Pemikiran Politik Islam UIN Syarif Hidayatullah?memahami tiga kategori peran dan posisi kaum perempuan. Pertama, perempuan sebagai anak. Kedua, perempuan sebagai istri. Ketiga, perempuan sebagai warga negara. Sebagai anak, seorang perempuan dinilai sejajar dengan kaum laki-laki. Sebagai istri, seorang perempuan bertanggung jawab secara adil terhadap keluarga. Adapun sebagai warga negara, seorang perempuan mendapat hak-hak dan tanggung jawab yang setara dengan kaum laki-laki.

Pemikiran Musdah Mulia merupakan sebuah terobosan baru dalam rangka menjawab proses diskriminasi yang dialami oleh kaum perempuan di Indonesia. Sebab, diskriminasi tidak hanya dalam konteks sosial dan budaya, tetapi sudah memasuki wilayah politik kekuasaan. Oleh karena itu, pemikiran Musdah Mulia bisa dikatakan sebagai sebuah perlawanan terhadap sistem budaya patriarkhi.

Diskriminasi

Dalam konteks politik, peran dan posisi kaum perempuan di Indonesia memang masih mengalami diskriminasi. Fenomena semacam ini juga tidak hanya terjadi di Indonesia, namun di negara-negara lain yang menganut sistem budaya patriakhi juga menunjukkan gejala yang sama. Kaum perempuan di beberapa negara di dunia masih buta terhadap politik. Tidak hanya di negara-negara Islam, tetapi negara-negara non Islam pun masih banyak didapati perempuan yang tidak memahami wilayah politik kekuasaan.

Sesungguhnya, masalah peran dan posisi kaum perempuan di wilayah publik merupakan bagian dari hak-hak asasi yang setiap manusia berhak memilikinya. Namun yang cukup ironis, kaum perempuan justru banyak yang belum memahami tentang hak-hak mereka. Oleh karena itu, para aktivis Feminisme memang perlu menggarap agenda advokasi, pendampingan, dan pendidikan politik.

Di Indonesia, jumlah perempuan mendominasi kaum laki-laki. Tetapi ironisnya, kaum perempuan di Indonesia masih banyak yang buta terhadap wacana politik. Akibatnya, peran dan posisi mereka di wilayah pengambil kebijakan masih sangat minim. Seolah-olah politik menjadi wilayah tabu bagi kaum perempuan.

Kita bisa mengambil sebuah kasus sewaktu sosok Megawati Soekarno Putri, putri mendiang  presiden pertama RI (Soekarno), mencalonkan diri sebagai presiden pada Pemilu 1999. Perdebatan apakah seorang perempuan berhak menjabat sebagai pemimpin atau tidak seolah-olah belum mencapai titik temu. Bagi umat Islam di Indonesia, kehadiran figur pemimpin perempuan memang menjadi kontroversi yang tak kunjung henti. Sekalipun kelompok cendekiawan Muslim modernis memperbolehkan kepemimpinan perempuan, tetapi tidak mudah bagi kelompok Islam tradisionalis yang masih berhaluan literalis.

Perdebatan masalah kepemimpinan perempuan dalam konteks politik merupakan sebuah konsekuensi logis bagi rakyat Indonesia yang mayoritas pendudukanya beragama Islam. Sebab, dalam catatan sejarah umat Islam, keberadaan kaum perempuan cenderung dipahami secara diskriminatif dan tidak adil. Sejarah umat Islam yang berawal dari sebuah bangsa dengan sistem budaya patriarkhi (bangsa Arab) memang sangat mempengaruhi dalam pemahaman ajaran-ajaran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad ini. Ditopang dengan kapasitas pemahaman terhadap ajaran-ajaran Islam yang tidak memadai, maka sebagian besar umat Islam cenderung literalis dalam menerapkan ajaran Islam. Termasuk dalam hal ini bagaimana menempatkan peran dan posisi kaum perempuan di wilayah publik. Fenomena semacam ini juga amat dengan mudah ditemui di Indonesia.

