Duka yang mendalam mengiringi kepergian Gus Dur,putra terbaik bangsa, wafat pada tanggal 30 Desember 2009. Tanggapan dan komentar dari berbagai kalangan bermunculan di media baik dalam maupun luar negeri. Kumpulan komentar dan tanggapan ini sengaja kami kumpulkan sebagai bentuk kekaguman kami kepada Gus Dur.
Kepergian Gus Dur semoga bangsa Indonesia tidak melupakan jasa-jasa beliau, dan kepada kita selaku pewaris mampu meneruskan perjuangan Gus Dur, Selamat jalan Gus Dur, Selamat Jalan Bapak Demokrasi, Bapak Pluralism, Bapak Jurnalis,Bapak LSM , jasa dan perjuangan Engkau selalu melekat dihati bangsa Indonesia
Luthfi Hasan Ishaaq
Presiden Partai Keadilan Sejahtera Lutfhi Hassan Ishaaq berpandangan, seluruh keluarga besar Partai Keadilan Sejahtera mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga besar Nahdlatul Ulama atas wafatnya Hadratussyech Abdurrahman Wahid.
Abdurrahman Wahid merupakan seorang ulama dan tokoh nasional yang cukup berani dan terbuka dalam menyatakan berbagai pandangannya tentang Islam dan umat Islam. Dalam pandangannya yang sangat beragam itu, meskipun juga sering berbeda, PKS cukup bisa memahaminya. “Pandangan beliau yang sangat beragam tentang Islam dan umat Islam itu kami hargai dan cukup bisa kami pahami,” ujar Lutfhi. (MAM)
Prabowo Subianto
Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto mengaku sangat dekat dengan sosok Gus Dur, bahkan sejak ia masih kecil. Kediaman keluarga Prabowo di Matraman, Jakarta, bertetangga dengan kediaman Gus Dur.
“Beliau mewariskan sifat inklusif dalam sosoknya. Sebagai pemimpin umat Islam, ia juga diterima banyak golongan. Sebagai guru bangsa, beliau bisa jadi pengayom bagi semua unsur di Indonesia. Hal itu yang membuat saya terkesan. Pemikirannya sangat berani walau kadang sulit diikuti,” ujarnya.
Prabowo terakhir bertemu saat Gus Dur menikahkan putri keduanya, Yenny Wahid, beberapa waktu lalu. (dwa)
Soetrisno Bachir
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional Soetrisno Bachir menilai, bangsa ini kehilangan tokoh demokrasi dan humanisme. Hingga saat ini, belum ada tokoh sekelas KH Abdurrahman Wahid yang telah berjasa membuka wawasan masyarakat. Kepergian Abdurrahman Wahid tidak hanya kepergian bagi kalangan Nahdliyin, tetapi juga seluruh bangsa Indonesia.
Bangsa ini memang patut memberikan penghargaan bagi Gus Dur, tidak saja karena pernah menjadi presiden yang memimpin rakyat negeri ini, tetapi juga telah memberikan pencerahan bagi semua orang. “Kita tidak pernah meragukan komitmen kebangsaan dan sikap toleransi Gus Dur,” ujarnya. (MAM)
Muhaimin Iskandar
Muhaimin Iskandar, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), mengaku sangat terpukul dengan wafatnya Gus Dur. “Beliau itu ayah, guru, dan pemimpin yang selalu mendidik dengan berbagai caranya agar kita selalu mandiri dan kuat. Tiga hari lalu, saya masih terima SMS. Beliau mengatakan kondisinya baik-baik saja dan tidak usah khawatir,” paparnya.
Menurut Muhaimin, Gus Dur memang guru segala hal. Cara hidupnya sederhana serta selalu memberikan keteladanan dan pengayoman kepada semua. “Beliau itu tidak pernah memikirkan diri sendiri,” kenangnya.
Dalam politik, lanjutnya, Gus Dur selalu menanamkan untuk mengayomi, menghormati, dan mencintai sesama. (sut)
Sri Pannyavaro Mahathera
Bhikku Sri Pannyavaro Mahathera, Kepala Sangha Theravada Indonesia, merasakan kehilangan yang besar dengan wafatnya Gus Dur.
?Saya merasakan ketulusan hati Gus Dur dalam setiap kesempatan bertemu dan berdiskusi dengannya. Bagi saya, ketulusan itu sesuatu yang teramat mulia dari Gus Dur,” ungkap Sri Pannyavaro.
Ia menambahkan, Gus Dur adalah pribadi yang sangat menghargai setiap orang. Bagi Gus Dur, yang layak menjadi Bapak Bangsa, perbedaan adalah denyut kehidupannya. “Kebajikan dan kearifan Gus Dur akan tetap bersama kita,” imbuh pimpinan agama Buddha ini. (sut)
AA Yewangoe
Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pendeta AA Yewangoe bertemu Gus Dur tiga bulan lalu ketika ada sebuah gereja yang izinnya dicabut wali kota. ?Beliau datang ke Kantor PGI untuk memberikan dukungan. Itu adalah salah satu bukti, beliau menginginkan semua orang di Indonesia memperoleh haknya, hak beribadah,” katanya.
Dia melanjutkan, Gus Dur adalah tokoh bangsa yang tidak tergantikan. ?Beliau sangat memerhatikan kerukunan umat beragama di Indonesia,” katanya lagi. (sie)
Din Syamsuddin
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin mengakui, kepergian Gus Dur adalah kehilangan bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. Betapapun, selama hidupnya Gus Dur menampilkan peran tertentu dan memberikan jasa berharga bagi bangsa.
Walaupun banyak ide dan sikapnya yang kontroversial, kata Din, banyak pula idenya yang bermanfaat, seperti tentang pengembangan kemajemukan dan penguatan demokrasi. “Saya berharap hilangnya seorang tokoh umat dan bangsa segera tergantikan dengan tokoh lain,” harapnya. (nta)
Idrus Marham
Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Golongan Karya Idrus Marham menilai, siapa pun yang obyektif dan jujur pasti merasa kehilangan dengan wafatnya KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Menurut Idrus, KH Abdurrahman Wahid adalah tokoh bangsa yang punya kontribusi besar bagi pengembangan demokratisasi di Indonesia. Gus Dur banyak mendorong lahirnya demokratisasi dan kemanusiaan di negeri ini.
Menurut Idrus, banyak orang mengatakan, Gus Dur juga orang yang sering melawan arus. Namun, sesungguhnya Gus Dur justru membuat arus. Gus Dur membuat arus demokratisasi. Gus Dur membuat arus pluralisme di negeri ini. (sut)
KH Hasyim Muzadi
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi mengatakan, wafatnya Gus Dur merupakan kehilangan besar bagi warga NU dan bangsa. Gus Dur, yang merupakan mantan Ketua Umum PBNU, dinilai sebagai tokoh besar dalam NU. “Dalam dekade terakhir ini, belum ada gantinya orang yang sekelas Gus Dur,” katanya.
Bangsa Indonesia, lanjut Hasyim, kehilangan dua hal besar dan mahal dengan meninggalnya Gus Dur, yaitu demokrasi dan humanisme. Humanisme Gus Dur benar-benar berangkat dari nilai-nilai Islam yang paling dalam. Tetapi, humanismenya itu melintasi agama, etnis, teritorial, dan negara. (MZW)
Benny Susetyo
Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) A Benny Susetyo Pr mengakui kaget dengan kepergian Gus Dur. “Tiga hari lalu, sebelum operasi, Gus Dur masih telepon dan kami bercanda. Saya tak menduga, ia pergi begitu cepat,” katanya.
Diakui Benny. Gus Dur adalah tokoh yang sangat menghargai pluralisme dan kesatuan Indonesia. “Terakhir, ia memesankan, fundamentalisme itu jangan dimusuhi, tetapi harus dicintai. Ini jelas menunjukkan kecintaannya pada kesatuan Indonesia,” katanya lagi. (tra)
KH Ma’ruf Amin
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin mengakui, Gus Dur adalah seorang pejuang demokrasi yang cerdas. Ia berani dalam segala hal meskipun banyak yang tak sama pendapatnya dengan dia. Bila melakukan perubahan, jika menurut dia benar, tidak akan mau mengubah pendapatnya.
Wafatnya Gus Dur adalah kehilangan besar bagi Bangsa Indonesia. Kehilangan seseorang yang peranannya besar dalam perubahan di Indonesia.
Ma’ruf pernah menjabat Sekjen PBNU ketika Gus Dur menjadi ketua umum. (idr)
Amir Syamsuddin,
Amir Syamsuddin, Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, mengesankan Gus Dur adalah orang besar yang dilahirkan di republik ini. “Kita tidak bisa melupakan peranan Gus Dur yang terukir dalam sejarah sebagai tokoh yang menempatkan pluralisme, melindungi pluralisme, dan menghapus sekat-sekat. Dia pula yang berperan menghentikan dominasi militer,” katanya lagi.
Ini kehilangan besar bagi negeri ini. “Kita harus belajar dalam ketegasan bersikap dalam hal-hal seperti ini. Kalaupun ada kekurangan dalam dirinya, itu sangatlah tidak ada artinya dibandingkan peran dan jasanya. Dia putra terbaik. Dia harus ditempatkan di tempat yang terkemuka,” paparnya. (ana)
Kompas, Kamis, 31 Desember 2009 | 03:05 WIB
JAKARTA – Ajaran paling berharga dari Gus Dur di mata Ahmad Dhani adalah pluralisme. Yakni, bagaimana pentingnya bertoleransi di Indonesia yang kemudian memunculkan hal baru. Termasuk, menjadikan Konghucu sebagai salah satu agama yang diakui.Sebagai orang yang sering bersilaturahmi kepada Gus Dur, Dhani merasa mendapat banyak pelajaran. Tapi, yang paling membuat dia berpikir lebih luas adalah tentang pluralisme itu.Menurut Dhani, Gus Dur sudah mencapai apa yang dinamakan puncak pemahaman. Itu dicoba diterapkan di Indonesia melalui pemikiran dan kebijakannya saat menjadi presiden. ’’Beliau sangat sadar bahwa kemampuan yang hakiki hanya bisa diperoleh dengan toleransi. Pluralisme, itu ajaran Gus Dur untuk Indonesia,’’ ujar pentolan Dewa 19 itu kepada Pontianak Post tadi malam.
Dhani menyatakan, Gus Dur sebagai seorang yang memahami semua ilmu dan bisa berbicara dalam banyak bahasa. Tidak semua pemimpin di Indonesia bisa seperti itu. ’’Habibie itu pintar dalam hal teknologi, tapi tidak dalam hal lain. Gus Dur ini lengkap. Gus Dur adalah orang Indonesia terbaik setelah Bung Karno. Cuma ada dua, Soekarno dan Gus Dur. Yang lain masih belum,’’ ujarnya.
Dhani menilai Gus Dur sebagai tokoh yang memiliki pemikiran tak berbatas. Atas dasar itulah, sering pemikiran Gus Dur dianggap nyeleneh atau menuai kontroversi. ’’Banyak orang yang pemikirannya ’belum sampai’. Sulit bagi yang tidak bisa berpikiran terbuka untuk memahami apa yang dipikirkan Gus Dur. Bagaimana mungkin orang yang pikirannya dibatasi bisa memahami pikiran Gus Dur yang tidak terbatas,’’ tegasnya.
Kehilangan Kakak
Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, yang menjadi Wapres ketika Gus Dur memimpin negara pada 1999–2001, merasakan kehilangan yang sangat dalam. Bagi Ketua Umum DPP PDIP itu, Gus Dur adalah sosok sahabat sekaligus kakak yang sangat mengayomi.’’Kedekatan mereka lahir secara alamiah karena pemahaman ideologi dan paham kebangsaan yang sama,’’ kata Sekjen DPP PDIP Pramono Anung tadi malam (30/12).Begitu mendengar Gus Dur wafat, kata pria yang akrab disapa Pram itu, Megawati langsung berangkat ke RSCM. Selanjutnya, Mega juga datang untuk bertakziyah ke rumah duka di kawasan Ciganjur, Jakarta.
Saat itu Megawati dan keluarga besarnya berada di Bogor. Dia tengah menyiapkan peringatan ulang tahun (HUT) ke-67 suaminya, Taufik Kiemas, yang jatuh pada 31 Desember (hari ini). Rencananya, ultah ketua MPR itu bertepatan dengan momentum pergantian tahun ini dirayakan di Bogor.Pram menuturkan bahwa dirinya adalah saksi mata saat Gus Dur dan Megawati bertemu kali pertama setelah dilengserkan dari presiden dalam Sidang Umum MPR pada Juli 2001. Keduanya bertemu di kediaman Megawati di Jalan Kebagusan, Jakarta Selatan. Saat itu Megawati menggantikan Gus Dur sebagai presiden. Taufik Kiemas juga hadir dalam silaturahmi tersebut.Tidak seperti dibayangkan banyak orang, kata Pram, pertemuan itu sama sekali tidak menegangkan. Suasananya justru sangat gayeng layaknya pertemuan dua sahabat karib. ’’Mereka seperti lupa dengan politik. Asyik berbicara soal makanan dan kesehatan,’’ tutur Pram.Kapan pertemuan itu terjadi? ’’Saya lupa. Yang jelas sebelum 2004,’’ kata tangan kanan Megawati itu.
Ajak Salat Ghaib
Mantan Ketua Tanfidz Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Kalimantan Barat Syarif Abdullah Alkadrie mengajak masyarakat, khususnya kaum nahdliyin, untuk melaksanakan salat ghaib bagi mantan Presiden Abdurrahman Wahid. Mantan Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat tersebut mengaku terkejut mendengar khabar meninggalnya figur yang sangat dikaguminya itu.
“Saya benar-benar merasa kehilangan figur yang sangat besar, figur yang saya kagumi karena begitu menjunjung tinggi pluralisme serta nilai-nilai demokrasi,” ungkapnya Abdullah kepada Pontianak Post, kemarin (30/12). Saat dihubungi, figur yang kini kembali menggeluti profesinya sebagai akademisi tersebut sedang berada di Filipina. Abdullah berjanji, bakal menghimpun warga nahdliyin untuk menggelar pengajian, bagi mengenang Almarhum. Tanpa sungkan Abdullah mengemukakan bahwa tidak sedikit pemikirannya yang terilhami dari sosok yang dikenal dengan sebutan Gus Dur tersebut. “Tidak sedikit pemikiran Beliau yang begitu relevan dengan kondisi bangsa saat ini,” ucap dia.
Inspirasi Pemimpin Dunia
Penasehat DPP MABT (Majelis Adat Budaya Tionghoa) Kalbar Andreas Acui Simanjaya mengungkapkan, kepergian Gus Dur pada penutup tahun 2009 sungguh mengejutkan dan meninggalkan duka mendalam. “Bagi saya pandangan beliau yang humanis menjadi inspirasi bagi banyak pemimpin dunia, walaupun sebagian orang sulit menerima sikapnya yang terus terang dan apa adanya, “ kata Acui kemarin malam (30/12). Menurutnya, bagi warga Tionghoa tidak dapat melupakan jasa Gus Dur. Dia tegas dan berani memulai langkah penting dalam berkehidupan bernegara di Indonesia ini. Semua warga Negara mesti dilakukan dengan setara dan adil. Hal ini ditandai dengan upaya pengakuan Agama Konghucu, penghapusan SBKRI dan mencanangkan Imlek sebagai hari Libur Nasional. “Sikap tegas dan pengakuan Gus Dus untuk memperlakukan warga Tionghoa sebagai bagian tidak terpisahkan dari RI merupakan langkah bersejarah tak akan pernah dilupakan. Dia seorang pemimpin yang mempunyai pikiran terbuka, antidiskriminasi dan menghargai perbedaan umat manusia sebagai keangungan sang pencipta,” kata Acui yang mantan anggota DPRD Kalbar itu.
Ikon Pluralisme
Mantan Ketua MPR Amien Rais memuji Gus Dur sebagai ikon pluralisme di Indonesia. Mantan presiden itu juga dinilai berhasil membawa organisasi yang pernah dipimpinnya, Nahdlatul Ulama (NU), dari kondisi marginal menjadi arus utama atau mainstream gerakan sosial politik di Indonesia.
Amien yang mengakui dirinya adalah sahabat sekaligus lawan berpikir Gus Dur itu memuji jebolan Al Azhar dan Universitas Baghdad tersebut sebagai anak bangsa yang telah berhasil memajukan pondok pesantren menjadi lebih terbuka serta mampu mendorong partisipasi pesantren dalam pembangunan nasional dan dunia Islam. ’’Kita kehilangan besar dengan tutup usianya Gus Dur. Saya berharap mudah-mudahan akan muncul tokoh baru dari kalangan Nahdlatul Ulama untuk melanjutkan perjuangan almarhum,’’ katanya di Jakarta kemarin.
Amien juga mencatat Gus Dur selama menjabat presiden berhasil mengubah lembaga kepresidenan menjadi lembaga yang tidak angker dan dapat diakses seluruh elemen bangsa. ’’Karena itu, kita ucapkan selamat jalan, semoga Allah menerima amal salehnya serta mengampuni kesalahan dan dosanya. Semoga Gus Dur mendapat husnulkhatimah,” tuturnya.
Amien yang sempat disebut-sebut terlibat perang dingin sejak lengsernya Gus Dur dari jabatan presiden tersebut mengaku hubungannya secara pribadi tetap baik. Setelah peristiwa itu, Amien dan Gus Dur tetap berkomunikasi dengan hangat, mayoritas ketika bertemu di ruang tunggu bandara. ’’Dulu waktu Indosat mau dijual ke Singapura, saya sempat berbicara setengah jam dengan Gus Dur. Enam bulan lalu, saya terakhir ketemu tetap ger-geran sambil ngrasani pemerintah sekarang. Jadi, tidak benar kalau disebut kami perang dingin,’’ tegasnya. (tom/noe/agm/ote/krl)
JAKARTA – Mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangungkusumo (RSCM) pada pukul 18.45. Gus Dur menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah sejak pukul 13.00 siang tadi dirawat intensif di ICU.
Wafatnya Gus Dur itu disampaikan asisten pribadi Gus Dur, Bambang Susanto. “Innalilahi wai inalilahi rojiun …telah meninggal dunia KH. ABDURRAHMAN WAHID(GUS DUR) di RSCM …Al-fatehah,” tulis Bambang dalam pesan pendek kepada JPNN.
Sebelumnya, kondisi kesehatan Gus Dur memang memburuk sepekan ini. Sejak dua hari lalu, Gus Dur juga sudah tidak lagi mau makan. Gus Dur sempat dijenguk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan dikabarkan Presiden SBY masih berada di ruang tempat Gus Dur dirawat ketika Gus Dur meninggal.
Selain keluarga dan kerabat dekat, sejumlah pejabat tinggi negara juga sudah berdatangani di RSCM. Menko Kesra Agung Laksono juga datang langsung. Meski demikian belum ada kepastian dimana dan kapan mantan ketua PBNU itu dimakamkan.
Gus Dur dilahirkan 4 Agustus 1940 di Jombang, Jawa Timur. Gus Dur meninggalkan seorang istri, Shinta Nuriyah dan empat putri.(zul/ara/jpnn)
Jakarta, Tribun – Tim dokter Kepresidenan membenarkan mantan presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur meninggal dunia pukul 18.45 WIB. Gus Dur mengalami komplikasi dan kritis pada pukul 18.15 WIB sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir.
Anggota tim dokter Kepresidenan, dr Jusuf Misbach, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, Rabu (30/12), mengatakan,Gus Dur dirawat sejak Sabtu (26/12). Kondisinya sempat membaik.
“Namun pada Rabu hari ini pukul 11.30 WIB kondisinya memburuk dengan komplikasi penyakit stroke, diabetes, jantung dan pada pukul 18.15 WIB kondisinya kritis,” ujarnya dikutip detikcom.
SBY membatalkan rencana kerjanya Kamis (31/12). Hal ini dilakukan untuk menghormati meninggalnya Mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Pesta terkait tahun baru juga dibatalkan untuk menghormati Gus Dur.
“Rencananya besok (hari ini), presiden akan melakukan kunjungan kerja ke Cipanas. Tapi acara itu dibatalkan untuk menghormati meninggalnya Gus Dur,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Bencana, Andi Arief.
Dari RSCM, jenazah Gus Dur disemayamkan di Ciganjur, tempat kediamannya selama ini.Pahlawan NasionalWarga nadliyin yang tergabung dalam PKB dan PPP mengusulkan Gus Dur agar menjadi pahlawan nasional. “Kami atas nama DPP PKB dan warga nahdliyin sangat kehilangan beliau. Kami minta kepada pemerintah untuk memberikan gelar pahlawan nasional dalam bidang demokrasi, pluralisme dan pejuang HAM kepada Gus Dur,” kata Ketua DPP PKB Marwan Jafar.
Menurut Marwan, Gus Dur adalah pemersatu Indonesia yang tak hanya disegani di level nasional, tetapi juga internasional. Gus Dur terbukti telah mampu memimpin NU dengan baik dan menjadi ketua dewan Syuro PKB.Usulan Gus Dur mejadi pahlawan nasional juga disampaikan oleh DPP PPP. Melalui Wakil Sekjen DPP PPP M Romahurmuzy, PPP secara resmi mengusulkan kepada pemerintah agar Gus Dur dianugerahi gelar pahlawan nasional.”DPP PPP menyatakan turut berduka cita atas wafatnya bapak bangsa KH Abdurrahman Wahid di RSCM. PPP mengusulkan kepada pemerintah untuk memberikan gelar pahlawan nasional atas peran Gus Dur yang luar biasa dalam membangun fondasi masyarakat sipil,” kata Romy.(lim)
Tribun Timur, Selalu yang Pertama
Ada peristiwa menarik?
SMS www.tribun-timur.com di 081.625.2233
email: tribuntimurcom@yahoo.com
Hotline SMS untuk berlangganan koran Tribun
Timur, Makassar (edisi cetak) : 081.625.2266.
Telepon: 0411 (8115555)
CIREBON – Ratusan Jamaah Pengajian Akar Jati Cirebon, gelar doa bersama dan tahlilan almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Masjid Assyuhada Desa Cipeujeh Wetan, Kecamatan Lemah Abang, Kabupaten Cirebon.
Setelah mendengar informasi wafatnya Gus Dur di sejumlah media elektronik, pimpinan jamaah Pengajian Akar Jati, KH Maman Imanul Haq, yang juga sebagai Dewan Syuro DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) langsung menginformasikan kepada ratusan jamaahnya dan menggelar doa bersama serta tahlilian yang di akhiri dengan pembacaan surat Yasin.Doa bersama dan tahlilan diikuti sekitar 500 jamaah pengajian Akar Jati yang secara spontan mendatangi Masjid Asyhuda. Almarhum Gus Dur dalam pengajian Akar Jati ini merupakan pembina sekaligus pengggas pembentukan kelompok pengajian ini.Jamaah Akar Jati yang berdatangan dari berbagai daearah di wilayah Cirebon masih melakukan tahlilan dan pembacaan surat Yasin yang dipimpin langsung pengasuh jamaah pengajian Akar Jati KH Maman Imanul Haq.Isak tangis jamaah Akar Jati pecah saat KH Maman memaparkan secara singkat kisah perjuangan mendiang Gus Dur semasa hidup. KH Maman pun, tidak kuasa menceritakan pengalaman bersama mantan Presiden RI ke 4 ini hingga meneteskan air mata saat menceritakan pengalaman dirinya dengan Gus Dur.
“Beberapa hari lalu, saya sempat bertemu dengan beliau. Saat itu Gus Dur sempat mengisyaratkan kepada saya bahwa dalam waktu dekat ini akan ada satu tokoh nasional yang sering sakit-sakitan bakal meninggal. Dia menceritakan hal itu saat berada di kantor PB NU di Jakarta,” papar Maman.Saat Gus Dur menyampaikan bakal adanya tokoh nasional yang meninggal, Maman tidak menaruh curiga bahwa hal itu bakal terjadi pada Gus Dur. Namun, setelah Gus Dur meninggal pada malam tadi dia mulai tersadar jika pernyataan yang disampaikan Gus Dur tersebut merupakan salah satu isyarat.Lebih lanjut Maman mengaku, pertemuan terakhir dirinya dengan Gus Dur pada 27 Desember lalu di Jakarta. Saat itu dia sempat menanyakan kondisi kesehatan Gus Dur. Dia hanya mejawab, “Saya bakal sembuh kok. Subhanaulllah Gus Dur memang memiliki semangat hidup yang luar biasa,” paparnya.
Dalam kesempatan itu Maman mengaku, pada pertemuan terakhirnya, Gus Dur sempat bercerita tentang kasus yang saat ini ramai dibicarakan yakni Century. Dalam kesempatan itu, Gus Dur sempat menyinggung jika kasus skandal Century hanya bisa diselesaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
“Dia hanya mengatakan, jika kasus Century hanya dapat di selesaikan oleh SBY sendiri. Hingga saat ini, saya belum bisa menangkap pesan yang disampaikan Gus Dur itu,” tegas Maman.Menurut Maman, banyak pesan dan cara pandang Gus Dur yang mesti di teladani. Dia menganggap Gus Dur merupakan sosok yang bisa masuk kepada berbagai komponen masyarakat.Sementara itu, di beberapa pondok pesantren di Cirebon seperti, Ponpes Kempek, Buntet Pesantre, para santri di tempat itu mayoritas melakukan doa bersama dan salat jenazah. Hanya saja, pelaksanaan doa bersama hanya diikuti oleh santri yang masih ada di pondok. Pasalnya, sebagian besar santri saat ini masih libur.
(Tantan Sulton Bukhawan/Koran SI/ram)
JAKARTA- Meninggalnya mantan Presiden Abdurahman Wahid atau Gus Dur menyisakan kesedihan bagi orang yang pernah dekat dengannya. Tak terkecuali dengan Inul Daratista.Pedangdut yang pernah dibela Gus Dur saat dicekal sejumlah ormas Islam ini menangis saat dihubungi okezone, Rabu (30/12/2009).
Sambil terisak, Inul menceritakan usai magrib tadi dia dibangunkan suaminya, Adam Suseno dan diberitahu bahwa mantan Ketua PBNU telah meninggal dunia di RSCM. “Saya kaget,” akunya.Inul awalnya berencana melayat Gus Dur ke rumahnya di Ciganjur. Namun, rencana tersebut dia batalkan. Dia khawatir jika melayat malam ini, maka dia akan berdesak-desakan dengan ratusan pelayat lainnya.
“Takut gak diterima. Jadi (melayat) besok saja,” pungkasnya.Diketahui, Inul yang terkenal berkat goyang gebornya sempat mengalami pencekalan di sejumlah daerah, khususnya Jawa Timur. Bahkan ormas Front Pembela Islam (FPI) juga ikut mencekal.Menghadapi hal ini, hanya mantan Ketua Umum PBNU ini lah yang membela Inul. Karena pembelaan ini, Inul merasa terlindungi. (uky)
Jakarta Berita wafatnya Mantan Presiden Republik Indonesia, Gus Dur memang mengejutkan. Para artis pun banyak berbela sungkawa lewat situs jejaring sosial, Twitter.
Kebanyakan dari mereka merasa kehilangan dengan meninggalnya Gus Dur. Ada juga yang mengungkapkan kenangan-kenangan dari Presiden Ke-4 Republik Indonesia itu.”Menurut gw beliau adl cendikiawan muslim sejati, nasionalis namun berfikiran sgt “internasional”. Open minded dan demokratis!”, jelas Meisya Siregar dalam akun Twitternya, Rabu (30/12/2009) malam.Beberapa artis mendengar kabar Gus Dur meninggal dari media massa. Sedangkan Vidi Aldiano mengetahi Gus Dur meninggal dari sahabatnya.Cut Memey pun turut berkabung untuk Gus Dur. “Bener, ada di breaking news di RCTI. RIP Gusdur…,” kata Cut Memey di Twitternya.
Selain Meisya dan Cut Memey, Fedi Nuril, Sherina, Wulan Guritno dan Tika Pangabean juga ikut menyumbang ucapan bela sungkawa di Twitter. “Info Headline, Satu Bapak Bangsa kita, Gusdur telah wafat pkl 18.45 yang lalu..Turut berdukacita..” jelas Wulan Guritno.Sosok Gus Dur tak hanya dekat dengan politisi, Mantan Ketua PBNU juga akrab dengan artis-artis Indonesia. Misalnya Ahmad Dhani yang mengaku mengagumi sosok Gus Dur. (ebi/fjr)
BANDUNG – Kapolda Jabar Irjen Pol Timur Pradopo mengajak wartawan mengheningkan cipta untuk almarhum KH Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur di Mapolwiltabes Bandung, Rabu (30/12/2009) malam sekira pukul 19.30 WIB.