Quota 30%

Dalam catatan sejarah bangsa Indonesia, keberadaan pemimpin perempuan hanya sekali, yaitu sewaktu Megawati Soekarno Putri menjabat sebagai presiden. Tampilnya Megawati sebagai pemimpin bangsa telah mengubah paradigma umat Islam bahwa peran dan posisi kaum perempuan bisa sejajar dengan kaum laki-laki.

Sekalipun demikian, perjuangan menempatkan kaum perempuan setara dengan kaum laki-laki masih teramat berat. Sebab, konstruksi sosial bangsa Indonesia menempatkan kaum laki-laki lebih dominan dibanding kaum perempuan (budaya patriarkhi). Indikasinya terletak pada keterlibatan kaum perempuan yang belum proporsional pada jabatan struktural (pemerintahan).

Berdasarkan data BPS tahun 1999, jumlah pegawai negeri sipil (PNS) dari kaum perempuan tercatat sebanyak 36,9%. Padahal, jumlah kaum perempuan di Indonesia mendominasi kaum laki-laki. Data ini menunjukkan bahwa kaum perempuan belum mendapat tempat yang selayaknya di Indonesia.

Menurut Musdah Mulia (2008), berdasarkan data-data tahun 2002, posisi kaum perempuan di MPR masih sebesar 9%. Sementara posisi kaum perempuan di DPR malah baru 8%. Belum lagi di tingkat propinsi atau kabupaten. Dapat disimpulkan jika kaum perempuan masih menempati posisi yang minim.

Para aktivis gerakan Feminisme di Indonesia berperan besar bagi terciptanya keadilan bagi kaum perempuan. Perjuangan aktivis Feminisme di Indonesia cukup membuahkan hasil ketika pada tahun 2003, undang-undang yang mengatur keterlibatan kaum perempuan dalam politik kekuasaan berhasil disahkan. Quota 30% dalam UU No. 12 Tahun 2003, khususnya pada pasal 65, telah memberi ruang bagi partisipasi aktif kaum perempuan di Indonesia.

Walaupun keberadaan UU No. 12 Tahun 2003 telah menjamin keterlibatan partisipasi aktif kaum perempuan di pentas politik nasional, ternyata konstruksi sosial di Indonesia belum bisa menerima sepenuhnya. Sebab, pada hakekatnya sistem sosial bangsa Indonesia cenderung patriarkhi. Oleh karena itu, tidak sedikit kalangan aktivis Feminisme yang menganggap UU No. 12 Tahun 2003 sebagai kebijakan ?setengah hati.? Sekalipun sudah mendapat payung hukum untuk terlibat langsung di pentas perpolitikan nasional, kaum perempuan tetap saja mengalami diskriminasi.

Baru-baru ini, problem ketidakadilan sosial dan politik yang dialami oleh kaum perempuan di Indonesia mendapat angin segar kembali. Disahkannya UU Pemilu 2009 dan UU Parpol tentang kewajiban partai-partai untuk mengusung quota 30% bagi kaum perempuan merupakan hasil perjuangan para aktivis Feminisme untuk memperjuangkan hak-hak mereka.

Perjuangan untuk mencapai kesetaraan bagi kaum perempuan, khususnya di bidang politik, memang masih panjang. Menurut laporan Monitoring Program Education For All (EFA) UNESCO tahun 2008, Indonesia, Bangladesh dan China diprediksikan bakal mampu meraih tujuan kesetaraan gender pada tahun 2015.

Laporan EFA UNESCO baru-baru ini jelas memiliki relevansi dengan iklim perpolitikan di Indonesia yang mulai berbenah. Pemberlakuan kuota 30% dalamUndang-undang Partai Politik (UU Parpol) dan Undang-undang Pemilihan Umum (UU Pemilu) baru-baru ini merupakan sebuah indikasi bahwa peta perpolitikan di Indonesia sudah mulai menempatkan posisi bagi kaum perempuan. Namun yang patut dipertanyakan, sejauhmana kesiapan kaum perempuan sendiri dalam menghadapi tuntutan ini?

Peran aktif kaum perempuan di Indonesia jelas ditunggu untuk terlibat langsung dalam pentas perpolitikan nasional. Menanggapi tuntutan ini, apakah kaum perempuan sudah siap menerimanya?

*) Koordinator Multazam Society, Ketua Bidang Kader Pimpinan Wilayah Partai Matahari Bangsa (PW PMB) DIY.

Partisipasi Politik Perempuan

Mencermati tulisan Tumbu Saraswati tentang ”Perempuan dalam Pentas Politik Indonesia” ( Radar Banten, 3 Januari 2008 ) ada beberapa hal yang menarik.

Catatan tambahan atas tulisan Hj. Tumbu Saraswati, SH )
Oleh: Bambang Pujiyono
Mencermati tulisan Tumbu Saraswati tentang ”Perempuan dalam Pentas Politik Indonesia” ( Radar Banten, 3 Januari 2008 ) ada beberapa hal yang menarik. Pertama, tulisan tersebut secara informatif mendiskripsikan partisipasi politik perempuan yang rendah. Kedua, perempuan memiliki potensi besar dalam politik. Ketiga, faktor perundangan yang memberi ruang cukup besar bagi perempuan untuk berpolitik. Ketiga hal penting tersebut menjadi benang merah yang berkaitan dengan realitas partisipasi politik perempuan di tanah air menjadi rendah.
Uraian tentang rendahnya partisipasi politik perempuan memang bukan hal baru. Tulisan dan kajian tentang partisipasi politik perempuan di Indonesia sering dilakukan. Hasil analisis dari tulisan dan kajian tersebut tidak jauh beda isinya. Kultur patriarkis selalu disalahkan. Perempuan lebih ’menerima’ ditempatkan dalam posisi makhluk lemah yang secara fisik dan psikis kurang pantas jika aktif dalam politik. Padahal, realitas menunjukkan banyak perempuan sukses di bidang politik pada jamannya masing-masing. Megawati, Ratu Atut dan lainnya telah menambah deretan panjang contoh perempuan yang berhasil dalam politik.

PERAN PARPOL
Partisipasi perempuan dalam politik bergantung pada Undang-Undang Pemilu dan aturan main internal parpol. UU 12/2003 telah mencantumkan ketentuan kuota. Pasal 65 Ayat (1) menyebutkan, “Setiap parpol peserta pemilu dapat mengajukan calon anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota untuk setiap daerah pemilihan dengan memperhatikan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30 persen.“ Namun, ketentuan itu bukan satu-satunya yang bisa menjadi pegangan harapan. Hal itu karena sesungguhnya peluang perempuan untuk berpartisipasi dalam lembaga legislatif pada kenyataannya tetap sangat tergantung pada parpol.
Peran parpol berkaitan dengan pemihakan terhadap peningkatan partisipasi masyarakat akan terlihat pada mekanisme pencalonan anggota legislatif (caleg) misalnya. Ketentuan pengajuan calon maksimal 120 persen dari jumlah kursi yang diperebutkan dalam sebuah daerah pemilihan tidak akan besar artinya jika calon perempuan ditempatkan di urutan bawah pada daftar caleg. Ketentuan kuota seperti termuat dalam undang-undang mesti disikapi hati-hati. Kuota 30 persen bagi perempuan tidak bersifat mutlak dan mengikat sehingga tetap terbuka peluang bagi parpol menempatkan calon perempuan sekadar pengumpul suara (vote getter) atau alat legitimasi. Selain itu, parpol juga mungkin secara sepihak menempatkan wakil-wakil perempuan yang tidak memiliki perspektif dan keberpihakan terhadap nilai, prinsip, dan aspirasi masyarakat .
Mengenai sistem zig-zag, yaitu berselang-seling penempatan urutan caleg laki-laki dan perempuan yang berhasil meningkatkan jumlah perempuan di parlemen di beberapa negara, reaksi parpol beragam. Ada yang tidak berkeberatan tetapi menyangsikan efektivitasnya meningkatkan jumlah keterwakilan perempuan, ada yang belum memikirkan. Perubahan paket UU politik membawa implikasi beragam pada perempuan. Sistem yang paling menguntungkan untuk perempuan adalah proporsional terbuka murni dengan mekanisme zig-zag, ukuran daerah pilihan menengah-besar, dan jumlah parpol peserta pemilu yang terbatas.
Dalam hal ini, parpol dianggap masih menjadi hambatan bagi partisipasi perempuan, meskipun parpol mengatakan tidak ada masalah dengan keterwakilan perempuan. Persoalan politik uang, struktur kepemimpinan yang tak demokratis, dan agenda politik parpol yang tidak sensitif gender menjadi penghambat. Keterlibatan perempuan, terutama dalam sayap perempuan di parpol, hampir tidak memengaruhi keputusan parpol.
Selama ini memang banyak perempuan yang kandas di tengah jalan sewaktu diajukan sebagai caleg maupun eksekutif, sebab ditolak dengan alasan yang dicari-cari. Alasan klasik yang kerap dipakai untuk mendiskreditkan perempuan adalah tidak berkualitas, kesibukan mengurus anak dan keluarga, serta stereotipe negatif lainnya yang merugikan perempuan. Padahal, realitas di masyarakat menunjukkan, banyak wanita karir yang sukses melakukan peran gandanya dengan baik.
Di samping faktor pimpinan yang menentukan teraksesnya peluang kuota, kesiapan kader perempuan di parpol juga menjadi faktor penentu lain yang ikut memengaruhi terpenuhinya kuota 30 persen.