Saat itu, wartawan sengaja berkumpul di Mapolwiltabes Bandung untuk mengikuti jumpa pers evaluasi akhir tahun yang digagas Polda Jabar.“Sebelum memulai acara, mari kita mengheningkan cipta sejenak untuk almarhum KH Abdurrahman Wahid yang meninggal hari ini. Semoga arwahnya diterima di sisi Allah SWT,” kata Timur di hadapan puluhan wartawan cetak dan elektronik, serta jajaran pejabat Polda Jabar dan Polwiltabes Bandung. Seluruh wartawan dan pejabat kepolisian kontan berdiri dan mengheningkan cipta selama sekitar 1 menit.
Mantan Presiden Abdurrahman Wahid meninggal dunia di RSCM sekira pukul 18.45 WIB. Tim dokter Kepresidenan mengatakan, Gus Dur mengalami komplikasi penyakit stroke, diabetes, dan jantung. Sebelum meninggal dunia, Gus Dur sempat kritis pada pukul 18.15 WIB.Gus Dur dirawat sejak 26 Desember 2009 lalu. Kondisinya sempat membaik setelah menjalani perawatan. Namun, pada hari ini, kondisi Gus Dur sejak pukul 11.30 WIB memburuk dan kritis. Pada pukul 18.45 WIB, Gus Dur meninggal dunia. (mbs)
Rabu, 30 Desember 2009 | 20:28 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta -Pengacara senior dan rekan Gus Dur semasa masih berjuang di Forum Demokrasi, Todung Mulya Lubis, menyatakan dukanya yang dalam atas kepergian mantan Presiden RI yang keempat itu. “
“Kita kehilangan sosok negarawan yang memperjuangkan pluralitas bangsa. Seorang yang berjuang untuk moderasi dan toleransi sosial, beragama dan berbangsa,” katanya kepada Tempo, Rabu malam (29/12). “Jasanya tak akan pernah pupus dari memori kolektif bangsa ini.”Ungkapan duka juga disampaikan Direktur Eksekutif Imparsial Rachland Nashidik. Ia menyatakan wafatnya Gus Dur adalah kehilangan tak terkira bagi bangsa Indonesia, bagi perjuangan pluralisme, serta kebebasan beragama.Menurutnya, cita-cita dan perjuangan Gus Dur itu masih jauh dari mendekati selesai. Oleh karena itu, ia menyarankan agar pemerintah perlu bertindak benar dalam menghormati rasa kehilangan dan kesedihan ini dengan menyatakan perkabungan nasional bagi Gus Dur.
“Dengan pengibaran Bendera Merah Putih setengah tiang secara nasional,” katanya. Gus Dur atau Kiai Abdurrahman Wahid meninggal di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pukul 18.45 tadi. Hingga kini pihak keluarga masih bernding untuk menentkan lokasi pemakamannya.
INILAH.COM, Jakarta – Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Prabowo Subianto, akan menjenguk mantan presiden RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang masih berada di RSCM.
Ketua Umum Partai Gerindra Suhardi usai menjenguk Gus Dur di RS Cipto Mangunkusumo Minggu mengungkapkan, Prabowo kemungkinan akan menjenguk Gus Dur. “Mungkin iya. Ini saya mau berjumpa dengan beliau (Prabowo Subianto),” kata Suhardi, di Jakarta, Minggu (27/12).
Usai menjenguk Gus Dur, Suhardi mengungakapkan, kondisi mantan presiden tersebut berangsur-angsur pulih. “Beliau (Gus Dur) ingin jalan-jalan. Beliau juga masih bisa diajak berdiskusi. Terutama, tentang keadaan negara.”
Gus Dur dirawat di RS Cipto Mangunkusumo sejak Jumat 25 Desember kemarin untuk cuci darah rutin. Usai menjalani cuci darah di Gedung Central Medical Unit RS Cipto Mangunkusumo, Gus Dur harus tetap menginap untuk memperbaiki kondisi tubuhnya.
Gus Dur harus menginap di Ruang VVIP nomor 116 Gedung A, RS Cipto Mangunkusumo. Sebelum dirawat di RS Cipto Mangunkusumo, Gus Dur sempat menjalani perawatan medis di RS Jombang, Jawa Timur karena kelelahan setelah mengunjungi beberapa pondok pesantren di Jawa Timur. [*/jib]
INILAH.COM, Jakarta – Artis dan Presenter Kondang Dorce Gamalama menjenguk Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ke RSCM. Saat dijenguk, mantan presiden RI ini sedang tertidur pulas.
“Gus Dur kondisinya bagus. Tadi tidur,” ujar Dorce setelah membesuk di RSCM, Jakarta Pusat, Sabtu (26/12).Dorce menceritakan kepada wartawan, di ruang rawat Gus Dur ditemani oleh istrinya, Shinta Nuriyah. Gus Dur sedang sakit gigi. Sebab, ketua dewan syuro kebanyakan makan yang lezat-lezat.”Nah kata ibu, Gus Dur itu kena gigi. Gus Dur makan enak banget di suatu tempat, terus mampir lagi di suatu restoran yang enak banget, nah Gus Dur kena deh ususnya,” papar Dorce yang mengenakan busana muslim warna merah muda.Pria yang telah bertranseksual menjadi wanita itu, mengharapkan kesehatan Gus Dur dapat segera membaik. Dia juga mengaku sempat mengelus-elus kaki Gus Dur. “Kita berharap Gus Dur sehat, panjang umur. Alhamdulillah, saya tadi masuk ke dalam, saya elus-elus kakinya,” imbuhnya.
Dorce melanjutkan tidak ada selang yang terpasang di tubuh Gus Dur. Keterangan ini berdasarkan cerita yang didapat melalui istri Gus Dur.”Saya lihat tidur juga tidak pakai oksigen, nggak pakai infus, nggak pakai jarum-jarum suntikan. Tidurnya saja meluk guling,” ujarnya. [*/bar]
INILAH.COM, Jakarta – Meski belum tampak menjenguk, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar telah menelepon mantan presiden Abdurrahman Wahid. Percakapan keponakan dan paman itu berlangsung singkat.
“Ya sudah pasti ada telepon, Jumat (25/12) kemarin malam, keluarga beliau (Gus Dur) dari Jombang datang,” kata pengawal pribadi Gus Dur, Sulaiman kepada INILAH.COM, Jakarta, Sabtu (26/12).Sulaiman menuturkan tadi malam sekitar pukul 22.00 WB beberapa orang kerabat dari Jombang, Jawa Timur, datang menjenguk Gus Dur di RSCM Jakarta. Namun, ia tak melihat Muhaimin ada di antara rombongan.”Dia (Cak imin) menanyakan soal kondisi Bapak sekarang bagaimana, kan bagaimanapun juga itu pamannya,” kata Sulaiman.Belum ada kabar kapan Menagkertrans itu menjenguk Gus Dur di rumah sakit. “Belum tahu sampai kapan di RSCM, tunggu keputusan dokter, ini masih dalam proses penanganan hati-hati,” imbuhnya.
Tak ada hal serius terjadi pada tokoh PBNU itu. Gus Dur hanya perlu cabut gigi. Tetapi mengingat riwayat kesehatannya tidak cukup baik, dokter perlu telaten. “Beliau kan punya penyakit gula, darah tinggi, takutnya ada efek kemana-mana,” tandas Sulaiman [ikl/bar]
Ketua DPP PKB itu adalah Muamir Muin Syam. Ia tiba pukul 22.00 WIB sendiri tanpa didampingi pengurus PKB lainnya. Begitu tiba ia langsung menuju lantai 1, Gedung A RSCM, Jakarta, Jumat (25/12). Ketika dijenguk Gus Dur tengah beristirahat di ruangan VVIP nomor 116.
Hal ini dibenarkan asisten pribadi Gus Dur, Bambang Susanto. Politisi asal Brebes tersebut datang untuk menjenguk Gus Dur. Muamir merupakan pengurus PKB pertama yang datang menjenguk Gus Dur.
Menurut asisten pribadi Gus Dur, Bambang Susanto, Muamir datang hanya sebentar. “Dia ingin menjenguk Gus Dur. Karena beliau sedang istirahat, Setelah berbincang sebentar, akhirnya Pak Muamir pun pamit pulang,” ujarnya.
Mantan presiden Abdurrahman Wahid dirawat di ruangan VIP 116, Gedung A, RSCM. Gus Dur dirawat setelah sebelumnya cuci darah selama hampir lima jam sejak kedatangannya dari Surabaya. Saat ini, Gus Dur terpaksa di opname lantaran sakit giginya kumat. [jib]
Gus Dur akhirnya memilih rawat tinggal di RSCM lagi. Rencananya, Jumat (25/12) pukul 19.00, Gus Dur akan pulang ke Ciganjur. Tapi, rencana itu dibatalkan.
Hal ini disampaikan oleh istri Gus Dur, Ny Shinta Nuriyah. Kepada wartawan, Ny Shinta mengatakan bahwa malam ini, Jumat (25/12), Gus Dur akan menginap lagi di RSCM.Ketika ditanya sampai berapa lama menginap, Ny Shinta hanya menggeleng dan mengatakan:”Ya, itu terserah bapak saja. Dia maunya nginep di sini beberapa hari. Ya, terserah bapak. Dia memang suka datang ke sini. Nggak sakit juga dia datang ke sini (RSCM).”Setelah itu, Ny Shinta masuk menemani Gus Dur. Apa yang dikatakan istri Gus Dur itu dibenarkan oleh pengawal Gus Dur. Bahwa, Gus Dur memang sudah biasa datang ke RSCM.
”Gus Dur memang rutin ke RSCM. Biasanya tiga kali seminggu untuk cuci darah. Tiap Jumat juga Gus Dur ke RSCM,” kata asisten Gus Dur.[ims]
Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar telah memecat adik Gus Dur, Lily Wahid. Kabarnya, pemecatan Wakil Ketua Dewan Syuro PKB itu membuat Gus Dur syok.
Namun, saat dikonfirmasi, PKB membantah sakit yang dialami Abdurrahman Wahid karena konflik internal partai. PKB juga membantah Gus Dur ngedrop karena pemecatan sang adik.”Bukan, ngga ada terkait dengan itu (konflik),” kata politisi PKB Marwan Djafar saat berbincang dengan INILAH.COM di Jakarta, Jumat (25/12).
Sebelumnya, DPP PKB yang dipimpin Muhaimin Iskandar telah resmi memecat secara aklamasi adik kandung Gus Dur Lily Wahid dari kepartaian. Pemecatan Lily terkait pengajuan Judicial Review Pasal 23 UU Kementerian Negara. Sementara PKB sendiri meyakini tidak ada pelanggaran hukum jika pasal tersebut dilanggar.”Jangan kaitkan sakit dengan urusan itu (pemecatan Lily Wahid),” tegas Marwan.
Karena, Gus Dur telah lama sakit, dan sempat beberapa kali koma. Mantan presiden RI ke empat itu punya komplikasi penyakit. “Karena sudah sepuh saja, gula dan kolesterolnya tinggi,” ujar dia.Apakah Muhaimin akan menjenguk Gus Dur? “Mendoakan pastilah, semoga Gus Dur cepat sembuh,” tandasnya. [Ikl/mut]
Ratusan nyala api dari lilin kecil yang ditempatkan di sekitar Tugu Yogyakarta menjadi pertanda rasa duka masyarakat di kota ini atas meninggalnya mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid.
Ratusan warga dari berbagai elemen masayarakat dan komunitas yang berbeda suku maupun budaya seolah menyatu untuk menyampaikan rasa dukanya di tempat yang menjadi ikon Yogyakarta itu, Kamis (31/12) dini hari.
“Tokoh seperti Gus Dur sulit tergantikan, dan mungkin sampai saat ini pun belum ada tokoh seperti almarhum,” kata Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (NU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Prof Dr Muhammad Maksum di sela kegiatan menyalakan 1.000 lilin untuk Gus Dur di Yogyakarta.
Menurut dia, Gus Dur adalah tokoh utama di Indonesia yang terus memperjuangkan keadilan tanpa membedakan suku dan budaya yang ada di negeri ini. Ia juga meyakini gelombang massa yang ingin menyampaikan rasa duka atas kepergian Gus Dur akan terus berlangsung dalam waktu yang lama, baik melalui aksi kepedulian atau dalam wujud doa bersama.”Bahkan tidak menutup kemungkinan kegiatan tersebut dilakukan di gereja maupun di kelenteng,” katanya.Namun demikian, menurut dia kepergian Gus Dur masih menyisakan banyak perjuangan yang harus dilanjutkan, di antaranya menegakkan keadilan di negeri ini. “Tetapi saya yakin perjuangan ini tidak akan berhenti, dan akan terus dilanjutkan,” katanya.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Tri Tunggal Romo Sapto yang juga hadir dalam aksi 1.000 lilin untuk Gus Dus tersebut mengatakan akan muncul Gus Dur-Gus Dur baru di Indonesia. “Gus Dur akan terus beregenerasi. Ia akan tetap ada,” katanya.
Dalam aksi tersebut sebuah foto Gus Dur saat masih menjabat Presiden Indonesia berkalungkan rangkaian bunga melati ditempatkan di kaki Tugu Yogyakarta. Disampingnya ada beberapa lilin, dan dupa yang dibakar, serta sekeranjang bunga mawar.Gus Dur meninggal dunia pada Rabu (30/12) pukul 18.45 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, karena komplikasi penyakit yang dideritanya. [*/mut]
Kuala Lumpur – Berita meninggalnya KH Abdurrahman Wahid atau biasa akrab disapa Gus Dur dengan cepat menyebar. Ucapan duka cita pun terus mengalir.Tidak saja di Indonesia, berita dan ucapan belasungkawa itu juga menyebar ke luar negeri termasuk di Malaysia. KBRI Kuala Lumpur menerima banyak ucapan belasungkawa dari masyarakat dan pejabat atas nama pemerintah Malaysia. Hal itu diungkapkan Minister Cousellor Pensosbud KBRI Kuala Lumpur Widyarka Ryananta, Rabu (30/12/2009).
“KBRI menerima banyak SMS ucapan takziyah untuk almarhum Gus Dur dari masyarakat Malaysia,” ujar Widyarka kepada detikcom. Widyarka mengatakan, pihaknya langsung menghubungi media-media Malaysia dan sejumlah pejabat Malaysia setelah pemberitaan wafatnya Gus Dur di sejumlah media Indonesia muncul. Semua pihak yang dihubungi, tambah dia, mengaku terkejut dan menyatakan belasungkawa atas kepergian mantan presiden RI itu untuk selama-lamanya.
“Bahkan ada media yang langsung membalas SMS mengatasnamakan rakyat Malaysia turut berduka cita. Kementerian Luar Negeri Malaysia bahkan menanyakan apakah KBRI akan membuka buku condolence di kedutaan, sebab mereka akan mengirim utusan,” ungkapnya.Selain itu, Widyarka juga mengatakan, sejumlah pejabat bahkan meminta nomor kontak langsung istri almarhum Gus Dur, Sinta Nuriyah untuk menyampaikan ucapan langsung serta mendoakan almarhum.
Sementara itu, media-media online Malaysia malam ini juga dengan cepat mengangkat berita meninggalnya Gus Dur. Kantor berita Bernama mengutip berita meninggalnya Gus Dur dari kantor berita Antara dengan judul ‘Bekas Presiden Indonesia Gus Dur Meninggal Dunia’. Situs Malaysiakini.com juga mengangkat judul ‘Mantan Presiden Gus Dur Pulang Ke Rahmatullah’. Begitupun dengan media online lainnya, bharian.com yang mengutip berita detik.com bahwa ‘Gus Dur Meninggal Akibat Pelbagai Komplikasi’. Ucapan belasungkawa juga disampaikan masyarakat Indonesia di Malaysia. Ketua PPI Malaysia Abdullah Abbas mengajak seluruh masyarakat Indonesia, khususnya pelajar Indonesia di Malaysia untuk mendoakan almarhum Gus Dur. “Kami keluarga besar PPI Malaysia sangat berduka atas wafatnya mantan presiden RI KH Abdurrahman Wahid. Kami mendoakan semoga arwah dan amal bakti beliau di terima di sisi Allah SWT,” ujarnya.
VIVAnews - Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Helmy Faishal Zaini, memiliki kenangan tersendiri kepada almarhum Abdurrahman Wahid. Menurutnya, mantan Presiden itu adalah tokoh yang gemar becanda.”Beliau memorinya luar biasa,” kata Helmy saat mendatangi RSCM, Jakarta, Rabu 30 Desember 2009.
Helmy menjelaskan, Gus Dur adalah sahabat dari ayahnya. Menurutnya, Gus Dur sering bercerita sering ke rumahnya. “Beliau sering tidur di rumah bapak saya,” kenang menteri asal PKB itu. “Dia juga sering becanda.”Helmy juga mengaku kaget saat mendengar meninggalnya Gus Dur. “Kita kehilangan orang besar, guru bangsa,” ujarnya. “Beliau adalah tokoh yang bisa menegakkan Islam dengan perdamaian, dengan santun, beragam. Beliau juga perintis kehidupan antarberagama.”
Helmy berharap arwah almarhum Gus Dur diterima di sisi Allah. Gus Dur meninggal setelah dirawat selama lima hari di Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo (RSCM). Gus Dur meninggal pukul 18.40, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjenguknya. Sebelum dibawa ke RSCM, Gus Dur sempat dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Jombang karena kelelahan saat ziarah ke makam ayahnya di Jombang, Jawa Timur.
BANDUNG – Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengaku kaget mendengar kabar wafatnya mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Selama ini Gus Dur tidak diketahui menderita penyakit berat.“Saya kaget. Ini sangat menyentak. Karena sebelum-sebelumnya tidak ada tanda-tanda beliau menderita sakit keras. Kalau tokoh-tokoh sebelumnya yang meninggal ada tanda-tanda menderita penyakit,” kata Heryawan kepada wartawan di Gedung Pakuan Bandung, Rabu (30/12/2009) malam.Di mata Heryawan, Gus Dur merupakan sosok tokoh yang berani berpikir kritis, dan mengeluarkan pendapat. Bahkan, kata dia, komentar-komentar Gus Dur kadang membuat orang senang dan tertawa. “Beliau berani mengeluarkan pendapat dan komentar-komentar. Makanya, tidak cocok jadi presiden karena tidak bisa menjaga kalimat. Tapi itulah beliau yang kita kenal. Berani berpendapat bebas,” kata Heryawan.
Heryawan sendiri mengaku tidak begitu mengenal dekat sosok Gus Dur. Dia mengaku terakhir bertemu Gus Dur sekira Mei 2008 di daerah Kalimantan Timur. Saat itu, ada pemilihan Gubernur Kalimantan Timur. PKB dan PKS berkoalisi dalam pilkada tersebut. “Yang paling berkesan, ya gaya bercanda beliau yang khas. Dalam setiap kesempatan, beliau kan selalu bercanda,” cerita Heryawan.Pada kesempatan tersebut, Heryawan mengimbau kepada warga NU di Jawa Barat agar mendoakan Gus Dur. “Kita doakan, mudah-mudahan amal baiknya diterima Allah SWT,” kata Heryawan.
Disinggung apakah akan menyempatkan diri melayat ke rumah duka, Heryawan mengaku sangat ingin. Namun, dia masih harus melihat jadwal kegiatan, karena besok merupakan akhir tahun.“Kitalihat saja nanti. Secara pribadi saya sangat ingin melayat. Karena kalau melayat itu baik. Tapi, saya juga harus melihat agenda kegiatan saya besok,” tandas Heryawan.
MAKASSAR – Sebanyak 100 orang peserta Dialog Akhir Tahun Pusat Studi Demokrasi Universitas Hasanuddin mengirimkan do’a bagi almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di sela pelaksanaan kegiatan.
Pengiriman do’a tersebut dipandu moderator Nasrun setelah dialog berlangsung sekira 15 menit berjalan. Kabar duka diterima salah seorang perserta Heny Handayani melalui pesan singkat yang langsung dikirim ulang ke moderator.”Kami meminta waktu sejenak untuk mengirimkan do’a bagi salah satu tokoh bangsa yang telah wafat beberapa saat lalu, Gus Dur di RSCM Jakarta. Salah seorang tokoh nasional mantan Presiden RI ke-4. Semoga arwah beliau diterima di sisi-Nya,” ajak Nasrun dalam acara yang digelar di Lantai 1 Rektorat Unhas, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar Rabu (30/12/2009) malam.Dialog Akhir Tahun bertajuk Ketidakadilan, Selebritas Baru di Indonesia itu menghadirkan dua orang pembicara dari akademisi Unhas.
Pembicara pertama Dosen FISIP Adi Suryadi Culla menyoroti kondisi kebangsaan saat ini. Menurut Adi, saat ini hukum di Indonesia tidak tegas. Banyak kasus yang tidak tuntas atau tidak tersentuh hukum.Gus Dur meninggal di RSCM setelah menjalani operasi gigi pada Senin 28 Desember kemarin. Kondisi Gus Dur sempat membaik, namun pada Rabu sore sekira pukul 18.45 WIB akhirnya mantan Presiden itu menghembuskan nafas terakhir.Yusuf Misbach, anggota tim dokter RSCM yang merawat Gus Dur mengatakan, mantan Presiden RI itu meninggal akibat komplikasi yang diderita Guru Bangsa ini. “Ini berkaitan dengan penyakit diabetes, ginjal, stroke dan jantung,” katanya.(ram)
MALANG, RABU - Kabar duka meninggalnya KH Abdulrahmad Wahid, langsung mendapat respon Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Malang, Umar Usman. Lelaki yang berprofesi juga sebagai dokter umum ini, menginstruksikan seluruh jajaran anak cabang dan ranting untuk menggelar Sholat Ghoib, pada Rabu (30/12) malam ini.Kabar meninggalnya mendiang mantan Presiden Republik Indonesia itu, diterima Usman melalui SMS pendek saat dirinya sedang bertugas di klinik medis miliknya di Kota Kepanjen, Kabupaten Malang, beberapa menit sebelum Gus Dur meninggal. Ia pun makin tercengang saat melihat tayangan tv, mengabarkan jika tokoh besar Nahdlatul Ulama itu menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta pukul 18.15 petang ini.
Menurut Umar, Gus Dur adalah tokoh besar NU yang tidak akan pernah bisa tergantikan. Perjuangannya dalam menegakkan kemanusian-kemanusian di Indonesia, adalah bukti jika keberadaanya sebagai bapak bangsa, layak mendapatkan predikat itu.”Semoga kami dan semua warga ansor serta NU di Kabupaten Malang, bisa meneruskan cita-cita beliau. Jasanya terlalu besar bagi kehidupan dan kemasalahatan umat,” papar Umar.Ia pun menambahkan, segai tokoh panutan yang tidak pernah tergantikan, Gus Dur adalah pahlawan kemanusian bagi rakyat kecil. “Perjuangan-perjuangan beliau untuk kemanusian sangat besar bentuknya. Semoga Allah membalas amal baiknya dan menempatkan Almarhum disisinya,” ungkap Usman saat ditelepon Rabu mala mini.Sementara itu, hingga malam ini, seluruh anak ranting dan cabang gerakan pemuda ansor di Kabupaten Malang akan melaksanakan sholat ghoib ditempatnya masing-masing untuk mendoakan Alamarhum Gus Dur. Ansor Kabupaten Malang pun rencananya akan menggunakan malam pergantian tahun yang tinggal satu hari kedepan, untuk tahlil akbar, bagi tokoh NU yang dekat dengan rakyat kecil dan berbagai golongan ini.
Sumber: beritajatim
SURABAYA–Yahya Staquf menyatakan bahwa meninggalnya Gus Dur sangat mengejutkan dan merupakan kehilangan besar bagi kalangan nahdliyin. Intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU) dan mantan juru bicara kepresidenan era Gus Dur ini mengaku terakhir bertemu almarhum pada Rabu pekan lalu dalam pertemuan dengan KH Mustofa Bisri di Rembang, Jawa Tengah”Saat itu beliau terlihat segar, mungkin karena habis cuci darah. Maka saya sangat terkejut ketika mendengar kabar beliau meninggal,” ungkap Gus Yahya saat ditelepon Republika dan sedang berada di Rembang untuk bersiap ke lokasi pemakaman Gus Dur di Jombang, Rabu (30/12) malam.”Beliau itu guru yang tidak ada tandingannya,” lanjut dia dengan nada terbata-bata, sedih.
Dia melihat Gus Dur sebagai orang yang sangat meyakini cita-cita Bung Karno, dengan kecerdasan dan kecerdikannya. ”Beliau menginginkan kemerdekaan Indonesia yang hakiki, selesainya masalah-masalah bangsa dan tegaknya keadilan dalam tata dunia,” tutur Gus Yahya.Mengenai sosok Gus Dur yang kontroversial, menurut dia, itu merupakan cara untuk menyiasati keadaan. ”Yang kita hadapi kan berupa kekuatan dan kekuasaan besar (hegemonik),” tandas Gus Yahya. asep nur zaman/kpo
JAKARTA–Ketua MPR RI Taufiq Kiemas melepas jenazah mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid untuk diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhirnya di sebelah utara pusara kakeknya KH Hasyim Asy’ari, Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Upacara pelepasan jenazah dilaksanakan secara militer di halaman kediaman almarhum Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, Kamis sekitar pukul 06.30 WIB.
Bertindak selaku inspektur upacara yakni Mayor Istono. “Saya Taufiq Kiemas menerima jenazah almarhum KH Abdurrahman Wahid untuk dimakamkan secara militer,” kata Taufiq saat upacara berlangsung. Setelah memberikan penghormatan, jenazah Gus Dur dibawa menuju ambulans untuk diberangkatkan ke Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU Halim Perdanakusuma. Lantunan tahlil dikumandangkan para pelayat mengiringi pelepasan jenazah Gus Dur. Para pelayat yang ikut melepas jenazah tampak tidak sanggup membendung kesedihannya saat mengantar jenazah pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menuju ambulans yang telah disiapkan sejak dini hari.Tampak hadir di antara pelayat, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, Menkominfo Tifatul Sembiring, dan sejumlah anggota DPR. Jenazah mantan Presiden Abdurrahman Wahid dijadwalkan diberangkatkan menuju Jombang, dengan menggunakan pesawat Hercules TNI AU C1341. ant/irf
Jakarta – Firasat wafatnya Gus Dur sudah terasa sejak Gus Dur berziarah terakhir ke makam kakek dan ayahnya di Tebu Ireng, Jombang. Adik kandung Gus Dur KH Salahudin Wahid yang juga pengasuh Ponpes Tebu Ireng mengaku dirinya sudah diberi sinyal dan firasat saat Gus Dur ke Jombang.”Gus Solah bercerita pada kami beberapa hari lalu di kediamannya. Gus Solah kaget dan heran tiba-tiba Gus Dur bilang, ‘dik mengko tanggal 31 jemputen aku nang kene’ (Dik, nanti tanggal 31 jemput saya di sini,” kata salah satu ketua PP GP Ansor Maskut yang mendapat cerita dari Gus Solah. Maskut menyampaikan kepada detikcom Kamis (31/12/2009).
Menurut Maskut, Gus Solah juga sudah merasa tidak enak saat Gus Dur memanggil dirinya dengan sebutan ‘dik’ (adik). Sebab, selama ini panggilan Gus Dur kepada Gus Solah selalu ‘Los’ kebalikan dari ‘Sol’ panggilan akrab Salahuddin Wahid sejak kecil.”Gus Solah juga mengaku rasa herannya saat Gus Dur memanggil dirinya dengan ‘dik’. Padahal seumur-umur kalau memanggil Gus Solah dengan ‘Los’. Atau memanggil Gus Umar dengan pangilan ‘Ram’, kebalikan Mar,” paparnya. Pernyataan Gus Dur ini dimaknai Gus Solah sebagai bentuk wasiat. Karena itu sejak awal, Gus Solah menegaskan bahwa bani Hasyim memang kalau meninggal dimakamkan di Tebu Ireng. Apalagi tokoh sekaliber Gus Dur.
TEMPO Interaktif, Jakarta – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Agiel Siradj mengatakan kondisi Gus Dur memang sudah memburuk sejak beberapa hari terakhir. Said Agiel sempat menjenguk Gus Dur kemarin. Menurutnya saat itu kondisi mantan presiden periode 1999-2001 ini sudah semakin parah.
“Saya kemarin menengok beliau. Saat itu kondisinya sangat parah,” KATA DIA ketika dihubungi. Saat itu ia masih sempat bercakap-cakap dengan mantan ketua dewan syuro Partai Kebangkitan Bangsa ini. Namun, kata Said, meski masih bisa bercakap-cakap, Gus Dur sudah tidak fokus lagi.Said Agiel mengatakan mendapat kabar tentang meninggalnya koleganya itu dari salah satu anak Gus Dur tak lama setelah ia berpulang pada pukul 18.45 waktu Indonesia bagian barat. Said mengatakan ia segera menuju ke Rumah Sakit Ciptomangunkusumo segera setelah mendengar kabar tersebut.Soal kapan dan di mana gus Dur akan dimakamkan, Said belum mengetahui secara pasti. “Sekarang saja saya sedang ke rumah sakit,” katanya.