INTERNAL PEREMPUAN
Pertama, perempuan enggan masuk politik karena takut resiko yang bakal diterima jika terlibat dalam kegiatan politik praktis. Kegiatan politik dekat dengan tindakan yang menghalalkan cara untuk mendapatkan kemenangan. Implikasi dari tindakan tersebut dapat membahayakan jiwa dan membuat tidak nyaman secara kejiwaan. Banyak contoh drama penculikan, pembunuhan, dan teror-teror lain yang mengancam politisi perempuan.
Kedua, kompetisi antar perempuan dalam bidang politik ternyata kurang terbuka dan diwarnai dengan tindakan saling curiga. Kaum perempuan masih terbentur pada paradigma tertutup, sehingga hubungan dengan pesaing terutama dalam internal partai menjadi kurang harmonis dan kurang fair. Sifat yang demikian mesti dikaji dan diperbaiki, karena sangat merugikan kaum perempuan sendiri ( Rahardiansah,dkk, 2007).
Ketiga, kaum perempuan mesti berfikir yang sama dengan kaum pria, bahwa wilayah politik juga menjadi bagian hidupnya.
Keempat, perempuan kurang memanfaatkan jaringan untuk membangun konstituen yang dapat mendukungnya dalam kegiatan politik.

STRATEGI
Dalam kondisi masyarakat Indonesia yang masih paternalistik, di mana tokoh-tokoh panutan masih didominasi pria, keadaan ini membuat kaum perempuan harus bekerja keras untuk memasuki dunia politik. Oleh karena itu, perlu dicarikan solusi bagaimana meningkatkan keterwakilan perempuan di lembaga legislatif dan partai politik lebih meningkat. Sedangkan posisi dan peran perempuan di lembaga eksekutif memberi gambaran bahwa kemajuan yang telah dicapai sampai saat ini ditandai dengan semakin banyaknya perempuan yang memegang jabatan politis.
Atas dasar kondisi tersebut, maka langkah yang harus ditempah antara lain : Pertama, meningkatkan komitmen seluruh komponen bangsa dalam mengaplikasikan peraturan perundang-undangan politik dan kepegawaian secara konsisten; Kedua, melakukan penyempurnaan peraturan perundang-undangan politik dan kepegawaian dalam upaya mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) dalam kehidupan politik dan pemerintahan; Ketiga, meningkatkan pemahaman, kesamaan bahasa dan sensifitas gender bagi para penentu kebijakan politik dan pemerintahan; Keempat, memperluas jangkauan advokasi dan fasilitas kepada para penentu kebijakan di lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif serta seluruh komponen bangsa untuk mempercepat perwujudan KKG dalam berbagai aspek kehidupan. (*)
Dosen Fisip Universitas Budi Luhur Jakarta