Sekitar satu minggu yang lalu Gus Dur dilarikan ke rumah sakit di Jombang setelah perjalanannya ke Jawa Timur akibat menderita berbagai komplikasi termasuk ginjal. Setelah itu ia sempat dirawat di Surabaya sebelum akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit Ciptomangunkusumo untuk menjalani cuci darah.
Pesan Terakhir Gus Dur Soal Fundamentalisme
Sosbud / Rabu, 30 Desember 2009 22:29 WIB
Pesan Terakhir Gus Dur Soal Fundamentalisme
Metrotvnews.com, Jakarta: Menjelang akhir hidupnya, kepedulian mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid terhadap persoalan toleransi dan kerukunan umat beragama, tetaplah besar sehingga menitipkan pesan pada tokoh Katolik untuk memperlakukan kaum fundamentalis secara lebih bijak.Romo Benny Susetyo, Sekretaris Eksekutif Hubungan Antar Agama KWI di Jakarta, Rabu malam, merujuk pada pertemuan antara Ketua Dewan Kepausan untuk Dialog antar Agama Vatikan Kardinal Jean Louis Tauran dengan KH. Abdurrahman Wahid pada November 2009.
“Saat itu Gus Dur berpesan agar kaum fundamentalis jangan dijauhi tetapi harus dicintai,” katanya mengutip salah satu pesan Gus Dur.Menurut Romo Benny, Gus Dur adalah tokoh besar bagi bangsa Indonesia. Ia sangat memperhatikan isu-isu pluralisme dan mementingkan arti dari kejujuran. Selama hidupnya, Gus Dur dikenal sebagai sosok yang sangat mendedikasikan jiwa dan raganya untuk bangsa Indonesia.
“Menurut saya, hidup Gus Dur semata-mata untuk bangsa dan negara. Beliau meninggalkan kepentingan pribadinya untuk bangsa, orang yang mencintai bangsa dan menyediakan waktu untuk bangsa,” kata Romo Benny yang merupakan teman dekat dari almarhum Gus Dur.Gus Dur juga dikenal sebagai sosok yang hangat dan tidak pernah lepas dari guyonan-guyonan yang menyegarkan. Guyonan itulah menjadi ciri khas Gus Dur yang selalu diingat.Lebih lanjut Romo Benny mengatakan, meski didera sakit, Gus Dur masih sempat mengucapkan Selamat Natal padanya melalui telepon pada 25 Desember 2009.”Pada 25 Desember, beliau menghubungi saya untuk mengucapkan Selamat Natal. Saat itu Gus Dur sempat mengeluh karena sakit gigi, tapi tetap saja Gus Dur bilang masih sehat,” katanya.Dalam perbincangan tersebut, Romo Benny mengaku menerima pesan dari Gus Dur yaitu untuk menjaga Shinta Nuriyah Wahid, istri Gus Dur.”Beliau bilang titip ibu (Shinta Nuriyah Wahid),” katanya.
Mantan Presiden Abdurrahman Wahid meninggal dunia pada usia 69 tahun karena sakit di RSCM Jakarta, Rabu pukul 18.40 WIB.Abdurrahman Wahid menjabat Presiden RI keempat mulai 20 Oktober 1999 hingga 24 Juli 2001. Putra pertama dari enam bersaudara itu lahir di Desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 4 Agustus 1940.
Gus Dur menikah dengan Shinta Nuriyah dan dikaruniai empat putri yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh (Yenni), Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari. (Ant/ICH)
Surabaya – Salah satu yang tak bisa melupakan Gus Dur adalah keluarga Alm Abdul Mudjib Manan. Mereka merasa kehilangan dengan meninggalnya Gus Dur. Keluarga Abdul Mudjib masih menyimpan peninggalan Gus Dur: kopiah ‘presiden’.
Saat menjadi Gus Dur menjadi presiden, Abdul Mudjib Manan pada tahun 1 Desember 2000 diangkat menjadi sekretaris presiden setelah sebelumnya menduduki posisi staf ahli.Apalagi setelah Gus Dur lengser, kopiah yang biasa dikenakan saat menjadi presiden diserahkan ke Abdul Mudjib Manan. Kopiah berwarna coklat yang terdapat tulisan Presiden RI dan Gus Dur diberikan sebagai kenang-kenangan.Sejak tahun 2001 hingga sekarang, kopiah yang dikenakan Gus Dur saat mengeluarkan deklarasi dekrit pembubaran DPR itu disimpan di lemari keluarga Alm Abdul Mudjib Manan yang sekarang tinggal di Perumahan Delta Sari, Waru, Sidoarjo, Jawa Timur.Abdul Mudjib Manan meninggal 26 Juni 2006. “Tidak ada yang tahu kalau kopiah bersejarah ini diberikan ke bapak. Mungkin hanya keluarga saja yang tahu,” kata Achmad Seno Aldinata, putra kedua Alm Abdul Mudjib Manan saat ditemui detikcom di rumahnya, Rabu malam (30/12/2009).
Bagi Seno, demikian biasa dipanggil, sampai kapanpun keluarganya akan menjaga kopiah tersebut hingga kapanpun. “Ini pesan bapak agar kopiah yang diberikan setelah GuS Dur lengser ini dijaga,” katanya didampingi ibundanya, Hj Sri Safarin.
Menurut Seno, almarhum bapaknya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Gus Dur sejak remaja. “Saat kuliah di Kairo pun satu kamar. Istilah orang Jawa sakliwetan,” kata Seno mengenang. Namun setelah usai kuliah keduanya sempat putus kontak.”Saat Gus Dur jadi presiden dan acara di Surabaya menyatakan jika kangen temannya yang tinggal di Surabaya. Lalu setelah disebutkan namanya, kemudian stafnya melacak nama bapak saya,” kata Sri Wahyuni alias Yuyun, putri pertama almarhum menambahkan.Setelah dilacak, akhirnya Abdul Mudjib Manan yuang menjadi salah satu dosen di IAIN Sunan Ampel bisa bertemu Gus Dur dan akhirnya diajak ke Jakarta. Menurut Yuyun, kopiah yang terbuat dari anyaman akar ini menjadi barang yang berharga bagi keluarganya.
“Kita sangat kehilangan Gus Dur. Gus Dur telah membuat sejarah bagi keluarga saya,” katanya.
Menariknya, sebagai otentikfikasi kopiah tersebut Gus Dur memberikan surat penyataan yang ditandatangani 24 Juli 2001. Dalam selembar surat bermaterai Rp 6000 itu, Gus Dur menyatakan telah memberikan peci kepada Abdul Mudjib Manan.
Di surat tersebut ditulis ciri-ciri peci tersebut antara lain: terbuat dari bahan sejenis akar-akaran, di kedua sisi tertulis Gus Dur dan Presiden RI. Serta “Peci tersebut saya pakai pada saat dibacakan dekrit Presiden RI pada tanggal 23 Juli 2001″
“Jadi kita tidak mengaku-aku, karena ini ada surat penyataan yang langsung ditandatangani Gus Dur,” pungkas Seno.(bdh/bdh)
JAKARTA–Berita meninggalnya Gus Dur menghiasi media on line internasional. Semua kantor berita asing mengabarkan mantan Presiden RI keempat ini meninggal.
‘Former Indonesian President Wahid Dies at 69′ demikian judul di laman harian terkemuka, New York Times. Times menulis, Gus Dur berjasa memerintah Indonesia dalam kondisi bergejolak usai runtuhnya Orde Baru.Times juga menyebut Gus Dur sebagai pejuang demokrasi dan Islam moderat. Sementara BBC mengenang Gus Dur sebagai Presiden RI yang pertama kali dipilih oleh DPR, pascaturunnya Soeharto.
Menurut BBC, Gus Dur terkenal dengan sikap toleransi beragama dan politiknya yang moderat. Gus Dur tak bisa berkuasa lama, lanjut BBC, karena gagal mengatasi krisis ekonomi dan konflik di sejumlah provinsi.Berita serupa juga datang dari Kantor Berita Bernama dan New Strait Times asal Malaysia, Strait Times dari Singapura. SEmentara di laman Al Jazeera, berita wafatnya Gus Dur belum muncul. evy/kpo
VIVAnews - Kabar meninggalnya mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab dipanggil Gus Dur pada pukul 18.45 WIB cukup mengagetkan warga Solo. Sejumlah warga Solo pun langsung menggelar acara doa bersama di Bundaran Gladag, Solo.Doa bersama yang diikuti dari berbagai elemen masyarakat, di antaranya tokoh agama, kaum difabel, mahasiswa, olahragawan dan seniman. Banyak simpati dari masyarakat Solo maupun pengguna jalan yang secara kebetulan melewati bundaran tersebut. Mereka langsung ikut bergabung untuk ikut berdoa bersama.Beberapa batang lilin dinyalakan dan dipegang oleh masing-masing peserta. Mereka tampak terhanyut sedih ketika mendengarkan sebuah lagu yang berjudul Gugur Bunga yang dinyanyikan oleh salah satu peserta. “Guru bangsa kita, yaitu Gus Dur telah wafat,” ujar penggagas acara doa bersama, Mayor Haristanto dengan nada sedih, Rabu, 30 Desember 2009.
Selanjutnya, dia menjelaskan, doa bersama yang dilakukan ini menjadi momentum untuk mengenang figur Gus Dur. “Meskipun beliau merupakan tokoh yang kontroversial, tetapi dasar perjuangannya sebenarnya adalah untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia. Hal inilah yang sepatutnya disadari oleh bangsa kita,” ujarnya.Selain melakukan doa bersama, aksi simpatik yang diikuti oleh sekitar 20 orang tersebut juga diselingi dengan pembacaan puisi-puisi. Selain itu, beberapa peserta juga membentangkan poster yang mengenang perjuangan dan jasa mantan Ketua PBNU ini bagi bangsa Indonesia. “Kita benar-benar merasa kehilangan bapak bangsa,” ujarnya.Doa yang dibacakan Ustad Abdullah Sungkar itu, mendoakan supaya arwah dan amal ibadah Gus Dur semasa hidup diterima di sisi-Nya. Selain itu, dia juga berpesan supaya semangat persatuan bangsa dan perjuangan demokrasi yang pernah dilakukan Gus Dur tetap terpelihara dengan baik.
“Figur Gus Dur sebagai pemersatu bangsa dan pembela kaum minoritas perlu ditauladani oleh seluruh bangsa Indonesia,” kata dia.
TEMPO Interaktif, Madiun – Ketua Nahdatul Ulama Kabupaten Madiun Mustaqim Basyari menginstruksikan warga Nahdlatul Ulama untuk menggelar Salat Gaib bagi meninggalnya mantan presiden Indonesia Abdurrahman Wahid.
“Bisa di masjid-masjid hingga musallah kampung,” kata dia, Rabu (30/12) malam. Salat Gaib, bisa dilakukan secara berjamaah. Biasanya, Salat ini dilakuan usai melakukan Salat Jumat dengan jamaah yang lebih besar. Basyari mengaku cukup bersedih mendengar kematian ulama yang dikenal sebagai bangsawan ini. Gus Dur, kata dia, merupakan ulama yang cukup ulet dalam memperjuangkan nilai-nilai keagamaan. Menurut dia, sebagai seorang muslim, tentu sangat bersedih dengan kepergian Ulama. Bahkan, seorang muslim yang tidak bersedih dengan kepergian Ulama bisa disebut sebagai orang munafik. “Karena Ulama adalah pewaris Rasulullah,” kata dia.
Lomba Karikatur Gus Dur
Orang kontroversial seperti GusDur selalu menarik perhatian setiap orang, baik tua mapun muda. Sehingga tak heran jika setiap orang memiliki pandangan tersendiri tentang sosok GusDur. Itulah yang terungkap dalam lomba melukis karikatur GusDur yang di adakan di Gresik Jawa Timur.
Sepak terjang GusDur yang sering kontroversial ternyata memiliki daya tarik tersendiri bagi sebagian orang. Sosok GusDur, ibaratnya adalah samudera yang memiliki sejuta mutiara. Tak heran, jika GusDur masih menjadi idola di kalangan masyarakat bawah.Inilah yang terlihat dalam lomba melukis karikatur GusDur, yang di adakan Pengurus Takmir Masjid Mambaul Falah Kelurahan Sidomoro Kecamatan Kebomas.
Lomba yang di ikuti 47 peserta ini, terdiri dari berbagai usia baik laki-laki maupun perempuan.
berbeda dengan kebanyakan para tokoh, GusDur memiliki kemampuan multi dimensi. Di samping sebagai tokoh politik, GusDur adalah seorang seniman, olahragawan, sejarawan, pengarang buku, ulama dan lain sebagainya.Dengan kompleksitas kemampuan GusDur itulah, masyarakat sering alergi dengan segala keputusan yang di ambilnya. Meski terkesan plinplan, namun, tujuan GusDur selama ini jelas, yakni persatuan dan kesatuan bangsa.Hal ini pulalah yang tergambar dalam sebagian lukisan karikatur peserta. di sini, GusDur mampu mengayomi suku minoritas hingga bisa hidup sejajar dengan suku lainnya.“Disamping sebagai ulama. Gusdur ternyata mampu mengayomi kelompok minoritas, termasuk yang berbeda agama” ujar Komang, salah seorang peserta lomba.Tak hanya itu, sejumlah peserta ada yang menggambar karikatur GusDur sedang memainkan wayang kulit bahkan ada pula yang melukis GusDur sedang bermain layang-layang.
Apapun hasil lukisannya, karikatur buatan peserta ini menunjukkan GusDur masih menjadi tokoh favorit di kalangan masyarakat akar rumput.Meski saat ini GusDur sedang di pojokkan oleh hampir semua kalangan, termasuk para kiai, tokoh pemerintahan hingga partai yang didirikannya sendiri, namun, GusDur tetap tegar dan terus maju. Inilah yang melatarbelakangi penitia untuk mengadakan lomba karikatur GusDur.“Saat ini, Gusdur di kucilkan oleh bekas orang dekatnya sendiri. Maka, kami berinisiatif memunculkan dukungan kembali pada Gusdur” jelas Ainur Rofiq, Ketua Panitia.
Bagi para peserta, melukis karikatur GusDur bukanlah hanya sekedar melukis, namun, labih dari itu, adalah berusaha memaknai karakter GusDur yang kontroversial.
Doakan Gus Dur, Umat Budha Nyalakan 1.080 Lilin
Di Vihara Budha Dhipa, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, umat Budha mendoakan kepergian Gus Dur. Mereka percaya, dalam hitungan waktu 49 hari ini, arwah Gus Dur harus terus didoakan karena masih dalam proses reinkarnasi.
BANYUMAS – Di Vihara Budha Dhipa, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, umat Budha mendoakan kepergian Gus Dur. Mereka percaya, dalam hitungan waktu 49 hari ini, arwah Gus Dur harus terus didoakan karena masih dalam proses reinkarnasi.
Dalam doa ini, umat Budha juga menyalakan sebanyak 1.080 lilin sebagai arti jumlah tasbih umat budha yang berisi 108 dikalikan sepuluh bilangan tahun sekarang.
Tak hanya itu, lilin-lilin ini juga sebagai simbol agar arwah Gus Dur diberi penerangan selama dalam proses reinkarnasi tersebut. Menurut Bhiksu Bhadra Ruci, pemimpin doa di Vihara Budha Dhipa mengatakan, dia meyakini jika Gus Dur tidak memerlukan doa lagi dari umat lain. Namun karena kecintaan mereka terhadap Gus Dur, maka umat Budha ini dengan ikhlas mendoakan Gus Dur.
“Kami Umat Budha percaya, jika dalam waktu selama 49 hari ini arwah Gus Dur masih dalam reinkarnasi. Artinya dia memerlukan doa-doa agar diberi penerangan dalam perjalanannya ke alam baka,” ujar Bhiksu Bhadra Ruci, Pemimpin Doa Vihara Budha Dhipa, Minggu (3/1/2010).
Dalam Pimpinan Pusat Majelis Budhayana Indonesia (PP MBI), Gus Dur sendiri menjabat sebagai salah satu anggota dewan konsultatif. Hal inilah yang juga mendasari umat Budha merasa dihormati oleh Gus Dur. Sebagai timbal baliknya, mereka akan terus mendoakan Gus Dur hingga hari ke-49 wafatnya Gus Dur, secara terus menerus.
Dalam doa ini, umat Budha juga memajang foto Gus Dur di tengah-tengah lilin yang menyala. Mengenai kepergian Gus Dur untuk selama-lamanya dan terkesan mendadak itu, diakui umat Budha di Purwokerto sangat mengejutkan dan menyimpan duka mendalam.
BOGOR | SURYA Online - Umat Katholik bersama badan sosial lintas agama (Basolia) Kota Bogor, Jawa Barat (Jabar), mengisi pergantian tahun dengan berdoa untuk mantan presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Gereja Katedral di kota itu, Kamis (31/12/2009) malam.
Tokoh lintas agama yang ikut berdoa bersama itu antara lain H Zaenal Abidin mewakili umat Islam, Darwin Darwaman dari Protestan, Johan Freinky dari Budha, I Wayan Suastika dari Hindu, Thung Tjong He dari Konghucu, dan pemimpin umat Khatolik Kota Bogor Mgr Michael Angkur.
Menurut Mgr Michael Angkur di Bogor Jumat (1/1/2010), umat lintas agama di Kota Bogor telah memiliki wadah silaturahim dan komunikasi yang sudah melembaga dalam Basolia.
Basolia memiliki banyak kegiatan baik terkait dengan pencerahan umat melalui penguatan toleransi dalam kehidupan beragama, membangun tradisi saling menghormati atas keragaman dan perbedaan keyakinan hingga menggagas kegiatan sosial untuk masyarakat tanpa dibatasi agama, ras, maupun golongan.
Wafatnya Gus Dur merupakan kehilangan besar bagi para penggiat Basolia, karena semasa hidup ia dinilai telah banyak memberikan teladan dan inspirasi bagi keharmonisan hubungan antarumat beragama.
Hal itulah yang mendorong pihak Basolia bersama Gereja Katedral untuk menggelar bersama, yang dipusatkan di gereja terbesar di Kota Bogor yang berlokasi di Jalan Kapten Muslihat tersebut.
“Kami ikut merasa kehilangan Gus Dur. Beliau guru dan sosok bapak bangsa yang penuh teladan, yang memiliki andil besar dalam menciptakan kerukunan antarumat beragama di Indonesia,” tegas Michael Angkur.
Zaenal Abidin dari Islam menegaskan, Gus Dur merupakan tokoh besar bangsa Indonesia yang sulit dicarikan tandingan atau penggantinya. Gus Dur bukan hanya Nahdlatul Ulama (NU) atau umat Islam saja, namun telah menjadi milik bangsa Indonesia yang terdiri dari ragam agama dan ras.
“Gus Dur merupakan benteng pemersatu kehidupan umat beragama di Indonesia. Semua elemen bangsa merasakan kehilangan beliau. Tak heran bila kepergiannya menjadi duka bagi semua,” ujarnya.
Doa bersama yang digagas Basolia bersama Gereja Katedral sebagai bentuk penghormatan terakhir atas jasa besar yang pernah disumbangkan Gus Dur semasa hidup. Sumbangan nyata yang diberikan Gus Dur kepada bangsa ini tidak akan pernah lekang oleh waktu, sehingga hingga kapanpun akan selalu dikenang umat manusia.
“Kami merasa sangat kehilangan Gus Dur. Sosok beliau tidak ada penggantinya. Namun kami yakin cita-cita besar perjuangan beliau akan dilanjutkan oleh semua elemen bangsa, karena semua pihak sudah menyadari pentingnya hidup berdampingan penuh toleransi dalam suasana keragaman,” katanya.
Ketua Makin Kota Bogor, Thung Tjong He menambahkan, umat Konghucu menyampaikan duka yang mendalam atas wafatnya Gus Dur. Jasa yang pernah diberikan tidak akan pernah dilupakan umat Konghucu hingga kapanpun.
Semasa menjadi presiden, Gus Dur menetapkan hari raya Imlek Konghucu sebagai hari libur nasional. Selain itu Gus Dur juga mengeluarkan kebijakan mengakui Konghucu sebagai agama yang sah yang diakui negara.“Kami mendo`akan yang terbaik bagi Gus Dur. Semoga beliau mendapatkan surga tuhan,” katanya.
ant
F-PKB Kirim Surat Permohonan Angkat Gus Dur Sebagai Pahlawan Nasional
JAKARTA | SURYA Online - Menyikapi dorongan publik yang menginginkan agar mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ditetapkan sebagai pahlawan, Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) mengambil langkah konkret dengan mengirimkan surat resmi permohonan pengangkatan Gus Dur sebagai pahlawan kepada Presiden RI, Senin mendatang.
“Fraksi PKB menyadari bahwa desakan publik untuk menjadikan Gus Dur sebagai pahlawan nasional kian menguat, meluas, dan merata di semua lapisan sosial,” ujar Ketua Fraksi PKB Marwan Ja’far, Minggu (3/1/2010), kepada Kompas melalui layanan pesan singkat.
Pengajuan ini sesuai dengan tata cara pengusulan dan pengajuan gelar pahlawan sebagaimana diatur dalam Pasal 30 UU No 20/2009 tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan.
“Bagi F-PKB, almarhum sangat memenuhi syarat, baik umum maupun khusus, seperti yang diatur dalam Pasal 24, 25, dan 26 UU No 20/2009,” ujar Marwan.
F-PKB, lanjutnya, juga mendorong pimpinan DPR sebagai representasi DPR secara institusional, dan semua fraksi di DPR melakukan langkah serupa, yaitu mengirimkan surat resmi kepada pemerintah yang pada intinya mengusulkan agar Gus Dur diberi gelar sebagai pahlawan nasional.
“Hanya melalui mekanisme inilah Presiden akan memiliki cukup data dan alasan secara legal formal untuk segera memproses pemberian gelar pahlawan terhadap guru bangsa KH Abdurrahman Wahid,” ujar Marwan.
F-PKB, tambahnya, mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mengusulkan Gus Dur sebagai pahlawan nasional, dan juga kepada pemerintah yang telah merespons dengan baik tentang pemberian gelar tersebut.
hin/kcm
LOWOKWARU | SURYA – Tokoh Muhammadiyah, Prof Dr Amien Rais menyatakan dukungan penuhnya terhadap pencalonan almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai pahlawan nasional. Dukungan ini disampaikan Amien usai menjadi pembicara dalam sebuah kuliah tamu di Universitas Muhammadiyah Malang, Sabtu (2/12).
“Saya rasa itu tidak usah dipertanyakan lagi. Setiap mantan presiden di negara ini secara otomatis layak diberi gelar pahlawan nasional,” kata mantan Ketua MPR di era kepresidenan Gus Dur ini.Bahkan, Amien menilai, penyematan gelar pahlawan nasional untuk Gus Dur adalah sebuah kewajiban. Menurutnya, kelayakan itu sudah sepatutnya diberikan untuk segala pengorbanan tenaga, pemikiran, dan waktu, yang telah diberikan untuk negara.
Lalu, apa peran terpenting Gus Dur? “Ah, banyak sekali, tidak usah ditanya yang demikian,” tukas Amien.Pria yang ’melengserkan’ Gus Dur dari kursi presiden ini tak menyangkal seputar kehidupan politik mereka yang selalu berseteru. Namun, ia mengatakan hal tersebut sebagai sebuah proses yang wajar dijumpai dalam kehidupan demokrasi. ”(Perseteruan) Itu tidak ada hubungannya dengan ini. Dalam negara demokrasi, perbedaan pandangan itu wajar. Tapi, di luar itu, persahabatan tetap harus dibina. Tetap saja kalau ada mantenan kami masih njagong sama-sama,” katanya.
Dalam orasi ilimiah yang disampaikannya ke seluruh mahasiswa baru angkatan 2009 kemarin, Amien menyampaikan kekhawatirannya terhadap lima masalah terbesar dunia saat ini. Kelima masalah itu adalah, meledaknya populasi, kekurangan pangan, krisis energi, kehancuran ekologi, serta krisis kemanusiaan.
Usai mengisi kuliah tamu, Amien mengatakan ia akan melanjutkan perjalanan dengan bertakziah ke keluarga besar Gus Dur. ”Ya, setelah ini saya ke sana,” ujarnya singkat. ab
BOGOR | SURYA Online - Mahasiswa Kota Bogor, Jawa Barat (Jabar), mendukung penuh Presiden RI keempat, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Pahlawan Nasional, kata aktivis mahasiswa Instistut Pertanian Bogor (IPB), Siti Frihatin.
“Anugerah pahlawan nasional bagi Gus Dur sudah seharusnya dilakukan negara. Hal itu sebagai konsekuensi atas jasa yang telah diberikannya kepada bangsa ini,” kata mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB itu di Bogor, Minggu (3/1/2010).
Frihatin melanjutkan, pengakuan terhadap jasa besar Gus Dur bagi negara ini telah ditunjukkan oleh segenap elemen bangsa dan sangat besarnya simpati masyarakat kepada Gus Dur, hingga ke tempat peristiahatan terakhir di Pesantren Tebuireng sebagai tanda pengakuan tulus masyarakat akan jasa besar Gus Dur.
“Saya kira pengakuan tertinggi terhadap anugerah pahlawan seorang tokoh justeru berasal dari masyarakat. Masyarakat sudah melakukannya untuk Gus Dur,” tegasnya.Hal senada diutarakan Akhmad Khoirul Umam, mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Ibn Khladun (UIKA) Bogor yang mendesak pemerintah untuk segera menganugerahkan pahlawan nasional kepada Gus Dur.“Jasa Gus Dur bagi bangsa ini, bahkan dunia internasional, teramat besar. Sudah sewajarnya pemerintah menganugerahi Gus Dur dengan tanda jasa pahlawan nasional,” kata alumnus Pesantren Daarul Rahman Jakarta ini.Ismat, tokoh Muslim Bogor menambahkan, turut mendukung rencana pemerintah memberikan anugerah Pahlawan Nasional kepada Gus Dur.“Anugerah pahlawan nasional terlalu kecil untuk tokoh sekaliber Gus Dur, mengingat besarnya jasa yang diberikan bagi dunia internasional, terutama dalam konteks toleransi antarumat beragama, perdamaian antarbangsa hingga masalah kemanusiaan universal,” kata Ismat.
ant
Gus Dur, Dari Kursi Pijat sampai Lagu Trio Macan
KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Dur, telah berpulang. Namun, beberapa barang pribadinya masih berada di ruang kerjanya, Kantor PBNU, kawasan Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (2/1), untuk mengingatkan kita padanya.
Seorang petugas keamanan Kantor PBNU, Chairul Taufik, hapal benar apa yang ada di dalam ruang kerja yang kini tertutup rapat dan digembok itu. Menurutnya, saat Gus Dur masih rutin berkantor di PBNU, ia memanjakan dirinya dengan beberapa barang pribadi, seperti kursi pijat listrik, tape, dan sebuah televisi. Barang-barang itu kini masih berada di ruang kerja Gus Dur.“Kursi kerja bapak bisa mijet otomatis. Jadi, kalau bapak pegal-pegal, kursinya tinggal dihidupin untuk mijet,” kata Chairul Taufik saat ditemui di Kantor PBNU, Sabtu (2/1).
Ia menambahkan, sebenarnya ada satu lagi barang pribadi Gus Dur, yakni audio book lengkap dengan headset-nya. Untuk barang ini, oleh Gus Dur selalu dibawa ke mana pun dia bepergian.Karena kedekatannya, Taufik mengaku tak percaya saat asisten pribadi Gus Dur, Sulaiman, mengatakan kepadanya bahwa bosnya itu telah tiada pada Rabu (30/12) pukul 18.45 WIB.
Taufik menceritakan, kala itu ajudan sengaja datang ke ruang kerja Gus Dur untuk mengambil kaset-kaset pribadi milik Gus Dur. “Pas Bapak meninggal, ajudan dan sopir Bapak datang ke sini mengambil kaset-kaset. Nggak tahu ambil kaset lagu apa, tapi sepertinya sih, musik yang klasik-klasik gitu,” ungkapnya.