Esensi Partisipasi Politik Perempuan

Oleh : Umar Toni, S.Sos
Pemerhati Masalah Sosial dan Politik Palembang

ZAMAN modern mengkondisikan wanita untuk mampu dari sekadar peran natural (mengandung, melahirkan, dan membesarkan anak serta melayani suami) keperan cultural (berkarir). Gugatan untuk mengubah posisi yang berkedudukan subordinat yang semula hanya di-secondline-kan kaum pria, kian mencuat ke permukaan itu seiring dengan perjuangan emansipasi wanita. Tak terbayangkan bila wanita hanya berkutat untuk mengandung, melahirkan, dan membesarkan anak serta melayani kebutuhan suami tanpa melakukan peran kultur, begitu sebalilknya.
Kontribusi intelektualitas seorang dalam pembangunan merupakan idealisme bagi tampilan insan tanpa mengenal perbedaan kaum wanita maupun laki-laki. Di lingkungan masyarakat, perempuan selalu dianggap sebagai second line tampak masih dominant di kalangan masyarakat kita pada khususnya. Namun, itu tidak penting untuk diperdebatkan. Intinya bagaimanakah kedua jenis insan tersebut mampu memberikan performance.
Perubahan zaman menunjukkan peran wanita bermakna multifungsi. Tuntutan karir, insting ingin menonjolkan prestasi di luar rumah, serta nafsu untuk diakui keintelektualitasannya dalam pergaulan social, dan entah tuntutan tuntutan apa lagi yang memaksa kaum hawa ingin menjadi pesaing kaum ada.
Makin jelas bahwa dunia saat ini masih dipenuhi dengan ketidakadilan terhadap perempuan. Jumlah perempuan yang mengalami lelerasan dalam rumah tangga, perempaun yang miskin, perempuan yang buta huruf, dan perempuan yang seringkali mengalami pelecehan seksual masih dalam hitungan persentase yang cukup tinggi. Padahal peran aktif dalam pembangunan sesungguhnya banyak diperankan kaum perempuan. Namun kenyataannya masih banyak anggapan bahwa perempuan hanya sebagai pihak penerima.
Perjuangan kamu perempuan tidak pernah berhenti denyut nadinya. Perjuangan untuk memperoleh hak asasinya di dalam politik, social, ekonomi, pemerintahan dan di bidang-bidang lainnya masih terus digaungkan. kesetaraan gender akhirnya mewarnai politik di berbagai Negara.
Ketentuan perundang-undangan di Indonesia sudah memberi peluang yang sama bagi semua warga Negara, laki-laki dan perempuan. Siapapun warga Negara itu memiliki hak yang sama untuk menjadi seorang kandidat atau wakil rakyat atau right to vote and right to be candidate (Saldi Isra: Kompas, 21 Februari 2005).
UUD 1945 pasal 28-D ayat 3 menyebutkan, setiap warga Negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan. Ini menunjukkan wujud dari perjuangan perempuan Indonesia memperoleh perhatian untuk memuluskan jalannya untuk menikmati haknya tersebut menemukan titik terangnya manakala Indonesia memiliki seorang kepala Negara seorang perempuan.
Perjuangan ini bukanlah seseorang atau beberapa orang namun perjuangan banyak perempuan yang merasa cukup lelah dengan ketimpangan perlakuan yang dirasakan kurang adil. Maka, perempuan berkeinginan untuk bisa mempengaruhi keputusan-keputusan yang menyangkut kehidupan dan keluarga mereka, perekonomian dan taraf hidup masyarakat, dan pembangunan negaranya.
Esensi perjuangan itu direpresentasikan dengan partisipasi perempuan dalam politik. Hal itu juga memungkinkan perempuan dan danlaki-laki memperoleh kesempatan yang sama untuk menikmati hak-hak asasinya serta membuka jalan untuk menyeimbangkan alokasi sumberdaya pembangunan agar dinikmati dalam kehidupan perempuan dan laki-laki secara merata.
Institusi Kondusif
Perempuan menyadari bahwa partisipasi ekonomi dan politik tidak dapat dipisahkan. Maka, diperlukan suatu lingkungan institusi yang kondusif dalam memberdayakan perempuan di segala bidang pembangunan. Semestinya disadari oleh semua pihak bahwa kaum perempuanlah yang berperan sebagai tiang Negara. Peran perempuan tidak boleh diabaikan. Betapa besar tanggung jawab yang diemban. Misalnya, menyeimbangkan waktu antara tanggung jawab sebagai bagian dari komunitas masyarakat dalam suatau Negara dan mengurus rumah tangga.
Partisipasi perempuan dapat dimulai dari lingkungan rumah tangga, desa, kota, hingga tingkat nasional bahkan internasional. Dalam tingkat mikro perempuan berperan dalam lingkungan rumah, ditingkat organisai masyarakat dan bahkan ke tingkat makro yaitu partai  politik, parlemen dan di struktur pemerintahan. Para pemimpin partai sudah seharusnya mulai memperhatikan kebijakan kesetaraan gender dan segera mengimplementasikannya. Sehingga kata-kata kesetaraan bukanlah hanya sekedar retorika.
Ide bahwa politik bukan wilayah bagi perempuan adalah ide yang selalu didengungkan selama berabad-abad, dan ternyata memang sangat efektif untuk tidak memasuki wilayah ini. Akibatnya adalah marjinalisai dari kehidupan politik formal. Dalam artian politik yang konvensional, politik hanya dilihat semata-mata sebagai kegiatan how to exercise the power yang membatasi lingkup kegiatan politik hanya semata-mata pada aktifitas seperti voting (pemungutan suara) lobby (lobi), Campaign (kampanye)n dan lain-lain yang sejenis.
Tak mengherankan jika bila banyak kegiatan dilakukan perempuan yang kebanyakan kegiatan dilakukan perempuan yang kebanyakan di lingkup privat, tidak termasuk dalam kategori politik konvensional tersebut. Pada semua aktivitas tersebut punya dimensi politk yang penting dan mempunyai cirri politik yaitu adanya power relation yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan. Persoalan cultural yang melekat pada pemahaman masyarakat terhadap peran perempuan adalah peran domestik perempuan yang masih kuat. Hal ini bisa dibongkar dengan memberikan pemahaman yang seimbang tentang sadar gender danperlunya peran politik perempuan dalam demokrasi.
Akhirnya yang perlu terus menerus dilakukan oleh aktivis gender dimanapun berada, baik di LSM, partai politik, organisasi dakwah, pers, lembaga-lembaga wanita dan lembaga lainnya yang komitmen terhadap perjuangan perempuan adalah pendidikan politik dan advokasi diwujudkan dalam bentuk rencana aksi.

Partisipasi Politik Perempuan

Oleh KH. Husein Muhammad

Dalam wacana klasik, mengangkat pemimpin (nashb al Imam) adalah wajib dalam kategori fardh kifayah. Ada dua hal yang selalu menjadi perbincangan utama. Siapa yang harus dipilih menjadi kepala negara (al Imam) dan siapa yang berhak memilihnya. Ulama menyebut yang kedua sebagai ahl al halli wa al aqdi atau ahl al ikhtiar. Untuk kedua pertanyaan itu, wacana politik Islam klasik menyebutkan sejumlah persyaratan idealistik dan beragam.

Isu keharaman presiden perempuan kembali memicu kontroversi setelah sekelompok ulama khos NU memfatwakannya di kediaman rumah K.H Mas Subadar, Pasuruan. Sulit menepis nuansa politis yang menyusup dalam fatwa tersebut. Apalagi, sebelum fatwa tersebut diluncurkan, Solahuddin Wahid yang nota bene adalah cawapres Wiranto dari kubu Golkar-PKB “beramah-tamah” dengan beberapa ulama di tempat yang sama. Tulisan ini tidak spesifik membahas halal-haramnya presiden perempuan, namun akan ditarik lebih luas pada persoalan partisipasi politik perempuan dalam perspektif Islam.