Meski sudah tidak menjadi Ketua Umum PBNU, ruang kerja Gus Dur oleh pihak PBNU sengaja tidak boleh ditempati orang lain. Ruang kerja Gus Dur dengan satu meja dan sebuah televisi serta tape musik yang ada di atasnya itu memang khusus untuk Gus Dur.Di belakang meja terdapat sebuah kursi pijat listrik, sedangkan di depan meja ada tiga kursi warna hijau untuk menerima tamu. Satu rak berisi buku-buku bacaan Gus Dur juga masih berada di sana. Taufik mengatakan, kala lelah, terkadang Gus Dur tidur di lantai yang hanya beralaskan sebuah karpet tipis di depan meja kerjanya.
Taufik mengaku sangat kehilangan bosnya itu. Di mata Taufik, Gus Dur adalah sosok bos yang sangat memerhatikan bawahannya, termasuk para petugas keamanan Kantor PBNU.Ia mengaku terakhir bertatap muka dengannya saat Gus Dur datang ke Kantor PBNU menjelang hari Lebaran lalu. Kala itu, Gus Dur sempat mengecek persiapan keuangan tunjangan hari raya (THR) lebaran untuk bawahannya.Khusus dari Gus Dur, Taufik mengaku setiap petugas keamanan kebagian jatah THR Rp 1 juta dan itu rutin diberikan setiap tahunnya. “Gus Dur baik sama petugas keamanan semua. Dia orangnya merakyat dan sederhana. Kami dapat THR Rp 1 juta setiap orang. Kalau dari pihak kantor sendiri nggak sampai segitu,” ungkapnya.Karena latar belakang Gus Dur adalah pesantren, terkadang Taufik tak segan mencium orang yang disebut-sebut sebagai keturunan wali itu. “Kalau yang lain sudah pada salaman, security ikut cium tangan,” ujarnya.
Hafal Lagu SMS
Gus Dur juga pecinta musik sejati. Dari musik klasik, rock, pop, hingga dangdut. Bahkan lagu dangdut berjudul SMS yang dipopulerkan tiga cewek seksi Trio Macan pun dihafalnya. Khusus lagu Rhoma Irama, Gus Dur hampir seluruh lagu Raja Dangdur ini hafal.Kegemaran lagu dangdut ini disampaikan oleh sopir pribadi Gus Dur, Chairul Waton yang telah mengabdi selama 20 tahun. Chairul menceritakan banyak hal unik yang selama ini belum diketahui masyarakat luas, khususnya hobi musik dangdutnya Gus Dur.
Saat berkendara, Gus Dur lebih sering duduk di jok bagian depan atau di samping Chairul Waton yang sedang mengemudi. Untuk memuaskan hobinya terhadap musik dangdut, tangan Gus Dur pasti langsung memutar frekuensi radio yang ada di dashboard. “Sebelum ganti mobil, bapak hampir tiga tahun nyetel Radio Muara (radio dangdut ibukota),” kata Chairul di Jakarta, Sabtu (2/1).Ada beberapa lagu dangdut yang disukai dan bahkan Gus Dur hafal di luar kepala. Selain lagu hits SMS dengan penyanyi Trio Macan, semua lagu karya Rhoma Irama, Gus Dur juga hafal lagu Nyai Ronggeng yang ditenarkan kembali lewat penyanyi kontroversial Inul Daratista. “Saya juga heran Gus Dur bisa hafal lagu itu semua,” ujarnya.
Untuk lagu Nyai Ronggeng, ternyata ada kisah tersendiri. Gus Dur pernah mengatakan kepada Chairul bahwa lagu tersebut mengingatkan Gus Dur akan perjalanan hidup ibunya. “Lagu Ronggeng jadi mengingatkan bapak pada ibunya. Kata Gus Dur, dulu dari nggak punya sampai punya,” ungkapnya.Saat kami tanya kenapa Gus Dur bisa kepincut lagu-lagu Rhoma Irama. Chairul menjelaskan, bahwa Gus Dur itu adalah seorang sastrawan, yang mengerti makna dan isi dari sebuah syair lagu. Dan kebetulan, lagu-lagu karya Rhoma Irama memiliki syair-syair yang menurut Gus Dur sangat bagus. “Bapak mengerti benar maksud syair lagu-lagu Rhoma Irama,” tuturnya. persdanetwork/coz
Hormati Gus Dur, Syiah Bangil Gelar Tahlil
PASURUAN | SURYA Online – Ratusan umat Islam Syiah melaksanakan tahlil khusus untuk almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Masjid Astsaqolain Yayasan Pesantren Islam (YAPI) Kenep, Beji, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur (Jatim), Sabtu (2/1/2010).Pengajar Pesantren YAPI, Ustadz Segaf Assegaf, Sabtu, menjelaskan, tahlil khusus tersebut untuk menghormati KH Abdurrahman Wahid sebagai tokoh pluralis yang tidak membeda-bedakan kelompok.Ia menyebutkan, meski Gus Dur tidak pernah mendatangi Pesantren YAPI di Bangil, umat islam Syiah merasa telah dibelanya. Ustadz Segaf mengatakan, sewaktu umat Islam Syiah dituduh mempunyai Al Quran berbeda dari umat Islam lainnya, Gus Dur yang melakukan klarifikasi bahwa Al Quran umat Syiah sama dengan umat Islam lainnya.
Ustadz Segaf juga mengungkapkan, pemikiran-pemikiran Gus Dur juga sangat pas dengan pendapat-pendapat Islam Syiah, sedangkan perbedaan-perbedaan selama ini hanya keniscayaan semata.Ia menjelaskan, umat Islam Syiah di Bangil selama ini juga secara rutin melaksanakan, tahlil, khaul, serta peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.Sementara, Kepala YAPI Bangil, Ustadz Abdul Mukmin menjelaskan, YAPI Bangil pada awalnya berdiri di kawasan Kancil Mas Bangil sekitar tahun 1974.YAPI Bangil sebelumnya berada di Bondowoso. Namun pada tahun 1985 YAPI Bangil pindah ke Kenep, Beji, untuk santri putranya. Sedangkan santri putrinya masih berada di Kota Bangil.
Jumlah santri YAPI sebanyak 315 santri putra, dan 240 santri putri yang datang dari berbagai kota di Indonesia. Sementara YAPI hanya ada di Bangil, tidak membuka cabang di kota lain. Sistem pendidikannya mulai jenjang SMP hingga SMA serta Hauzah (khusus agama Islam).
Di Solo, Umat Lintas Agama Gelar Doa untuk Gus Dur
Jakarta – Di tengah hiruk-piruk perayaan pergantian tahun di jalanan, sekitar 150 orang duduk dengan khusyuk di gedung serba guna Gereja Kristen Jawa (GKJ) Manahan, Solo. Mereka adalah umat dari berbagai penganut agama yang mendoakan kepergian Gus Dur.
Acara doa antar-iman melepas kepulangan Gus Dur tersebut bertema meneruskan komitmen terhadap demokrasi, pluralitas dan humanisme. Dalam pandangan seluruh peserta acara, tiga hal penting itulah yang selalu diperjuangkan Gus Dur selama puluhan tahun hingga Gus Dur tutup usia.Dari Kalangan Konghucu diwakili oleh rohaniawan Adi Candra. Adi mengatakan, Gus Dur layaknya dewa atau malaikat bagi warga Konghucu di Indonesia.”Tanpa jasa Gus Dur, agama Konghucu akan tetap terdiskriminasi atau bahkan telah terhapus dari bumi Indonesia,” ujar Adi, Kamis (31/12/2009) malam.
Pendeta Eko Darsono yang mewakili Kristen Protestan menilai tulisan-tulisan Gus Dur dekade 80-an hingga 90-an menyadarkan para pemimpin agama tentang pentingnya kebersamaan. Ide-ide Gus Dur tentang kesamaan hak menyadarkan sebagian besar warga tentang hak politik. Sedangkan keberanian Gus Dur menentang kesewenangan, menjadi penyemangat untuk menghargai kemanusiaan.
Hal serupa juga ditegaskan oleh Bagyo Hadi dari Parisadha Hindu Dharma. Bagyo mengatakan, banyak tokoh yang kelihatan berani atau bergaya pemberani. Namun hanya Gus Dur tokoh yang keberaniannya tanpa tanding dan tanpa pamrih dalam memperjuangkan kebenaran dan persamaan hak. Sebagai rohaniawan Islam, dia mampu menembus segala batas sehingga bisa semua kalangan.Romo Heri Irianto dari kalangan Katolik dan Zainal Abidin dari perwakilan umat Islam mengatakan, Gus Dur adalah pejuang yang gigih untuk memberi tempat bagi semua orang dan membangun kerjasama dalam kehidupan berbangsa. Gus Dur menolak semua kekerasan atas dalih apapun, apalagi dalih agama.”Beliau orang yang selalu rindu perbaikan kehidupan bersama, didasari oleh kecintaan pada semangat kehambaan kepada Tuhan,” ujar Romo Heri.Acara ditutup dengan doa bersama para peserta acara yang dipimpin secara bergilirian oleh para rohaniawan tersebut. Sebelumnya dibacakan puisi oleh penyair Wary Wirana.
(mbr/rdf)
Oleh: M. Najibur Rohman *)
Beberapa waktu lalu (23/5/2006), kita sempat dikejutkan dengan keributan yang terjadi pada saat forum Dialog Lintas Etnis dan Agama di Purwakarta, Jawa Barat. Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) yang datang sebagai keynote speaker dalam diskusi itu dipaksa keluar forum oleh sekelompok massa gabungan dari FPI (Forum Pembela Islam), MMI (Majelis Mujahidin Indonesia), Forum Umat Islam dan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia).
Kejadian ini tentunya menjadi preseden buruk bagi pluralitas bangsa Indonesia. Iklim demokrasi seolah dikebiri dengan tindakan-tindakan main hakim sendiri, tidak menghargai pendapat dan sikap memaksakan kehendak. Karenanya, pasca kejadian di Purwakarta tersebut, gap antara massa ––katakanlah–– kelompok Islam radikal dengan pendukung Gus Dur ditambah kelompok Islam moderat lain sempat mewarnai pemberitaan di berbagai media massa.
Melihat ini semua, memang rasanya aneh untuk tidak mengatakan adanya gejala-gejala neo-Wahabisme yang semakin menukik tajam. Goncangan klaim kebenaran (truth claim), anarkisme atas nama agama, jihad (bi ma’na qital), terorisme dan sebagainya selalu menghiasi sikap keberagamaan umat Islam di Indonesia. Maka tak salah jika kemudian Muqsith Ghazali menyebutnya dengan Wahabisasi Islam Indonesia (Islamlib.com, 06/02/2006).
Menurut Muqsith, minimal ada empat ciri dalam gerakan-gerakan neo-Wahabi di Indonesia. Pertama, mereka selalu mempersoalkan Pancasila dan UUD 1945 karena dianggap bukan sebagai ijtihad Tuhan, melainkan ijtihad manusia. Kedua, adanya ciri penolakan terhadap sistem demokrasi yang dianggap sekuler. Ketiga, perjuangan legalisasi syari’at Islam yang lebih bersifat partikular. Dan keempat, penyangkalan terhadap tradisi atau adat.
Kalau kita cermati, gerakan-gerakan neo-Wahabi ini sangat cepat masuk dalam akar-akar kehidupan masyarakat. Barangkali itu disebabkan tawaran mereka yang riil, yakni “kembali kepada Allah”. Karenanya, yang menjadi sasaran mereka adalah masyarakat awam agama yang cenderung berpandangan “oposisi biner” dalam melihat globalisasi, kemajuan IPTEK yang dianggap semakin mengikis moralitas masyarakat dan “westernisasi” yang liberal dan sekuler. Ini dalam ranah kultural.
Dalam konteks “struktural”, doktrin-doktrin neo-Wahabi juga telah banyak disuntikkan melalui sistem aturan pemerintah, baik pusat maupun daerah. Dukungan terhadap Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) salah satunya. Selain itu, di beberapa daerah di Indonesia juga telah banyak diterbitkan peraturan daerah yang berbasis syari’at Islam seperti di Tangerang, Cianjur, Pamekasan, Maros, Tasikmalaya dan sebagainya. Menyikapi gejala ini, kita sebagai umat muslim memang mesti tersadar dan tanggap. Bahwa neo-Wahabisme mesti digugat karena telah menciderai jiwa Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Di sisi lain, sejarah Indonesia telah membuktikan bahwa paham Wahabi menorehkan “noda hitam”. Karena, seperti yang diungkap oleh William Montgomery Watt yang mengutip Henry Laoust, paham Wahabi yang dirintis oleh Muhammad Ibn Abdul Wahhab (1703-1783) ––yang saat itu “kongkalikong” dengan pemerintah Saudi Arabia di bawah Ibn Saud–– merupakan paham yang eksklusif. Watt menulis: Wahabi sebagai “a fresh edition of Hanbalite doctrines and of the prudent agnosticism of the traditional faith“.
Wahabi, seperti halnya beberapa pemikir yang seringkali dijadikan rujukan: Imam Ahmad Ibn Hanbal, Ibn Taimiyah dan Ibn Qayyim al-Jawziyah ingin menegakkan kembali Islam atas dasar “nash” yang dipahami secara tekstual dan melepaskan umat dari pemujaan terhadap pengetahuan. Namun, untuk mencapai itu, Wahabi seringkali memakai cara-cara kasar dan kekerasan. Karenanya, ketika tiga tokoh utama Wahabi Indonesia, yakni Haji Miskin dari Luhak Agam, Haji Piobang dari Luhak Lima Puluh Kota dan Haji Sumanik dari Luhak Tanah Datar, menyebarkan doktrin Wahabi di tempat kelahiran mereka, Minangkabau, akhirnya justru meletupkan perang Paderi karena mendapatkan perlawanan dari kaum Adat memegang teguh tradisi mereka.
Tentunya, kita bisa membayangkan, bagaimana jadinya ketika masyarakat Indonesia mengambil posisi keberagamaan dengan corak (neo) Wahabi? Saya berani menjamin, disintegrasi bangsa akan menjadi ancaman serius bagi kita. Ini dikarenakan tidak adanya pengakuan terhadap keberbedaan seperti halnya dalam ideologi Pancasila. Apalagi, jika perbedaan tersebut dikaitkan dengan interpretasi terhadap teks-teks (yang dianggap) suci. Mungkin, negara kita ini akan menjadi sangat “tertutup” dan bermetamorfosis sebagai “The New Taliban”.
Karena itu, harus ada langkah tegas, baik dari kelompok agamis, para pakar, pemerintah, aparat keamanan dan elemen-elemen lain dalam upaya mencegah terjadinya gelombang neo Wahabisme yang semakin besar. Pertama, meneguhkan kembali Pancasila. Di dalam sila-silanya, Pancasila telah mencerminkan diri sebagai nilai universal yang lintas simbol, agama, suku, etnis, golongan dan sebagainya. Keberbedaan sangat diakui dan dihargai di dalam dasar negara kita. Karena itu, kekuatan Pancasila ––meskipun cenderung tidak disukai di masa orba karena digunakan sebagai alat hegemoni–– mestilah diteguhkan kembali sebagai dasar negara yang abadi dan kokoh yang menyatukan seluruh masyarakat Indonesia dalam satu wadah bersama: INDONESIA.
Kedua, dalam konteks agama, harus dipisahkan antara ruang akidah dan muamalah. Ini penting untuk dilakukan karena seringkali kedua ruang tersebut dicampuradukkan sehingga menjadikan umat Islam terjebak pada penilaian hitam-putih atau salah-benar terhadap apa yang diyakininya. Untuk menancapkan penalaran semacam ini maka diperlukan faktor-faktor pendukung seperti aspek pendidikan, pelatihan-pelatihan dan advokasi kepada masyarakat.
Ketiga, menciptakan piranti hukum yang jelas terhadap berbagai tindak anarkis yang seringkali dipakai kelompok-kelompok neo Wahabi. Jika selama ini aparat keamanan seringkali enggan menindak ketika melihat berbagai aksi neo Wahabi yang penuh “darah”, maka sekarang harus diubah. Karena, secara hukum kita tidak diperbolehkan main hakim sendiri untuk menutup paksa gereja, bertindak kasar terhadap aliran minoritas (semisal Ahmadiyah dan Lia Eden), penutupan tempat-tempat yang dianggap berbau maksiat dan sebagainya. Tidakkah semua itu menjadi tugas aparat negara?
Keempat, ada ruang dialog yang dialogis. Kasus pengusiran Gus Dur di Purwakarta membuktikan belum adanya ruang dialog yang dialogis tersebut. Dengan dialog tersebut, maka akan ada akomodasi pendapat dari berbagai kalangan agar dapat “sharing idea” di dalam sebuah forum atau arena tertentu agar saling memahami problem yang dibahas dengan komprehensif dan tidak asal tuding.
Kelima, memperkuat basis kultural masyarakat dengan model keagamaan yang arif dan bijak, bukan model ekstrim dan radikal. Selama ini, aspek ini seringkali dilupakan. Karena, ide-ide progresif lebih berorientasi akademik dari pada orientasi praksis di lapangan. Sehingga, ide-ide yang dicetuskan dalam rangka membentuk Islam yang humanis justru tidak mampu ditangkap oleh masyarakat karena kesulitan “menerjemahkan” gagasan yang “melangit” ke dalam gagasan yang “membumi”. Bahkan, belum-belum masyarakat sudah banyak yang apatis karena adanya kesulitan tersebut.
Wal akhir, seperti “pesan” Allah swt, kita mesti berlomba-lomba menjadi umat yang terbaik (khairu ummat) yang mampu memaknai Islam dengan humanis, toleran dan tentunya penuh kekritisan. Bukan berislam dengan corak neo-Wahabi yang keras, sempit dan intoleran. Wallahu a’lam.
*) M. Najibur Rohman, pemimpin redaksi majalah Justisia Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang. Alumnus PP at-Taslim Lasem, Jawa Tengah.
Meski Tertidur, Bisa Ceritakan Isi Khutbah Jumat
Berbicara keunikan sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memang tak ada habisnya. Tak hanya pandai dan humoris, guru bangsa itu konon juga tahu apa yang terjadi di sekitarnya meski ketika itu tengah tidur. Berikut laporannya.
ADALAH pengamat sosial Ahmad Sobari (Kang Sobari) yang tertarik dan mengagumi almarhum Gus Dur dari kebiasaan tidurnya. Padahal dia sendiri adalah intelektual dan kebetulan mengikuti faham Muhammadiyah yang dikenal tidak percaya pada hal-hal bersifat mistis dan aneh-aneh. Kang Sobari sebagai intelektual muda saat itu, pernah mendapat kesempatan mengikuti kunjungan Gus Dur ke beberapa negara di Timur Tengah. Dalam satu waktu ketika menjalankan shalat jumat di salah satu masjid di Timur Tengah, menurut penuturan Kang Sobari dalam berbagai kesempatan, setelah shalat sunah dua rakaat, Gus Dur langsung tertidur. Meski sambil duduk bersila, dia tampak lelap sehingga terlihat sama sekali tidak mendengarkan khutbah jumat yang disampaikan khatib di masjid tersebut.
Sampai khutbah berakhir, Gus Dur baru bangun tidur dan mengikuti shalat berjamaah. Ketika usai shalat, Kang Sobari berceletuk, “Khutbah bahasa Arab semua, saya tidak ngerti, gak dong maksudnya,” ujar Sobari saat itu.Di luar dugaan, Gus Dur kemudian menceritakan isi khutbah dalam bahasa Arab tersebut dari awal sampai akhir. Kang Sobari merasa heran ternyata Gus Dur mengikuti secara runtut dari awal sampai akhir dengan menirukan khutbah dalam bahasa Arab.
Dari situ Kang Sobari mengakui Gus Dur punya kelebihan atau daya linuwih meski dalam keadaan tidur. Tentu saja selain kelebihan utama Gus Dur dalam soal pemikiran. Jadilah Kang Sobari selalu dekat dengan Gus Dur dan bapak pluralisme itu juga menganggap Kang Sobari orang dekatnya.Tak heran ketika Gus Dur menjadi Presiden Ke-4 RI, Kang Sobari yang dipercaya menjadi Pemred LKBN Antara, begitu dekat dengan Gus Dur. Selain itu, juga dekat dengan komunitas Nahdlatul Ulama (NU) dan kelompok lain yang merapat ke Gus Dur.
Melebihi
Di berbagai kesempatan menjadi panelis diskusi bersama Gus Dur, cendekiawan muslim, almarhum Dr Nurcholis Madjid (Cak Nur) juga sudah tidak asing dengan kebiasaan tidur Gus Dur di atas meja pembicara. Pernyataan dan pendapat yang disampaikan tidak ada bedanya jika Gus Dur tidak tidur.Artinya Cak Nur tetap bicara lantang dan bersemangat tanpa melihat patner diskusinya tidur atau tidak. Sebab meski tidur, ketika diberi kesempatan berbicara untuk menanggapi atas pernyataan panelis lain, juga dijawab secara lengkap dan tuntas.Dari kebiasaan tidur ketika berada di mimbar panelis, Cak Nur dalam satu kesempatan mengaku sudah terbiasa, dan Gus Dur tetap bisa menanggapi secara keseluruhan sehingga tidak memengaruhi semangat berdiskusi.Artinya Cak Nur tetap menyampaikan pendapat secara serius, argumentatif, dan tidak asal karena lawan bicara tidur. Yang mengherankan pendapat Gus Dur selalu melebihi yang diperkirakan. Misalnya, dalam memberi referensi Gus Dur selalu menambahkan hal yang sebelumnya tak disampaikan ke audensi. Tidak jarang pemandu diskusi, bahkan Cak Nur sendiri mengingatkan para penanya menyampaikan pertanyaan yang ditujukan pada Gus Dur meski dalam keadaan tidur. Nanti akan terjawab meski tidak diulang oleh moderator.
Ketika Gus Dur giliran berbicara, suasana diskusi biasanya menjadi semarak lantaran joke-jokenya keluar dan menghidupkan suasana diskusi. Yenny Wahid, putri Gus Dur mengaku harus mengeraskan alat bantu pendengar untuk menjaga agar ayahnya tidak tertidur. Apalagi jika dalam acara resmi kenegaraan saat menjabat Presiden RI, dialah yang paling sibuk menjaga ayahnya agar tidak tertidur.
Kebiasaan tidur dalam perjalanan, ternyata menyebabkan Gus Dur tidak pernah lelah dalam menempuh perjalanan jarak jauh. Bayangkan saja, Gus Dur sering melakukan perjalanan darat keliling Jawa, tanpa istirahat cukup.
Bambang Susanto, asisten bidang media mengakui ketika perjalanan jarak jauh, Gus Dur selalu bisa tidur dalam kendaraan. Beliau bangun ketika hendak istirahat makan dan shalat. Selebihnya digunakan tidur atau mendengarkan musik. Wajar jika ajudan yang menemani merasa capek karena tidak bisa mengikuti Gus Dur yang mudah tidur dalam perjalanan.
Ilmu Laduni
Kalau nabi dan rasul Allah diberikan mukjizat serta para wali Allah diberikan karamah, di kalangan NU dikenal adanya kiai atau tokoh yang sangat dekat dengan Allah SWT dan diberikan karunia berupa ilmu laduni.Di kalangan warga nahdliyyin, Gus Dur disebut-sebut tokoh yang memiliki ilmu laduni. Dia tahu apa yang akan terjadi kemudian atas sesuatu hal sebelum orang lain mengetahuinya. Benarkah demikian?
Ada pengalaman menarik yang dialami Imam Nachrawi, ketua PKB Jatim kubu Cak Imin atas ilmu laduni yang dimiliki Gus Dur. Imam yang dihubungi Suara Merdeka, Minggu (3/1) petang menyatakan, pengalaman menarik itu terjadi sekitar tahun 1995 lalu.
Imam menceritakan, pada 1995 bertempat di Cibubur, Pengurus Besar (PB) PMII menggelar Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas). Ada banyak tokoh yang diundang sebagai narasumber. Di antaranya Prof Dr Jimly Assidiqie dan Gus Dur. “Saat itu, moderator mempersilakan Prof Jimly menyampaikan materi lebih dulu,” katanya.Saat Jimly yang dikenal pakar hukum tata negara itu menyampaikan panjang lebar materi mengenai transisi demokrasi dan positioning gerakan mahasiswa, Gus Dur yang duduk di meja pemateri bersama narasumber lainnya, terlihat tertidur. Bahkan, tak jarang tidur Gus Dur disertai suara dengkuran.
“Ketika tiba giliran Gus Dur menyampaikan materi, moderator membangunkan tokoh NU itu. Gus Dur langsung ngomong secara detail dan panjang lebar. Bahkan, Gus Dur membahas sangat tajam atas materi yang disampaikan Prof Jimly sebelumnya. Hal itu membuat banyak peserta Muspimnas PMII terheran-heran,” katanya. Imam mengatakan, realitas itu dia ketahui secara langsung dan makin meneguhkan kepercayaan bahwa Gus Dur memang memiliki ilmu laduni. “Gus Dur memiliki pemahaman atas banyak masalah jauh melebihi orang lain. Karena itu, forecasting-nya jauh ke depan dan tepat,” ujarnya.Contoh lainnya, kata Imam, adalah pemikiran Gus Dur tentang pentingnya menjalin hubungan dengan negara Yahudi, Israel. Pemikiran ini ditentang banyak kelompok Islam lain di Indonesia. Padahal, kata Imam, pemikiran Gus Dur didasarkan pada kepentingan bahwa menjalin hubungan langsung dengan Israel akan memudahkan desakan Indonesia kepada negara Yahudi agar menghentikan konflik dengan Palestina. “Dengan membuka hubungan diplomatik, ya otomatis membuka dialog dan diplomasi,” tukasnya.
Apakah ada tokoh lain yang memiliki ilmu laduni? Sepengetahuan Imam Nachrawi, KH Ali Mas’ud dari Pagerwijo, Kabupaten Sidoarjo adalah sedikit kiai dan tokoh NU yang disebut-sebut memiliki ilmu laduni. Contohnya, ketika terjadi banjir besar di kawasan Kali Porong Sidoarjo pada 1980-an, Kiai Ali datang ke pinggir daerah aliran sungai itu. Dengan bersenjatakan lidi sapu, dia mengalihkan air bah Kali Porong agar tak menerjang kawasan permukiman dan pertambakan penduduk. “Gus Dur dan beberapa tokoh lainnya di NU memang memiliki kemampuan intelegensi dan ilmu yang jauh lebih tinggi dibanding tokoh lainnya. Tokoh semacam ini biasanya dikaruniai ilmu laduni,” tegas Imam Nachrawi.
Ilmu laduni juga biasanya dianugerahkan Tuhan Yang Maha Kuasa kepada kiai-kiai yang bergerak di tarekat. Disebut-sebut bahwa KH Asrori Al Ishaqi, pimpinan tarekat Kedinding Lor Surabaya juga memiliki ilmu laduni. Ilmu itu diturunkan ayahnya yang juga penggagas tarekat Kedinding Lor Surabaya, KH Utsman. Kiai Utsman berguru soal tarekat kepada guru tarekat Rejoso KH Romli Tamin yang juga ayahanda KH Mustain Romli dan KH Dimyati Romli. (A Adib, Ainur Rohim-62)
Gelar Pahlawan setelah Nama Bersih
JAKARTA – Kontroversi seputar impeachment terhadap KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terjadi pada Sidang Istimewa MPR tahun 2001 lalu harus dituntaskan agar tidak menodai gelar pahlawan nasional bagi guru bangsa tersebut.
Sebab, menurut pengamat politik dan peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi, impeachment terhadap Gus Dur masih belum jelas. ”Hingga kini tidak ada keputusan hukum Buloggate I dan Bruneigate pada Presiden Ke-4 RI tersebut,” katanya, Minggu (3/1).Dia berpendapat, sebaiknya pemulihan nama baik Gus Dur dan pemberian gelar pahlawan nasional bisa dilakukan secara simultan. Dua hal tersebut bisa dilakukan secara bersamaan. Idealnya rehabilitasi diberikan, baru gelar pahlawan. ”Jika gelar telanjur diberikan, tapi tidak ada rehabilitasi terhadap beliau, maka gelar bisa ternoda,” tambahnya.Burhan menjelaskan, bagaimana pun proses impeachment terhadap Gus Dur yang dianggap tersandung kasus bulog, sangat debatable dan politis, karena terjadinya konspirasi politik di Senayan saat itu. ”Sampai detik ini tidak ada proses hukum yang membuktikan keterlibatan Gus Dur dalam kasus Buloggate dan Bruneigate, sehingga lebih terkesan politis sekali alasan pelengseran Gus Dur saat itu.”
Dihubungi terpisah, pengamat politik Tjipta Lesmana mengatakan, Gus Dur perlu mendapat rehabilitasi namanya terlebih dulu sebelum mendapat gelar pahlawan nasional.Tahlil Sementara itu, peringatan tujuh hari wafatnya Gus Dur digelar dalam dua versi waktu berbeda antara yang di Ciganjur, Jakarta, dengan yang di Jombang, Jawa Timur.“Versi Jakarta peringatan tujuh harinya digelar pada Selasa (5/1) malam, sementara versi Jombang pada Rabu (6/1) malam,” kata keponakan Gus Dur, Saifullah Yusuf, di Surabaya, Minggu.Meski berbeda waktu, menurut Saifullah, hal itu sudah disepakati oleh pihak keluarga, baik yang ada di Ciganjur maupun di Tebuireng, Jombang. “Khusus di Jombang, nanti saya dan Pak Gubernur (Soekarwo) akan datang dalam acara tahlilan tujuh hari Gus Dur di Tebuireng,” kata Wakil Gubernur Jatim itu.Mengenai banyaknya peziarah yang sampai membawa tanah uruk makam Gus Dur, dia menganggap sebagai hal yang wajar dan tidak perlu ada larangan.Menurut pandangan saya, itu bukan perbuatan syirik. Wajar, masyarakat bersikap seperti itu untuk mencari berkah. Tidak perlu dilarang,” kata pria yang akrab disapa Gus Ipul itu.
Ia menambahkan, sikap seperti itu lazim dilakukan warga nahdliyin yang menganggap sesuatu yang melekat pada diri seorang wali atau ulama besar bisa mendatangkan berkah. Apalagi, lanjut Gus Ipul, semasa hidupnya Gus Dur sering kali melakukan ziarah ke makam para wali, baik yang ada di Indonesia maupun luar negeri.
Bahkan, sebelumnya jenazah Gus Dur sempat akan dikebumikan di Makam Auliya, Dusun Tambak, Desa Ngadi, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Jatim dan Ciganjur, Jakarta. Namun akhirnya keluarga memutuskan pemakaman mantan Ketua Umum PBNU itu di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Kamis (31/12) lalu.(di,ant-49)
Kubu Yenny Akan Resmikan PKB Gus Dur
JAKARTA- Yenny Wahid akan memotori pembentukan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang memperjuangkan visi dan misi ayahnya, KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur. Rencananya, PKB baru ini akan diresmikan saat Muktamar, Maret atau April mendatang.”Yang pasti akan ada metamorfosis dari PKB yang ada, yang selama ini disingkirkan oleh Muhaimin,” kata juru bicara yang ditunjuk oleh Yenny Wahid, Imron Rosyadi Hamid, Minggu (3/1).
Namun demikian, lanjut Imron, pihaknya belum menentukan nama apa yang akan digunakan PKB metamorfosis tersebut. Sementara itu beberapa nama telah beredar, antara lain PKB Gus Dur, PKB Perjuangan dan PKB Indonesia.
”Apa pun namanya, partai akan betul-betul mengusung semangat dan visi Gus Dur,” kata dia.PKB hasil metamorfosis, kata Imron, nantinya juga akan menampung massa yang berada di luar Nahdlatul Ulama, seperti kalangan di luar Islam. Dalam catatannya, PKB Muhaimin dalam Pemilu 2009 telah kehilangan 70 persen suara dibandingkan dengan Pemilu 2004. ”Dia hanya mendapat 30 persen suara,” katanya.
Terpisah, kubu Muhaimin Iskandar menilai upaya kubu Yenny Wahid untuk meresmikan PKB versi baru hanyalah memanfaatkan momentum berpulangnya Gus Dur. Menahan Diri Menurut salah satu Ketua DPP PKB pimpinan Muhaimin, Abdul Kadir Karding, sebaiknya seluruh pihak menahan diri karena suasana masih berkabung. ”Ini tiba-tiba muncul kan memanfaatkan momentum dan energi politik Gus Dur saja,” kata Abdul Kadir, Minggu (3/1).Menurut Abdul Kadir, sebaiknya semua pihak mendoakan Gus Dur agar arwah mantan presiden itu nyaman dan nikmat di alam sana. ”Kalau begini, bisa membebani Gus Dur di alamnya sana,” katanya.
Sementara mengenai bantahan kubu Yenny soal wasiat Gus Dur kepada Muhaminin untuk menyatukan PKB, Abdul Kadir meminta hal itu ditanyakan langsung ke Muhaimin.”Lebih baik tanya ke Muhaimin. Tapi namanya juga wasiat, ya harus disampaikan. Kalau tidak disampaikan, kan juga salah,” ujarnya sambil mempersilakan siapa pun yang merasa mendapat wasiat dari Gus Dur untuk menyampaikannya.(dtc-76)
Gusdur dan Penolakan Perda Syariat
Gusdur pernah menolak penerapan syariat Islam di beberapa daerah, penolakan ini bagi saya masih bisa dimaklumi, toh yang ditolak bukan penerapan syariat secara individu, seperti shalat, puasa, dll. tapi lebih dekat pada penerapan syariat dalam ranah publik, seperti potong tangan, rajam, dll.Dasar penolakan ini bagi saya kembali pada sebuah alasan penting, yaitu keadaan umat Islam Indonesia yang belum memenuhi syarat untuk menerapkan syariat Islam, Alasan ini muncul karena keadaan ekonomi masyarakat Indonesia masih carut marut, kita bisa ambil contoh bayangan, anggap saja suatu pemerintah daerah ingin menerapkan hukum potong tangan bagi pencuri, sedangkan keadaan masyarakatnya masih sangat miskin, dari saking miskinnya, sampai-sampai alasan mencuri menjadi sebuah keprihatinan, karena kalau tidak mencuri mereka tidak ada yang bisa dimakan, jika keadaan masyarakatnya seperti ini, apakah adil menerapkan potong tangan bagi mereka? Tentu tidak, malah bisa jadi mereka akan sangat membenci Islam. Hal seperti ini pernah terjadi pada masa Umar, dulu beliau menghentikan penerapan hukum potong tangan, karena umat Islam sedang mengalami kemiskinan dan kelaparan (’amul maja’ah), alasan yang digunakan Umar ketika itu adalah karena keadaan umat Islam (kemiskinan) tidak memenuhi syarat untuk diterapkannya syariat potong tangan. Nah! Bagi saya yang diinginkan Gusdur sebenarnya (wallahu a’lam) menganjurkan masyarakat untuk mempersiapkan terlebih dahulu syarat-syarat penerapan syariat, yaitu dengan cara meningkatkan kehidupan ekonominya, setelah itu mereka sendiri yang akan membutuhkan peraturan yang benar-benar bisa membuat pencuri kapok, apa itu? ya! potong tangan. Selama ini yang terjadi di Negara-negara yang telah atau yang masih mau menerapkan syariat Islam, cenderung memaksakan hukuman ala Islam, sehingga kesannya seakan-akan Islam lah yang butuh umat dan bukan umat yang butuh Islam. Islam itu tidak butuh potongan tangan (hukum mencuri), tidak butuh orang yang mati berdarah-darah karena dilempari batu (hukuman pezina yang punya pasangan nikah), lagi pula buat apa Islam mengumpulkan potongan tangan orang-orang yang panjang tangan? Yang diinginkan Islam sebenarnya adalah keamanan dan ketenangan bagi mereka yang punya harta, dan filosofis hukuman seperti ini adalah, ketika saya dilarang (oleh syariat Islam) untuk mencuri barang orang lain, maka orang lain pun terkena larangan yang sama untuk tidak mencuri barang milik saya, sama juga ketika saya dilarang mendekati istri orang, maka orang lain pun terkena larangan untuk mendekati istri saya.
Jadi, menurut saya, penolakan Gusdur terhadap Perda penerapan syariat Islam bukan penolakan yang bersifat totalitas atau menganggap syariat Islam tidak baik, tidak! Tapi lebih pada kondisi masyarakat yang belum memenuhi syarat, kondisi masyarakat kita masih berada di bawah standar syarat menerapkan syariat Islam, nanti kalau seumpama masyarakat kita sudah hidup sejahtera, ekonomi tercukupi, masyarakat sendirilah yang akan meminta untuk diterapkan syariat Islam, dan saya kira orang-orang yang tidak terbersit sedikit pun untuk mencuri atau untuk berzina akan sepakat, karena hal ini ibarat membuat benteng bagi kehormatannya agar tidak diinjak-injak orang lain.
| Sedikit Dari Yang Saya Kenal Tentang Gus Dur (KH.Abdurrahman Wahid) |
| Kamis, 31 Desember 2009 |
Oleh: Prof. Dr. H. Imam Suprayogo
Saya mengenal nama Gus Dur sudah lama, yaitu sejak pertengahan tahun 1970-an. Ketika itu, Gus Dur pulang dari Baghdad, dan karena belum dinyatakan lulus dari belajarnya di Irak, ia mau mengambil kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Oleh karena, Gus Dur tidak memiliki dokumen yang cukup, maka niatnya itu gagal, sesuai dengan peraturan, tidak bisa diterima.
Mendengar bahwa Gus Dur tidak bisa diterima, kuliah tingkat doctoral di IAIN Sunan Ampel Surabaya, maka Pak A. Malik Fadjar, yang waktu itu menjabat sebagai Sekretaris Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang menemuinya. Pak Malik menawarkan agar Gus Dur, meneruskan saja di IAIN Malang. Ketika itu, IAIN Sunan Ampel Malang sudah membuka program doctoral. Namun Pak Malik Fadjar tidak mempersilahkan Gus Dur menjadi mahasiswa doctoral melainkan justru diangkat sebagai pengajar di tingkat doctoral itu.
Atas tawaran Prof. Malik Fadjar, M.Sc, Gus Dur menerima, hanya dia mengaku tidak punya pangkat sebagai persyaratan sebagai pengajar di tingkat doctoral. Pak Malik kemudian menyanggupi, memberi pangkat Gus Dur, golongan IV/a. Mulai dari sini, KH.Abdurrahman Wahid mengajar di IAIN Malang tingkat doctoral, berstatus sebagai dosen luar biasa selama beberapa tahun. Gus Dur berhenti memberi kuliah, karena pindah ke Jakarta. Namun secara resmi, Gus Gur belum pernah menyatakan berhenti atau diberhentikan sebagai dosen di IAIN Malang. Pernyataan ini pernah saya sampaikan, tatkala menyambut Gus Dur sebagai Presiden, ketika berkunjung di UIN Maliki Malang.
Sejak itu, Gus Dur memiliki banyak kegiatan di Malang, terutama terkait dengan kegiatan kerukunan umat beragama. Selain ke IAIN Malang, Gus Dur biasanya juga menemui kawannya, di antaranya Romo Yansen, pengajar di STFT Malang. Gus Dur bersama Pak Malik Fadjar sering menyelenggarakan penelitian bersama dengan umat agama lain, seminar, kerjasama sosial kemasyarakatan sebagai bagian dari kegiatan bersama umat berbagai agama di Malang. Beberapa kegiatannya dilakukan di Paniwen, Sumber Pucung dan beberapa tempat lainnya.
Lewat Pak Malik Fadjar, saya banyak ditugasi untuk mengetik tulisan-tulisan Gus Dur berupa laporan kegiatannya. Selain itu, saya juga ditugasi untuk menyusun beberapa laporan, misalnya membuat monografi kerukunan umat beragama, termasuk juga menyusun abstraks dari beberapa laporan kegiatan sebagai bahan seminar, dan beberapa tulisan lainnya tentang kegiatan kerukunan umat beragama tersebut.
Setelah Gus Dur pindah ke Jakarta dan banyak kegiatannya di LP3ES dan juga di tempat lainnya, saya oleh Pak Malik Fadjar seringkali diajak mengikuti acara-acara penting yang diselenggarakannya. Pada waktu-waktu tertentu, Gus Dur bersama koleganya mengadakan diskusi terbatas, yang diikuti antara lain oleh Pak Dawam Rahardjo, Pak Muchtar Buchori, Pak Muslim Abdurrahman, Pak Djohan Efendi, Pak Utomo, Pak Malik Fadjar dan lain-lain. Ketika itu, saya masih sangat yunior, sehingga peran saya hanya sebatas pendengar, dan jika diperlukan, membantu menulis laporan dan mengetiknya.
Pernah pada suatu ketika, sekitar akhir tahun 1983, diadakan diskusi terbatas, —–kalau tidak salah, mengambil tempat di rumah Pak Muchtar Buchori di Jakarta. Diskusi yang diikuti antara lain oleh beberapa tokoh yang saya sebutkan di muka, membicarakan dua hal penting, yaitu pertama, mendiskusikan rencana-rencana kegiatan Pak Nurcholis Madjid setelah pulang dari Amerika Serikat. Para tokoh tersebut, tidak ingin sepulang dari Amerika, kegiatan Nurcholis Madjid hanya sebatas berceramah dari satu tempat ke tempat lain.
Kedua, adalah berdiskusi tentang bagaimana menyusun skenario agar pada Muktamar NU yang sebentar lagi ketika itu (1984) akan digelar di Asem Bagus, Situbondo, Gus Dur terpilih sebagai ketua umum PB NU. Pada saat itu, para tokoh memandang bahwa untuk memajukan dan mendinamisasikan NU, maka Gus Dur harus didorong sebagai pucuk pimpinannya. Ternyata, muktamar NU di Situbondo, benar-benar berhasil mengangkat cucu pendiri NU yang pernah belajar di Mesir dan juga di Baghdad ini, sebagai Ketua Umum PBNU.
Karena ketika itu, saya masih tergolong sangat yunior dibanding para tokoh tersebut, maka sekalipun memiliki idea atau pandangan, saya tidak berani menyampaikannya. Namun, ketika itu saya merasa agak gelisah, apabila Gus Dur benar-benar berhasil menduduki posisi sebagai Ketua Umum PBNU. Kegelisahan saya itu muncul tatkala membayangkan antara Gus Dur sendiri dengan umat yang akan dipimpinnya. Sekalipun saya tahu, bahwa Gus Dur adalah cucu pendiri NU, akan tetapi saya melihat ada jarak yang sedemikian jauh dengan umat yang akan dipimpinnya.
Dalam pandangan saya, jika Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU, maka saya membayangkan NU akan menjadi bagaikan angsa. Seekor angsa memiliki badan besar, kepala kecil, tetapi lehernya sedemikian panjang. NU akan seperti angsa itu. Maksud saya, jika Gus Dur menjadi ketua PBNU, maka antara Gus Dur yang pikiran-pikirannya sedemikian cemerlang, dinamis, inovatif, sangat luas, dan sedemikian modernnya akan menjadi pimpinan warga NU yang kebanyakan ada di pedesaan. Antara Gus Dur dan warna NU yang tinggal di kabupaten/kota, kecamatan, desa, dan bahkan di pinggiran-pinggiran laut, pulau kecil, dan di pedalaman, akan berjarak yang sedemikian jauh. Saya umpamakan, antara Gus Dur dengan kebanyakan umatnya, bagaikan kepala dengan badan angsa, dipisahkan oleh leher yang sedemikian panjang.
Jika benar-benar dipimpin Gus Dur, NU akan menjadi bagaikan angsa, tidak bisa bergerak cepat, karena badannya terlalu besar, tetapi suara kerasnya terdengar kemana-mana. Apa yang saya gambarkan tersebut, saya lihat kemudian ada benarnya. Pikiran-pikiran Gus Dur tentang agama, politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan lain-lain selalu berjarak dengan umatnya yang sedemikian besar jumlahnya dan bervariatif itu. Oleh karena itu maka seringkali terjadi, pikiran-pikiran Gus Dur tidak sambung dengan masyarakat bawah yang dipimpinnya. Saya ketika itu berpikir dan berdoa, bagaimana agar antara kepala angsa dan badannya, sebagai gambaran NU, semakin mendekat. Artinya, umat berhasil semakin bisa memahami dan mengikuti pikiran-pikiran cerdas Gus Dur. Selain itu, saya juga berdoa agar kepala angsa juga semakin besar. Artinya, tokoh-tokoh sekaliber Gus Dur di NU semakin banyak.
Tatkala menjabat sebagai Presiden, Gus Dur pernah saya undang ke UIN Maliki Malang. Ketika itu UIN Maliki Malang masih berstatus sebagai sekolah tinggi, yaitu STAIN Malang. Presiden yang sekaligus juga Kyai besar ini, hadir untuk memberikan ceramah, mengenai pandangannya tentang pendidikan Islam di masa depan, dan juga sekaligus meresmikan penggunaan Ma’had al Aly, Sunan Ampel, STAIN Malang. Prasasti peresmian itu, sampai sekarang masih ada di depan Ma’had, dan saya kira, selamanya tidak akan pernah hilang dari tempat itu. Gus Dur akan tetap dikenang oleh warga kampus UIN Maliki Malang, baik sebagai dosen yang belum pernah berhenti, tokoh umat, cendekiawan, dan sebagai Presiden RI yang pertama hadir di kampus UIN Maliki Malang.
Satu hal yang tidak pernah akan saya lupakan dari Gus Dur`, ialah pesan beliau terkait STAIN Malang yang kini telah berubah menjadi UIN Maliki Malang. Pesan itu menyangkut konsep memadukan bentuk lembaga pendidikan Islam, antara ma’had dengan kampus. Konsep itu, oleh Gus Dur dianggap sangat tepat. Sebelum pulang dari meresmikian Ma’had STAIN Malang, Gus Dur singgah di pendopo Kabupaten Malang untuk santap siang. Pada kesempatan santap siang itu, beliau berpesan kepada saya, dengan mengatakan : bentuk lembaga pendidikan ingkang panjenengan kembangaken sampun leres. Memadukan antawis tradisi perguruan tinggi lan pesantren, utawi ma’had. Sampun ngantos diubah-ubah, puniko sampun leres, ateges sampun kepanggih bentuk lembaga pendidikan ingkang tepat. Menawi wonten persoalan, kulo saget dikabar, Lan menawi tindak Jakarta, monggo mampir dateng istana. Ketika itu, segera saya jawab, inggih, insya Allah, matur nuwun, dalem isthoken.
Pesan Presiden KH Abdurrahman Wahid yang disampaikan dengan menggunakan Bahasa Jawa kromo——bahasa halus, terkait dengan konsep pendidikan yang menggabungkan antara tradisi pesantren dan kampus itu, tidak pernah saya lupakan. Pesan Gus Dur tersebut juga dikuatkan oleh Ibu Sinta Nuriyah yang ketika itu duduk di sebelah suaminya. Bersama Gus Dur dan Ibu Sinta Nuriyah, Pak Djohan Efendi, Pak Muslim Abdurrahman, dan beberapa pejabat lain, termasuk saya sebagai pimpinan STAIN Malang. Sekalipun Gus Dur sudah wafat, hari Rabu, tanggal 30 Desember 2009 jam 18.45 di Jakarta, saya bertekad mewujudkan pesan-pesan itu, hingga kampus ini ke depan semakin maju dan sempurna. Atas wafatnya Gus Dur kita semua berduka, dan berdoa, semoga Gus Dur ditempatkan oleh Allah swt., pada tempat yang mulia, di sisi-Nya. amien.
Penulis adalah Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim
Gus Dur AminRais dan
Hubungan Pak Harto dengan umat semakin akrab. Tapi, tak begitu dengan tokoh NU, Abdurrahman Wahid, dan tokoh Muhammadiyah, Amien Rais.
Tabuhan beduk serta alunan takbir Pak Harto yang menyentuh dan
menyejukkan, di malam lebaran silam, bisa ditafsirkan macam- macam. Itulah, agaknya, pertama kali Pak Harto digambarkan telah melebur langsung di tengah umat dan menunjukkan keberpihakannya kepada umat mayoritas di negeri ini. Sehingga, tak heran bila ada yang menilai, makin mengental saja era yang kini kerap dibilang “bulan madu antara pemerintah dan umat Islam” itu. Betapa indahnya, memang, hasil “puncak pendekatan” Pak Harto kepada umat Islam itu. Dan, itu akan menambah kecintaan rakyat kepada beliau,” kata Abdul Gafur, salah seorang ketua Golkar, mengomentari malam takbiran itu kepada FORUM.
Akrab dengan umat, tapi tampaknya tak begitu yang terjadi antara Pak Harto dan dua tokoh dari basis Islam terbesar, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, yakni Abdurrahman Wahid dan Amien Rais. Dengan alasan, kendati Ketua PBNU Abdurrahman Wahid, sudah bersalaman dengan Mbak Tutut, salah seorang ketua Golkar, tampaknya ia belum juga bisa ”diterima” Pak Harto. Keadaan yang sama tampaknya juga dialami Amien Rais, Ketua Umum PP Muhammadiyah. Ia disebut-sebut akan mundur dari Dewan Pakar ICMI. “Dia akan dipindahkan ke Dewan Penasihat,” ujar seorang sumber tentang Amien. Bahkan, sumber lain enyebutkan, doktor lulusan Universitas Chicago, Amerika Serikat, itu sudah membuat surat pengunduran diri. Tak hanya dari jabatan ketua Dewan Pakar, tapi juga dari ICMI. Konon, mulanya adalah perdebatan sengit di tubuh ICMI. Khususnya dalam sebuah sidang Dewan Pakar organisasi itu, menyusul pernyataan keras Amien di berbagai media massa. Kala itu, demikian sumber FORUM memaparkan, sejumlah anggota meminta Amien memperlunak pernyataan-pernyataannya. Sejumlah pendapat dan komentarnya terhadap situasi mutakhir di dalam negeri, khususnya tentang konsesi tambang milik Freeport, di Irian Jaya, memang sangat lugas. Sedang dalam wawancaranya dengan FORUM, sehubungan dengan sejumlah kerusuhan yang terjadi, misalnya, Amien antara lain mengatakan, “Pengusaha kecil hanya bisa hidup melata tanpa daya di bawah pohon itu. Bahkan, untuk menghirup sinar matahari pun tidak bisa. Itu jelas sangat memalukan. Betul-betul memalukan. Bahkan saya agak emosional menilai, itu sudah menjijikkan. Tingkat kolusi luar biasa,” kata Amien. Karena pernyataan-pernyataan lugas Amien, ditambah komentar- komentar lainnya (mulai dari soal suksesi sampai Freeport) itulah, kabarnya, Pak Harto lalu mengambil jarak dengan pemimpin Muhammadiyah itu. Dan, belum lama ini, Pak Harto sempat menyampaikan “kekecewaan”-nya itu kepada Menristek B.J. Habibie yang juga Ketua Umum ICMI. kepada yang bersangkutan. Bahkan, pada 6 Februari 1997, dalam sebuah rapat di kediamannya, yang berlangsung selama lima jam, Habibie mengulang ucapan Pak Harto kata demi kata. Tanpa mengurangi titik-komanya. Konon, tindak-lanjut lebih jauh terhadap Amien baru dilakukan Senin, 24 Februari ini. Dalam forum yang berlangsung di rumah Habibie itulah ”nasib” Amien diputuskan lebih pasti. Kendati Ketua Achmad Tirtosudiro membenarkan keriuhan di ICMI itu, seperti disampaikannya kepada SCTV, toh, Habibie sendiri, kepada wartawan yang mencegatnya seusai acara silaturahmi Korps Alumni HMI, Kamis malam, membantah semua itu. “Soal itu tidak usah ditanyakanlah. Saudara kan bisa mengutip ceramah yang saya sampaikan tadi,” kata Habibie menghindar.
Amien Rais pun membantah desas-desus itu. “Itu hanya rumor,” katanya. ”Siapa yang berani memarahi ketua umum PP Muhammadiyah?” ujar Amien berkelakar. Menurut Amien, ICMI tetap seperti sediakala. Tak terjadi apa-apa. Begitu juga yang menyangkut dirinya. “Mana mungkin saya keluar dari ICMI. Saya kan yang mendirikan ICMI,” kata Amien kepada FORUM. Toh, kabar angin (rumor) atau bukan, “peristiwa” itu cukup menarik. Soalnya, kalau benar Amien sampai mundur dari ICMI, ituakan menunjukkan “ketidakkompakan” elite Islam yang selama ini ada. Padahal, banyak pihak menilai, justru masa sekarang ini adalah bulan madu Islam dan pemerintah. Dan, Amien sebagai pemimpin Muhammadiyah–bukan sebagai tokoh ICMI–adalah eksponen penting dari masa bulan madu tersebut.
Tak hanya dengan pemerintah Gus Dur dan Amien Rais terlihat renggang. Antara mereka berdua pun sebenarnya tak sejalan, misalnya. Kendati keduanya sama-sama memiliki kekentalan watak dan semangat kecendekiaan dan kemusliminan, toh kerap dituding selalu berseberangan dalam mengekspresikan kecendekiaan dan keislamannya tadi. (Sampai-sampai, budayawan Emha Ainun Nadjib perlu repot-repot melibatkan diri dalam ”Rujuk Sunda Kelapa” untuk mempertemukan kedua tokoh Islam itu beberapa waktu lalu). Sementara, Gus Dur sendiri tak jarang dianggap nyeleneh tidak hanya oleh pihak pemerintah, tapi juga di kalangan NU sendiri. Mulai dari sarannya mengganti assalamualaikum (yang oleh sejumlah orang dinilai sangat khas Islam) dengan ucapan selamat pagi, sampai kedekatannya dengan pemimpin Partai Demokrasi Indonesia yang tersisih, Megawati, dan yang terakhir mengundang Siti Hardiyanti Rukmana, putri Presiden Soeharto dan juga salah seorang ketua Golkar, ke pesantren-pesantren NU di Jawa Timur.
Gus Dur sudah mulai keluar dari koridor dan memihak pada kekuasaan,” ujar Mauludin, Koordinator Generasi Muda NU Surabaya, mengomentari acara undang-mengundang tadi. Sementara, pengamat politik Arbi Sanit menilai langkah Gus Dur itu tak lepas dari interes politik. Soalnya, sejak terpilih dalam Muktamar NU di Cipasung, PBNU pimpinan Gus Dur belum diterima Pak Harto. Bahkan, setelah “salaman politik” Gus Dur dengan Pak Harto di Pesantren Genggong, Probolinggo, akhir tahun lalu, Gus Dur pun tak termasuk dalam rombongan Pengurus Induk Koperasi Pondok Pesantren saat menghadap Pak Harto medio Januari lalu. Padahal, hampir semua pemimpin NU hadir di Istana kala itu. Dan itu dinilai sebagai semacam pengucilan politik. Apalagi, “Karena keterpojokan itulah Gus Dur lalu berbalik,” kata Arbi.
Gus Dur sendiri, sebagaimana biasa, tenang-tenang saja. Sebenarnya, menurut Gus Dur, pihaknya telah bersikap adil kepada semua pihak. Dalam hal menjadikan NU sebagai panggung ketiga OPP, misalnya, ia pun ingin bersikap serupa terhadap PPP. “Tapi, bagaimana saya akan menawarkan NU kepada PPP, wong Buya Ismail-nya nggebukin saya,” kata Gus Dur. Itulah nuansa warna “politik” Islam, dengan eksponen maupun pendukungnya. Ada gerakan yang sengaja bermain di pentas politik, ada yang ingin menjaga jarak dengan kekuasaan, dan ada pula yang asyik berada di pinggir. Masing-masing kadangkala menyembulkan “perbedaan pandangan”Ñkeadaan yang secara teologis disebut “akan membawa rahmat”. Dan, bagi Pak Harto, kekecewaan dan perbedaan pandangannya dengan tokoh-tokoh Islam, seperti Amien Rais di Muhammadiyah dan Gus Dur di NU itu, tampaknya tak menghalangi langkahnya untuk mendekati umat. Itulah sebabnya, mengapa Pak Harto lebih senang berhubungan langsung dengan muslimin Indonesia, sebagaimana dilakukannya di waktu takbir akbar itu, ketimbang dengan para pemimpin organisasinya. Buktinya, malam itu, hanya para artis dan tokoh muslim penghimpun massa, seperti Rhoma Irama, Zainuddin M.Z., dan Emha Ainun Nadjib, saja yang menghias panggung Monas. Dan, malam itu, Pak Harto telah tampil sebagai pemimpin dan pemersatu umat Islam Indonesia. Insya Allah. Maman Gantra, Zuhri Mahrus, Fahmi Imanullah, Hanibal W.Y.W. (Jakarta), dan Marcelino X. Magno (Jakarta)
Kepergian Gus Dur Duka Semua Elemen Bangsa
Bogor (ANTARA News) – Tokoh Badan Sosial Lintas Agama (Basolia) Bogor Jabar KH Zaenal Abidin, mengatakan, kepergian KH Abdurrahman “Gus Dur” Wahid merupakan duka bagi semua umat agama dan elemen bangsa.”Semua umat agama dan elemen bangsa ini merasa kehilangan Gus Dur. Bahkan dunia internasional pun kehilangan beliau, karena hingga sejauh ini tokoh pluralis yang bisa diterima semua kalangan hanya beliau,” kata Zaenal Abidin di Bogor, Sabtu.Warga Kota Bogor, Jawa Barat, kata dia, masih merasa kehilangan mendalam atas wafatnya Presiden ke-4 RI.Besarnya pengaruh Gus Dur, lanjut dia, terlihat dari tingginya penghormatan bangsa ini terhadapnya. Tak ayal begitu informasi wafatnta Gus Dur menyebar, secara spontan warga melakukan takjiah. Sejak di RCSM, Ciganjur Jakarta hinga Tebuireng Jombang, jenazah Gus Dur dibanjiri peziarah.