Dalam Islam, politik (al siyasah) dirumuskan sebagai cara mengatur urusan kehidupan bersama untuk mencapai kesejahteraan di dunia dan akhirat. Jadi politik adalah ruang maha luas, seluas ruang kehidupan itu sendiri. Ia muncul dalam ruang domestik maupun publik, kultural maupun struktural, personal dan komunal. Tapi penyebutan politik dalam pikiran banyak orang telah menyempit menjadi istilah politik praktis, politik struktural, perebutan kekuasaan untuk kepentingan diri atau sebagian orang dan sesaat, bukan untuk kepentingan masyarakat luas dan masa depan yang panjang.

Dalam wacana klasik, mengangkat pemimpin (nashb al Imam) adalah wajib dalam kategori fardh kifayah (kewajiban kolektif) atas dasar argumen agama dan pikiran rasional. Al-Ghazali dalam Al I’tiqad fi al Iqtishad menyebut tugas ini sebagai “dharuri” (keniscayaan) dalam rangka berjalannya ajaran-ajaran Tuhan. Menurut al-Mawardi, eksistensi pemerintahan diperlukan untuk melindungi agama dan pengaturan dunia (Al Ahkam al Sulthaniyah, 3).  Sebagai keniscayaan kolektif, maka partisipasi politik dalam soal ini tidak menjadi keharusan setiap warga. Tapi makin banyak warga yang berpartisipasi di dalamnya, legitimasi kekuasaan menjadi semakin kuat dan relatif lebih menjamin stabilitas.

Ada dua hal yang selalu menjadi perbincangan utama. Siapa yang harus dipilih menjadi kepala negara (al Imam) dan siapa yang berhak memilihnya. Ulama menyebut yang kedua sebagai ahl al halli wa al aqdi atau ahl al ikhtiar. Untuk kedua pertanyaan itu, wacana politik Islam klasik menyebutkan sejumlah persyaratan idealistik dan beragam.

***

Sejarah kenabian mencatat sejumlah besar perempuan yang ikut memainkan peran-peran ini bersama kaum laki-laki. Khadijah, Aisyah, Umm Salamah, dan para isteri nabi yang lain, Fathimah (anak), Zainab (cucu) dan Sukainah (cicit). Mereka sering terlibat dalam diskusi tentang tema-tema sosial dan politik, bahkan mengkritik kebijakan-kebijakan domestik maupun publik yang patriarkis. Partisipasi perempuan juga muncul dalam sejumlah “baiat” (perjanjian, kontrak) untuk kesetiaan dan loyalitas kepada pemerintah. Sejumlah perempuan sahabat nabi seperti Nusaibah bint Ka’b, Ummu Athiyyah al Anshariyyah dan Rabi’ bint al Mu’awwadz ikut bersama laki-laki dalam perjuangan bersenjata melawan penindasan dan ketidakadilan. Umar bin Khattab juga pernah mengangkat al Syifa, seorang perempuan cerdas dan terpercaya, untuk jabatan manejer pasar di Madinah.

Sayangnya sekarang partisipasi politik perempuan mengalami proses degradasi dan reduksi secara besar-besaran. Ruang aktivitas perempuan dibatasi hanya pada wilayah domestik dan diposisikan secara subordinat. Pembatasan ini tak hanya terbaca dalam buku-buku pelajaran, tetapi juga muncul dalam realitas sosial. Sejarah politik Islam sejak Nabi SAW wafat dan masa khulafa al-rasyidun sampai awal abad 20 tak banyak menampilkan tokoh perempuan untuk peran-peran publik.