Menurut Zaenal, semua umat beragama ikut mendoakan Gus Dur. Tak ayal bila bukan hanya masjid yang melakukan salat ghaib, namun kalangan gereja, pura, vihara, hingga klengteng tak mau tertinggal, ikut larut dalam duka serta mendo`akan tokoh yang dijuluki bapak bangsa.”Saya kira hingga saat ini, tokoh besar di Indonesia yang wafatnya ditangisi serta didoakan umat enam agama hanya Gus Dur. Itu menunjukkan jasa Gus Dur bagi bangsa ini dirasakan semua kalangan dan sosoknya dihormati semua pihak,” katanya.Dari internal umat Islam sendiri, doa untuk Gus Dur terus mengalir. Hal tersebut tidak hanya dilakukan oleh warga Nahdlatul Ulama (NU) saja sebagai habitat yang membesarkan dan dibesarkan Gus Dur, namun juga ditunjukkan oleh warga Muhammadiyah serta berbagai aliran lainnya. Bahkan warga Syiah yang kerap dianggap sangat berbeda pandangan dengan Muslim sunni pun ikut mendoakan Gus Dur.
Doa untuk Gus Dur juga berkumandang di seantero republik mulai Sabang hingga Papua. Jutaan umat dari lintas agama melakukan ritual keagamaan dengan caranya masing-masing, untuk melepaskan kepergian Gus Dur.Warga Aceh dan Papua yang sejak beberapa dekade silam selalu bergolak, ikut berduka atas wafatanya Gus Dur. pasalnya, menurut Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, Gus Dur merupakan pembuka jalan damai krisis kemanusiaan di Aceh. Sedangkan bagi warga Papua, Gus Dur tak lain sebagai orang yang paling punya andil mengembalikan nama Papua setelah sejak zaman Orde Baru dipaksa diganti dengan nama Irian Jaya.
Lebih lanjut Zaenal mengatakan, dirinya berharap penghormatan terhadap Gus Dur tidak hanya dilakukan hanya beberapa saat hingga tujuh hari seusai ia wafat. Namun harus dilakukan secara substansial, yakni dengan melanjutkan cita-cita besar perjuangannya dalam mewujudkan kehidupan berbangsa yang toleran, plural dan demokratis.”Penghormatan terbesar terhadap jasa Gus Dur harus dilakukan dengan melanjutkan cita-cita besar gagasan dan perjuangannya. Hal itu merupakan kebutuhan serta kemiscayaan yang harus kita perjuangkan, karena kita tidak mungkin bisa membangun bangsa yang besar ini secara sendiri-sendiri dan tidak menghargai keragaman yang ada,” katanya.(*)
COPYRIGHT © 2010
BERAGAMA ALA GUS DUR…
Wafatnya Gus Dur memang benar-benar membuat banyak kalangan terhenyak. Kenapa secepat itu Gus, njenengan meninggalkan kita semua? Pertanyaan ini bahkan bukan hanya dilontarkan oleh umat atau para pengagumnya, namun juga oleh para lawan politiknya. Bagi pengagumnya, barangkali masih merasakan kehausan oleh kiprah nyata Beliau yang betul-betul terasa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebaliknya bagi para lawan politiknya, Gus Dur merupakan sosok yang menantang untuk dilawan, bukan soal kalah atau menang. Di sini akan mengurai bagaimana Gus Dur memahami dan menjalani agamanya dari kacamata pengagumnya.
Yang pertama, Gus Dur adalah penganut ajaran agama Islam yang kuat dan teguh. Dalam segala hal, Beliau selalu pasrah kepada Allah dan berharap kekuatan hanya dari Allah. Hal ini terbukti bahwa Beliau tidak mengenal takut dan mencari aman dalam bertindak. Memang begitulah sikap seorang mukmin dan muslim sejati sebagaimana tercantum dalam Al Quran Surat Al Baqoroh ayat 112 yang artinya : “(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”
Kedua, Beliau berkeyakinan betul akan kebenaran dan kemuliaan agamanya, sehingga tidak ada rasa khawatir bahwa agamanya akan hancur oleh pihak-pihak lain selama penganutnya beragama secara benar. Hal ini mendasari sikap Beliau yang sangat menentang kekerasan apapun bentuknya terhadap penganut agama lain. Tindakan-tindakan teror terhadap penganut agama lain justru akan memperlemah kekuatan agama itu sendiri. Agama akan kuat dan jaya apabila penganutnya juga kuat dan berkualitas dalam menjalankan agamanya. Membangun peradaban melalui kemuliaan akhlak dan kecerdasan intelektual adalah cara yang tepat untuk menjaga kejayaan Islam sebagaimana dulu dilakukan oleh Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya.
Ketiga, Beliau dalam beragama lebih mementingkan isi dan esensi daripada simbol-simbol. Maka tidaklah aneh manakala beliau dimintai pendapat antara assalamu’alaikum dan selamat pagi adalah sama, sebab esensinya memang sama, yang penting adalah makna dan keikhlasan mengungkapkannya. Bagi orang Jawa, ungkapan sugeng enjang, sugeng ndalu adalah ungkapan santun yang menyatakan doa keselamatan untuk orang yang ditemuinya. Untuk seorang muslim yang memang sudah menyatu dengan Allah, maka berdoa dengan cara dan bahasa apapun adalah tidak masalah. Sebab baginya, Tuhan ya Allah. Allah itu Tuhan. Untuk agama lain, ya terserah…lakum dinukum waliya din. Oleh karena itu, Gus Dur pun berhasil meyakinkan kaum Nahdliyin untuk menerima Pancasila sebagai dasar organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dengan silanya yang pertama Ketuhanan Yang Maha Esa.
Keempat, Gus Dur menyadari bahwa Islam hadir di Indonesia di saat sudah ada agama dan keyakinan lain di negara ini. Indonesia adalah negara bangsa bukan negara agama. Indonesia dibangun di atas berbagai suku dan budaya yang hidup didalamnya. Oleh karena bukan negara agama, maka Umat Islam pun tidak boleh memaksakan agamanya sebagai dasar konstitusi negara. Justru umat Islam harus mengembangkan sikap toleransi terhadap penganut agama lain dalam rangka mengisi dan membangun bangsa ini. Hal ini juga sesuai dengan sikap Nabi Muhammad yang berusaha membangun peradaban santun dan damai, jauh dari kekerasan di tengah-tengah kemajemukan masyarakat Madinah. Oleh karena itu sikap pluralisme dan multikulturalisme harus senantiasa dibangun dan dijaga oleh umat Islam di Indonesia.
Kelima, Demokrasi yang senantiasa disuarakan dan dilakukan oleh Gus Dur bukanlah karena dipengaruhi oleh orang Barat. Gus Dur adalah orang Islam tulen. Beliau dari kecil ngaji di pesantren, dididik langsung oleh kakek Beliau KH. Hasyim Asy’ari yang jelas-jelas bukan sembarang ulama, kemudian dilanjutkan dengan pendidikan di negara yang merupakan basis pendidikan Islam, yaitu Mesir dan Irak. Sehingga demokrasi, bagi Gus Dur, juga merupakan pemahaman mendalam yang didasari penuh oleh ajaran Islam. Demokrasi dibangun oleh adanya penghargaan terhadap hak-hak asasi seorang manusia. Hak untuk hidup, berpikir, menyatakan pendapat dan berkeyakinan sepenuhnya dijamin oleh ajaran Islam. Penghormatan dan penghargaan tanpa pamrih terhadap hak-hak inilah yang melahirkan demokrasi. Selama ini demokrasi belum berjalan secara optimal karena adanya pamrih dan kepentingan pribadi atau golongan yang menjalankannya. Demokrasi disetting sedemikian rupa oleh penguasa atau pihak-pihak tertentu hanya untuk memenuhi keuntungan dan kepentingannya sendiri. Gus Dur sangat menentang hal demikian.
Keenam, Gus Dur adalah seorang yang gigih dan teguh dalam menyatakan kebenarannya, meskipun menghadapi kecaman, celaan dari pihak lain. “Katakanlah yang benar walau pahit rasanya”, (Qul al haqq walau kana murran). oleh karena itu tidaklah aneh bila banyak peristiwa-peristiwa yang oleh orang banyak dianggap salah, oleh Gus Dur belum tentu salah tapi juga tidak dianggap betul. Yang hitam bukanlah hitam, yang putih belum tentu putih. Dalam hal-hal seperti itu, Gus Dur lebih banyak memberikan pendidikan hakekat kepada umatnya. Lihat kasus Inul, di saat banyak orang mengecam dan memvonisnya, kepada Gus Dur lah akhirnya Inul berkeluh kesah. Gus Dur bukannya membela Inul, namun secara tersirat Gus Dur memberikan pendidikan yang luar biasa secara tidak langsung, yaitu pertama, Inul adalah manusia biasa, bukanlah malaikat. Jadi wajarlah kalau berbuat salah, namun bukan berarti harus dihina dan diperlakukan secara semena-mena. Justru kita harus kasihan kepada sosok seperti Inul ini. Dia justru harus dibimbing untuk menyadari perbuatannya bahwa setiap tindakan mesti disertai tanggung jawab. Dan tindakan mengandung resiko. Oleh karena itu harus dipikir matang-matang sebelum bertindak. Kedua, bahwa yang penting adalah penontonnya. Meskipun si Inul mau goyang jempalitan nggak karuan, kalau tidak ada yang nonton pasti dia capek sendiri. Nah yang penting didandani juga penontonnya, umat itu sendiri. Nah itu kan kerjaan para ulama, kyai, habib, bahkan penonton itu sendiri. Kalau umat Islam kuat dalam menjalankan ajaran agamanya, pasti akan menjauhi menonton hal-hal demikian. Ketiga, Hal tersebut menunjukkan bahwa masih banyak PR (Pekerjaan Rumah) bagi umat Islam untuk memperkuat diri dengan membangun peradaban yang sesuai dengan ajarannya. Kekuatan teknologi, ilmu pengetahuan dan media adalah mutlak dibutuhkan untuk mengimbangi infiltrasi dahsyat dari budaya Barat. Dibutuhkan generasi-generasi muslim yang menguasai tiga hal tersebut sehingga mampu mengatasi permasalahan-permasalahan moral yang disebabkan oleh kekuatan media Barat.
Ketujuh, ……
Kedelapan, …..
Dan masih banyak lagi, yang belum mampu penulis ungkapkan karena keterbatasan penulis. Demikianlah penulis yang tidak pernah berdekatan secara fisik dengan Beliau namun dekat dengan pencerahannya, mencermati sekelumit bagamana Gus Dur beragama dan menerapkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan sikap beliau mestinya bukanlah hal aneh bagi seorang muslim sejati. Selamat jalan Gus Dur, semoga engkau pulang ke pangkuan Ilahi dengan Ridho dan DiridhoiNya… Amin…
Mohon izin mengomentari “yg pertama” dan”kedua” Memang begitulah seharusnya pendirian orang beragama . Jgn mengurusi kepercayaan orang lain,apalgi iman . Kalo agama kita A jgn coba2 mau cari jawaban kenapa sih .kok agama B begitu begini ? Karena kalo kt BISA ngerti “begini begitu” nya agama B ,MUNGKIN kt sdh jadi penganut agama B. Gus Dur KEKEUH ,KUKUH pendiriannya terhadap agama yg dianutnya. Beliau memang PAHAM MEMAHAMI agama2 lain karena itu beliau TDK TAKUT IMAN kepercayaannya akan BISA di[pengaruhi iman kepercayaan ORANG LAIN.
Makanya BENARLAH orang yag suka mau ganggu2 ketentraman agama orang lain sebenarnya TDK PUNYA IMNAN yg KUAT. Gus DUR menurut sy juga TIDAK SUKA mentang2 kuat menekan yg lemah. Misalnya saja SIAPA yg berani MENGHALANGI pembangunan Musholla atau Mesjid dengan IZIN atau TANPA IZIN. Pasti jalan ! Mohon maaf dgn sedikit, mengganggu kelancaran LL dgn memasang drum2 atau pot2 dan diatasnya diletakkan karton2 meminta sumbangan (pdhl sdh dilarang MUI).Dan TDK ADA YG MERIBUTKAN walaupun katanya uang hasil sumbangan tsb.tdk sepenuhnya masuk kas resmi ,tp dimabil prosentasi pengumpulnya.
Dalam soal TOLERANSI AGAMA atau APA`SAJA GUS DUR TIDAK ADA DUANYA. Tapi mudah2an kata pepatah patah satu tumbuh seribu. Selamat jalan dan selamat beristirahat KEKAL dan DAMAI disi ALLAH SWT GUS DUR YANG TERKASIH. AMIN.
Umat Islam Indonesia dan Ideologi Komunis
Waruno Mahdi*
SEBANYAK 90 persen penduduk Indonesia beragama Islam. Sudah semestinya umat ini memegang peran penting dalam kehidupan bangsa. Sudah hampir seribu tahun, di pesisiran Nusantara bertaburan pusat kebudayaan madani Islam yang cergas berniaga. Umat Islam jugalah yang memelopori perlawanan terhadap penjajahan Portugis dan Belanda serta menjadi perintis perjuangan kemerdekaan nasional dengan pembentukan Sarekat Islam.
Namun, umat Islam Indonesia menderita serba kekurangan sepanjang zaman penjajahan, sampai-sampai oleh seorang pengamat pernah dijuluki sebagai "kelompok mayoritas yang bermentalitas kelompok minoritas". Walaupun jumlahnya 90 persen dari penduduk, dalam kehidupan politik, umat Islam Indonesia seakan-akan "minder". Pertama kalinya dalam sejarah Republik Indonesia, yang menjadi presiden kini tokoh partai Islam. Maka dapat diharapkan, umat mayoritas ini akan menempati kembali kedudukan terkemuka yang layak dalam kehidupan bangsa. Sayang, realisasi harapan ini masih dirintangi oleh kekurangan solidaritas di dalam umat Islam sendiri. Nyatanya, umat mayoritas inilah yang paling keras bereaksi terhadap prakarsa Presiden Abdurrahman Wahid untuk memeriksa kembali Ketetapan Nomor XXV/MPRS/1966. Mungkin tokoh partai Islam lain berat menyaingi kepopuleran Gus Dur di dalam dan di luar negeri, maka dilihatnya kasus ketetapan MPRS ini sebagai "kesempatan".
Selain dampak langsung persaingan itu masih ada dampak balik. Akibat serangan-serangan terhadapnya, Gus Dur terpaksa bersikap defensif, termasuk "terjebak" memecat Laksamana Sukardi tanpa alasan yang memadai serta kurang tegas mengecam aksi Banser terhadap redaksi Jawa Pos. Beradu pendapat secara bebas itu memang satu asas demokrasi. Tapi segalanya itu harus dalam kerangka pembelaan keutuhan wadah demokrasi dan negara hukum itu sendiri. Yang menjadi ukuran adalah apakah kritik tertentu itu konstruktif akan mencegah satu kekeliruan, atau destruktif -- semata-mata akan menjatuhkan saingan politik.
Para tokoh modern partai-partai Islam itu cendekiawan yang paham akan tamadun politik modern dalam tatanan demokrasi. Argumentasi Gus Dur mengenai ketetapan MPRS yang amat gamblang itu pasti mereka pahami pula. UUD 1945 tidak memberi peluang untuk melarang satu ideologi, tapi hanya sekadar untuk melarang satu partai -- itu pun tentu hanya setelah memenuhi prosedur hukum yang sah.
Baiklah kasus Tap No. XXV/MPRS/1966 itu kita teliti lebih saksama. Dasar syak wasangka umat Islam terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah karena komunisme itu ateis. Sebenarnya, orang PKI pun ada yang beragama, sedangkan orang ateis di Indonesia ada yang tak berhubungan dengan PKI, bahkan ada yang bermusuhan dengan PKI. Jadi, kalau memang ateisme yang dilawan, malah melesetlah jika yang disasari itu khusus komunisme. Pemojokan orang komunis dengan dalih bahwa mereka anti-Tuhan itu asalnya satu taktik zaman penjajahan yang bertujuan memecah-belah gerakan kemerdekaan nasional dulu.
Pokok ajaran komunis itu bukan ateisme, melainkan teori perjuangan kelas. Agama oleh Karl Marx dipandang sebagai alat kelas penindas untuk meninabobokan kelas tertindas, maka ditentangnya. Marx ternyata keliru. Agama bisa juga memihak kaum tertindas. Kita ingat peran mazhab Protestan di Eropa dan agama Islam di Indonesia dalam perjuangan melawan feodalisme pada abad ke-15 dan ke-16. Lihatlah juga kasus "teologi pembebasan" di Amerika Latin pada abad ke-20. Akhirya, sikap komunis terhadap agama ini-itu sekadar taktik, seperti partai memilih akan berkoalisi dengan siapa.
Keberatan hakiki terhadap komunisme sejak dulu bukan ateismenya, melainkan teori perjuangan kelas dengan penumbangan negara lama dan penegakkan "diktatur proletariat". Tapi PKI dulu saja sudah akur dengan "sosialisme ala Indonesia" rumusan Sukarno, yang mereka anggap akan menuju tatanan sosialis mereka tanpa perlu menumbangkan negara RI. Memang Karl Marx merumuskan teori perjuangan kelasnya di zaman antagonisme kelas abad ke-19, waktu gerakan "kelas proletar" tidak mendapat akses ke proses pemerintahan. Dalam abad ke-20, gerakan buruh di negeri industri disertakan sebagai salah satu sokoguru negara, sehingga tidak lagi antagonis. Setelah Uni Soviet roboh dan perang dingin berakhir, isu "diktatur proletariat" di kalangan komunis sedunia sudah sepi benar. Dulu sajapun, orang komunis cuma berbahaya ketika dilarang dan dipaksa bergerak di bawah tanah. Tidak nyenyaklah orang tidur, menduga-duga mereka gelap-gelap lagi berbuat apa. Sedangkan kalau bergerak legal dalam rangka tatanan demokrasi, mereka malah turut memikul tanggung jawab negara.
Prakarsa Gus Dur untuk konsisten menegakkan kembali legalitas juga dalam hal menghapuskan Tap No. XXV/MPRS/1966 itu masih punya aspek lain. Pada 1965-1966, umum tidak menggugat ketika oknum yang diduga sebagai PKI dibantai ratusan ribu orang. Toh itu orang komunis, sangkanya. Belakangan, giliran orang Islam alim-alim yang menjadi korban di Tanjungpriok, Lampung, dan juga di Aceh.
Adat bunuh-bunuhan yang "dimasyarakatkan" oleh Orde Baru sebagai cara politik itu adat jahiliah yang amat berbahaya untuk nasib bangsa. "Adat" itu mengancam kehidupan orang Islam dan orang Kristen di Maluku, dan merongrong keutuhan Negara Kesatuan Republika Indonesia (NKRI). Jika dibiarkan terus, siapa bisa menjamin tak mungkin satu saat pengikut Muhammadiyah bunuh-bunuhan dengan Nahdlatul Ulama? Dan lepas dari soal pembunuhan, kalau sekali boleh sewenang-wenang melarang PKI, apakah besok boleh melarang PPP atau Golkar? Tidakkah dulu sudah pernah melarang Masyumi dan PSI? Memang akseptasi terhadap pelanggaran hukum itu serupa jin: sekali boleh menyelinap dari botol, sulit dibuat masuk kembali. Lumrah jika Gus Dur selaku Presiden RI bertekad membasmi adat sesat pembantaian lawan politik dan pelarangan ideologi itu sampai ke akarnya. Sedangkan pangkal mula adat warisan Orde Baru itu tiada lain dari pembantaian 1965-1966 dengan Tap No. XXV/MPRS/1966 itu.
Kalau presiden dari partai Islam ini berhasil, berartilah peran teladan umat Islam itu pulih kembali, maka terhapuskanlah sikap "minder" yang dulu itu. Dalam tamadun demokrasi, mayoritas unggul karena cakap mengatur kehidupan bersama yang rukun tanpa harus memaksa minoritas takluk. Sejarah masa kejayaan Islam berlawanan sekali dengan gambaran "minder" dan "sektaris" yang suka dilekatkan pada umat islam. Ini tidak saja jelas misalnya dari zaman Harun al-Rasyid, ketika Bagdad menjadi pusat ilmu pengetahuan dan kesenian yang masyhur di seluruh dunia.
Kita ingat riwayat Sultan Salah ad-Din, sampai sekarang dikagumi orang Eropa yang menamakannya "Saladin". Beliau mengalahkan balatentara kaum Serani dan menyisihkan mereka dari Palestina, kemudian mempertahankan Jerusalem terhadap serbuan baru dalam Perang Salib Ke-3. Walaupun demikian, beliau dalam sastra dan pustaka sejarah di Eropa dilukiskan sebagai penguasa yang arif bijaksana. Dicatatnya juga perlakuan beliau yang begitu manusiawi terhadap umat non-Islam (terutama Kristen dan Yahudi).
Sejarah Indonesia cukup contohnya akan tokoh Islam yang menjadi teladan. Lihatlah Syekh Yusuf pada abad ke-17. Tidak saja unggul selama memimpin perlawanan Banten terhadap VOC, dalam tawanan pun, dalam pengasingan di Tanjung Harapan, beliau tetap dihormati sebagai pemimpin agama, tidak sekadar oleh umatnya sendiri. Orang Eropa di Afrika Selatan turut hormat kepada beliau (yang mereka sebut "Sheik Joseph") sebagai ulama yang arif dan berpengetahuan luas. Dalam pergerakan kemerdekaan, tokoh nasional yang dikenal paling cendekia, paling luas pengetahuannya, mahir delapan bahasa, dan sekaligus tercatat sangat toleran kepada orang yang berbeda pendiriannya justru seorang tokoh Islam, yaitu Haji Agus Salim.
Walaupun penduduk masih serba kurang pendidikan, tokoh-tokoh Islam yang sempat bersekolah sejak paling permulaan pergerakan tidak berpandangan sempit. Lihatlah baik Tirto Adisoerjo maupun Tjokroaminoto. Sarekat Islam menjadi wahana yang luas, sampai-sampai PKI itu sendiri terjadi dari salah satu bekas fraksi SI itu! Walaupun pergerakan lalu berurai atas bunga-rampai arus politik, menghadapi ancaman Perang Dunia II, mereka dapat berpadu kembali: bertemu Abikoesno Tjokrosoejoso (PSII) dengan Husni Thamrin (Parindra) dan Amir Sjarifoeddin (Gerindo) mengorganisasi Rapat Umum GAPI yang memprakarsai Kongres Rakjat Indonesia 1939, menghayati persatuan Nasasos yang diimingkan oleh Bung Karno.
Kebijakan Gus Dur yang mengandalkan toleransi antara golongan, suku bangsa, dan umat ini benar-benar "kembali ke asal", menghayati kembali gagasan bapak-bapak kemerdekaan yang dulu, sambil menjamin prasarana terbangunnya tamadun politik negara demokrasi sekarang. Bersamaan dengan itu, kebijakan tersebut mencerminkan jiwa kebesaran Islam periode kejayaan negeri "di atas angin" dan tokoh Islam terkemuka pergerakan nasional negeri "di bawah angin" ini.
Tokoh-tokoh politik Islam berpendidikan modern sekarang berat tanggung jawabnya, kalau mendahulukan perhitungan singkat persaingan antarpartai dan meremehkan kepentingan bersama yang lebih besar. Mereka pasti paham akan makna penting kebijakan Gus Dur itu khusus bagi umat Islam Indonesia seluruhnya, agar menempati kedudukan yang layak sebagai barisan pokok dalam derap maju bangsa Indonesia.
*) Ahli linguistik historis dan sejarah kebudayaan, kini tinggal di Berlin, Jerman
Sumber:
Tempo No. 14/XXI/5-11 Juni 2000
Jum'at, 01 Januari 2010 , 07:49:00
Gus Dur Pahlawan Rakyat Kecil dan Keadilan
Terlalu Besar Dimata NU
SETENGAH TIANG: Masyarakat mengibarkan bendera setengah tiang. Ungkapan belasungkawa atas wafatnya mantan presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid. MUJADI/PONTIANAK POST
PONTIANAK – Sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memiliki nilai yang terlalu besar dimata warga Nahdlatul Ulama (NU) se-Indonesia. Gus Dur merupakan cucu pendiri NU, KH Hasyim Ashari dan anak KH Abdul Wahid Hasyim.“Gus Dur bukan hanya generasi ke-3 pimpinan NU, tapi dibawah kepemimpinannya, NU berkembang seperti sekarang. Beliau pahlawan kebangkitan NU, setelah banyak kekosongan waktu orde baru,” kata Ketua Pengurus Wilayah NU Kalbar Drs M Zeet Hamdy Assovie MPM dihubungi kemarin (31/12) siang.Ia sendiri sering berkomunikasi langsung dengan Gus Dur. Wafatnya Gus Dur membuat Zeet sangat kehilangan. Disamping Gus Dur sebagai pahlawan rakyat kecil dan keadilan. Orangnya juga konsisten membina hubungan umat beragama.
“Beliau figur paling mampu dan terbaik untuk membuat suasana nyaman dalam menciptakan kerukunan umat beragama. Indonesia selalu butuh figur seperti Beliau,” tegasnya.Gus Dur mampu mentransfer pesan, ajaran, petuah, dan ajakannya pada semua insan Nahdliyn. Semua itu seperti sudah mengalir dalam tubuh warga NU se-Indonesia. “Pikiran Gus Dur selalu mengutamakan kerukunan umat beragama,” katanya.Menurut Zeet, Gus Dur merupakan satu-satunya tokoh nasional yang belum memiliki tandingan. Memang jika dilihat dari paham kebangsaan, Gus Dur No.2 setelah Mantan Presiden Pertama Indonesia Soekarno.“Tapi jika dilihat dari kemampuannya menyatukan banyak pandangan dari berbagai umat beragama. Belum ada yang bisa menyaingi Beliau,” ujar Zet.
Nilai Gus Dur yang begitu besar bagi NU membuat seluruh warga Nahdlyn berduka cita dan menggelar tahlilan selama satu minggu, mulai malam tahun baru 2010. Di Kalbar sendiri kegiatan tahlilan dipusatkan di Sekretariat PWNU Kalbar Jalan Gusti Hamzah No.1 Pal 3.Sementara itu, terkait masalah perlengseran Gus Dur ketika masih menjabat sebagai Presiden RI. Zeet mengatakan, Gus Dur tidak pernah mempersoalkan hal itu.
“Malah setelah kejadian Gus Dur harus mengundurkan diri dan disorot dengan mengunakan celana pendek. Beliau langsung berkumpul dengan warga NU dan tertawa bersama,” kata Zeet, mantan Sekda Singkawang itu.Gus Dur menyampaikan, bukan keinginannya sendiri untuk menjadi presiden, yang memilih anggota DPR/MPR. “Beliau sudah mengajarkan pada kita untuk tidak melakukan anarkis atas kejadian itu,” ujarnya.Tapi kata kunci pesan yang ingin disampaikanya Gus Dur. Selama dua tahun menjabat, banyak hal-hal mendasar yang dilakukannya. Gus Dur berani melakukan merger beberapa departemen untuk perbaikan bangsa.“Bukti keberhasilan Beliau, saat ini rakyat Indonesia lebih dewasa. Gus Dur pun diterima semua kalangan dan golongan rakyat Indonesia,” pungkas Zeet. (mde)
Mahathir Mohamad: Gus Dur Patriotik dan Nasionalis
Jum'at, 01 Januari 2010 | 06:59 WIB
TEMPO Interaktif, Kuala Lumpur - Ungkapan belasungkawa dari para tokoh dunia terus mengalir atas meninggalnya Presiden Ke-4 Republik Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Di Kuala Lumpur, mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mendatangi Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk menyampaikan rasa duka citanya, Kamis (31/12).Selama beberapa menit Mahathir melakukan penghormatan terakhir dengan membubuhkan ucapan dan tandatangan di Book of Condolence yang disiapkan di lobi depan Kedutaan Besar Republik Indonesia Kuala Lumpur, dilanjutkan dengan berdoa di depan foto Gus Dur.“Saya ikut berduka cita atas kepergian Gus Dur,” ucap Mahathir. “Bagi saya beliau adalah seorang patriotik dan nasionalis bagi bangsa Indonesia dan umat Islam.”
Mahathir juga sempat menyinggung sikap humoris Gus Dur. “Beliau banyak mempunyai cerita lucu yang sering membuat kita tertawa, walaupun sedang membicarakan hal serius,” kenang dia.Walaupun dalam beberapa masalah terdapat perbedaan pandangan, Mahathir mengaku tetap hormat kepada Gus Dur.
Selain Mahathir Mohammad, Wakil Menteri Luar Negeri Malaysia A. Kohilan Pillay juga mendatangi KBRI Kuala Lumpur untuk menyampaikan ucapan belasungkawa.
Gus Dur meninggal di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada Rabu (30/12) pukul 18.45. Almarhum wafat karena komplikasi penyakit diabetes, ginjal, dan stroke.
Mahathir Mohamad: Gus Dur Patriotik dan Nasionalis
Jum'at, 01 Januari 2010 | 06:59 WIB
TEMPO Interaktif, Kuala Lumpur - Ungkapan belasungkawa dari para tokoh dunia terus mengalir atas meninggalnya Presiden Ke-4 Republik Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Di Kuala Lumpur, mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mendatangi Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk menyampaikan rasa duka citanya, Kamis (31/12).Selama beberapa menit Mahathir melakukan penghormatan terakhir dengan membubuhkan ucapan dan tandatangan di Book of Condolence yang disiapkan di lobi depan Kedutaan Besar Republik Indonesia Kuala Lumpur, dilanjutkan dengan berdoa di depan foto Gus Dur.
“Saya ikut berduka cita atas kepergian Gus Dur,” ucap Mahathir. “Bagi saya beliau adalah seorang patriotik dan nasionalis bagi bangsa Indonesia dan umat Islam.”
Mahathir juga sempat menyinggung sikap humoris Gus Dur. “Beliau banyak mempunyai cerita lucu yang sering membuat kita tertawa, walaupun sedang membicarakan hal serius,” kenang dia.Walaupun dalam beberapa masalah terdapat perbedaan pandangan, Mahathir mengaku tetap hormat kepada Gus Dur.
Selain Mahathir Mohammad, Wakil Menteri Luar Negeri Malaysia A. Kohilan Pillay juga mendatangi KBRI Kuala Lumpur untuk menyampaikan ucapan belasungkawa.
Gus Dur meninggal di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada Rabu (30/12) pukul 18.45. Almarhum wafat karena komplikasi penyakit diabetes, ginjal, dan stroke.
Gus Dur dan Islam
Submitted by admin on Sat, 01/02/2010 - 00:00
Gus Dur dan Islam
Mamun Murod Al-Barbasy
Ketua PP Pemuda Muhammadiyah
nnalillahi wa inna ilahi rojiun. Tokoh besar dan bapak bangsa dengan beragam predikat, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), telah berpulang ke rahmatullah pada 30 Desember 2009. Siapa pun yang mengenal Gus Dur secara dekat, baik dalam artian fisik maupun dekat, karena gagasan pemikirannya dipastikan paling merasa kehilangan.
Gus Dur adalah sosok pemikir Islam genuine Indonesia. Gus Dur merupakan sosok pemikir Muslim yang lebih menggambarkan wajah Islam Indonesia yang sesungguhnya akulturatif, moderat, dan toleran. Pemikiran Gus Dur berbeda dengan pemikiran mereka yang mencoba menampilkan wajah Islam skriptu-ralis yang serba rigid dan berbeda juga dengan mereka yang mencoba menampilkan wajah Indonesia yang sekuleristik.
Pendekatan serba fikih
Lazimnya kebanyakan pemikir dari kalangan pesantren yang mendasarkan pemikiran pada pendekatan fikih, Gus Dur juga dikenal sebagai pemikir yang dalam menyikapi perkembangan selalu mendasarkan pada pendekatan fikih.
Dampak pendekatannya yang serba fikih menjadikan tampilan pemikiran Gus Dur selalu tidak hitam-putih. Ini mengingat banyaknya sumber yang dijadikan sebagai rujukan pemikiran. Dalam tradisi NU, yang menjadi sumber hukum bukan sekadar Alquran dan hadis, melainkan juga ijmak dan qiyas. Dalam hal sikap dan pemikiran politiknya, Gus Dur juga selalu berusaha mengambil jalan tengah (tawas-suth). Gus Dur tidak mau terjebak dan mengambil jalan ekstrem (tat-haruf) atau mengambil jalan paling lunak.
Asas tunggal
Ketika rezim Orde Baru bermaksud menetapkan Pancasila sebagai asas tunggal, NU melalui Munas Alim Ulama 1983 di Situbondo dan diperkuat oleh keputusan Muktamar NU ke-27 1984 di tempat yang sama menerima asas tunggal. Motor penerimaan asas tunggal ini tidak lain adalah Gus Dur dan KH Achmad Siddiq. Keduanya dipilih melalui mekanisme ahlul halli wal aqdhi sebagai ketua Taniidziyah dan rais Am Syuriah PBNU.
Dibanding ormas lainnya, NU adalah ormas pertama yang menerima asas tunggal. Alasannya bukan didasarkan pada strategi perjuangan politik dalam artian yang abstrak, melainkan keabsahannya di mata fikih. NU juga memberi batasan yang jelas antara wilayah kekuasaan agama dan wilayah kekuasaan negara. Gus Dur menyatakan bahwa antara agama dan negara mempunyai tugas dan tanggung jawab sendiri-sendiri. Dalam hal yang tidak sama, katakanlah dalam melaksanakan wawasan Islam, itu menjadi tanggung jawab umat Islam, tanpa harus membebani negara.
Negara diminta hanya untuk mengayomi hal-hal yang terkait dengan maslahatil ammah, tanpa membedakan suku, agama, bahasa, dan warna kulitnya.Atas dasar ini, tidak heran kalau NU dengan mudah menerima asas tunggal. Menurut Gus Dur, kehidupan yang diasastunggali Pancasila merupakan wewenang negara. Tapi, ada juga kehidupan yang tidak berada di bawah wewenang negara, yaitu akidah (iman). Sementara itu, ormas lain sangat kesulitan beradaptasi dengan keinginan pemerintah ini. Hal ini karena mereka tidak mampu mendudukkan antara keimanan dan ideologi.
Mereka juga menganggap bahwa soal Pancasila itu berada di luar masalah agama karena Pancasila hanya diterima sebagai ideologi tanpa dikaitkan dengan alasan keagamaan. Ini juga, menurut Gus Dur, tidak benar karena berarti mereka mempunyai kesetiaan ganda setia pada Pancasila dan pada agama. Dalam pandangan Gus Dur, kalau kita setia pada Islam, juga harus setia pada negara. Sebab, negara merupakan bagian dari kegiatan masyarakat yang dibuat bersama dengan orang lain. Sementara itu, akidah merupakan milik kita sendiri. Jadi, ada perbedaan, tetapi tetap dalam satu kaitan.
Relasi agama dan negara
Komitmen dan pembelaan yang begitu total terhadap Pancasila menjadikan Gus Dur sebagai salah satu dari sedikit cendekiawan Muslim yang menolak setiap upaya menjadikan Islam sebagai dasar negara. Penolakan ini tentu bukan tanpa alasan. Paling tidak, ada dua alasan mendasar, yaitu selain Pancasila dipandang sebagai bentuk kompromi politik final, juga Islam sendiri, menurut Gus Dur, tidak mempunyai konsep tentang negara.Dalam Alquran misalnya, tidak terdapat kata al-daulah. Pengertian kenegaraan hanya menggunakan istilah baldah. Jadi, di sini, Islam tidak mempunyai konsep yang definitif. Dalam persoalan yang paling pokok terkait suksesi kekuasaan, Islam juga tidak cukup konsisten. Terkadang, memakai istikhlaf, bayah, atau ahlul halli wal aqdhi. Padahal, suksesi kekuasaan adalah persoalan cukup urgent dalam masalah kenegaraan.
Tidak adanya bentuk yang baku tentang negara, menurut Gus Dur, telah membuat perubahan historis atas bangunan negara yang ada menjadi tak terelakkan. Dengan kata lain, kesepakatan akan bentuk negara tidak dilandaskan pada dalil naql (nash), melainkan pada kebutuhan masyarakat. Inilah yang membuat hanya sedikit sekali Islam berbicara tentang bentuk negara dan proses suksesi kekuasaan.Meski menolak negara Islam, bukan berarti Gus Dur tak menghendaki terciptanya masyarakat Islami (lebih pada value). Gus Dur berbeda pendapat dengan mereka yang ingin membina masyarakat Islam. Sebab, itu merupakan pengkhianatan terhadap konstitusi karena ia akan menempatkan non-Muslim sebagai masyarakat kelas dua. Tapi, sebuah masyarakat Indonesia yang di dalamnya terdapat umat Islam yang tumbuh kuat dan berfungsi akan dianggap lebih baik.
Pembela minoritas
Gus Dur juga dikenal sebagai pembela kelompok minoritas. Tidak saja dalam hal keagamaan, tapi juga minoritas dalam politik. Dalam kasus Monitor 1990 yang dinilai melecehkan Muhammad SAW, Gus Dur justru tampil membela dan mengecam keras pemberedelan Tabloid Monitor. Karena, itu sama artinya memberikan otoritas dan membenarkan perilaku otoriter pemerintah dalam melakukan pemberedelan. Pembelaan Gus Dur bukan lantaran tidak marah atas polling Monitor, namun , karena sikap umat Islam yang terkesan mau main hakim sendiri, termasuk menuntut pencabutan SIUPP yang sama sekali tidak demokratis.
Usai politik sapu bersih pemerintah dalam peristiwa penyerbuan kantor DPP PDI, 27 Juli 1996, suara-suara kritis yang tadinya begitu keras hilang seketika. Masyarakat juga dibuat ketakutan luar biasa. Dalam suasana yang mencekam ini, Gus Dur tampil dengan mendirikan posko pengaduan bagi mereka yang merasa kehilangan keluarganya serta mengalami kerugian fisik ataupun harta benda.
Pembelaannya terhadap keluarga Kong Hu Chu dalam persidangan di PTUN Surabaya, yang kebetulan perkawinannya tidak diakui pemerintah, lantaran mereka bersikukuh beragama Kong Hu Chu setidaknya menjadi bukti lain dari kepedulian Gus Dur terhadap kelompok minoritas.Pembelaan Gus Dur juga diberikan kepada kelompok minoritas lainnya yang hak-hak politik dan ke-agamaannya dikebiri oleh negara dan sebagian umat Islam, seperti pembelaannya terhadap Dar al-Arqam, Syiah, dan Ahmadiyah.
Demikianlah sekelumit gagasan-gagasan besar Gus Dur yang selama ini diperjuangkan secara konsisten hingga akhir hayatnya. Hasilnya, di saat Gus Dur masih hidup pun sudah mulai bisa dirasakan.Gagasan-gagasannya telah merasuk di sebagian besar generasi muda NU dan dalam batas tertentu juga telah merasuk di lingkup angkatan muda Muhammadiyah.Seiring wafatnya Gus Dur, harapannya adalah tentu gagasan-gagasan Gus Dur akan semakin membumi. Amin dan semoga.
Gus Dur merupakan sosok pemikir Muslim yang lebih menggambarkan wajah Islam Indonesia yang sesungguhnya akulturatif, moderat, dan toleran. Pemikiran Gus Dur berbeda dengan pemikiran mereka yang mencoba menampilkan wajah Islam skriptu-ralis yang serba rigid dan berbeda juga dengan mereka yang mencoba menampilkan wajah Indonesia yang sekuleristik. Pendekatan serba fikih Lazimnya kebanyakan pemikir dari kalangan pesantren yang mendasarkan pemikiran pada pendekatan fikih, Gus Dur juga dikenal sebagai pemikir yang dalam menyikapi perkembangan selalu mendasarkan pada pendekatan fikih. Relasi agama dan negara Komitmen dan pembelaan yang begitu total terhadap Pancasila menjadikan Gus Dur sebagai salah satu dari sedikit cendekiawan Muslim yang menolak setiap upaya menjadikan Islam sebagai dasar negara. Pembelaannya terhadap keluarga Kong Hu Chu dalam persidangan di PTUN Surabaya, yang kebetulan perkawinannya tidak diakui pemerintah, lantaran mereka bersikukuh beragama Kong Hu Chu setidaknya menjadi bukti lain dari kepedulian Gus Dur terhadap kelompok minoritas.Pembelaan Gus Dur juga diberikan kepada kelompok minoritas lainnya yang hak-hak politik dan ke-agamaannya dikebiri oleh negara dan sebagian umat Islam, seperti pembelaannya terhadap Dar al-Arqam, Syiah, dan Ahmadiyah. Hasilnya, di saat Gus Dur masih hidup pun sudah mulai bisa dirasakan.Gagasan-gagasannya telah merasuk di sebagian besar generasi muda NU dan dalam batas tertentu juga telah merasuk di lingkup angkatan muda Muhammadiyah.Seiring wafatnya Gus Dur, harapannya adalah tentu gagasan-gagasan Gus Dur akan semakin membumi.
| TOKOH BICARA; Kita Kehilangan Gus Dur, Pejuang Toleransi |
| Kamis, 31 Desember 2009 |
| Aktivis Forum Demokrasi, Todung Mulya Lubis, melalui layanan pesan singkat, menuliskan, "Kita kehilangan sosok Negarawan yang memperjuangkan pluralitas bangsa. Seorang yang berjuang untuk moderasi dan toleransi sosial, beragama, dan berbangsa. Gus Dur adalah pilar pluralisme dan benteng bangsa melawan fundamentalisme. Gus Dur adalah seorang demokrat sejati yang menghormati lawan politiknya."
Sesaat setelah Presiden Indonesia periode 1999-2001 KH Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur, diwartakan meninggal, puluhan SMS dan e-mail menandakan dukacita yang mendalam dari berbagai kalangan mengalir ke Redaksi Kompas. Kepergian Gus Dur tidak hanya kehilangan besar bagi negeri ini, tetapi juga bagi seluruh umat beragama. Gus Dur adalah simbol kebersamaan dan toleransi. Umat Kristen Sulawesi Utara kehilangan atas wafatnya Gus Dur. "Ia adalah tokoh perdamaian dan 'pahlawan' minoritas. Kami benar-benar kehilangan. Belum ada tokoh setara Gus Dur," kata Ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa Pendeta AO Supit, Rabu (30/12) di Manado. Ia pergi meninggalkan semerbak melati. (zal/tra) *** |
Tidak pernah memutuskan Tali Silaturahmi
“Gus Dur menjadi pelopor penting persaudaraan antar umat beragama. Gus Dur adalah pelopor penting demokrasi, bukan hanya teori, tetapi juga praktik. Gus Dur pernah bilang ke saya, kalau misalnya kemunduran di Muhammadiyah terjadi, dia sangat menyangkannya, dia juga prihatin pada Muhammadiyah jika ada kemunduran. Padahal Gusdur itu mantan Ketua Umum PBNU.Januari tahun ini dia datang ke rumah saya. Kami ngobrol banyak hal. Dari mulai hal kecil sampai hal besar. Kami bicara politik, kami juga bicara pancasila, dan banyak hal. Kami ngobrol panjang lebar selama dua jam. Dia diatas kursi roda dan kami lancar bicara. Bagi saya, Gusdur adalah orang yang sangat rajin untuk bersilaturahmi. Dan saya akui saya pun kalah rajin.” (Ahmad Syafi’i Ma’arif, Mantan Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah)
Tokoh Persaudaraan Antar Umat
“Gusdur adalah tokoh yang disegani baik di dalam maupun di luar negeri. salah satu yang menonjol dari Gusdur adalah bagaimana menjadi pemersatu bangsa misalnya sumbangannya bagai perdamaian dunia dan persaudaraan antar umat beragama.
Sekalipun pernah menjadi pemimpin Nahdlatul Ulama yang merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesa, Gusdur tidak eksklusif dalam berpandangan soal persaudaraan. Gus Dur membuka diri dan bisa berdialog dengan banyak pihak yang berbeda keyakinan.
Gus Dur sebagai salah sau perekat persaudaran di Indonesia akhirnya bukan hanya menjadi milik keluarganya, melainkan juga telah menjadi milik bangsa, negara, bahkan dunia. Wafatnya Gus Dur adalah sebuah kehilangan bagi semua pihak. Sudah sangat tepat jika negara dan bangsa harus bebela sungkwa terhadap wafatnya gusdur. Apalagi beliau adalah mantan presiden.” (Mahfud MD, Ketua Mahkamah Konstitusi)
Pemikir Islam Berwawasan Kebangsaan
“Semua rakyat Indonesia kehilagn tokoh ebesra, pemikir Islam yang berwawasan kebangsaan, yang sangat mengayomi semua unsur bangsa. ebetulan saya juga cukup dekat dengn beliau dan keluarganya sudh cukup lama. jadi kita sangat kehilangan atas kepergianbelia.
Saya kira sikap beliau yang paling inklusif, sikap beliau sebagai pemimpin islam yang moderat dan berwawaan kebangsaan. Saya kira ini warisan beliau kepada kita semua. (Prabowo Subianto, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra)
Pahlawan Demokrasi dan Multikultural
“KH Abdurrahman Wahid alias Gusdur adalah tokoh besar. lihat saja, baru saja meninggal, banyak tokoh yang datang melayat. Negara seharusnya memberikan penghargaan kepada beliau. Beliau bisa juga diusulkan sebagai pahlawan demokrasi atau pahlawan multikultural.
Saya mengenal sosok Gus Dur sudah sangat lama sehingga sangat memahami dan tahu betul bagaimana karakternya sebagai pemimpin. Gus Dur adalah figur pemimpin yang layak dicontoh. Tidak banyak figur pemimpin yang seperti Gus Dur. Saat ini kita butuh pemimpin seperti beliau yang tidak terseret arus. Pemimpin saat ini takut terhadap massa. Kalau Gus Dur adalah pemimpin yang tidak terseret arus. (Jimly Asshiddiqie, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi)
Membangun Perlunya Kemajemukan
“Selama hidupnya, Gusdur telah menampilkan peran tertentu dan memberikan jasa bagi bangsa Indonesia. Walaupun Gus Dur memiliki banyak ide dan bersikap kontroversial, banyak pula idenya yang bermanfaat seperti pengembangan atas perlunya kemajemukan dan penguatan demokrasi.
Saya berharap hilangnya seorang tokoh umat dn bangsa ini akan segera tergantikan dengan munculnya tokoh lain, khususnya di kalangan umat Islam. (Din Syamsuddin, Ketua umum PP Muhammadiyah)
Sumber: Koran Sindo Edisi kamis 31 Desember 2009
SEORANG pengamat asing memandang, Indonesia tidak akan pernah mendapatkan figur pemimpin yang seperti K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dalam 100 tahun ke depan.
Dr. Larry Marshal dari La Trobe University, Australia, menyebut Gus Dur sebagai pemikir cemerlang yang memiliki pandangan luas. Marshal bahkan sangsi Indonesia bisa melahirkan pemikir-aktivis seperti Gus Dur dalam jangka waktu seratus tahun ke depan. Apresiasi dan pujian dari masyarakat intelektual dunia ini bukan sekali ini saja. Gus Dur kerap menerima sejumlah penghargaan dari banyak lembaga internasional yang bersimpati terhadap perjuangannya selama ini.
Dalam konferensi tahunan ketujuh yang diadakan Globalization for The Common Good, From The Middle East to Asia Facific: Arc of Conflict or Dialogue of Cultures and Religions, 30 Juni-3 Juli 2008, di Melbourne, Australia, para peserta dan pembicara yang berasal dari universitas-universitas terkemuka pelbagai negara ini hampir selalu menyebut Gus Dur sebagai contoh ideal pemuka agama tradisional yang begitu gigih memperjuangkan semangat toleransi dan perdamaian.
Bahkan, Prof. Muddathir Abdel-Rahim dari International Institute of Islamic Thought and Civilization Malaysia, menunjuk Gus Dur sebagai sosok yang berhasil membalik prasangka banyak kalangan tentang wajah Islam yang cenderung dipersepsi tidak ramah terhadap isu-isu toleransi dan perdamaian. Prof. Abdullah Saeed dari The University of Melbourne juga mengakui posisi penting Gus Dur dalam upaya kontekstualisasi nilai-nilai universal Alquran. Dr. Natalie Mobini Kesheh dari Australian Baha’i Community mengatakan, satu-satunya pemimpin Islam dunia yang begitu akomodatif terhadap komunitas Baha’i adalah Gus Dur. Prof. James Haire dari Charles Stuart University, New South Wales, berkali-kali memberi pujian kepada mantan Presiden Republik Indonesia yang ia nilai paling gigih dalam memberi perlindungan terhadap kelompok minoritas.
Di sisi lain, khususnya di dalam negeri, Gus Dur adalah tokoh yang pernyataan-pernyataannya kerap mengundang kontroversi. Di satu sisi ia mengedepankan sekularisme, tapi di sisi lain ia habis-habisan menunggangi simbol-simbol keagamaan seperti pesantren, ke-kiai-annya, atau ke-Gus-annya. Di sana-sini ia berteriak agar jangan terlalu mengeksploitasi hukum Islam dalam kehidupan berbangsa yang pluralis. Namun ketika ada yang hendak melengserkannya dari kursi kepresidenan, tiba-tiba muncul istilah “fikih dalam menghadapi makar terhadap pemimpin umat”. Tiba-tiba saja ayat-ayat Alquran digunakan untuk mengecam orang-orang yang hendak menjatuhkan dirinya. Tapi, itulah Gus Dur.
Sebagai politisi dan pejuang hak asasi manusia (HAM), Gus Dur memang manusia yang sangat langka. Dan, kemampuannya melakukan pembedaan secara jernih mengenai posisinya itu adalah sesuatu yang mengagumkan. Perjuangannya untuk tetap membela hak-hak minoritas tak pernah surut kendati tampak tidak menguntungkan secara politik. Ketika kebanyakan politisi angkat tangan dan bungkam terhadap kasus minoritas Ahmadiyah, Gus Dur justru tampil di garda depan sebagai pembela hak-haknya. Selamat jalan Gus…. ** (Galamedia/SF)
Sejarah hidup Gus Dur - Mengenang Perjalanan Hidup Gus Dur. Kiai Haji Abdurrahman Wahid yang sering dikenal dengan nama Gus Dur adalah salah satu tokoh nasional yang banyak mewarnai perjalanan bangsa Indonesia. Cucu ulama besar KH Hasyim Asy'ari tersebut pernah menjabat Ketua Nahdlatul Ulama. Gus Dur pula yang mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa atau PKB pada era reformasi.
Gus Dur meninggal dunia pada Rabu (30/12/2009) sekitar pukul 18.45 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) setelah sempat dirawat beberapa hari dan menjalani cuci darah. Gus Dur meninggalkan seorang istri, Shinta Nuriyah, dan empat anak, masing-masing Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zanuba Arifah, Anita Hayatunnufus, dan Inayah.Perjalanan hidupnya dimulai di Jombang, Jawa Timur, tempat ia lahir pada 4 Agustus 1940. Ia menjalani pendidikan sekolah dasar di Jakarta sejak tahun 1953 dan melanjutkan ke SMEP di Yogyakarta tahun 1956. Kemudian, Gus Dur melanjutkan pendidikan di pesantren Tambakberas Jombang pada tahun 1963. Gus Dur juga sempat mengenyam pendidikan di Universitas Al Azhar, Department of Higher Islamic and Arabic Studies, Kairo dan Fakultas Sastra, Universitas Baghdad, Irak, pada tahun 1970 tetapi tak sempat menyelesaikan.
Selepas itu, Gus Dur berkarier menjadi guru dan dosen selama bertahun-tahun. Gus Dur menjadi Guru Madrasah Mu'allimat, Jombang (1959 - 1963), Dosen Universitas Hasyim Asyhari, Jombang (1972-1974), dan Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asyhari, Jombang (1972-1974).Gus Dur juga aktif di pesantren menjadi sekretaris Pesantren Tebuireng, Jombang (1974-1979) dan menjadi konsultan di berbagai lembaga dan departemen pemerintahan pada tahun 1976. Selanjutnya, Gus Dur menjadi pengasuh Pondok Pesantren Ciganjur, Jakarta, sejak tahun 1976 hingga sekarang.Di organisasi Nahdlatul Ulama, Gus Dur menjadi anggota Syuriah Nahdlatul Ulama tahun 1979-1984. Ia juga menjabat Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk empat periode. Masing-masing 1984-1989, 1989-1994, dan 1994-1999, dan 2000-2005.
Sementara itu di bidang pemerintahan, Gus Dur pernah duduk, baik di lembaga legislatif maupun eksekutif. Ia menjadi anggota MPR dari utusan golongan selama dua periode. Masing-masing periode 1987-1992 dan 1999-2004. Karier politik tertingginya adalah menjadi Presiden RI selama 2 tahun pada 1999-2001.
Gus Dur dikenal sebagai tokoh kerukunan umat beragama, bahkan cukup kontroversial karena menjadi anggota Dewan Pendiri Shimon Peres Peace Center, Tel Aviv, Israel. Ia pernah menjadi Wakil Ketua Kelompok Tiga Agama, yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi, yang dibentuk di Universitas Al Kala, Spanyol, serta Pendiri Forum 2000 (organisisasi yang mementingkan hubungan antaragama). Ia juga pernah menjabat Ketua Dewan Internasional Konferensi Dunia bagi Agama dan Perdamaian atau World Conference on Religion and Peace (WCRP), Italia, tahun 1994.
Gus Dur juga pernah menjadi Ketua Dewan Pimpinan Harian (DPH) Dewan Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (TIM) periode 1983-1985. Meski mengalami penurunan kemampuan melihat, Gus Dur dikenal masih suka membaca melalui suido book bahkan sampai menjelang akhir hayatnya. Ia juga dikenal produktif menulis artikel dan buku.
Gus Dur juga banyak mendapat penghargaan, seperti gelar doktor honoris causa dari Universitas Jawaharlal Nehru, India, Bintang Tanda Jasa Kelas 1, Bidang Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan dari Pemerintah Mesir, Pin Penghargaan Keluarga Berencana dari Perhimpunan Keluarga Berencana I, Ramon Magsaysay, Bintang Mahaputera Utama dari Presiden RI BJ Habibie, gelar doktor honoris causa bidang perdamaian dari Soka University Jepang (2000), Global Tolerance Award dari Friends of the United Nations New York (2003), World Peace Prize Award dari World Peace Prize Awarding Council (WPPAC) Seoul Korea Selatan (2003), Presiden World Headquarters on Non-Violence Peace Movement (2003), penghargaan dari Simon Wiethemtal Center Amerika Serikat (2008), penghargaan dari Mebal Valor Amerika Serikat (2008), penghargaan dan kehormatan dari Temple University, Philadelphia, Amerika Serikat, yang memakai namanya untuk penghargaan terhadap studi dan pengkajian kerukunan antarumat beragama, Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study (2008). kompas.
Bukan Sekedar Tak Ada Perang, Tapi Juga Jaminan Keadilan
Jakarta-thewahidinstitute.org. Ketika menjelaskan peran Indonesia sebagai poros muslim moderat dunia, KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur banyak membicarakan kiprah Nahdlatul Ulama, ormas keagamaan terbesar Tanah Air, dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Mantan Ketua Umum PBNU ini juga bercerita bagaimana tokoh NU dan nasional pada masa-masa awal kemerdekaan membincang isu Islam dan kebangsaan secara serius dan mendalam. Diskusi itu berlangsung antara Haji Oemar Sahid Tjokroaminoto dan dua sepupunya KH Hasyim Asy'ari dan KH A Wahab Chasbullah, dua tokoh NU. Diskusi ini biasanya berlangsung bakda Zuhur dan usai sebelum Magrib. Selain ketiganya, Soekarno, kelak menjadi Presiden Indonesia pertama dan juga menantu Oemar Sahid, juga ikut terlibat di dalamnya.
Dalam Muktamar NU di Banjarmasin tahun 1935, NU berpandangan bahwa umat Islam tak berkewajiban mendirikan negara Islam. Sikap ini kemudian memperkuat perumusan Pancasila dan Proklamsi kemerdekaan Indonesia ."Nasionalisme adalah dasar pendirian bangsa Indonesia," tegas Gus Dur.
Terkait isu fundamentalisme Gus Dur juga menegaskan pandangannya yang demokratis. Kaum fundamentalis, kata Gus Dur, sesungguhnya tak boleh dianggap sebagai musuh yang mesti diperangi. Sebab, memeranginya sama artinya keluar dari ajaran agama yang menjunjung tinggi kemanusiaan. "Kita justru harus mengajaknya berdiskusi," kata Gus Dur. Gus Dur bahkan mengutip sebuah hadis "Barang siapa yang mengkafirkan sauradara muslimnya, maka sesungguhnya telah kafirlah dia".