Secara umum alasan yang digunakan adalah bahwa perempuan dipandang sebagai pemicu hubungan seksual yang terlarang dan kehadiran mereka di tempat umum dipandang sebagai sumber godaan (“fitnah”) dan menstimulasi konflik sosial. Persepsi tendensius ini merujuk pada sumber-sumber otoritatif Islam (al-Qur-an dan hadits) yang dibaca secara harfiah dan konservatif. Untuk kurun yang panjang pandangan interpretatif yang diskriminatif ini diterima secara luas bahkan oleh sebagian kaum muslimin hari ini. Universitas Al-Azhar, pernah mengeluarkan fatwa haram atas dasar syari’ah Islam bagi perempuan untuk memangku jabatan-jabatan publik (al wilayah al ‘ammah al mulzimah). Said al Afghani mengatakan “al siyasah ‘ala al mar’ah haram shiyanah li al mujtama’ min al takhabbuth wa su-u al munqalab” (politik bagi perempuan adalah haram guna melindungi masyarakat dari kekacauan). Al-Maududi dari Pakistan dan Musthafa al-Siba’i dari Siria dan sejumlah sarjana lain menyetujui pandangan ini. Al-Siba’i mengatakan bahwa “peran politik perempuan dalam pandangan Islam sangat dijauhi bahkan saya katakan diharamkan. Ini bukan karena ia tidak memiliki keahlian melainkan karena kerugian-kerugian sosialnya lebih besar, melanggar etika Islam dan merugikan kepentingan keluarga.”

Argumen mereka yang lain adalah bahwa tugas politik sangat berat dan perempuan takkan mampu menanggungnya karena akal dan tenaganya dari “sono” nya lemah. Tak aneh jika kita merasa kesulitan mendapatkan pandangan Islam klasik yang memberikan pada perempuan hak-hak politiknya, baik untuk jabatan anggota legislatif (parlemen) maupun eksekutif (khalifah, presiden, perdana menteri dan menteri). Untuk jabatan yudikatif, mayoritas ulama fiqh memberikan fatwa terlarang dipegang perempuan dan sebagian lagi membolehkannya pada wilayah hukum perdata. Kesulitan yang sama juga berlaku bagi keabsahan perempuan memegang peran penentu dalam wilayah domestik. Hampir tidak ditemukan sebuah pandangan keagamaan klasik dan kebudayaan lama yang memberikan appresiasi terhadap kepemimpinan perempuan. Partisipasi perempuan dalam ruang ini juga dibatasi oleh kebaikan laki-laki. Ini adalah pandangan kebudayaan yang dibungkus agama.

***

Pandangan keagamaan klasik di atas kini berhadapan dengan modernitas. Kaum perempuan kini tengah bergerak merengkuh masa depannya dan mengubur masa lalu yang suram dan penuh nestapa. Sejak awal abad 20, sejumlah negara Islam menggeliat menggugat otoritas patriarkhis. Peminggiran perempuan dari ruang publik/politik disadari telah merugikan semua orang. Status perempuan dalam hukum pada akhirnya harus mengalami perubahan. Di mulai dari Kesultanan Turki Usmaniah (1917), Mesir (1920, 1927, 1979 dan 1985), Turki modern (1924), Irak (1959, 1963 dan 1986), Iran (1967, 1975 dan 1979), Yordania (1951 dan 1976), Sudan (1915, 1927, 1932, 1933, 1935, 1960 dan 1969), Tunisia (1956, 1957, 1964, 1966, 1981) dan Suriah (1953 dan 1975). Melalui amandemen dan revisi demi revisi atas UU di negara-negara tersebut, hak-hak perempuan mengalami kemajuan demi kemajuan. Meski masih belum cukup proporsional (adil) tetapi cita-cita perempuan untuk membangun masa depannya semakin terbuka lebar.

Bagi Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, status yang setara bagi perempuan dan peluang mereka dalam aktivitas-aktivitas politik sesungguhnya telah mendapat dasar yuridis dalam UUD 1945. Terlepas masih adanya diskriminasi atas perempuan, sejumlah kemajuan atas status perempuan telah dicapai. Adanya responsi dan akseptabilitas terhadap partisipasi politik perempuan diharapkan bukan hanya karena kepentingan politik sesaat demi menarik dukungan kaum perempuan dalam perebutan kekuasaan bernama pemilu []

**Penulis adalah pengasuh pesantren Dar al-Tauhid, Cirebon dan kontributor Jaringan Pendidikan pemilih untuk Rakyat (JPPR)




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.