Demikian pandangan Gus Dur yang mengemuka dalam Dialog Bersama Kardinal Jean-Louis Tauran dan Abdurrahman Wahid bertajuk "Indonesia: Center of Moderate Muslims in The World", di ruang pertemuan The Wahid Institute Jakarta Jalan Taman Amir Hamzah Jakarta, Kamis (24/11/2009) .
Kardinal Jean-Louis Tauran adalah President of the Pontifical Council for Interreligious Dialogue, Gereja Vatikan, Roma Italia. Pria kelahiran 5 April 1943 di Bordeaux, Prancis, ini sengaja mengunjungi The Wahid Institute sebagai salah satu tujuan dalam lawatannya selama di Tanah Air untuk berdiskusi terkait isu dialog antar agama dengan sejumlah aktivis pegiat toleransi dan pimpinan media massa.
Dalam sambutannya, Kardinal Tauran mengungkapkan filosofi tentang perdamaian yang juga dasar pijakan Vatikan. Perdamaian, katanya, bukan sekedar karena tak adanya situasi perang, namun lebih jauh bermakna perlindungan atau jaminan dan keadilan. Di dalamnya ada tiga fondasi yang tak bisa dilepaskan satu sama lain: toleransi (tolerance); saling menghormati (mutual respectness),Kerjasama antar pemeluk agama (cooperation).
Menjawab pertanyaan Ulil Abshar Abdalla, salah seorang peserta dialog yang juga dikenal sebagai intelektual muda NU dan akan mencalonkan menjadi Ketua Umum PBNU mendatang, Tauran menjelaskan. Salah satu problem yang menyebabkan terjadinya perlakuan buruk terhadap umat Islam adalah soal kekurangmengertian masyarakat Eropa terhadap Islam. Selain itu realitas sebagian besar muslim yang berprofesi sebagai pekerja juga menjadi hambatan lain. Karena itu dirinya mendorong agar masyarakat muslim juga bisa berkiprah lebih luas di bidang pendidikan, misalnya dengan melahirkan para profesor.
Acara yang berlangsung selama dua jam ini dipandu Rosihana Silalahi, presenter SCTV, dan dihadiri berbagai perwakilan dari Departemen Luar Negeri Indonesia, tokoh agama, intelektual muda, politisi, dan LSM/Ormas dengan latar keagamaan dan beberapa wartawan media cetak dan elektronik.
Dalam sambutannya selakuk Direktur The Wahid Institute, Yenny Zannuba Wahid berterima kasih atas kunjungan Cardinal Tauran ke lembaganya. Yenny menjelaskan, betapapun dialog antaragama satu forum yang selalu harus dibina, baik dilingkup internal Islam maupun antarumat beragama, khususnya di Indonesia sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar dunia yang moderat.
Di akhir diskusi Cardinal Tauran juga mengucapkan "Selamat Hari Raya Idul Adha" yang jatuh besok Jumat, 27 November 2009 (BSF & AMDJ).
Jakarta-gusdur.net. Di hadapan sejumlah elemen mahasiswa di Kantor PBNU Jakarta, mantan Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid menyatakan kekecewaannya terahadap sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait rekomendasi Tim 8. "Terus terang saja saya kecewa. Karena tidak disebut-sebut soal kedaulatan hukum," katanya.
Gus Dur juga menilai SBY lepas tangan dan cuci tangan dalam kasus dua pimpinan nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah itu. Kekecewan serupa juga ditujukan Gus Dur kepada sikap Polisi dan Kejaksaan yang tak menghentikan kasus Bibit dan Chandra ini. Polisi bahkan tetap melimpahkan berkas Bibit ke kejaksaan. "Itu yang menambah kekecewaan kita," Tambahnya lagi.
Rohaniwan sekaligus Guru Besar Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta Romo Franz Magnis Suseno, menyatakan hal senada. Terkait kasus itu, Romo Magnis menilai, yang mesti dicermati bahkan bukan sekadar apakah konflik antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polri selesai atau tidak, tapi bagaimana "nasib" KPK selanjutnya. "Kita ingin KPK punya gigi, jangan sampai diperlunak," tegasnya.
Dengan terpilihnya kembali SBY lewat kemenangan yang meyakinkan dan didukung mayoritas rakyat, menurut Frans Magnis sudah seharusnya SBY lebih berani dalam memberantas korupsi. Jika terkesan ragu-ragu situasi ini dianggap berbahaya. Koruptor bisa lebih leluasa.
Sesaat setelah berlangsungnya siaran langsung pidato Presedin SBY terkait rekomendasi Tim 8, Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi (KOMPAK) langsung menyatakan kekecewaannya. "Kami kecewa terhadap apa yang disampaikan SBY," ujar Koordinator Kompak Fadjroel Rahman di kantor Imparsial, Senin (23/11) malam seperti dikutip kompas.com.
Pihaknya bahkan berencana menggelar demo secara terus-menerus untuk menggulingkan pemerintahan SBY. Itu, katanya, bentuk kekecewaan terhadap Presiden. Sebab, awalnya KOMPAK berpikir bahwa Pemerintahan SBY akan serius dalam memberantas mafia hukum, tetapi pidato Presiden mencerminkan sebaliknya (AMDJ). []
Ujian Politik
M Zaid Wahyudi*
Faktor keturunan di dunia politik Indonesia, sejak kemerdekaan hingga kini, sangat menentukan. Nama politisi besar di belakang nama para politisi baru menjadi modal untuk mendongkrak karier politik lebih cepat. Garis keturunan dalam perekrutan kader politik terkadang mengalahkan faktor kompetensi. Salah satu politisi muda yang memiliki darah biru politik adalah Zannuba Arifah Chafsoh Rahman atau dikenal dengan nama Yenny Wahid. Putri kedua mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dan cicit pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari, ini mengawali karier politik praktisnya dengan menjadi pengurus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sejak 2005.
Kehadirannya dalam dunia politik cukup fenomenal. Namanya cepat meroket saat ia menjadi Sekretaris Jenderal PKB pada 2007. Namun, gaung namanya pun surut pascakonflik PKB pada 2008 yang membuat PKB versi Ketua Umum Dewan Syura PKB Abdurrahman Wahid gagal ikut Pemilu 2009.
Berikut petikan wawancara Kompas dengan Yenny Wahid di Jakarta, Jumat (30/10), tentang politik keturunan di Indonesia dan harapannya terhadap kehidupan politik ke depan.
Bagaimana pandangan Anda tentang politik keturunan?
Saya cukup terpecah karena saat faktor keturunan memiliki fungsi penting dalam politik agak bertentangan dengan nurani saya. Di satu sisi, seharusnya ada kesamaan dan keadilan untuk semua, tanpa memandang orangtuanya. Tetapi, di sisi lain, realitas menunjukkan keturunan memiliki fungsi besar untuk ‘membuka pintu’ dalam membangun hubungan dengan pihak lain.
Sejak awal, saya juga dididik bahwa setiap manusia memiliki kedudukan yang sama di mata Tuhan, hukum, dan masyarakat. Unfairness (ketidakadilan) yang terjadi akibat faktor keturunan dalam politik saat ini tetap harus dikoreksi.
Namun, bagi saya, yang penting adalah apa yang akan saya lakukan setelah ‘pintu’ itu terbuka. Itu kembali ke diri saya sendiri. Nama besar tanpa didukung kerja keras dan usaha sungguh-sungguh tidak akan ada artinya. Saya percaya bahwa nama besar itu seperti bakat, hanya menyumbang 1 persen terhadap kesuksesan seseorang. Sisanya, 99 persen ditentukan oleh kerja keras setiap individu.
Apa tantangan terbesar menyandang nama Wahid?
Harus betul-betul menjaga tingkah laku dan ekspektasi tertentu yang dikaitkan dengan nama itu. Kalau tidak pandai mengelola ekspektasi itu, bisa mengecewakan masyarakat dan membuat malu orangtua. Nama besar itu bisa menjadi anugerah atau beban, tergantung bagaimana mengelolanya.
Jika politik keturunan menimbulkan ketidakadilan, bagaimana mengoreksinya mengingat hal ini juga terjadi di negara-negara Barat yang demokrasinya sudah maju?
Dengan memperkuat sistem meritokrasi. Di Indonesia belum terbangun budaya yang bangga jika mampu berprestasi atau sukses berdasarkan kerja kerasnya sendiri dari bawah seperti dalam The American Dream.
Dalam kultur NU, proses meritokrasi itu berjalan lebih demokratis dibanding di partai politik. Dalam kultur kiai NU, kiai yang memiliki ilmu lebih banyaklah yang lebih dihargai. Artinya, kiai dihormati karena keilmuannya. Jika ada keturunan kiai yang kurang memiliki ilmu, penghormatan atas dirinya hanya sebatas pada keturunannya saja.
Sebagian pihak menilai Anda hanya memanfaatkan nama besar Gus Dur?
Wajar orang menilai itu karena mereka hanya mengenal sosok saya sebagai anaknya Gus Dur. Tak perlu dibuat marah atau sakit hati. Tunjukkan saja dengan kerja dan prestasi. Saat ini saya nyaman dengan prestasi yang saya peroleh, baik ketika menjadi wartawan, mahasiswa di Universitas Harvard, atau keanggotaan saya di sejumlah forum internasional yang sudah atau akan saya jalani.
Apa yang membuat Anda terjun ke politik praktis?
Butuh waktu 3-4 tahun untuk memutuskan masuk ke politik praktis karena bebannya sangat besar. Tapi, ketika Bapak (Gus Dur) lengser pada 2001, rasa kehilangan masyarakat sangat besar karena mereka merasa Gus Dur dapat dititipi amanah. Dari saat itu saya berjanji akan terus memperjuangkan kepentingan mereka bagaimanapun caranya.
Setelah menjadi pengurus PKB pasca-Muktamar 2005 di Semarang, semangat itu makin mengental karena banyak bersentuhan langsung dengan masyarakat di bawah. Mau tidak mau, akhirnya saya harus terjun ke politik praktis untuk meneruskan garis perjuangan dan pengabdian keluarga kepada masyarakat seperti yang dilakukan eyang-eyang saya.
Sikap itu saya ambil daripada nanti menyesal karena hidup hanya untuk diri sendiri. Bagi saya, berpolitik itu memiliki dua potensi, membebaskan atau justru menyengsarakan. Pilihan itu ada pada para politisi sebagai pembuat kebijakan.
Anda merasa mewakili garis politik Gus Dur?
Secara nilai pasti karena saya dibesarkan dalam tata nilai politik yang dibangun Gus Dur sejak saya kecil. Sikap itu betul-betul mewarnai cara pandang saya dalam menilai sesuatu dengan prinsip egaliter, humanis, fair, dan sedikit nekat.
Akar pendukung Gus Dur adalah warga Nahdlatul Ulama dan kelompok minoritas. Bagaimana Anda memandang mereka?
Mereka semua adalah mitra dalam membangun negeri. Kualitas pembangunan negeri ini sangat ditentukan oleh semua lapisan masyarakatnya.
Kekuatan dan peranan NU dalam pembangunan bangsa tak bisa dipandang kecil. NU merupakan organisasi massa Islam terbesar di dunia dengan jumlah warga diperkirakan mencapai 80 juta jiwa. NU dapat menjadi mitra pemerintah dalam bernegosiasi dengan negara-negara asing untuk menjalankan politik luar negeri yang bebas aktif.
Apa pentingnya menjadikan mereka sebagai mitra? Bukankah pembangunan selama ini dikendalikan oleh elite?
Elite memang memegang peranan besar karena mereka berfungsi sebagai agen dan mesin pendorong perubahan. Tetapi, jika massa yang ada di bawah kualitasnya tidak sebanding, mesin itu akan sulit bergerak. Elite boleh membuat kebijakan apa pun, tetapi yang menjalankannya tetap masyarakat.
Untuk itu, diperlukan adanya kepemimpinan yang inspiratif sehingga mulai dari lapisan atas-bawah dan atasan-bawahan bisa saling bekerja sama dan tidak saling mengambil keuntungan terhadap yang lain untuk diri sendiri.
Sekarang tak bisa lagi menjadikan masyarakat akar rumput sebagai alat elite semata. Dalam pemilihan langsung seperti saat ini, justru elite yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat. Hal itu tidak dapat disalahkan kepada rakyat karena mereka hanya meniru perilaku elite. Elite secara terang-terangan mempertontonkan bahwa dalam proses politik saat ini, mereka yang harus untung lebih dulu dibandingkan rakyat yang diwakilinya.
Kondisi itu kemudian berkembang menjadi keserakahan kolektif, yang ujungnya bisa menghancurkan bangsa karena tak ada lagi nilai luhur yang dipegang. Kalau ingin berubah, maka harus dimulai dari elite dulu.
Sumber: Kompas cetak, Rabu, 11 November 2009 | 03:13 WIB
Foto: KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Agama Melawan Orang-orang Liberal
Cam McGrath*
KAIRO (IPS) – “PARA pengawal moralitas masyarakat” memakai instrumen hukum Islam untuk melawan ide-ide yang mereka anggap tak bermoral dan bid’ah -atau sekadar mencari popularitas.
“Kami prihatin jumlah kasus hisba meningkat selama tahun-tahun terakhir ini,” ujar Gamal Eid, direktur eksekutif Arabic Network for Human Rights Information (ANHRI).
Hisba adalah perkara hukum yang diajukan seseorang secara sukarela untuk melindungi masyarakat dari seseorang yang perkataan atau perbuatannya dianggap membahayakan Islam. Diperkenalkan di Mesir pada abad ke-8, instrumen hukum yang kabur itu mendorong umat Muslim untuk membantu sesama pemeluk agama, dan juga negara, dan bertanggung jawab menegakkan kebajikan agama.
Konstitusi Mesir mengizinkan penggunaan hisba untuk mendorong keterlibatan warga demi kebaikan masyarakat. Kini kelompok-kelompok HAM mengatakan, pada dekade lalu pemerintah membiarkan penyalahgunaan aturan hisba untuk meredakan kelompok konservatif dan menekan lawan-lawan rezim.
“Sekira 95 persen kasus yang sampai ke pengadilan menyangkut penulis, seniman, dan wartawan yang kritis terhadap pemerintah,” ujar Eid. “Akibatnya muncul suasana ketakutan; orang takut menyampaikan pikiran dan pendapat mereka.”
Penulis sekuler Sayed El-Qimni, pengusaha telekomunikasi Naquib Sawiris, dan penulis feminis Nawal El-Saadawi adalah orang-orang terkenal yang pernah jadi target perkara hukum hisba.
Para pengacara konservatif dan agamawan menyatakan, tulisan El-Qimni soal agama dan mitologi menghina Tuhan, karenanya mereka mengajukan perkara hisba yang mendesak pemerintah agar mencabut hadiah sastra untuknya dari pemerintah dan mencabut kewarganegaraannya.
Sawiris membakar kemarahan pengacara Islam Nizar Ghorab saat dia tampil dalam sebuah acara bincang-bincang televisi bulan lalu. Sawiris mengkritik pasal-pasal dalam konstitusi yang menjadikan syariah (hukum Islam) sebagai dasar sistem hukum negara. Ghorab menuduh pengusaha Kristen itu menghina Islam di muka umum, dan menuntut agar dia dipenjara.
Pengacara lainnya, Nabih El-Wahsh, mengajukan perkara hisbah terhadap El-Saadawi setelah dia mendirikan organisasi sipil yang mempromosikan pemisahan negara dan agama. Dia menuduhnya menghina Islam, dan menuntut hukuman penjara.
Ini bukan kali pertama El-Wash menggunakan hisba untuk melawan El-Saadawi. Pada 2001, dia mengajukan gugatan dalam upaya menceraikan-paksa El-Saadawi dan suaminya, Sherif Hetata, karena dia menganggap penulis sekuler itu menjadi atheis. Umat Muslim dilarang menikah dengan orang yang tak seiman, ujarnya di pengadilan.
El-Saadawi juga dikenal dalam kasus hisba yang membuat buku-bukunya dilarang dan kewarganegaraannya dicabut. Selain menangkis serangan itu, El-Saadawi bersikeras bahwa buku-bukunya tak berkaitan dengan seseorang.
“Mereka adalah pengacara-pengacara tanggung… orang-orang yang suka bikin sensasi dengan memanfaatkan situasi meningkatnya fundamentalisme Islam dan melemahnya pemerintah menghadapi Persaudaraan Muslim yang kuat,” ujarnya kepada IPS. “Mereka tak hanya mengajukan saya ke pengadilan, mereka mengajukan setiap orang ke pengadilan.”
Masalahnya, kata dia, adalah keterlibatan pemerintah dalam tuntutan hukum terhadap pengkritiknya yang vokal. Legislasi yang diterapkan pada 1996 mengharuskan jaksa penuntut umum sendiri yang memutuskan kasus-kasus mana yang diserahkan ke pengadilan.
“Jaksa penuntut umum sangat selektif, terkadang mereka menunjuk sebuah kasus dan terkadang tidak,” ujar El-Saadawi. “Jelas mereka mendapat lampu hijau dari atas. Jaksa penuntut umum tak pernah menyerahkan kasus hisba yang melawan menteri atau pejabat pemerintah ke pengadilan. Tapi mereka selalu membawa kasus pemikir dan penulis yang mengkritik pemerintah, seperti saya.”
Tak seorang pejabat pun dalam daftar tuntutan hisba yang diajukan setiap tahun, tapi kelompok-kelompok HAM yakin jumlahnya meningkat. Departemen Hukum ANHRI mendokumentasikan lebih dari 600 kasus hisba tahun lalu, belum termasuk yang tak tercatat.
“Kami menerima kasus-kasus yang terkenal, tapi ada ratusan kasus lainnya, yang tergantung pada upaya hakim,” ujar Eid.
Beberapa pengacara konservatif dan agamawan menjadi sumber sebagian besar perkara hisba itu. Beberapa di antara mereka meniti karir dengan kasus-kasus itu.
El-Wahsh mengajukan lebih dari 1.000 kasus hisba selama satu dekade terakhir. Pengacara lainnya meraih ketenaran dengan memperkarakan pemikir-pemikir independen terkemuka ke pengadilan.
“Tak perlu keluar uang untuk mengajukan kasus hisba. Tapi ketika Anda mengajukan perkara hibah melawan orang terkemuka, yakinlah Anda akan diwawancarai dan muncul di televisi,” ujar Eid. “Pengacara-pengacara itu mendapat uang dari popularitas ini, sehingga beberapa dari mereka memasukkan lebih dari 200 kasus setiap tahun. Mereka tahu pengadilan akan menolak sebagian kasus mereka, tapi ini adalah sarana promosi yang bagus.”*
Translated by Imam Shofwan
Edited by Budi Setiyono
* ) Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS.
SBY-JK Saksi Pernikahan Yenny-Dhohir
Ciganjur-wahidinstitute.org. Di depan KH. Abdurrahman Wahid dan H. Anshori sang penghulu, Dhohir Farisi lancar menjawab ijab-kabul dalam bahasa Arab. Sekali jawab, dua saksi akad nikah Kamis siang itu (15/10), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan sah, dan langsung diikuti tempik sorak para hadirin yang memadati Masjid Al-Munawwarah. Di antara para hadirin tampak beberapa tokoh penting: Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto yang mengenakan batik warna krem, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, dan beberapa politisi lainnya. Hadir juga para kiai Nahdlatul Ulama (NU) seperti KH. Mustofa Bisri, Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi dan Ketua PBNU Said Aqil Siradj, termasuk tokoh muda NU Ulil Abshar Abdalla.
Prosesi pembacaan ijab-kabul Dhohir Farisi dengan Zannuba Arifah Chafsoh, akrab disapa Yenny Wahid, dimulai pukul 14.13 WIB dimana Gusdur, sapaan akrab KH. Abdurrahman Wahid, langsung bertindak sebagai wali nikah. Setelah Ijab-kabul, acara dilanjutkan dengan penyerahan mas kawin berupa 10 ekor sapi seharga Rp.90,9 juta oleh Dhohir kepada Gudur. Sepuluh sapi diserahkan secara simbolis dalam bentuk lonceng dan sertifikat yang dibingkai. Setelah itu sang penganti pria bersama rombongan menuju kediaman Gus Dur diiringi tabuhan rebana dari mahasiswa Perguruan Tinggi Ilmu al-Quran (PTIQ).
Sebelumnya, prosesi akad nikah dimulai dengan acara serah terima dari keluarga besar mempelai laki-laki kepada keluarga perempuan yang digelar di lokasi samping masjid, tempat akad dilakukan. Kepada keluarga perempuan, perwakilan pengantin pria menyatakan menyerahkan Dhohir Farisi kepada keluarga besar Gusdur dan kelak akan menjadi anggota baru keluarga tersebut. Perwakilan keluarga Dhohir juga meminta Gusdur kelak bisa membimbing Dhohir menjadi suami sekaligus bagian keluarga seperti yang diharapkan. “Ananda Dhohir Farisi akan memegang teguh prinsip dan nilai-nilai Islam Ahlussunnah Waljamaah,” ungkap perwakilan keluarga itu.
Dhohir sendiri lahir dan besar dalam lingkungan keluarga Nahdliyin dari pasangan H. Ma’ruf Al-hasyim dan Hj Ma’rufah. Sang ibu tercatat pernah menjadi sebagai ketua Fatayat Cabang Kraksaan, Probolinggo, organisasi perempuan di bawah organisasi NU. Bersekolah di Ma drasah Ibtidaiyah (MI) NU Kraksaan, Dhohir kecil terbiasa membagikan majalah Aula, media komunikasi warga NU ke rumah-rumah pengurus dan anggota NU setempat.
Prosesi akad nikah ditutup dengan pembubuhan tanda tangan Yenny-Dhohir di buku nikah mereka dan dilanjutkan dengan ucapan selamat di pelaminan. Namun saat membubuhkan tandatangan Yenny Wahid tampak kesulitan dan bingung di mana dia harus membubuhkan tanda tangan. “Maklum, pengalaman pertama, dan mudah-mudahan yang terakhir,” goda pembawa acara melalui mikropon.Yenny pun tampak tersipu malu.
Wapres Jusuf Kalla dan Ibu Mufidah Kalla datang lebih dulu sekitar pukul 13.25 WIB.Tak lama kemudian Presiden SBY datang bersama Ibu Negara Ani Yudhoyono dan rombongan. Setelah sesi foto dengan pasangan pengantin dan ramah-tamah, sekitar 15.20 WIB Presiden SBY dan Ibu Negara langsung meninggalkan tempat dengan kawalan ketat. Sementara Jusuf Kalla masih menyempatkan makan hidangan tuan rumah sebelum akhirnya juga meninggalkan tempat.
Sehari sebelumnya, keluarga juga menggelar acara pemasangan bleketepe, anyaman daun kelapa dan padi, oleh Gus Dur di Ciganjur sebagai tanda pemilik rumah tengah memiliki hajat. Acara ini kemudian dirangkai dengan pengajian al-Quran, siraman dengan air dari tujuh sumber, sungkeman dan ditutup midoderani pada malam harinya (AMDJ) []
Jakarta-gusdur.net. Kedatangan rombongan mempelai pria di Masjid Al-Munawwarah, Ciganjur pagi itu (13/10) langsung disambut suara rebana yang ditabuh tim rebana Institut Ilmu al-Quran (IIQ) Jakarta. Sementara rombongan yang laki-laki masuk ke dalam masjid, rombongan perempuan dari mempelai pria masuk ke kediaman KH. Abdurrahman Wahid, yang lokasinya bersebalahan dengan rumah mantan Presiden RI ke-4 itu. Rombongan itu langsung diterima keluarga besar KH. Abdurrahman Wahid bersama sang isteri, Sinta Nuriyah Wahid.
Tak lama giliran Wakil Presiden yang datang menuju ruangan VVIP dimana Gus Dur dan keluarga menunggu. Kedatangan orang nomor dua itu disambut meriah tempik rebana Madura. Setelah itu baru tiba giliran Presiden RI beserta rombongan yang datang.
Beberapa saat kemudian rombongan keluarga dari mempelai perempuan, KH. Abdurrahman Wahid bersama isteri dan kedua petinggi negeri itu menuju masjid, tempat dilangsungkan akad nikah.
Pemandangan pagi itu merupakan sesi gladi resik acara akad nikah Yenny Zannuba Arifah Chafsoh Rahman atau akrab disapa Yenny Wahid dengan Dhohir Farisi, pria kelahiran probolinggo dari pasangan H Maruf Hasyim dan Hj Ma’rufah, yang akan digelar Kamis besok (15/10).
Sekitar 60-an orang terlibat di sesi gladi resik pagi itu. Limapuluhan orang dari panitia pelaksana akad nikah, sepuluh orang dari pihak protokoler dan Pasukan Pengaman Presiden dan Wakil Presiden. “Acara gladi resik sendiri mulai pukul 10.00 WIB sampai 13.00 WIB,” kata Gamal Ferdhi salah seorang panitia bagian media (14/10).
Seperti diberitakan, akad nikah pasangan yang dilangsungkan Kamis besok ini akan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Keduanya bertindak sebagai saksi.
Lantaran kedatangan orang nomor satu dan dua negeri ini sedianya jalan menuju lokasi, mulai dari Jalan Raya Cilandak hingga menuju Jalan Warung Sila ditutup sementara pada pukul 13.00 -13.30 WIB dan 15.30-16.00 WIB.”Untuk itu keluarga besar mempelai meminta maaf kepada masyarakat yang terganggu dengan ini dan harap memakluminya,” kata Gamal.
Seremoni acara akad nikah rencananya dimulai pukul 12.00 WIB dan berakhir pukul 21.00 WIB. Dan Gusdur rencananya yang akan langsung menjadi walinikah bagi pernikahan puteri keduanya itu. Yang bertindak sebagai pencatat nikah adalah Khaliq dari Kantor Urusan Agama setempat dan dipandu Moqsith Ghazali, salah satu peneliti senior the Wahid Institute, yang didapuk sebagai master ceremony. Sedang yang akan memberi nasihat perkawinan adalah KH. Mustofa Bisri yang akrab disapa Gus Mus.
Selama prosesi akad nikah berlangsung, para wartawan tak diperkenankan langsung meliput di dalam ruangan. Namun begitu, menurut Gamal panitia untuk urusan media, menyatakan pihaknya sudah menyiapkan ruangan khusus media berupa layar teve yang langsung tersambung ke tempat acara, termasuk bahan-bahan untuk media. Pada pukul 18.00 – 18.30 WIB mempelai juga akan menggelar konferensi pers terkait acara akad nikah. Acara akad itu akan dilanjutkan dengan resepsi pernikahan pada Minggu (18/10) yang digelar di Gedung Sampoerna Jalan Sudirman Jakarta.
Yenny Wahid lahir di Jombang Jawa Timur pada 29 Oktober 1974. Ia puteri kedua dari empat bersaudara: Alissa Qotrunnada Munawaroh Rahman (kakak), Anitta Hayatunnufus Rahman (adik), dan Inayah Wulandari Wahid (adik). Lulus sebagai sarjana di Desain dan Komunikasi Visual Universitas Trisakti, mantan jurnalis The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne) pada 1997-1999 ini melanjutkan studinya di Harvard University.
Pada 2004 menjadi Direktur the Wahid Institute, lembaga yang didirikan untuk memperjuang ide-ide besar Gusdur di bidang toleransi dan perdamaian. Jabatan itu dipegangnya hingga kini. Yenny juga penah menjabat sebagai staf Khusus Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik dan menjadi Sekjen DPP Sekjen DPP Partai Kebangkitan Bangsa.
Secara tak sengaja Yenny bertemu Dhohir Farisi, sang pujaan hati, dalam sebuah acara kampanye Gerindra di Jawa Timur. Farisi yang lahir pada 14 April 1976 sendiri dibesarkan di lingkungan keluarga Nahdliyin. Ibunya HJ. Mar’ufah pernah menjadi salah seorang pimpinan Fatayat Nahdlatul Ulama Cabang Kraksaan, Probolinggo. Ia anak keempat dari lima bersaudara: Zainal Kamal, Faisol Reza (mantan aktivis Partai Rakyat Demokratik/PRD), Ahmad Mastaba, Dhohir Farisi, dan Roziqi.
Farisi kecil mengawali pendidikan formal di Madrasah Ibtidaiyah (MI) NU Kraksaan. Lulus MI, dia melanjutkan ke SMPN 2 Kraksaan. Gelar S1-nya diperoleh di Fakultas Filsafat Universitas Gajahmada Yogyakarta.
Sebelum terjun ke politik dan bergabung dengan Partai Gerindra, Farisi aktif di salah satu perusahaan konsultan khusus lingkungan hidup di Jakarta. Pada pemilu legislatif April lalu, dia menjadi caleg DPR dari daerah pemilihan Jatim IV (Lumajang-Jember) dan berhasil lolos ke Senayan (AMDJ) []